Advertisements

Tag Archives: nottingham

Hujan Malam Minggu

… tanjung katung airnya biru, pantai cermin indah lautnya, terkatung-katung, menunggu-nunggu, aku menyanyi lagi merana – Hujan Malam Minggu, Bintang MSC

kilat_pelangi

Ilustrasi: Kilat dan Pelangi (Huffington Post)

Saat menulis judul tulisan ini, ingatan ku langsung tertuju pada judul sebuah lagu dangdut ‘Hujan di Malam Minggu’ yang populer di awal tahun 90-an. Lagu itu dinyanyikan oleh sekelompok penyanyi dangdut yang sedang berada dipuncak kejayaan pada jamanya, di jaman saat musik dangdut berada di jaman keemasan. Hati kecilku bertanya: Apa kabar ya mereka? Mereka yang dulu pernah begitu berjaya, rupanya terlupakan begitu saja.  Tetapi, sepertinya begitulah takdir kehidupan. Yang pernah muncul akan tenggelam, yang pernah hidup akan mati, yang pernah berjaya pun akan runtuh.

**

Jam dinding di kamar ku sedang membentuk garis lurus, menunjuk pukul 06.00 sore hari, saat hujan turun lagi di kota ku, menyusul suara geledek yang menggelegar beberapa kali dari salah satu sudut langit. Sungguh benar, musim panas di kotaku telah menjelma musim hujan.

Aku duduk di sebuah kursi berwarna biru, menghadap jendela kaca di kamar ku di lantai dua, yang telah kugulung kelambunya. Menatap kesedihan langit meneteskan air hujan. Dengan khusuk, kusaksikan rintik hujan yang menumbuki atap-atap rumah tetangga, setiap sudut jalan beraspal yang mengitarinya, payung beberapa orang yang sedang berjalan menelusuri jalan itu. Argh, aku selalu jatuh cinta mendengarkan suara hujan.

Anak lanang duduk di pangkuan ku, bulat kedua bola matanya serius menatap pada layar tablet yang disandarkan pada bibir jendela. Mulutnya berkata-kata, membaca sebuah e-book tentang proses terbentuknya kilat, petir, atau halilintar. Lightening, flash, thunderstorm; begitu potongan-potongan kata yang terdengar di telingaku . Tentu bukan cerita tentang Putri Petir dari negeri dongeng. Tetapi penjelasan yang dipercaya ilmiah katanya, dalam satu dua kalimat sederhana yang mudah dimengerti alam pikiran anak balita seusia anak lanang.

Beberapa jenak berlalu, hujan perlahan reda, tetapi langit sore itu masih terlihat murung. Anak lanang tiba-tiba berteriak kegirangan: “Ayah, a rainbow ! “ telunjuk tangan kananya menuntun kedua mataku pada sepotong bianglala, di salah satu sudut langit di atas sana. Bukan sebuah bianglala yang melengkung penuh setengah lingkaran menghubungkan dua kaki langit memang, hanya sepotong kecil biang lala menggantung di langit.

Seorang gadis cantik bercelana jin putih ketat keluar dari pintu rumah bersama seekor anjing Maltese mungil berbulu putih. Si gadis jongkok, dibelai-belainya kepala anjing yang terlihat lucu itu, sperti belaian seorang ibu pada kepala bayinya. Sejenak kemudian, seorang gadis dengan penampilan serupa menyusul keluar dari pintu rumah, menyerahkan jaket kepada si gadis, lalu mereka bertiga pun berjalan kaki, membelakangi tatapan mata ku. Rambut pirang tergerai sebau, berjalan seperti mentok-mentok yang keliling pekarangan mencari makanan. Hehe, asyik benar mengintip aktivitas tetangga dari balik jendela.

**

Matahari telah tenggelam sejak pukul setengah sepuluh malam, hujan kembali mengguyur kota ku. Pukul 11 malam, ku buka pintu rumah ku, hujan masih saja rintik-rintik. Di bawah lindungan kubah payung, aku berjalan dengan sandal jepit keluar rumah. Berjalan perlahan, merasai sensasi suara hujan yang menumbuk atap payung ku. Suara itu begitu menenangkan jiwa.

Di tengah jalan, suara musik beiriama ngebeat, keras terdengar dari salah satu rumah yang sengaja dibuka pintunya. Kulihat, seisi ruang tamu yang sempit itu penuh dengan para lelaki dan para perempuan bergumul jadi satu. Mereka bernyanyi, teriak dan menari mengikuti irama. Sesekali menengak minuman berakohol.

Aku baru sadar jikalau ini adalah malam minggu. Dan itu adalah pemandangan yang teramat biasa di kota ini, di setiap malam minggu. Sebuah malam untuk merayakan kehidupan, setelah 5 hari keras bekerja. Semalam untuk melupakan sejenak segala kerumitan dan keruwetan permasalahan hidup yang seolah tidak pernah ada habisnya.

**

Pemandangan di dalam masjid malam ini terlihat sedikit berbeda, sebuah kelambu panjang berwarna putih terpasang di bagian belakang ruangan utama masjid, mengambil sekira seperlima dari total luas ruangan. Malam ini adalah malam pertama dari sepertiga bulan Ramadlan. Malam hari ke 21 Ramadlan tepatnya. Perburuan malam qadar, lailatul qadar, dimulai malam ini. Di satu malam, di salah satu tanggal ganjil sepuluh hari terakhir Ramadlan, yang lebih baik dari seribu bulan itu, malaikat yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah butiran pasir di bumi itu dijanjikan akan turun kebumi, mendokan umat manusia.

Orang-orang berebut berjumpa malam yang istimewa itu, dengan rukuk, bersujud, membaya ayat-ayat kitab suci, atau sekedar berdiam diri di dalam masjid sepanjang malam atau bahkan sepanjang siang dan malam. Dalam sehari, dua hari, dari hari-hari dalam setahun, meninggalkan sejenak kesibukan dunia yang seolah tiada putusnya. Sejenak, memanjakan ruh, dari kesibukan memanjakan jasad yang seolah tiada habis kebutuhanya. Sejenak merenung dan menanyakan kembali buat apa kita sebenarnya hidup di dunia ini. Sejenak mengingat kembali, dari mana kita berasal, dan kemana akan kembali. Sejenak menyadarkan kembali, bahwa di dunia ini, kita pernah tidak ada, kemudian sekarang kita ada, dan di penggalan waktu yang akan datang, kita pasti  tidak ada kembali.

Bukankah seperti itu seharusnya agar tercapai kesetimbangan dalam hidup? Bukanya malah memuncak memanjakan jasad. Berebut diskon menjelang hari raya, demi yang terbaik untuk apa yang dipakai, dimakan, dan dipamerkan, sehari setelah bulan puasa usai. Mereka bilang hari kemenangan, kemenangan dari pesakitan?

***

Banyak cara orang menjemput kebahagiaan hidup, dalam tafsir mereka sendiri. Ada yang menemukan kebahagiaan, dari bergumul, dalam hingar bingar pesta , dalam buaian ilusi minuman keras. Sebaliknya, ada yang menjemput kebahagianya dengan berdiam diri, dalam sunyi di rumah-rumah Tuhan. Tafsir kebahagiaan siapakah yang paling benar? Kebahagiaan siapakah yang paling hakiki? Coba bertanyalah pada nurani dirimu sendiri.

Advertisements

Luruhnya Kelopak Sakura

 

bunga_sakura

Ilustrasi: Bunga Sakura di Nottingham

 

Di depan halaman sekolah itu,
Dua pohon sakura sedang merayakan musim semi
Kelopak-kelopak bunga-bunganya mekar dengan sempurna.
Merah muda warnanya, kecil mungil wujudnya, ribuan jumlahnya
Membalut hampir seluruh batang dan ranting pohon,
yang kering merana selama musim dingin.
Indah, sungguh indah nian dipandang mata.

Sekawanan lebah kulihat sedang berpesta,
berdansa, bersiul, berdendang, berebut mereguk sari pati bunga.
Mentari pagi yang berpijar sempurna, menggenapi suasana pesta itu.

Tiba-tiba,
Angin kencang berhembus, mengerjai bunga-bunga.
Batang dan ranting sakura kelimpungan, bergoyang-goyang.
Kelopak-kelopak merah muda itu pun luruh berguguran,
beterbangan dipermainkan angin, jatuh terjerembab di atas tanah.
Angin bergerak memutar, menyusuri tanah, menerbangkan kelopak bunga kembali.
Menghempasnya, di tanah antah berantah.

Anak-anak bersorak sorai di bawah pohon,
Kegirangan dihujani ribuan kelopak sakura yang luruh berguguran.
Dibelai angin, dibuai mimpi-mimpi, yang terbentang panjang,
di hari-hari depan.

Pohon bunga sakura itu seolah bercerita kepada ku,
Ada saatnya, hidup layak untuk dirayakan.
Walaupun, keindahan hiasan dunia, kemeriahan suasana pesta,
tidaklah seberapa lama.
Hidup akan terus bergerak, mengikuti kadar dan takdir iramanya.
Tak pernah terlambat, tak pernah terlalu cepat, sedetik pun.
Bersemi, berkembang, berguguran, berhibernasi, dan berulang kembali.
Panggung kehidupan, nuansa hati, akan terus silih berganti.
Sampai nanti. Sampai abadi.

Nottingham, Musim Semi, 21/04/2016


Sore itu di Old Market Square Nottingham

… kepuasan terletak pada usaha, bukan hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki – Mahatma Gandi

seaside_old_market_square

Suasana Old Market Square Nottingham di Musim Panas (2015)

Teng… Teng … Teng” suara lonceng gereja itu berdenteng tiga kali. Pertanda hari telah sore. Tetapi di tengah musim panas itu, orang-orang masih ramai ‘mandi’ sinar matahari yang cukup terik di old market square, Nottingham. Alun-alun kota ini, di musim panas dipermak menjadi suasana pinggir pantai. Ada kolam air buatan, lengkap dengan pasir pantai yang lembut berwarna putih kekuning-kuningan di pinggir-pinggirnya.  Di sebelahnya ada air mancur yang airnya muncrat sangat kencang. Semua itu, mengundang keceriaan bocah-bocah kecil di bawah pengawasan orang tuanya.

Petang itu, saya, istri, sedang duduk-duduk di tepi alun-alun, ngobrol santai dengan mbak Maryati dan Mas Hasto suaminya. Sambil mengawasi, Ilyas-anak kami, serta Rafi, Dafa, dan Nabil-putra Mbak Maryati dan Mas Hasto yang sedang asyik bermain dengan air mancur. Sambil ngobrol, kami memberi makan pecahan biskuit pada segerombolan merpati yang nampak bersahabat dan sedikit pun tidak takut dengan kami.

mbakmar_city_centre_2

Mbak Maryati Sekeluarga (Old Market Square, Nottingham)

Tidak ada obrolan serius, hanya obrolan sebagai manusia-manusia biasa saja. Selama di Nottingham, Mbak Maryati ini cukup istimewa buat saya dan mungkin buat semua orang-orang Indonesia yang tinggal di Nottingham. Boleh dibilang, beliau ini Ibu RT nya kami. Beliau adalah orang Indonesia pertama yang mengundang saya makan-makan di rumahnya, ketika awal kedatangan saya di kota ini. Dan entah sudah berapa kali, saking seringnya, saya main dan makan-makan di rumah beliau.

Hari ini, seharusnya Mbak Maryati sekeluarga sudah terbang dari Turki ke Jakarta. Tetapi, karena kejadian konyol, rencana itu harus tertunda. Satu hari sebelum hari keberangkatan, mereka baru menyadari kalau paspor Mas Hasto dan ketiga putranya sudah expired. Dengan terpaksa, rencana jalan-jalan ke Turki, bersambung ke Jakarta dan Solo itu harus ditunda seminggu, karena harus membuat paspor baru di KBRI London.

Yah rencana tinggalah rencana. Manusia memang bisa merencanakan, tetapi ada yang Maha Merencanakan hidup kita. Tetapi semuanya pasti untuk sebuah alasan. Diantaranya, untuk obrolan kami di sore itu.

Senang dan lega rasanya, melihat kesuksesan Mbak Maryati menyelesaikan studi PhD nya. Sebuah perjalanan panjang dan penuh perjuangan. A painful journey. Dari obrolan itu, saya belajar banyak dari Mbak Maryati. Tentang kegigihan, kerja keras, dan perjuangan menggapai keinginan. Semangat dan kegigihanya seolah menular jika berada di dekat beliau. Saya yang kadang bermalas-malasan, malu dibuatnya.

Saya juga belajar banyak dari Mas Hasto. Tentang ketulusan, tanggung jawab dan cinta. Di tengah budaya Jawa yang patriarki, saya rasa tidak banyak suami yang berani menundukkan egonya, mengalah membiarkan istrinya ‘lebih maju’ dari dirinya sendiri. Rela melepaskan pekerjaanya, untuk menemai sang istri. Bahkan memerankan peran sebagai ibu, ketika sang istri harus konsentrasi dengan studi nya. Mengurus keperluan dapur, termasuk memasak, dan mengurus anak-anak. Mas Hasto pun, rela kerja sebagai cleaning service setiap subuh dan menjelang malam hari.

Berikut tips buat para suami yang menemani istri sekolah di luar negeri:

Bagi saya, Mbak Maryati dan Mas Hasto adalah keluarga yang cukup beruntung. Bisa mendapatkan beasiswa Islamic Development Bank, yang cukup besar jumlahnya dan mengcover biaya hidup pasangan dan anak-anaknya. Berkesempatan menunaikan ibadah haji berdua ketika berada di Nottingam. Dikaruniai tiga putra yang lucu-lucu dan menyenangkan serta ketiganya berkesempatan mengecap pendidikan gratis di negara maju ini. Dan keduanya juga nampak sangat religius. Sungguh, sebuah anugerah Allah yang patut disyukuri. Karunia itu seakan bertambah sempurna dengan kesuksesan Mbak Maryati menyelesaikan studi PhD nya.

Hidup memang bukan untuk dibanding-bandingkan. Jumlah kekayaan, gelar akademik, jumlah anak, jabatan dan kedudukan tak bijak dijadikan ukuran untuk membanding. Meskipun, kita diajarkan untuk memohon kebaikan di dunia dan akhirat. Tetapi, kita sering kali salah memahami apa yang terbaik buat kita di dunia, dan sapa yang bisa menjamin kebaikan kita nanti di akhirat? Ada kalanya, hidup itu tak berbanding lurus dengan usaha, doa dan rencana-rencana kita. Ada kalanya, kita hanya perlu memahami bahwa hidup itu sadermo ngelakoni, hanya menjalankan skenario Tuhan.

Walaupun demikian, ada orang-orang yang ditakdirkan hadir dalam hidup kita, tetapi tidak memberi manfaat sama sekali bagi kita. Tidak ada beda keberadaan dan ketidakberadaan mereka. Adakalanya, kita ditakdirkan bertemu dengan seseorang, walau sebentar, tetapi memberi manfaat, urun memberi warna dalam kehidupan kita. Dan hari ini saya merasa mengembil manfaat dari pertemuan kami dan Mbak Maryati sekeluarga.

Selamat kembali ke tanah air Mbak Dr. Maryati sekeluarga ! Semoga ilmunya barokah ! Tambah sukses selalu ! Sekali lagi, Selamat atas kesuksesanya, Alfu Mabruk ! Semoga silaturrahim kita tetap terjaga. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya, insya Allah.


Satu pagi di Stasiun Bus Nottingham

” … hari terindah bagi para pejuang adalah hari pertama di mulainya perjuangan, dan dihari terakhir perjuangan ketika yang diperjuangkan telah berada digenggaman. Di antarnya adalah penderitaan – a random thought

Broadmarsh_Bus_Station

Stasiun Bus Broadmarsh, Nottingham

Pagi ini, saya kembali berada di stasiun bus ini dengan penuh keharuan. Betapa stasiun bus ini begitu banyak menyimpan kenangan dengan para teman. Merekam setiap detik pertama perjumpaan dan detik terakhir perpisahan dengan para teman yang pernah mampir ngombe di kota Nottingham ini.

Masih terekam kuat dalam memori ingatan saya, setiap senyum mereka yang bertumpah ruah ketika pertama kali kusambut kedatangan mereka di stasiun bus ini. Ketika saya pertama kali mengenal dan dikenalnya. Masih terasa hangat jabat tanganya yang kuat, sekuat harapanya yang akan dilabuhkan di kota ini.

Saya selalu mengingat setiap sayu tatap mata itu, ketika kuantar kepergian mereka meninggalkan kota ini untuk terakhir kali. Dan mungkin tidak akan pernah kembali untuk selamanya. Menutup lembaran terakhir satu bab dari kitab perjalanan hidup mereka. Untuk membuka lembaran baru, di bab berikutnya.

Pagi ini, kembali saya melepas kepergian seorang teman. Entah kenapa, saya lebih terharu dari biasanya. Karena kepergianya meninggalkan sebuah tanya yang bergelayut di hati: Kapan kamu akan pulang seperti teman mu ini? Untung sang teman seolah bisa membaca tanya dalam harti saya. Sambil menepuk pundak saya, sebelum memasuki pintu bus yang akan membawanya ke bandara, sang teman berkata: Sampean pasti bisa! 

Beberapa puluh menit sebelum keberangkatan, saya sempat mengobrol dengan sang teman yang doktor ilmu hubungan internasional ini. Tentang nasib dan persoalan bangsa kita yang kadang tak terlihat ujung pangkalnya saking carut marutnya. Tentang kepemimpinan yang masih jauh dari yang diharap-harapkan. Tentang politik yang alih-alih menyelesaikan persoalan bangsa sebenarnya, yang ada adalah retorika politik untuk menutup-nutupi ketidakmampuan mereka menyelesaikan permasalahan sebenarnya. Entahlah ! yang jelas saya begitu menikmati obrolan pagi itu.

Selamat Jalan Kawan! Selamat kembali mengabdi di pangkuan Ibu pertiwi. Semoga kita tidak pernah berputus asa mencintai negeri ini !


Berislam Secara ‘Kaffah’, Memahami Islam Secara Paripurna

Catatan Pinggir Pengajian PeDLN, Nottingham,24/01/2015

muslimat_pedln

Jamaah Muslimat PeDLN

Pengajian perdana di Tahun 2015 ini bertempat di ruang kapel, amenities building, Jubilee  Campus, Universitas Nottingham. Tempat ini akan menjadi tempat default untuk pelaksanaan pengajian bulanan rutin berikutnya. Menggantikan tempat sebelumnya di Prayer Room, Sutton Bonington Campus.

Pemateri pengajian kali ini adalah Mas Fifik (Mahasiswa PhD Geospatial engineering). Yang  mengajak kita semua merenungi kondisi umat Islam saat ini. Carut marutnya suasana politik di negara-negara timur tengah, gerakan Islam radikal seperti ISIS dan Boko Haram, serta kondisi sebagian sangat kecil yang mengatasnamakan Islam di dunia barat yang semakin memperkeruhIslamophobia seperti aksi teror di Sydney Australia dan Charlie Hebdo di Paris, Perancis belakangan ini.

Hal ini menyisakan tanda tanya pada diri kita sebagai seoang Muslim, Apa Sebenarnya yang tejadi? Ini karena orang di luar Islam atau karena kita orang Islam sendiri atau kedua-duanya?

Kita bisa saja berperasangka ini semua konspirasi orang-orang yang tidak senang Islam menjadi agama besar. Di tengah-tengah budaya barat yang meninggalkan agama mereka, Agama Islam tumbuh pesat di dunia barat sebagai agama yang perkembanganya paling pesat di dunia.

Tetapi, bukankah pelakunya umat Islam sendiri? Bukankah umat islam sendiri yang memperburuk citra Islam sendiri? Kita bisa saja masih ‘excuse’ argh itu kan orang Islam jadi-jadian. Bagaimanapun juga, tidak bijak rasanya mengait-ngaitkan terorisme dengan agama tertentu. Jelas, jika kita melihat fakta sejarah radikalisme dan terorisme bisa darimana saja.

Oleh karenanya, Mas Fifik mengajak kita untuk melihat pada diri kita seniri. Sebagai seorang muslim, sudahkah kita berislam secara kaffah, secara sempurna? Sudahkan kita memahami Islam kita secara paripurna? Bisa jadi kita sangat ahli dalam bidang ilmu keduniawian kita, tetapi sebaliknya sangat awam terhadap Islam. Karenanya kita harus terus mau belajar agar bisa berislam secara penuh, sebagaimana perintah Allah SWT:

“Wahai orang-orang beriman! Masuklah kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu
ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyatabagimu”. [QS. AlBaqarah: 208].

bapak2_pedln

Jamaah Muslimiin PeDLN

Ataukah kita hanya berislam sebatas kewajiban menjalankan ritual keberagamaan saja? Sebagai bahan renungan, penelitian Rehman Scheherazade, How Islamic are Islamic Countries? yang diterbitkan padaGlobal Economy Journal pada tahun 2010, menempatkan negara-negara Islam pada posisi bawah. Dari 208 negara yang diteliti, posisi tebaik diraih oleh Malaysia pada posisi 38, sementara Arab Saudi dan Indonesia pada posisi 131 dan 140. Tiga negara paling Islami menurut penelitian tersebut adalah: New Zealand, Luxembourg, dan Irlandia. Penelitian ini mengukur kesesuaian praktik di negara yang diteliti dengan prinsip-pinsip Islam dalam bidangeconomics, legal and governance, human and political rights, and international relations.

Tentu saja pada penelitian ini masih ada ruang kritik, tapi kalau kita refleksikan dengan kondisi negara kita, sebagai negara Islam terbesar di dunia, kita bisa melihat sendiri bagaimana korupsi, ketidakadilan dalam ekonomi, ketidakjujuran, fakir miskin yang masih terlantarkan nasibnya oleh negara, rasanya Penelitian tesebut sangat masuk akal. Apalagi kalau kita pernah hidup di negara-negara yang masuk peringkat 10 besar pada penelitian tersebut (Inggris salah satunya), kita bisa merasakan sendiri bagaimana pendidikan dan kesehatan dasar gratis buat semua orang, bahkan pengangguran pun digaji negara. Serta bagaimana kesantunan dan kejujuran mereka. Rasanya, hasil penelitian itu sangat masuk akal. Kecuali kalau yang dijadikan ukuran adalah berapa banyak orang yang sholat, puasa, dan haji, sepertinya Indonesia sangat berpeluang menempati posisi nomer wahid.

Karenanya, Mas Fifik mengajak kita semua untuk lebih instropeksi dan menempa diri kita sendiri. Mengimbangi keimanan dengan ilmu yang cukup, dengan terus menerus mau belajar. Kegagalan memahami jihad yang benar  misalnya, bisa berakibat fatal. Seperti kasus Charlie Hebdo, alih-alih mau membela Islam, yang ada justru mencoreng Islam. Tidak hanya menempa akal kita, sebagai pribadi muslim yang ideal kita juga perlu menempa jasad (dengan olah raga misalnya) dan hati kita. Mengutip Aa Gym, agar berhasil semuanya itu harus 3M: 1.Mulaidaridirisendiri, 2.Mulaidari yang terkecil, 3.Mulaidarisekarang.

farewell_masfifik

Pak Peni, Mas Fifik, Mbak Noorida

Tidak ketinggalan, seperti biasa pada pengajian kali ini juga ada pengajian khusus muslimah dengan Ustadzah Shanti Fitriani, dan TPA untuk anak-anak bersama ustadzah Ade.

brithday_raras

HBD Raras!

Pengajian kali ini juga menjadi pengajian terakhir Buat Mas Fifik Sekeluarga yang akan segera kembali Indonesia ‘for good’. Dan salah satu jamaah, Raras (Mahasiswa PhD IT), sedang berulang tahun. Semoga Barokah buat semuanya ! Barokah buat kita semuanya. Allahumma Ammiin. Terima kasih untuk kehadiran semuanya yang membawa kehangatan kebersamaan buat semua.