nottingham

Tetangga Sebelah

…. alangkah sejuknya suasana hati selalu, bila setiap kita hadir untuk siap memahami, bukan untuk menghakimi – a random thought

tetangga_kita

Kiriman Tetangga Sebelah

Natal tahun ini, kami mendapat beberapa kartu ucapan natal. Ini rekor terbanyak buat ku. Tetapi, tetap saja si anak lanang juaranya. Ini kartu ucapan beneran, bukan kartu ucapan digital, atau ucapan lewat pesan elektronik. Kartu dengan desain gambar bertema natal yang menarik dan lucu, lengkap dengan tulisan tangan di dalamnya berikut nama pengirimnya, lalu dimasukkan dalam amplop berwarna putih.

Rupanya teknologi digital dengan dengan kemampuan telepon cerdas yang makin canggih pun tak mampu menggerus tradisi berkirim ucapan dengan media kartu. Ini yang paling aku suka dari orang Inggris. Cita rasa kehidupanya sangat tinggi. Tentu ada rasa yang tak bisa terwakilkan ketika kartu ucapan beneran bertransformasi ke kartu ucapan digital.

Argh orang Inggris memang keren. Bisa mempertahankan hal-hal klasik sama kuatnya dengan semengat mereka berinovasi menciptakan hal-hal yang baru. Seperti jargonya pesantren-pesantren NU, almuhafadu ‘ala qadimisoleh, walakhdu biljadidil aslah. Landlord ku saja, hingga saat ini masih sering berkomunikasi dengan kami melalui surat tulisan tangan dikirim lewat kantor pos berperangko.

Diantara semua kartu ucapan itu yang paling istimewa adalah dari tetangga sebelahku. Tetangga yang berbagi dinding rumah dengan kami. Uncle John namanya. Saat hari-h natal, saat semua layanan publik tutup, termasuk semua public transport, toko, dan super market yang mejual apa pun. Dan orang-orang berdiam diri di dalam rumah bersama keluarga. Hari itu, tetangga ku mengetuk pintu rumah kami. Memberikan sebuah kartu ucapan dan satu nampan makanan.

Saya jadi ingat peristiwa setahun yang lalu. Di momentum yang sama, Uncle John, memberi kami kartu ucapan dan satu botol besar minuman anggur merah berakohol. Tentu saja kami menerimanya dengan senang hati, meskipun tentu saja tidak kami minum. Dan akhirnya anggur merah itu diterima dengan senang hati dan senyum lebar oleh tukang yang kebetulan sedang membetulkan heater di rumah kami pada suatu ketika.

Ada yang berbeda dengan makanan yang diberikan kepada kami tahun ini. Meskipun Uncle John tak pernah menanyakan apa agama kami, sepertinya beliau jauh lebih mengerti kami, bahwa kami keluarga muslim yang hanya boleh memakan makanan yang halal. Hari itu, uncle john memberi kami satu nampan makanan, berisi tiga botol kecil yang sekilas seperti anggur merah. Tetapi rupanya, dilabelnya tertulis dengan sangat jelas, minuman tidak beralkohol. Lalu ada satu kotak nasi briani, seperti nasi goreng dicampur dengan daging kambing. Satu kotak ayam goreng, dan satu kotak sayur salad. Karena yakin halal, kami pun lahap menyantapnya. Terima kasih Uncle John!

Alangkah adem dan menyenangkan jika kita hidup bersama, dan kita saling belajar untuk saling mengerti, bukan saling menghakimi bukan? Tetapi sayang hal sebaliknya malah sedang mewabah di negeri ku. Media sosial, facebook, twitter, group WA, buatku menjadi tempat yang sangat tidak nyaman buat ku. Bukanya dijadikan media untuk saling memahami satu sama lain yang ditakdirkan berbeda-beda, sebagaimana diajarkan dalam agamaku, tertulis jelas dalam Alquran, li ta’arofuu. Tetapi sebaliknya malah jadi saling menghakimi.

Rasanya kini seolah menjadi ritual setiap akhir tahun, masih saja ribut hal yang sama: haram merayakan maulud nabi, haram mengucapkan Natal, haram merayakan tahun baru, sentimen anti-syiah dan sebagainya. Orang-orang semakin menjadi sektarian. Sekte kelompoknya sendiri diyakini kebenaran sempurna, sementara yang diluar sektenya dihakimi salah semua. Lebih-lebih menjelang suksesi kepemimpinan di ibu kota yang kebetulan sang petahana menurut mereka dapat dua vonis kutukan sekaligus: sudah kafir, cina lagi. Makanya, belakangan aku sudah lama tidak membuka facebook, dan keluar tanpa permisi dari beberapa group WA yang juga semakin sektarian. Buatku, membaca buku khusuk jauh lebih bergizi.

Sungguh miris nian, ketika melihat orang-orang semakin alergi dengan perbedaan. Jangankan dengan yang berbeda agama, dengan yang seagama saja mereka senang sekali menghakimi. Ada yang menghakimi muslim liberal, ahli bidah, musyrik, akidahnya tidak benar, bahkan kafir sekalipun. Orang-orang nalar toleransinya semakin tumpul.

Padahal kalau kita mau merenungi sejenak apalah diri kita ini, kita justru semakin mudah memahami orang lain. Bukankah apa yang membentuk diri kita, yang mendefinisikan alam fikiran kita, hanya karena bentukan orang dan peristiwa di sekitar kita. Kita menjadi Jawa, kita menjadi Muslim, bukankah hanya kebetulan karena kita lahir di Jawa dan keluarga muslim. Imajinasi, pemahaman, keyakinan akan kebenaran yang ada di kepala dan hati kita bukankah juga tak jauh-jauh hasil dari bentukan pendidikan yang kita terima?

Sementara, kalau aku boleh bertanya, adakah di antara kita yang sebelum dilahirkan di dunia ini bisa memilih dari rahim siapa dan tempat dimana kita akan dilahirkan?

Sadar akan segala keterbatasan kita. Kawan, mari berhenti untuk menghakimi. Mari kita belajar memahami. Terus dan terus belajar. Mari kita terus perdalam dan perluas cakrawala pengetahuan kita yang terbatas. Agar segala permasalahan hidup terasa enteng-enteng saja kita hadapi.

Jika sampean masih kekeuh menghendaki agar semua orang seperti mu, memahami kebenaran tunggal dari Tuhan adalah seperti yang engkau yakini. Kenapa Tuhan yang maha kuasa tidak menjadikan setiap orang menjadi seperti mu? Bukankah Tuhan saja yang berkendak menciptakan perbedaan-perbedaan itu? Kalau begitu, kenapa kamu tidak protes kepada Tuhan saja?

***

Nb. buat pembaca blog ini yang Kriten/Katolik, khususon Mbak Tina Sklg :), Selamat Natal ya! Semoga bring blessing, joy and fun in your life selalu. Maaf telat

Advertisements

Perasaan Sentimentil di Setiap Pergantian Tahun

… apalah artinya pergantian tahun kecuali bertambahnya hitungan kita akan kesadaran dimensi waktu. Bukankah dalam hidup hanyalah ruang dan waktu yang berubah, sementara watak kehidupan selalu sama – a random thought

akhir_tahun_2016

Winter Wonderland 2016, Old Market Square, Nottingham

Yah, sudah akhir tahun lagi, Argh sudah tahun baru lagi. Liburan musim dingin akhir tahun 2016 ini, aku benar-benar merasakan liburan yang sebenarnya. Benar-benar melepas bebas sejenak segala beban fikiran, kerepotan hidup, yang biasanya terasa terus memburu. Menghabiskan hari-hari dan malam musim dingin yang panjang, untuk sekedar kruntelan dengan segenap anggota keluarga, di atas ranjang dan di balik selimut yang sama.

Hanya saja, di setiap pergantian tahun, selalu saja ada perasaan sentimentil yang melintas di hati. Rasanya tak ingin waktu berlalu begitu saja. Rasanya ingin gandoli waktu yang terus melesat bak anak panah yang telah terlepas dari busurnya. Tetapi, siapakah yang bisa melawan keperkasaan sang waktu?

Merambatnya waktu, berarti bertambahnya umur. Umur psikologis rasanya masih seperti anak-anak remaja, tetapi umur biologis rupanya sudah bapak-bapak yang semakin menua.Hahaha.

Merambatnya waktu, berarti pula bergantinya lakon dan peristiwa-peristiwa kehidupan. Aku kadang tak mudah lepas dari jebakan masa lalu dan kadang takut akan ketidakpastian masa depan.

Bersyukur, mungkin satu kata inilah yang paling pas melukiskan suasana hati ku sebagai catatan akhir tahun 2016 ini. Tugas belajar ku akhirnya selesai, Allah ngasih bonus dengan kelahiran anak kedua kami. Sungguh nikmat yang layak untuk disebutkan dan disyukuri.

Tetapi bukan itu sebenarnya yang membuatku begitu sentimentil. Kebaikan-kebaikan orang-orang di sekitar kamilah yang sungguh membuat ku terharu. Hidup di perantauan, juah dari keluarga, tentu bukanlah sesuatu yang membahagiakan. Tetapi, di kelilingi orang-orang yang baik, rasanya aku sedang berada di tengah keluarga besar ku.

Haru rasanya, melihat teman-teman dengan suka hati, silih berganti berdatangan ke rumah. Bahkan jauh-jauh dari luar kota, dari ujung negeri ini. Membawa kehangatan, kedekatan, dan ketentraman. Memberikan ucapan selamat dan baris-baris doa. Membawa makanan, uang, hadiah. Sungguh membuat ku sangat terharu. Aku hanya bisa berterima kasih, dan untuk selamanya akan berhutang budi. Lemah teles, hanya Gusti Allah yang bisa mbales.

Masih berat rasanya, jika bulan depan kami harus beranjak meninggalkan tempat ini, (most probably) untuk selamanya. Berat rasanya untuk berucap: ” Selamat tinggal kenangan !”. Tetapi, hidup harus terus berjalan. Sudah saatnya, hidup harus berganti cerita.

Meski ada ketakutan akan ketidakpastian di masa depan, aku selalu menasehati diriku sendiri. Bukankah hidup hanyalah perubahan dimensi ruang dan waktu, sementara watak kehidupan ya begitu-begitu saja. Akan selalu ada naik-turun, pasang-surut, senang-susah dalam hidup. Tak ada kesenangan yang terus-menerus. Senang sebentar, habis itu susah lagi. Pun tak ada kesusahan yang terus-menerus. Habis susah-susah, pasti ada kesenangan yang menunggu. Argh, begitulah sifat kenikmatan dunia yang sesaat saja. Amatlah rugi, jika kita selalu mengejar dan memujanya.

Teori kehidupan pun tetaplah gampang dan sederhana. Tak perlu belajar bertahun-tahun seperti halnya studi doktoral untuk menemukan teori baru. Yang penting, gampang syukur, gampang sabar, dan gampang ikhlas. Dan selalu eleng lan waspada akan asal muasal kehidupan kita. Insya Allah, kehidupan akan baik-baik saja, bukan?

Selamat tahun baru kawan! Semoga semua dalam kehidupan kita menjadi lebih baik, dan kita ditakdirkan termasuk orang-orang yang beruntung, ammiin.

Kang Hakim Yang Atheis

… kadang antara kebenaran dan keyakinan terlalu susah untuk dibedakan – a random thought

startford_17

Ilustrasi (yang tidak nyambung)

Kamis, pukul empat sore, aku setengah berlari turun dari kantor PhD ku, di lantai 3 gedung School of Computer Science menuju lantai 2 gedung Amenities Building yang berjarak hanya sekitar 5 menit jalan kaki. Jam segitu, di musim dingin hari sudah maghrib. Meskipun sedang berpuasa, aku biasanya sholat jamaah maghrib dulu di muslim prayer room, baru kemudian berbuka puasa di graduate centre room yang terletak di lantai yang sama.

Tetapi, hari itu rasa lapar ku rasanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Lapar tingkat kabupaten saudara-saudara. Gara-gara kalau musim dingin gini malas sekali makan sahur.

Aku langsung menuju graduate centre room, mengeluarkan lunch box dari tas dan memasukkan dalam microwave. Sambil menunggu bekal buka puasa ku menghangat, aku membuat secangkir teh manis hangat yang bahan-bahanya disediakan gratis di ruang itu.

Seorang lelaki muda, yang kurang lebih perawakan dan wajahnya mirip pengamen jalanan seperti foto di atas, dengan sangat agresif, sok kenal sok dekat, melempar seulas senyum kepada ku, dan memberondong ku dengan sejumlah pertanyaan.

Hello, hai kamu. Kamu pasti muslim ya. Kamu pasti dari Indonesia, kan? Kamu tinggal di kota mana di Indonesia.

Begitu kira-kira sebagian pertanyaan yang aku ingat. Dalam alam batinku, aku bertanya-tanya. Nih orang asing kok tahu ya kalau aku muslim, rasanya tidak ada satu pun simbol agama yang aku pakai. Tebakan ini wajar andaikan saja aku perempuan dan memakai jilbab. Terus, kok dia bisa menebak aku langsung dari Indonesia. Rasanya baru kali ini, ada orang asing yang tebakan pertamanya benar 100%. Biasanya, paling banter mengira aku orang Malaysia.

Setelah micorowave berhenti berputar, aku membawa kotak makanan dan secangkir teh hangat di salah satu meja bundar di ruang itu. Menyeruput british tea dari skotlandia yang harum dan ginastel (baca: legi-manis, panas dan kentel) itu. Lalu, sesuap demi sesuap kunikmati nasi dengan ikan tempe bikinan emaknya anak-anak itu.

Eh, tanpa permisi, Si Mas yang sok akrab tadi, ikut duduk semeja dengan ku. Sambil lahap menikmati roti isi babi panggang, Si Mas kembali memberondong ku dengan sejumlah pertanyaan kembali.

kamu sehari sholat berapa kali? sekali sholat berapa lama? memang apa yang kamu dapatkan dari sholat? ngapain sih kamu masih percaya sama agama? bukankah agama hanya menjadikan perpecahan, konflik, perang tak berkesudahan saja? Mau saja kamu dibodohi,  agama sengaja diciptakan sebagai alat untuk meraih kekuasaan?

Begitu kira-kira, beberapa pertanyaan yang Si Mas  ajukan dengan agresif kepada ku. Rupanya Si Mas ini seorang atheis fundamental. Yang sangat gemes jika melihat masih ada orang yang taat beragama seperti diriku. Dia pun bercerita panjang lebar tentang perjalanan spiritualnya. Sebelum menjadi atheis fundamental, Si Mas mengaku pernah percaya adanya Tuhan, walaupun tidak menganut agama tertentu, scientology namanya kalau aku tidak salah. Kini Si Mas benar-benar tidak percaya adanya Tuhan dan dia berusaha meyakinkan ku bahwa keputusanya benar.

Memang kamu percaya ada kehidupan setelah mati? Memang ada orang mati yang datang hidup kembali?

Begitu dia meyakinkanku bahwa hidup itu ya di dunia saja yang harus kita nikmati. Dia seolah-olah kasihan kepada ku. Hidup di dunia sekali saja, kok tidak dinikmati untuk bersenang-senang saja.

Menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu, aku mah kalem-kalem saja. Sama sekali tidak emosional. Malah, aku sangat menikmati obrolan itu. Kutanggapi setiap pertanyaan itu dengan santai dan senyum-senyum saja. Aku hanya menegaskan, kalau aku justru menemukan kebahagiaan dan kedamaian hidup sejati dengan menjalani agama itu, tidak merasa terbebani sama sekali. Malah rasanya, aku tidak bisa hidup tanpa bimbingan agama. Aku juga tidak setuju kalau agama dituduh penyebab konflik, itu penganut agamanya saja yang salah dalam memahami agamanya.

Aku tercenung saat si Mas bilang:

apa ketenangan jiwa? kamu fikir dengan atheis tidak bisa menemukan ketenangan jiwa? Gampang saja, jika aku ingin mendapatkan ketenangan jiwa, aku tinggal ngajak my girl friend to have sex. As simple as that.

Haha koplak. Pada akhirnya, kita tidak berhasil sedikit pun mempengaruhi satu sama lain. Kita tetep kekeuh pada pendirian masing-masing. Tetapi setidaknya we have better understanding satu sama lain. Siapa yang benar siapa yang salah? Sayang diantara kita belum pernah ada yang merasakan kematian. Untuk membuktikan ada tidaknya kehidupan sesudah kematian. Kalaupun, ternyata tidak ada, aku pun sama sekali tidak akan pernah menyesal, karena justru agama bagiku adalah jalan cinta yang membuat kehidupan menjadi lebih bermakna.

Apalah artinya kehidupan bila hanya untuk bersenang-senang saja? Toh kenikmatan dunia ya begitu-begitu saja. Hanya sekejap saja. Keyakinan akan kebenaran agama yang aku yakini pun tak menghalangi untuk toleran terhadap orang yang berkeyakinan akan kebenaran yang berbeda. Sebaliknya, semakin aku yakin, semakin aku mudah untuk toleran.

Tak terasa hampir, satu setengah jam kami bercengkrama. Sampai-sampai aku lupa belum sholat Maghrib, padahal waktu hampir saja masuk waktu Isyak. Di akhir perbincangan, kami baru berkenalan. Namanya Kang Hakim dari Azerbaijan katanya. Sejak saat itu, kami jadi akrab. Dia selalu tersenyum ramah dan menyapa ku setiap kali bertemu. Semoga Tuhan memberi mu hidaya Kang Hakim!

Festival Pinggir Sungai Trent

… hidup di jaman penuh keberlimpahan, sepertinya hanyalah perayaan dari festival satu ke festival yang lain. – a random thought

festival_sungai_trent_1

Bibir Sungai Trent, Nottingham

Lagi, ini adalah cerita tentang festival. Yah begitulah, hidup orang-orang di negeri yang makmur penuh keberlimpahan secara ekonomi seperti di Inggris ini, seolah hidup adalah rangkaian festival yang patut untuk dirayakan. Kabarnya, standar budaya hidup orang disini adalah haruslah seimbang antara mencari penghidupan dan merayakan kehidupan. Life is for living, begitu katanya.

festival_sungai_trent_2

Salah satu bentuk olah raga air di sungai Trent Nottingham

Festival kali ini namanya adalah festival pinggir sungai, The River-side Festival, agenda tahunan setiap musim panas yang diadakan di pinggir sungai Trent, sungai yang membelah kota Nottingham, selama tiga hari tiga malam.

Kalau di negara-negara yang masih terbelakang dan berkembang sungai tak ubahnya sebagai tempat sampah yang sering menimbulkan berbagai masalah kota, banjir misalnya; di negara-negara Eropa pada umumnya, sungai adalah tempat yang sangat menyenangkan. Sebagai jalur transportasi air,  tempat wisata, tempat berbagai olah raga air, tempat pelestarian berbagai jenis satwa, atau sekedar tempat berkumpulnya warga kota seperti festival pinggir sungai di Nottingham ini.

festival_sungai_trent_3

Lomba Balapan Perahu Naga

Aku sendiri paling jatuh cinta dengan keteduhan dan ketenangan yang ditawarkan oleh sungai. Jalan-jalan atau bersepeda di pinggir sungai, lalu duduk di bangku yang menghadap langsung sungai  yang airnya jernih itu, sambil membaca buku. Dengan latar kiri, kanan, dan belakang berupa hamparan rumput sungai yang menghijau rapi, dan suara bebek, angsa, dan burung camar, serta belaian angin sungai yang berhembus sepoi-sepoi. Argh, rasanya seperti nuansa surga yang bocor sejenak di bumi.

festival_sungai_trent_7

Salah satu wahana permainan yang cukup ekstrim

Saat festival pinggir sungai itu, orang-orang menyemut memadati bibir sungai. Ada kompetisi balap perahu naga yang diikuti ratusan tim. Orang-orang bersorak sorai menyemangati tim jagoanya masing-masing. Tetapi, banyak juga yang sekedar duduk-duduk sambil berjemur di pinggir sungai.

festival_sungai_trent_6

Mesin Pemutar Alat Musik Klasik

Di sepanjang pinggiran sungai itu juga ada beberapa pertunjukan, mulai dari pertunjukan berbagai jenis musik, hingga aksi akrobatik. Berderet-deret food stall yang menawarkan berbagai jenis makanan dan minuman pun juga ada. Tak ketinggalan, berbagai jenis wahana permainan fun fair, mulai dari komidi putar hingga wahana permainan super ekstrim buat yang suka memacu adrenalin.

festival_sungai_trent_4

Di antara kerumunan Orang-orang

Yang paling aku suka adalah suasana klasik Inggris tempoe doeloe ada disini. Ada seperangkat sistem alat musik jadoel otomatis bentuknya seperti kereta api kuno yang memainkan alunan musik klasik itu. Saya jadi ingat suasana Christmast Market di kota Lincoln yang aku datangi tahun 2012 lalu. Berada di tengah-tengah kerumunan orang-orang  Bristish seperti ini, membuat aku merasa sedikit blended menyatu menjadi bagian tak terpisahkan dari mereka. Tidak merasa teralienasi, sebagai orang asing yang numpang hidup sebentar di negeri orang seperti biasanya.

festival_sungai_trent_5

Jajanan pasar tradisional ala orang Inggris

Di malam hari, saat hari sudah gelap, ada pesta kembang api memeriahkan suasana malam yang hangat, dan tentu saja pesta minuman berakohol hingga larut malam. Begitulah cara mereka merayakan kehidupan. Atau bisa jadi, cara mereka melupakan sejenak segala permasalahan kehidupan.

 

Satu Pagi di Hari Raya

Masihkah ada yang merasa rendah diri, merasa kurang sempurna keislamanya hanya karena pakaian yang dikenakanya tidak sama persis dengan pakaian yang dipakai oleh orang-orang dari kota kelahiran Sang Pembawa Risalah? – a random thought

suasana_lebaran_idulfitri_nott

Ilustrasi: Setelah Khutbah Hari Raya, Sport Centere, Jubilee Campus, Nottingham

Rabu, 06/07/2016

Hari masih pagi perawan menebar hawa musim panas yang segar, saat kulihat jam dinding di rumahku menunjuk pukul 07.00. Beberapa jenak sebelum aku, anak lanang ku dan emaknya keluar rumah, berjalan setengah berlari-lari kecil menuju kampus Jubilee, Universitas Nottingham. Jalan menuju kampus pagi itu tak seperti biasanya yang lengang nan sepi, karena masa perkuliahan semester musim semi sudah berakhir lebih sebulan yang lalu.

Di jalan menuju gerbang utama kampus, para securiy kampus berpakaian hitam berompi hijau muda terlihat begitu sangat sibuk mengatur mobil-mobil yang mengantri memasuki area parkir darurat, di samping gedung asrama mahasiswa yang sudah lama tidak difungsikan itu. Orang-orang, perempuan, lelaki, dewasa, remaja, dan bocah-bocah berduyun-duyun berjalan menuju satu titik yang sama: gedung pusat olahraga.

Senyum manis dua orang remaja menyapa kami di meja reception gedung itu, mempersilahkan kami memasuki dua pintu masuk yang berbeda, satu pintu untuk perempuan satu pintu lagi untuk lelaki. Dua lapangan basket dalam gedung itu, pagi itu disulap menjadi tempat sembahyang. Shaf-shaf dari tikar kertas berderet deret menghadap salah satu sudut pojok ruangan gedung. “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd”. Suara takbir menggema, menggetarkan dinding-dinding ruangan, menggetarkan hati-hati orang yang memekikkanya.

Jenak demi jenak waktu terus berdetak. Orang-orang mulai berjejalan, duduk bersimpuh memenuhi setiap sudut ruangan. Wajah-wajah cerah, senyum-senyum penuh ketulusan, memenuhi setiap ruang dalam gedung itu. Hatiku selalu terharu menyaksikan orang-orang yang berbeda berkumpul, saling menebar kedamaian di tempat yang sama. Ada yang berkulit putih bersih, kuning pucat, kuning kemerah-merahan, kuning langsap, coklat, hitam, hitam sangat legam, atau berwarna seperti sawo bosok yang perpaduan putih coklat dan hitam seperti kulit ku.

Ada yang berpakaian necis, seperti orang-orang kantoran lengkap dengan dasi dan jas yang sangat rapi. Ada yang yang memakai sarung dan kain samping. Ada yang memakai baju terusan seperti daster serba putih atau berwarna-warni. Ada yang memakai baju panjang dan bercelana longgar ala negara Asia selatan. Dan berbagai jenis rupa pakaian yang aku tak bisa menyebutnya satu persatu. Penutup kepala mereka pun bermacam-macam, ada yang memakai kain putih polos diikat di kepala, atau kain putih bermotif garis-garis merah membentuk kotak-kotak dengan ikat kepala berwarna hitam di atasnya. Ada juga yang berpeci hitam, atau peci ala Paus berwarna putih dan warna-warni lainya.

Pagi itu, di ruangan itu, setiap orang seolah ingin menunjukkan identitas bangsanya masing-masing. Yang dari Asia timur, Asia tenggara, Asia tengah, Timur tengah, Turki, Eropa, maupun Afrika seolah ingin menunjukkan pakaian kebanggaan nasionalnya masing-masing. Meski berpakaian yang berbeda, tetapi mereka semua sama, sama-sama orang Muslim. Tetapi mereka sama, dari wajah mereka terpancar wajah-wajah penuh kedamaian.

Hati kecil ku bertanya: Masih adakah yang merasa lebih muslim dari muslimnya? Masihkah ada mengeklaim bajunya lebih muslim dari baju lainya? Masihkah ada yang merasa rendah diri, merasa kurang sempurna keislamanya hanya karena pakaian yang dikenakanya tidak sama persis dengan pakaian yang dipakai oleh orang-orang dari kota kelahiran Sang Pembawa Risalah? Bukankah, Tuhan hanya melihat yang tersembunyi di balik hati kita? Bukankah, Tuhan tak sebodoh kita yang mudah tertipu oleh yang tertangkap panca indera kita?

Pukul 07.30, saat ruangan benar-benar sudah penuh, sholat hari raya segera akan dimulai. Beberapa orang tak bosan-bosan mengingatkan orang-orang yang hadir yang belum membayar zakat fitrah untuk segera membayarnya sebelum sholat dimulai sambil mengedarkan ember kecil ke setiap sudut ruangan. Beberapa orang terlihat bergegas memasukkan recehan beberapa poundsterling (4 poundsterling per orang) ke dalam ember kecil itu. Sholat pun dimulai, suara Sang Imam menggema menggetarkan seluruh sudut ruangan, para makmum dengan khusyuk mendengarkan suara bacaan sang Imam. Hanya saja, suara tangis bocah-bocah kecil dari jamaah perempuan sedikit mengganggu.

Sejenak, setelah sholat dua rakaat usai. Brother Sudjahat, seperti tahun-tahun sebelumnya, pegawai city council itu memberikan ceramahnya penuh semangat dan berapi-api, walaupun speakaer yang tiba-tiba sering mati itu terasa sedikit mengganggu. Dalam ceramahnya, Brother Sudjahat mengutuk tindakan para pelaku bom bunuh diri yang sudah nekat hingga di kota Madinah ini. Alih-alih membela Islam, tindakan itu justru sangat memperburuk citra Islam. Islam bisa tersebar sampai ke Indonesia, Malaysia dan seluruh penjuru dunia lainya bukan dengan kekerasan, tetapi dengan cara-cara yang penuh kedamaian.

Saat ceramah berlangsung, di antara para jamaah tidak sedikit yang mengeluarkan smartphone nya. Cekrek, sesaat kemudian pun sejumlah foto selfie bertebaran lewat facebook, twitter, instagram, dll. ke seluruh penjuru dunia dari ruangan itu. Beberapa bocah lelaki berwajah manis penuh senyum berkeliling dari shaf ke shaf, membagikan coklat dan permen gratis kepada setiap para jamaah.

Pukul 08.00 pagi khutbah hari raya pun usai, orang-orang beranjak berdiri dari duduk simpuhnya. Saling bersalaman, saling berpelukan, saling beradu pipi, saling menebar senyum kebahagiaan, saling mengucapkan selamat hari raya, saling mendoakan, dan saling bermaaf-maafan. Riuh rendah suara penuh syukur kebahagiaan memenuhi setiap sudut ruangan. Walaupun pada akhirnya, yang sebangsa cenderung berkumpul dengan saudara sebangsanya tak pernah lupa untuk berfoto bersama. Di luar ruangan, banyak coklat, permen, kopi, mainan anak-anak yang dibagi-bagikan secara gratis. Alangkah bahagianya, bocah-bocah di pagi yang penuh barokah pagi itu. Sebelum akhirnya, gedung olah raga itu pun kembali lengang seperti sedia kala.

Ada yang kembali beraktivitas seperti hari-hari biasanya, ada yang sengaja tidak beraktivitas, bocah-bocah sengaja minta ijin libur dari sekolahnya, untuk sekedar merayakan hari kemenangan dan hari kebahagiaan pagi itu ala kadarnya. Oh alangkah indahnya kedamaian dan kebersamaan di pagi hari raya itu.

Hai engkau disana yang mengaku seiman maupun tak seiman dengan ku, masih perlukah engkau tumpahkan darah-darah sesama mu di bumi Tuhan mu ini?

Nottingham, Idul Fitri 1437 H/2016 M.