naik sepeda

‘Ngontel’: Cara Murah Untuk Hidup Lebih Bahagia dan Lebih Sehat?

cycling is the cheapest way to be happier and healthier – NN

naik_sepeda_edited

Boncengan Naik Sepeda (Leuven, Belgia, 2013)

Bersepeda, ngontel, ngepit, ngengkol, apa lagi ya? Hayo, kapan sampean naik sepeda terakhir? Naik sepeda bukan untuk gaya-gayaan lowh ya, bukan pula untuk pencitraan, tapi naik sepeda sebagai gaya hidup.Misal naik sepeda ketika pulang pergi ke tempat kerja atau sekolah/kampus? Walah mas, isin, minder aku numpak sepeda,ndak nggaya, naik mobil dong, kalau macet bisa selfie, terus dipamerin di instagram, meskipun mobilnya masih kredit. 

Setiap berkunjung di kota-kota di Eropa, satu hal yang paling menarik rasa saya adalah sepeda pancal. Saya pribadi merasakan getaran nostalgia saat melihatnya. Soalnya, dulu waktu sekolah SMP tiap hari ngontel sejauh 12 km dari rumah, selama 3 tahun. Nelongso? ndak lah, malah bahagia sekali waktu itu, apalagi berangkatnya ramai-ramai, seru gila. Sekarang mah, anak-anak SMP sudah pada naik sepeda motor atau diantar mobil orang tuanya.

leiden_20

Tumpukan Sepeda di Universitas Leiden, Belanda (2015)

Selain menghadirkan nuansa nostalgia, ndak tahu ya, rasanya di kota-kota yang moda transportasinya didominasi oleh sepeda pancal rasanya lebih adem, lebih nyaman, dan orang-orang nya terlihat lebih bahagia. Suasana kotanya juga menjadi sangat nyaman untuk hidup. Di antara kota sepeda pancal di Eropa yang pernah saya kunjungi adalah: Cambridge, Ghent, Leuven, Endhoven, Enschede, Den Haag, dan Leiden. Di kota-kota inilah, saya melihat wajah-wajah bahagia itu bertumpah ruah. Iya iya lah mas bero, kalau naik mobil kan wajah sumringah nya ndak kelihatan?

sign_board_sepeda

Petunjuk Jalan Khusus Pesepeda (Nottingham)

Sayang nya, di Nottingham, tempat sekarang saya tinggal, bukan termasuk kota sepeda pancal itu. Maklum, di UK harga mobil itu sangat murah meriah sekali. Gaji kerja part-time 15 jam seminggu selama sebulan saja, sudah bisa buat beli mobil second bagus, Bro. Bensin dan asuransi meskipun lebih mahal jika dibanding dengan di Indonesia, tapi untuk ukuran disini masih sangat terjangkau. Meskipun murah meriah, tapi bus angkutan umum masih penuh, dan masih lumayan banyak yang naik sepeda, walaupun tak sedominan seperti di kota-kota yang saya sebutkan di atas.

sepeda_nottingham

Sepeda Sewa Gratis di Nottingham

Karena jumlah yang naik sepeda belum signifikan, pemerintah kota Nottingham saat ini sedang gencar mempromosikan gerakan naik sepeda pancal sebagai bagian dari gerakan gaya hidup hijau. Diantara jargon yang sedang dipromosikan di kota ini adalah: Think Bike ! Pemerintah kota juga menyediakan shelter sepeda pancal di beberapa titik kota, dimana di tempat-tempat itu semua orang bisa meminjam sepeda Gratis. Jalur-jalur khusus sepeda, petunjuk jalan khusus sepeda, markah jalan khusus sepeda, dan tempat-tempat parkir khusus sepeda pun diperbanyak jumlahnya, seiring dengan kampanye Go Green  yang begitu masiv!

Bersepeda Menjadikan Hidup Lebih Sehat dan Bahagia?

Beberapa waktu yang lalu, saya dengan seorang teman di kantor (tempat saya kerja mbabu alias ngosek WC, ngepel, ngelap meja, dll, setiap pagi sebelum subuh), suka memperhatikan perilaku orang-orang di kantor (sebuah perusahaan global konsultan bisnis). Kita sampai pada hipotesis bahwa kalau orang yang tiap hari ke kantor naik sepeda itu terlihat lebih sehat, lebih bahagia, dan lebih ramah. Mereka yang naik sepeda selalu tersenyum ramah dan menyapa kita duluan. Sementara kebanyakan yang lain relatif lebih ignoran sama kita(ya eyalah, siapa elu, cuman babu yang kerjaanya ngosek WC).

Wah sepertinya sangat menarik untuk diteliti ini Bang ! Kata saya sama teman seperjuangan, pejuang sebelum subuh. Sampai di satu saat kesempatan berikutnya yang lain, waktu parkir di tempat parkir khusus sepeda di kampus saya menemukan tempelen, tawaran untuk menjadi respondent penelitian. Penelitian dari Jurusan psikologi itu ingin membandingkan perbedaan orang yang tiap hari naik sepeda dan yang tiap hari nyetir mobil, selama setidaknya tiga tahun terakhir. Saya jadi tidak sabar menunggu publikasi hasil penelitian itu, jangan-jangan hipotesa saya benar kalau orang yang naik sepeda itu lebih sehat dan lebih bahagia hidupnya.

Refeleksi Pengalaman Pribadi

Sekitar 3 bulan terakhir ini saya menjadi selalu naik sepeda, setiap pulang pergi ke tempat kerja maupun di kampus. Sebelumnya, setiap berangkat kerja sebelum subuh, saya mendapat tumpangan naik mobil teman-teman dari Malaysia. Karena mobil disini murah, hampir semua orang Malaysia yang bawa keluarga di UK punya mobil. Mobilnya bagus-bagus lagi. Tidak cukup satu, biasanya punya dua, yang biasanya dibawa pulang ke negaranya jika studinya sudah selesai. So, karenanya, saya bisa menikmati nyamanya berbagai sedan mewah. BMW, lexus, mini cooper, Audi yang masih kinyis-kinyis. Hebat ya, pengosek WC saja mobilnya ndak kalah sama mobil pejabat di Indonesia, hehe. Sementara, untuk ke kampus saya jalan kaki setiap hari.

denhague_02

Nyamannya Berangkat Ke Kantor Naik Sepeda (Den Haag,2015)

Sampai suatu saat, teman yang baik hati ngasih tumpangan tadi selesai studinya. Dan saya terpaksa harus ngontel, naik sepeda. Sebelum subuh, harus menembus suhu di bawah nol derajat, dengan naik sepeda, sejauh 20 menit perjalanan untuk pergi ngosek WC. Kebayangkan menderitanya. Haha, kadang, roda kehidupan berputar begitu cepatnya, seperti roller coaster. Dari duduk nyaman di sedan mewah, terjun bebas ke sepeda ontel.

Apakah saya menderita? ternyata tidak lo. Entahlah, dimana logikanya, saya kok malah sangat happy naik sepeda. Suara ban sepeda beradu dengan aspal jalanan itu terdengar begitu indah di telinga. Hujan, Salju, Angin, Dingin yang menerpa, sama sekali tidak terasa. Malah terasa nikmat sekali, ketika saya bisa bertahan disana. Hati pun, bawaanya menjadi riang. Pikiran pun, menjadi segar banyak ide-ide muncul ketika naik sepeda. Apalagi, kalau diiringi suara burung-burung yang bertasbih menyambut datangnya subuh hari. Bahkan, ketika teman yang lain menawari saya tumpangan mobil kembali, saya masih memilih naik sepeda, karena saya begitu menikmatinya.

Mahasiswi Universitas Cambridge Naik Sepeda Ontel

Para Mahasiswi Universitas Cambridge Naik Sepeda Ontel

Sejak saat itu, saya jadi tahu jawaban dari pertanyaan yang telah lama saya simpan, mengapa perempuan-perempuan muda cantik, para bisnis analis , pekerja kantoran di perusahaan bergengsi itu kok mau-maunya setiap hari ngontel ke kantor. Rasanya, kalau hanya beli super car saja bisa. Lahwong kita, yang hanya kerja part-time ngosek WC saja mampu beli sedan mewah. Apalagi, mereka itu cantik, pekerja kantoran yang harus terlihat rapi dan elegan. Rupanya, kebahagiaan semacam itu yang tidak tergantikan.

Pada akhirnya, naik sepeda atau naik mobil mewah, hanyalah sekedar gaya hidup. Tergantung bagaimana kita melihatnya, apakah sekedar alat transportasi, atau alat gengsi. Jika sebagai alat transportasi, orang pastinya akan lebih logis, rasional, dan bijak menggunakanya. Masalahnya, di negara kita, alat transportasi lebih berubah menjadi alat gengsi. Simbol kemakmuran dan kesuksesan. Kalau sudah begitu, tidak perlu heran, kalau banyak orang yang jor-joran. Lahwong ke kampus atau kantor jarak ratusan meter saja harus pakek mobil, beli micin di warung sebelah saja harus pakek motor. Lucunya lagi kalau pas lebaran, di dusun saya yang biasanya sunyi senyap, mendadak terjadi hiruk pikuk kemacetan di sekitar masjid, gegaranya banyak yang datang ke masjid yang hanya berjarak 0.5-1 km dari rumah untuk sholat Ied pakai mobil. Oalah, ini pada mau niat ngadep gusti Allah atau pamer kesuksesan hidup di perantauan kang mas mbak yu? Sering kali, kita merasa gengsi, kepercayaan diri, status sosial, kesuksesan kita naik beberapa peringkat dengan mobil yang kita pakai. Padahal secara tidak sadar, kita telah menjadi korban keberhasilan program marketing sebuah industri manufaktur mobil. Kalau sudah begitu, jangan salahkan siapa-siapa jika kondisi kota yang kita tinggali dari hari kehari semakin tidak nyaman, bahkan menyiksa lahir dan batin. Hehehe, semoga kita semakin bijak menghayati kehidupan ini !

Advertisements

berjalan pun sambil membaca buku

….. orang yang bisa membaca tetapi tidak membaca buku, tidak ada bedanya dengan orang yang tidak bisa membaca.

Ilustrasi: Membaca di Perpustakaan, Univ. Nottingham

Hari ini langit di atas bumi Nottingham terlihat mendung. Tetapi tak semendung hati dan semangat ku. Pukul 07.00 pagi, setelah sholat duha, berdoa memohon limpahan ilmu dan rizki yang banyak dan barokah ke yang Maha Memiliki Ilmu dan Pemberi rejeki, seperti biasa aku berjalan menyusuri jalanan kecil di tepi sungai dari rumah menuju ke Lab. di Jubilee Campus, Universitas Nottingham. Entah sudah berapa kali aku menyusuri jalanan ini, mungkin sudah empat ratus kali, atau bahkan lebih. hampir setiap hari dua kali aku menyusurinya, pergi dan pulang ke kampus, tempat ‘kawah candradimuka’ ku itu berada. Jalan ini, suatu saat nanti pasti akan sangat aku rindukan. Saksi bisu yang merekam setiap langkah kaki ku pergi dan pulang mengaji ilmu di kota Nottingham ini.

Di jalan itu, setiap hari selalu ku temukan pelajaran hidup yang berbeda. Perjalanan berharga dari orang-orang yang berbeda yang berjalan dan bersepeda  menyusuri jalan itu. Seperti hari ini aku berpapasan dengan orang yang membaca sambil berjalan cepat. Sudah berjalan nya setengah berlari, sebagaimana gaya berjalan orang Inggris pada umumnya, masih sempatnya membaca buku.  Aku saja, di perpustakaan langsung tertidur setelah kurang dari satu jam membaca buku. Adalah pemandangan biasa, di public transport seperti kereta dan bus di Inggris ini, orang-orang pada terdiam sendiri, asyik dengan buku bacaanya masing-masing. Memang sih terkadang kesan nya mereka cuek dan tidak ramah. Tetapi, harus aku akui terkadang buku lebih enak diajak ngobrol daripada manusia.

Ilustrasi: Membaca di Dalam Kereta Api

Dalam keadaan berdiri di dalam kereta api yang sesak pun, mereka masih sempat membaca. Memang budaya membaca orang Inggris ini sangat  pantas untuk dikagumi. Mungkin berawal dari budaya membaca inilah, mereka mampu menciptakan masyarakat yang terdidik, santun, dan saling menghargai manusia lainya. Yah, membaca adalah salah satu cara tuhan memberikan ilmu kepada hamba nya. Namun budaya membaca memang tidak datang begitu saja, semuanya perlu dibiasakan bukan? salah satu cara aku memotivasi diriku untuk membaca adalah dengan kesadaran bahwa: orang yang bisa membaca tetapi tidak membaca buku, tidak ada bedanya dengan orang yang tidak bisa membaca.

Membaca Sambil Berdiri di Kereta Api, Inggris

Kita tidak perlu mencari seribu alasan, kenapa mereka rajin membaca sementara kita tidak. Sebenarnya, kalau kita mau jujur bukan karena keadaan seperti ketersediaan buku bacaan yang terbatas yang membuat kita malas membaca. Buktinya, perpustakaan kita pun sepi. Tetapi mari kita menyalahkan diri kita sendiri yang memang pada dasarnya malas untuk membaca. Mulai sekarang, mari kita berjanji pada diri kita sendiri untuk rajin membaca. Jika sehari sebelum tidur kita membiasakan membaca 1 halaman saja, sudah 365 halaman yang kita baca dalam setahun. Membaca adalah salah satu  ikhtiar kita untuk mencari ilmu. Mencari ilmu adalah wajib hukumnya bagi yang berakal sehat, dari sejak kita lahir hingga kita terkubur di alam barzah. Bahkan, Pak Modin pun masih mengajari kita menjawab pertanyaan malaikat saat tubuh kita  telah terbungkus kain kafan (baca: talqin mayit). Semoga Tuhan selalu  menganugerahkan ilmu yang bermanfaat buat kita semua. Allahumma Ammiin.

Sudah berapa halaman anda membaca buku hari ini?

Sepeda Ontel di Cambridge : yang tak lekang diterjang arus majunya teknologi transportasi

Menelusuri setiap sudut kota kecil ini membawa ingatan saya kembali pada tahun 90-an awal. Saya merasa bernostalgia dengan kehidupan dusun ku yang damai (Dusun Wringinpitu, Desa Plampangrejo), di ujung selatan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur; tempat dimana saya menghabiskan masa kecil ku yang penuh dengan kenangan. Kenanganan yang kini sudah tercerabut oleh keangkuhan perubahan Jaman yang entah saya tak tahu harus pergi kemana lagi jika saya ingin mengenangnya. Hingga akhirnya, kota kecil ini menghadirkan kenangan dan menghidupkan suasana masa lalu itu kembali. Di kota Cambridge, Inggris, kota pusat sumber inspirasi kemajuan peradaban manusia di dunia saat ini, tempat dimana salah satu universitas terbaik di atas jagad raya itu berada, saya kembali terhanyut dalam buaian romantika kenangan masa lalu kembali. Dan tahukah anda, kenanganan apakah itu?

Sepeda Ontel, Desa ku dan Kenangan masa kecil ku

sepeda ontel di cambridge_26

Iya kenangan itu adalah kenangan tentang sepeda Ontel. Mode transportasi bersahaja yang menjadi bagian tak terpisahkan dari langkah  panjang peradaban umat manusia. Masih terekam kuat dalam ingatan saya ketika saya masih kecil, di era tahun 90an di kampung saya sepeda ontel pernah menjadi mode transportasi paling utama. Para petani desa hilir mudik pulang pergi dari sawah ladang mereka dengan sepeda ontel mereka, termasuk untuk mengangkut hasil panen sawah dan ladang mereka. Anak-anak sekolah pun ramai bersepeda pergi dan pulang dari sekolah mereka. Mereka pergi bergerombol dan berboncengan berarak-arakan seperti laskar prajurit yang sedang pergi berperang. Saya termasuk di antara mereka. Bahkan Waktu SMP, saya dan beberapa teman dari desa Plampangrejo, harus mengayuh sepeda di setiap pagi-pagi buta  sejauh lebih dari 10 KM untuk menuju ke SMP Negeri yang terletak di Kota Kecamatan.

Tidak hanya untuk transportasi dalam desa, sepeda ontel di kampung saya pada saat itu juga biasa digunakan untuk menempuh perjalanan jarak jauh antar desa bahkan antar kecamatan. Masih terekam kuat dalam memori ingatan saya, di setiap hari raya tiba, bapak selalu mengajak saya untuk bersilaturahim ke rumah saudara-saudara kami di luar desa dan kecamatan hanya dengan sepeda ontelnya. Saya dibonceng oleh Bapak, sementara adik saya yang perempuan di bonceng oleh emak  saya. Kami tidak sendiri, biasanya kami pergi bersama-sama dengan saudara yang lain. Pergi pagi-pagi buta dan kembali di rumah ketika malam mulai menjelang. Menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer, dari desa satu ke desa lainya, melintasi jembatan bambu,  bahkan seringkali harus menyebrangi sungai. Sungguh, sebuah kekuatan semangat silaturrahim yang sangat-sangat luar biasa pada saat itu, apalagi untuk ukuran masa sekarang.

Sepeda Ontel, Desaku, dan Riwayatmu kini

Lain ladang lain belalang, lain dulu lain sekarang. Sekarang, jika saya pulang kampung keadaan jauh berbeda. Sepeda ontel, yang dahulu di setiap keluarga setidaknya memiliki satu sepeda ontel, kini pun tinggal kenangan. Sepeda Bapak saya, yang dulu kokoh dan tangguh pun sudah lama dianggurin di dalam kandang ayam. Yang lambat laun karatan dan akhirnya rusak dimakan usia. Hanya sepeda-sepeda model BMX yang dipakai oleh mainan anak-anak kecil saja yang masih tersisa. Moda transportasi desa kini telah tergantikan oleh motor dan Mobil.

Jujur dari hati nurani yang paling dalam, setiap kali pulang kampung, saya merindukan suasana kedamaian dan ketentraman desa ku yang dulu. Di jalan kampung di depan rumah saya, yang hingga saat ini belum diaspal itu, kini penuh bising dengan suara berisik sepeda motor dan mobil. Apalagi, di hari lebaran. Jumlah volume mobil yang lewat di depan rumah saya meningkat sangat drastis. Hampir setiap menit ada saja mobil yang lewat. Menghadirkan suara bising dan menghembuskan debu-debu jalanan yang sangat menyiksa.

Desa saya yang dulu damai, di setiap lebaran berubah menjadi  tak ubahnya suasana di jalanan Ibu kota yang berisik. Mungkin, karena mobil adalah simbol kesuksesan pencapaian hidup manusia Indonesia. Sehingga kuda-kuda besi dari Jepang itu harus dipertontonkan ke seluruh penduduk kampung oleh anak-anak desa yang merasa sukses merantau di negeri seberang. Atau karena mereka merasa harga diri mereka ada pada benda bergerak penyebar polusi itu? dan seolah penduduk kampung pun mengamini bahwa merekalah yang mobilnya paling bagus yang paling sukses hidupnya.

Kalau sudah begini, kemana saya harus mencari kedamaian kampung saya yang dulu lagi?

08_sepeda ontel di cambridge_01

Para Mahasiswi Cambridge dengan sepeda Ontelnya.

Sepeda Ontel dan Cambridge.

Di Cambrige, sepeda ontel adalah moda transportasi mainstream. Di kampus Universitas Cambridge misalnya, mayoritas mahasiswa menggunakan sepeda ontel untuk mobilitas mereka di sekitar kampus yang sangat luas. Sebenarnya ada layanan Bus murah khusus mahasiswa cambridge yang mengelilingi kampus dan city center. Tetapi sepertinya layanan Bus ini kurang dinikmati. Mungkin karena tidak gratis dan kurang fleksibel, karena bus hanya lewat setiap 10 menit sekali. Waktu 10 menit menunggu mungkin sangat berharga bugi para mahasiswa Cambridge.

08_sepeda ontel di cambridge_02

Sepeda Ontel di salah satu gedung perkuliahan di Universitas Cambridge

Tidak hanya dalam lingkungan kampus dan mahasiswa, sepeda ontel juga sangat populer di antara masyarakat pada umumnya di Cambridge. Di pusat kota Cambridge misalnya, anda bisa menyaksikan pengguna sepeda Ontel yang sangat banyak. Demikian juga sepeda-sepeda ontel yang diparkir di sepanjang jalan. Di Cambridge, dan di Inggris pada umumnya, parkir untuk mobil sangat mahal, hampir £1 pound (Rp.15.000) per jam. Tetapi tidak halnya dengan parkir sepeda ontel, anda bisa parkir di tempat-tempat parkir sepeda yang disediakan dengan gratis.

Sepeda Ontel di Pusat Kota Cambridge

Selain di pusat kota, sepeda ontel juga banyak digunakan para pemakai mass public transport seperti kereta api. Umumnya, mereka menggunakan sepeda dari rumah ke stasiun kereta api. Tetapi, banyak juga yang membawa sepedanya masuk ke dalam kereta api dan ini sangat diperbolehkan di Inggris. Mereka biasanya menggunakan tipe sepeda lipat yang bisa dilipat dan dimasukkan ke dalam tas dan dibawa masuk ke dalam kereta. Kalaupun tidak memiliki sepeda lipat, di dalam kereta api juga terdapat tempat khusus para penumpang dengan sepedanya, yang terletak di antara sambungan gerbong.

Sepeda Ontel di Salah satu stasiun kereta Api

Berbagai Rupa Sepeda Ontel di Cambridge

Mungkin anda berfikir bahwa sepeda Ontel di Cambridge adalah sepeda ontel modern mahal berharga puluhan juta rupiah seperti sepeda Ontel kalangan berada di kota-kota besar di Indonesia. Sepeda-sepeda  ontel di Cambridge adalah sepeda ontel bersahaja yang mengingatkan saya pada sepeda ontel -sepeda ontel di kampung saya pada era 90-an. Berikut beberapa foto yang berhasil saya abadikan.

Seorang mahasiswi Cambridge dengan sepeda Ontel bersahaja nya

Kira-kira masih ada ndak ya saat ini mahasiswa/i di salah satu kampus di Indonesia yang masih mau berangkat ke kampus dengan sepeda bututnya seperti mahasiswi Cambridge di atas? di kampus saya di surabaya, sebuah PTN yang dulu dikenal sangat merakyat saja saat ini mahasiswa/i nya sudah pada berlomba-lomba dengan mobil-mobil nya. Yang merubah parkiran sepeda ontel dan motor butut menjadi layaknya sebuah show room mobil. Ironis memang, kesederhanaan dan kebersahajaan hidup justru saya temukan di kampus di Inggris, negara maju yang kemakmuran dan pendapatan perkapitanya berpuluh-puluh kali lipat dengan Indonesia. Sementara, kesederhanaan dan kebersahajaan hidup justru menjadi barang yang sangat langka di kampus di Indonesia yang katanya negara dunia ketiga yang ketinggalan secara ekonomi.

Sepeda Ontel lainya

Yang menjadi ciri khas sepeda ontel di Cambridge adalah sebuah keranjang berwarna coklat yang terbuat dari anyaman kayu serabut. Biasanya, keranjang ini digunakan untuk menaruh tas dan barang-barang bawaan lainya. Pemakai sepeda ontel di kota ini juga lintas profesi, lintas umur, dan lintas gender. Tidak hanya mahasiswa dan ibu rumah tangga, penyandang profesi lain pun ikut mengayuh sepeda.

Mahasiswi cambridge dan sepeda ontenya

Tidak hanya para remaja, anak-anak dan para lanjut usia pun bersepeda. Tidak hanya laki-laki, perempuan pun bersuka ria dengan sepeda-sepeda nya.

Lelaki dan sepeda ontelnya

Bahkan tidak hanya yang bertubuh normal, yang mengalami cacat fisik pun banyak yang menggunakan sepeda. Berikut berbagai pose masyarakat Cambridge dengan sepeda-sepeda ontel mereka.

Sepeda Ontel Kaki tiga

Sang putri dengan sepeda ontelnya

Si Bapak dan sepeda Ontel feminin nya

Si Kecil dan sepeda Ontelnya

Si manis dan sepeda ontelnya

Mahasiswi cerdas dan sepeda ontelnya

Si seksi dan sepeda ontel bututnya

Pak Tua dan sepeda Ontelnya

Sang professional dan sepeda ontelnya

Si modis dan sepeda Ontelnya

Si Gaul dan Sepeda Ontelnya

Yang unik dari Sepeda Ontel di Cambridge

Mungkin kita berfikir sepeda ontel tidak praktis dan memiliki keterbatasan untuk ukuran keluarga. Mungkin kita berfikir mobil adalah moda transportasi paling sempurna untuk sebuah keluarga. Dimana pasangan dan anak-anak kita bisa diangkut bersama. Tetapi, yang menarik di Inggris, sepeda ontel tak menghalangi kebersamaan keluarga. Bahkan, sepeda ontel bisa digunakan untuk membawa seorang bayi. Ya Mereka  menarik baby box dengan sepeda ontelnya.

Sepeda ontel dan Baby Box

Untuk membawa anak-anak yang sudah agak besar. Sepeda ontel bisa dilengkapi dengan boncengan seperti foto-foto di bawah ini.

Sepeda Ontel dan Boncengan Anak nya

Sepeda Ontel untuk dua orang

Ayah, Anak, dan Sepeda Ontelnya

Sepeda Ontel dan Kenyamanan Kota

Dengan masyarakatnya yang mayoritas adalah pengguna sepeda ontel, Cambridge menjadi salah satu kota di Inggris yang sangat nyaman untuk disinggahi. Udara yang bersih, tidak ada kemacetan, tidak ada polusi, dan yang pasti sangat nyaman untuk dinikmati. Ritme kehidupan terasa berjalan dengan penuh kedamaian yang menentramkan hati dan menenangkan pikiran.  Tidak seperti kota-kota besar yang bersisik dan penuh dengan kepenatan dan hiruk pikuk kesibukan hidup. Cambridge, tidak salah jika kota ini adalah sumber inspirasi kesempurnaan sebuah peradaban umat manusia. Di kota inilah, telah lahir ilmuwan-ilmuwan kenamaan yang telah banyak merubah dan mempengaruhi dunia, seperti  Isaac Newton, Darwin dan sebagainya.

Suasana di depan Stasiun Kereta Api Cambridge

Suasana dalam salah satu kampus Universitas Cambridge

Untuk mengintip nyamanya kota Cambridge, yuk kita intip dua video di bawah ini.

Sepeda Ontel dan Masa Depan nya di Indonesia

Melihat serunya bersepeda Ontel di Cambridge, dan Inggris pada umumnya. Saya jadi bertanya-tanya, kenapa tidak di Indonesia ya? Bukankah sepeda Ontel itu moda transportasi yang murah? Mungkin banyak dari kita berfikir sangat nyaman bersepeda di Eropa karena udaranya yang sejuk dan nyaman, sementara di Indonesia sangat panas dan tidak nyaman untuk bersepeda.

Tetapi, menurut saya itu tidak sepenuhnya benar. Justru cuaca di Inggris jauh lebih complicated dengan cuaca di Indonesia. Di musim panas, Inggris suhunya bisa mencapai di atas 30 derajat dan tidak kalah sumuknya dengan kota Surabaya, toh mereka malah asyik berpanas-panasan dengan sepeda ontelnya. Di musim dingin suhu bisa di bawah 0 derajat celcius dan bersalju. Hujan bisa turun kapan saja  sepanjang tahun.

Jadi menurut saya, bersepeda ontel itu bukan karena keadaan dan ketidakberdayaan. Tetapi karena pilihan budaya hidup. Pilihan yang dipengaruhi oleh bagaimana pola pikir kita terhadap kehidupan dunia ini. Jika gaya hidup mewah dan pamer kakayaan hidup adalah pilihan mungkin sepeda ontel bukanlah pilihan yang tepat. Hal ini akan berbeda jika kesederhanaan dan keharmonian hidup dan alam menjadi pilihan.