Hidup Memang Kadang Mesti Begitu

melamun_di_edinburgh

Ilustarasi: Di Bukit Calton, Edinburgh, Skotlandia

Kulihat hujan rintik mengguyur sepanjang pagi
Membasahi dedaunan yang mulai menguning, kecoklatan.
Menandai datangnya musim gugur di tengah bulan september.
Sejenak angin pun berhembus,
Merontokkan daun-daun itu berjatuhan di atas tanah.
terinjak-injak, dan terlupakan selamanya.

Guguran daun-daun itu, seolah bercerita
Tentang rencana-rencana dan harapan-harapan ku
Yang berguguran satu-persatu.
Terhempas badai takdir, terenggut oleh keperkasaan waktu.

Argh,
Bukankah hidup memang terkadang harus begitu,
Tak semua doa-doa harus terkabulkan
Tak semua keinginan harus terpuaskan
Tak semua harapan harus jadi kenyataan

Bukankah hidup memang bukan kehendak kita?
Jika setiap kehendak menjadi goresan pena takdir,
Kita adalah Tuhan.

Kadang hidup hanya sekedar mengapung
Bagai seonggok gabus terbawa arus takdir
Terapung-apung dan terhempas,
di atas gelombang samudera kehidupan.

Ku cari matahari,
Tetapi mendung begitu rapat menyembunyikanya.
Ku cari pelangi,
Tetapi langit tak berkenan menghadirkanya.

Untung aku masih menyimpan keyakinan,
Bahwa esok atau lusa,
langit akan terlihat cerah kembali.
Bahwa di kemudian hari,
Daun-daun akan bersemi kembali.

Nottingham, 14/09/2015

tentang daun-daun yang berguguran

“…. dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan telah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Kuperhatikan sebuah fenomena alam,
daun-daun berguguran menjalankan titah Tuhan
sebagaimana telah tertulis dalam kitab catatan yang dirahasiakan,

daun yang dulu hijau itu,
kini tak hijau lagi, perlahan menguning, memerah, memutih dan menghitam
daun yang dulu kokoh itu,
itu kini jatuh tersapu juga oleh belaian angin
daun yang dulu tinggi itu
kini jatuh di atas tanah rendah.
daun yang dulu indah itu,
kini berserakan tiada guna.

Daun-daun di musim gugur itu,
mengajarkan aku tentang sebuah pelajaran,
satu pengajaran tentang ketidakabadian.
tak selamanya kita di atas,
suatu saat kita pasti terjatuh dibawah,
tak selamanya kita disanjung dan dipuja,
akan tiba saatnya kita akan dihina.

Pohon pohon di musim gugur itu,
bercerita tentang keperkasaan sang waktu,
yang tak pernah mau untuk menunggu

itulah ayat-ayat tuhan..
tentang ketidakabadian
kita tak patut diri untuk membanggakan
karena kita semua akan kembali pada Tuhan,

Nottingham, ASAP Lab. 21: 24 (While my heuristic algotihm is running for unlimited time)