Muktamar NU 33

Mendung di Langit Kota Jombang

… Bulan terang di atas Alun-alun Jombang. Terangi malam yang mencekam. Bukan ku takut pada ancaman. Namun malu pada pagi yang bersinar. Hati pecah meski senyum tetap lebar. Demi salam semua pengunjung datang. Wajah kecewa karena tangan partai. Kyai Datang untuk menenangkan. Aku hanya ingin mengemis do’a, biar khittah tidak di mulut saaja – (@yenniwahid, Jombang 3 Agustus 2015.

NU_Pecah

Headline Tempo.co (05/08/2015)

Muktamar NU 33 di Jombang (1-5 Agustus 2015) lalu, begitu menyita perhatian dan emosi saya, meskipun hanya mengikuti dari jauh lewat layar HP dan monitor. Sedih, malu, senang, haru, khawatir, dan air mata campur aduk jadi satu, detik demi detik mengikuti perkembangan muktamar dari group WA teman-teman yang sedang menjadi peserta muktamar di lokasi . Belum pernah emosi saya ikut begitu terlarut seperti ini sebelumnya karena NU. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di tengah-tengah nahdiyin, serta pernah mengecap pendidikan pesantren khas NU, memang membuat NU selalu menempati ruang tersendiri dalam hati saya. Tapi tidak seperti kali ini. Biasanya hanya mengikuti sepintas lalu, atau bahkan apatis, tidak peduli sama sekali.

Logo_Muktamar_NU

Logo Mukatamar NU 33 (muktamarnu.com)

Angka 33 memang istimewa. Seperti pada jumlah perulangan dzikir sehabis sholat, saya percaya tersimpan misteri dibalik angka itu. Kota Jombang pun selalu punya cerita istimewa yang mampu menyedot dan mengalihkan perhatian publik dari Ibu kota ke kota kecil ini. Seperti muktamar NU 33, yang untuk kali pertamanya diselenggarakan di kota kelahiranya ini, pun menorehkan sejarah sendiri khususnya bagi jamiiyah NU.

Belajar Banyak Kearifan Hidup dari Muktamar NU 33

Sedih, malu dan penuh kekhawatiran dan keprihatinan, rasa itu berkecamuk sejak hari pertama muktamar yang diberitakan gaduh. Puncaknya pada hari terakhir muktamar, ketika beberapa media online yang senang menjual berita sensasional, menjadikan kata ‘NU PECAH’ sebagai headline. Terbayang, bagaimana organisasi Islam yang dipimpin para kyai itu jika pada akhirnya tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri, tak ubahnya partai politik yang dilanda konflik berkepanjangan. Terbayang juga, bagaimana kelompok lain yang dari awal memang ‘nyinyir’ dengan ormas yang saya banggakan ini, bersorak sorai, merayakan kemenangan, membangga-banggakan keunggulan ‘ideologi’ mereka.

shinta-jokowi-muktamar-NU

Presiden Jokowi Memberi Hormat Ke Ibu Shinta Wahid di Arena Muktamar NU 33 (Foto: sekkab.go,id)

Bayangan saya, hari itu langit di jombang mendadak mendung, tertutup awan hitam, di tengah musim kemarau panjang yang terik. Tetapi saya juga terharu dan tersentuh dengan berbagai peristiwa yang sempat terpotret oleh teman-teman. Melihat para pejabat dan para kyai terlihat begitu guyub, berkumpul bareng, rasanya adem di hati. Seolah mereka memamerkan kemesraan para Ulama dan Umaro’.

jokowi_mega_yenni

Bu Mega, Para Pejabat Negara, Bersama Mbak Yenni Wahid (foto: @yenniwahid)

Saya pun tersentuh oleh keteladanan para kyai sepuh di muktamar. Mbah Mun yang memaksakan berdiri dari atas kursi roda untuk ikut menyanyikan lagu Indonesia raya. Mbak Alisa wahid, yang penuh tawadu’ salim mencium tangan Mbah Mun pun tak luput mengundang air mata saya menetes di pipi.  Terlebih ketika Gus Mus, dengan penuh isak memberi ‘wejangan’ untuk mendamaikan para peserta muktamar yang sempat gaduh. Wejangan itu terasa sekali berasal dari lubuk hati beliau yang terdalam, sehingga setiap hati yang mendengarnya pun akan tersentuh olehnya. Kegeraman dan kekecewaan pun kadang mendera jiwa, ketika diberitakan para kyai itu saling berseteru. Saling berprasangka buruk dan mengumbar prasangka itu di media.

MbakAlisaSalimMbahMun

Alissa Wahid Mencium Tangan Mbah Moen (@alissawahid)

Alhamduliah, pada akhirnya jamiiyah NU bisa mendamaikan dirinya sendiri. Selamat kepada Kang Said yang terpilih kembali sebagai ketua PBNU 2015-2020. Selamat kepada Prof KH Makruf Amin, cucu kyai Nawawi Albantani, sebagai Rois Aam yang baru. Selamat kepada kemenangan jiwa Gus Mus. Yang dengan segala kerendahan hati beliau, beliau memberikan mandat Rois Aam itu kepada Kyai Makruf Ammin. Sungguh sebuah keteledanan luar biasa bagi umat. Semoga kang said dan kyai ma’ruf mampu membawa NU berlari menjadi lebih baik. Semoga Gus Mus tetap bisa ngemong umat. Khusunya ngemong anak-anak muda NU. Semoga beberapa pihak yang kurang berkenan hati dengan hasil muktamar ini, bisa berbesar hati untuk berkonsolidasi, bergandengan tangan dan tumbuh bersama-sama kembali mengabdi kepada umat melalui jammiyah NU.

said aqil dan kh makruf

Kyai Said mencium tangan Kyai Ma’ruf (tribunnews.com)

Di hari terakhir muktamar NU ke 33 itu, banyak sejarah NU telah terukir. Diantaranya yang paling menyejarah adalah surat Gus Mus, yang ditulis sangat apik dengan tulisan pegon, tulisan khas ala pesantren. Yaitu tulisan non-arab (dalam hal ini bahasa Indonesia) yang ditulis dengan huruf-huruf Arab. Surat itu berisi kebesaran jiwa beliau, kerendahan hati beliau, untuk mendamaikan kedua kubu yang berseteru yang menjadi biang kegaduhan selama muktamar, dengan mengundurkan diri dari terpilihnya beliau sebagai Rois Aam dan menyerahkan mandat itu kepada Kyai Ma’ruf.

Surat Gus Mus

Surat Pengunduran diri Gus Mus (@kangSantryyy)

Memetik Pelajaran dari Muktamar ke 33 NU 

Media boleh saja memberitakan kegaduhan muktamar NU 33 kali ini. Masyarakat pun boleh membanding-bandingkan antara Muktamar NU yang kacau dengan Muktamar Muhammadiyah yang profesional. Bahkan, warga NU sendiri pun boleh mengatakan ini muktamar terburuk sepanjang sejarah NU. Boleh-boleh saja, karena memang seperti terlihat begitu. Tetapi kalau kita membaca sejarah, kegaduhan muktamar NU ini hanyalah pengulangan sejarah.

MbahMoen

Mbah Moen Berdiri Menyanyikan Indonesia Raya (@alissawahid)

Pada Muktamar ke-28 di Krapyak  Yogyakarta, 1989, pernah terjadi perseteruan terbuka antar Gus Dur dan Kyai As’ad Syamsul Arifin. Kyai As’ad menyatakan mufarroqoh berpisah dengan NU nya Gus Dur, yang terpilih kembali menjadi ketua PBNU. Hal ini karena isu-isu yang menerpa Gus Dur, mulai dari isu Gus Dur membela terlalu kaum syiah, mengganti assalamualaikum dengan selamat pagi, Gus Dur menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta, membuka malam kesenian Yesus Kristus, Gus Dur yang Liberal, bahkan Gus Dur dihakimi telah keluar dari Ahlusunah Waljama’ah. Tetapi disisi lain, kyai As’ad pada saat itu sangat dekat dengan penguasa Orde baru [Baca: 1, 2, 3, 4]. Ini tentu saja mirip dengan muktamar ke 33 ini, dimana Kyai Sa’id Aqil Siroj belakangan juga banyak diisukan terlalu membela kaum Syiah.

Demikian juga tak kalah hebatnya pada Muktamar NU ke-29, Tahun 1994 di Tasik Malaya. Dimana pada waktu itu terjadi perseteruan hebat antara Gus Dur sebagai incumbent dengan  Abu Hasan yang didukung penguasa order baru. Gus Dur yang kritis terhadap pemerintah saat itu, dicoba untuk digembosi oleh penguasa order baru. Terjadilah pada saat itu, pemilihan ketua PBNU yang sangat menegangkan. Bahkan sampai pemerintah mengerahkan ABRI [baca: 4, 5].

peserta_muktamar_nu_bule

Peserta Muktamar NU Buke Pakai Sarung, Hendak Ziarah di Makam Gus Dur (@ansor_jatim)

Jadi menurut hemat saya, kegaduhan di Muktamar NU yang ke-33 kemarin adalah dinamika organisasi yang lumrah. Dan justru menjadi ajang pembelajaran umat yang sangat berharga. Memang terkadang yang adem ayem tidak selalu lebih baik. Tetapi sering kali, justru yang penuh dinamika lah yang terbaik. Jarang pribadi yang hebat itu adalah pribadi yang jalanya lempeng-lempeng saja, tetapi sering kali pribadi yang hebat adalah pribadi yang hidupnya penuh liku-liku dan dinamika. Ikatan keluarga yang kuat pun bukanlah keluarga yang tidak pernah terjadi konflik, tetapi keluarga yang bisa kembali bersatu, semakin kuat ikatanya, setelah melalui ujian-ujian konflik yang mendera. Begitu halnya organisasi sebesar dan sehebat NU ini.

Saya sangat optimis, melihat tabiat orang-orang NU, meskipun mereka digambarkan oleh media berseteru hebat, sebagaimana budaya para santri mereka pasti akan segera  rukun kembali, suasana akan mencair kembali. Dan akan guyonan kembali. Kalaupun ada media yang terlalu membesar-besarkan, argh itu mah memang pekerjaan mereka cari makan dari situ. Toh perjalanan waktu yang akan membuktikan nya. Argh, lahwong begitu saja kok Repot ! Serius Amat sih !

Gus Dur Cak Nun Gus Mus

Cak Nun, Gus Mus, dan Gus Dur (@kangSantryyy)

Dari muktamar NU yang ke-33 ini, saya banyak belajar tentang ketawadu’an, kerendah-hatian, kesejukan, keteladanan, kebesaran jiwa dari seorang Gus Mus. Saya belajar tentang keberanian menyampaikan dan memperjuangkan sesuatu yang diyakini kebenaranya dari Gus Sholah. Saya juga belajar banyak tentang ketinggian ilmu, kepercayaan diri, dan sikap optimisme dari Kang Said Aqil Siroj. Dan banyak belajar hikmah lainya dari para kyai sepuh dan para tokoh,  dan tentang semangat membangun anak-anak muda NU dari muktamar NU yang ke-33 ini. Dari muktamar NU ini, saya yakin NU secara organisasi bisa belajar banyak tentang manajemen organisasi yang lebih baik ke depanya.

Gus Sholah Kang Said Berdamai

Gus Sholah dan Kang Said pun Rukun Kembali (@kangSantryyy)

Secara pribadi, dari proses muktamar NU 33 yang saya ikuti ini, pada akhirnya saya pun belajar bahwa dalam setiap hubungan yang melibatkan manusia-manusia, filosofi yang kata orang Inggris, ‘Everybody want to be somebody‘ atau kata orang Jawa ‘kudu iso nguwong ke‘ itu benar-benar penting untuk diperhatikan untuk menciptakan harmoni. Sebisa mungkin setiap individu, harus diajak bergandengan tangan untuk tumbuh dan maju bersama-sama. Jangan sampai ada diantara kita yang merasa tertinggal dan ditinggalkan.

Terima kasih NU atas pelajaran ini. Semoga NU kedepanya, dalam, mabadi’ khoira ummah, mengabdi dalam membangun ummat yang lebih baik, semakin terasa dampaknya, khususnya untuk masyarakat santri di tataran akar rumput yang menjadi basis cultural dari Jamiiyah ini. Semoga Alllah senantiasa membimbing, memberi petunjuk jalan bagi perjuangan kita semua ! Semogah barokah untuk kita semua. Allahumma Ammiin.

Advertisements

Kalau Perlu Saya Mencium Kaki-kaki Anda Semua

Saya malu kepada Allah Ta’ala, malu kepada Hadratus syeikh KH Hasyim Asy’ari, Malu kepada Kyai Abdul Wahab Hasbullah, Malu kepada Kyai Bisri Syansuri, Malu kepada Kyai Romly Tamim dan pendahulu kita yang telah mengajarkan kepada kita akhlakul rosul SAW Lebih menyakitkan lagi tadi pagi saya disodori koran headline mengatakan: ‘Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh’ – KH Mustofa Bisri

FATWA ROIS AAM

Gus Mus Menenangkan Kegaduhan Muktamar NU 33 di Jombang (okezone.com)

Belajar dari Muktamar NU ke-33, 2015

Awal Agustus ini, dua ormas Islam terbesar Indonesia, NU dan Muhammadiyah, sama-sama memiliki gawe besar, yaitu Muktamar yang agenda utamanya adalah memilih ketua umum baru. Muktamar NU yang ke-33 itu diadakan tanggal 1-5 Agustus 2015 di kota santri, Jombang, Jawa Timur, kota tempat para pendiri NU berada. Sementara Muktamar Muhammadiyah yang ke-47 itu diselenggarakan pada tanggal 3-7 Agustus 2015 di Makassar Sulawesi Selatan.

Boleh dibilang Muktamar NU yang ke-33 ini adalah yang paling ‘heboh’, dan paling banyak dibicarakan bahkan menimbulkan polemik dan pro kontra di media masa, khususnya di media jejaring sosial. Gerakan ayo Mondok, yang merupakan rangkaian muktamar NU yang ke-33 sempat menjadi trending topik di twitter. Banyak yang mendukung, tetapi juga tidak sedikit yang mencela. Tak kalah heboh adalah tema yang diangkat, yaitu Islam Nusantara, yang menjadi bulan-bulanan di media masa dan media jejaring sosial, selama beberapa bulan sebelum hingga hari H pelaksanaan Muktamar. Ada yang pro tetapi banyak juga yang kontra. Bahkan para kyai dan bu nyai artis di TV pada nyinyir dengan Islam Nusantara. Tak kalah hebat, serangan balik dari kelompok-kelompok yang merasa terusik dengan term ‘Islam Nusantara’. Khususnya, mereka yang lebih condong ke Salafi/Wahabi. Kesan saya, mereka terlalu terburu-buru menghakimi ‘Islam Nusantara’ dengan pandangan mereka, tanpa sabar sedikit menoca memahami, opo sing dikarepake dengan Islam Nusantara yang dijadikan tema Muktamar NU yang ke-33 ini. Bahkan teman dekat saya jaman SMP, yang kebetulan salafiyyun, terang-terangan bilang sama saya untuk meng unfriend di facebook, hanya gara-gara saya pasang status tentang Islam Nusantara. Saya pun hanya tertawa dalam hati.

Berbeda dengan NU, euforia muktamar ke-47 Muhammadiyah, relatif kurang terdengar gaungnya. Tema yang diangkat pun yaitu Islam yang berkemajuan, relatif kurang mendapat respon dari masyarakat. Relatif adem ayem.

Rupanya, kegaduhan Muktamar NU itu berlanjut hingga hari H pelaksanaan Muktamar. Sialnya, kegaduhan kali ini, tidak disebabkan oleh ‘benturan’ Nahdliyin dengan kelompok lain seperti sebelumnya, tetapi kegaduhan yang dilakukan oleh para peserta muktamar sendiri. Mulai dari proses pendaftaran yang ruwet dan amburadul, hingga sidang pleno yang ricuh. Akibatnya, agenda pembacaaan tata tertib muktamar, yang sedianya dijadwalkan selesai pada hari pertama.  Harus molor berlarut-larut penuh ketegangan, hingga tata tertib muktamar itu baru disepakati di hari ketiga.

Menurut hemat saya, penyebab sebenarnya, ya ujung-ujung nya adalah ya lagi-lagi pada berebut kuasa, pimpinan tertinggi. Antara dua kubu, yang sebenarnya rival lama, pada muktamar lima tahun sebelumnya. Yaitu kelompoknya Gus Solah dan Hasyim Muzadi di satu kubu, dan kelompoknya Kyai Aqil Siroj yang Incumbent. Tetapi, teknisnya, yang menjadikan polemik berlarut-larut adalah tentang mekanisme pemilihan ketua umum. Kubu yang satu menginginkan sistem voting untuk muktamar kali ini, sementara kelompok yang lain menginginkan sistem AHWA (Ahlu Haq Wal Ahdi) atau sistem perwakilan melalui dewan formatur diterapkan mulai muktamr kali ini.

Perbedaan pandangan inilah, yang sebenarnya sudah diprediksi, yang menimbulkan kekisruhan. Sayangnya, para peserta muktamar yang kebanyakan para kyai ini ini banyak yang tidak sabar dan tidak mampu menahan emosinya. Hingga terjadilah peristiwa yang ‘memalukan’ itu pun terjadi. Para kyai terlibat adu mulut, saling serobot mik, bahkan saling dorong-mendorong. Parahnya semua itu terekam secara Live oleh media. Dan disaksikan oleh jutaan mata masyarakat Indonesia. Belum lagi statemen-statemen beberapa kyai yang justru seperti membuka aib sendiri dengan berkoar-koar di media, dengan klaim dan tuduhan yang belum tentu kebenarnya.

Saya pribadi, yang kebetulan pas akhir pekan, sehingga bisa mengikuti dari berita online, maupun streaming, miris, ngelus dodo dan malu sekali rasanya. Betapa, jamiiyah yang selama ini saya bangga-banggakan ternyata akhlaknya seperti itu, tak ubahnya para politisi di senanyan yang gontok-gontokkan. Bukankah mereka itu para kyai yang terkenal akhlak tawadu’ dan wira’i nya. Argh, tapi mungkin jaman sudah berubah dan kyai pun akhlaknya juga berubah.

Sampai-sampai, Martin van Bruinessen,  peneliti Islam NU di Indonesia, serta pengagum Gus Dur dan Nahdlatul Ulama dari Belanda, yang sengaja datang ingin melihat proses Muktamar organisasi Islam yang dia kagumi itu, sebagaimana saya kutip dari merdeka.com, dengan mata berkaca-kaca, berkata:

Saya sedih dan ingin menangis melihat kondisi ini.

Saya yakin, ada kelompok lain yang diam-diam bertepuk tangan, sorak sorai, dengan kericuhan dan kegaduhan di dua hari pertama muktamar itu. Terutama kelompok lain, yang sebelumnya berseberangan dengan NU khususnya dengan tema yang diangkat pada muktamar kali ini.

Berbeda dengan muktamar NU yang diberitakan gaduh oleh media, muktamar Muhammadiyah di seberang lautan diberitakan sangat teduh. Semua berjalan lancar, dan tidak ada isu-isu negatif yang menyertainya.

Ketika para Kyai Sepuh Turun Tangan

Tetapi alhamdulilah, kekisruhan itu akhirnya terdamaikan. Ketika para kyai sepuh, yang dipimpin oleh Gus Mus, menengahi kekisruhan itu. Dengan wejanganya yang dalam dan menyentuh, disertai isak tangis, dan gaya khas Gus Mus yang kalem itu, akhirnya mendiamkan para muktamirin yang sebelumnya gaduh. Ketika Gus Mus memberi wejangan, mendadak semuanya sunyi senyap, bahkan sebagian para peserta muktamar tak kuasa menahan tangis. Dan akhirnya, tata tertib muktamar itu dengan solusi dari para kyai sepuh, akhirnya diterima oleh semua peserta muktamar.

Membaca, mendengar, dan melihat video, wejangan Gus Mus itu pun, membuat saya berlinang air mata di lab. hari ini. Wejangan kyai yang sangat kagumi itu begitu menyentuh, bagaimana seorang kyai yang sangat dihormati itu, berkali-kali meminta maaf kepada para peserta muktamar, bahkan beliau bilang:

kalau perlu saya mencium kaki-kaki anda, agar Anda Memperlihatkan Akhlak Jamiyah Nahdlatul Ulama, Akhlaknya Kyai Hasyim As’ary.

Berikut wejangan lengkap Gus Mus:

Mudah-mudahan hingga berakhirnya muktamar nanti, semuanya berjalan adem, tentrem, dan tercapai kebaikan bersama. Semoga ini menjadi pembelajaran terbaik bagi NU, khususnya pembelajaran Demokrasi di tubuh NU. Semoga NU menjadi ormas yang semakin dewasa. Dan bersama-sama Muhammadiyah, sebagai civil society, di negara Indonesia yang kita cintai ini. Penebar islam yang moderat, damai, dan pembawa rahmat buat sekalian Alam semesta.

Selamat Bermuktamar, NU dan Muhammadiyah !