Tag Archives: mudik

Nikmat Mudik Lebaran

… saat kita tak pernah gamang sedikit pun dalam melangkah, walaupun kita tak pernah tahu dengan pasti mbesok gede mau jadi apa.– a random thought

habis_sholat_Ied

Selepas Sholat Ied, Sport Centre, Jubilee Campus, Nottingham 2013

Eh, sudah lebaran lagi. Eh, sudah empat kali dan diriku masih disini. Eh, rencana tinggal rencana lagi. Ealah, Mahasiswa tuwek-mahasiswa tuwek, riwayat mu kini. Imajinasi indah mu akan lebaran di kampung tahun ini, rupanya hanya fatamorgana saja. Dirimu masih terjebak dalam anak tangga yang itu-itu saja. Hati-hati! Awas jatuh lagi! Awas ketimpa tangga lagi! Semoga kau tak pernah pupus harapan, kawan! Kelak, Tuhan akan berbelas kasihan.

Pulang. Oh, indah nian kata itu. Tak heran, bila setiap tahun jutaan orang di negeriku banyak bertaruh apa saja demi bisa pulang ke kampung halaman. Setinggi-tinggi bangau terbang terbang jatuhnya ke kubangan juga. Sejauh-jauh orang pergi merantau, pasti ingin kembali ke kota kelahiran. Napak tilas, jejak-jejak di masa kecil. Sungai, kebonan, galengan sawah dan ladang menyimpan semuanya. Saat kita masih lugu dalam menapaki setiap anak-tangga kehidupan. Saat kita masih teramat polos dalam menyikapi kehidupan. Saat kita tak pernah gamang sedikit pun dalam melangkah, walaupun kita tak pernah tahu dengan pasti mbesok gede mau jadi apa. Sungguh, saat pulang selalu menjadi saat yang paling kita rindukan.

Mudik lebaran, pulang ke kampung halaman, kembali ke tanah kelahiran, selalu mengingatkan ku kembali untuk merenungkan kembali arah kehidupan. Hampir sepanjang tahun lamanya kita selalu merasa sangat sibuk, seolah ingin mengejar dan terus mengejar walaupun kita tak selalu sadar apa sebenarnya yang kita kejar. Kekayaan yang selalu tak pernah cukup? Jabatan yang selalu ada yang lebih tinggi? Deret-deret gelar kesarjanaan di depan dan belakang nama kita? ataukah simbol-simbol kebanggaan sosial lainya?

Untuk apa? Untuk dipamerkan orang-orang sekampung? Bahwa dulu kita yang bukan siapa-siapa itu telah menjelma menjadi ‘orang’. Bahwa betapa sukses, terhormat, dan berkahnya kehidupan kita. Walaupun sebenarnya kehidupan kita juga sama saja, hanyalah anyaman senang dan susah yang silih berganti. Hanyalah deretan masalah satu ke masalah lain. Justru, kita merasa tenang dan bahagia, saat kita menjadi orang-orang biasa bergaul dengan orang-orang biasa dengan cara biasa saja bukan? Seperti yang tersimpan pada jejak-jejak masa kecil kita.

Pulang kampung selalu mengingatkan ku, bahwa kita sudah pasti akan kembali. Kembali ke sangkan paraning dumadi. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Kita berasal dari Tuhan, dan cepat atau lambat pasti hanya akan kembali kepada Nya jua. Apakah sudah pantas apa yang kita kejar-kejar selama ini menjadi bekal kita kembali kepada Nya nanti? Semoga kepulangan kita nanti seindah kepulangan kita ke kampung halaman di setiap hari lebaran. Kepulangan yang selalu kita rindukan.

**

Argh, sayang tahun ini belum juga bisa pulang ke kampung halaman. Kerinduan akut akan suasana kampung di hari lebaran menggoda ku hari ini. Tetapi kerinduan ku pasti tak seakut kerinduan Yu Juminten dan Yu Pairah, yang demi menyambung hidup, berpuluh tahun mbabu ke para tuan-tuan. Bekerja sepanjang hari-hari dan malam-malam yang panjang demi melayani tuan-tuan. Yang bahkan untuk sekedar sholat Ied pun, tidak tuan ijinkan. Disini, di bumi perantauaan ini, aku masih ada istri dan anak yang setia menemani hari-hari ku, teman-teman yang sudah seperti saudara-saudara ku. Sungguh, selalu ada seribu satu alasan untuk mensyukuri kemurahan Tuhan. Kawan, selamat hari lebaran! Selamat Mudik ke Kampung halaman! Syukurilah besarnya nikmat mudik lebaran. Rayakanlah setiap kebahagian mu dengan penuh kesederhanaan. Untuk setiap kesalahan ku Mohon dimaafkan!


Ramadlan dan Kelucuan-Kelucuan Kita

Kehadiran Ramadlan buat saya itu seperti kehadiran sang kekasih di sisi kita. Kehadiranya menciptakan getaran-getaran lembut di hati kita. Getaran rindu untuk selalu mendekat kepada Nya. – a random thought.

buka_puasa_inggris

Ilustrasi: Buka Puasa Ramadlan (Univ. Loughborough, UK, 2013)

Dalam penggalan-penggalan waktu kehidupan ini, kehadiran bulan Ramadlan selalu meninggalkan kenangan ruhani yang istimewa dalam hati saya. Dulu saya berfikir, hal itu karena umat Islam Indonesia yang terlalu berbunga-bunga ekspresi keberagamaanya menyambut bulan Ramadlan dan hari raya setelahnya. Artis-artis yang biasa memamerkan aurat, mendadak berubah memamerkan simbol-simbol religius: baju koko, jilbab, hijab, kerudung, dan sejenisnya. Program televisi pun banyak yang dibuat khusus karena bulan Ramadlan. Tak ketinggalan para artis penyanyi yang secara khusus membuat album religi, bahkan oleh penyanyi yang biasanya mengandalkan ‘jualan’ kemolekan tubuh nya. Suara bacaan Alquran hampir terdengar sepanjang malam, dari pelosok-pelosok kampung hingga di kota-kota. Masjid pun tiba-tiba tak muat menampung para jamaah sholat isyak, padahal biasanya sangat sepi. Sungguh, pemandangan manusia-manusia Indonesia yang sangat religius, bukan?

Tetapi, tanpa dikelilingi adanya ekspresi keberagamaan yang berbunga-bunga pun, ternyata kenangan ruhani istimewa itu masih sama saya rasakan ketika berada di negara yang minoritas muslim. Ramadlan kali ini adalah kali ketiga saya berpuasa di Inggris. Yang kebetulan pas musim panas, yang mengharuskan berpuasa dalam rentang waktu sekitar 20 jam. Waktu yang sangat panjang buat yang berpuasa sekedar untuk menunggu saat berbuka tiba. Tetapi, tidak seberat yang dibayangkan buat mereka yang ikhlas berpuasa karena Allah swt. Yang berat sebenarnya adalah godaan menjaga pendangan mata. Maklum di musim panas begini, di Eropa banyak orang-orang yang berjemur menyambut hangatnya sinar matahari dengan keadaan (maaf) setengah telanjang.

Tahun pertama, ketika masih belum ditemani anak istri, saya biasa buka puasa bersama gratis dan sholat taraweh di masjid / prayer room kampus. Tahun kedua, buka puasa di rumah, dan sholat taraweh di masjid yang hanya berjarak 100 meter dari rumah. Tahun ketiga, buka puasa di rumah, dan sholat taraweh di masjid yang jaraknya bisa ditempuh15 menit jalan kaki.

Meskipun Ramadlan kali ini tempat sholat tarawih cukup jauh dari rumah, tapi justru saya begitu menghayatinya. Sholat jamaah Isyak yang diteruskan sholat taraweh 8 rakaat dan sholat witir 3 rakaat baru dimulai jam setengah 12 malam, dan saya sampai rumah kembali sekitar jam 1 pagi dini hari. Saya langsung sahur, dan tidur sekitar jam setengah dua pagi. Maklum, waktu imsak sangat mepet sekitar jam setengah tiga pagi. Kemudian saya harus bangun sekitar pukul 4 pagi untuk sholat subuh dan mulai beraktivitas normal seperti hari-hari biasa (tidak tidur lagi). Logikanya, saya harusnya kurang tidur, tapi ajaibnya, ketika beraktivitas normal saya jarang merasa mengantuk.

Kenikmatan luar biasa Ramadlan tahun ini adalah mendengar suara adzan isyak di masjid yang terasa begitu menyentuh hati. Begitupun suara indah sang imam ketika membaca surat-surat panjang di setiap rakaat sholat begitu sangat menggetarkan jiwa. Baru kali ini hati saya begitu menghayati dan larut dalam bacaan-bacaan ayat-ayat Quran. Berjamaah dengan sesama hamba Allah dengan beragam warna kulit dan kebangsaan, juga meninggalkan kesan yang istimewa pada Ramadlan kali ini. Setiap berdiri melihat telapak kaki saya, warna kulit saya terlihat lebih hitam tapi juga terlihat sangat putih di waktu yang sama.

Bagi para pencari keuntungan kampung akhirat, Ramadlan adalah waktu yang tepat untuk menghayati kehidupan ini. Kembali merenungi arti perjalanan hidup ini, dengan mendekatkan kembali pada Dzat kemana ruh kita berasal dan akan kembali. Ramadlan adalah waktu yang tepat untuk mengurangi amalan-amalan keduniawian kita untuk memperbanyak amalan-amalan ukhrowi.

Bagi para pencari keuntungan dunia, bulan Ramadlan di Indonesia juga saat yang tepat untuk mengeruk keuntungan dunia sebanyak-sebanyaknya. Karena di bulan Ramadlan inilah kegiatan ekonomi konsumtif manusia Indonesia mencapai puncaknya. Di bulan inilah jumlah perputaran uang mencapai puncaknya. Mereka begitu jor-joran dan kehilangan rasa eman untuk membelanjakan uang. Maka keuntungan besarlah bagi para penjual makanan dan minuman, penjual simbol-simbol keagamaan, penjual jasa-jasa layanan beribadah, dan tentunya para penjual gaya hidup. Karena ramadlan akan ditutup dengan tradisi pulang kampung halaman, dimana para perantau akan dinilai kesuksesan hidupnya.

Sebuah kelucuan sebenarnya jika kita merenungkanya. Bukankah puasa mengajarkan kita untuk menahan nafsu kita, dengan mengurangi makan dan minum. Tapi anehnya, kebutuhan bahan makanan dan minuman justru meningkat sangat tajam. Bukankah puasa itu ibadah yang paling privat antara seorang hamba dan Tuhanya, tetapi mengapa kita justru sangat sibuk membeli simbol-simbol religiusitas yang hanya menempel pada tubuh kita. Bukankah, bukti kesuksesan puasa kita adalah meningkatnya kepekaan kita terhadap sesama manusia. Tetapi mengapa kita seolah malah sengaja memamerkan simbol-simbol kesuksesan hidup dunia kita kepada mereka? Entahlah, terkadang kita memang sekedar lucu. Dan mari kita menertawakan diri kita, hahahaha 😀

Saya jadi teringat cerita emak saya tentang kakek saya (allahu yarham hu) dulu kalau bulan Ramadlan tiba, selama sebulan penuh dipergunakan hanya untuk ibadah, tidak mau bekerja sama sekali. Sementara, sang nenek (allahu yarham ha) harus pontang panting sendiri mencari nafkah, untuk memenuhi kebutuhan hidup kesepuluh anaknya yang tentunya semakin meningkat menjelang lebaran. Luar biasa dan kasihan sekali si mbah saya waktu itu. Mencari keuntungan di kampung akhirat, tak sepatutnya melupakan kita untuk melupakan nasib kita di dunia juga.

Bagi para pejuang (seperti saya), yang sedang berusaha meraih tujuan-tujuan nya, semoga Ramadlan ini dikabulkan hajatnya, dikabulkan cita-citanya. Ya Rabbi bilmusthofa, balligh maqasidana. Bagi yang sedang diuji dengan permasalahan-permasalahan hidup yang pelik dan rumit, semoga segera dimudahkan dan terselesaikan permasalahanya. Allahumma Yassir Wala Tu’assir Umurona. Bagi yang sedang sakit, semoga segera disembuhkan. Bagi yang sedang dirundung kesusahan, kesedihan, dan kemalangan hidup, semoga segera datang kebahagiaan. Bagi yang sedang merindu semoga segera hadir yang dirindukan.

Semoga kita masih ditakdirkan berjumpa Ramadlan kembali tahun depan. Semoga pada Ramadlan tahun depan, saya dan teman-teman senasib seperjuangan sudah selesai PhD nya dan sudah kembali di kampung halaman. Semoga Ramadlan membawa barokahnya hidup untuk kita semua. Allahumma Ammiin. Ammiin-Ammiin ya Rabbal ‘alaamiin.


Pulang … untuk kembali lagi.

… tak apalah, biar aku mundur beberapa langkah ke belakang, untuk kemudian lari kencang-kencang ke depan. Seperti anak ketapel dan anak panah, yang harus ditarik diulur ke belakang agar melesat jauh ke depan menggapai sasaran .

Arggh…. akhirnya aku menyerah pada rasa kerinduan yang semakin membuncah menyesakkan dada ini. Romantisnya musim gugur setahun lalu ketika pertama kali aku datang telah berganti dengan musim dingin dimana aku bertemu pertama kali dengan dingin nya salju. Musim dingin berlalu berganti musim semi yang indah, ketika bunga-bunga aneka rupa bermekaran indah penuh pesona. Bunga-bunga nan indah itu pun akhirnya layu dan berguguran kala musim panas dengan siangnya yang berkepanjangan datang. Musim gugur pun datang  kembali bersamaan dengan menguning dan memerahnya daun-daun. Daun-daun pun akhirnya berguguran meninggalkan ranting-ranting kering kerontang merana sendirian untuk bertahan hidup melawan musim dingin yang menggigit datang kembali di Bulan Desember ini. Bulan yang ditunggu anak-anak di negeri ini untuk mendapatkan hadiah natal terindah mereka dari St. Clause.

Arggh…. semuanya berlalu begitu cepat. Membawa aku hanya beranjak dari kesunyian ke kesunyian dan dari kenangan ke kenangan. Hidup seolah terperangkap dalam jeratan kesunyian dan kenangan.

Arggh…. aku tak pernah merasakan kerinduan sedalam ini. Rindu yang membuat separuh semangat hidupku hilang. Rindu yang membuat aku menjalani hidup bagai burung dengan satu sayap. Benar, baru kali ini, aku merasakan sebenarnya rindu.

eboarding_pass

Hore…. besok aku pulang. Saat akan kuobati lara rindu ini pada separuh jiwa, buah hati dan penyejuk mata ku. Rindu mencium tangan Bapak dan Ibu ku juga guru dan kyai-kyai ku. Rindu bercengkerama dengan sahabat lama ku. Rindu menghirup segarnya udara kampung halaman ku. Rindu kehangatan keluarga dan saudara ku. Rindu keramahan dan kebersahajaan orang-orang di kampung ku. Rindu mendengar suara adzan dari masjid di kampung ku. Rindu mendengar suara alunan ayat-ayat suci tuhan dilantunkan anak-anak di mushola kampung ku. Rindu melihat kepolosan anak-anak kecil di kampung halaman ku. Rindu memandang negeri ku dari dekat. Rindu menginjakkan kaki ku di tanah ibu pertiwi ku. Rindu mengagumi dari dekat keindahan pesona alam negeri ku, tempat aku akan mengabdi sampai mati suatu saat nanti.

Pasti … aku akan kembali disini, di kota ini, karena perjuangan ini belum usai. Aku hanya ingin menemukan semangat ku kembali. Menjemput mu untuk mengisi ruang-ruang sunyi disini. Aku hanya ingin mengembalikan ingatan ku tentang mimpi-mimpi itu kembali. Aku tidak sedang menyerah dan tak akan menyerah.

Tak apalah, biar aku mundur beberapa langkah ke belakang, untuk kemudian lari kencang-kencang ke depan. Seperti anak ketapel dan anak panah, yang harus ditarik diulur ke belakang agar melesat jauh ke depan menggapai sasaran.

Tuhan, terima kasih telah kau ajarkan arti kerinduan ini. Kerinduan yang membuatku memahami sisi-sisi lain kehidupan yang selama ini banyak telah aku abaikan. Tuhan, bimbinglah selalu kaki ini dalam melangkah. Jangan pernah membiarkan aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang ke jalan lurus mu kembali. Ingatkan aku bila lupa. Tegur aku bila aku terlena. Peluklah mimpi-mimpi ku. Dekaplah aku dalam cinta Mu yang tidak pernah berkesudahan.

Tuhan ! titip rindu untuk orang-orang yang aku sayangi. Seperti rindu ku bertemu dengan Mu suatu saat nanti.

Nottingham, 11-Desember-2013. 23:05. School of Computer Science. C.85.