Saya dan Cak Nun

” arep golek opo, arep golek opo kok uber-uberan. Podo nguyak opo, podo nguyak opo kok jegal-jegalan. Kabeh do mendem ora mari-mari. Bondo kuoso ora digowo mati ! “– Kyai Kanjeng, Rampak Osing

 

anggukan ritmis kaki pak kiai

Cover Buku Angguku Ritmis Kaki Pak Kyai Edisi Pertama (http://toko-bukubekas.blogspot.co.uk/)

Kalau tidak salah ingat, saya pertama kali berkenalan dengan Cak Nun itu waktu jaman masih nyantri di Pesantren Njoso. Tentunya, tidak secara langsung, tetapi lewat buku-buku tulisan beliau.

Masih ingat, buku yang pertama kali saya baca adalah: “Anggukan Ritmis Kaki Sang Kyai”. Yang saya baca sekitar tahun 2000. Jujur, saya tidak pernah benar-benar paham dengan tulisan Cak Nun. Saat itu, paling maksimal paham 50%.

Tulisanya terlalu abstrak, yang kalau dianalogikan dengan tradisi literatur kitab kuning di pesantren, tulisan cak nun harus dicerna dengan ilmu Mantiq, dan ilmu Balagoh. Tetapi anehnya, saya malah semakin gandrung dengan tulisan-tulisan Cak Nun. Buku-buku Cak Nun terus saya baca, hingga di bangku kuliah. Tapi, tetap saja masih banyak ndak mudeng nya.

Pertama kali melihat Cak Nun secara langsung adalah ketika Cak Nun diundang oleh Pak Nuh (Mantan Mendikbud), yang saat itu masih menjabat Rektor ITS, untuk mengadakan maiyahan di lapangan taman alumni ITS. Tentu saja bersama kyai kanjeng, grup musik gamelan yang setia mengiringi Cak Nun. Saat itu, saya benar-benar terpukau, dengan metode dakwah Cak Nun yang unik dan otentik.

Kemudian, pernah juga ikut maiyahan komunitas ‘Bang-bang Wetan’, di taman budaya Jawa Timur, di Gedung Cak Durasim, Surabaya. Itu saja seingat saya. Selanjutnya, saya lebih banyak mengikuti kegiatan maiyahan Cak Nun lewat youtube dan beberapa blog dan website yang sangat ‘up to date‘.

Belakangan saja, alhamdulilah, saya akhirnya bisa merasakan nikmatnya membaca tulisan-tulisan dan ceramah Cak Nun. Mungkin bisa sampai paham 80-90% lah. Tulisan-tulisan, dan ceramah itu malah seperti candu, yang selalu menggelitik fikir, membekaskan rasa yang sangat dalam dalam hati.

Cak Nun sangat membantu saya memahami dunia yang sangat kompleks ini. Dunia yang banyak dimanipulasi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan, berebut kuasa dan keserakahan mengeruk dunia. Cak Nun juga menunjukkan cara beragama yang essential, dengan mengenal dan mencintai Tuhan, bukan terjebak pada bungkus: simbol-simbol dan atribut keagamaan.

Boleh saja, seseorang bergelar sarjana, doktor, bahkan profesor. Tetapi bisa jadi sangat bodoh dalam memahami dunia. Kenapa? yah tahu sendiri lah, kita ini kan hanya sarjana fakultatif, yang hanya paham pada bidang keahlian atau keilmuwan yang spesifik. Tetapi sangat bodoh sekali pada bidang yang lain. Apalagi, untuk memahami realitas kehidupan ini yang super-duper kompleks.

Bersama Cak Nun, saya sedikit-sedikit bisa melihat realitas dunia ini dari perspektif yang lebih well-rounded. Bagi saya, mengikuti ceramah Cak Nun itu seperti mengikuti kuliah filsafat, teologi, sosiologi, antropologi, sejarah, sastra, bahkan seni dan budaya. Yang semua itu sangat-sangat membantu saya dalam melihat, memahami, menghayati, menyikapi, dan akhirnya mampu menikmati realitas kehidupan dunia ini, bahkan kehidupan setelah  kehidupan dunia ini.

Matur nuwun Cak Nun! atas kebaikan jariyah ilmunya. Semoga, dan saya yakin akan selalu, istikomah menjadi guru rakyat. Meneladankan keikhlasan, pengabdian, keserderhanaan, kebersahajaan, tidak cinta pada kefanaan dunia, tidak haus pada harta, kekuasaan, jabatan, apalagi popularitas. Sungguh, itu hal yang sangat langka di jaman akhir ini. Sungguh, buat saya panjenengan adalah jimatnya Indonesia, yang harus dirawat baik-baik.

Filosofi Hidup yang Dititipkan Pada Tembang Dolanan Anak-anak

Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina, Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat, Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat.   – Bang2Wetan

anak_desa_old

Ilustrasi : Anak Desa (captured from : here) FG: Rarindra Prakarsa

Saya ini kadang heran sama saya sendiri, karena sering merasa memiliki pola pikir berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Katanya sih sudah lima tahun lebih pernah  tinggal di luar negeri, pernah tinggal di negara yang boleh dibilang sebagai pusat peradaban manusia paling maju saat ini. Sekolah juga sampek jenjang akademik paling tinggi, di bidang teknologi yang paling ngetrend di jaman ini.

Tetapi, entahlah semakin kesini saya justru semakin bangga dengan kendesoan saya. Semakin menjunjung tinggi tradisi saya. Pernah memang dalam perjalanan itu, saya merasa minder dengan kendesoan dan tradisi dimana tempat saya berakar. Gampang nggumun dengan yang kebarat-baratan.  Gampang terpesona dengan yang kerab-araban. Tetapi itu dulu, sekarang malah terjadi arus balik.

Ketika beberapa teman merasa excited hidup blended dengan orang-orang lokal. Merasakan, cara hidup mereka. Saya tidak pernah bisa menikmati. Berkali-kali terpaksa saya coba, tetapi saya selalu merasa tersiksa bersenda gurau dengan mereka di meja Bar. Saya juga tidak pernah bisa menikmati makanan mereka yang serasa hambar itu. Saya juga hingga sekarang masih gagal untuk menanggalkan kata Doktor di depan nama ndoro dosen saya setiap kali berkomunikasi dengan beliau baik lisan maupun dalam tulisan. Meskipun ndoro dosen saya selalu meminta untuk memanggil dengan namanya saja. Entahlah, itu terasa berat sekali buat saya. Filosofi kyai yang harus sangat dihormati, begitu merasuk dalam mindset saya. Meskipun saya tahu, ndoro dosen itu bukan kyai saya.

Ketika sesama teman dalam komunitas agama saya, giat belajar agama dengan pendekatan yang kearab-araban. Berbaju gamis, memelihara jenggot, banyak menggunakan kosakata kearab-araban: antum, barakallah fi umrik, jazakallah. Saya lebih suka pakai sarung dan peci indonesia dan menggunakan kosakata Jawa. Ketika kebanyakan di komunitas saya membid’ahkan (tidak membolehkan), tahlil, selametan, manaqiban, sholawatan,  berjanzi karena itu tidak ada di Arab. Saya justru sangat bangga menjunjung tinggi tradisi itu. Pendeknya, ketika kebanyakan orang-orang di sekitar saya belajar agama dengan pendekatan yang sangat fiqih (hukum Islam), dengan pemahaman teks agama yang leterlek dengan ustad yang kemarab. Entahlah, saya menemukan pendekatan seperti itu sangatlah  kering dan dangkal. Saya lebih merasa adem, menemukan kesejukan dan cinta belajar agama dengan pendekatan belajar ala kyai saya di pesantren, yang memahami agama dari banyak sudut pandang (misal: tasawuf), yang sangat ramah dengan tradisi dan budaya. Tidak senang membid’ahkan, menyalahkan, lebih-lebih mengkafirkan orang lain. Bahwa Islam tidak sama dengan Arab. Bahwa kita harus pandai membedakan mana budaya dan mana yang esensi dari agama.

Dalam selera musik juga demikian, saat orang-orang mengidolakan Adele, One direction, Beatles. Dalam komputer saya yang ada hanyalah musik gamelan dan tembang-tembang Jawa. Saya tidak pernah bisa konsentrasi kerja sambil mendengarkan musik, kecuali gamelan Jawa. Saat saya stress, saat saya membutuhkan konsentrasi tinggi, hanya gamelan Jawa yang bisa menenangkan. Oleh anak jaman sekarang, saya pasti dicap ndeso binti kampungan bin udik.

Tetapi belakangan saya bangga, ketika ndoro dosen saya yang orang British asli dan pernah tinggal lama di Perancis dan US bilang, yang dia ingat tentang Indonesia hanya dua yaitu Gamelan dan Nasi goreng. Meskipun beliau belum pernah ke Indonesia. Bahkan di kota Nottingham ini pun ada perkumpulan gamelan, yang anggotanya semua orang lokal. Mereka biasa kita undang kalau orang-orang Indonesia mengadakan acara Indofest. Acara indonesia, tapi pemain gamelanya para bule. Saya juga pernah ketemu tidak sengaja dengan seorang mahasiswa seni musik di stasiun kereta api Rotterdam, Belanda, yang dalam pertemuan singkat itu dia sempat bilang: ” Gamelan itu, academicly,  is the new  direction dari seni musik barat yang sudah menemukan kejumudan “.  Sudah bukan rahasia lagi, jika orang barat begitu gandrung dengan seni musik peninggalan leluhur kita itu. Anehnya, di ndesoke sama peranakan orang-orang Jawa jaman sekarang.

Dalam hal lagu juga demikian, saya masih senang mendengarkan tembang/lagu dolanan jaman dulu, seperti gundul-gundul pacul, cublak-cublak suweng, lir ilir, bang-bang wetan. Dulu saya pikir itu ya sekedar lagu anak-anak ndeso jaman dahulu. Belakangan saja, saya baru tahu bahwa lagu-lagu itu ternyata penuh petuah hidup, sarat dengan filosofi kehidupan yang sangat penting dan serius. Seperti filosofi tentang kepemimpinan yang diabadikan lewat tembang Gundul Pacul. Bahwa pemimpin seharusnya berhati-hati ketika memegang sebuah jabatan (nyunggi wakul), bahwa kepentingan dan kesejahteraan rakyat banyak adalah seharusnya satu-satunya yang dijunjung tinggi (disunggi ditaruh di atas kepala,  tidak dijinjing maupun dikempit/ditaruh di bawah ketiak). Jika tidak berhati-hati semuanya kan menjadi kacau balau (segone dadi sak latar).

Adalah Cak Nun, alias MH Ainun Najib, jimat Indonesia yang pandai menangkap makna dan menjelaskan lagu-lagu dolanan peninggalan para Sunan/Wali songo itu. Sampean bisa tanya mbah google , atau search di youtube tentang  Cak Nun dan Kyai Kanjeng jika tertarik memahami filosofi kehidupan yang dititipkan pada lagu anak-anak itu (salah satunya bisa dilihat : disini , disini) . Memang memahami hal yang tersirat tidaklah semudah memahami hal yang tersurat. Karenanya, kita butuh guru, kita butuh kepekaan rasa, untuk memahaminya.

Menurut Cak Nun, budayawan yang seharusnya lebih banyak tampil di TV tapi memilih terjun langsung ke rakyat ini, filosofi-filosofi kehidupan yang serius itu sengaja dititipkan menjadi lagu anak-anak agar abadi.  Karena hanya, lagu anak-anak yang abadi. Itu lagu sudah berabad-abad umurnya, tetapi hingga sekarang masih banyak yang hafal bukan? Demikian juga dengan bintang kecil dan balon ku ada lima. Coba kalau dijadikan lagu remaja, pasti sekarang sudah banyak yang tidak hafal. Baru belakangan ini saja, saya paham kenapa hampir semua mata pelajaran di  pesantren dulu, bahkan pelajaran: grammar dan lingustik bahasa Arab, oleh ulama jaman dahulu, inti sarinya diringkas dan ditulis dalam dalam bentuk Nadzom (baca: tembang/lagu  yang berima sama). Dan semua santri wajib menghapal diluar kepala nadzom yang berjumlah ribuaan baris itu. Dulu saya pernah membenci dan mendesokan metode hafalan itu. Baru sekarang saya paham, bahwa hafalan itu adalah gerbang  pertama untuk memahami dan mengabadikan ilmu-ilmu itu untuk kemudian kita hayati sepanjang hidup kita di kemudian hari. Baru sekarang saya tahu, penelitian barat, membuktikan bahwa hafalan itu penting untuk menjaga kualitas memori otak kita.

Menempuh jalan yang tidak banyak ditempuh oleh orang kebanyakan di sekitar kita memang sering membuat kita menjadi merasa sendirian. Tetapi apalah arti hidup, jika kita hanya bisa mbembek orang-orang kebanyakan tetapi kehilangan jati diri kita sendiri. Semoga kita lebih berani memilih menjadi cahaya sendiri, daripada hilang dibawah cahaya orang lain.