Tag Archives: mengapa sekolah di pesantren?

Menuju Universitas Kelas Dunia: Belajar Dari Tradisi Pesantren dan Oxford-Cambridge

Almuhafadzu ‘ala qadimissolih, wal akhdu biljadidil aslah – melestarikan budaya lama yang baik dan mengambil hal yang baru yang lebih baik – Maqalah

mhs_cambridge_edit

Ilustrasi : Mahasiswi Oxford Dengan Seragam Akademik ‘Subfusc’

Sepuluh tahun belakangan kampus-kampus di Indonesia, berlomba-lomba mengklaim dirinya sudah atau sedang menuju ‘World-class Research University’. Klaim ini bukan tanpa alasan, berdasarkan berbagai macam pemeringkatan kampus terbaik dunia, kampus-kampus terbaik kita di tanah air ternyata berada pada posisi buncit. Tidak usah jauh-jauh membandingkan kampus kita dengan kampus-kampus di US dan UK, di lingkungan regional saja kampus-kampus kita keok telak dengan kampus-kampus di Singapura, Thailand, dan Malaysia. Karenanya, kampus-kampus kita merasa tertampar. Bagaimana tidak, lahwong, umur kampus-kampus kita itu lebih tua dari kampus-kampus di tiga negara tersebut. Sejarah pun mencatat, para founding fathers kampus-kampus di Malaysia adalah dosen-dosen dari kampus di Indonesia.

Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan kampus-kampus kita untuk merangkak mengejar ketertinggalan. Diantaranya adalah dengan mendorong para dosen untuk lebih rajin menulis publikasi ilmiah di Jurnal internasioanl. Karena, berdasarkan poin-poin pemeringkatan, yang paling kurang dari kampus-kampus kita adalah kuantitas dan kualitas publikasi jurnal internasional. Cara umum dan paling mudah yang dilakukan kampus-kampus kita untuk mendorong jumlah publikasi ini adalah dengan memberi intensif, uang tambahan, kepada dosen yang berhasil mempublikasikan karyanya di jurnal internasional. Sebagai ilustrasi, ada sebuah kampus yang memberi uang tunai Rp. 10.000.000 untuk setiap makalah yang berhasil diterbitkan. Tidak hanya itu, tunjangan khusus untuk guru besar pun fantastis (konon diatas 10 juta per bulan), belum lagi uang tunjangan sertifikasi dan renumerasi. Dana hibah penelitian pun lebih royal dikucurkan. Semuanya itu berdasarkan nalar bahwa dosen kita tidak produk karena dosen kita miskin.

Tetapi, berhasilkah cara iming-iming tambahan materi ini? berdasarkan pemeringkatan terbaru oleh QS University Rangking: Asia tahun 2015 (ref: disini), tak satupun kampus kita yang berhasil masuk 100 kampus terbaik di Asia. Sementara, Singapore berhasil menempatkan dua kampusnya pada peringkat 1 dan 4; Thailand menempatkan tiga kampusnya pada peringkat 44, 53, dan 99; Malaysia menempatkan 5 kampusnya pada peringkat 29, 49, 56, 61, 66; sementara Indonesia hanya diwakili oleh UI yang berada pada posisi ke 79.  Dengan fakta ini, kembali harus diakui kampus-kampus kita masih keok dengan kampus-kampus negara tetangga terdekat kita. Memalukan sekali, bahkan kampus terbaik di Indonesia pun peringkatnya masih dibawah 5 kampus di Malaysia.

Lalu, apa kira-kira yang salah?

Menurut hemat saya, upaya mendorong dosen rajin menulis di Jurnal internasional dengan iming-iming materi adalah strategi yang paling rendahan. Tak lebih dari memberi iming-iming ice cream kepada anak kecil. Seharusnya kita semua sudah tahu bahwa luaran yang bagus itu hanya karena proses yang bagus. Begitu juga dengan luaran berupa jumlah dan kualitas publikasi internasional yang bagus, tentunya pasti karena proses akademik yang bagus. Kita mungkin bertanya-tanya, bagaimana sebuah Universitas bisa melahirkan ilmuwan sekaliber Newton, Darwin, Stephen Hawkin, Enstein?

Karena itu, tidak ada salahnya, jika mengintip sistem akademik, atau lebih tepatnya tradisi akademik di dua universitas tertua dan terbaik di Inggris, yang telah banyak melahirkan para peraih nobel dunia, yaitu Universitas Oxford dan Cambridge. Yang ternyata, seperti pada tulisan saya sebelumnya (ref: disini), mirip sekali dengan tradisi keilmuwan di pondok pesantren. Bahkan, Dr Afifi Alkity, orang Melayu alumni pesantren di Indonesia yang menjadi dosen di Oxford Centre of Islamic Studies, mengatakan:

” … I realise that in fact, Oxford University its self is a pondok”

Seperti apa kemiripan pesantren dan sistem pendidikan di Universitas Oxford dan Cambridge (Oxbridge)? Menurut, Dr Afifi, ada 4 hal utama yang menjadi ciri khas Oxbridge yang juga tidak lain dan tidak bukan ciri khas pondok pesantren di Indonesia. Berikut penjelasanya:

(a) Respect for tradition and traditional ritual

Sebelum melihat langsung ke Oxbridge, saya pernah berimajinasi bahwa sebagai salah satu kampus terbaik didunia, pastinya Oxbridge memiliki gedung-gedung ultra-modern dengan arsitektur kekinian. Rupanya malah sebaliknya, bangunan kampus Oxbridge adalah bangunan-bangunan kuno yang dibangun sekitar abad 10, yang sampai sekarang masih dipertahankan keaslianya. Ini mengingatkan saya pada masjid-masjid kuno di pesantren yang sengaja dipertahankan keaslianya. Tidak hanya mempertahankan bangunan fisik, ritual tradisional pun masih dipertahankan sampai sekarang. Diantarnya adalah tradisi makan bersama di dining room, kwajiban memakai pakain khas Oxford (i.e. Subfusc) bagi mahasiswa ketika mengikuti ujian. Oxbridge ternyata sangat kuat mempertahankan tradisi yang berumur ribuan tahun ini. Hal ini sangat relevan sekali dengan jargon yang dijadikan pegangan pesantren-pesantren NU, yaitu:
Almuhafadzu ‘ala qadimissolih, wal akhdu biljadidil aslah – melestarikan budaya lama yang baik dan mengambil hal yang baru yang lebih baik
Menariknya, motto Universitas Oxford, “Dominus Illuminatio Mea” itu ternyata terjemahan dari bahasa Arab “Rabbi Zidni ‘Ilma” – Ya Tuhan ku, Beri aku tambahan ilmu. Yang merupakan do’a yang selalu diucapkan santri di pesantren sebelum memulai belajar.

(b) Academic Excelence

Yang membedakan Oxbridge dengan kampus-kampus lain di dunia adalah sistem College. Oxbridge ini adalah sebuah komunitas yang terdiri dari beberapa College. Di Oxford sendiri, kurang lebih terdiri dari 31 College. College ini bukan sekedar asrama mahasiswa yang berfungsi sebagai tempat akomodasi. College juga bukan sekedar fakultas yang menaungi berbagai jurusan sebagaimana yang kita tahu seperti di kampus-kampus di Indonesia. College adalah tempat dimana terjadi tradisi pendidikan utama Oxbridge terjadi antara mahasiswa dan para tutor yang tak lain adalah para dosen dan professor dari hampir semua bidang ilmu di Oxbridge. pada setiap College umumnya terdapat, sebuah kapel/gereja sebagai tempat ibadah, student hall, sebagai tempat tidur mahasiswa, dining room tempat makan malam bersama, common room, dan lecture/tutorial room.

Tradisi pendidikan di masing-masing college ini terdiri dari:

Pertama adalah tradisi Tutorial System, dimana para Tutor memberikan tutorial kepada mahasiswa secara Individu, atau kelompok yang kecil (terdiri dari 2-5 orang). Sehingga masing-masing mahasiswa mendapat perhatian yang unik dan intensif dari tutornya masing-masing dalam menyerap kelimuwan yang diajarkan. Di pesantren salaf, sistem tutorial ini tak lain adalah apa yang disebut sistem sorogan (bahasa Arab: Talaki) dimana masing-masing santri mengkaji kitab kuning halaman demi halaman secara private , individual, dengan para ustad atau kyainya. Sistem tutorial ini, diakui oleh Oxford sebagai kunci keberhasilan sistem pendidikan di Oxford. Selain tutorial ini, mahasiswa juga mengikuti kuliah di departemen, layaknya kuliah di Indonesia. Di pesantren, kuliah dengan banyak mahasiswa ini dikenal dengan sistem bandongan.

Kedua adalah adanya Moral Tutor, yang bertugas mengawasi aspek non-akademis masing-masing mahasiswa. Sebagaimana namanya, moral tutor ini bertanggung jawab mengawasi moral mahasiswa. Moral Tutor ini biasanya adalah mahasiswa senior. Nah kalau di pesantren, peran ini biasanya dilakukan oleh lurah pondok, atau pembina asrama.

Ketiga adalah adanya tradisi debat. Di masing-masing college, biasnya seminggu sekali diadakan semacam seminar untuk membahas sebuah permasalahan atau isu yang telah ditentukan. Dalam seminar inilah terjadi debat antar mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda, mengutarakan pandanganya dari latar belakang keilmuanya yang berbeda-beda. Ini adalah ajang untuk melatih kemampuan analisis dan sintesis mahasiswa. Lagi-lagi tradisi ini juga sama dengan tradisi di pesantren yang disebut dengan syawir dan bahtsul matsail untuk memecahkan berbagai persoalan agama di Masyarakat.

(c) Completely Independence

Keberadaan Oxbridge ini sangat-sangat Independence dari campur tangan pemerintah. Pemerintah atau kerajaan tidak berhak ikut campur terhadap kebijakan maupun kurikulumnya. Bahkan konon katanya pada tahun 2002, naknya PM Tony Blaire nya saja tidak diterima di Oxford. Hal ini disebabkan karena keuangan Oxbridge tidak berasal dari kerajaan. Tetapi berasal dari dana Wakaf atau Endownment yang. jumlahnya sangat fantastis. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan PTN di Indonesia yang kebijakanya banyak diatur oleh pemerintah, termasuk masalah kurikulum, aturan pembentukan Jurusan baru, bahkan pemilihan Rektor. Ini juga tradisi pesantren, dimana dari dulu, sebagai institusi pendidikan tertua di Indonesia, pesantren berdikari tanpa dibiayai pemerintah, pesantren pun memiliki kurikulum sendiri yang tidak mengikuti kurikulum pemerintah.

(d) Continuing Education.

Terakhir ciri khas Oxbride adalah adaya pendidikan berkelanjutan. Masyarakat tak pandang usia bisa mengakses pendidikan di Oxbridge, melalui kuliah seminggu sekali, short course, maupun sekolah musim panas. Intinya, pendidikan di Oxbridge tidak hanya bisa diakses oleh mahasiswa mereka sendiri tetapi juga bisa diakses oleh masyarakat. Continuing Education ini juga sudah menjadi tradisi pesantren di Indonesia. Di Pondok pesantren Darul Ulum Jombang misalnya, setiap kamis ada pengajian yang diperuntukkan untuk masyarakat dari berbagai usia (dikenal dengan pengajian kemisan), ada pengajian sewelasan, setiap 4 bulan sekali. Di pesantren lain, ada yang disebut tradisi pengajian wetonan (40 hari sekali), di Pondok Pesantren Darussalam Banyuwangi misalnya, ada pengajian setiap Ahad Legi yang terbuka untuk masyarakat umum. Termasuk pengajian khusus di bulan Ramadlan yang juga terbuka untuk masyarakat umum.

Ilustrasi : Santriwati PP Darul Ulum Jombang, Jawa Timur

 Saya merasa so amazed, bagaimana sistem pendidikan pesantren yang selama ini di Indonesia dianggap udik, ternyata memiliki filosofi pendidikan yang sama dengan Universitas terbaik di dunia, sekaliber Oxford dan Cambridge.
Mungkin sudah saatnya,  kampus-kampus kita hendaknya bisa belajar dari tradisi oxford dan cambridge yang tidak lain adalah tradisi pesantren. Jika pesantren sudah terbukti menghasilkan para Ulama bidang agama yang mumpuni, bukan tidak mungkin sistem pesantren menghasilkan ulama di bidang ilmu lain yang mumpuni dan hebat. Sebagaimana sudah dibuktikan di Oxbridge. Bukankah Oxbridge awalnya dulu juga kampus calon para ulama kristen/katolik?

Tentang Pesantren-Pesantren NU

Miris rasanya, melihat pergaulan bebas anak remaja jaman sekarang. Masih SMP sudah banyak yang sudah bunting, Mudah diperdaya oleh laki-laki hidung belang hanya lewat Facebook, begitu mudahnya terbawa budaya ikut2an mode/ gaya hidup yang mendera di tengah-tengah era keterbukaan informasi. Seolah mereka tak memiliki jati diri, tak memiliki pegangan hidup yang pasti.

ppdu_jombang

Ilustrasi: Kantor Pusat PP Darul Ulum Jombang

Pesantren? Apa yang terlintas di pikiran  sampean ketika mendengar kata Pesantren? Mungkin terlintas di kepala sampean sarung dan kopiah, atau udik, terbelakang, tradisional, sarang teroris. Tempat orang-orang nakal, atau justru  sebaliknya tempat orang-orang alim? Tapi buat saya pribadi, pesantren begitu berarti dalam hidup saya. Saya paling bangga jika menyebut diri saya alumni pesantren. Tempat yang membentuk saya personally, tempat yang menempa saya bagaimana memandang, memaknai, dan menjalani kehidupan ini.

Sayang nya, banyak orang yang salah memandang institusi pendidikan tertua ini. Dahulu, oleh orang barat pesantren pernah di pandang sebagai sarang teroris. Dipandang sebagai tempat  untuk pengkaderan orang-orang militan, yang menghalalkan kekerasan atas nama Tuhan. Adalah Gus Dur orang yang berhasil menunjukkan kepada dunia, tentang Islam Indonesia, yang damai, moderat, santun, dan tidak berbenturan dengan dunia barat. Gus Dur lah yang getol, mengajak para akademisi barat blusukan ke pesantren-pesantren NU, untuk melihat langsung bagaimana pesantren-pesantren NU ini. Untuk menunjukkan secara langsung pandangan bahwa pesantren adalah sarang teroris dan akar militansi islam adalah pandangan yang benar-benar salah. Sehingga sekarang, kalau kita mau menulis artikel ilmiah tentang NU, tentang pesantren, justru profesor rujukanya bisa jadi orang Belanda, orang Australia, atau orang Amerika.

Gus Dur jugalah yang mengangkat pesantren ke pentas dunia. Pesantren yang identik dengan nilai tradisional dan keterbelakangan ini justru mampu, memunculkan anak-anak pesantren NU keluar dengan pemikiran-pemikiran Islam yang tidak berbenturan bahkan menawarkan ide-ide segar melengkapi kemajuan jaman. Sehingga muncullah, istilah masyarakat Madani, Islam yang pro demokrasi, Islam yang pro kesetaraan gender, dan sebagainya.

Baiklah, kali ini saya mau sharing tentang  Pesantren-Pesantren NU. Secara garis besar semua pesantren NU memiliki kesamaan, sebagaimana pada tulisan saya sebelumnya disini. Akan tetapi, pada perkembanganya, seiring dengan kemajuan jaman, pesantren-pesantren NU ini pun berubah beradaptasi dengan kebutuhan dan tuntutan jamanya masing-masing. Tetapi ada juga yang mencoba bertahan, mempertahankan  tradisi lama, mempertahankan ciri khas pesantren dan mencoba tak lekang di makan jaman. Menurut pengamatan, asal-asalan saya, pesantren-pesantren NU ini bisa dikategorikan menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Pesantren Syalafiah

Ini yang sebenarnya aslinya pesantren, sejak berabad-abad yang lalu, yang sampai sekarang masih bertahan. Model pendidikan asli Indonesia. Di Pesantren ini, kurikulumnya 100% kurikulum pesantren, yang boleh dibilang 100% pendidikan agama. Pendidikan berpusat pada Madrasah Diniyah dan Kajian Kitab Kuning. Ilmu yang dipelajari meliputi kajian ilmu alat (Nahwu dan Sharaf) atau grammar bahasa Arab, sampai dengan sastra Arab (seperti mantiq dan balagah), Ilmu Fikih, Hadis, Tafsir Alquran, Tasawuf, dsb. Ilmu agama benar-benar dipelajari secara intensive dan mendalam. Saya berani bertaruh, kalau lulusan pesantren ini pengetahuan agama nya lebih mumpuni daripada lulusan perguruan tinggi islam umum seperti UIN atau IAIN. Di pesantren jenis ini tidak ada sama sekali sekolah atau Madrasah umum seperti di luar pesantren.

Ilustrasi: Santri Pesantren Sidogiri, (Courtesy: http://ghozalios.blogspot.co.uk/ )

Seiring dengan kecenderungan manusia Indonesia yang semakin materialistis, pesantren ini mulai banyak ditinggalkan. Biasanya pesantren ini sekarang hanyalah pesantren kecil di desa-desa yang jumlah santrinya tinggal ratusan atau bahkan tinggal puluhan. Pesantren-pesantren kecil ini biasanya, hampir sama sekali tidak mengenakan biaya pendidikan kepada santri-santrinya. Tetapi ada juga pesantren syalafiah yang hingga saat ini bisa tetap eksis dengan jumlah santri di atas 10.000, contohnya adalah Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Langitan Tuban, dan Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan.

Menurut hemat saya, Pesantren Sidogiri bisa dijadikan contoh model pesantren syalaf yang paling sukses yang tak lekang di makan jaman. Meskipun tidak mengadopsi sekolah umum formal, pesantren ini bisa mandiri dalam arti sesungguhnya. Bagaimana tidak, pada saat banyak pesantren lainya, banyak yang mengharap bantuan dari pemerintah, dari politisi, maupun sumber-sumber dana lain. Pesantren ini bisa mandiri dengan usaha perekonomian nya sendiri yang berbasis pesantren. Sebut saja pesantren ini memiliki usaha air dalam kemasan, usaha koperasi, usaha perbankan dalam bentuk Baitul Maal wat Tamwil, usaha travel umroh dan haji, usaha percetakan dan sebagainya. Disebut, omset usaha koperasinya saja sudah bisa tembus Rp. 1 triliun [ 1 ].

Jadi, jika sampean berkeinginan untuk benar-benar paham terhadap ilmu agama Islam, tafaquh fiddin, pesantren jenis ini menurut hemat saya, sangat pas buat anda, ketimbang sekolah di madrasah atau perguruan tinggi milik pemerintah ( e.g. Madrasah Ibtidiyah/Tsanawiyah/Aliyah, IAIN/STAIN/UIN).

 2. Pesantren Hybrid (Syalaf + Kholaf)

Sesuai dengan jargon pesantren, “al muhaafazhatu ‘alal qadiemis shalih wal akhdzu bil jadidiel ashlah”, yaitu melestarikan nilai-nilai tradisional yang positif, serta saat bersamaan mengapresiasi inovasi-inovasi baru yang lebih membawa maslahat besar bagi kehidupan masyarakat. Sebagian besar pesantren, mulai terbuka atau responsif terhadap perubahan jaman. Pesantren-pesantren dalam perkembanganya mulai membuka Madrasah dan Sekolah Umum. Tidak hanya Madrasah Ibtidiyah/Tsanawiyah/Aliyah/ Sekolah Tinggi Agama Islam tetapi juga sekolah-sekolah umum e.g. SD, SMP, SMA, SMK, Universitas.

ILustrasi: PP Bahrul Ulum Tambak Beras (Source: http://siakero.blogspot.co.uk)

Menurut hemat saya, jenis pesantren ini adalah mayoritas pesantren-pesantren NU saat ini. Selain tetap menjalankan core tradisi pendidikan kepesantrenanya, pesantren ini juga membuka sekolah-sekolah atau madrasah. Mereka berprinsip tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, semuanya penting dan semua harus dipelajari. Akan tetapi dalam penyelenggaraanya, bukan pekerjaan mudah memang menyeimbangkan apalagi berharap sama-sama mendapatkan ilmu dengan kualitas maksimal antara ilmu agama dan ilmu umum. Apalagi kalau berharap dapat ilmu agama yang mendalam sebagaimana di pesantren salaf, sekaligus mendapatkan ilmu umum yang bisa bersaing dengan sekolah-sekolah umum favorit di luar pesantren. Tidak jarang, pada akhirnya pesantren jadi berat sebelah.

Sehingga menurut saya, lebih spesifik lagi ada tiga jenis pesantren ini. Yang pertama, pesantren yang lebih berat ilmu agamanya. Sebagai contoh adalah Pondok Pesantren Darussalam, Blok Agung, Tegalsari, Banyuwangi. Termasuk pesantren Manbaul Ulum, dan Minhajut Thulab, di Kabupaten yang sama. Di Pesantren ini, sampean bisa belajar agama yang cukup sebanding dengan di pesantren syalaf. Kitab-kitab kuning besar seperti Ihya Ulumiddin, juga masih dikaji di pesantren ini. Sampean juga tidak perlu khawatir tidak memiliki ijasah sekolah umum, karena di pesantren ini juga ada Madrasah Ibtidiyah/Tsanawiyah/Aliyah/ Sekolah Tinggi Agama Islam maupun SD, SMP, SMA, SMK. Tetapi, untuk kualitas sepertinya saya harus jujur, sebagaimana kebanyakan sekolah di pesantren NU kebanyakan, masih ala kadar nya. Rasanya, sulit lulusan SMA/MA dari pesantren jenis ini yang bisa bersaing dengan SMA Negeri di luar pesantren untuk bisa diterima di perguruan tinggi negeri umum favorit. Untuk menjembatani kesenjangan itu, Depag memiliki program khusus program beasiswa santri berprestasi  yang merupakan jalur khusus alumni pesantren untuk diterima di PTN favourite tanpa melalui jalur umum.

Yang kedua adalah pesantren yang relatif seimbang antara Ilmu agama dan Ilmu umum nya. Contoh dari tipe pesantren ini adalah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, dan Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denayar Jombang. Dibanding dengan sebelumnya, kualitas sekolah umum di pesantren ini cukup bagus. Di Bahrul Ulum misalnya, di pesantren ini terdapat Madrasah Aliyah Negeri Tambak Beras, yang cukup terkenal.

Yang ketiga adalah pesantren yang kualitas sekolah umumnya sangat bagus, bisa bersaing bahkan bisa dibilang lebih bagus dari sekolah umum di luar pesantren. Akan tetapi, anda jangan berharap bisa mendalami ilmu agama sedalam di pesantren syalaf. Sebuah majalah NU pernah menyindir, Kitab Kuning merana di pesantren ini. Walaupun minim jika dibandingkan dengan pesantren syalaf, teapi tentunya pendidikan ilmu agama di pesantren ini jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan di sekolah umum. Pondok pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan Jombang dan PP Amanatul Ummah adalah contoh sempurna dari jenis pesantren ini. Di pesantren ini, terdapat sekolah-sekolah unggulan seperti SMP Negeri Unggulan 3 Peterongan, SMA Unggulan Darul Ulum 1 BPPT, SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT RSBI  (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional Sebelum dihapus).

smu_du_2

Ilustrasi: Santri Darul Ulum di SMA Unggulan DU 2 BPPT

Alumni sekolah di pesantren ini banyak sekali yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri favorit seperti ITS, Unair, UGM, UNDIP, ITB, IPB, UI. Sehingga tidak sedikit yang pada akhirnya banyak alumni pesantren ini yang jadi dokter, insinyur, ahli hukum tata negara, dan berbagai profesi lainya. Pesantren ini seolah ingin membuktikan bahwa alumni pesantren tidak hanya bisa jadi ahli agama, tetapi juga bisa sukses di berbagai bidang profesi kehidupan.

Jadi kalau sampean pingin sekolah di sekolah yang tidak kalah bagus di SMP atau SMA Negeri favorit di kota kamu, semisal sampean pengen jadi Ahli hukum, Dokter, Insinyur sekaligus  ingin memiliki fondasi dasar keagamaan yang kuat (ingat level dasar, bukan advanced lowh), pesantren jenis ini adalah pesantren pilihan terbaik buat sampean.

3. Pesantren Modern (Kholaf)

Yang jelas di pesantren ini tidak ada kitab kuning. Walaupun saya yakin awal mulanya NU, tetapi pesantren jenis ini mengklaim berdiri di atas semua golongan. Berbeda dengan pesantren NU yang bermadzaf Imam Syafii (Syalafiyah, As’ariyah) pesantren ini biasanya tidak mengklaim bermahdzab pada mahdzab tertentu. Saya lebih senang menyebutnya boarding school untuk jenis pesantren ini. Biasnya di pesantren modern ini digunakan bahasa internasional, yaitu bahasa Arab dan Inggris. Contoh dari pesantren jenis ini adalah: Pondok Modern Gontor, Pondok Modern Assalam Solo,  dan Pesantren Darunnajah.

Ilustrasi: Santri Pondok Pesantren Gontor Ponorogo

Pembentukan karakter yang mengkolaborasikan sistem pendidikan modern dan islam sangat kental di pesantren ini. Kedisiplinan dan penguasaan bahasa asing juga menjadi penekanan dari pondok pesantren modern ini. Pondok pesantren modern ini seolah ingin menepis anggapan pesantren yang identik dengan keterbelakangan, kumuh, dan anti kemajuan.

Jika sampean  berniat melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren, atau sampean orang tua yang ingin menyekolahkan putra/putrinya ke pesantren semoga tulisan ini sedikit bisa memberi gambaran. Saya pribadi, sebagai alumni salah satu pesantren, sangat menyarankan untuk memilih pesantren sebagai jalur pendidikan yang tepat. Apalagi jika melihat mentalitas anak sekolah jaman sekarang yang begitu rapuh, yang begitu mudah terpengaruh oleh budaya luar dan mudah terberdaya dengan teknologi. Miris rasanya, melihat pergaulan bebas anak remaja jaman sekarang.  Masih SMP sudah banyak yang sudah bunting, Mudah diperdaya oleh laki-laki hidung belang hanya lewat Facebook, begitu mudahnya terbawa budaya ikut2an mode/ gaya hidup yang mendera di tengah-tengah era keterbukaan informasi. Seolah mereka tak memiliki jati diri, tak memiliki pegangan hidup yang pasti.

Dengan di pesantren, saya sangat yakin mereka setidaknya akan memiliki pegangan, dasar agama yang kuat yang membuat mereka tidak rapuh ketika terpaan ideologi, gaya hidup luar yang datang bertubi-tubi.  Mereka bisa memaknai  setiap episode kehidupan dengan bijak, karena memiliki kecerdasan spiritual yang diasah di pesantren. Bahwa keterbukaan informasi sebagai akibat dari kemajuan jaman tidak dapat dielakkan, karenanya kita perlu membekali anak-anak kita tidak hanya dengan ilmu tapi juga dengan Iman dan Taqwa. Kuat Ilmu, Kuat Iman, Kuat Takwa, agar anak-anak kita tidak sekedar sukses mengejar kesuksesan semu di dunia saja, tetapi juga sukses, selamat, bahagia di dunia dan di akhirat.