Advertisements

Tag Archives: menemani istri s3 di luar negeri

Sore itu di Old Market Square Nottingham

… kepuasan terletak pada usaha, bukan hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki – Mahatma Gandi

seaside_old_market_square

Suasana Old Market Square Nottingham di Musim Panas (2015)

Teng… Teng … Teng” suara lonceng gereja itu berdenteng tiga kali. Pertanda hari telah sore. Tetapi di tengah musim panas itu, orang-orang masih ramai ‘mandi’ sinar matahari yang cukup terik di old market square, Nottingham. Alun-alun kota ini, di musim panas dipermak menjadi suasana pinggir pantai. Ada kolam air buatan, lengkap dengan pasir pantai yang lembut berwarna putih kekuning-kuningan di pinggir-pinggirnya.  Di sebelahnya ada air mancur yang airnya muncrat sangat kencang. Semua itu, mengundang keceriaan bocah-bocah kecil di bawah pengawasan orang tuanya.

Petang itu, saya, istri, sedang duduk-duduk di tepi alun-alun, ngobrol santai dengan mbak Maryati dan Mas Hasto suaminya. Sambil mengawasi, Ilyas-anak kami, serta Rafi, Dafa, dan Nabil-putra Mbak Maryati dan Mas Hasto yang sedang asyik bermain dengan air mancur. Sambil ngobrol, kami memberi makan pecahan biskuit pada segerombolan merpati yang nampak bersahabat dan sedikit pun tidak takut dengan kami.

mbakmar_city_centre_2

Mbak Maryati Sekeluarga (Old Market Square, Nottingham)

Tidak ada obrolan serius, hanya obrolan sebagai manusia-manusia biasa saja. Selama di Nottingham, Mbak Maryati ini cukup istimewa buat saya dan mungkin buat semua orang-orang Indonesia yang tinggal di Nottingham. Boleh dibilang, beliau ini Ibu RT nya kami. Beliau adalah orang Indonesia pertama yang mengundang saya makan-makan di rumahnya, ketika awal kedatangan saya di kota ini. Dan entah sudah berapa kali, saking seringnya, saya main dan makan-makan di rumah beliau.

Hari ini, seharusnya Mbak Maryati sekeluarga sudah terbang dari Turki ke Jakarta. Tetapi, karena kejadian konyol, rencana itu harus tertunda. Satu hari sebelum hari keberangkatan, mereka baru menyadari kalau paspor Mas Hasto dan ketiga putranya sudah expired. Dengan terpaksa, rencana jalan-jalan ke Turki, bersambung ke Jakarta dan Solo itu harus ditunda seminggu, karena harus membuat paspor baru di KBRI London.

Yah rencana tinggalah rencana. Manusia memang bisa merencanakan, tetapi ada yang Maha Merencanakan hidup kita. Tetapi semuanya pasti untuk sebuah alasan. Diantaranya, untuk obrolan kami di sore itu.

Senang dan lega rasanya, melihat kesuksesan Mbak Maryati menyelesaikan studi PhD nya. Sebuah perjalanan panjang dan penuh perjuangan. A painful journey. Dari obrolan itu, saya belajar banyak dari Mbak Maryati. Tentang kegigihan, kerja keras, dan perjuangan menggapai keinginan. Semangat dan kegigihanya seolah menular jika berada di dekat beliau. Saya yang kadang bermalas-malasan, malu dibuatnya.

Saya juga belajar banyak dari Mas Hasto. Tentang ketulusan, tanggung jawab dan cinta. Di tengah budaya Jawa yang patriarki, saya rasa tidak banyak suami yang berani menundukkan egonya, mengalah membiarkan istrinya ‘lebih maju’ dari dirinya sendiri. Rela melepaskan pekerjaanya, untuk menemai sang istri. Bahkan memerankan peran sebagai ibu, ketika sang istri harus konsentrasi dengan studi nya. Mengurus keperluan dapur, termasuk memasak, dan mengurus anak-anak. Mas Hasto pun, rela kerja sebagai cleaning service setiap subuh dan menjelang malam hari.

Berikut tips buat para suami yang menemani istri sekolah di luar negeri:

Bagi saya, Mbak Maryati dan Mas Hasto adalah keluarga yang cukup beruntung. Bisa mendapatkan beasiswa Islamic Development Bank, yang cukup besar jumlahnya dan mengcover biaya hidup pasangan dan anak-anaknya. Berkesempatan menunaikan ibadah haji berdua ketika berada di Nottingam. Dikaruniai tiga putra yang lucu-lucu dan menyenangkan serta ketiganya berkesempatan mengecap pendidikan gratis di negara maju ini. Dan keduanya juga nampak sangat religius. Sungguh, sebuah anugerah Allah yang patut disyukuri. Karunia itu seakan bertambah sempurna dengan kesuksesan Mbak Maryati menyelesaikan studi PhD nya.

Hidup memang bukan untuk dibanding-bandingkan. Jumlah kekayaan, gelar akademik, jumlah anak, jabatan dan kedudukan tak bijak dijadikan ukuran untuk membanding. Meskipun, kita diajarkan untuk memohon kebaikan di dunia dan akhirat. Tetapi, kita sering kali salah memahami apa yang terbaik buat kita di dunia, dan sapa yang bisa menjamin kebaikan kita nanti di akhirat? Ada kalanya, hidup itu tak berbanding lurus dengan usaha, doa dan rencana-rencana kita. Ada kalanya, kita hanya perlu memahami bahwa hidup itu sadermo ngelakoni, hanya menjalankan skenario Tuhan.

Walaupun demikian, ada orang-orang yang ditakdirkan hadir dalam hidup kita, tetapi tidak memberi manfaat sama sekali bagi kita. Tidak ada beda keberadaan dan ketidakberadaan mereka. Adakalanya, kita ditakdirkan bertemu dengan seseorang, walau sebentar, tetapi memberi manfaat, urun memberi warna dalam kehidupan kita. Dan hari ini saya merasa mengembil manfaat dari pertemuan kami dan Mbak Maryati sekeluarga.

Selamat kembali ke tanah air Mbak Dr. Maryati sekeluarga ! Semoga ilmunya barokah ! Tambah sukses selalu ! Sekali lagi, Selamat atas kesuksesanya, Alfu Mabruk ! Semoga silaturrahim kita tetap terjaga. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya, insya Allah.

Advertisements

Para Suami Berhati Emas

meski pun cinta kadang menyakiti, hanya cinta yang bisa merundukkan ketinggian hati – a random thought.

suami_suami_hebat_satu

Ilustrasi : Punting di Sungai Cambridge, UK (2015)

Dari buku novel dan film Habibie dan Ainun, kita pernah membaca cerita cinta mbak Ainun menemani sang suami mas Habibie yang mencintainya, ketika berjuang menyelesaikan studi doktoralnya di Jerman. Jutaan hati tersentuh oleh perjalanan cinta mereka yang penuh romantika dan ternyata tidak selalu mudah. Lewat buku novel 99 cahaya islam di langit Eropa, kita juga pernah disuguhi cerita perjalanan penuh makna nya mbak Hanum menemani sang suami tercinta, Mas Rangga, yang menjalani hari-hari penuh perjuanganya sebagai mahasiswa PhD di Austria. Jutaan mata pun dibuat terpesona oleh perjalanan mereka.

Tetapi, disini saya melihat cerita yang lebih dari pada itu. Para suami yang menemani istri-istri nya meraih impian untuk menuliskan gelar Doktor secara sah di samping namanya. Merekalah menurut saya suami-suami hebat luar biasa. Lelaki gentleman berhati emas.

Jika istri menemani suami, dalam relasi suami-istri pada konstruksi sosial masyarakat kita pada umumnya, adalah hal yang biasa bahkan sudah seharusnya sebagai guratan takdir mereka. Dalam filosofi Jawa, kodrat wanita, atau wanito adalah ‘wani ditoto’ , berani diatur, oleh siapa lagi kalau bukan suaminya. Jadi perempuan, harus bisa menjadi pakaian bagi laki-laki. Menghangatkan di musim hujan, meneduhkan saat kemarau. Istri harus bisa menjadi orang hebat di belakang layar para lelaki hebat.

Tetapi, diisni saya melihat para suami yang sangat setia menemani istri-istri mereka. Menemani sang istri meraih gelar akademik yang lebih tinggi dari mereka, mempersiapkan karir yang lebih cemerlang dari karir dirinya. Rela melepas banyak hal yang telah digenggamnya, hanya untuk menemani istri yang sering kali lebih sibuk sendiri dengan kehidupan dunia studinya. Disini, rela hanya sebagi sopir buat istri dan anak-anaknya pergi sekolah. Bahkan, tak segan mengisi kekosongan waktu menunggu dengan menjadi buruh pengosek WC.

Buat saya, sungguh mereka adalah para lelaki luar biasa. Yang tidak banyak lelaki termasuk diri saya mampu seperti mereka. Tidak banyak rasanya para lelaki yang bisa menundukkan egonya, merundukkan ketinggian hatinya untuk melihat istrinya lebih dari dirinya. Lebih sukses karirnya, lebih banyak penghasilanya, lebih pintar, lebih terkenal dan lebih besar pengaruhnya serta terlihat lebih hebat dari dirinya. Hanya sedikit suami yang berani mengalah untuk mendukung istrinya lebih sukses dari dirinya karena sadar kesuksesan istrinya adalah kesuksesan dirinya juga. Hanya para lelaki gentleman berhati emas yang bisa melakukanya. Cinta memang kadang menyakitkan, tetapi hanya cinta yang bisa merundukkan ketinggian hati-hati itu. Bersama cinta, mereka sungguh luar biasa.