Membaca Gus Dur Kembali, Lagi dan Lagi

Gus Dur sudah lama pergi tapi warisanya bisa dinikmati hingga hari ini. Banyak pelajaran yang bisa digali dengan membaca Gus Dur lagi dan lagi. Tentang demokrasi, soal toleransi sehari-hari, juga tentang politik sebagai teka-teki. Para bapak bangsa tak pernah benar-benar mati merek tak henti menyalakan inspirasi. Saat perbedaan kerap dianggap sebagai ancaman, bagaimana seharusnya kita memaknai keberagaman? – Najwa Sihab, Mata Najwa

IandGusDur

Saya dan Foto Gus Dur di Museum Bank Indonesia, Jakarta (Foto By Devi, 2013)

Rasanya, seumur hidup saya belum ada seorang manusia Indonesia yang begitu dikagumi, diikuti, dan diteladani ketika dia masih hidup bahkan setelah dia mati, melebihi seorang Gus Dur. Tak terasa, hampir lima tahun sudah Gus Dur meninggalkan kita, tetapi rasanya dia masih hidup di tengah-tengah kita. Sungguh, seorang yang berilmu dan ilmu nya manfaat dan barokah tidak pernah benar-benar mati. Hingga detik ini, Gus Dur masih sering disebut-sebut, ajaraanya masih diikuti dan diteladani, karena apa yang dia ajarkan masih sangat-sangat relevan hingga saat ini. Pada setiap hari kematianya, masih selalu diperingati oleh seluruh rakyat dari semua kalangan, bahkan disiarkan secara nasional. Kuburanya, setiap hari diziarahi oleh ribuan orang. Do’a untuk mu tak pernah terhenti.

Gus Dur, Gus Dur, sungguh mulia benar panjenengan niki? Saya nggumun, apa gerangan yang membuat mu begitu dicintai dan dirindui semua orang. Dari rakyat jelata, hingga para pemimpin dunia. Dari yang tidak bisa membaca, hingga para peraih nobel dunia.

Akhir pekan minggu kemaren, saya merasa sangat beruntung dan merasa menjadi orang paling bahagia di dunia. Di youtube ada tayangan Mata Najwa terbaru, judulnya “Belajar dari Gus Dur”. Saya kembali selalu mbrebes mili, menyaksikan semua keluarga, istri dan keempat putrinya, dan mantan orang-orang terdekat beliau mengurai kembali pelajaran-pelajaran berharga dari Gus Dur, dari berbagai perspektif yang berbeda. Walaupun, beberapa di antaranya sudah sering saya dengar, tetapi selalu ada interpestasi baru dari ajaran-ajaran dan keteladanan Gus Dur.

Diantara yang berkesan di acara ‘Belajar dari Gus Dur’ itu adalah ‘Surat Untuk Bapak’ dari  mbak Yenny Wahid, putri kedua Gus Dur. Berikut puisinya:

Surat Untuk Bapak (oleh Yenny Wahid)

Bapak ku tercinta, tidak terasa lima tahun lebih bapak telah meninggalkan kami. Begitu banyak hal yang terus kukenang tentang mu.

Aku ingat, dulu ketika bapak mencalonkan diri menjadi presiden, aku ragu. Ragu karena Bapak tidak bisa melihat. Bagaimana mungkin Bapak bisa memimpin tanpa penglihatan.

Namun seperti Abdulah bin Umar, kebutaan mu adalah anugerah untuk negeri ini. Karena dengan nya,mata batin mu jadi bercahaya dan lisan mu menjadi tajam, menyuarakan kebenaran. Justru kami yang sempurna penglihatanya pak, kadang tak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Bapak, minggu lalu adalah tahun baru imlek. Aku ingat ketika Bapak mengeluarkan aturan membolehkan perayaan imlek, ada sedikit kalangan yang mencibir, sama seperti bapak ketika memerintahkan banser menjaga gereja. Orang-orang itu berkata, bapak hanya melindungi kelompok minoritas, mereka lupa ketika jaman orde baru bapak berjuang bagi kelompok mayoritas yang ditekan samapai bapak sendiripun jadi korban.

Bapak tercinta,terima kasih telah mengajari kami bahw kaidah agama yang kita anut adalah agama yang cinta damai dan mengasihi seluruh alam. Saat ini makin banyak masyrakat dunia, yang hafal quran dan hadis namun sayangnya, masih ada pula yang justru senang mengkafirkan orang lain.

Bapak. justru setelah kau pergi, aku masih melihat mu dimana-mana
di kaos dan kalender yang banyak dijual orang, di spanduk dan iklan di layar kaca ketika musim kampanye tiba bersanding dengan logo-logo partai dan foto calon presiden. Padahal, sebagian dari mereka justru adalah orang-orang yang nilai politiknya berbeda dari diri mu.

Pak, kami sungguh rindu leluconmu, tak ada lagi sekarang yang bisa memarahi anggota DPR dan para politisi. Bahkan anak TK pun tak mau lagi disamakan dengan mereka.Kalau bapak masih ada, polisi kok dibilang bukan penegak hukum, pantas sekarang maling-maling makin berani, merampok harta rakyat di siang hari lalu lakukan kriminalisasi agar kejahatanya terlindungi.

Hmm, mungkin Bapak akan senang,karena teman bapak, buya syafii maarif, kemaren memberi nasehat kepada presiden Jokowi agar jadi rajawali, dan bahkan kalau bapak ada disana Bapak akan menambahkan: Dek Jokowi, tangkap saja semua maling itu, gitu saja kok repot.

Kasihan Pak Jokowi pak, begitu banyak bebanya dalam memimpin negeri, sepertinya beliau perlu teman untuk bicara. Tolong datangi dia dalam mimpi agar terilhami untuk jadi lebih berani,karena rakyat negeri ini butuh diayomi.

Selain seluruh keluarga Gus Dur, hadir juga Mahfudz MD, Pak Lukman, Menteri Agama dan Budiman Sujatmiko. Saya baru tahu, jikalau Budiman Sujatmiko, yang selama ini dikenal dekat Megawati, ternyata pengagum berat Gus Dur juga. Budiman, mengggarisbawahi kepiawainya menyampaikan gagasan-gagasan besar yang bisa dengan mudah dicerna oleh rakyat jelata sama baiknya oleh para pemimpin-pemimpin dunia. Ini adalah skill yang sangat luar biasa, yang tidak dimiliki semua orang. Sebagai akademisi, saya sering merasa bahwa ilmu saya itu hanya bisa saya komunikasikan dengan orang-orang pada disiplin ilmu yang sangat spesifik saja. Adalah tantangan para akademisi, bisa menyampaikan ilmu yang bisa dipahami oleh orang awam.

Buat saya pribadi, Gus Dur adalah inspirasi yang selalu hidup dalam kehidupan saya. Keteladanan dan ajaran-ajaran nya seolah mengilhami bagaimana cara memandang dan menjalani hidup dalam hidup berkebangsaan, bagaimana memahami Islam yang saya yakini kebenaran ajaranya.

Seorang Najwa Sihab, mampu merangkum sebagian tentang diri Gus Dur, dalam rangkain kata yang indah berikut:

Gus Dur seorang pelintas batas, berbagai sekat ia terabas. Ia tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori, sebab kiprahnya melintasi berbagai teritori.Seorang kyai sekaligus plotisi, ia penulis sekaligus juga aktivis.Jadi presiden tak membuatnya terkekang. Kekuasaan tak membuat komitmenya berkurang. Yang minoritas diangkatnya secara terhormat, dilumerkanya berbagai prasangka yang menyekat. Akibatnya Gus Dur sering dihinggapi praduga, padahal dia yang cairkan banyak prasangka. Tapi dia bisa santai menghadapi tekanan, sebab jabatan baginya bukan tujuan. Sebelum lawan mencemooh dan mengejeknya Gus Dur lebih dulu mentertawakan dirinya. Humor menjadi jalan pembebasan dari bujuk rayu kuasa yang menjerumuskan. Toh, hidup hanya menunda kekalahan. Santai sajalah dengan kekuasaan. Dengan itulah Gus Dur jadi amat berbobot begitu saja kok repot (Najwa Sihab, 2015).

Memang tidak pernah ada habisnya, belajar dari Gus Dur. Ibarat sumber mata air yang tidak pernah kering. Tetapi bagaimana pun juga, beliau juga hanya manusia biasa yang tunduk pada titah Sang Pencipta. Semoga, kita bisa senantiasa belajar melalui Gus Dur. Alangkah mulianya, jika kita nanti kelak meninggalkan warisan ilmu bermanfaat yang terus berguna. Semoga kita pun bisa, walaupun tak sesempurna Gus Dur. Untuk Gus Dur, lahul fatihah….

Bu Risma: Pemimpin yang sudah lama saya Rindukan

Penampilanya sederhana nan bersahaja, banyak bekerja  dan sedikit beretorika. Bagi nya, jabatan bukanlah status sosial yang membuatnya merasa terhormat bak ratu atau raja. Tetapi amanah berat dari Tuhan, yang harus dia jalankan meski harus dengan berurai air mata. Dia akan sangat tegas dan marah besar jika sesuatu terjadi tidak sebagai mana seharusnya. Tetapi dia juga pemimpin wanita yang penuh cinta dan lembut hatinya. Yang mudah mengangis jika melihat penderitaan warganya. Dialah  Bu Risma, Wali Kota Surabaya yang mendunia dan dicinta itu.

bu_risma

Kemaren, Rabu Malam (12/02/2014) waktu Indonesia, jagad media sosial Twitter heboh dengan sebuah nama Bu Risma. Iya, wanita pertama wali kota surabaya itu menjadi trending topic nasional setelah curhatan hatinya ditayangkan pada acara talk show, Mata Najwa, di Metro TV. Banyak yang merinding, takjub  dan terkesima dengan kepemimpinan dan sosok pribadi arek suroboyo ini. Ada apa?

Jika anda berkunjung ke kota Surabaya, anda akan melihat bukti hasil kerja kerasnya. Berbeda dengan kota Jakarta yang secara kasat mata belum terlihat perubahanya, di Surabaya anda akan melihatnya. Surabaya yang dulu panas, kotor, dan gersang. Sekarang terlihat jauh lebih bersih, rindang, dan hijau. Ada banyak taman-taman kota yang ditata secara apik dan terkonsep tematik membuat kota ini semakin nyaman untuk ditinggali. Seorang teman asli Surabaya, yang dua tahun tidak pulang kampung karena belajar di Amerika, mengaku kaget sekaligus takjub dengan perubahan kota kelahiranya ini. Tapi, apakah pemimpin yang baik sekedar bisa membuat kota menjadi cantik?

Saya, yang kebetulan jauh dari tanah air pun, tak ketinggalan mengikuti dan mengagumi sepak terjang beliau dari jauh. Meskipun hanya dari beberapa video di youtube dan pemberitaan di media elektronik lainya, saya memiliki kesan pribadi yang mendalam terhadap pemimpin yang satu ini. Buat saya, Bu Risma adalah sosok pemimpin yang sudah lama dirindukan oleh rakyat  wong cilik selama ini. Kenapa?

Pemimpin yang Sangat Religious

Tingkat religious seseorang tidak kasat mata. Keimanan dan ketakwaan seseorang sama sekali tidak bisa diukur dari bungkus luarnya. Tidak diukur dari seberapa lebar dan gondrong jilbab nya atau seberapa panjang jenggot dan seberapa hitam jidad nya. Keagamaan seseorang juga tidak bisa dilihat  dari ibadah ritual dan seremonial belaka. Bukan diukur dari jumlah sudah berapa kali seseorang  menjalankan ibadah haji dan umrah. Bukan pula berapa kali dia sholat jamaah di masjid yang oleh wali kota Bandung Bengkulu akan diganjar mobil Inova.

Keagamaan adalah urusan sangat personal antara seorang hamba dan Tuhanya. Manusia bisa berpura-pura, seorang munafik bisa menyembunyikan kebusukan hatinya lewat jilbab lebar dan titel hajinya. Tetapi Tuhan melihat hati kita. Keimanan dan ketakwaan seseorang berada dihati, yang akan terpancar secara alamiah dari tutur kata dan perbuatan nyata.

Dari  beberapa tayangan wawancara dengan beliau, saya menangkap sinyal itu ada dari sosok Bu Risma. Tutur kata dan aura wajahnya menandakan kalau dia sangat Takut sama Tuhan nya dan tidak takut sama laiNya. Dia sangat takut jikalau dia mati nanti terakhir masuk syurga karena kepemimpinanya. Bu Risma juga sangat sadar betul bahwa dalam hidup nya ada kekuatan dan kekuasaan Tuhan yang mengatur segala-galanya. Dia sangat sadar bahwa ada tangan-tangan Tuhan yang bekerja dibalik tindakanya.

Itulah yang membuat dia terlihat sangat tidak membanggakan diri dengan segala capaian prestasi, apresiasi  dan pujian yang diarahkan kepadanya.

Pemimpin yang Amanah

Buat Bu Risma jabatan wali kota itu bukanlah sesuatu prestasi yang  harus dia raih apalagi diperebutkan. Buat beliau, jabatan itu adalah amanah berat dari Tuhan dan beliau pemimpin yang sangat sadar dengan amanah itu dan berusaha sekuat tenaga untuk menjalankanya. Dalam Mata Najwa, dia bertutur : ” Saya tidak mau nanti saya tidak masuk syurga, gara-gara ada seorang rakyat yang merasa kecewa dengan kepemimpinan Nya”. Berkali-kali dia berkata dari dalam hati, ” BERAT”, dengan berurai air mata.

Kesadaran ini membuat dia sama sekali tidak tertarik dengan Jabatan Presiden, meski pun banyak orang lain berusaha memperebutkan jabatan itu.

Pemimpin Pekerja dan Pengabdi Sejati

Bu Risma bukanlah pemimpin politisi yang pandai beretorika kosong. Mungkin latar belakang pendidikan teknik dari Teknik Arsitektur ITS yang membuat dia lebih banyak memimpin dengan bekerja dari pada berkata-kata. Dia adalah pemimpinya para pekerja. Dia tidak pernah menyuruh hanya dengan berkata-kata, tapi dengan kerja dan keteladanan langsung.

Bukan rahasia lagi,  kalau dia tak segan-segan memungut sampah langsung di jalanan, memperbaiki got, gorong-gorong dan saluran air, bahkan mengatur lalu lintas sendiri. Dia juga berusaha memberikan segala yang dimiliki, waktu, dan segala keahlianya dicurahkan secara all out untuk kota Surabaya yang dipimpinya.

Pemimpin ala Umar Bin Khatab

Jika anda pernah membaca, sejarah para sahabat nabi, sepak terjang beliau mirip sekali dengan kepemimpinan ala Umar Bin Khatab. Yaitu blusukan langsung menemui rakyat kecil yang dipimpinya secara sembunyi-sembunyi. Blusukanya tidak perlu membawa media untuk pencitraan belaka. Blusukanya inilah yang pada akhirnya menjadi inspirasi-inspirasi kepemimpinanya. Seperti bertemu PSK senior, berumur 60 tahunan dengan pelanggan anak SD dan SMP yang pada akhirnya membulatkan tekadnya untuk menutup Lokalisasi protistusi terbesar di Asia Tenggara itu.

Dia juga bertemu rakyat renta jelata berumur 90 tahun yang sakit terkapar tak berdaya ditungguhi anaknya umur 60 tahun yang ternyata gila. Blusukanya ini yang menyadarkan dia bahwa masih banyak rakyat surabaya yang hidup masih dalam pelukan derita. Orang-orang tertindas dan terlemahkan inilah yang menjadi inspirasi yang meneguhkan kepemimpinanya hingga detik ini.

Pecinta sejati wong cilik

Dia sangat mencintai rakyat miskin dan anak yatim sebagaimana yang diajarkan kanjeng Rosul Muhammad S.A.W.  Kebijakanya banyak berpihak kepada rakyat jelata ketimbang para pengusaha. Menaikkan pajak reklame dan penolakan pembangunan Tol tengah kota adalah buktinya. Jauh sebelum pemerintah memberikan dana BOS, Surabaya adalah salah satu kota yang pertama menggratiskan sekolah dan juga pelayanan kesehatan.

Anak-anak miskin dan yatim dia perhatikan khusus, dengan memberikan beasiswa, memasukkan ke sekolah-sekolah unggulan tanpa tes, bahkan ada yang sampai disekolahkan untuk sekolah S1 hingga S3 di Malaysia. Dia sendiri yang mencari anak-anak itu.

Di akhir acara Mata Najwa, Bu Risma menuturkan kata-kata yang sangat indah khusus buat anak-anak yang kurang beruntung itu,

Bahwa keberhasilan dan kesuksesan itu adalah hak semua orang. Kalian tidak perlu berpikir darimana asal kalian atau siapa orang tua kalian. Orang tua kalian tukang becak, orang tua kalian buruh cuci, kalian berhak untuk berhasil. Karena Tuhan itu Maha Adil.

Maju terus Bu Risma! kami rakyat kecil mencintai dan senantiasa mendukung mu!