Pulang Ke Jombang

Jombang:  Ijo lan Abang- Hijau dan Merah. Tempat orang-orang yang dari dua kutub positif dan negatif kehidupan bertemu. Tempat, orang-orang yang sering menimbulkan riuh kegaduhan di negeri ku berasal. – a random thought

kota_jombang_2

Ilustrasi: Peterongan, Jombang

Setiap orang pasti punya kota kenang-kenangan dalam hidupnya. Kota kelahiran, tempat menghabiskan waktu kecil hingga tumbuh mendewasa. Kota tempat menempa diri mematangkan pemikiran. Kota tempat belajar kehidupan. Atau sekedar kota dimana  cinta sejati telah menemukan sampean. Tentulah, pada kota kenang-kenangan itu, kita selalu ingin pulang.

Meskipun saya lahir di Banyuwangi, teman-teman kuliah ku di kota Surabaya, sampai sekarang pun masih banyak yang mengira kalau aku ini berasal dari Jombang. Dulu, waktu masih kuliah di Surabaya, hampir setiap jumat sore, aku pulang ke Jombang, untuk kembali lagi ke Surabaya setiap Minggu sorenya. Sekedar menularkan sedikit ilmu yang tak seberapa yang kuperoleh dari kampus ke adek-adek kelas ku di pesantren Njoso, Peterongan, Jombang.

Argh, kereta ekonomi KRD dengan tiket seharga Rp. 2000 itu, begitu berjasa mengantar ku pulang setiap akhir pekan. Harga tiket itu, begitu nyaman di kantong mahasiswa kere seperti ku saat itu. Meskipun Bu Titik, bendahara sekolah di pesantren ku itu, selalu memberiku salim tempel. Amplop putih berisi selembar uang bergambar WR Supratman itu selalu diselipkan di tangan ku setiap aku mencium telapak tanganya, untuk pamitan pulang balik ke Surabaya. Meskipun, aku harus berdesak-desakan, empet-empetan,  bermandi peluh dalam gerbong kereta yang pengap dan pesing itu. Gerbong-gerbong kereta itu, begitu penuh dengan orang-orang desa yang pulang pergi mencari nafkah di ibu kota Jawa Timur. Bahkan, tak sedikit orang-orang yang mencari nafkah dengan berjualan keliling dari ujung ke ujung gerbong, memaksa menembus tumpukan penumpang itu.

Tak jarang aku tergencet tanpa bisa bergerak maju atau mundur, di lorong sempit di antara pintu keluar gerbong dan pintu toilet yang baunya, naudzubillah min dzalik itu. Sungguh, gerbong-gerbong kereta KRD itu menyimpan terlalu banyak cerita dan kenangan. Cerita tentang bagaimana susahnya memainkan lakon hidup sebagai rakyat kecil di negeri ku ini, yang tak boleh pernah sedikit pun lelah dan mengeluh dalam berjuang bahkan sekedar  berjuang untuk bertahan hidup. Pada mereka itu aku belajar banyak untuk tidak takut menempuhi betapapun sulitnya jalan kehidupan ini. Bukankah, tak perlu ada yang ditakuti selain Sang Pemberi kehidupan, di jalan kehidupan yang hanya sekedar mampir ngombe ini?

Dua tahun yang lalu, ketika kuliah ku di Nottingham memasuki masa liburan, aku pun pulang ke Jombang. Ku coba telusuri kembali, sudut-sudut kota yang menyimpan banyak kenangan-kenangan itu. Di terminal kota Jombang, tempat yang dulu ramai dengan para pedagang makanan, pedagang asongan, kios wartel, dan selalu riuh oleh orang-orang yang berlalu lalang itu, aku merasa seperti berada di kota mati. Sepi, sunyi sepi sekali. Wartel dan toko-toko makanan yang dulu pernah berjaya itu kini sudah tutup. Lin, Angkutan kota, Angkutan desa itu pun sekarang sepi penumpang. Padahal, dulu kami santri Njoso yang mau pergi ke Pasar Lagi, di jantung kota Jombang itu, harus antri untuk rebutan naik lin D2.

kota_jombang_5

Terminal Kota Jombang

Rupanya, hampir semua orang sekarang memiliki sepeda motor. Jadilah, terminal yang dulu menjadi salah satu pusat ekonomi rakyat itu ditinggalkan. Rupanya, sejak meninggalnya seorang Gus Dur, pusat ekonomi rakyat itu berpindah di sekitar pesantren Tebu Ireng. Ribuan orang dari berbagai pelosok negeri, setiap hari berziarah di makam sang Guru Bangsa itu. Jalan-jalan kampung yang sempit menuju pesarean Gus Dur itu pun berubah menjadi pasar rakyat yang tak pernah sepi 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Makam njenengan itu Gus, telah membuka pintu rejeki bagi ratusan tukang ojek, penjual makanan, penjual kaos bergambar wajah njenengan, penyedia jasa WC, penjual buku, hingga tukang potong rambut, Gus. Njenengan pasti tersenyum bahagia di alam kubur mu sana, melihat rakyat kecil yang dulu selalu kau bela itu gemuyu kecipratan rejeki dari para peziarah makam njenengan.

kota_jombang_4

Ilustrasi: Pasar Rakyat  di Sepanjang Jalan Menuju Makam Gus Dur

Di Jombang, aku selalu merasa berhutang jasa pada banyak orang. Pada para guru, ustad, kyai, bunyai, teman, dan juga pengalaman. Bahkan hingga detik ini pun, aku tak pernah berhenti ngaji pemikiran-pemikiran jenius dan otentik dari para anak kandung kota Jombang sekaliber Mbah Hasyim, Kyai Wahid, Mbah Romly, Mbah Wahab, Mbah Bisri, Kyai Tain, Gus Dur, Cak Nur, dan Cak Nun. Mereka seolah sumber mata air ilmu yang tak pernah kering, dan aku selalu merasa kehausan ingin selalu mereguk kesegaran air nya.

kota_jombang_3

Ilustrasi: Anak-anak di Makam Gus Dur, Tebu Ireng, Jombang

Pak, Bu ! Pak Yai, Bu Nyai ! Gus, Cak ! di kota panjenengan, sungguh, aku kangen pulang. Doakan, santri abadi mu ini bisa segera pulang membawa kabar kemenangan untuk mu. Kemenagan melawan ketololan ku yang tidak habis-habis ini.

Gus Dur : Yang Selalu Hidup di Tengah Kita

“… orang yang berilmu dan bermanfaat ilmunya pada dasarnya ia tidak pernah mati. meskipun jasadnya telah menyatu kembali dengan tanah dari apa dia diciptakan, tetapi ilmu, inspirasi, dan semangat juang nya senantiasa hidup di tengah-tengah kita. Benarlah apa kata Sang Nabi, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya buat sesamanya.

gusdur_01

Jika saya ditanya siapa orang Indonesia yang paling hebat dan paling berpengaruh seumur hidup saya? Saya pasti dengan mantap akan menjawab Gus Dur lah orang nya. Dia lah yang banyak mempengaruhi saya dalam memahami dan menjalani hidup dan kehidupan, agama dan keberagamaan. Dan saya sangat yakin beliau juga mempengaruhi ribuan bahkan jutaan manusia lainya. Seiring semakin dewasanya pemikiran saya berikut semakin banyak bacaan saya, semakin pula saya membenarkan dan mengagumi pemikiran-pemikiran Gus Dur. Pernah memang saya berfikir jalan pikiranya ngawur, tetapi seiring berjalanya waktu pada akhirnya saya menyadari bahwa jalan pikiranya tidak lain selain kebenaran.

Meskipun empat tahun sudah Gus Dur meninggalkan kita semua, tetapi Gus Dur masih selalu hadir di tengah-tengah kita. Jalan pikiranya masih saja terus dipelajari dan dilanjutkan, kiprahnya terus saja selalu dikenang, namanya masih saja sering disebut, keberadaanya masih selalu diidolakan, khususnya oleh jutaan orang yang menamakan dirinya Gusdurian. Lihatlah pula makamnya yang setiap harinya dizirahi oleh ribuan orang dari segala penjuru tanah air. Ulang tahun hari kematianya (khoul), setiap tahun dieperingati di berbagai daerah berhari-hari oleh pencintanya yang lintas etnis. Bahkan, Pak SBY orang nomor satu di Indonesia pun bersedia menyempatkan datang ke Jombang untuk acara ini.  Betapa luar biasanya anak manusia satu ini, patutlah jika banyak orang yang menyebutnya waliyullah, sang kekasih Tuhan.

Ziarah Ke Makam Gus Dur

Liburan natal di Tanah air tahun 2013 ini, alhamdulilah  saya bisa menyempatkan untuk berziarah lagi ke makam Gus Dur. Kali ini saya bersama Istri dan Anak saya. Ini adalah ziarah kedua kali saya di makam Gus Dur. Pertama, waktu beberapa hari setelah wafatnya Gus Dur, bersama Mas Danu, seorang kawan sesama dosen muda di ITS beberapa tahun yang lalu.

Makam Gus Dur ini berapada di dalam kompleks pondok pesanten Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Untuk mencapai lokasi,  anda bisa menggunakan public transport dengan sangat mudah. Dengan bus dari terminal Jombang anda bisa naik bus mini jurusan Jombang – Malang tidak lebih dari 30 menit. Anda bisa juga naik bus yang sama dari stasiun kereta api Jombang. Selain bus mini, anda juga bisa naik angkot dari teminal maupun stasiun kereta api Jombang.

gusdur_02

Pada ziarah yang kedua kali ini saya cukup kaget, karena banyak sekali perubahan. Jika dahulu saya bisa masuk komplek pondok pesantren untuk menuju makam, sekarang jalan akses tersebut sudah ditutup. Sebagai ganti, untuk menuju lokasi makam, kit harus melalui gang-gang diantara perumahan penduduk sekitar pondok pesantren. Dimana jalan-jalan akses tersebut sudah berubah bak pasar yang dipenuhi outlet orang jualan layaknya jalan akses menuju makam Sunan Ampel di Surabaya. Di jaln-jalan ini mulai penjual kacang godok bungkus koran harga 500an, toko oleh-oleh, pakaian, buku, suvenir bisa anda temui.

gusdur_03

Dalam hati kecil saya berbisik, betapa luar biasanya sosok Gus Dur ini, sudah meninggalkan barokahnya masih bisa dirasakan oleh rakyat hingga sekarang. Bisa terbayang, berapa banyak orang yang ekonominya terangkat dengan keberadaan makam Gus Dur. Dari  penjual makanan, buah-buahan, pakaian, suvenir, penyedia jasa toilet, tukang ojek, sopir angkot, tukang foto , tukang pakir, hingga pemilik penginapan dan hotel, mereka semua kecipratan barokah rejeki, sejak jasad Gus Dur dimakamkan disitu. Jikalau ada pakar ekonomi yang menghitung, saya sangat yakin ada lonjakan pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan di Jombang sejak dimakamkanya jasad Gus Dur di tempat ini.

gusdur_04

Mendekati kompleks pemakaman, ribuan orang menyemut masuk dan keluar dari makam. Dari anak-anak kecil, remaja, tua, hingga lanjut usia tumplek blek berdoa di komplek pemakaman keluarga pesantren Tebu irang ini. Jika dulu pertama datang kesini tempat berdoa hanyalah pendopo kecil, sekarang sudah dibangun bangunan dua lantai mengitari makam yang dibangun khusus untuk peziarah. Walaupun di luar kota Jombang sangat panas dan gerah, hawa di sekitar kompleks pemakaman ini sangat sejuk dan menyenangkan. Ilyas, anak saya pun sangat kegirangan berada di kompleks makam ini.

gusdur_05

Para peziarah ini kebanyakan adalah rombongan dari berbagai daerah. Mereka datang untuk berdoa dengan membaca tahlil, alquran, dan istigotsah. Tidak jarang sering terdengar dari ketua rombongan kata-kata, Ya Waliyallah.  Tentu saja mereka tidak berdoa meminta kepada Gus Dur, tetapi mendoakan kepada Allah untuk Gus Dur. Atau mereka berdoa terkabulnya hajat-hajat mereka dengan wasilah orang-orang yang dianggap dekat dengan Allah yaitu waliyallh, dan mungkin Gus Dur adalah salah satunya. Wallahu a’lam.

gusdur_06

Mampir Ke Pesanten Darul Ulum

Selain ke Tebuireng, kami sempatkan juga mampir ke Pondok Pesantren Darul Ulum. Pesantren ini adalah almamater saya dan istri saya dimana kami untuk kali pertama bertemu. Dari terminal Jombang, saya naik becak yang mengantar saya langsung ke dalam kompleks pesantren.

gusdur_07

Di Pesantren saya hanya ziarah ke makam. Kebetulan dua kyai saya ketika saya belajar di pesantren ini yaitu KH. Hanan Ma’sum dan KH As’ad Umar sudah meninggal dunia. Sehingga kami hanya bisa soan ke makamnya saja. Kata Gus Dur, dia lebih senang sowan ke orang yang sudah meninggal dunia ketimbang yang masih hidup. Hal ini katanya karena orang yang sudah meninggal, tidak punya kepentingan dunia lagi.

Sehabis ziarah di makam, dan nostalgia makan bakso kesukaan kami waktu nyantri di pesantren ini, kami sowan ke ndalem salah satu ustadz yang kebetulan dekat dengan kami berdua dan rumahnya tidak jauh dari pesantren. Senang rasanya, dinasehati tentang kebajikan dan kearifan hidup seperti anak sendiri.

Berkunjung kepada orang-orang alim baik yang masih hidup maupun sudah meninggal dunia memang senantiasa membawa berkah sendiri. Berkah berupa nikmat kecipratan ilmu dan hikmah.