Tag Archives: mahasiswa phd

Catatan Pinggir : 2/3 Jalan Panjang PhD

…. pada akhirnya, bukan yang (merasa) paling cerdas dan pintar yang akan jadi pemenang. Tapi yang selalu berani bangkit ketika terjatuh, yang selalu ingin mencoba satu kali  lagi ketika berkali-kali merasa letih didera kegagalan, yang akan mengecap manis nya buah perjuangan. Dialah pemenang sesungguhnya. – A Random Thought

refleksi

Dari Belakang Saya, Wollaton Park, Nottingham, Winter 2013 (Dok. Pribadi)

Waktu akan selalu terasa singkat, buat mereka yang sedang bersenang-senang. Waktu akan selalu terasa sangat lambat, buat mereka yang berada di balik tembok derita. Dan setiap detik waktu akan selalu terasa begitu menentukan, buat mereka yang sedang berjuang. Malam yang terlalu panjang di musim dingin ini menuntun mata pikiran saya untuk menengok ke belakang kembali. Menatap dan merenungi jejak-jejak setiap langkah kecil, menyusuri jalan panjang perjalanan PhD ini. Yang belum juga menemukan titik tepi.

Dua tahun Dua bulan dari hari-hari yang hampir selalu terlihat sama. Lingkup hidup yang hanya berputar antara rumah-lab.-masjid. Ritme kehidupan yang hanya berkutat antara readingcodingwriting dan pusing. Hanya sesekali, ada kejutan-kejutan kecil. Tetapi, hari-hari itu tak pernah sama buat yang memahaminya.

Berawal dari merasa salah jurusan. Orang biasa berfikir dalam bingkai organisasi, dipaksa harus merubah cara berfikir dalam bingkai terlalu sempit bernama Algoritma. Lalu, merasa sangat tidak beruntung mendapatkan ndoro dosen pembimbing yang terkenal paling tough yang selalu percaya bahwa anak bimbinganya hanya bisa maju jika di push melebihi batas kemampuan yang diyakininya.

Lalu, saya pun harus memulainya dengan sebuah NOL besar. Menjadi bayi baru lahir di antara sesepuh pinesepuh yang sudah berpuluh-puluh tahun berada di jagad riset itu. Hanya berbekal keyakinan tak perlu pintar dan cerdas untuk memenangkan tantangan ini. Hanya butuh semangat, konsistensi, dan kesabaran untuk terus merangkak, apa pun yang terjadi.

Pernah ingin putus asa, karena merasa telah menemui jalan buntu. Pernah ingin menangis sekencang-kencangnya, ketika ndoro dosen seolah telah menghempaskan saya ke titik yang terendah. Pernah merasa malas, semalas-malasnya, seperti balon udara yang kehabisan gas hidrogen nya, seperti kerupuk mlempem dimakan angin. Beruntung, saya selalu menemukan cara untuk mendamaikan diriku. Ada hati-hati yang menguat kan saya kembali. Ada Tuhan, tempat bersandar yang Maha Segalanya. Bahkan ketika, empat teman seperjuangan sudah  mrotoli di tengah jalan. Saya mencoba untuk tetap bertahan. Walaupun, sering kali perjalanan PhD ini terasa seperti berjalan di jalan sunyi sendirian.

Tetapi, hari ini hati saya tak mampu membendung rasa bahagia. Akhirnya, solver saya berhasil mengalahkan solver sesepuh yang sudah mbaurekso berpuluh-puluh tahun itu. Akhirnya, saya menemukan hubungan yang menenangkan dengan ndoro dosen saya. Ketika saya menganggap hubungan ini, seperti santri yang sedang nyantri, ngalap barokah ilmu Kiai nya.

Kawan, pada akhirnya, bukan yang (merasa) paling cerdas dan pintar yang akan jadi pemenang. Tapi yang selalu berani bangkit ketika terjatuh, yang selalu ingin mencoba satu kali  lagi ketika berkali-kali merasa letih didera kegagalan, yang akan mengecap manis nya buah perjuangan. Dialah pemenang sesungguhnya.

Tetapi perjalanan ini masih belum usai, masih banyak tantangan di hadapan. Mohon do’a kawan-kawan !


Antara Yazid, Yankus dan Istikomah : Bukan Cinta Segitiga

“… berada dalam kondisi tidak tahu apa yang harus dilakukan adalah bagian dari proses pelatihan sekolah PhD ” – Kata Sang Guru.

sticky_note_arep_lapo_yoo

Hari ini, entah sudah hitungan keberapa ratus kali aku memasuki ruangan ini. Membuka pintu yang masih dalam kondisi terkunci, melempar tas di atas meja, dan duduk manis di atas kursi empuk warna biru  di sudut ruangan di salah satu sudut ruangan yang paling tersembunyi. Di depan ku, hanya ada monitor, keyboard, mouse, pena, tumpukan buku-buku tebal, serta kertas-kertas yang berserakan. Kertas-kertas itu penuh coretan-coretan tulisan, simbol dan angka yang mungkin hanya aku yang tahu. Di tempat inilah, berjam-jam dari pagi hingga larut malam aku habiskan hari-hari ku. Berdiskusi dengan kepalaku sendiri, memecahkan setiap teka-teki yang datang silih berganti setiap hari. Seperti menyusun puzzle yang seolah tak pernah berkesudahan.

Sebelum memulai hari panjang ku, seperti biasa, aku mengambil secarik sticky note dan menulis apa-apa yang harus aku kerjakan hari ini. Lalu menempelnya di halaman-halaman majalah bekas. Tapi, ada yang aneh dengan hari ini. Karena aku tidak tahu apa yang harus kutulis di atas sticky note ini. Entahlah, mungkin kepala ku sudah terlalu penuh dengan dengan teka-teki yang belum terpecahkan.

Hari ini, aku juga enggan membuka Eclipse berisi ribuan baris-baris code Java makanan ku setiap hari,  ataupun membuka Latex tempat mencurahkan isi di kepala ku. Entahlah, mungkin gairah dan semangat ku sedang dipinjam oleh seseorang. Aku seperti orang gila saja, berkali-kali tutup buka tab di browser antara email, portal berita, youtube, dan facebook. Seolah sedang menunggu kabar dari seseorang yang sedang ditunggu-tunggu. Padahal, tak ada yang ditunggu.

Yah, seperti Iman yang bisa bertambah (Yazid) dan berkurang (Yankus), semangat pun ternyata juga demikian. Ada kalanya, aku begitu menggebu-gebu mengejar apa yang aku mau. Ada saat nya, aku hanya duduk diam termangu.

Tapi, haruskah aku membiarkan keadaan ini terus membelenggu ku? Ah tidak, aku tidak mau. Aku tidak boleh lelah, aku tidak boleh jenuh, aku tidak boleh menyerah ! Sekali lelah, sekali jenuh, sekali menyerah akan tuman kerasan, jadi kebiasaanSeperti waktu yang terus berjalan, aku pun tak boleh berhenti. Aku harus istikomah ! Sejenak, aku temukan catatan pinggir di antara kertas-kertas lusuh berserakan penuh dengan coretan, yang entah aku mengutipnya dari mana, sepertinya tulisan Prof. Ken Soetanto:

Waktu aku terbentur tembok, aku tabrak lagi sampai keluar darah. Sampai bagaimana pun, aku tidak akan berhenti. Jangan takut akan jatuh dan berdarah. Karena, pasti ada dunia lain yang lebih indah.

Dan perlahan, semagat ku pun mengalir kembali, seperti aliran darah yang memberi tanda-tanda adanya kehidupan.

Kawan, adalah manusiawi semangat kita mengendur, karena ketetapanya memang begitu, bisa bertambah (Yazid) dan berkurang (Yankus). Tapi kita tidak boleh berhenti, kita harus berjalan terus, harus istikomah melanjutkan perjalanan ini, walaupun harus dengan tertatih. Semoga Tuhan, senantiasa memberi kekuatan pada kita, Allahumma ammiin.


mengeja sisi lain ayat -ayat kehidupan mahasiswa PhD: Pengajian

ngaji_01
*) Di dalam Masjid Umar, Hyson Green

Sekarang waktunya saya lupakan sejenak kehidupan akademik PhD saya. Hidup rasanya terlalu sempit jika hanya berkutat dengan makalah jurnal, penelitian, algoritma, struktur data, coding, laboratorium, seminar, tutorial, dan sanak keluarganya. Akhir pekan ini, tak seperti akhir pekan biasanya yang biasa saya habiskan di Lab, saya mangkir sejenak dari kehidupan kampus. Untuk mengeja ayat-ayat kehidupan sisi lain dari persinggahan hidup sementara saya di Nottingham.

Pengajian Bulanan PeDLN

ngaji_04
*)Perjalanan Menuju Lokasi Pengajian, via Jubilee Campus

Hari Sabtu saya menghadiri pengajian bulanan komunitas Muslim yang tinggal di Derby, Loughborough, dan Nottingham , yang kami singkat jadi PeDLN. Tidak seperti bulan-bulan biasanya yang diadakan di Mushola kampus Sutton Bonington, bulan ini pengajian diadakan di rumah keluarga Bapak Handaru, di kawasan Hyson Green. Beliau adalah salah satu orang Indonesia yang sudah bekerja dan menetap cukup lama di Inggris.

ngaji_02
*) Suasana Pengajian

Selain bisa bersosialisasi dengan sesama warga Indonesia dan menikmati makanan khas Indonesia, Pengajian kali ini cukup Istimewa. Karena, 7 orang diantara kami baru saja menunaikan ibadah haji berangkat dari Inggris yang ternyata sekali daftar bisa langsung berangkat tidak perlu menunggu bertahun-tahun seperti di Indonesia. Mereka adalah: Mbak Shanti dan Pak Irwan, Mbak Mar dan Mas Hasto, Pak Masdar dan Istri, dan Mbak Arif. Sungguh, betapa bahagianya mereka, selain pulang membawa gelar PhD nantinya, mereka juga pulang membawa gelar Haji dan Hajah. Semoga saja, tahun depan Gusti Allah menakdirkan saya dan istri bisa menyusul. Allahumma Ammiin.

Selain dapet cipratan ilmu dan pengalaman spiritual selama haji, kami dapet oleh-oleh berupa kopiah. Saya senangnya bukan main. Sebagai mantan santri hidup saya tidak bisa lepas dari yang namanya kopiah dan tasbih. Sayangnya, kopiah dan tasbih saya yang saya bawa dari Indonesia entah kemana tidak tau rimbanya sejak beberapa hari tinggal di Nottingham. Alhamdulilah, hari ini akhirnya saya mendapatkan yang baru asli dari Mekah pula.

Dalam ceramahnya, Bapak Dr. Hadi Susanto, kyai NU yang jadi dosen di Universitas Nottingham itu, membawa kita menyusuri lorong-lorong keteladanan salah satu manusia terbaik yang pernah ada di muka bumi yaitu, Nabi Ibrahim A.S. Saking mulianya, kita selalu menyebut namanya di setiap sholat-sholat kita.

Setelah pengajian dan ber ramah-tamah santai dengan jamaah, saya bersama teman-teman yang tiggal di Dunkirk, berbelanja di Hyson Green yang merupakan pusat Muslim di kota Nottingham ini. Bersyukur sekali, kami bisa mendapatkan daging halal cukup banyak dan mudah di wilayah ini. Kami juga sempat sholat Ashar dan Maghrib jamaah di masjid Umar yang berada di kawasan Hyson Green juga.

ngaji_03
*) Usai Belanja di Depan Syarif and Son, Hyson Green (Fiqi, P. Peni, P. Iswanto, P. Sukirno, Arif, Cak Shon, Abdurrahman)

Ada cerita menarik dalam perjalanan kami pulang. Dari belakang, tiba-tiba ada orang bule, british, naik sepeda berteriak-teriak kemudian turun menghadiri kami:

“Assalamu alaikum ya Habibi… Where are you from?  I am English. are you from Philiphine”

Kami serempak menjawab: “From Indonesia”. Sambil menntun sepedanya, si Bule itu mengikuti perjalanan kami. Dia tanpa diminta tiba-tiba dengan logat british Dia melafalkan surat Alfatehah, walaupun dengan terbata-bata. Seolah-olah dia ingin menunjukkan kalau dia mengenal Islam dan bisa berbahasa Arab. Sayangnya, sepertinya dia kelihatan habis mabuk, sehingga kesan nya seperti orang gila. Mungkin karena kami semua memakai kopiah, Dia sangat yakin kalau kami adalah Muslim. Rupanya dia pernah tinggal di Mesir cukup lama, dan memuji Mesir sebagai negara terbaik di dunia. Setelah mengucapkan salam ya habibi…. si Bule itu ngacir meninggalkan kami dengan mengayuh sepedanya kembali.

ngaji_05
*)Mengabadikan Musim Gugur

Perjalanan hari ini adalah salah satu perjalanan kaki terpanjang selama saya di Nottingham. Sudah lama saya tidak berjalan kaki sejauh itu. Kami berangkat dan pulang ke rumah kembali hanya dengan berjalan kaki yang memakan waktu total lebih dari satu setengah jam. Bahkan dengan membawa belanjaan yang cukup berat. Untungnya, banyaknya teman dan suasana musim gugur yang romantis mampu mengikis rasa lelah kami. Hingga pukul 08.00 malam kami sampai

Buat saya pribadi, silaturrahim dalam pengajian bulanan  ini ibarat oase di tengah-tengah kegersangan kehidupan sosial di kota Nottingham, Inggris ini.


Oh Dear my diary T_T

… kehilangan catatan-catatan  penting itu rasanya  seperti  kehilangan separuh nafas hidup,  menyesal nian tiada arti hati ini. tapi apalah arti menyesal, jika semuanya telah terjadi. Terkadang kita baru belajar sesuatu, setelah mengalami sebuah penyesalan. Terima kasih diary.com , kau ajari aku tentang “back up” and “recovery”.

diary

di awal tahun 2013, saya punya satu janji sederhana pada diri sendiri, yaitu menulis buku harian. haha… hari sudah seperti kayak gini masih mengenal buku harian? Jujur, saya belum pernah nulis yang namanya buku harian layaknya remaja-remaja putri tempo dulu. Hanya saja kesadaran dokumentasi diri yang baik, dan keinginan untuk belajar menulis membuat saya berfikir ulang tentang sebuah buku harian. Akhirnya, belanja hari pertama adalah sebuh buku diary sangat sederhana seharga 1 pound.
diarysayang
Ternyata, setelah sebuah buku harian ada di tangan, saya seperti biasa berubah pikiran. Daripada nulis di kertas, kenapa ndak nulis blog saja ya. Kan ntar tulisanya dapat dengan mudah digandakan, di copy paste :D. Akhirnya, hasil penelusuran dari tante Google merekomendasikan Diary.com. Tampilanya sederhana, tapi elegant. Sejak 1 Januari 2013, saya selalu menulis apa yang saya alami, apa yang saya rasakan, pelajaran berharga apa saja yang saya dapatkan. Satu hari, satu catatan yang harus berbahasa inggris, satu foto yang saya potret hari itu juga. Layaknya buku harian, isinya sangat-sangat privasi. Saya tulis hal-hal yang hanya boleh saya sendiri dan Tuhan yang boleh tahu. Dan diary.com menjamin kerahasian itu. Saya akan banyak belajar dari catatan itu suatu saat nanti. yang akan mengingatkan saya bahwa saya pernah menangis, saya pernah bersedih, saya pernah dapat masalah besar, saya pun pernah tertawa haha hihi. Mengingatkan saya  bahwa  saya pernah merasakan saat-saat penuh semangat, dan juga saat-saat  saya hampir diujung keputus asaan.

Betapa sedihnya hari ini, ketika saya akan menuliskan pelajaran berharga hari ini. Ternyata Oh ternyata Diary.com, gulung tikar. Dan tak satupun catatan dan foto2 itu yang terselamatkan. Duh Gusti….. akankah waktu yang kuluangkan untuk menulis catatan itu menuap sia-sia. Menyesal oh menyesal …… Catatan boleh hilang, tetapi semua  kenangan itu akan abadi dalam hati.

Oh betapa bodohnya saya, kenapa tidak menggunakan wordpress saja. Toh disini bisa di setting privasinya, dan menyediakan fasilitas backup dan recovery juga?