Advertisements

Tag Archives: mahasiswa indonesia

mengeja sisi lain ayat -ayat kehidupan mahasiswa PhD: Masak, Makan dan Kumpul Bareng


*)Tempe Krupuk Ikan Asin Sambel Terasi

Terkadang kebahagian itu sangat sederhana. Tidak perlu mahal, apalagi mewah. Seperti minggu pagi hari ini, kebahagian hadir bersama sepiring nasi hangat, kerupuk, ikan asin, tempe dan sambel terasi. Setahun lebih saya kangen-kangenan dengan makanan sederhana ini sampai akhirnya seorang kawan yang baru datang dari Indonesia memupuskan kangen itu.

Usai sarapan dengan housemate, saya beringsut niat pergi ke kampus. Tetapi, begitu membuka pintu keluar, wah ternyata ada dua orang teman saya datang ke rumah. Duh Gusti, saya ternyata sedang pura-pura lupa kalau hari ini kami rencana mau masak-masak bareng. Akhirnya, acara pusing-pusing di Lab. mendadak berubah jadi acara masak-masak di rumah.

Sate Ayam dan Rawon Setan

Sebenarnya, ini bukanlah acara masak-masak yang pertama. Minimal, setiap ada mahasiwa Indonesia baru di wilayah Dunkirk, kami akan menyambutnya dengan masak, makan, dan kumpul bareng. Tapi, hari ini bisa jadi menjadi kenangan yang tidak akan mudah dilupakan oleh si Arif, teman paling dekat saya selama di Nottingham, yang akan meninggalkan Nottingham 2 minggu lagi. Hari ini juga bisa jadi menjadi kenangan yang yang selalu kenang oleh Mas Iswanto dan Mas Peni, karena hari ini untuk pertama kalinya mereka merasa tidak sendiri dan menemukan keluarga barunya disini. Lalu buat saya? Syalalalala… adalah pelipur lara dari duka PhD. *agak lebai sedikit gak apa-apa kan*

Tema masak kita hari ini adalah Sate ayam dan Rawon Setan. Untuk sate ayam, si Arif ternyata sudah nyiapin bumbu sate dan lontongnya. So kita tinggal membakar sate ayamnya. Pak Sukirno dan Pak Abdurrahman siap beraksi dengan jurus cincangnya, yang dalam sekejap mampu merubah dua kilogram daging ayam menjadi potongan kecil-kecil. Sementara, Pak Iswanto, dan Pak Peni sudah siap berlaga dengan jurus tusuk satenya. Sementara Arif dan saya menyiapkan racikan bumbu-bumbu nya. Karena tidak ada arang, acara bakar-bakar satenya dirubah dengan acara memanggang di dalam Oven listrik.

Sementara untuk Rawon Setan, kami hanya menggunakan bumbu instant. Setelah daging sapi kurban pemberian orang Arab dua minggu yang lalu itu dicincang kecil-kecil oleh duo Abah Kirno dan Gus Dur. Saya meramunya dengan bumbu instant, ditambah bawang goreng, daun jeruk dan daun serai. Kemudian direbus sampai empuk. Terakhir, ditutup dengan ritual menabur taoge, kecambah kacang hijau, yang sudah saya ternak beberapa hari sebelumnya.

Memang sih, kebanyakan koki itu cowok. Tetapi pada dasarnya, kaum laki-laki itu tidak suka memasak dan menggantungkan urusan itu kepada kaum hawa. Tetapi, pada saat-saat kita tidak memiliki pilihan. Kegiatan masak seperti ini bisa menjadi hiburan, tapi hiburan yang tidak selalu menghibur dan menyenangkan.

ngaji_06
*) Sate ayam dan Rawon

Akhirnya, berkat kekompakan kami. Sate ayam dan Rawon setan pun berhasil kami hidangkan dengan sempurna.

Setalah acara masak-masak berakhir. Acara selanjutnya adalah makan sambil ngobrol bareng. Sebenarnya kenikmatan terbesar dari makan bareng ini adalah bukan pada makananya. Tetapi terletak pada kebersamaanya. Saya adalah salah satu orang yang percaya bahwa makan bersama bukanlah sekedar aktivitas mengisi perut lapar menjadi perut kenyang. Melalui makan bersama, kita bisa memupuk jiwa egaliter, saling menghargai dan menghormati, rukun dan persaudaraan, asah asih dan asuh, serta mampu menghapus segala dendam dan kebencian. Mungkin itulah sebabnya, beberapa bangsa besar di dunia sangat menekankan budaya makan bersama ini.

ngaji_07
*) Siap Makan bersama

Kebersamaan kami tidak terhenti sampai di meja makan. Selesai makan, kami lanjutkan sholat ashar dan maghrib berjamaah. Kami berdoa bersama-sama untuk terkabulnya hajat dan cita-cita kami di tanah perantauan ini. Doa kali ini khususnya buat Arif yang sudah menyelesaikan M.Sc. nya di bidang Matematika semoga ilmunya bermanfaat dan barokah. Dan juga buat Mas Peni, Mas Iswanto, dan Mas Yodi yang baru saja memulai studinya di Universitas Nottingham. Semoga sukses studinya. Allahumma Ammiin.

ngaji_08
*) Setelah jamaah sholat bareng: Pak {Peni, Sukino, Sidik, Abdur, Arif, Shon, Yodi, Iswanto}

Berbagi pengalaman, obrolan santai dan guyononan kami tetap berlanjut hingga gelapnya malam semakin pekat. Sekilas hanyalah obrolan tanpa makna. Tetapi, saya selalu percaya bahwa ide-ide, inspirasi, semangat, cita-cita, dan perubahan besar itu tidak selalu harus muncul dari tempat-tempat dan orang-orang terhormat seperti di gedung DPR atau Kampus. Yang besar itu bisa jadi hanya berasal dari obrolan sederhana di rumah kosan seperti kami malam ini.

Di atas semuanya itu, buat saya, kebersamaan seperti ini adalah seperti setetes embun pelepas dahaga kerinduan akan kehadiran kehangatan keluarga di antara kami. Seperti air hujan ditengah-tengah kehidupan sosial dunia yang semakin gersang.

Advertisements

Ramadlan Kareem : Breaking Fasting Together Again With Indonesian Fellows

ifthor_mbakshanti

It was Saturday (24/07/2013). It was another fasting day in Ramadlan 2013 and it was the second weekend in this fasting month. Finally, I was back to  to my own campus, my lovely campus, the University of Nottingham,  after two subsequent week spending campus life at the University of Lougborough and University of Cambridge for summer school.

I woke up quite late in order to take a bed rest after tiring 5-days summer school at University of Cambridge. I went to Cambridge at 06.09 in the morning and went back to Nottingham at 07.00 PM. It was two and half  trip by train from Nottingham to Cambridge. Actually, I could stay at Cambridge, but I should pay at least £50 per night, where, i just spent £12 for the train return ticket and luckily, the summer school organizer would refund the transport cost until £60.

After making Duhur prayer Jamaah in the Portland Building, in the University Park. I went to Computer Room, in George Green Library. I was lucky, the university provided 24/7 open computer room in the University. I met Mas Walid working on his master dissertation. I spent the time in the library until 08.30 PM. Afterward, I together with Mas Walid went to Mbak Shanti/Pak Irwan house for breaking the fast together.

This Saturday, they invited us, the Indonesian students including their family studying in the University of Nottingham as well as Indonesian expat working nearby Nottingham  to break fasting together. Not only Muslim, all other non-muslim Indonesians were invited. Some Malaysian students went to join us as well. So, approximately 40 people came to the house.

I felt so lucky and blessed having many Indonesian friends in this University. The reason I should not feel lonely here. For me, they are my new family member in this University to whom I could share together. With whom I felt stronger and better. I knew in some other cities and countries, we could feel very lonely and minority because there were few only Indonesian there.

Indeed, being together with Indonesian fellows is one of the happiest moments living in abroad. Thanks God for giving them.

20130720_215259

Since the house is quite small, the gentleman get together in the backyard of the house while the ladies staying in the house. While waiting the Adzan Maghrib calling, Pak Hadi Santoso, the only lecturer from Indonesia, in Mathematical Sciences, University of Nottingham gave us a small talk about the lesson learnt from fasting ramadlan based on some verses from Alquran.  Here is the cut video:

We broke the fasting, prayed Maghrib, and ate together in the backyard. Thanks God, we had a bunch of dazzling West Sumatera Foods. We had rendang, dendeng, Grilled chicken, cracker and many other Padang cuisine. Unfortunately, the weather was quite bad. It was so windy that canceled our plan to make Taraweh Prayer together at the back yard. Thus, we should run to Portland building for the Taraweh.

Thanks God, for the day.


arti liburan musim panas : untuk mereka dan untuk ku

summer

Di belahan dunia barat, katanya hari ini, Jumat (21/06/2013) , akan menjadi hari paling indah sepanjang tahun 2013. Ada apakah gerangan? yah, karena hari ini adalah hari pertama musim panas (i.e. Summer) yang berarti juga gong pertanda pembuka liburan panjang musim panas telah ditabuh. Oh… indahnya liburan musim panas.

Di benua eropa, hangatnya sinar matahari menjadi sesuatu yang sangat berharga dan dinanti-nanti. Walaupun sepanas-panasnya di eropa, tetapi suhunya masih tak lebih dari angka 20 derajat celcius. Sementara di musim dingin suhunya bisa mencapai -10 derajat celcius. Mungkin itulah sebabnya, kemunculan matahari, yang memang sangat enggan muncul bahkan di musim panas pun, menjadi sesuatu yang sangat ditunggu. Sinar matahari adalah anugerah Tuhan yang dinanti-nanti. Mereka menyebutnya sebagai “Summer Paradise” aka. surga musim panas. Sementara di Indonesia, sinar matahari adalah sesuatu yang  “take it for granted”, sesuatu yang dianggap biasa saja. Karena kita memiliki musim panas sepanjang tahun. Bahkan sering kali, teriknya matahari di Indonesia, dijadikan kambing hitam keluh dan kesah.

Di musim panas, banyak orang yang akan berjemur di bawah sinar matahari dengan pakaian yang sangat minimalis. Bahkan di dalam kampus. Yah, di eropa tidak dikenal budaya sopan santun dalam hal berpakaian sebagaimana di negara-negara Asia. Di Indonesia, ke kampus dengan memakai sandal jepit dan kaos oblong saja dilarang keras. Sementara disini, sepanjang kamu sendiri tidak malu, kamu bebas berpakaian seperti apa pun. Umumnya di musim panas, mereka hanya memakai celana pendek untuk laki-laki dan hot pants untuk yang perempuan, di balut dengan tanktop atau kaos tipis tembus pandang, bahkan banyak laki-laki yang bertelanjang dada. Tidak hanya berjemur, di musim panas mereka bersuka ria dengan mengadakan “summer party”, pesta musim panas. Siang hari yang sangat panjang (18 jam) membuat mereka bisa berkumpul dan berpesta tentu saja dengan minuman keras dan musik berlama-lama.

Yah begitulah, musim panas dijadikan Tuhan terlihat dan terasa begitu indah dihadapan mata-mata dan hati-hati mereka. Seolah mereka sedang mereguk kenikmatan syurga dunia yang begitu melenakan.

Dan hari ini, secara resmi “term-time” masa perkuliahan di Universitas Nottingham, dan mungkin juga di kampus-kampus lain di Eropa telah berakhir. Selanjutnya adalah liburan musim panas yang akan berakhir pada pertengahan bulan September, tiga bulan yang akan datang. Masa liburan yang sangat panjang. Liburan yang sangat dinanti-nanti untuk merayakan kemenagan hasil kerja keras mereka selama 9 bulan sebelumnya. Selamat menikmati liburan musim panas, kawan !

Apa Arti liburan musim panas buat ku?

Entah kenapa, aku belum bisa menikmati musim panas. Di antara empat musim Autumn, Winter, Spring, dan Summer, summer adalah musim terberat ku. Aku suka Autumn, ketika daun-daun mulai menguning kemerah-merahan dan suhu yang tidak terlalu dingin serta panjang siang dan malam yang sama menghadirkan suasana yang romantis dan kenyamanan sendiri buat ku. Winter, walaupun saya harus berjuang dengan dingin dibawah suhu Nol derajat celsius, dan berburu dengan waktu terasa sangat singkat, tapi aku bahagia karena bisa melihat keindahan salju, sesuatu yang tidak mungkin aku lihat di negara ku Indonesia. Spring, menghadirkan semangat baru, bisa menyaksikan keindahan bunga-bunga bermekaran indah. Tetapi summer, entah kenapa aku tidak nyaman dibuatnya.

Ketika mereka berpakaian sangat minim,  aku masih tetap saja tidak bisa melepas Hoodie ku. Angin yang kencang dan hujan yang bisa turun sewaktu-waktu, membuat suhu sekitar 20 derjat celcius  masih terasa dingin buat ku. Siang hari yang sangat panjang membuat ku tidak bisa nyenyak tidur.  Waktu Isyak baru pukul 11.30 PM sementara, waktu sholat Subuh pukul 02.30 AM. Nyaris hanya punya waktu tidur 3 jam, atau jika tidak saya harus kehilangan waktu sholat subuhku. Siang yang panjang ternyata juga berpengaruh kepada kondisi psikis ku, yang membuat jiwa ini mudah sekali merasa lelah dan sering kali terjebak dalam suasana yang “Mellow”. Mudah sekali merasa sendirian, mudah kangen dengan orang-orang yang aku cintai, bahkan kangen terhadap masa-masa yang sudah berlalu. Kalau sudah begini, semangat belajar jadi menurun drastis, karena otak dan hati yang sudah tidak sinkron.  Satu hal yang sangat-sangat aku benci. Tetapi, aku hanyalah manusia biasa yang tidak hanya punya otak tetapi juga punya perasaan. Musim panas juga menjadi ujian berat untuk menjaga pandangan dan hati. Ketika aurat wanita di umbar dimana-dimana, sulit rasanya mata ini untuk berpaling dan aku juga hanyalah manusia biasa yang memiliki nafsu naluriah.

Buat mereka, hari ini adalah awal liburan musim panas yang indah. Tapi tidak ada yang istimewa buat ku. Liburan musim panas buatku adalah seperti hari-hari lain yang panjang dan melelahkan. Hari-hari yang penuh kerja keras, yang terkadang sangat menyakitkan. Hari-hari bermain dengan 1001 logika yang cukup memeras otak  untuk menyelesaikan teka-teki riset yang belum terpecahkan. Hari-hari biasa berteman dengan kesendirian di lab. di kampus yang sangat sepi karena ditinggalkan puluhan ribu mahasiswanya.

Musim panas ini juga mungkin akan menjadi Ramadlan terberat dan Hari raya Idul Fitri yang paling menyedihkan buatku. Bagaimana tidak, Ramadlan di musim panas ini Muslim di eropa harus berpuasa dalam durasi waktu yang sangat panjang,  dari 02.30 am – 21.30 (19 jam). Dan Idul fitri pun, sepertinya akan menjadi sangat menyedihkan, karena tidak bisa merayakan bersama anak, istri, dan keluarga tercinta di Indonesia. Pun, suasana Ramadlan dan Idul fitri, di negara yang Muslim nya minoritas, tentunya tak seindah di Indonesia.

Kelihatan sangat menyedihkan sepertinya, tetapi entah kenapa aku menulis semua  ini dengan senyum dan tertawa kecil. Karena aku sangat yakin, Tuhan selalu memiliki caranya sendiri untuk membahagiakan hambanya. Dia yang selalu menghadirkan kejutan-kejutan kecil dan kejutan besar dalam hidup. Kejutan yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Percayalah kawan, tidak akan pernah ada pelangi kalau tidak ada rinai hujan! Tidak ada yang kesenangan dan kesedihan yang abadi ! Tuhan!, kuatkanlah hatiku.

Nottingham, 21/06/2013, Awal Musim Panas.


The Scotland Adventure: learning, travelling, and brotherhood (Part 1)

scotlandtrip

It was Friday (24/05/2013). It was the day I rarely waiting for. It was so special day, because I will start my first travelling adventure to Scotland. In the early morning, I went to the lab as usual for doing my PhD stuff. But, to be honest, my mind was in the Scotland already. Again, it made me not too serious and less productive in doing my PhD stuff. I left the Lab at 12.45 am for Jumah Prayer at Portland Building, In the University Park.

After Jumah Prayer, I went home to get my lunch meal and for packing my stuff for the travelling. I just brought a medium size bag, a jacket and two sweaters. Before going to Nottingham coach station, I must be Invigilator for an examination in the Sport Center. The exam started at 04.30 and finished at 06.00. Promptly, after the exam ended, I run to the bus stop to catch the bus to Nottingham coach station. Fortunately, I got on the bus, in 1 minute afterward.

Leaving from Nottingham Coach Station

In Nottingham coach station, I met my travelling mates i.e. Mas Walid, Mas Udin, and Arif (from right to the left in the following picture). We are from different knowledge background and we learn in different school in the university, but we have many similarities. We share the same mother language, i.e. Javanese, We are in slightly different age, and each of us is a father of  round two year old child. Another important thing was we grew in fanatic Nahdlatul Ulama (NU) family.

To begin with, we would travel from Nottingham to Birmingham, and followed by another Bus trip  Birmingham to Edinburgh (read: edinbra) by National Express Coach (Bus). National Express was the only public  coach (Bus) transport connecting cities  in the England and other area in the UK. Compare to other transportation modes such as Train or Plane, coach was the lowest cost. Train and Plane could cost twice than the coach fare. We got 4 adult return tickets (include leaving and returning ticket) for  £304 that I bought online a week in advance. It could be much more expensive if we bought close to the day. Yeah, in the UK, all transportation mode devised dynamic pricing system (or revenue management system). There was no fixed price, it highly depended on the demand. If you bought the ticket quite long before the travelling date, you could get fairly cheap ticket. Conversely, if you bought the ticket very close to the travelling date or the date was the peak time because of weekend, or holidays, it could extremely expensive.

IMG_1061

The national express coach was quite convenience. The interior was like in the economy class plane. It was quite different with the system in Indonesia, in the UK, you are required to wear your seat belt by law. It was simply for safety reason. The bus was leaving quite on time with the schedule. To be punctual was typical transportation scheduling system in the UK. Not only the plane and the train system, the bus system in the UK was also tightly scheduled. Apparently,  The Bus was not directly heading to Birmingham but it temporarily stopped at Leicester (read Lester),  and Coventry first.

uk_map

From Nottingham to Birmingham, it took 2 hours and a quarter time. During the time, I made Ashar prayer while seating on  the Bus because I run out the time to do it before. It was Spring  in the UK, in which the Maghrib prayer was at around 09.15 PM, so I had quite enough time to make Ashar prayer on the bus. In the rest of the time to the Birmingham, we had never ending chats among us while enjoying ASDA smart price snack i.e. potatoes, corn, and union rings crisps from Arif :D. It was extremely cheap, 10 packages of snack just for £0.5 and the taste was not different with £1 per package snack.

Finally, we arrived at Birmingham coach station at around 09.15 PM. The landmark of city of Birmingham is the bullring building. At glance, it looks like Durian Building in Singapore. Birmingham is also the Host of All England Events in the UK. In my view, Birmingham is more vibrant city compare to Nottingham.

In the Coach station, we took urinate and Wudlu in the toilet. Similar to the toilet service in the bus station in Indonesia, it is not free toilet services. Here, you must pay £0.3 for toilet  service. There was a blocker system to the toilet that will block you until you insert in 30 pence coins. While waiting for the next trip from Birmingham heading to Edinburgh at 10.30 PM, we made Maghrib and Isyak prayer altogether. In the country where Muslim is minority, it was extremely difficult difficult to find  a prayer room in public places. Fortunately, the coach station was very clean, cozy, and there were many waiting seats available there.

IMG_1091

The problem was that we were forgetful to bring a prayer mate. Finally, we decided to make the prayer while seating. We made jamaah prayer for Maghrib and Isyak altogether. Since, we made jamaah prayer, the prayer should be recited loudly in the bus station. We really did not care about people around us. It was very likely that they thought that we did something weird.

IMG_1098

After making the prayer, we managed to buy our dinner meal. However, it was not trivial  thing to find food in the Bus Station in the UK. We just imagined that we could find food stall for Rawon and Soto like in Indonesia Bus Station.  The only available one was Starbuck Coffee and unfortunately it had been closed as well. We had the last hope for the vending machine selling for snack and hot drink in the bus station. However, again it did not work at that time. So pity we were.

IMG_1101

Time was ticking so swiftly. At exactly 10.30 PM, we continued the journey from Birmingham heading to Edinburgh. It would be very long journey i.e. 9 hours. We had prepared a sleeping bag for sleeping on the Bus.  Since we did not get our dinner yet, we were extremely starving. Luckily, Arif brought a dinner box. He cooked rice and delicious cuisine consisted in Tempe and eggs. Although, it was prepared for one person only, Arif kindly and generously shared his food with us. He had only two dinner boxes, one box for Mas Walid and Mas Udin and another box for Arif and Me. We ate our food without spoon. Somehow, there is always genuine happiness in each single caring, sharing, and simplicity.

At the rest of the time, we were sleeping on the Bus. It was tiring yet a pleasant and joyful trip. A long the Journey, the bus temporarily stopped at Manchester, Preston, Lancaster, New Castle, Glassgow, and finally ended the Journey at Edinburgh. Thanks God, We had a very pleasant and safe trip.

***


Konser Apik tembang religi persembahan mahasiswa Indonesia di UTP: Heart 4 Islam

Penampilan temen2 Mahasiswa Indonesia Mensyairkan tembang2 religi Di penghujung acara Forum Heart 4 Islam dalam ceramah interaktif bertajuk ‘ISLAMOFOBIA’ di Cancelor Hall UTP tadi bener-bener apik. walaupun latihanya cuman 2 hari aq lihat tadi mendapat sambutan meriah banget dari para hadirin dan hadirat yang sebagian besar adalah mahasiswa Malaysia.
Dibuka oleh Mas Arif (dari UI, mhs Msc EE UTP) yang membawakan lagu ‘TOMBO ATI’ nya opick.. cuman dak pakek lirik bahasa jawa. he he dikira mereka dak bakalan ngerti kalee…
disambung lagunya Bimbo ‘Ada anak bertanya pada Anknya’ yang dibawakan dengan penuh ekspresif oleh Dedy(dari UGM, mhs ME UTP). Dan Sebagai lagu penutup adalah lagunya sang legendaris CHRISYE ‘Berkata’ yang dibawakan dengan syahdu oleh Lintang (Mhs Undergraduate CE UTP) untuk mengenang Mas Chrisye yg kemaren barusan dipanggil menghadap kehadirat Allah Swt. “Selamat Jalan Mas Chrisye….”.
Persembahan tembang religi ini diiringi dengan keyboard, yang dimainkan dengan menakjubkan oleh Mas Dhany Comel ‘cemit’ (dari ITS, mhs MSc ICT/BIS UTP).
Wuezz pokoknya keren abizz….
^ _ ^