Bukan Cerita Putri Salju Van Nottingham

… terkadang kenggumunan dan ketakjuban melahirkan kebahagiaan dan kegembiraan. Sebelum pada akhirnya menjadi hal ihwal biasa saja dan perlahan kebahagiaan dan kegembiraan itu luntur tergerus kebosanan. – A Random Thought.

goodbye

Salju di Wollaton Park

Bagi orang tropis yang tinggal di eropa, salju adalah sesuatu yang istimewa. Wajar, karena salju ini tidak mungkin turun dari langit di belahan dunia beriklim tropis seperti Indonesia. Rasanya, belum ‘feel the europe’ sebenarnya kalau belum pernah ketemu  yang namanya salju. Saya jadi teringat tahun 2013, ketika baru beberapa bulan tinggal di Nottingham. Pas menjelang tengah malam dalam perjalanan pulang dari lab. ke rumah kosan, eh tiba-tiba turun hujan salju. Benda putih bersih selembut kapas itu melayang-layang menghujani diriku. Wuih rasanya, jian, excited  banget. Serasa, melayang-melayang karena sedang merasakan sensasi ‘ dream comes true’. Lelah otak sehabisan ngoding rasanya tiba-tiba hilang seketika. Saya menengadahkan kedua telapak tangan, dan beberapa menit kemudian tangan saya penuh dengan salju. Saya remas-remas, saya bentuk seperti bola, dan saya simpan di meja kamar, hingga akhirnya malah bikin becek kamar. Pagi harinya, ketika bangun tidur dan membuka jendela kamar. Subhanallah, takjubnya, karena semuanya menjadi putih. Seketika, nalar hayal saya seperti  terbawa ke dalam negeri dongeng.

Setahun berikutnya, boleh dikatakan tidak ada salju di Nottingham. Hanya pernah sekali turun sekejap dan itupun tidak sampai menimbulkan gundukan salju. Alhamdulilah, di musim dingin tahun ini, sehari setelah hari Natal, salju pertama turun langsung meninggalkan gundukan salju. Istri dan anak saya pun kegirangan dibuatnya. Setelah semalaman hujan salju, esok harinya suasana menjadi benar-benar berbeda. Nah, karena kebetulan pas hari sabtu dan pas liburan sekolah kami bersama teman-teman Indonesia lainya ngumpul bareng di tempat paling asyik ketika musim dingin. Namanya Wollaton Park. Perlu diketahui, tempat ini katanya pernah dijadikan lokasi shooting film Batman lo. Yah, karena saya sudah jadi bapak-bapak, kali ini ya petualangan bersama bapak-bapak, emak-emak, dan anak-anak.

danau

Danau di Wollaton Park

 

Wollaton Park ini bisa dibilang paru-paru nya kota Nottingham. Sebuah hutan yang sangat luas untuk ukuran sebuah hutan kota. Pepohonan yang rimbun, beberapa satwa liar termasuk berbagai jenis burung dan rusa, danau yang airnya jernih, lapangan golf, dan di tengah-tengahnya ada sebuah hall yang sekarang sudah beralih fungsi menjadi museum. Di setiap musim, tempat ini selalu menarik untuk dikunjungi untuk sekedar melepas penat, dan beban pikiran. Suara alam dari gemericik airnya, deru suara angin, ciricuit kicauan burung, dan kemriyek nya bebek, angsa, dan teman sekawanya adalah terapi alam untuk menjernihkan pikiran, menenangkan hati, dan inpirasi untuk melihat carut marut sengkarut nya dunia.

goodByeTree

Jalan tertutup Salju

 

Di musim dingin begini suasana di Wollaton Park terasa sangat epic. Suasana khas musim dingin pedesaan di benua biru eropa. Jika hujan salju turun, hamparan padang rumput yang ijo royo itu menjadi padang gurun salju. Seperti gundukan bukit-bukit tandus di padang pasir, tetapi pasirnya berubah menjadi salju dan panasnya berubah menjadi dingin mengigit tulang. Tapi, asal menggunakan pakaian winter yang proper, dingin nya menjadi tak terasa.

slidingBye

Anak2 bermain Prosotan Salju

Bukit-bukit di padang salju inilah, menjadi tempat yang sempurna untuk prosotan  salju (i.e. snow sledding). Meluncur dari atas bukit, turun sampai jauh ke bawah di kaki bukit. Tidak hanya anak-anak yang kegirangan bermain prosotan ini, emak bapak nya pun juga ketagihan.

slidingSnow

Serunya Boncengan Bermain Snow Sledding

Dimana pun tempatnya berada, yang namanya orang Jawa sukanya ya ngumpul-ngumpul bareng. Falsafahnya saja, mangan ora mangan sing penting ngumpul. Yang menunjukkan betapa kerukunan dalam keluarga dan antar sesama itu lebih penting dari apa pun.  Tetapi sepertinya falsafah itu  sekarang sedikit bergeser menjadi setiap kumpul-kumpul yo mesti mangan-mangan lan foto-foto. Satu lagi yang tidak pernah ketinggalan, guyonan khas sampai tertawa terbahak-bahak. Hal ihwal ini tentunya aneh, di peradaban orang barat yang sangat mandiri dan individualistis.

wollatonPark

Di Depan Wollaton Hall

 

Ohya, land mark dari wollaton park ini adalah Wollaton Hall. Yah, kurang lebih seperti kastil. Dahulu adalah tempat istirahat ratu katanya. Sekarang berubah menjadi tempat mantenan dan museum. Di samping wollaton hall ini juga ada museum industri di Nottingham. Ada mesin uap, dan sejarah asal-muasalnya teknologi sepeda pancal ada disini. Khususnya di akhir pekan, tempat ini ramai dikunjungi orang yang didominasi pengunjung yang sudah berkeluarga.

byeBye

Tarik Pak …..!!

 

Jika di musim panas, sampean akan mudah menemukan rusa yang berkeliaran bebas di Wollaton Park ini. Tetapi, kalau pas musim dingin begini, entahlah dimanakah gerangan gerombolan rusa-rusa itu. Mungkin sedang merayakan Christmas di kota kali ya, hehe. Sudah ya, segini saja cerita saya. Sayang ndak semua yang saya lihat dan rasakan bisa dituliskan dengan kata-kata. Wes intinya, menyenangkan sekali bermain salju di Wollaton Park ini.

Mau tahu lebih serunya bermain salju di Wollaton Park ini? Jangan khawatir, saya sudah membuat sebuah film dokumenter yang isinya cerita orang-orang Indonesia yang nggumun lan bungah bisa melihat salju untuk permata kalinya. Selamat Menikmati Video di bawah ini.

Semoga bisa menjadi inspirasi dan memotivasi sampean – sampean yang masih menyimpan asa untuk kuliah, berkarir, atau pun sekedar untuk jalan-jalan di luar negeri. Benar, bahwa pengalaman tinggal di luar negeri adalah pengalaman yang priceless . Pengalaman yang akan mengajak anda melihat dunia dari sisi dan cara yang berbeda. Semoga asa itu segera tiba masanya. Semoga !

 

 

Eidul Adha 2014: Ketika Panggung Kehidupan Berganti Peran dan Cerita

… kawan, teman, sahabat datang dan pergi dalam kehidupan kita. Sebagian berlalu bergitu saja, seperti angin yang berhembus, memberi keteduhan sejenak, dan pergi menghilang tak pernah kembali lagi. Sebagian meninggalkan kesan yang mendalam, seperti goresan kuas yang melukiskan bentuk dan warna yang berbeda pada kanvas kehidupan kita.

iduladha_nott_2014

Mahasiswa Indonesia di Univ. Nottingham, Sutton Bonington Campus

Hari ini adalah Eidul Adha 2014, 04 Oktober 2014. Tidak terasa, ini adalah Eidul Adha ketiga kali saya di kota Nottingham. Idul adha selalu memberi cerita sendiri bagi saya. Dan selalu menjadi momentum yang sentimentil buat saya. Idul Adha, selalu menjadi pertanda akhir liburan musim panas yang panjang, dan pertanda dimulainya tahun akademik baru. Karenanya, di setiap Idul Adha, saya selalu merasakan luapan kegembiraan karena bertemu dengan orang-orang baru, tetapi sekaligus merasakan perihnya kehilangan beberapa teman yang baru saja saya kenal setahun yang lalu. Masih ingat betul, persis setahun dan dua tahun yang lalu, di tempat yang sama, saya bertemu dengan wajah-wajah baru penuh semangat itu. Dan entahlah, di belahan bumi yang mana  saat ini mereka berada. Wajah-wajah baru itu kini telah berganti dengan wajah-wajah baru yang lain. Tetapi begitulah, takdir alam semesta. Panggung kehidupan harus selalu berganti peran dan cerita. Boleh dikenang, tetapi tak perlu diratapi.

Tahun ini, kebetulan Idul Adha jatuh pada hari Sabtu. Jika tidak, selepas sholat eid di sport centre di kampus, para jamaah yang sebagian besar adalah mahasiswa pasti sudah berhamburan pergi ke ruang-ruang kuliah. Untuk perayaan kali ini, kami mahasiswa Indonesia dan warga negara Indonesia lainya yang tinggal di Nottingham, seperti biasa mengadakan acara pengajian. Iyah, pengajian sambil makan-makan bareng, habis itu foto-foto bareng dan di upload di facebook.

Pengajian? Argh, saya (S) jadi ingat seorang teman saya (T), yang suka sekali membuat rule of thumbs terhadap fenomena sosio-cultural, masyarakat Indonesia. Waktu itu, kami sedang ngobrol santai di dalam masjid.

. . .

T  : Mas, sampean ki wong NU yo?

S  : Iyo, emange lapo?

T  : Halah, wong NU iku berarti, apa pun masalahnya solusinya adalah P E N G A J I A N.

S  : asyem, enak saja. 😀

. . .

Tentu saja, kawan saya tadi tidak sepenuhnya betul dan tidak sepenuhnya salah jika pengajian tidak dimaknai literally , permasalahan apa pun jika dikaji dengan mendalam akar permasalahanya, tentu nya bisa ditemukan solusinya.

Yang berbeda dari pengajian yang biasanya diadakan warga Indonesia di Derbyshire, Leicestershire, dan Nottinghamshire, kali ini adalah selain ketua baru, Pak Peni Indrayudha menggantikan Pak Irwan, dan kehadiran wajah-wajah baru (kurang lebih 50 orang baru, 3 diantaranya dari satu jurusan yang sama di almamater S1 saya) sebagian besar dengan beasiswa LPDP), adalah untuk kali pertama sepanjang yang saya tahu, pengajian kali ini dihadiri juga teman-teman non-muslim, bahkan teman-teman Indonesia keturunan Tionghoa. Sejuk dan adem rasanya, melihat suasana pluralis semacam ini. Perbedaan warna kulit, background socio-economy, etnis, agama, usia, jenis kelamin, preferensi politik, tak seharusnya membuat kita saling membangun tembok ekslusivisme. Sebaliknya, seharusnya bisa berkolaborasi membangun sebuah haromoni yang indah. Walaupun, sering kali segregasi sosial semacam itu, terjadi secara alamiah dan sulit untuk dihindari. Kita pastinya punya kecenderungan alamiah untuk merasa lebih nyaman dengan orang-orang yang lebih banyak memiliki kesamaan dengan kita bukan? Seperti saya yang sekarang sudah merasa terlalu tua dan berada di gelombang radio yang berbeda, ketika berkumpul dengan muda. Padahal, dahulu sebaliknya, merasa terlalu muda jika berkumpul dengan bapak-pak dan Om-Om.

Kumpul, ngobrol, makan-makan, foto-foto, yang beberapa saat kemudian beredar di beberapa media social. Begitulah, state-of-the-art gaya sosialisasi manusia urban Indonesia jaman sekarang bukan? Kurang lebih begitulah perayaan Idul Adha 2014 kami di Nottingham tahun ini. Lebihnya, Pak Irwan dalam pengajian kali ini berbagi cerita pengalaman haji dari Inggris, yang tidak pakai lama, alias langsung berangkat, setelah anda mendaftar beberapa bulan sebelumnya di tahun yang sama. Dengan biaya sekitar 3500 GBP ( Rp. 65 juta ), biaya hidup minimum per orang selama 5 bulan  di Inggris. Semoga saya dan istri bisa mewujudkanya tahun depan, insha Allah. Allahumma Ammiin.

Berkumpul seperti ini buat sebagian orang mungkin sekedar membuang waktu dengan percuma. Tetapi, buat saya, seringkali keberkahan hidup itu sering kali karena kumpul-kumpul seperti ini. Selamat datang , semoga sukses dan get the most di bumi Nottingam ini.