Advertisements

Tag Archives: mahasiswa indonesia di nottingham

Lelaki Pengosek WC

… tetapi begitulah, dimana-mana nasib orang rendahan. Kehadiranya sebenarnya tak diharapkan, mereka hanya dibutuhkan, untuk kemudian dilupakan selama-lamanya- a random thought.

 

peralatan_perang

Ilustrasi: Peralatan Perang

Dia sudah harus terbangun, saat orang-orang masih terlena dalam nikmatnya tidur. Masih terbuai dalam dekapan kehangatan selimut, atau pelukan pasangan hidup. Bahkan, saat suhu kota sedang membeku, beberapa derajat di bawah angka 0 derajat celcius.

Sepagi itu, dia harus memulai harinya. Bergelut dengan cairan-cairan kimia, kain-kain dan kertas-kertas lap, yang berwarna-warni. Merah, hijau, biru dan kuning. Baki air berwarna merah dan tak lupa sebuah mop pengepel lantai.

Dengan sebuah kereta dorong, lelaki berkulit agak hitam, bersepatu hitam, bercelana hitam, dan berkaos kerah hitam bertuliskan CBRE itu berkeliling dari ruang WC satu ke ruang WC yang lain. Di setiap sudut, dari lantai 1, lantai 2, lantai 3 dan kembali lagi ke lantai 1 dari bangunan bertingkat tiga yang dari lagit terlihat seperti kotak persegi itu.

Di setiap ruangan paling private itu, sang lelaki mendatangi tempat pembuangan kotoran manusia itu satu persatu. Membersihkan sisa-sisa zat buangan dari tubuh manusia yang paling menjijikkan itu dengan cermat dan teliti. Tak jarang, kloset itu pun tersumbat, dan kotoran manusia itu meluber kemana-kemana. Tetapi dengan sabar, dia harus mengatasinya sendiri, mengosek setiap inci dinding kloset itu dengan sikat khusus, dan melumuri nya dengan cairan kimia berwarna biru. Lalu menyemprotnya, dengan cairan kimia warna merah, dan mengelapinya dengan kain lap warna merah setiap closet berwarna putih tulang itu layaknya barang antik yang harus dirawat dengan baik. Hingga setiap closet itu menjadi bersih, mengkilat, dan wangi.

Beberapa jenak kemudian, lelaki itu berpindah ke setiap pembuangan pipis khusus laki-laki, urinoir, itu. Di semprot-semprotnya dengan cairan kimia warna hijau. Dijumputnya, setiap ekor rontokan jembut kemaluan pria itu dengan kain lap berwarna merah. Sisa-sisa kencing kekuningan yang pesing itu dilapnya perlahan penuh penghayatan dengan kain lap berwarna merah. Hingga setiap ceruk pembuangan kencing itu menjadi bersih, mengkilat, dan wangi.

Kemudian lelaki itu beranjak mengelap setiap cermin yang terpasang di ruangan itu, memastikan cermin itu terlihat bening tak setitik noda pun menempel. Begitupun dengan wastafel, tak boleh sedikitpun ada sisa-sisa sabun yang menempel, semuanya harus terlihat bersih, mengkilat, dan wangi. Termasuk dinding-dinding keramik ruangan itu. Terakhir lantai ruangan itu harus dilumuri dengan cairan kimia anti bakteri berwarna kuning, sebelum dipelnya lantai itu dengan kain mop, sehingga semuanya menjadi bersih, mengkilat, dan wangi. Jika sedikit saja tidak bersih, kurang mengkilat, dan kurang wangi, esok hari sudah bisa dipastikan mendapat teguran dari atasan, karena selalu saja ada penghuni kantor itu yang komplain.

Padahal, sang lelaki itu harus berkejaran dengan waktu, karena dia hanya diberi waktu yang sangat terbatas. Dia bekerja seolah dikejar-kejar oleh setan penunggu toilet itu. Tak sadar, keringatnya pun meleleh di pagi sedingin itu.

***

toilet_boys

Ilustasi:  The toilet boys and girl

Akhirnya, hari ini ku putuskan untuk mengakhiri profesi ku menjadi bagian dari lelaki pengosek WC itu. Tanpa seorang pun mengucapkan satu kata terima kasih kepada ku. Profesi dengan bayaran buruh paling rendah di negara ini itu, memang sepi dari apresiasi. Tetapi ramai dengan komplain dan keluhan. Rupanya, para penghuni kantor itu, selalu menuntut kesempurnaan di ruang sangat pribadinya itu. Tetapi, tak pernah memikirkan orang-orang di balik kesempurnaan itu. Tetapi begitulah, dimana-mana nasib orang rendahan. Kehadiranya sebenarnya tak diharapkan, mereka hanya dibutuhkan, untuk kemudian dilupakan selama-lamanya.

Akhirnya, hari ini ku terima rayuan ndoro dosen ku, menjadi peneliti pembantu, sambil menyelesiakan studiku yang tinggal sedikit lagi, insya Allah. Tawaran yang sebenarnya sudah diberikan kepada ku enam bulan yang lalu. Tapi, dasar diriku saja yang bodoh, malah memilih melanjutkan profesi sebagi lelaki pengosek WC. Padahal, kerjanya hanya di depan komputer di tempat yang sangat terhormat, pun bayaran per jamnya pun dua kali lipat dari pengosek WC.

Terima kasih wahai orang-orang di kantor ku. Senyum, keramahan, dan kebaikan beberapa orang di kantor itu akan selalu menjadi kenangan-kenangan dalam hidup ku. Setidaknya, kapalan di kedua telapak tangan ku ini, akan jadi kenangan untuk beberapa tahun ke depan. Kadang kita perlu menjadi orang rendahan, agar suatu saat jika takdir membawa kita menjadi orang yang di ‘atas’, tidak menjadi jumawah. Kadang, kita perlu menjadi orang yang diabaikan, hanya sekedar untuk memahami arti kata menghargai.

Advertisements

Surat Tulisan Tangan dari Landlord di Jaman Internet

… orang boleh bilang teknologi baru akan banyak merubah, bahkan menghanguskan tradisi lama dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Bisa jadi itu betul, dan mungkin semua orang mempercayainya, tetapi tidak halnya dengan menggantikan rasa – a random thought.

surat_dari_landlord

Surat dari Landlord Kesayangan

Menulis surat. Mengambil selembar kertas putih  bergaris, mengambil tinta, membuat tulisan tangan di atasnya dengan sepenuh rasa, kemudian membubuhkan tanda tangan di bawah nya. Selanjut melipat, dan memasukkanya dalam amplop, mengelem amplop, menulis alamat tujuan di atas amplop, serta membubuhkan perangko di pojok kanan atas amplop. Terakhir, memasukkanya ke dalam kotak surat. Dan berharapa surat sampai ke alamat tujuan dengan selamat, dan menunggu Pak Pos datang membawa surat balasan.

Rasanya, itu adalah cerita nostalgic di masa lalu buat saya. Sampai-sampai dulu tahun 90-an ada lagu dangdut yang cukup ngehits di radio sampai ke pelosok kampung-kampung, liriknya kurang lebih seperti ini:

” pak pos, pak pos adakah surat buat ku, pak pos … ” (eits ternyata masih ada lagu itu di soundcloud)

Dulu juga kita akrab dengan istilah sahabat pena. Yang foto dan alamat lengkapnya tertulis lengkap di belakang buku LKS kita. What a memorable moments at that time.

Nah, belakangan saya merasa hidup di jaman dulu. Gara-gara landlord rumah saya, berkomunikasinya dengan saya dengan selalu melalui surat yang ditulis tangan, ditandatangani, dalam amplop berperangko £1 (setara Rp. 22.000) dan dikirim lewat kantor pos. Seperti hari ini, yang memberi tahu saya, akan ada orang yang memasang insulator di rumah, agar rumah lebih hangat, dan hemat energi, karena sebentar lagi memasuki musim dingin. Indeed, kalau boleh meminjam bahasanya Syahrini,  ini sungguh sesuatu buat saya. Landlord saya yang satu ini memang sangat-sangat spesial.

Bagaimana tidak, di negara semaju Inggris, di saat teknologi informasi dan komunikasi yang orang bisnis bilang sebagai disruptive technology, masih ada orang anti mainstream yang memakai cara tradisional dalam berkomunikasi jarak jauh. Padahal, sudah ada email, telpon, sms, yang lebih efisien, cepat, dan gratis. Mengapa juga repot-repot duduk di meja, menulis surat, keluar duit untuk membeli perangko, meluangkan waktu untuk pergi ke kantor pos atau kotak surat terdekat? Sepertinya landlord saya ini sengaja ingin melestarikan tradisi.

Di jaman di negara yang hampir semua transaksi keuangan serba elektronik ini, sang landlord juga dengan senang hati, tiap bulan datang ke rumah untuk mengambil pembayaran sewa rumah secara cash. Hal yang tidak lazim bukan? Padahal pembayaran bisa disetting dilakukan secara otomatis tiap bulanya melalui internet banking. Sepertinya sang landlord sengaja tak mau melewatkan momen interaksi sosial antar manusia secara langsung, mengetuk pintu, bertegur sapa, berbasa-basi sebentar, menanyakan kabar, menanyakan keadaan rumah kalau-kalau ada masalah, atau mengobrolkan hal-hal lain tentang makanan, sepak bola, sejarah, budaya, atau hal-hal ‘remeh temeh’ yang manusiawi lainya. Kegiatan yang tidak ada value ekonominya sama sekali, bahkan pemborosan sumber daya, dari sudut pandang bisnis modern jaman sekarang. Tetapi tentunya, ada value yang tak tergantikan dari sudut pandang kemanusiaan kita.

Sampean mungkin mengira Landlord saya adalah orang yang sudah berumur di usia senjanya dengan pola pikir tradisional ortodoknya. Tetapi bukan, kawan ! Landlord saya masih terlihat sangat muda diusianya yang belum genap 40 tahun.

Ohya mengenai cerita sang landlord (namanya lihat di surat di atas), beliau ini orang paling terkenal diantara mahasiswa Malaysia dan Indonesia, terutama yang membawa keluarga, di seantero Nottingham. Beliau super baik orangnya. Punya ratusan rumah di Nottingham, dan disewakan ke mahasiswa terutama yang berkeluarga dengan harga miring. Bayangkan saat disebelah rumah, untuk satu kamar sempit, dengan dapur dan kamar mandi sharing, paling murah disewakan dengan harga £109 per minggu, rumah yang saya tempati, satu rumah dengan dua kamar double bed, hanya disewakan dengan harga £325 per bulan, full furnished. Dan harga itu sudah bertahun-tahun tidak dinaikkan.

Selain murah, sang landlord baiknya luar biasa. Umumnya, jika ada kerusakan di rumah, kita yang harus lapor ke landlord, menunggu untuk diperbaiki, dan sering kali kita kena charge untuk biaya perbaikan. Nah landlord saya ini, selalu preventif, ibarat kata jangan menunggu sakit terus diobati, tetapi bagaimana caranya tidak sakit. Secara rutin, beliau mengontrol kondisi rumah, agar tidak ada masalah. Beruntungnya, kami mahasiswa Indonesia yang membawa keluarga, dengan beasiswa yang sangat cekak dari pemerintah. Kehadiran sang landlord sungguh sangat berarti. Terima kasih pak Landlord, semoga sehat dan baik selalu. God Bless you !


Karena Selalu ada Alasan untuk Bersyukur

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Annahl:18)

syukur_edit

Ilustrasi: Mahasiswa Indonesia di Universitas Nottingham, Indonesian Festival 2013, Nottingham

Kawan, kapan sampean terakhir kali mendengar orang mengeluh? dan kapan sampean terakhir kali mendengar orang bersyukur? Setiap pagi buta saya selalu bertemu dengan dua perempuan di usia senjanya. Kerut-kerut diwajahnya, meyakinkan bila keduanya telah berusia lebih dari enam dasawarsa. Duh kasihan, batin saya, saat melihat keringat bercucuran dari keningnya. Diusia yang seharusnya mereka tinggal menikmati hasil jerih payah di usia muda bersama cucu-cucu tercinta, sepagi itu mereka harus memeras tenaga.

Yang pertama dari perempuan itu nyaris tidak mampu berbahasa Inggris sama sekali, perempuan yang kedua sangat lancar berbahasa Inggris, tetapi tak bisa membaca dan menulis sama sekali. Sungguh, sebuah ironi di negeri yang menjadi simbol kemajuan peradaban manusia saat ini. Lebih ironis lagi, karena perempuan kedua itu seorang muslimah berkerudung. Tetapi, rasa iba saya itu sering kali berubah menjadi kejengkelan. Hanya karena, tak pernah keluar kata-kata dari perempuan kedua itu kecuali keluh dan kesah. Selalu ada yang dia keluh kesahkan, bahkan diulang berulang-ulang.

Dahulu, selepas lulus sarjana. Saya sempat berpindah-pindah kerja. Di perusahaan swasta, BUMN, perusahaan asing, hingga di luar negeri. Saya heran, di setiap tempat tersebut selalu ada yang menjadi masalah, dan hampir setiap hari saya mendengar keluhan-keluhan. Sampai saya berkesimpulan, tidak ada tempat bekerja yang ideal di dunia ini. Dimana pun tempatnya, disitu pasti ada masalah. Dan dimana ada masalah, disanalah banyak orang berkeluh kesah.

Kawan, sering kali kita menyalahkan dan mengeluhkan hal-hal di sekitar kita. Padahal bisa jadi yang salah sebenarnya ada di dalam hati kita. Hati yang jauh dari syukur. Kapan hari, salah satu pembaca blog saya, meninggalkan komentar yang sangat dalam sekali. Saya terkesima, komentar itu saya baca berulang-ulang kali, karena berisi filsafat hidup yang begitu dalam buat saya.

Ternyata memang dengan bersyukur itu kita bisa mengembalikan semangat kita dalam hal apapun dalam kerjaan apapun. Karena syukur itu salah satu fondasi tauhid dan semangat itu hanya milik Allah. yang memberi semangat geh Gusti Allah, yang mencabut geh Gusti Allah juga yang mengembalikan kepada kita juga Gusti Allah.
Ketika kita melihat dan membandingkan yang dibawah kita dalam hal duniawi, pencapaian prestasi, kedudukan, nikmat dan harta, maka syukur itu akan datang dan semangat kembali merekah dan membuncah, insyaAllah. – R.N

Kawan, saat kita hendak mengeluh, cobalah tersenyum sejenak dan sebut-sebut nikmat Gusti Allah yang telah diberikan kepada sampean hari ini. Waamma bini’mati rabbika fahaddist (QS. Adduha:11 ). Karena yang Maha Memberi Hidup, senang jika hambanya menyebut-nyebut nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya. Asalkan tak ada niat untuk bersombong diri, tetapi sekedar tahaddus bini’mah, menceritakan nikmat dan mengekspresikan rasa senang dan syukur atas segera nikmat itu.

Betapa banyak engergi-energi positif yang akan membuncah, ketika disekitar kita dipenuhi oleh hati-hati, wajah-wajah, dan mulut-mulut yang penuh rasa syukur.


Berislam Secara ‘Kaffah’, Memahami Islam Secara Paripurna

Catatan Pinggir Pengajian PeDLN, Nottingham,24/01/2015

muslimat_pedln

Jamaah Muslimat PeDLN

Pengajian perdana di Tahun 2015 ini bertempat di ruang kapel, amenities building, Jubilee  Campus, Universitas Nottingham. Tempat ini akan menjadi tempat default untuk pelaksanaan pengajian bulanan rutin berikutnya. Menggantikan tempat sebelumnya di Prayer Room, Sutton Bonington Campus.

Pemateri pengajian kali ini adalah Mas Fifik (Mahasiswa PhD Geospatial engineering). Yang  mengajak kita semua merenungi kondisi umat Islam saat ini. Carut marutnya suasana politik di negara-negara timur tengah, gerakan Islam radikal seperti ISIS dan Boko Haram, serta kondisi sebagian sangat kecil yang mengatasnamakan Islam di dunia barat yang semakin memperkeruhIslamophobia seperti aksi teror di Sydney Australia dan Charlie Hebdo di Paris, Perancis belakangan ini.

Hal ini menyisakan tanda tanya pada diri kita sebagai seoang Muslim, Apa Sebenarnya yang tejadi? Ini karena orang di luar Islam atau karena kita orang Islam sendiri atau kedua-duanya?

Kita bisa saja berperasangka ini semua konspirasi orang-orang yang tidak senang Islam menjadi agama besar. Di tengah-tengah budaya barat yang meninggalkan agama mereka, Agama Islam tumbuh pesat di dunia barat sebagai agama yang perkembanganya paling pesat di dunia.

Tetapi, bukankah pelakunya umat Islam sendiri? Bukankah umat islam sendiri yang memperburuk citra Islam sendiri? Kita bisa saja masih ‘excuse’ argh itu kan orang Islam jadi-jadian. Bagaimanapun juga, tidak bijak rasanya mengait-ngaitkan terorisme dengan agama tertentu. Jelas, jika kita melihat fakta sejarah radikalisme dan terorisme bisa darimana saja.

Oleh karenanya, Mas Fifik mengajak kita untuk melihat pada diri kita seniri. Sebagai seorang muslim, sudahkah kita berislam secara kaffah, secara sempurna? Sudahkan kita memahami Islam kita secara paripurna? Bisa jadi kita sangat ahli dalam bidang ilmu keduniawian kita, tetapi sebaliknya sangat awam terhadap Islam. Karenanya kita harus terus mau belajar agar bisa berislam secara penuh, sebagaimana perintah Allah SWT:

“Wahai orang-orang beriman! Masuklah kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu
ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyatabagimu”. [QS. AlBaqarah: 208].

bapak2_pedln

Jamaah Muslimiin PeDLN

Ataukah kita hanya berislam sebatas kewajiban menjalankan ritual keberagamaan saja? Sebagai bahan renungan, penelitian Rehman Scheherazade, How Islamic are Islamic Countries? yang diterbitkan padaGlobal Economy Journal pada tahun 2010, menempatkan negara-negara Islam pada posisi bawah. Dari 208 negara yang diteliti, posisi tebaik diraih oleh Malaysia pada posisi 38, sementara Arab Saudi dan Indonesia pada posisi 131 dan 140. Tiga negara paling Islami menurut penelitian tersebut adalah: New Zealand, Luxembourg, dan Irlandia. Penelitian ini mengukur kesesuaian praktik di negara yang diteliti dengan prinsip-pinsip Islam dalam bidangeconomics, legal and governance, human and political rights, and international relations.

Tentu saja pada penelitian ini masih ada ruang kritik, tapi kalau kita refleksikan dengan kondisi negara kita, sebagai negara Islam terbesar di dunia, kita bisa melihat sendiri bagaimana korupsi, ketidakadilan dalam ekonomi, ketidakjujuran, fakir miskin yang masih terlantarkan nasibnya oleh negara, rasanya Penelitian tesebut sangat masuk akal. Apalagi kalau kita pernah hidup di negara-negara yang masuk peringkat 10 besar pada penelitian tersebut (Inggris salah satunya), kita bisa merasakan sendiri bagaimana pendidikan dan kesehatan dasar gratis buat semua orang, bahkan pengangguran pun digaji negara. Serta bagaimana kesantunan dan kejujuran mereka. Rasanya, hasil penelitian itu sangat masuk akal. Kecuali kalau yang dijadikan ukuran adalah berapa banyak orang yang sholat, puasa, dan haji, sepertinya Indonesia sangat berpeluang menempati posisi nomer wahid.

Karenanya, Mas Fifik mengajak kita semua untuk lebih instropeksi dan menempa diri kita sendiri. Mengimbangi keimanan dengan ilmu yang cukup, dengan terus menerus mau belajar. Kegagalan memahami jihad yang benar  misalnya, bisa berakibat fatal. Seperti kasus Charlie Hebdo, alih-alih mau membela Islam, yang ada justru mencoreng Islam. Tidak hanya menempa akal kita, sebagai pribadi muslim yang ideal kita juga perlu menempa jasad (dengan olah raga misalnya) dan hati kita. Mengutip Aa Gym, agar berhasil semuanya itu harus 3M: 1.Mulaidaridirisendiri, 2.Mulaidari yang terkecil, 3.Mulaidarisekarang.

farewell_masfifik

Pak Peni, Mas Fifik, Mbak Noorida

Tidak ketinggalan, seperti biasa pada pengajian kali ini juga ada pengajian khusus muslimah dengan Ustadzah Shanti Fitriani, dan TPA untuk anak-anak bersama ustadzah Ade.

brithday_raras

HBD Raras!

Pengajian kali ini juga menjadi pengajian terakhir Buat Mas Fifik Sekeluarga yang akan segera kembali Indonesia ‘for good’. Dan salah satu jamaah, Raras (Mahasiswa PhD IT), sedang berulang tahun. Semoga Barokah buat semuanya ! Barokah buat kita semuanya. Allahumma Ammiin. Terima kasih untuk kehadiran semuanya yang membawa kehangatan kebersamaan buat semua.


The Hilditch Way dan Harapan-Harapan Sederhana Itu

… karena saban manusia pasti punya harapan. Dan saban insan pasti punya keraguan terhadap tahun yang akan ditapaki.” – Djoko Suud.

welcome2015

Selamat Datang 2015, Wollaton Park, Nottingham, 26 Desember 2014

Hari ini, pagi pertama di tahun 2015. Aku berjalan perlahan, setapak demi setapak, menyusuri jalan pedistrian dari depan pintu rumah ku menuju gerbang kampus. Entah sudah berapa ratus kali aku menyusuri jalan yang sama ini. Seolah setiap aspal yang aku pijak, sudah akrab dengan injakan sepatu ku. Masih musim dingin, dan langit terlihat begitu kelabu, tetapi tidak hujan. Pohon-pohon masih kerontang meinggalkan dahan-dahan kering tanpa daun, air sungai masih segemericik seperti biasa. Suara riuh kawanan bebek, dan kicauan gerombolan burung-burung camar masih menyambut ku seperti biasa di jembatan sungai kecil itu. Penghubung jalan itu, The Hilditch Way. Jalan paling indah, teman diskusi penuh inspirasi, yang hanya bisa dilalui pejalan kaki seperti diriku.

hilditchWay

The Hilditch Way

Gemericik air sungai kecil itu, pepohonon khas pinggir sungai, bebek, burung camar, dan rerumputan hijau yang terbentang luas itu adalah teman setia menemani pejalanan pagi dan malam ku. Saksi-saksi bisu tentang perjalanan panjang ini. Hanya saja, bongkahan-bongkahan es yang membeku dari hujan salju seminggu yang lalu, pagi ini menghilang begitu saja tak berbekas. Seolah menafikan apa saja yang telah terjadi. Dan angin berhembus cukup kencang, menghempas dan meliuk-liukkan tubuhku, yang tiap hari terasa semakin ringan. Padahal semalam, aku masih harus merayap merambat karena takut tergelincir di antara bongkahan es yang sangat licin itu, dan  jatuh ke sungai di samping nya. Yah, terkadang layar kehidupan harus beganti begitu cepatnya.

theHilditchWay

The Hilditch Way: Sehari Sebelum Pergantian Tahun

Tentang Harapan-Harapan Itu

Bilangan tahun baru ini adalah 2015. Yea, angka ganjil, angka yang dicintai Tuhan, angka (mudah-mudahan) pembawa keberuntungan. Setiap pergantian tahun, saya selalu mengurangi angka tahun baru itu dengan angka tahun kelahiran ku. Haha, mungkin saya bukan satu-satunya di dunia ini yang merasa semakin tua. Semakin mendekat ke batas waktu hidup kita yang selalu menjadi misteri di dunia ini. Gerbang menuju misteri kehidupan selanjutnya, yang selalu meninggalkan setumpuk tanda tanya.

Aku tak mau  menengok kembali tahun lalu. Karena, terkadang aku lebih cenderung ke madzab yang menganggap masa lalu telah mati. Kemaren, masa lalu itu sudah terkubur di hari kematianya yang abadi. Yang tak perlu disesali, karena tidak mungkin akan hidup kembali.

Hanya ada setumpuk harapan untuk hari-hari yang akan datang. All in All, harapan ku adalah hanya bisa menguasai diriku. Untuk fokus menyelesaikan studi ku tahun ini. Sungguh benar kanjeng nabi Muhammad. Setelah kemenangan perang badar (perang terbesar melawan kaum kafir quraish, dalam sejarah islam. mungkin bisa dibandingkan dengan perang Bratayudha dalam epic Mahabarata), kanjeng nabi mengingatkan ada perang yang lebih besar dari itu, yaitu perang melawan nafs, perang melawan diri sendiri. Aku pun merasakanya, betapa sulitnya mengatur diriku sendiri.

dariAtasJembatanHilditchWay

Dari Atas Jembatan The Hilditch Way, Sehari Sebelum Pergantian Tahun 2015

Lebih spesifiknya, harapan ku tidak muluk-muluk. Harapan wajar, yang most likely, pernah diharapkan orang-orang dalam episode hidup seperti diriku. Selain sehat, bahagia dan sejahtera untuk semuanya, di tahun ketiga studiku ini, aku hanya ingin publish dua paper untuk Journal Information Sciences (yang impact factornya 5), selesai menulis thesis, dan tentunya lulus PhD sebelum akhir tahun ini. Dan saya ingin sekali berkunjung ke baitullah, mencium hajar aswad, sholat jamaah di masjidil haram, bersujud di masjid nabawi, dan berziarah di makam kanjeng nabi Muhammad SAW. Aku sungguh rindu kepada mu Ya Rosul. Sebuah rindu yang sungguh tak terperi.  Ya habib, salam ‘alaik… (Wahai kekasih, salam sejahtera untuk mu)

Walaupun untuk harapan yang terakhir ini, the money really does matter. Tetapi, sebagai orang yang percaya akan kehadiran kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas, aku percaya adanya keajaiban-keajaiban dalam hidup ini.

Itulah harapan-harapan sederhana ku. Harapan-harapan yang membuat ku keep on going. Harapan-harapan yang membuat hidup kita lebih hidup. Semoga Tuhan mengabulkan harapan-harapan kita, atau menggantinya dengan yang lebih baik, Yarabibil musthofa, balligh maqaasidana. Semoga tidak pernah ada penyesalan untuk hari kemaren, penuh percaya diri untuk menjalani hari ini, dan menatap hari-hari esok tanpa rasa takut, ibtasama lil hayat ! Selamat Tahun Baru 2015, kawan ! Semoha Membawa, kebahagiaan, kesuksesan dan keberkahan buat kita semua ! Allahumma Ammiin !