london

Senja di Trafalgar Square

… sekedar cerita perjalanan biasa saja – a random thouhgt

 

trafalgal_square

Ilustrasi: Salah Satu Sudut Trafalgar Square

Setelah jenuh berdiskusi dengan pikiranku sendiri di pinggir sungai Thames, aku pun beranjak pergi. Menyusuri sudut lain kota London yang sudah pernah beberapa kali aku kunjungi, namanya Trafalgar Square.

Buat ku, tempat ini tak ubahnya sebuah alun-alun kota. Tempat dimana banyak orang berkumpul, sekedar untuk bersantai atau sekedar untuk bersenang-senang. Tidak seperti saat pertama berada di tempat ini, sore itu Trafalgar Square nampak biasa-biasa saja.

Kerumunan orang, yang kebanyakan turis memadati setiap sudut alun-alun. Sekedar duduk-duduk sambil melihat air mancur, patung, dan kawanan burung merpati. Atau sekedar foto-foto dengan latar belakang beberapa bangunan berasitektur gothic, khas bangunan romawi. Di salah satu sisi, alun-alun berdiri sebuah bangunan megah The National Gallery, tempat pameran lukisan.

Aku berjalan menyusuri alun-alun, berada di antara kerumunan orang-orang. Sekedar ingin ketularan aura kebahagian yang terpancar oleh wajah-wajah para pengunjung tempat ini. Lalu, ikutan duduk-duduk diantara mereka di salah satu sisi alun-alun di depan The National Gallery yang berundak-undak itu. Menjadi penonton kerumunan orang-orang, berdiskusi dengan isi kepala sendiri.

Lama-lama tidak betah juga, rupanya menjadi solo traveller begitu menyiksa bagi ku. Tidak ada teman diskusi, selain dengan pikiran sendiri. Aku pun beranjak ke arah pintu masuk The National Gallery, melihat orang mengantre untuk masuk satu persatu. Aku duduk di bibir taman di depan gallery, tepat disamping beberapa orang yang dari pakainya seperti gelandangan. Mereka tidur-tiduran disitu.

Hati kecil ku berbisik: yah, bule kok jadi gelandangan, padahal ini bule kalau di Indonesia, tinggal dimandiin saja kasih parfum dikit sudah bisa jadi artis. Kota besar selalu menyimpan ironi. Di antara gedung-gedung megah, diantara orang-orang yang bergaya hidup wah, masih menyisakan orang-orang yang terpinggirkan, seperti gelandangan dan pengemis ini. Bahkan di negara maju yang konon kesejahteraan sosial setiap warganya sungguh-sungguh serius diperhatikan oleh negara.

Capek duduk, aku pun ikutan antri masuk gallery. Meskipun aku sudah tahu isi di dalamnya, tapi rasanya lebih menguntungkan daripada duduk-duduk tidak jelas disamping gelandangan itu. Ada pemeriksaan ketak dipintu masuk. Setiap tas harus dibuka, untuk diperiksa isinya. Kalau-kalau ada pengunjung yang membawa bom.

Di dalam gallery bertingkat itu, aku menyusuri ruang demi ruang. Lantai demi lantai. Pura-pura menikmati keindahan lukisan yang berukuran besar-besar itu. Tapi, sungguh aku tidak pernah paham, bagaimana menikmati keindahan sebuah lukisan. Apalagi, hampir semua lukisan itu bercerita tentang kerajaan Tuhan. Dan banyak diantaranya adalah lukisan-lukisan manusia nyaris telanjang. Perempuan-perempuan dengan dua payudaranya yang indah menonjol, terpampang tanpa sehelai kain menutupi. Mungkin pada jaman itu, yang namanya BH belum ditemukan. Dan perempuan-perempuan pada jaman itu terbiasa bertelanjang dada, seperti gadis-gadis bali tempo dulu.

Tak sampai satu jam, aku pun keluar dari gallery. Mondar-mandir di halaman depan gallery yang ramai dengan orang-orang yang mengerumuni beberapa seniman jalanan. Ada yang berdandan ala patung badut, yang seolah-olah terlihat duduk mematung  di atas angin tanpa bergerak. Beberapa pengunjung tertarik berfoto bersama. Jepret! lalu melempar uang recehan di mangkok kecil di depan patung badut. Si patung badut membalas dengan seulas senyum.

Ada juga seniman lukis yang melukis bendera negara-negara peserta olimpiade 2016 di Brasil dengan kapur berwarna di lantai halaman gallery. Orang-orang berkerumun, mencari bendera negaranya masing-masing, lalu melempar uang recehan di atas lukisan bendera itu. Aku menunggu ada orang yang melempar recehan di atas bendera Indonesia, tapi sampai lebih sepuluh menit berlalu, tak seorang pun melakukanya. Emosi ku pun tak terpancing untuk melempar recehan di atas lukisan merah putih. Di sebelah pelukis bendera, ada pelukis kapur juga yang sedang melukis perempuan seksi yang memamerkan bongkahan payudaranya.

Di samping seniman lukis, ada seniman teater yang juga ramai dikerumuni orang.  Di tengah kerumunan orang-orang itu, seorang seniman terlihat memperagakan gerakan-gerakan akrobatik yang terlihat sangat mengerikan dan berbahaya jika dilakukan oleh orang-orang biasa. Penonton bersorak sorai tepuk tangan, setiap sang seniman berhasil unjuk kebolehan.

Terakhir, di paling ujung halaman depan gallery, ada seniman musik. Hanya ada dua orang anak muda. Yang satu sebagai drummer, satunya lagi sebagai gitaris merangkap vocalis. Menembangkan lagu-lagu yang sedang ngehits di pasaran. Suaranya bagus. Di antara para seniman jalanan ini, hanya seniman musik ini yang bisa saya nikmati.

Capek berdiri, aku segera menuju stasiun tube, kereta api cepat bawah tanah, terdekat di salah satu sudut Trafalgal Square. Kuhabiskan sisa waktu ku hari itu, di dalam tube yang mengelilingi kota London. Sambil duduk istirahat, membaca buku di dalam tube, aku memperhatikan kesibukan luar biasa para Londoner, saat pulang kerja hingga senja datang.

Buatku, memperhatikan tingkah polah orang-orang itu sangat mengasyikkan. Berjam-jam aku berada di bawah tanah kota London, di dalam perut cacing besi yang berlari super duper cepat, memecah kesunyian perut bumi di kota London. Hingga beberapa booklet tentang sejarah panjang pembangunan jaringan tube yang begitu rumit dan komplek, yang tidak saja mengaplikasikan sains dan ilmu rekayasa, tapi juga memadukanya dengan seni itu selesai aku baca. Menyisakan sebuah tanda tanya: jika di kota London, jaringan rel bawah tanah ini sudah mulai dibangun sejak tahun 1843, sementara di Jakarta baru mulai dibangun tahun 2016 ini; berapa jauh sudah negara ku tertinggal oleh negara ini? Tuhan, ajari kami cara mengejarnya!

Advertisements

London Sebelum London

… rupanya, kita hanya mengulang-ngulang sejarah. Argh, bodoh sekali mereka yang tidak belajar dari sejarah apalagi sengaja melupakan sejarah – A Random Thought

museum_london

Museum of London

Kata para penikmat perjalanan, tak soal sudah berapa kali sampean melakukan perjalanan di tempat yang sama, perjalanan selalu mengajarkan hal baru. Apalagi, jika tempat itu bernama London. Seolah tak pernah cukup waktu menelusuri sudut-sudut kota state-of-the-art peradaban manusia ini. A week is never enough in London.

Tetapi, memang tak akan pernah ada yang lebih menggairahkan dari perjalanan yang pertama. Yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya menjadi semakin biasa-biasa saja. Sungguh, kengggumunan itu ternyata indah sekali.

Seperti hari itu, entah sudah keberapa kalinya aku menginjakkan di kota ini. Rasanya kota ini tidak menarik lagi. Semuanya terlihat biasa-biasa saja. Tempat yang dulu pertama kali kulihat begitu sangat menakjubkan, yang pernah membuat hatiku begitu amat bergairah seperti bocah kecil mendapatkan mainan baru yang telah lama diimpikanya itu, hari itu terlihat sangat biasa-biasa saja. Rupanya, sejatinya kebahagiaan bukanlah tentang seperti apa yang terlihat, dan terdengar, tetapi kebahagian adalah semua hal ihwal tentang rasa.

Hari itu pagi sekali, sebelum menyelesiakan sebuah urusan, aku sendirian menyusuri sudut lain dari kota ini. Menyusuri tempat-tempat yang tidak aku rencanakan untuk aku kunjungi sebelumnya. Berjam-jam aku berada di dalam Museum of London, salah satu dari banyak sekali museum-museum besar di kota ini. Di museum itu, alam pikiranku terbawa dalam suasana kota London dari masa ke masa, dari jaman ke jaman, dari jaman pra-sejarah hingga London ultra-modern yang seperti kita lihat seperti sekarang. Lalu, kaki ku membawa ku mengelilingi gereja Santo Paulus, salah satu landmark bangunan bersejarah di kota ini.

Lalu, setelah sebuah urusan selesai aku sengaja menghabiskan sisa-sisa waktu hari itu, untuk menyusuri kembali tempat-tempat yang sama, tempat-tempat yang aku kunjungi saat pertama kali menginjakan kaki di kota ini, hampir 4 tahun yang lalu. Hitung-hitung, sebagai kunjungan perpisahan sebelum aku kembali ke tanah air bisik hati ku.

big_ben

Bigben, London

Tempat pertama yang aku datangi kembali untuk kesekian kalinya adalah gedung parlemen westminster dengan menara bigben nya. Menara jam, icon kota London. Belum ke London kalau belum selfie dengan latar belakang menara ini. Aku tatap dalam-dalam kembali menara ini. Entahlah, rasanya menara ini tidak menarik lagi. Biasa-biasa saja. Gedung parlemen wesminster yang gotic itu pun juga terlihat biasa-biasa saja. Beberapa sudut gedung yang sedang direnovasi membuat gedung ini semakin tidak menarik. Padahal, rasanya dulu aku ingin teriak histeris saking senengnya pertama kali sampai di tempat ini.

Aku berjalan di antara kerumunan turis yang menyemut di atas jembatan sungai thames tidak jauh dari gedung parlemen itu. Ingin merasakan aura kebahagian para turis yang sedang berselfie ria dengan latar belakang Bigben atau London eye di seberang sungai. Dari air muka kebahagiaan mereka, aku yakin mereka sepertinya sebagian besar baru pertama kali berada di tempat ini. Di jembatan yang padat para turis itu, ada dua pengamen khas skotlandia, lelaki pakai rok, dengan alat musik terompet khas Skotlandia, yang juga tak kalah menarik perhatian para turis. Sebagai salah satu kota yang paling kosmopolit di dunia, berada di antara kerumunan orang-orang  dari berbagai bangsa di kota ini adalah suasana yang sangat menyenangkan.

london_eye

London Eye By Thames River

Setelah  dari ujung keujung sungai, aku melipir  ke sepanjang jalan setapak pinggir sungai Thame sebelum kemudian duduk sendirian di salah satu bangku kosong di pinggir sungai thame. Tempat duduk yang nyaman dengan view aliran sungai thame dengan London eye di ujungnya, serta gedung-gedung pencakar langit di kota ini. Air sungai Thame hari itu tidak sejernih seperti biasanya, tetapi berwarna kecoklatan, mungkin semalam barusan turun hujan. Beberapa kapal wisata siap diberangkatkan, mengangkut para turis yang mengantri panjang untuk kelililing menyusuri kota dengan kapal wisata itu. Gerombolan burung camar yang terbang berputar-putar di atas aliran sungai, lalu hinggap berderet deret di atap kapal lebih menarik perhatianku.

Setalah bosan mataku menyapu pemandangan setiap sudut kota, aku mengambil sebuah buku novel dari tas ku. Niat hati ingin menghabiskan sisa-sisa hari itu dengan khusuk membaca buku sendirian, dalam buaian angin sungai yang semilir, hingga senja tenggelam di balik cakrawala. Sialan sepasang muda-mudi yang sedang horni bercumbu di pinggir sungai, tepat di depan tempat duduk ku. Hilang sudah konsentrasi ku.

Pandangan ku beralih ke gedung-gedung megah dengan aristektur klasik dan arsitektur futuristic yang berselang seling.  Yang seolah berpesan bahwa kota ini tak akan pernah bisa terlepas dari sejarah masa lalunya yang sangat panjang. Jas merah: Jangan sekali-kali melupakan sejarah, sebagaimana pernah dipesankan Bung Karno.

Sejenak kemudian, aku pun larut dalam alam pikiran ku sendiri. Siapa sangka kota semegah ini pernah menjadi jajahan bangsa-bangsa. Bangsa Romawi, Angl0-Saxon, Viking, Norman, pernah menjarah dan menumpahkan darah. Di kota ini juga pernah terjadi perang saudara yang berdarah-darah, bahkan leher rajanya sendiri pun pernah dipenggal oleh rakyatnya sendiri. Kota ini pun pernah nyaris musnah, ketika kebakaran hebat menghangus 4/5 dari kota ini. Bahkan, penduduknya pun nyaris punah, ketiga wabah pageblug begitu mudahnya menghilangkan nyawa secara masal penghuni kota ini.

Permasalahan hidup yang kompleks nan rumit pun pernah mendera kota ini. Ketika agama berselingkuh dengan kekuasaan. Dan kekuasaan menciptakan tirani. Atas nama ayat-ayat kitab suci, musik, pementasan teater William shakesphere pernah diharamkan di kota ini. Orang-orang yang memahami ayat Tuhan sedikit berbeda, dibunuhi dan diusir dari kota ini. Sungguh, beberapa abad yang lalu, kota ini pernah dalam kondisi serupa dengan kota Aleppo di Syria.

Sebelum akhirnya abad pencerahan itu datang. Dan dari kota ini, ekonomi dan martabat banyak bangsa-bangsa dikendalikan. Sampai hari ini, di kota ini banyak bangsa-bangsa berdatangan. Dari sekedar jalan-jalan, berbisnis, menuntut ilmu di ibu kota mbahnya kapitalis ini. Entah sampai kapan?

One Sweet Day In London

Probably, one of today’s state-of-the art cities of human civilization is London. Where world’s culture, business and economic activities centered. For me, as one of young people born in a rural village in a developing country, having an opportunity to visit this city is a priceless experience.  Here, let me share my story to you my dear friend. In the near future, you must come and see London by your own eyes.

It was at the beginning of Spring 2014, again I visited London. It was the forth time, if I can remember, I visited this city. But, spending days is never enough for this lovely city. And it is just like ‘a dream come true’, finally I came along with my small family. Unfortunately,  I am not a poet, capable to beautifully tell the story in wonderful words. So, Let the following pictures captured unprofessionally by me during the travel, tell you the story, instead.

london_01

Yeah, the story start here. It is Ilyas , my lovely  3-year-old son, with his pink balloon found by him in front of the train station. We were waiting for the train, east midland train, heading to London from Nottingham, where we are currently living. He is always excited to travel by train.

london_02

After approximately 3 hours of travelling, finally we arrived at King Cross / London St. Pancreas  International train station. Everyone looked very busy in this station. It is a very big train station combining traditional and modern architectural building. In this station, you must find 9 3/4 platform, where one of blockbuster film, Harry Potter, scenes taken. But, you should wait for extremely long queue to get exclusive picture with the legend trolley. And I will never sacrifice my time, just for taking that picture.

london_03

To travel around London, the effective way is by Tube, under ground fast mass rapid transport train. Though, it was quite expensive for me. You must buy an Oyster card and top up it with enough money to get into tube station.

london_04

It is a church by London bridge, that I can not remember the name. What a sunny day it was,  wasn’t it? Beautiful sky, green leaves, enchanting bird really boosted our travelling time at that time.

london_05

It is my dearest wife. It was her first time landed her foot in this city. She looked very happy and still could not believe that her dream had come true. But, unluckily the sky started crying just few minutes after the shiny sky. It was so London. Little rain could come every time, all the year. So, be ready with your umbrella, whenever you visit this city.

london_06

Finally, it is me by the Tower Bridge. It is one of must visited spots in London. There was a long historical story behind this bridge, that I can’t tell to you because I have no idea about it. But, I believe you can find it, in Wikipedia. It crosses the River Thames. It must be very beautiful view at night.

london_07

It is The Big Ben and the red double Decker bus, two mascots of London. It is also a landmark of London as Eiffel tower in Paris. It is at the north end of Westminster palace. Actually, it is a clock tower. So, take picture here, to memorized what time it was.

london_08

Another mascot of London is this red telephone box. Though, I do believe that no body still uses this telephone, but they are still maintained around the city of London. As what I believe so far, British people really appreciate each little  step advancement process. I think, they do believe that each single great advancement does not come over night, but through long not trivial processes. Thus, I bet it is the reason behind the existence of this historical red telephone boxes, where in many other cities have been destroyed and forgotten. This telephone box has become an identity of London, so almost all new visitors will take photo by the red box.

london_09

You can also enjoy the beauty of the city of London from the sky by riding London eye. It will be an unforgotten moment in your life. Or enjoying London from The River Thames by riding a boat can be alternative choice as well. It will be a priceless romantic pleasure in your life, especially when it come up with your life partner by your side.

london_10

It is Trafalgar Square, one of main tourist attractions at the heart of London. Old Romanian buildings dominated this place. The past of London still remains in this modern city. In the square, there are always seasonal events, such as Eidl Fitri bazar or Halal Food Bazaar during Ramadlan or Eidl Fitri season. If you are a Muslim, looking for mosque while visiting London, the nearest one to the center of London is Muslim World League. Here, there is praying space for both brothers and sisters. It is located at 46 Goodge Street W1T 4LU.

london_11

In London, I  was imagining that I can view the past, the present, and the future of the city. Old historical buildings remain while modern and futuristic buildings are also built. I can see multi-cultural people from around the world here too.

london_12

It is a spot in the center of London. It is typical view in European cities, indeed.

london_13

Another tourist attraction in London is Buckingham palace, where the Queen is living. The palace is surrounded by beautifully and naturally designed park. I think visiting this palace is a must, when you are in London. Unluckily, it was  during very late twilight when I was arriving this palace.

london_14

It is Ilyas with hundreds of doves, in Grosvenore Square in London, when we were visiting the Indonesian Embassy in London. London is environmentally friendly city, where people, plants, and animals could live in harmony. None threats the others.

london_15

It is British Museum. I bet it is one of the most self-contained museum in the world. You can find the history of the world in details here. From this history of Egypt and the modern era of European countries are well documented here. For sure, it is also free of charge entry. One full day is not enough to visit thoroughly this museum.

london_16

No need to worry to be boring being inside this museum. The interior is beautifully designed and the collections are equipped with high end multimedia technology that will make us feel cozy spending hours inside the building.

london_17

They are Tulip flowers. It was not in Holland, but in London, instead.  Though Tulips are the identity of Holland, but you can find a bunch of them in the UK.

london_18

If I don’t tell you in advance, can you guest where is this place might be? A beach in a coast city? No, you are totally wrong. It is at the heart of London. There is a huge green park at the heart of London named Hyde Park. It is just like the living lung of the city of London. You can feel as you are in the middle of jungle, or on the waterfront. Though, actually it is only a park and a lake in the middle of a Metropolitan city.

london_19

My son was extremely happy being in this place. He can run, shout, and play around the park. I bet, it is a perfect place for Londoner for releasing their stressful burden from their work. And to feel the sense of living in harmony  with nature.

london_20

By the way, you can still find people riding a horse in London quite easily. This past human being transporting mode is still alive in this world modern city. In a single sentence I can describe London as a city where people can live in harmony other people and nature and a city where people can see the past, the present, and the future of human civilization in the world. Eventually, only time limit make us have to say good bye to London. Thank you for reading my story. I do hope you can create you own story about you and London in the very near future !

 

Hari ini, setahun yang lalu

refleksi

Hari ini, setahun yang lalu.
Aku membuat langkah kecil pertama ku.
Di kota mu, Nottingham.
Dengan sebongkah harapan,
dan baris-baris do’a.
untuk sebuah level pendidikan bernama PhD.

Ada ketakutan dan keraguan,
Tapi keyakinanku membuat ku terus melangkah.
Hingga waktu pun berlalu,
Dan aku baru tersadar ini sudah setahun yang lalu.

Aku pernah hampir putus asa,
Aku pernah luruh dalam titik kepercayaan diri terendah,
Tapi rapalan doa-doa ku mampu menepis semuanya.
Hingga aku harus bersyukur aku lulus ujian tahun pertama ku.

Romantisnya daun-daun yang berguguran musim gugur,
Dinginya butiran salju di musim dingin,
Indahnya rupa warna bunga-bunga di musim semi,
Dan hangat nya mentari di musim panas,
Semua mengajarkan bahwa hidup akan terus berubah,
dan bahwa tidak ada keabadian.
Tak ada tawa yang abadi, pun tak ada tangis selamanya.

Aku pernah merasa kehilangan kehangatan keluarga ku,
dan juga keakraban teman dan sahabat-sahabat ku.
Namun, waktu mempertemukan ku dengan sahabat dan keluarga baru ku disini.

Terima kasih Tuhan, atas pengalaman berharga ini.
Yang telah kau langkahkan kaki ini, menyusuri kota-kota indah di bumi Mu ini.
Leicaster, Lincoln, Edensor, London, Liverpool, Birmingham, Whitby, Manchester,
Lancaster, Conventry, Oxford, Aberdeen, Edinburgh, Loughborough, Cambridge, Hull,
Ghent, Brussel, Leuven,Eindhoven, Enschede, Derby, Southampton

semua menorehkan pengalaman dan pelajaran hidup yang sangat berarti.

Maafkan untuk setiap detik waktu yang terbuang percuma,
Untuk segal hal perbuatan dan pikiran yang sia-sia.

Dua Pertiga perjalanan panjang masih terbentang di hadapan.
Keraguan itu pun muncul kembali,
Hanya keyakinan dan rapalan do’a-do’a ku kepada Mu Tuhan,
yang mampu menepis nya.

Ya Rabbi bil Mustofa, Baligh Maqasidana, Waghfirlana Ma Madzo
Ya Wasingal Karomi.

Duh Gusti, yang maha luas kemulian Mu.
Mugi Panjenengan ngijabahi cita-cita kami,
dan mengampuni dosa-dosa kami yang lalu.

Mudahkanlah segala urusan-urusan kami,
Bimbinglah selalu kemana langkah kaki ini melangkah,
Aku tunduk dan pasrah terhadap ketetapan takdir Mu.

Allahumma Ammiin.

Nottingham, 18 September 2012-18 September 2013 

London: satu diantara dua kota dalam sebuah mantra pesantren yang bertuah

….berotak London, berhati masjidil haram (mekah)

Dulu waktu saya nyantri di Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan Jombang, ada salah satu moto, jargon, atau apalah yang saya lebih suka menyebutnya mantra ,yang sangat terkenal, yaitu : berotak london, berhati masjidil haram (Mekah). Mantra ini konon mulai populer di kalangan santri secara turun temurun dari generasi ke generasi , sejak salah satu pesantren besar dan termashur di Kabupaten Jombang ini diasuh oleh (alm) Kyai Haji Musta’in Romly (lebih merakyat dipanggil  kyai Ta’in). Kyai Tain adalah kyai karismatik yang sangat tersohor sebagai mursyid (baca: guru) thariqah (gerakan sufisme islam) dengan puluhan ribu jamaahnya pada jaman nya saat itu. Sang kyai adalah juga pendiri Universitas Darul Ulum (UNDAR) Jombang, salah satu universitas swasta Islam terbaik yang alumninya sangat disegani pada masa nya i.e.  sekitar  tahun 80-90 an.

Waktu saya di pondok Njoso (panggilan rakyat untuk pesantren ini), tahun 1999-2002, mantra ini begitu melekat di hati saya. Bagaimana tidak, mantra itu tertulis di back cover buku saku amalan harian santri i.e. istigotsah, tahlil, sholawatan, dll. yang kemana-kemana selalu saya bawa. Di pondok njoso, secara rutin setiap hari selalu diamalkan bacaan istigotsah  setiap ba’da sholat ashar dan ba’da sholat subuh. Buat saya pribadi, mantra itu melahirkan sebuah mimpi.  Diam-diam dari sekedar tulisan tanpa nyawa di back cover buku ini, mantra itu  merasuk dan terhujam kuat dalam hati saya, yang menginspirasi bagaikan ruh yang tak bertuan. Berawal dari menghayalkan indahnya kota London, salah satu simbol kejayaan peradaban manusia saat itu dan mungkin hingga kini, dan juga membayangkan betapa nikmat dan khusuknya berdoa , membasahi keringnya jiwa di tempat suci masjidil haram di kota Mekah itu. Sampai kemudian melahirkan mimpi  dan janji diri bahwa suatu saat saya harus melihat dengan mata dan kepala saya sendiri dua kota Impian tersebut. Walaupun pada saat itu, itu hanyalah sebuah hayalan kosong seorang santri miskin  kampungan belaka.

Sebenarnya, mantra itu adalah sebuah pesan dari Sang kyai untuk para santri untuk tidak mendikotomi ilmu. Kalau bicara pesantren, orang pasti berfikir bahwa pesantren itu adalah tempat belajar ilmu agama, ilmu akhirat saja. Memang ada benarnya, dulu pesantren memang identik dengan tempat orang ngaji (menkaji, red) kitab-kitab klasik (biasa disebut dengan kitab kuning) rujukan ilmu-ilmu agama Islam e.g.  fiqih, hadis, tafsir, bahasa Arab, tasawuf, dll. Pesantren yang seperti ini disebut pesantren Salaf ( jangan salah arti dengan aliran syalafi wahabi yang berbaya itu ya !! ). Pesantren seperti ini, meskipun masih ada, sudah mulai tergilas oleh angkuhnya perubahan jaman yang semakin materialistis.

Pesantren Darul Ulum, sejak dahulu sangat konsisten untuk tidak mendikotomi ilmu menjadi  Ilmu agama dan Ilmu Umum. Ilmu adalah ilmu, semuanya bersumber dari Allah. Para pendiri Darul Ulum berkeyakinan bahwa, dikotomi ilmu itu adalah taktik orang Belanda untuk membodohi umat Islam. Oleh karena itu,di pesantren ini  santri wajib belajar ilmu kedua-keduanya. Tidak boleh belajar ilmu agama atau ilmu umum saja. Pesantren Darul Ulum adalah simbol pesantren yang menggabungkan antara ilmu agama dan ilmu umum, atau dikenal dengan pesantren Khalaf (Modern, red). Tidak mengherankan jika pada akhirnya di pesantren ini berdiri sekolah-sekolah umum dari tingkat SD, SMP, SMA, SMK, hingga Perguruan Tinggi. Yang kualitasnya tidak kalah, bahkan lebih unggul dengan sekolah-sekolah umum di luar pesantren. Diantara sekolah-seklah itu, saya dulu memilih sekolah di STM Telkom Darul Ulum yang saat itu memiliki satu, yaitu Jurusan elektronika komunikasi /Informatika. Dengan alasan pada saat itu Tahun 1999, hal-hal yang berbau teknologi informasi/informatika, terdengar sangat keren sekali di telinga saya.

Mungkin bisa jadi STM Telkom Darul Ulum saat itu  adalah salah satu sekolah dengan jumlah mata pelajaran terbanyak di dunia. Bayangkan, Saat itu, saya sekolah mulai jam 07.00-16.00 setiap hari kecuali hari Jumat. Sistem pembelajaranya, diawali dari membaca Alquran selama 15 menit pertama kemudian diikuti mata pelajaran-mata pelajaran lainya. Mata pelajaran yang harus saya pelajari saat itu sangat banyak sekali, mungkin ada sekitar 35 mata pelajaran. Kenapa demikian? karena sekolah ini menggabungkan 4 kurikulum sekaligus. Pertama adalah kurikulum pesantren, dimana saya harus belajar ilmu bahasa arab modern, nahwu, sharaf, ilmu alquran, tafsir, hadist, fiqih, aqidah, baca kitab kuning, dll.

Kedua kurikulum Nasional STM Jurusan Elektronika komunikasi, ini lebih gila lagi jumlah mata pelajaranya, semua mata pelajaran SMA IPA (minus biologi) ditambah mata pelajaran kejuruan elektonika komunikasi (sama kayak Mata Kuliah Jurusan Elektronika) dimana saya harus belajar sistem digital, rangkaian elektronika, gambar teknik, teknik instalasi listrik, teknik audio video, dll. Saya sampai heran elektronika komunikasi kok ya ada mata pelajaran teknik instalasi listrik (itu kan elektro arus kuat).

Ketiga Kurikulum Informatika. Ceritanya pada tahun 1999 pemerintah belum ada SMK jurusan Teknologi Informasi seperti sekarang. Sehingga tidak ada kurikulum nasional. Tapi rupanya, kyai saya (alm) KH As’ad Umar lebih cerdas duluan menangkap perkembangan jaman, sehingga tahun 1996 memaksa mendirikan STM Telkom dengan jurusan Informatika. Dengan kurikulum lokal ini saya harus belajar bahasa pemrograman, sistem basis data, sistem informasi manajemen, teknik dan sistem komputer, sistem jaringan komputer, dll. Saya masih ingat, betapa senangnya saya saat itu bisa bikin game sederhana pakek bahasa pemorgraman Basic pada saat masih duduk di kelas 1 STM.

Kurukulum yang keempat, yang terakhir adalah Kurikulum Telekomunikasi, ini lebih sadis lagi, tidak ada kurikulum nasionalnya. Guru kami yang ngajar mata pelajaran pada kurikulum ini cuman ada dua orang. Keduanya adalah praktisi di Industri telekomunikasi. Yang pertama, adalah seorang karyawan PT Telkom, alumni STT Telkom Bandung, maaf sekali saya lupa namanya 😀 * murid kurang ajar*. Yang kedua adalah Pak Djungkung Prabowo, seorang karyawan pakarnya jaringan telekomunikasi di PT XL , alumni ITB Bandung. Dari kedua guru hebat ini saya belajar banyak tentang sistem telekomunikasi, teknik jaringan kabel, teknik switching, dll.

Keempat kurikulum ini dicampur aduk  jadi satu di sekolah kami. Jadi abis baca kitab kuning, kita belajar nyolder bikin perangkat elektronika. Habis hafalan hadist kita belajar bikin program. Semua campur aduk jadi satu. Tidak ada ilmu yang dianaktirikan. Semua ilmu sama-sama penting untuk dipelajari. Walaupun ndak kebayang juga waktu itu, betapa banyak ilmu-ilmu yang bersaing untuk  masuk dan mengendap di otak saya. Dan saya tidak pernah tahu mana dari ilmu-ilmu itu yang akan bermanfaat buat kehidupan saya selanjutnya. Selepas sekolah, jam 16.00 sore, saya harus mengejar pengajian kitab hadist jawahirul bukhori yang diselenggarakan sampai menjelang sholat maghrib. Setelah  jamaah sholat maghrib di Masjid utama pondok.

“Penderitaan” kami tidak berhenti disitu. Habis maghrib, kita wajib ngaji satu kitab kuning. Ada banyak pengajian kitab kuning, kita para santri dibebaskan memilih sesuai selera masing-masing. Saya lebih memilih ngaji kitab tafsir jalalain dan kitab minhajul abidin (kitab berat karya Imam Alghazali) dengan (alm) KH. Hannan Maksum. Kegiatan ini berlangsung hingga waktu menjelang sholat isyak.

Habis sholat isyak, masih ada lagi sekolah di Madrasah Diniah yang khusus mendalami ilmu-ilmu agama seperti fiqih, taklim mutaalim, aqidah, nahwu shorof, dll. Luar biasa berat bebanya memang, sebagai santri biasa, saya sering tertidur tanpa sadar pas ngaji habis maghrib dan sekolah di madrasah diniah malam hari .  Sehingga kitab saya banyak yang bolong-bolong belum dimaknai (biasanya sambil membaca kitab klasik berbahasa arab tanpa harokat, kita menulis artinya dalam bahasa jawa dalam tulisan pegon/arab jawi) . Tapi itulah seninya menuntut ilmu. Biar ngantuk dan tertidur, satu jam di majelis ilmu lebih utama daripada sholat sunat 1000 rakaat. Dan meskipun kita tidak pernah tau, kapan dan ilmu yang mana yang akan bermanfaat suatu saat nanti. Pokoknya yang pentinig kita pelajari semua.

Itu hanya sekelumit cerita dari cerita panjang di kehidupan pesantren yang penuh makna, yang mungkin jika dituliskan akan menjadi trilogi Novel pendingin jiwa, *hayah…*. Tetapi pada intinya, misi dari Darul Ulum adalah mencetak generasi muda yang cerdas otaknya, secerdas otak orang-orang yang membangun peradaban di kota London, Inggris. Tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga bersih, bening dan suci hatinya seperti hati orang-orang yang sedang bersujud di masjidil haram di kota Mekah, Saudi Arabia.

**

Setelah 10 tahun meninggalkan bumi perjuangan Darul Ulum. Rupanya rapalan mantra yang berubah jadi mimpi itu. Hari ini, Allah berkenan merubahnya menjadi sebuah kenyataan yang sangat indah. Ya hari ini saya melihat kota London dengan mata dan kepala saya sendiri. Seakan sukma ku berteriak kencang-kencang  “LONDON, i am coming,  ini to….. yang namanya kota London itu”. *ternyata biasa saja *

di kota itu, Kusaksikan betapa megahnya Istana Buckingham, …..

indahnya tata kota London yang dikelilingi taman-taman kota yang Cantik dan menyejukan pandangan,

gagahnya Bigbang Tower, landmark kota London itu. Serta Romantisnya suasana di sekitar sungai Thames dan menakjubkanya London eye…

. Dan lebih indah lagi tentunya , ternyata Allah memberi kesempatan saya untuk menuntut ilmu di negeri nya ratu elisabeth ini selama tiga tahun kedepan. Alhamdulilahirabbilalamin… *maka nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?*

Jika Allah sudah memperlihatkan saya pada kota pertama dalam rapalan mantra bertuah itu. Mudah-mudahan Allah, berkenan juga memperlihatkan saya pada kota kedua dalam mantra bertuah itu. Masjidil haram di Mekah.  Entah kapan, Insya Allah. Toh, Jika Allah berkehendak, apa yang dikehendakinya terjadi maka terjadilah.

* Doa itu senjatanya orang  yang beriman, jika percaya, berdoalah, dan Tuhan pasti akan mengabulkan *