Advertisements

Tag Archives: lebaran

Kemewahan di Hari Lebaran

bukan, bukan pada mobil baru, pakaian baru, jam tangan baru, atau rumah baru yang kamu pamerkan di hari lebaran aku melihat sebuah kemewahan. tetapi dapat berkumpul dengan mu sebagai manusia biasa, ya manusia biasa, yang terlepas dari label-label dunia mu, aku melihat kemewahan itu. – A Random Thought

hari_lebaran_nottingham_edit

Ilustrasi : Susana Lebaran di Nottingham (Jubilee Campus, The Univ. of Nottingham)

Besok, hari Jumat 17 Juli 2015. Hari yang baik, tanggal yang baik, dan alhamdulilah besok adalah hari lebaran, dino riyoyo, bodo ! satu hari dalam setahun yang paling saya tunggu dan paling membahagiakan sejak masa kecil dulu. Hari dimana ketika saya kecil, merasa paling kaya dan beruntung di dunia. Hari ketika semua orang terlihat begitu bermurah hati pada sesama. Hari ketika arti sebuah kebersamaan dan kehangatan keluarga begitu sangat bermakna. Hari ketika tidak rasa kecuali rasa bahagia.

Ketika umur semakin beranjak dewasa, rasa itu perlahan semakin menipis. Entahlah, mungkin menjadi manusia dewasa memang selalu begitu. Selalu menjadikan rumit, perkara yang sebenarnya sederhana saja. Pun demikian kebahagiaan bagi orang dewasa, kebahagian itu kian menjadi rumit.

Dengan lebaran kali ini, sudah tiga kali berturut-turut tak bisa sowan ke bapak dan ibu di kampung. Mudah-mudahan, lebaran tahun depan, saya bisa kembali sowan. Walaupun, tak kurang sahabat dan teman untuk merayakan lebaran. Rasanya selalu ada yang kurang. Meskipun komunikasi tetap bisa dilakukan, rasanya tidak ada yang bisa menggantikan sebuah kehadiran.

Lazimnya para perantau, selalu ingin pulang di setiap hari lebaran. Teringat dalam kenangan, setiap lebaran kampung halaman saya berubah menjadi sebuah kota. Banyak mobil-mobil bagus berlalu lalang, orang-orang berpakaian bagus-bagus pun berseliweran. Hari itu, di desa saya, seolah kemewahan sedang dipamerkan.

Tetapi buat saya, bukan, bukan pada mobil baru, pakaian baru, jam tangan baru, atau rumah baru yang kamu pamerkan di hari lebaran aku melihat sebuah kemewahan. tetapi dapat berkumpul dengan mu sebagai manusia biasa, ya manusia biasa, yang terlepas dari label-label dunia mu, aku melihat kemewahan itu.

Emak dan bapak, sekali lagi mohon maaf tahun ini anak mu belum bisa pulang lagi. Maafkan ! Doakan tahun depan anak mu bisa pulang !

Advertisements

Dari Nottingham: Sejumput Senyum Kemenangan di hari Lebaran 2014

lebaran_di_nottingham_1
*) Selepas Sholat Eid, di Indoor Sport Centre, Jubilee Campus, University of Nottingam

Allahu Akbar,  Allahu Akbar,  Allahu Akbar, Walillahilhamdu (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan Hanya bagi Allah segala pujian).

Lafadz takbir itu aku ucapkan dengan suara lirih beberapa kali. Tepat selepas sholat maghrib, di penghujung senja penutup hari terakhir di bulan Ramadlan 1435 H/2014 M itu. Sejenak kemudian, aku pun beranjak dari duduk ‘tawaruk`, ku tatap nanar langit senja dari balik jendela kaca lantai dua rumah ku. Selalu ada indah kedamaian, setiap aku melihat semburat warna merah di batas cakrawala senja yang redup perlahan-lahan, berganti dengan kegelapan. Ada sedikit penyesalan terlintas di hati, meratapi Bulan Ramadlan yang telah pergi begitu saja. Ada sedikit kegembiraan di hati, karena besok adalah hari lebaran Idul Fitri dan aku tak perlu lagi menahan lapar dahaga 20 jam setiap hari.

Tak seperti biasanya, menjelang malam itu, Ilyas-anak lelaki ku, begitu girang bukan kepalang. Berkali-kali, melompat-lompat di atas kasur, sambil mulutnya tak henti-hentinya bernyanyi riang. Seolah dia tahu hari itu adalah hari kemenangan yang patut dirayakan. Padahal, di negara ini sama sekali tidak ada euforia lebaran. Tak ada suara takbir, tak ada kue lebaran, tak ada baju lebaran, pun kami tak pernah membicarakan lebaran. Di usianya di tahun ketiga, rasanya, dia masih terlalu kecil untuk tahu apa itu hari lebaran. Entahlah, seolah hati nya yang masih bersih mampu menangkap cahaya kemenangan itu.

Semakin bertambah usia, kadar kebahagian menyambut hari raya itu semakin berkurang. Mungkin karena semakin pula bertampah dosa yang menutupi mata hati. Sehingga tak mampu melihat kilauan cahaya kemenangan itu. Teringat dahulu waktu kecil, hari raya idul fitri adalah hari paling membahagiakan dari dalam setahun. Seolah hari itu adalah puncak dari segala puncak kebahagiaan. Hari dimana bagi kami anak-anak dusun yang orang tuanya hanya mampu membelikan baju setahun sekali, akan memakai pakaian yang baru, menikmati kue hari raya, menyantap masakan terlezat sepanjang tahun, serta mendapatkan uang saku yang berlimpah dari sanak saudara. Kami pun tak mampu membendung luapan kebahagian di malam hari raya, sehingga kami pun merayakan dengan menyalakan Obor dari sebatang bambu kecil diisi minyak tanah, disumbat dengan serabut kulit buah kelapa, bertakbir mengelilingi kampung. Sungguh, kenangan masa kecil di kampung halaman yang terlalu indah untuk terlupakan.

Setelah, bermaaf-maafan lewat telepon dengan orang tua, kami mengakhiri malam itu dengan mendengarkan alunan suara takbir dari youtube. Mengiringi mata kami, yang tak mudah terpejam begitu saja.

**

lebaran_di_nottingham_2
*) Selepas Sholat Eid, di Jubilee Campus, University of Nottingam

Senin, 28 Juli 2014

Usai sholat Subuh, di hari lebaran ini, aku masih harus menjalankan tugas harian ku. Mengelap meja-meja kerja di sebuah gedung perkantoran bertingkat di salah sudut kota ini. Beruntung, supervisor kerja ku seorang Muslim, aku pun bisa selesai sebelum pukul 07.00 pagi. Setiba di rumah, aku langsung mandi sunah hari raya dan segera keluar rumah bersama anak istri menuju tempat pelaksanaan sholat Ied. Tepat pukul 07.15 pagi, kami berangkat berjalan kaki bersama keluarga Pak Peni (Mbak Yuli, Yumna, dan Izza), tetangga keluarga orang indonesia terdekat dari rumah kami, menyusuri jalanan yang biasa aku lalui setiap hari. Ya, seperti tahun sebelumnya, sholat ied tahun ini dilaksanakan di Sport Center Indoor, Kampus Jubilee, Universitas Nottingham.

Hampir 30 menit perjalanan, kami sampai di lokasi. Terlihat, para security terlihat begitu sibuk dan sigap mengatur mobil-mobil jama’ah sholat ied yang mencari lokasi parkir. Senang rasanya, berjumpa dengan saudara-saudara sesama muslim dari berbagai belahan dunia. Mereka sebagian besar berasal dari negara-negara timur tengah, india, pakistan, dan sekitarnya. Gedung indoor sport center itu pun rasanya terlalu sesak dipenuhi jamaah dan sejenak bergema dengan alunan suara takbir.

lebaran_di_nottingham_4
*) Di Depan Wollaton Park Castle, Nottingham

Usai khutbah dan sholat eid, para jamaah berhamburan keluar. Terlihat, saling bersalaman, berpelukan, bercipika-cipiki, dan saling bermaaf-maafan. “Eidl Mubarok” ! begitu, saudara muslim dari timur tengah menyapa kami. Terlihat sebagian jamaah, menggunakan pakaian muslim tradisional mereka masing-masing. Seperti kita memiliki, sarung baju koko dan peci. Mereka punya pakaian khusus yang dipakai pada hari raya. Dan, yang tidak boleh tertinggal oleh kami adalah acara foto-foto. Bahkan, seorang kawan sempat-sempatnya membawa spanduk kelompok pengajian bulanan kami untuk sesi pemotretan spesial edisi lebaran.

Usai sholat eid dan sesi pemotretan di sekitar kampus jubilee. Kami, sebagian keluarga  Muslim Indonesia di Nottingham mengadakan piknik di Wollaton Park. Sekedar bersilaturahim, berkumpul santai, dan makan-makan sebagai ucapan syukur di hari lebaran. Merekalah, pengganti keluarga kami di tanah perantauan ini. Haripun berganti begitu cepat, dan esok kita beraktivitas normal kembali.  Terimakasih ya Allah atas kenikmatan ini.

lebaran_di_nottingham_3
*) Eid Gathering, Wollaton Park

Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali ke fitrah, dan termasuk orang-orang yang beruntung. Semoga Allah menerima Ibadah kita semua selama bulan Ramadlan. Dan semoga hikmah ramadlan senantiasa membekas di hati kita, hingga Ramadlan datang kembali. Semoga keberkahan hidup selalu menyelimuti kita. Selamat Hari Raya Idul Fitri, Kawan ! Mohon sampean berkenan tulus saling memaafkan kesalahan kita.

__
**) All pictures were taken and shared by Mas Wisnu


Selamat Hari Raya Idul Fitri and “Ketupat “

On Sunday, September 20th 2009. All muslims all around the world celebrate the “Idul Fitri”  day ( year 1430 Hijri). It is very happy day for all muslim all around the world after fully one month fasting. In the early morning on that day , all muslims comin to mosque for praying, worshiping the Allah almighty. ” Allahu Akbar Allahu Akbar , walillahilhamdu ”  Allah, the only God almighty; Allah, the only God almighty, and every approbation only for Him.

After praying for “sholat hari raya” , there is different way in different place on How muslims celebrate this great day.  In Indonesia, the largest muslim country in the world, this Idul Fitri day is the most celebrated day. Indonesians  enjoy their holidays for one week to celebrate this Idul Fitri. It is one week national holidays in Indonesia. I bet, it is comparebale with new year celebration in China.

During this Idul Fitri days, all muslims in Indonesia looking for forgiveness to one another. They visiting their families, their relatives, their friends to express their humblest apologize. People in urban coming back to their rural where they come from.  On those days, there will be crowded in rurals, and there will be quiet in urbans. This coming home town tradition popularly called as “Mudik”. There will be terrible congestion from cities to villages on those days.

In celebrating Idul fitri days, there is special food cooked only in Idul Fitri days. That special food is what called “ketupat”.  Actually, it is only another rice cooked in coconut leafs package. There is special taste in this kind of rice compared with ordinary cooked rice. Usully it is eaten together with “Opor Ayam”. Chicken cooked in coconut milk. You want to taste it? Just come in my beutiful Indonesia. I am very sure you will be joyful on those days!