Advertisements

Tag Archives: Lebaran di Nottingham

Nikmat Mudik Lebaran

… saat kita tak pernah gamang sedikit pun dalam melangkah, walaupun kita tak pernah tahu dengan pasti mbesok gede mau jadi apa.– a random thought

habis_sholat_Ied

Selepas Sholat Ied, Sport Centre, Jubilee Campus, Nottingham 2013

Eh, sudah lebaran lagi. Eh, sudah empat kali dan diriku masih disini. Eh, rencana tinggal rencana lagi. Ealah, Mahasiswa tuwek-mahasiswa tuwek, riwayat mu kini. Imajinasi indah mu akan lebaran di kampung tahun ini, rupanya hanya fatamorgana saja. Dirimu masih terjebak dalam anak tangga yang itu-itu saja. Hati-hati! Awas jatuh lagi! Awas ketimpa tangga lagi! Semoga kau tak pernah pupus harapan, kawan! Kelak, Tuhan akan berbelas kasihan.

Pulang. Oh, indah nian kata itu. Tak heran, bila setiap tahun jutaan orang di negeriku banyak bertaruh apa saja demi bisa pulang ke kampung halaman. Setinggi-tinggi bangau terbang terbang jatuhnya ke kubangan juga. Sejauh-jauh orang pergi merantau, pasti ingin kembali ke kota kelahiran. Napak tilas, jejak-jejak di masa kecil. Sungai, kebonan, galengan sawah dan ladang menyimpan semuanya. Saat kita masih lugu dalam menapaki setiap anak-tangga kehidupan. Saat kita masih teramat polos dalam menyikapi kehidupan. Saat kita tak pernah gamang sedikit pun dalam melangkah, walaupun kita tak pernah tahu dengan pasti mbesok gede mau jadi apa. Sungguh, saat pulang selalu menjadi saat yang paling kita rindukan.

Mudik lebaran, pulang ke kampung halaman, kembali ke tanah kelahiran, selalu mengingatkan ku kembali untuk merenungkan kembali arah kehidupan. Hampir sepanjang tahun lamanya kita selalu merasa sangat sibuk, seolah ingin mengejar dan terus mengejar walaupun kita tak selalu sadar apa sebenarnya yang kita kejar. Kekayaan yang selalu tak pernah cukup? Jabatan yang selalu ada yang lebih tinggi? Deret-deret gelar kesarjanaan di depan dan belakang nama kita? ataukah simbol-simbol kebanggaan sosial lainya?

Untuk apa? Untuk dipamerkan orang-orang sekampung? Bahwa dulu kita yang bukan siapa-siapa itu telah menjelma menjadi ‘orang’. Bahwa betapa sukses, terhormat, dan berkahnya kehidupan kita. Walaupun sebenarnya kehidupan kita juga sama saja, hanyalah anyaman senang dan susah yang silih berganti. Hanyalah deretan masalah satu ke masalah lain. Justru, kita merasa tenang dan bahagia, saat kita menjadi orang-orang biasa bergaul dengan orang-orang biasa dengan cara biasa saja bukan? Seperti yang tersimpan pada jejak-jejak masa kecil kita.

Pulang kampung selalu mengingatkan ku, bahwa kita sudah pasti akan kembali. Kembali ke sangkan paraning dumadi. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Kita berasal dari Tuhan, dan cepat atau lambat pasti hanya akan kembali kepada Nya jua. Apakah sudah pantas apa yang kita kejar-kejar selama ini menjadi bekal kita kembali kepada Nya nanti? Semoga kepulangan kita nanti seindah kepulangan kita ke kampung halaman di setiap hari lebaran. Kepulangan yang selalu kita rindukan.

**

Argh, sayang tahun ini belum juga bisa pulang ke kampung halaman. Kerinduan akut akan suasana kampung di hari lebaran menggoda ku hari ini. Tetapi kerinduan ku pasti tak seakut kerinduan Yu Juminten dan Yu Pairah, yang demi menyambung hidup, berpuluh tahun mbabu ke para tuan-tuan. Bekerja sepanjang hari-hari dan malam-malam yang panjang demi melayani tuan-tuan. Yang bahkan untuk sekedar sholat Ied pun, tidak tuan ijinkan. Disini, di bumi perantauaan ini, aku masih ada istri dan anak yang setia menemani hari-hari ku, teman-teman yang sudah seperti saudara-saudara ku. Sungguh, selalu ada seribu satu alasan untuk mensyukuri kemurahan Tuhan. Kawan, selamat hari lebaran! Selamat Mudik ke Kampung halaman! Syukurilah besarnya nikmat mudik lebaran. Rayakanlah setiap kebahagian mu dengan penuh kesederhanaan. Untuk setiap kesalahan ku Mohon dimaafkan!

Advertisements

Suatu Hari Lebaran di sebuah Desa Kecil, di Inggris

teko kutho menyang ndeso, muleh nang dino riyoyo, senanjan ora nggowo bondo, ati seneng ketemu keluargo, minal ‘aidizin walfaizin, mohon maaf lahir batin. Ojo mong anyar kelambine, sing penting resik atine ! – Didi Kempot

lebaran_di_kampung_inggris_1

Sebuah Rumah di Sebuah Desa di Pedalaman Derbishire, Inggris, 2015

Lebaran. menyebut nama ini, yang terlintas di kepala saya adalah peristiwa budaya mudik lebaran ke kampung halaman di hari lebaran. Benar bahwa, ramadlan, puasa, dan sholat ied di hari raya adalah produk agama. Tetapi, mudik di hari lebaran, halal bihalal adalah produk budaya. Karena peristiwa ini hanya terjadi pada umat muslim di Indonesia dan Malaysia. Benar kata Profesor Azyumardi Azra, dari UIN syarif Hidayatulllah, yang mengatakan ekspresi keberagamaan umat Islam di Indonesia sangat berbunga-bunga.

lebaran_di_kampung_inggris_2

Halaman di Belakang Rumah

Mengingat euforianya, kangen saya pada kampung halaman semakin menjadi-jadi. Suasananya itu lo, sungguh tidak tergantikan. Bernostalgia dengan tempat-tempat yang menyejarah di masa kecil kita, sungkem sama emak dan bapak, kumpul bersama keluarga, bersua kembali teman sepermainan ketika masih kanak-kanak, adalah momentum yang tidak pernah bisa tergantikan dengan makanan terlezat didunia pun. Sayang, senasib dengan Bang Toyib, saya sudah tiga kali lebaran tidak pulang-pulang, demi selembar ijazah Doktor. Duh Gusti, mugi Panjenengan ridhoi dan kabulkan sebuah cita-cita sederhana ini. Dan, mugi-mugi kulo saget wangsul lebaran tahun depan.

lebaran_di_kampung_inggris_3

The Barbaqeu

Tetapi, terkdang kita harus sadar bahwa Life is here and now, hidup kita adalah disini dan sekarang. Berusaha menikmati setiap pergerakan ruang dan waktu hidup kita adalah cara untuk selalu mensyukuri anugerah kehidupan ini. Hidup terlalu berharga jika hanya untuk mengenangi masa lalu dan menakuti apa yang terjadi di masa depan.

lebaran_di_kampung_inggris_4

Ilyas and The Green Grass

Hari ini, Minggu 19 Juli 2015. Hari ketiga Idul fitri tahun ini. Setelah dua hari berlebaran dengan teman-teman di Nottingham, hari ini saya menemani Istri bertandang ke rumah Ustadzahnya. Guru ngaji, yang mengajari ibu-ibu Indonesia di Inggris melalui Skype. Setidaknya, seminggu sekali, saya hanya mendengar suara guru ngajinya itu. Akhirnya, kali ini saya bisa bertatap muka langsung dengan beliau.

lebaran_di_kampung_inggris_5

Ilyas is lying on the Grass

Menariknya, rumah beliau ini terletak di sebuah desa terpencil, atau country side di pedalaman Derbishire, UK. Tidak ada layanan public transport untuk menuju ke rumah beliau. Karenanya, kami harus numpang mobil kawan yang sama-sama berangkat ke rumah beliau. Kami berangkat dengan 3 mobil dari Nottingham. Kurang lebih 1,5 jam perjalanan kami tiba di Lokasi.

lebaran_di_kampung_inggris_6

Makanan untuk Sedekah Burung

Tiba di lokasi, suasana hati saya langsung terkesima dengan hijaunya desa dan keramahan orang kampung. Ternyta, dimana-dimana sama saja, orang desa selalu lebih ramah dan lebih hangat di banding orang kota. Belum sempat kami bertanya, seorang perempuan desa sudah bisa menebak kemana tujuan kami, dan dengan senyumnya yang tulus sumringah dia menunjukkan rumah yang kami tuju.

lebaran_di_kampung_inggris_7

Buah Apel di Belakang Rumah

Rupanya, rumah sang Ustadzah sangat besar, dan memiliki halaman belakang yang sangat luas. Dari belakang rumah ini, saya bisa melihat pemandang rerumputan hijau sejauh mata memandang. Terlihat gerombolan domba dan kuda di ujung sana. Tenang dan damai, ciri khas suasana alam pedesaan. Suara burung lebih dominan ketimbang sura deru mesin yang sangat jarang terdengar.

lebaran_di_kampung_inggris_8

Sate Sudah Siap dihidangkan

Di halaman belakang yang luas dengan karpet alami beruba rumput hijau yang empuk dan menyejukkan mata itu, ada sebuah tenda yang disiapkan untuk menjamu para tamu. Rupanya, kami tamu pertama yang datang. Ibu-ibu langsung sibuk menyiapkan makanan di teras belakang rumah. Saya dan Pak Peni pun kebagian tugas bakar-bakar, barbaqeu. Ada sate, ayam, dan daging kambing yang harus di bakar.

Sementara anak-anak langsung terbit naluri alamiahnya, bermaian berlari-larian, jungkir balik di atas rumput yang hijau itu. Di belakang rumah itu juga terdapat beberapa pohon buah, di antaranya adalah pohon apel dan pir. Ilyas, anak saya, terlihat terlalu excited dengan nya. Maklum di kota Nottingham, nyaris tidak ada rumah yang memiliki halaman belakang seluas itu. Ada juga biji-bijian makanan burung yang di halaman belakang rumah itu yang sengaja disedekahkan untuk burung-burung yang kebetulan lewat di belakang rumah.

Ohya sang Ustadzah ini perempuan asli Indonesia yang menikah bule British yang sudah memeluk agama Islam. Sampean pasti mengira, suaminya menjadi mualaf karena sang Ustadzah. Tetapi tidak begitu ceritanya, mereka berdua menikah justru, setelah sang suami memeluk Islam selama 10 tahun. Memang kebanyakan bule British menjadi mualaf karena menikah dengan perempuan muslimah Indonesia. Dan biasanya, layaknya budaya Eropa, mereka tidak serius bergama, dengan tidak menjalankan syariat agama dengan benar. Tetapi, suami sang ustadzah ini lain. Beliau, menemukan Islam melalui sebuah pencarian intelektual. Saya pernah berdiskusi dengan beliau, memang orangnya sangat-sangat kritis. Mungkin kekritisanya inilah yang pada akhirnya mempertemukanya dengan Islam.

Tidak hanya serius beragama dengan tekun menjalankan sholat dan kwajiban ritual lainya. Pasangan suami istri ini terus serius memperdalami Islam. Bahkan aktif berdakwah, melalui pergerakan Islam internasional yang mencitakan berdirinya kembali Khilafah Islamiyah. Semoga beliau berdua diberi keistikomahan, Ammiin !

***

lebaran_di_kampung_inggris_9

Para Tamu yang lain

Tak lama berselang, beberapa tamu yang lain berdatangan. Ada beberapa Indonesia dari kota lain seperti Manchester. Beberapa kolega beliau, yang kelihatanya semuanya adalah muslim, dari negara Asia selatan. Kita berkumpul menikmati, makanan pembuka di bawah tenda. Setelah sholat Duhur berjamaah di atas lapangan rumput hijau belakang rumah itu, kami memulai makanan utama, dan ditutup dengan minum teh dan kopi hingga sore hari.

lebaran_di_kampung_inggris_10

Mendengarkan Dongeng

Suami sang Ustadzah mengundang anak-anak duduk mengelilingi beliau di atas rumput. Dan beliau mulai mendongeng kisah para sahabat Nabi. Anak-anak terlihat begitu antusias mendengarkanya.

lebaran_di_kampung_inggris_11

Bermain dengan Anjing

Setelah mendongeng, beliau mengeluarkan dua anjing kesayanganya dari kandangnya. Anak-anak kegirangan menyambut kedatangan dua anjing berwarna putih dan hitam itu. Tanpa rasa takut, anak-anak berebut menyentuh, memeluk, bahkan mencium anjing itu. Anak-anak berjilbab itu terlihat begitu sayang pada kedua binatang itu.

lebaran_di_kampung_inggris_12

Bersahabat dengan Anjing

Mungkin ini pemandangan sangat tabu di Indonesia, bagaimana seorang muslim memelihara Anjing. Bahkan anak-anak mereka yang berjilbab menciumi Anjing. Karena Islam di Indonesia yang sebagian besar bermahdzab Imam Syafii, anjing sendiri adalah Najis besar. Yang kalau terkena air liurnya harus dibasuh air tujuh kali, dan satu diantarnya harus dicampur tanah. Tetapi nampaknya beliau berislam tanpa mahdzab, selaras dengan pemikiran pergerakan islam yang beliau bergabung di dalamnya.

lebaran_di_kampung_inggris_13

Sang Ustadzah Bersama Santri-santrinya

Hari pun beranjak sore. Dan setelah berfoto-foto, kami meminta undur diri kembali ke Nottingham. Terima kasih kepada Sang Ustadzah atas undangan dan experience yang luar biasa ini.


Kemewahan di Hari Lebaran

bukan, bukan pada mobil baru, pakaian baru, jam tangan baru, atau rumah baru yang kamu pamerkan di hari lebaran aku melihat sebuah kemewahan. tetapi dapat berkumpul dengan mu sebagai manusia biasa, ya manusia biasa, yang terlepas dari label-label dunia mu, aku melihat kemewahan itu. – A Random Thought

hari_lebaran_nottingham_edit

Ilustrasi : Susana Lebaran di Nottingham (Jubilee Campus, The Univ. of Nottingham)

Besok, hari Jumat 17 Juli 2015. Hari yang baik, tanggal yang baik, dan alhamdulilah besok adalah hari lebaran, dino riyoyo, bodo ! satu hari dalam setahun yang paling saya tunggu dan paling membahagiakan sejak masa kecil dulu. Hari dimana ketika saya kecil, merasa paling kaya dan beruntung di dunia. Hari ketika semua orang terlihat begitu bermurah hati pada sesama. Hari ketika arti sebuah kebersamaan dan kehangatan keluarga begitu sangat bermakna. Hari ketika tidak rasa kecuali rasa bahagia.

Ketika umur semakin beranjak dewasa, rasa itu perlahan semakin menipis. Entahlah, mungkin menjadi manusia dewasa memang selalu begitu. Selalu menjadikan rumit, perkara yang sebenarnya sederhana saja. Pun demikian kebahagiaan bagi orang dewasa, kebahagian itu kian menjadi rumit.

Dengan lebaran kali ini, sudah tiga kali berturut-turut tak bisa sowan ke bapak dan ibu di kampung. Mudah-mudahan, lebaran tahun depan, saya bisa kembali sowan. Walaupun, tak kurang sahabat dan teman untuk merayakan lebaran. Rasanya selalu ada yang kurang. Meskipun komunikasi tetap bisa dilakukan, rasanya tidak ada yang bisa menggantikan sebuah kehadiran.

Lazimnya para perantau, selalu ingin pulang di setiap hari lebaran. Teringat dalam kenangan, setiap lebaran kampung halaman saya berubah menjadi sebuah kota. Banyak mobil-mobil bagus berlalu lalang, orang-orang berpakaian bagus-bagus pun berseliweran. Hari itu, di desa saya, seolah kemewahan sedang dipamerkan.

Tetapi buat saya, bukan, bukan pada mobil baru, pakaian baru, jam tangan baru, atau rumah baru yang kamu pamerkan di hari lebaran aku melihat sebuah kemewahan. tetapi dapat berkumpul dengan mu sebagai manusia biasa, ya manusia biasa, yang terlepas dari label-label dunia mu, aku melihat kemewahan itu.

Emak dan bapak, sekali lagi mohon maaf tahun ini anak mu belum bisa pulang lagi. Maafkan ! Doakan tahun depan anak mu bisa pulang !


Dari Nottingham: Sejumput Senyum Kemenangan di hari Lebaran 2014

lebaran_di_nottingham_1
*) Selepas Sholat Eid, di Indoor Sport Centre, Jubilee Campus, University of Nottingam

Allahu Akbar,  Allahu Akbar,  Allahu Akbar, Walillahilhamdu (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan Hanya bagi Allah segala pujian).

Lafadz takbir itu aku ucapkan dengan suara lirih beberapa kali. Tepat selepas sholat maghrib, di penghujung senja penutup hari terakhir di bulan Ramadlan 1435 H/2014 M itu. Sejenak kemudian, aku pun beranjak dari duduk ‘tawaruk`, ku tatap nanar langit senja dari balik jendela kaca lantai dua rumah ku. Selalu ada indah kedamaian, setiap aku melihat semburat warna merah di batas cakrawala senja yang redup perlahan-lahan, berganti dengan kegelapan. Ada sedikit penyesalan terlintas di hati, meratapi Bulan Ramadlan yang telah pergi begitu saja. Ada sedikit kegembiraan di hati, karena besok adalah hari lebaran Idul Fitri dan aku tak perlu lagi menahan lapar dahaga 20 jam setiap hari.

Tak seperti biasanya, menjelang malam itu, Ilyas-anak lelaki ku, begitu girang bukan kepalang. Berkali-kali, melompat-lompat di atas kasur, sambil mulutnya tak henti-hentinya bernyanyi riang. Seolah dia tahu hari itu adalah hari kemenangan yang patut dirayakan. Padahal, di negara ini sama sekali tidak ada euforia lebaran. Tak ada suara takbir, tak ada kue lebaran, tak ada baju lebaran, pun kami tak pernah membicarakan lebaran. Di usianya di tahun ketiga, rasanya, dia masih terlalu kecil untuk tahu apa itu hari lebaran. Entahlah, seolah hati nya yang masih bersih mampu menangkap cahaya kemenangan itu.

Semakin bertambah usia, kadar kebahagian menyambut hari raya itu semakin berkurang. Mungkin karena semakin pula bertampah dosa yang menutupi mata hati. Sehingga tak mampu melihat kilauan cahaya kemenangan itu. Teringat dahulu waktu kecil, hari raya idul fitri adalah hari paling membahagiakan dari dalam setahun. Seolah hari itu adalah puncak dari segala puncak kebahagiaan. Hari dimana bagi kami anak-anak dusun yang orang tuanya hanya mampu membelikan baju setahun sekali, akan memakai pakaian yang baru, menikmati kue hari raya, menyantap masakan terlezat sepanjang tahun, serta mendapatkan uang saku yang berlimpah dari sanak saudara. Kami pun tak mampu membendung luapan kebahagian di malam hari raya, sehingga kami pun merayakan dengan menyalakan Obor dari sebatang bambu kecil diisi minyak tanah, disumbat dengan serabut kulit buah kelapa, bertakbir mengelilingi kampung. Sungguh, kenangan masa kecil di kampung halaman yang terlalu indah untuk terlupakan.

Setelah, bermaaf-maafan lewat telepon dengan orang tua, kami mengakhiri malam itu dengan mendengarkan alunan suara takbir dari youtube. Mengiringi mata kami, yang tak mudah terpejam begitu saja.

**

lebaran_di_nottingham_2
*) Selepas Sholat Eid, di Jubilee Campus, University of Nottingam

Senin, 28 Juli 2014

Usai sholat Subuh, di hari lebaran ini, aku masih harus menjalankan tugas harian ku. Mengelap meja-meja kerja di sebuah gedung perkantoran bertingkat di salah sudut kota ini. Beruntung, supervisor kerja ku seorang Muslim, aku pun bisa selesai sebelum pukul 07.00 pagi. Setiba di rumah, aku langsung mandi sunah hari raya dan segera keluar rumah bersama anak istri menuju tempat pelaksanaan sholat Ied. Tepat pukul 07.15 pagi, kami berangkat berjalan kaki bersama keluarga Pak Peni (Mbak Yuli, Yumna, dan Izza), tetangga keluarga orang indonesia terdekat dari rumah kami, menyusuri jalanan yang biasa aku lalui setiap hari. Ya, seperti tahun sebelumnya, sholat ied tahun ini dilaksanakan di Sport Center Indoor, Kampus Jubilee, Universitas Nottingham.

Hampir 30 menit perjalanan, kami sampai di lokasi. Terlihat, para security terlihat begitu sibuk dan sigap mengatur mobil-mobil jama’ah sholat ied yang mencari lokasi parkir. Senang rasanya, berjumpa dengan saudara-saudara sesama muslim dari berbagai belahan dunia. Mereka sebagian besar berasal dari negara-negara timur tengah, india, pakistan, dan sekitarnya. Gedung indoor sport center itu pun rasanya terlalu sesak dipenuhi jamaah dan sejenak bergema dengan alunan suara takbir.

lebaran_di_nottingham_4
*) Di Depan Wollaton Park Castle, Nottingham

Usai khutbah dan sholat eid, para jamaah berhamburan keluar. Terlihat, saling bersalaman, berpelukan, bercipika-cipiki, dan saling bermaaf-maafan. “Eidl Mubarok” ! begitu, saudara muslim dari timur tengah menyapa kami. Terlihat sebagian jamaah, menggunakan pakaian muslim tradisional mereka masing-masing. Seperti kita memiliki, sarung baju koko dan peci. Mereka punya pakaian khusus yang dipakai pada hari raya. Dan, yang tidak boleh tertinggal oleh kami adalah acara foto-foto. Bahkan, seorang kawan sempat-sempatnya membawa spanduk kelompok pengajian bulanan kami untuk sesi pemotretan spesial edisi lebaran.

Usai sholat eid dan sesi pemotretan di sekitar kampus jubilee. Kami, sebagian keluarga  Muslim Indonesia di Nottingham mengadakan piknik di Wollaton Park. Sekedar bersilaturahim, berkumpul santai, dan makan-makan sebagai ucapan syukur di hari lebaran. Merekalah, pengganti keluarga kami di tanah perantauan ini. Haripun berganti begitu cepat, dan esok kita beraktivitas normal kembali.  Terimakasih ya Allah atas kenikmatan ini.

lebaran_di_nottingham_3
*) Eid Gathering, Wollaton Park

Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali ke fitrah, dan termasuk orang-orang yang beruntung. Semoga Allah menerima Ibadah kita semua selama bulan Ramadlan. Dan semoga hikmah ramadlan senantiasa membekas di hati kita, hingga Ramadlan datang kembali. Semoga keberkahan hidup selalu menyelimuti kita. Selamat Hari Raya Idul Fitri, Kawan ! Mohon sampean berkenan tulus saling memaafkan kesalahan kita.

__
**) All pictures were taken and shared by Mas Wisnu


My First Idul Fitri 1434 H in Nottingham

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….

It was Thursday (08/08/2013). It was a so special day, the day when we, all moslems around the world, celebrated what we call it Idul Fitri. The day after a full of blessing month, Ramadlan. The day, when we should be very happy. Because, God had forgiven all of our sins. This year is my first time to celebrate the Idul Fitri Eve in overseas, in the country where moeslims are minority, without family by my side. It must be so sad without them, but I have always reason to be happy and not to cry.

I felt so lucky, although we are minority,  in this country (the United Kingdom) we can practice our religious believe and celebrate our religious eve freely without any fear.  Even, they support us with excellent facilities confirming that the freedom of believing is guaranteed in this country. And it is my story of my first Idul Fitri Eve in Nottingham.

At 07.00 am,  I walked to Jubilee campus, the University of Nottingham,  for Idul Fitri prayer  along with my country mates i.e. Pak Sukirno, Pak Abdurrahman, and Arif. The idul fitri prayer was held in Sport Centre Building, in Jubilee campus. We have been provided with big enough prayer rooms by the university, but since not only students took part on the prayer, a much more spacious place was needed.  The sport centre building was the choice.

if_00

*) We were walking to Sport Centre, In Jubilee Campus, The University of Nottingham

idulfitri_nott

*) We were taking our picture in front of Jubilee Campus Entrance Gate.

There were hundreds moeslims from different nationalities living nearby The University of Nottingham flocking to the Sport Centre. It is always a great pleasure and ultimate happiness to get together with our brothers and sisters in Islam. We have different skin colour, different culture, and speak different language. But, we share the same believing that is Islam.

After the Idul fitri prayer, the Khotib (the one who diliver speech) in his speech questioning us what our contribution as Moeslim to this country (the UK), who have provide excellent support to the growth of Islam in this country? He reminded us that as a Moslim we must  take a part and contribute to develop better world, better civilization in this global community.

After the speech we said hello and “Happy Eidl Fitri Mubarrak” to each other. We Shook hand with the others while requesting for forgiveness to each other. Indeed, what a beautiful moment isn’t it?

*) With Malaysian student (Hozni) and Mas Udin

*) Muslim Brothers and Sisters from all around the world

if_01

*) Taking picture with the Khotib

if_02

*) With Indonesian Mates

if_03

*) With my Chinese Mate who asked me to take picture with me 😀

if_04

*) With my Javanese (Jombang) Mate 😀

From the sport centre, We (I, Arif, Pak Sukirno, and Pak Rahman)  Went to LiDL ( a super market) for shopping some cakes, then we caught Indigo Bus to Beeston from Jubilee Campus. We had Indonesian gathering at Mbak Dewi house to celebrate Idul Fitri. Non-Muslims Indonesians happily also joined us in this gathering.

*) Indonesian mates

Thankfully, we had a bunch of Indonesian foods there. We had rendang, opor ayam, gudeg, and the other Indonesian cuisines that really made me feel at home. I always feel gratitude to have many very nice Indonesian mates here. With them, I feel that I have new families here in Nottingham. With them, I never feel lonely. With whom, I share my problems with.

*) Pak Hadi Susanto, the a lecturer at Mathematical Sciences Department, The University of Nottingham from Lumajang, East Java, Indonesia.

From mbak Dewi house, we walked to go home. We visited Pak Sukirno/Rahman house and we had casual but interesting discussion about leadership and character based education.  We had that discussion until 09.00 PM. After that, we moved to Arif house to watch movie 5 CM together before finally we went to our own home for a tight sleep and we had a normal day by over night.

Happy Idul Fitri, Every one !