kota pekanbaru

Satu Hari di Kota Pekanbaru

… setiap kota yang baru pertama kali aku kunjungi selalu menyimpan kenangan sendiri, tak terkecuali kota Pekanbaru ini – a random thought

blog_rumah_panggung

Rumah Panggung Di Pinggir Sungai Siak, Pekanbaru Riau

Akhirnya sampai juga di kota ini. Kota Pekanbaru, salah satu pusat bangsa Melayu di bumi nusantara. Aku begitu ingin segera berkunjung di kota ini. Waktu di Inggris, banyak sekali teman-teman ku yang sedang mengambil program doktor di berbagai kota di Inggris berasal dari Universitas Riau Pekanbaru ini. Disamping teman-teman dari Universitas Muhammadiyah Solo.

Yang aku tahu rektor dari dua universitas ini begitu giat mengirimkam dosen-dosen nya untuk segera mengambil program doktor di luar negeri.  Karenanya, aku sangat yakin dua kampus ini akan menjadi salah satu kampus yang terbaik di Indonesia.

Aku datang ke kota ini niatnya jalan-jalan, yang dibalut presentasi makalah di seminar nasional teknologi informasi, komunikasi, dan industri yang diselenggarakan oleh fakultas sains dan teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Pekanbaru, Riau. Judul seminarnya sekilas seperti menarik: integrasi teknologi informasi  dan Islam. Realitanya? Ah sudahlah, orang-orang sekolahan ini suka ada-ada saja. Dan akupun tak pernah tertarik untuk membahasnya. Lebih baik kita bahas jalan-jalanya saja ya. Yang penting, dengan ikut seminar ini, aku bisa jalan-jalan gratis saja.

Aku berangkat dari bandara Juanda Surabaya pukul  enam pagi, dengan pesawat Garuda kelas ekonomi, transit ganti pesawat di Bandara Sukarno Hatta Jakarta, dan tiba di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, sekitar pukul 10 pagi. Langsung menuju hotel Pangeran, tempat seminar dan tempat ku menginap. Seminar usai di sore hari, sehingga aku bisa menghabiskan sore itu untuk jalan-jalan keliling kota.

Sekilas, kota ini tak ada bedanya dengan kota-kota lain di Indonesia. Isinya kurang lebih hampir sama. Maklum di negeri ini, kemajuan di negeri disama artikan dengan kemajuan ala kota Jakarta. Gedung-gedung tinggi perkantoran, pusat perbelanjaan, kemacetan, apalagi? tidak ada yang lebih menarik bukan?

blog_nasi_lemang

Pennjual Nasi Lemang, Menunggu Pembeli

Tetapi setidaknya ada suasana yang berbeda. Sore itu, aku berjalan menyusuri trotoar kota yang kondisinya sungguh memprihatinkan. Bukan saja tidak nyaman, tetapi penuh jebakan. Jika tidak awas, bisa terperosok ke dalam selokan lebar saluran air yang penutupnya telah hancur entah kemana tak pernah diganti. Di sepanjang jalan itu terlihat banyak sekali penjual nasi lemang. Itu lowh, nasi yang dimasak dengan cara dibakar di dalam ruas bambu. Sebatang nasi lemang hangat itu harganya Rp. 35.000.

Maksud hati, jalan-jalan sore keliling hati. Tapi rupanya sungguh sangat menyiksa. Aku lupa ini bukan kota-kota di Eropa Bung. Trotoar yang sempit dan mengundang bahaya belumlah seberapa. Yang lebih menyeramkan adalah ketika harus menyeberang jalan. Alamak, sungguh seperti mempertaruhkan nyawa saja rasanya.  Tidak ada jembatan penyeberangan, apalagi setopan penyebarangan jalan seperti kota-kota di Eropa. Sungguh, seperti kota-kota lain, kota ini sangat tidak manusiawi dengan pejalan kaki.

Akhirnya, aku menyerah saja, kembali ke hotel, setelah rasanya kehilangan separuh nyawa ketika terpaksa memberanikan menyeberang jalan di tengah-tengah padatnya kendaraan yang jalanya kencang-kencang. Sesampai di hotel, seorang teman yang asli pekanbaru, telah menunggu di lobi hotel. Membawakanku satu keresek besar oleh-oleh khas kota Pekanbaru, dan siap mengajak ku menghabiskan sore dan malam dengan mobilnya.

blog_masjid_agung_pkb

Masjid Agung, Pekanbaru

Jadilah aku akhirnya keliling kota, menikmati suasana kota dari atas mobil. Tujuan pertama adalah masjid Agung, untuk sholat maghrib jamaah. Luar biasa besar, luas, dan megah masjidnya. Kebetulan, sang teman yang seorang doktor dalam bidang struktur bangunan lulusan Universitas Birmingham, Inggris ini adalah salah satu insinyur pembangunan masjid ini.

Aku begitu terkesima dengan luas dan megahnya interior masjid ini. Tapi sayang, masjid ini jauh dari perkampungan sehingga jamaahnya hanya sedikit saja. Yang menarik lagi, rupanya ekspresi keberagamaan di masjid ini, seperti halnya masjid-masjid di tanah melayu di Malaysia, sama persis dengan ekspresi keberagamaan di masjid-masjid di Jawa Timur. Tradisi keberagamaan ala NU nya sangat kental. Setelah sholat ada wiridan berjamaah yang dibaca nyarinng. Kabarnya ini bidah lo, menurut  teman-teman yang mengklaim dirinya ahali sunah.

Setelah sholah, kami berkeliling, menyusuri sudut-sudut kota Pekanbaru. Kebetulan saat itu sepuluh hari menjelang puasa ramadlan. Ternyata di kota ini ada tradisi tahlilan giliran di rumah-rumah penduduk, yang dilanjutkan acara makan-makan bersama, selama sepuluh hari menjelang puasa. Di jalanan terlihat orang-orang pria, wanita, berduyun-duyun keluar masuk rumah habis tahlilan. Indah sekali melihatnya.

blog_sate_padang

Sate Padang Pekanbaru

Setelah puas menikmati suasana kota, kami beralih ke wisata kuliner. Aku diajak oleh sang teman ke warung martabak mesir lalu ke warung sate padang yang legendaris. Martabaknya sih biasa-biasa saja, tetapi sate padangnya yang benar-benar legendaris. Uenake rek tenanan. Apalagi disajikan dengan daun pisang dan teh anget manis. Bumbu dan dagingnya menyatu padu enak sekali.

Ada yang menarik dari deretan warung sate padang di kota Pekanbaru ini. Hampir semua penjualnya adalah orang padang atau orang Jawa, tetapi pemiliknya yang sekaligus kasirnya hampir bisa dipastikan adalah orang Cina. Tidak ada salahnya bukan? Tidak takut dagingnya tidak halal? Kalau aku sih haqul yakin saja pasti halal, kalau tidak halal pastilah warung ini tidak laku di tengah komunitas kota yang mayoritas muslim ini. Jalan-jalan malam itu ditutup dengan silaturahmi ke rumah sang kawan. Berjam-jam aku singgah hingga larut malam. Entahlah sedang ada setan apa yang menempel ditubuhku, si anak lanang sang teman begitu luengket dan akrab sekali denganku malam itu. Lalu sang teman mengantarkan ku kembali ke hotel.

blog_miesayur_pkb

Mie Sayur Pekanbaru

Ohya, ada lagi makanan super enak di Pekanbaru ini. Aku menemukanya saat sarapan pagi di hotel. Aku sampai sarapan dua kali. Ceritanya, waktu sarapan pertama vouchernya tidak diminta. Jadilah, dipakai lagi untuk sarapan kedua. Makanan itu hanya mie sayur sebenarnya. Tapi sayur dan kuahnya yang luar biasa lezat. Sayurnya adalah sayur pakis muda. Sudah lama sekali rasanya tidak makan sayur pakis muda ini. Kalau tidak salah ingat, aku terakhir kali makan sayur ini sekitar hampir 20 tahun yang lalu, waktu nyantri di pondok pesantren Blokagung, Banyuwangi. Pesantrenku dekat dengan hutan, jadi pakis muda ini dijual murah di pasar pesantren. Dulu aku memasaknya sendiri. Selain sayurnya yang istimewa, kuahnya juga istimewa. Gurihnya juara satu.

blog_teh_tarik

Teh Tarik Malaysia

Pagi, keesokan harinya aku jalan-jalan ke Pasar besar untuk membeli oleh-oleh dan jalan-jalan sebentar di Jembatan dan Pinggiran Sungai Siak yang membelah kota Pekanbaru. Berangkatnya dengan naik taksi bayar 30 ribuan. Ternyata pasar besar tidak seindah yang aku bayangkan dimana akan banyak kutemukan oleh-oleh khas Pekanbaru. Selain keripik Balado, sebagian besar oleh-oleh yang dijual adalah produk Cina dan Malaysia. Salah satu yang jadi andalan adalah Teh Tarik. Teh khas Malaysia ini adalah minuman favoritku waktu aku tinggal di negeri itu.

blog_jembatan_sungai_siak

Jembatan Sungai Siak, Pekanbaru

Kemudian aku keliling kota sebentar di sekitar salah satu jembatan sungai siak. Not bad lah. Sungainya sangat luas, meskipun tidak jernih, tetapi airnya tidak terlalu tercemar pula. Ada sebuah kapal tak bertuan bersandar di pinggir sungai. Dalam hati aku hanya bisa mbatin, sungai sebesar ini sepatutnya bisa dioptimalkan fungsinya menjadi something. Aku tiba-tiba jadi teringat kota Rotterdam, dimana sungai benar-benar dioptimalkan kemanfaatanya sebagi moda transportasi yang bisa dihandalkan. Atau kota Amsterdam, yang sungainya penuh dengan kapal wisata yang begitu diminati para turis.

Setelah beberapa jenak, aku memutuskan kembali ke hotel dengan naik Angkot. Niatnya seru-seruan naik angkot, eh ternyata dipalaki sama sopir angkot. Harganya dua kali lipat dari ongkos taksi. Haha!

 

Advertisements