Tag Archives: komarudin hidayat

Jalan-Jalan Intelektual

… semakin banyak ilmu, hidup terasa lebih ringan. Namun, jika semakin banyak jabatan, hidup terasa menjadi beban – Prof. Komaruddin Hidayat

caknur_love_old

Ilustasi : Cover Buku, Cak Nur di mata anak muda

Di negeri barat, penghujung tahun selalu ditutup dengan liburan panjang. Semua sekolah dan kampus ditutup setidaknya selama dua minggu, mulai dari menjelang natal hingga perayaan tahun baru. Demikian juga di kantor-kantor. Hampir semua karyawan mengambil jatah cuti tahunanya di penghujung tahun itu. Seperti halnya tradisi lebaran di Indonesia, dan perayaan tahun baru cina di China, sepertinya setiap bangsa di dunia ini memiliki momentum hari-hari untuk merayakan festival kehidupan ini.  Berhenti sejenak dari rutinitas hidup yang terus berulang, untuk menikmati, menghayati, dan merenungi kehidupan bersama orang-orang tercinta dalam kehidupan kita.

Tetapi, buat orang-orang perantau dari negeri beda budaya seperti kami, liburan artinya kesepian dan kesunyian. Nottingham, tempat kami melanjutkan hidup, terasa seperti kota mati yang ditinggalkan penghuninya. Apalagi, daerah sekitar kampus. Kontras dengan hari biasa yang penuh riuh, di liburan akhir tahun seperti ini terasa seperti kuburan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada agenda liburan jalan-jalan di penghujung akhir tahun ini. Suhu yang terlampau dingin, dan siang yang terlalu pendek, membuat kami agak malas untuk keluar rumah. Lebih baik kruntelan dibalik selimut, sambil melakukan hal-hal yang kami suka.

Biasanya, meskipun liburan seperti ini, saya masih memikirkan dan mengerjakan riset saya. Tetapi tidak dengan tahun ini. Entahlah, selama perjalanan studi PhD ini, apalagi, setelah tiga tahun lebih bergelut dengan riset PhD saya yang belum kelar-kelar, saya sering merasa seperti terlalu sumpek dan pengap dengan dunia saya yang terlalu sempit. Ibarat terlalu fokus mengamati akar sebuah pohon di hutan rimba, membuat saya tidak bisa melihat hutan rimba itu. Sebuah godaan dan jebakan untuk tidak fokus dan procrastination-menunda pekerjaan sebenarnya, tetapi saya selalu sangat menikmati terperangkap dalam jebakan itu. Asal tidak keterusan, hehe hehe he.

Karenanya,  saya sering mencuri waktu, yang saya habiskan untuk jalan-jalan intelektual, dengan membaca buku-buku di luar bidang saya. Kebetulan, saya orang yang betah berlama-lama membaca dari bangun tidur, hingga tidur lagi. Tidak hanya betah, tapi sangat menikmati, bahkan kecanduan jika bacaan yang saya baca itu bisa menyodok otak saya sekaligus menentramkan hati. Tak terasa, beberapa hari ini, saya sudah melahap ribuan halaman buku.

Pilihan bacaan saya kali ini jatuh pada buku-buku tiga guru bangsa kita, yaitu Mas Komar, Gus Dur, dan Cak Nur. Tiga tokoh yang oleh kelompok sebelah sering divonis liberal, antek yahudi, kafir, dan stempel negatif lainya. Tetapi tidak sedikit yang mengidolakanya. Bahkan setelah Cak Nur dan Gus Dur tiada, pemikiran-pemikiran mereka masih selalu hidup hingga sekarang. Buat saya pribadi, sangatlah tidak adil, menghakimi seseorang tetapi kita tidak pernah mau terlebih dahulu memahami. Apalagi, di jaman informasi serba instan dan cuplikan ini. Banyak tulisan ataupun ucapan yang diplintir, dimutilasi dan disebarkan untuk menjatuhkan seseorang.  Banyak orang yang karena kebencian, akhirnya memonopoli kebenaran dan lupa berkeadilan.

Membaca Tulisan Mas Komar

Sebenarnya, saya sudah membaca semua artikel dan video mas komar yang tersebar di dunia maya (lihat tulisan saya sebelumnya: disini). Tetapi, ternyata ada beberapa e-book beliau yang bisa dibaca di google books. Rasanya seperti menemukan oase di padang pasir, dan saya pun langsung keracunan. Setiap membaca tulisan beliau, saya selalu saja masih seperti kerasukan, terpesona oleh keindahan dan kedalaman kata-katanya. Tulisanya selalu memberi perspektif hidup yang berbeda. Tulisanya selalu mendamaikan jiwa. Saya selalu menyesal, kenapa tidak dari dulu-dulu, mengenal beliau. Bila nanti saya kembali ke Indonesia, buku-buku beliaulah yang akan menjadi pelipur kedukaan hidup saya nanti.

Membaca Tulisan Gus Dur

Seperti biasa, setiap kali membaca satu artikel tulisan Gus Dur saya seperti sedang membaca banyak buku. Kadang, harus saya baca berulang-ulang, karena banyak kata-kata yang terlalu canggih buat saya. Tetapi, tulisan Gus Dur selalu mencerahkan. Saya selalu kagum dengan kecerdasan dan keluasan ilmu Gus Dur yang kemudian diterangkan dengan bahasa yang menurut hemat saya sangat mudah dipahami. Kelihaian beliau memadukan pola pikir tradisional dengan pola pikir modern adalah sesuatu yang luar biasa. Demikian juga, kemampuan dalam meramu referensi islam klasik, kitab kuning, yang biasa dikaji di pesantren dengan referensi ilmu humaniora dan sosial paling mutakhir sungguh sangat mengagumkan.

Lewat tulisan Gus Dur, saya juga baru tahu, kalau Gus Dur ternyata sangat paham ilmu ekonomi, sosiologi, antropologi, ilmu politik, ilmu sejarah, hubungan internasional, sastra dengan cakupan yang sangat well-rounded,  yang pemikiranya dipengaruhi baik oleh ilmuwan Islam klasik maupun ilmuwan barat. Ditambah pergaulan Gus Dur yang sangat kosmopolit dengan tokoh-tokoh dan para pemimpin elit di seluruh belahan dunia, membuat tulisan-tulisan Gus Dur sangat-sangat berkualitas tinggi.

Dari tulisan-tulisan Gus Dur saya juga baru paham kalau sosok Gus Dur itu ternyata sangat bertolak belakang dengan citra yang ditampilkan media terutama saat beliau menjadi Presiden. Cap liberal misalnya. Sama sekali tidak muncul di tulisan beliau. Gus Dur selalu menggunakan referensi Aqluran, Hadis, kitab kuning yang tidak lain karya para ulama islam klasik, dan kaidah-kaidah fiqih, qawaidul fiqihiyah dalam setiap argumenya. Bukan argumen kebebasan berfikir kebablasan seperti yang banyak disangkakan orang.

Demikian juga kesan mencla mencle, isuk dele sore tempe alias tidak konsisten. Justru di setiap artikel Gus Dur, terlihat bahwa Gus Dur sangat-sangat konsisten dengan argumen dan pendapat yang diyakininya.  Pun, demikian dengan citra sikap otoriter beliau, di tulisan Gus Dur, kita bisa melihat bagaimana Gus Dur adalah sosok yang tidak mau memonopoli kebenaran, bahkan mengundang pendapat yang berbeda. Kebanyakan dari artikelnya, selalu diakhiri dengan sebuah pertanyaan. Yang artinya, mengundang pembaca untuk memikirkanya lebih lanjut, atau mengkritiknya, jauh dari kesan mengguruhi dan sok tahu.

Membaca Tulisan Cak Nur

Terus terang ini baru pertama kali saya membaca serius tulisan Cak Nur. Jujur, sedikit banyak saya terpengaruh oleh banyak stempel yang dicapkan pada Cak Nur sebagai dedengkotnya tokoh JIL di Indonesia. Bahkan Majelis Ulama Indonesia sendiri, mengharamkan paham yang beliau sebarkan, yaitu Pluralisme.  Saya juga tahu, bagaimana teman-teman saya di kelompok sebelah termat sangat membenci Cak Nur, Gus Dur, Ulil, dan konco-konconya. Sehingga dari dulu, saya selalu menjaga jarak dari membaca tulisan beliau. Berbeda mungkin dengan teman-teman aktivis HMI dan teman-teman mahasiwa ataupun alumni UIN/IAIN yang pastinya sudah akrab dengan pemikiran beliau.  Tetapi, benarkah Cak Nur sesesat itu? pertanyaan itu yang menyeruak di hati saya, sehingga saya pada akhirnya tak tahan untuk tidak membaca tulisan-tulisan  Cak Nur.

Kebetulan Cak Nur ini pernah satu almamater dengan saya. Sama dengan saya, Cak Nur pernah mondok di Pesantren Darul Ulum, Rejoso Peterongan Jombang.  Tapi beda generasi, beda empat dekade. Dari tulisan Cak Nur,  malah saya jadi tahu bagaimana suasana pondok jaman kyai Umar, kyai Dahlan, dan kyai Romly, yang pada saat saya mondok hanya bisa saya lihat nama-nama para kyai itu di batu nisan di pesarean pondok pesantren yang dulu sering saya ziarahi.

Saya pun belum pernah ketemu langsung dengan Cak Nur. Jarak terdekat dengan beliau adalah sekitar tahun 2000. Saat itu Cak Nur diundang memberikan ceramah di Auditorium Akademi Keperawatan Darul Ulum (sekarang Fakultas Ilmu Kesehatan, UNIPDU), dalam rangka LUSTRUM V, SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT, di pondok pesantren Darul Ulum Jombang. Itupun, saya hanya sambil lalu mendengar ceramahnya yang penuh riuh dan sepertinya menggairahkan dari luar gedung. Maklum saya bukan arek unggulan waktu itu. Selebihnya saya hanya tahu cak nur dari media.

Jujur baru sangat-sangat sedikit dari tulisan Cak Nur yang selesai saya baca. Lebih berat dari membaca tulisan Gus Dur, buat saya yang tidak punya background knowledge  bidang social sciences, membaca tulisan Cak Nur, harus lebih sering mengernyitkan dahi. Harus diulang-ulang untuk bisa memahami. Alhasil, hanya sekitar 500 an halaman yang terbaca, dari sekitar 4000 halaman buku yang saya download. Tetapi dari sedikit tulisan yang saya baca itu, saya sudah terinspirasi banyak hal dari Cak Nur.

Ternyata seorang Cak Nur, waktu sekolah PhD di University of Chicago, US, pernah dalam perjalanan panjang PhD nya selama 6 tahun itu, dalam keaddaan sulit pernah berkata:

Kalau begitu, lebih baik kita pulang saja ke Indonesia. Tidak mendapatkan gelar doktor gak apa-apa.

Sebelum akhirnya diteguhkan kembali oleh sang istri. Selama perjalanan PhD, beliau juga pernah mengalami kesulitan keuangan, karena uang beasiswa yang tidak terlalu besar, dan banyak dihabiskan Cak Nur untuk membeli buku. Sampai-sampai istrinya Cak Nur, Mbak Omi, rela nekat mengetuk pintu door to door menawarkan jasanya untuk merawat bayi maupun buruh cuci, demi bisa bertahan hidup di Chicago. Cerita ini tentu sangat meneguhkan hati saya, untuk tidak berputus asa dalam menyelesaikan PhD saya yang belum selesai juga ini.

Mengenai pemikiran Cak Nur dan stempel liberal, antek yahudi, bahkan kafir yang dialamatkan ke Cak Nur. Menurut pendapat saya, dari tulisan Cak Nur yang saya baca, itu semata-semata karena kedalaman dan keluasan ilmu Cak Nun, dan orang-orang yang memberi stempel itu, mungkin karena keterbatasan ilmunya. gagal paham dengan pemikiran-pemikiran Cak Nur yang melampaui jamanya, dan melampui daya pikir orang-orang yang malas berfikir. Semua orang yang mengenal beliau pasti akan mengakui akan kecerdasan, keluasan dan kedalaman ilmu beliau, yang membuat Cak Nur selalu terlihat kalem, ringan, di tengah arus orang-orang yang sangat keras menentangnya.

Konon koleksi buku pribadinya lebih dari 5000 buku. Penguasaanya yang mendalam pada bahasa Arab dan Bahasa Inggris, membuat beliau sangat paham ilmu-ilmu agama islam yang normatif, khazanah pemikiran ulama islam klasik di masa keemasan Islam, dan ulama Islam kontemporer. Dipadu dengan penguasaan beliau terhadap tool analysis ilmu-ilmu sosial sekuler, e.g. sosiologi, antropologi, membuat beliau mampu menjelaskan Islam secara komperehensif. Ketika orang palestina melawan Israel, mungkin Islam normatif bisa menjelaskan sebagai kebenaran melawan kebatilan. Tetapi ketika orang Islam berperang melawan orang Islam, ketika suksesi kepemimpinan setelah nabi, diwarnai dengan saling membunuh, masihkah Islam normatif mampu menjelaskanya? Itulah perlunya menggunakan tool ilmu sosiologi dan antropologi untuk menjelaskanya. Menurut Cak Nur, hanya  Tuhan lah yang memiliki kebenaran absolut, selain Tuhan tidak ada kebenaran absolut, termasuk institusi bernama Agama. Menurut Cak Nur, itulah esensi dari Agama Tauhid.

Berangkat dari pemahaman tauhid itu, Cak Nur sangat anti kejumudan atau kemandekan berfikir dalam beragama. Cak Nur sangat-sangat percaya diri, bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna, yang akan selalu sesuai fikuli zaman wal makan– di setiap tempat dan setiap waktu. Karenanya, menurut Cak Nur, teks agama harus terus di tafsirkan ulang, sehingga Islam akan selalu relevan sesuai dengan perkembangan peradaban manusia. Bahwa Alquran adalah wahyu Allah dengan kebenaran absolut tidak terbantahkan. Tetapi tafsir atas teks alquran adalah pemahaman manusia dengan kebenaran yang nisbi. Karenanya, perlu terus digali dan dikaji terus menerus.

Sekilas, pernyataan Cak Nur seperti penerjemahan Lailaha illa Allah dengan ” tiada tuhan selain Tuhan” dan juga pernyataan ” Islam Yes, Islamic Party No”  terdengar sangat kontroversial. Tetapi, kalau kita mau membaca dan memahami background knowledge dari pernyataan Cak Nur tersebut, pernyataan tersebut sebenarnya sangat logis dan mudah dipahami saja.

Semakin membaca Cak Nur, semakin saya merasa bodoh sekali. Dari sedikit tulisan Cak Nur yang sudah saya baca, saya sangat terinspirasi bahwa untuk menjadi ulama, ilmuwan, atau professor apa saja yang bisa menarik gerbong perubahan itu ilmunya harus sangat dalam dan luas, serta selalu berfikir kritikal dan terbuka. Cak Nur adalah contoh ilmuwan penarik gerbong perubahan itu. Semoga kita selalu rendah hati, untuk terus menerus mau belajar, berfikir terbuka, dan tidak terjebak pada klaim kebenaran yang nisbi.


Merenungi Nilai Kita Sebagai Manusia

… pertama saya harus selalu menjaga kejujuran, kedua seneng ilmu, seneng belajar – Prof. Komaruddin Hidayat

nilai_manusia_edit

Ilustrasi: Manusia-Manusia di Sekitar Universitas Cambridge, UK

Sahabat muda, jika sampean pergi ke mall, pusat-pusat perbelanjaan yang jumlah dari hari ke hari bak cendawan di musim hujan itu, lihatlah semuanya ada label harganya. Bahkan toilet pun ada label harganya. Yah begitulah, kurang lebih kondisi kehidupan kita belakangan yang semakin materialistis, seolah semu ada label harganya. Tidak terkecuali kita sendiri sebagai manusia, sering kali kita tidak sadar telah memberi label harga pada orang lain atau kita dilabeli harga oleh orang lain.

Ada cerita menarik dari seorang sahabat dekat saya suatu waktu di kota Bandung , Jawa Barat. Bersama sahabat lama, seorang teman tadi mampir ke sebuah warung makan yang kondang di Bandung dengan jalan kaki. Apa yang terjadi sahabat? penjual tadi begitu acuh tidak bersahabat terhadap sahabat saya dan temanya tadi, sama sekali tidak di uwongke. Tetapi, keadaan begitu berubah 180 derajat, ketika di hari berikutnya mereka berdua datang di warung sama dengan mengendarai mobil mewahnya. Penjual yang sehari sebelumnya begitu acuh, hari itu berubah menjadi sangat bersahabat, pelayananya pun sangat prima. Alamak, alangkah kerdirlnya, ternyata penjual warung makan tadi memberi nilai manusia berdasarkan naik apa dia datang ke warung makan dia.

Memang, sering kali kehidupan kita yang semakin hari semakin materialistis ini terkadang terasa sangat kejam. Kita dinilai dari apa yang menempel pada diri kita. Pakaian yang kita pakai, kendaran yang kita kendarai, jabatan, ketampanan, kecantikan, gelar akademik di depan dan belakang nama kita, dan tempelan-tempelan sosial lainya. Tetapi saya yakin, masih ada manusia baik yang tidak keblinger, yang menilai kita tidak dari sekedar yang menempel pada kita.

Hari ini, pada saat istirahat selepas sholat jumat, saya begitu tertegun mendengar komentar seorang wartawan, mengomentari sosok Profesor Komaruddin Hidayat, mantan rektor UIN Sahid, alumni pesantren yang dulunya anak desa yang miskin itu. Berikut komentarnya:

Prof. Komarudin Hidayat itu humble sekali, jadi sangat ramah. Jadi orang pintar yang ramah, karena ada orang-orang tertentu yang sebenarnya dia pandai dia baik hati tetapi memang bawaanya itu wajahnya sudah sulit tersenyum dulu, tetapi Pak Komarudin ini melayani siapa saja dengan baik kita juga sempat melihat beberapa wartawan yang minta foto dilayani satu-satu. Jadi bisa membayangkan, betapa beruntungnya bertemu dengan seorang seperti beliau pintar, baik hati, memberikan banyak inspirasi dan apa ya jauh dari apa gambaran seleb yang ngartis, jauuuh.. sekali. Beliau 180 derajat dari situ dan beliau orang yang sangat rendah hati dan mau menyentuh orang-orang bawah bahkan orang-orang seperti kami-kami ini – @Rifqi_Erlangga

Sahabat muda, alangkah indahnya mendengar nilai, atau harga yang dilabelkan pada seorang Komaruddin di atas. Seorang yang dinilai bukan dari hal-hal yang menempel pada diri beliau. Bukan dari ketampanan, kekayaan, jabatan beliau. Tetapi dinilai dari hal-hal otentik yang melekat pada diri seorang Komaruddin.

Bila kita menilai seseorang dari ketampanan atau kecantikan seseorang, lama-lama seseorang itu tak lebih dari seonggok daging yang indah untuk dipandang. Bila kita hanya dinilai karena kekayaan dan jabatan kita, maka harga kita akan jatuh seketika ketika harta dan jabatan yang sementara dan titipan itu hilang dari genggaman kita. Tetapi, ketika kita dinilai dari sesuatu yang otentik yang melekat pada diri kita, maka Insya Allah nilai tetap kita sama ketika harta dan jabatan tak lagi menempel pada diri kita. Seperti Gus Dur, yang tak ada bedanya bagaimana orang-orang menghormati beliau sebelum, ketika, dan sesudah menjabat sebagai presiden. Bahkan ketika beliau meninggal dan setelah meninggal, orang-orang tak pernah berhenti menghormati beliau. Lihat saja, makam nya yang tidak pernah sepi diziarahi ribuan orang. Alangkah mulianya orang-orang seperti Gus Dur itu.

Lalu, apa sebenarnya nilai otentik yang melekat pada kita di hadapan manusia?

Menurut Profesor Komarudin Hidayat, ada dua hal yang menyebabkan nilai manusia di hadapan manusia yang lainya. Yang pertama adalah karena ilmunya, dan yang kedua adalah karena akhlaknya. Jelas, orang-orang yang berilmu tinggi yang ilmunya bermanfaat pastinya akan dihormati dan diakui banyak orang. Terlalu banyak contohnya rasanya orang-orang seperti itu. Gus Dur dan Habibie, mungkin salah satu contohnya. Dalam Islam pun, Allah berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dan beriman dengan beberapa derajat. Tetapi, pintar saja tanpa akhlakul karimah (akhlak yang mulia) akan menjadi sia-sia. Pintar dan sangat pakar sekali dalam bidang tertentu, eh ternyata korupsi. Jatuhlah derajatnya. Pintar tapi congkak, angkuh dan sombong, ya sampean tidak punya teman. Sebaliknya, sudah pintar, tinggi ilmunya, tetapi jujur, punya integritas dan tetap rendah hati, pasti banyak sekali orang yang mencintainya.

Sahabat muda, janganlah minder dan kecil ketika sampean merasa tidak memiliki apa-apa. Jangan sedih ketika sampean ditakdirkan berasal dari keluarga yang miskin, orang desa, keturunan juga orang biasa-biasa. Karena hakikatnya kita tidak dinilai dari itu. Angkatlah nilai sampean sendir sebagai manusia dengan mencintai ilmu, seneng belajar, carilah ilmu setinggi-setingginya, jangan pernah berhenti bersemangat belajar sampai di penghujung usia kita. Walaupun proses menuntut ilmu lebih sering tidak mudah dan menyakitkan. Ingatlah, gatot kaca sebelum menjadi sakti mandraguna harus direndam di kawah candradimuka. Pendekar-pendekar sakti pun, sebelum menjadi sakti, harus melakukan topo broto dan latihan yang berat. Begitu pun sampean kalau ingin menjadi sakti.

Ingatlah Islam dulu pernah berjaya karena tradisi belajar yang luar biasa. Begitu pun dengan Bangsa Cina bisa maju sangat pesat seperti sekarang karena bangsanya yang sangat-sangat rajin belajar. Saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri, hampir semua kampus-kampus di UK disini didominasi oleh mahasiswa-mahasiswi Cina yang terkenal kegigihanya dalam belajar. Jika sampean tengah malam pergi ke perpustakaan, pada saat menjelang ujian, disana sampean akan melihat perpustakaan yang penuh oleh mahasiswa-mahasiswai yang masih serius belajar. Hanya dengan perih getir dan pahitnya menuntut ilmu lah kawan yang akan menaikkan ‘kelas’ kita.

Janganlah problem-problem kehidupan di sekitar kita dijadikan penghalang yang akan menghambat langkah kita. Tetapi jadikanlah problem-problem itu menjadi sahabat, yang dengan nya kita justru banyak belajar tentang hidup. Beruntung, saat ini kesempatan belajar yang sama telah dibuka selebar-selebarnya. Sekolah gratis, kuliah ada beasiswa bidik misi, kuliah S2 dan S3 ke luar negeri pemerintah siap membiayai. Tinggal kita mau mengambil kesempatan itu apa tidak. Tinggal kita mau mengangkat nilai kita sendiri apa tidak. Sekali lagi, angkatlah nilai diri kita dengan terus menerus semangat belajar keras, dimana dan kapan pun jua, hingga di penghabisan umur kita.

Anak Muda, jangan pernah berhenti belajar ! Boleh berhenti sekolah, tapi jangan berhenti belajar ! – Gus Mus

Semoga kita dianugerahi semangat untuk terus belajar. Semoga kita senantiasa ditambahkan ilmunya setiap saat. Semoga kita senantiasa diberi ilmu yang bermanfaat. Semoga ilmu kita menjadi ilmu-ilmu yang bermanfaat. Semoga terus dibaguskan akhlak kita. Selamat semangat belajar sahabat muda !