Tag Archives: komaruddin hidayat

Merenungi Nilai Kita Sebagai Manusia

… pertama saya harus selalu menjaga kejujuran, kedua seneng ilmu, seneng belajar – Prof. Komaruddin Hidayat

nilai_manusia_edit

Ilustrasi: Manusia-Manusia di Sekitar Universitas Cambridge, UK

Sahabat muda, jika sampean pergi ke mall, pusat-pusat perbelanjaan yang jumlah dari hari ke hari bak cendawan di musim hujan itu, lihatlah semuanya ada label harganya. Bahkan toilet pun ada label harganya. Yah begitulah, kurang lebih kondisi kehidupan kita belakangan yang semakin materialistis, seolah semu ada label harganya. Tidak terkecuali kita sendiri sebagai manusia, sering kali kita tidak sadar telah memberi label harga pada orang lain atau kita dilabeli harga oleh orang lain.

Ada cerita menarik dari seorang sahabat dekat saya suatu waktu di kota Bandung , Jawa Barat. Bersama sahabat lama, seorang teman tadi mampir ke sebuah warung makan yang kondang di Bandung dengan jalan kaki. Apa yang terjadi sahabat? penjual tadi begitu acuh tidak bersahabat terhadap sahabat saya dan temanya tadi, sama sekali tidak di uwongke. Tetapi, keadaan begitu berubah 180 derajat, ketika di hari berikutnya mereka berdua datang di warung sama dengan mengendarai mobil mewahnya. Penjual yang sehari sebelumnya begitu acuh, hari itu berubah menjadi sangat bersahabat, pelayananya pun sangat prima. Alamak, alangkah kerdirlnya, ternyata penjual warung makan tadi memberi nilai manusia berdasarkan naik apa dia datang ke warung makan dia.

Memang, sering kali kehidupan kita yang semakin hari semakin materialistis ini terkadang terasa sangat kejam. Kita dinilai dari apa yang menempel pada diri kita. Pakaian yang kita pakai, kendaran yang kita kendarai, jabatan, ketampanan, kecantikan, gelar akademik di depan dan belakang nama kita, dan tempelan-tempelan sosial lainya. Tetapi saya yakin, masih ada manusia baik yang tidak keblinger, yang menilai kita tidak dari sekedar yang menempel pada kita.

Hari ini, pada saat istirahat selepas sholat jumat, saya begitu tertegun mendengar komentar seorang wartawan, mengomentari sosok Profesor Komaruddin Hidayat, mantan rektor UIN Sahid, alumni pesantren yang dulunya anak desa yang miskin itu. Berikut komentarnya:

Prof. Komarudin Hidayat itu humble sekali, jadi sangat ramah. Jadi orang pintar yang ramah, karena ada orang-orang tertentu yang sebenarnya dia pandai dia baik hati tetapi memang bawaanya itu wajahnya sudah sulit tersenyum dulu, tetapi Pak Komarudin ini melayani siapa saja dengan baik kita juga sempat melihat beberapa wartawan yang minta foto dilayani satu-satu. Jadi bisa membayangkan, betapa beruntungnya bertemu dengan seorang seperti beliau pintar, baik hati, memberikan banyak inspirasi dan apa ya jauh dari apa gambaran seleb yang ngartis, jauuuh.. sekali. Beliau 180 derajat dari situ dan beliau orang yang sangat rendah hati dan mau menyentuh orang-orang bawah bahkan orang-orang seperti kami-kami ini – @Rifqi_Erlangga

Sahabat muda, alangkah indahnya mendengar nilai, atau harga yang dilabelkan pada seorang Komaruddin di atas. Seorang yang dinilai bukan dari hal-hal yang menempel pada diri beliau. Bukan dari ketampanan, kekayaan, jabatan beliau. Tetapi dinilai dari hal-hal otentik yang melekat pada diri seorang Komaruddin.

Bila kita menilai seseorang dari ketampanan atau kecantikan seseorang, lama-lama seseorang itu tak lebih dari seonggok daging yang indah untuk dipandang. Bila kita hanya dinilai karena kekayaan dan jabatan kita, maka harga kita akan jatuh seketika ketika harta dan jabatan yang sementara dan titipan itu hilang dari genggaman kita. Tetapi, ketika kita dinilai dari sesuatu yang otentik yang melekat pada diri kita, maka Insya Allah nilai tetap kita sama ketika harta dan jabatan tak lagi menempel pada diri kita. Seperti Gus Dur, yang tak ada bedanya bagaimana orang-orang menghormati beliau sebelum, ketika, dan sesudah menjabat sebagai presiden. Bahkan ketika beliau meninggal dan setelah meninggal, orang-orang tak pernah berhenti menghormati beliau. Lihat saja, makam nya yang tidak pernah sepi diziarahi ribuan orang. Alangkah mulianya orang-orang seperti Gus Dur itu.

Lalu, apa sebenarnya nilai otentik yang melekat pada kita di hadapan manusia?

Menurut Profesor Komarudin Hidayat, ada dua hal yang menyebabkan nilai manusia di hadapan manusia yang lainya. Yang pertama adalah karena ilmunya, dan yang kedua adalah karena akhlaknya. Jelas, orang-orang yang berilmu tinggi yang ilmunya bermanfaat pastinya akan dihormati dan diakui banyak orang. Terlalu banyak contohnya rasanya orang-orang seperti itu. Gus Dur dan Habibie, mungkin salah satu contohnya. Dalam Islam pun, Allah berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dan beriman dengan beberapa derajat. Tetapi, pintar saja tanpa akhlakul karimah (akhlak yang mulia) akan menjadi sia-sia. Pintar dan sangat pakar sekali dalam bidang tertentu, eh ternyata korupsi. Jatuhlah derajatnya. Pintar tapi congkak, angkuh dan sombong, ya sampean tidak punya teman. Sebaliknya, sudah pintar, tinggi ilmunya, tetapi jujur, punya integritas dan tetap rendah hati, pasti banyak sekali orang yang mencintainya.

Sahabat muda, janganlah minder dan kecil ketika sampean merasa tidak memiliki apa-apa. Jangan sedih ketika sampean ditakdirkan berasal dari keluarga yang miskin, orang desa, keturunan juga orang biasa-biasa. Karena hakikatnya kita tidak dinilai dari itu. Angkatlah nilai sampean sendir sebagai manusia dengan mencintai ilmu, seneng belajar, carilah ilmu setinggi-setingginya, jangan pernah berhenti bersemangat belajar sampai di penghujung usia kita. Walaupun proses menuntut ilmu lebih sering tidak mudah dan menyakitkan. Ingatlah, gatot kaca sebelum menjadi sakti mandraguna harus direndam di kawah candradimuka. Pendekar-pendekar sakti pun, sebelum menjadi sakti, harus melakukan topo broto dan latihan yang berat. Begitu pun sampean kalau ingin menjadi sakti.

Ingatlah Islam dulu pernah berjaya karena tradisi belajar yang luar biasa. Begitu pun dengan Bangsa Cina bisa maju sangat pesat seperti sekarang karena bangsanya yang sangat-sangat rajin belajar. Saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri, hampir semua kampus-kampus di UK disini didominasi oleh mahasiswa-mahasiswi Cina yang terkenal kegigihanya dalam belajar. Jika sampean tengah malam pergi ke perpustakaan, pada saat menjelang ujian, disana sampean akan melihat perpustakaan yang penuh oleh mahasiswa-mahasiswai yang masih serius belajar. Hanya dengan perih getir dan pahitnya menuntut ilmu lah kawan yang akan menaikkan ‘kelas’ kita.

Janganlah problem-problem kehidupan di sekitar kita dijadikan penghalang yang akan menghambat langkah kita. Tetapi jadikanlah problem-problem itu menjadi sahabat, yang dengan nya kita justru banyak belajar tentang hidup. Beruntung, saat ini kesempatan belajar yang sama telah dibuka selebar-selebarnya. Sekolah gratis, kuliah ada beasiswa bidik misi, kuliah S2 dan S3 ke luar negeri pemerintah siap membiayai. Tinggal kita mau mengambil kesempatan itu apa tidak. Tinggal kita mau mengangkat nilai kita sendiri apa tidak. Sekali lagi, angkatlah nilai diri kita dengan terus menerus semangat belajar keras, dimana dan kapan pun jua, hingga di penghabisan umur kita.

Anak Muda, jangan pernah berhenti belajar ! Boleh berhenti sekolah, tapi jangan berhenti belajar ! – Gus Mus

Semoga kita dianugerahi semangat untuk terus belajar. Semoga kita senantiasa ditambahkan ilmunya setiap saat. Semoga kita senantiasa diberi ilmu yang bermanfaat. Semoga ilmu kita menjadi ilmu-ilmu yang bermanfaat. Semoga terus dibaguskan akhlak kita. Selamat semangat belajar sahabat muda !


Sebungkus Tisu Gratis dan Ayat-ayat Injil

… ketika ilmu pengetahuan mampu menyingkap dan menjelaskan fenomena alam, manusia, dan kehidupan; teknologi mampu menyelesaikan dan memudahkan berbagai  permasalahan kehidupan umat manusia; seni, hiburan dan cinta mampu memenuhi kebutuhan batin mereka, serta hukum dan etika mampu membuat kehidupan menjadi aman dan nyaman. Bukan rahasia lagi, di negara-negara maju di Eropa, termasuk Inggris salah satunya, banyak Gereja  yang dulu pernah atas nama Tuhan begitu mencampuri kehidupan manusia, kini telah ditinggalkan para jamaahnya.  Seolah, ipteks telah menjadi Tuhan baru di dunia barat. Akankah  agama menjadi binasa? atau sebaliknya, agama masih memiliki seribu nyawa?

tisu_injil_a

Tisu Gratis (Tampak Depan)

Di satu malam, beberapa hari yang lalu, ketika pulang dari kampus dan membuka pintu rumah. Sepatu saya, tak sengaja menginjak sebuah benda empuk, yang ternyata sebungkus tisu. Tisu anti virus dan bakteri penangkal influenza, yang  biasa merebak ke anak-anak kecil menjelang pergantian musim gugur ke musim dingin. Saya pikir itu belanjaan istri saya yang terjatuh. Ternyata istri saya bilang bukan, dan ternyata di balik tisu itu menempel stiker  tulisan tangan dua ayat dari Bible (kitab Injil). Saya pun hanya tersenyum, karena saya dan istri sudah pasti bisa menebak darimana tisu itu berasal?

tisu_injil_b

Tisu tampak belakang (dengan 2 ayat Injil )

Lalu dari mana tisu itu sebenarnya berasal? saya bisa menebak tisu itu pasti berasal dari perempuan-perempuan tua berkulit hitam, berambut putih. Yang hampir setiap hari berkeliling dari pintu ke pintu, mengabarkan berita injil. Mengajak setiap orang yang ditemui berdiskusi tentang Tuhan, atau menyebarkan selebaran berisi berita-berita Injil, dan termasuk membagikan tisu gratis ditempeli dua ayat injil ini.

Di Inggris, dan umumnya di negara-negara eropa lainya, bukan rahasia lagi gereja banyak ditinggalkan para jamaahnya. Akibatnya, banyak gereja yang kalau diibaratkan di Indonesia ada disetiap RT itu yang sepi bahkan banyak yang beralih fungsi. Di sekitar kota Nottingham saja misalnya, banyak gereja yang dibiarkan menjadi gereja tua dibiarkan begitu saja, dimakan usia, menjadi rumah laba-laba. Sebagian lagi berubah fungsi menjadi islamic centre, bahkan ada yang menjadi Pub tempat dugem (baca: mereka berpesta pora di rumah Tuhan ). Dan sebagian masih berfungsi sebagai rumah Tuhan. Bukan rahasia lagi, sedikit sekali orang Inggris yang rajin pergi ke gereja di hari Minggu. Dari sedikit yang datang itu kebanyakan adalah justru warga pendatang, atau orang Inggris kulit hitam. Dulu, ketika masih tinggal di shared house saya pernah bertanya ke dua house mates saya yang mengaku kristen, kenapa mereka tidak pergi ke Gereja. Jawabnya, sangat sederhana: malas karena jauh. Saya tertawa saja dalam hati, lahwong ada gereja jarak beberapa rumah saja dari tempat kami  tinggal.

Bagian dari budaya barat adalah bersosialisasi dengan cara party, kumpul teman dan minum minuman berakohol, di setiap malam Minggu hingga larut malam, sehingga sangat wajar kalau minggu pagi adalah saat paling senyap dalam seminggu, karena mereka masih pada teler dan tidak sadar di kasur mereka masing-masing. Katanya, mereka hanya pergi ke gereja kalau menikah saja. Itupun, sekarang banyak yang memilih tidak menikah, dan hidup bersama sebagai life partner alias kumpul kebo, dari pada hidup bersama sebagai husband/wife. Hari natal pun, tak lebih dari even budaya (baca: arti natal yang berbeda di Inggris), yang kehilangan ruh keagamaanya.

Walaupun mereka meninggalkan gereja, bukan berarti kehidupan di dunia barat menjadi kacau balau. Bahkan justru kalau mau jujur, tata kehidupan di barat, di Inggris khususnya jauh lebih islami daripada di Indonesia khususnya, dan negara-negara Islam umumnya. Bahkan kondisi lebih islami ini sudah dikonfirmasi dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam sebuah Jurnal (How Islamic are Islamic Countries? , baca juga: Ireland ‘leads the world in Islamic values as Muslim states lag’). Karena di barat agama sudah tidak dipahami lagi sebagai sebuah ritual dan ajaran dogmatis, teteapi agama dipahami sebagai nilai kebaikan kemanusiaan yang universal, yang mereka praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendek kata, meskipun mereka tidak pernah ke gereja, tetapi mereka lebih jujur, lebih bisa dipercaya, lebih tepat waktu, lebih santun, lebih adil, lebih peduli, ketimbang orang-orang Indonesia pada umumnya, yang terkenal sangat religius.

Walaupun banyak yang meninggalkan gereja, bukan berarti agama telah mati di barat. Sebagian dari aktivis gereja masih sangat aktif mengabarkan injil dari pintu ke pintu. Bahkan di wilayah yang jelas-jelas mayoritas muslim seperti wilayah tempat kami tinggal di wialayah hyson green Nottingam ini. Menyebarkan brosur dan membagi-bagikan kitab injil gratis di antara keramaian orang di city centre.  Saya yakin ini tidak hanya ada di Kristen, di agama saya, Islam pun juga ada. Misal teman-teman saya di Jamaah Tabligh misalnya, mereka juga berdakwah dari pintu ke pintu,ke pelosok-pelosok dusun untuk mengajak orang-orang mengingat Tuhan dan memakmurkan masjid. Pun demikian saya yakin ada juga di agama lain seperti hindu, budha, dsb.

Sehingga, betul sekali apa yang pernah diungkapkan oleh Prof. Komaruddin Hidayat (Rektor, UIN Syahid Jakarta), bahwa agama tidak akan pernah mati, agama memiliki 1000 nyawa. Tak semua sisi kehidupan manusia mampu dijelaskan dan diselesaikan oleh ipteks, disitulah Agama mampu menjawabnya.

Semoga kita semakin arif dan dewasa dalam memahami agama kita !