“Those students who use tablets and computers very often tend to do worse than those who use them moderately.” – BBC (15/09/2015)

gadget
Ilustrasi: Anak dan Gadget

Pada sekolah musim panas  di sekolah bisnis, Universitas Edinburgh, Skotlandia, awal September 2015 yang lalu,  banyak sekali inspirasi yang terekam kuat dalam ingatan saya dari  yang disampaikan oleh Profesor Gilbert Laporte, dari Montreal, Kanada. Tidak hanya tentang permasalahan ‘routing’ yang saat ini banyak digunakan dalam manajemen logistik dan rantai pasok di industri. Tetapi juga hal lain di luar materi inti yang disampaikan. Salah satunya adalah tentang kehebatan para ilmuwan jaman dahulu.

Adalah Leonhard Euler (meninggal 18 September 1783), sang founding father  ‘algoritma’ permasalahan routing yang hingga detik ini menarik banyak perhatian baik para akademisi maupun pelaku industri. Yang membuat saya nggumun dan terkesima adalah produktivitas Euler yang luar biasa. Dikatakan, semasa hidupnya, sang legenda mampu menghasilkan 250 buku, 850 papers ( 800 halaman per tahun,dalam rentang waktu 1725-1783), 4500 ‘letters’ , dan ratusan manuscripts lainya (Ref: disini). Sudah barang tentu, bukan tulisan ecek-ecek ala kadarnya. Tetapi tulisan hasil penelitian yang masih dijadikan rujukan dan digunakan ilmunya hingga saat ini.

” ya, tentu saja semua ditulis tangan” kata Prof. Gilbert. Ini membuat saya tertegun, dan membatin: di jaman ketika belum ada mesin ketik dan komputer saja ada orang seproduktif itu, tidak kebayang jika Euler ini hidup di jaman sekarang, berapa banyak buku dan papers yang berhasil dia tulis. Tetapi, jangan-jangan Euler malah bisa jadi tak seproduktif  itu jika hidup di jaman sekarang? Buktinya,  di jaman sekarang ini rasanya sulit menemukan ilmuwan yang bisa menandingi produktivitas Euler.

Tidak hanya ilmuwan sekuler, dalam hazanah peradaban Islam pun, lebih dahsyat lagi. Kalau kita membaca sejarah peradaban Islam, kita mengenal Imam al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Imam Nawawi, Imam Jalaluddin as-Suyuti, Imam Ibnul Qayyim, Imam Ibnu Hajar al-Asqolani, dll. Ulama-ulama itu telah menghasilkan ratusan kitab (baca: buku), yang hingga detik ini karya-karya mereka itu masih dikaji setiap hari oleh jutaan santri di Indonesia. Padahal tentu saja, pada saat itu mereka harus menulis tangan karya-karya nya itu.

Imam Jalaluddin as-Suyuti dikabarkan telah menulis 600 jilid. Imam Ibnu Taimiyah dikabarkan telah menulis 500 jilid. Sementara Imam Abu Bakar al-Anbari telah menulis 400 jilid. (Ref: disini)

Diantara ulama yang kesohor itu juga termasuk ulama dari Indonesia, salah satunya yang kitabnya masih banyak dikaji dipesantren adalah Syeikh Nawawi Albantani (berasal dari Bantern, Indonesia). Disebutkan Syeikh nawawi ini telah menghasilkan tidak kurang dari 115 kitab (Ref: disini dan disini). Dan tentu saja kitabnya ditulis dalam bahasa arab. Selain syeikh nawawi ada juga Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Mahfudh at-Tarmisi (dari Termas, Pacitan, Jawa Timur) , dan tentu saja Kh Hasyim As’ary sebagai ulama-ulama Indonesia yang ‘go internasional‘ pada jamanya.

Subhanallah, luar biasa sekali para ilmuwan dan ulama jaman dahulu bukan. Adakah di jaman komputer dan kemudahan akses informasi melalui teknologi internet seperti sekarang ini, ulama indonesia yang bisa menulis kitab seperti Syeikh Nawawi? haruskah jutaan santri di pesantren-pesantren di Indonesia, hanya mengkaji kitab-kitab kuning klasik yang itu-itu saja. Bukankah jaman sudah berubah? tidak adakah ulama jaman sekarang yang karyanya layak untuk dikaji sebagai referensi baru oleh para kyai dan santrinya di Pesantren?

Hal menarik untuk dicari jawabanya adalah, mengapa ya ternyata, komputer dan kemudahan internet kok tidak mendorong produktivitas?

Kita yang hidup di jaman sekarang ini sendiri tentu yang bisa menjawabnya. Logika sederhananya, anak-anak sekolahan dan mahasiswa yang hidup di jaman internet dan gadget ini, tentu memiliki akses informasi dan ilmu yang lebih mudah. Karena semua informasi kini bisa diakses dari tangan mereka. Tetapi, pertanyaanya adalah apakah siswa sekolah dan mahasiswa jaman sekarang lebih hebat  dari siswa sekolah dan mahasiswa jaman dahulu?

Baru-baru ini, riset di Inggris mengungkap fakta bahwa ternyata investasi teknologi (untuk komputer, tablet, dan sejenisnya) besar-besaran di sekolah ternyata tidak membuat siswa lebih pintar. Bahkan sebaliknya. OECD‘s education director Andreas Schleicher, mengatakan: school technology had raised “too many false hopes”.  Silahkan baca fakta menarik ini disini dan disini.

Berkaca pada diri sendiri, hasil temuan ini menurut saya masuk akal. Apalagi kalau penelitian itu dilakukan di Indonesia. Dibandingkan antara dua sekolah dengan input siswa dan kualitas sekolah yang comparable. Di sekolah yang satu siswanya diperbolehkan akses gadget terkoneksi internet 24 jam, yang satunya tidak diperbolehkan membaw HP hanya bisa akses internet dari lab. komputer di sekolah, misal di sekolah di pesantren. Saya yakin ketika diadakan ujian tertutup dengan soal ujian yang sama, hasil yang diperoleh oleh sekolah yang kedua lebih bagus daripada sekolah yang pertama.

Jujur saja, kita, anak-anak remaja apalagi, kebanyakan menggunakan akses internet untuk kesenangan dan hal-hal lain yang tidak butuh otak mikir (mindless).  Bahkan ketika kita dituntut untuk mikir pun, kita sering kali menggunakan gadget untuk pengalihan. Dikit-dikit ngecek facebook, instagram, youtube.

Apalagi dengan adanya mbah google. Tambah membuat kita malas berfikir, dan mengingat. Mahasiswa calon sarjana komputer misalnya, sekarang bisa bikin program dengan mengandalkan copy paste ‘code’ dengan bantuan mbah google. Tanpa harus capek-capek,  mikir, problem solving.  Ditambah lagi, jika penilaian mata kuliah 100% hanya dinilai dari demo program yang dibuat. Jelas, semakin membuat mahasiswa malas mikir dan mengingat.  Jaman saya kuliah dulu, saya masih mengalami, UTS dan UAS mata kuliah pemrograman dengan ujian tulis closed book. Iya betul, kami harus membuat program ditulis tangan diatas kertas ujian. Kami harus hafal semua  sintak kode Java, dan tentu saja harus benar-benar mikir memeras otak ‘to solve the problem’ dalam waktu yang terbatas.

Tapi justru itulah, yang membuat problem solving skill itu begitu mendarah daging pada kami. Sampai-sampai, seorang kawan saya, pernah berkomentar: ” sebegitunya kamu menjiwai kuliah mu, sampai-sampai pola pikir mu dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, terlalu sistematis kayak baris-baris program”.

Esensi dari kazanah keilmuwan, menurut saya adalah budaya mengingat, mengamati, niteni, dan berfikir yang dalam. Nah, kalau teknologi malah justru membuat kita malas untuk mengingat, mengamati, niteni, dan berfikir yang dalam, wajar kalau malah bikin kita semakin bodoh. Bahkan beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca artikel hasil penelitian yang mengungkap bahwa ternyata terlalu banyak memfoto, bisa merusak memori otak kita (baca: disini). Masuk akal juga sih, karena kita saat ini terbiasa lebih banyak mengandalkan memori handphone, daripada memanfaatkan memori otak kita untuk mengingat fakta.

Itulah sebabnya, to some extend, saya masih setuju dengan sistem pendidikan rote system, yaitu sistem pendidikan dengan metode hafalan dan perulangan (materi pelajaran diulang-ulang),  untuk tetap dilestarikan. Meskipun banyak dikritik sebagai sistem kuno (lihat diantaranya disini, sistem tersebut masih digunakan di sekolah di Cina dan di pesantren-pesantren Indonesia. Toh dengan sistem pendidikan seperti itu, anak-anak Cina tak kalah pinter dengan orang barat. Lihat saja jumlah publikasi jurnal orang cina yang sangat dahsyat (lihat: disini), dan mahasiswa Cina yang terkenal pintar di kampus-kampus di barat.

tulisan_tangan
Catatan Riset dengan tulisan tangan saya

Sejak sekolah musim panas itu, saya coba iseng-iseng experiment pada diri saya sendiri. Jika biasanya saya 100% bekerja dengan komputer yang tergabung internet. Saya mencoba kembali menggunakan buku tulis untuk kegiatan riset PhD saya yang tentang algoritma. Jika biasanya saya langsung code and runs di editor. Saya ganti dengan berfikir yang dalam terlebih dahulu,  dengan membuat oret-oretan , rancangan algoritma, desain experiment di atas terlebih dahulu. Baru kemudian saya code dan run di editor.

Apa yang terjadi kemudian? Ternyata saya jadi kecanduan menggunakan buku tulis kembali. Saya jadi berasa jaman sekolah SD dulu, selalu menulis tanggal di atas kertas, kemudian membuat coret-coretan dengan pena itu rasanya ‘something’. Dan ternyata, saya merasa lebih produktif dan kerja saya menjadi jauh lebih efektif dengan bantuan buku tulis. Daripada kerja 100% dengan komputer. Membaca pun demikian, membaca dengan print out dan konsentrasi 100% jauh lebih efektif ketimbang membaca online ataupun membaca soft copy.

Sebaik apapun teknologi itu, tidak selalu sama dengan 100% bertambahnya kebaikan.  Ada saja celanya, yang menuntut kita untuk menggunakanya dengan bijak. Jika tidak, alih-alih menjadi lebih baik, bisa-bisa malah membawa kita ke keterpurukan. Internet adalah peluang sekaligus godaan. Jika kita tergoda, bisa jadi malah membuat kita jadi bangsa pemalas, apalagi jika terjerumus dengan bahaya pornografi misalnya. Jangan-jangan teknologi ini malah melahirkan para generasi idiot.

Semoga kita bijak dan waspada. Kembali ke poin awal, jika jaman belum ada mesin ketik, komputer dan internet saja, ulama dan ilmuwan terdahulu bisa sebegitu hebatnya. Bisakah kita pembelajar jaman sekarang, mengungguli atau setidaknya menyamai mereka? Akankah lahir kembali ulama dari Indonesia sekaliber Syekh Nawawi Albantani?

Advertisements

… jamane jaman edan,sing ora edan ora kuat melu edan. Jamane jaman edan mangan lemper dibeset metu setan -Syair Jaman Edan Cak Nun

jaman_mondok_jadul
Santri Pondok (Asrama Cordova, Pondok Induk, PP Darul Ulum Jombang, 2000)

Beberapa hari belakangan ini kata “santri” menjadi ngehits jadi wacana nasional, di media sosial khususnya. Kata ini mendadak naik kelas, dari wacana senyap orang-orang pinggiran di pelosok-pelosok desa, menjadi wacana orang-orang perkotaan. Saya yakin, ada anak-anak di kota yang bertanya-bertanya kepada bapaknya: “Santri itu apa, Pa?”. Atau kalau tidak, mereka bertanya kepada si Mbah Google. Yah, ini semua karena tanggal 22 Oktober kemaren, ditetapkan sebagai hari santri nasional.

Di dunia akademik, kata santri ini dipopulerkan oleh seorang Antropolog alumni Harvard, Clifford Geertz, dalam buku klasiknya “The Religion of Java” yang melakukan trikotomi masyarakat menjadi tiga golongan: Abangan, Santri, dan Priyayi (bisa dibaca :disini). Santri dalam interpretasi Geertz, adalah masyarakat Jawa yang keislamanya murni, taat, sesuai syariat Islam, sebaliknya abangan adalah orang yang islamnya masih ala kadarnya, e.g. tidak pernah sholat, serta keimananya masih bercampur dengan ajaran Hindu.

Tentu saja, sebagaimana nature ilmu sosial itu sendiri, dalam konteks sekarang, interpretasi Geertz ini bisa jadi sangat tidak tepat dan tidak relevan kembali. Termasuk definisi santri itu sendiri. Dalam konteks sekarang, kata santri mungkin lebih banyak digunakan untuk menyebut para pelajar yang sedang belajar di Pondok Pesantren, pesantren NU khususnya.

Apa Esensi Hari Santri Nasional?

Menurut pemahaman saya yang ala kadarnya, fakta sejarahnya, penetapan hari santri nasional ini adalah tidak lebih dari produk politik, alias sekedar alat untuk meraih kuasa. Kita pastinya belum lupa, bahwa penetapan hari santri nasional ini adalah janji politik JOKOWI waktu kampanye di Jawa Timur, untuk menarik dukungan dari pesantren-pesantren, yang berpengaruh sangat kuat pada masyarakat grass root di Jawa Timur.

Kemudian oleh PBNU ditagih, dan akhirnya ditetapkanlah tanggal 22 Oktober sebagi hari santri nasional. Tanggal 22 Oktober dipilih untuk mengingat peristiwa penting yaitu resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim As’ary. Dalam resolusi itu, sang kyai mamfatwakan bahwa melawan penjajah hukumnya adalah wajib, dan jika mati karena melawan penjajah itu akan dikategorikan sebagai mati syahid. Peristiwa resolusi jihad ini digambarkan dengan apik di Film sang Kyai (bis dilihat : disini). Hal ini jelas melukiskan bagaimana peran para kyai dan santrinya dalam perang melawan penjajah untuk merebut kemerdekaan Indonesia yang sangat luar biasa besar kontribusinya. Namun, belakangan setelah Indonesia merdeka, khususnya jaman sekarang, peran santri seolah terpinggirkan. Itulah sebabnya, momentum penetapan hari santri ini disambut penuh suka cita oleh para santri. Terlepas, hal-hal seperti ini memang tidak bisa lepas dari nuansa kepentingan-kepentingan politis.

Tetapi, setelah ditetapkan sebagai hari santri nasional so what? Apakah serta merta menaikkan martabat para Santri?

Santri di Persimpangan Jaman Edan

Memilih menjadi santri di Pesantren di jaman edan sekarang seperti saat ini memang tidaklah mudah.  Awalnya, pesantren adalah tempat mengaji ilmu agama di bawah bimbingan seorang kyai. Yang dipelajari hampir 100% ilmu akhirat. Referensi yang dijadikan rujukan biasanya adalah kitab-kitab klasik, yang di pesantren biasanya dikenal dengan Kitab Kuning. Genre kitab itu pun bermacam-macam, mulai dari tafsir Alquran, hadist, ilmu fiqih, tauhid,  hingga ilmu tasawuf. Awalnya, sistem yang digunakan adalah sistem bandongan, kyai membaca kitab yang ditulis dalam bahasa dan tulisan Arab gundul (tanpa harokat) , sementara para santri  menyimak kitab yang sama, sambil memberi makna/arti dari setiap kata kitab gundul tersebut. Atau metode sorogan, dimana setiap santri dibimbing satu persatu untuk membaca kitab. Tempat bandongan dan sorogan ini biasanya di masjid atau asrama pesantren. Lulusan dari model pesantren ini, tentu saja tidak memperoleh ijazah.

Kemudian pesantren berkembang dengan membuka sistem madrasah, yang kemudian dikenal dengan Madrasah Diniyah (Catatan: Madrasah ini berbeda dengan MI, MTs, dan MA, di bawah DEPAG). Di madrasah ini, santri belajar di kelas-kelas layaknya sekolah pada umumnya. Ada beberapa tingkatan, mulai tingkat Ula (setara SD), Wustho (setara SMP), dan ‘Ulya (setara SMA). Masing-masing tingkatan dibagi lagi menjadi level. Misalnya di Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi, Tingkat Ula terdiri dari 4 tingkatan (kelas 1 – 4), Tingkat Wustho terdiri dari 2 tingkatan (kelas 1-2), dan kelas ‘Ulya (kelas 1-2). Di sistem madrasah ini, ilmu yang dipelajari selain ilmu sebagaimana genre kitab-kitab yang dipelajari dengan sistem klasikal (bandongan dan sorogan), juga dipelajari ilmu alat atau ilmu grammatika bahasa Arab, seperti nahwu, shorof, balagoh, mantiq. Disebut ilmu alat, karena ilmu ini adalah ilmu untuk bisa membaca dan memahami kitab-kitab klasik yang ditulis dengan bahasa Arab gundul tadi. Juga ilmu falaq. Sistem pengajaran yang digunakan kebanyakan adalah dengan perulangan (di pesantren dikenal dengan Taqrar) dan hafalan (di pesantren dikenal dengan Muhafadzoh atau lalaran) atau istilah modernya disebut  ‘Rote Learning System’. Salah satu kitab yang terkenal di pesantren dan wajib di hafal adalah kitab Alfiyah Karya Ibnu Malik. Kitab ini terdiri dari 1000 nadzom (atau baris syair) yang merupakan rule grammar bahasa Arab.

Dari Madrasah Diniyah ini, santri memperoleh ijazah. Hanya saja tentu saja ijazahnya tidak diakui oleh sistem pendidikan nasional. Padahal untuk memperoleh ijazah sampai level Ula tadi misalnya, dibutuhkan waktu setidaknya 8 tahun. Dan pesantren, karena memang orientasinya akhirat, tidak pernah protes dengan masalah tidak diakuinya ijazah itu. Pengecualian, untuk beberapa pesantren, seperti pondok pesantren Gontor,  Ponorogo, ijazahnya sudah diakui setara SMA. Karena ijazahnya tidak diakui, para santri yang biasanya ijazah formalnya hanya sampai tingkat SD itu, sulit untuk mendapatkan pekerjaan formal, atau melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Lulusan dari pesantren dengan metode klasikal dan madrasah diniyah ini pada akhirnya yang beruntung akan menjadi kyai yang sukses mendirikan pondok pesantren baru, hanya saja jumlah sangat-sangat sedikit, mungkin hanya 1:1000. Kebanyakan, ya menjadi kyai kampung atau menjadi orang biasa dan bekerja di sektor-sektor informal.

Seiring jaman yang semakin materialistis, pada akhirnya membuat banyak pesantren membuka diri untuk membuka sekolah-sekolah umum, bahkan perguruan tinggi di dalam pesantren, baik yang berafilisiasi dengan Depag (misal: MI, MTs, MA, STAI), maupun Dikbud (SD, SMP, SMA/K, Universitas). Sehingga selain mengikuti sistem klasikal, dan Madrasah Diniyah, santri juga bersekolah layaknya sekolah-sekolah di luar pesantren. Dan berhak mendapatkan ijazah yang diakui oleh pemerintah. Keberadaan sekolah-sekolah umum di pesantren ini bukanya tanpa resiko. Satu sisi, bagus karena santri tidak hanya belajar ilmu agama saja, tetapi juga ilmu umum, dan setelah lulus mendapatkan ijazah yang diakui pemerintah, dan pada akhirnya bisa bekerja di sektor-sektor formal. Tetapi disisi lain, hal ini membuat santri tidak fokus belajar agama. Bahkan di beberapa pesantren, keberadaan kajian kitab kuning yang menjadi ciri khas pesantren itu, menjadi terpinggirkan. Sehingga jangan heran jika ada lulusan pesantren yang tidak bisa bahasa Arab, dan tidak bisa membaca kitab kuning.

Keberadaan sekolah umum di pesantren ini juga membuat Pesantren melakukan trade-off antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Idealnya, ya sama-sama kuat, atau dalam operation research dikenal dengan istilah Pareto Optimal. Gus Dur, mungkin adalah contoh santri yang paling ideal. Ilmu keagamaanya top, beliau bisa berbahasa Arab dan bisa memahami kitab kuning klasik, tetapi juga wawasan ilmu umumnya tak diragukan, bahkan akademisi barat pun sangat mengakui keilmuanya. Kita bisa saja mengatakan, kita tidak boleh mendikotomi ilmu agama dan umum, keduanya penting. Tetapi pada kenyataanya sangat tidak mudah.   Pesantren yang tradisinya kuat ( ngaji kitab dan madrasah diniyah nya bagus), biasanya kualitas sekolah umumnya juga ala kadarnya.  Sebaliknya, pesantren yang sekolah dan Universitas umumnya bagus, tradisi ngaji pesantrenya menjadi ala kadarnya.

Bagi santri sendiri, keberadaan sekolah/universitas umum di pesantren ini juga membuat santri tidak mudah memahami dan menghayati dua perspektif ilmu tersebut pada saat yang sama. Ilmu agama cenderung berisi kebenaran deduktif yang dogmatis. Sementara ilmu umum, adalah kebenaran empiris, berdasarkan bukti ilmiah, yang bersifat induktif. Kitab tasawuf yang umum dijadikan rujukan di pesantren seperti kitab Alhikam, dan Ihya Ulumidin, misalnya mengajarkan santri untuk ‘membenci’ dunia, memilih untuk zuhud, tidak serakah, hidup bersahaja, dan mengutamakan akhirat. Sementara ilmu umum, e.g. ilmu bisnis misalnya, mengajarkan untuk mencintai dunia, untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Demikian juga tentang relasi hubungan antara lelaki dan perempuan atau suami istri, pada kitab-kitab yang dijadikan rujukan utama di pesantren-pesantren seperti: Qurrotul ‘Uyun, dan ‘Uqud dilijain, perempuan/istri seolah menjadi subordinat lelaki atau suami. Bisa jadi apa yang menurut kitab tersebut wujud dari istri solehah, justru dianggap merendahkan kaum perempuan pada wacana keilmuan barat. Demikian juga masalah homoseksual. Jelas ini akan membuat santri yang juga mengenyam dunia Barat, seperti Ulil Absar Abdala misalnya, berada pada posisi yang dilematis.

Indeed, terkadang susah menemukan kedua kutub ilmu tersebut. Tetapi, bisa saja kita menempatkan kedua ilmu itu pada tempatnya, sesuai dawuh kanjeng nabi:

… bekerjalah untuk dunia mu seakan engkau hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhirat mu sekan esok hari engkau tiada.

Tentu saja ini tidak mudah, disinilah tantangan pesantren untuk mendamaikan keduanya, yang tentunya tidak mudah.

Keberadaan sekolah umum di pesantren-pesantren juga berdampak pada biaya di pesantren. Sebagaimana kita tahu, pesantren ini tidak dibiayai oleh pemerintah. Jika ngaji di pesantren tradisional bisa dijangkau hampir semua lapisan masyarakat akar rumput. Pesantren yang ada sekolah umumnya menjadi kian tidak terjangkau. Semakin bagus sekolah umumnya (lulusanya banyak yang diterima di PTN favorit misalnya), biasanya biayanya juga semakin mahal. Tidak heran, jika masuk pesantren sekarang juga harus mengeluarkan puluhan juta rupiah. Pada akhirnya pesantren-pesantren itu memiliki segmentasi pasar sendiri-sendiri. Tak ubahnya apa yang terjadi di bisnis, ada pesantren kelas ekonomi, bisnis, dan eksekutif.

Keputusan untuk membuka atau tidak membuka sekolah umum di jaman edan sekarang ini juga tidak mudah bagi pesantren. Pesantren yang ingin murni menjaga tradisi misalnya, dengan tidak mau membuka sekolah umum. Akan berada di posisi tidak mudah. Jika tidak membuka sekolah umum, untuk ngemani fokus mempelajari ilmu agama yang kuat, bisa berdampak kehilangan calon santri dari masyarakat yang semakin materialistis. Masyarakat yang takut, jika anaknya hanya ngaji tidak sekolah, setelah lulus mau kerja jadi apa, pasti akan berfikir berkali-kali lipat untuk memasukkan anaknya ke pesantren tradisional, atau dikenal dengan pesantren Syalaf ini.  Sebaliknya, kalau ingin memasukkan anaknya di pesantren yang sekolah umumnya bagus, orang tua harus memikirkan biaya pendidikan yang berkali-kali lipat.

Alhamdulilah meskipun pesantren murni syalaf semakin langka keberadaanya, karena calon santri yang semakin materialistis. Masih ada pesantren-pesantren besar yang hingga sampai sekarang masih bertahan dengan tradisi murni salafnya, seperti pondok pesantren sidogiri Pasuruan, dan pondok pesantren Lirboyo Kediri. Yah, memang bukanya kita percaya rejeki sudah ada yang ngatur? Rejeki tidak ditentukan oleh sekolah kita, tetapi oleh Gusti Allah ta’ala.

Santri Memaknai Jihad di Jama Sekarang

Jikalau jihad di jaman Mbah Hasyim dimaknai, perang angkat senjata melawan penjajah. Jihad dalam konteks kekinian bisa dimaknai dengan jihad melawan kebodohan, ketertinggalan, dan kebobrokan akhlak. Para santri harus giat menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun umum. Santri juga harus bangkit mengejar ketertinggalan dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang harus diakui saat ini kita sangat tertinggal dengan dunia barat. Padahal spirit untuk melakukan research itu ada pada ayat-ayat Alquran. Padahal tradisi akademik itu ada pada para ulama-ulama penulis kitab-kitab klasik yang kita pelajari di pesantren selama ini. Santri juga harus berjihad melawan kebobrokan akhlak para pemimpim kita saat ini yang kronis dihinggapi penyakit keserakahan, kemunafikan, dan hidup bermewah-mewahan, dengan semangat kesederhanaan, keikhlasan, dan spirit untuk berbagi, bukan untuk menang sendiri.  Spirit untuk berlomba-lomba untuk kebaikan bersama, bukan berlomba-lomba untuk keunggulan diri sendiri. Pada akhirnya santri dan pesantren ditunggu kontribusinya untuk menciptakan peradaban dunia yang lebih baik.

Selamat hari santri nasional !

Related Post:

Mungkin, Si Budi  akan tinggal cerita, akan tetapi budi baiknya akan dikenang oleh jutaan manusia Indonesia.

ini_budi_nuh
(Courtesy: republika.co.id)

Diantara berita-berita politik menjelang pemilihan presiden 9 Juli 2014, ada satu berita duka yang menggelitik hati saya ,yang biasanya cukup selektif memilah berita yang ‘bermutu’ di antara berita-berita ‘sampah’, untuk membacanya. Berita duka itu adalah perihal kepergian Budi dari dunia perbukuan pendidikan dasar di Indonesia. Pak Menteri Pendidikan akan ‘mematikan’ Si Budi, keluarga, dan kawan-kawanya yang sudah ‘hidup’ melegenda berpuluh-puluh tahun, menemani anak-anak Indonesia dari generasi ke generasi belajar membaca dan menulis. Innalillahi wainnailaihi rojiuun. Rest in Peace Budi ! Budi ‘dituduh’ sebagai biang kemonotonan sistem pendidikan dasar di Indonesia, dan segera akan hadir tokoh-tokoh baru Edo, Siti, dkk. yang lebih ‘segar’ bersamaan dengan datangnya mahzab pendidikan baru, bernama Kurikulum 2013. Oh, benarkah tuduhan itu?

buku_ini_budi
(Courtesy: http://blogs.phys.unpad.ac.id/sahrul/ )

Kenangan Si Budi

Siapa sih yang tidak kenal Si Budi? Anak-anak yang mengalami sekolah dasar di era 70-90 an, saya haqul yakin kenal dengan Si Budi. ‘Ini Budi’ mungkin adalah kalimat pertama yang paling banyak diucapkan oleh jutaan anak-anak Indonesia ketika pertama kali belajar membaca. Sebelum pada akhirnya menjadi anak-anak cerdas dan pintar di berbagai bidang kehidupan yang saat ini menjadi aktor-aktor utama dalam panggung besar bersama negara Indonesia raya ini.

Buat saya pribadi, Si Budi membawa ingatan saya pada bangunan terkucil di tengah-tengah sawah di dusun kami. Yah, bangunan sederhana penuh kenangan itu tidak lain adalah SD (INPRES) Negeri PLAMPANGREJO 3. Tetapi, masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan sebutan SD Inpres. Ini adalah satu di antara lima sekolah dasar negeri di kampung kami, dan menjadi yang terdekat dari rumah saya,  serta menjadi satu-satunya sekolah dasar di dusun kami, dusun Ringinpitu. Selain 5 SD negeri ini, ada satu lagi sekolah swasta di kampung kami bernama Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum yang dikelola Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) anak ranting Desa Plampangrejo. Yang letaknya cukup jauh dari rumah saya.

Masya Allah. Tiba-tiba saja saya jadi teramat rindu dengan kenangan memakai seragam merah putih di saat jaman dunia anak-anak yang begitu indah saat itu. Riuhnya anak-anak dusun menyusuri jalan setapak, galengan sawah, melintasi uwot, jembatan kayu yang menhubungkan dua bibir parit irigasi sawah, di antara hamparan tanaman padi, mendong, singkong, pisang dan rerimbunan pohon kelapa yang hijau adalah pemandangan setiap pagi hari. Dan kami pun hanya berpayung daun pisang dikala hujan deras datang di musim hujan. Seolah tak pernah ada kesedihan, yang ada hanyalah keceriaan anak-anak dusun yang begitu  menikmati dunia mereka.

Si Budi juga membuka memori ingatan saya pada sosok Pak Suroto. Sosok Guru paling sabar di dunia, yang setiap hari menemani saya di kelas 1 di sekolah itu, kelas paling ujung di sekolah kami yang berbatasan langsung dengan hamparan sawah yang luas. Iya, Pak Suroto pripun kabar panjenengan pak? Bahkan saya tidak tahu apakah beliau masih hidup atau kah sudah meninggal dunia. Kebetulan rumah beliau cukup jauh dari rumah saya, dan saya pun belum pernah tahu dimana rumah beliau karena berada di desa yang berbeda. Saya mungkin salah satu murid durhaka, dari jutaan orang-orang yang melupakan guru SD nya. Guru yang pertama mengajari kita belajar mengenal huruf, mengeja, membaca, menulis dan berhitung. KUnci-kunci pembuka semua ilmu pengetahuan. Seorang guru yang sangat telaten dan sabar mengajari kami, anak-anak dusun dengan kecerdasan yang pas-pasan dan nakal pula.

Semoga dimanapun beliau berada, selalu dalam lindungan Allah Swt. Ketulusan, kesabaran, kesederhanaan, kebersahajaan, pengabdian, semangat, perjuangan, cinta dan ilmu beliau akan selalu hidup dalam hati kami para murid-muridnya. Khusus buat guru SD kelas 1 saya, Pak Suroto, Alfaaatihah ! Saya yakin ilmu dari beliau adalah ilmu yang bermanfaat, sekaligus menjadi amal jariyah yang pahalanya akan terus dan terus mengalir meskipun jasad telah meregang nyawa.

ini_budi2
(Courtesy: http://koleksibarangdjadoel.blogspot.co.uk/)

Ada apa dengan Budi?

Sudahlah, saya simpan kembali dulu kenangan Si Budi dalam memori ingatan saya untuk dikenang, diceritakan kembali suatu saat ini. Ohya, mungkin dulu kita pernah bertanya kenapa sih dipakai nama Budi? Kenapa ndak Ahmad seperti nama saya yang artinya sangat terpuji ini. Kenapa tidak menggunakan nama-nama lain? Kenapa pula, nama Budi begitu ‘eksis’ hingga berpuluh-puluh tahun bahkan lintas generasi?

Pastinya, semua karena sesuatu alasan. Bukanlah sesuatu yang kebetulan.  Menurut hemat saya, Ada filosofi dibalik nama Budi. Ada pesan atau doa di balik nama itu. Bisa jadi, penulis buku itu sebenarnya ingin berpesan betapa penting nya memiliki budi yang baik itu penting di atas segalanya. Diatas capaian ilmu dan keterampilan ada yang jauh lebih penting yaitu Budi pekerti yang baik. Menjadi pintar menjadi percuma, ketika seseorang tidak berbudi. Iya Budi pekerti yang baik, yang tidak lain adalah pendidikan karakter yang menjadi jargon yang digembar-gemborkan oleh pemerintah melalui Kurikulum 2013.

Ada pesaing Budi bernama Zaid di Pesantren 

Sebenarnya, fenomena penggunaan nama berulang-ulang dalam lierature dunia pendidikan tidak hanya terjadi di pendidikan dasar di SD saja. Buat sampeyan yang pernah mondok di pesantren pasti kenal dengan yang namanya Zaid. Nama ini sama fenomenalnya sama Budi. Kalau budi terkenal dengan kalimat ” Ini Budi”  dan “Ini bapak budi” nya. Zaid terkenal dengan kalimat: ” Jaa a Zaidun “ (dibaca: Jaa a, wes teko, SOPO, Zaidun, Zaid  : artinya, Zaid sudah datang) dan “Doroba Zaidun Amron” (dibaca: Doroba, wes mbalang, SOPO, Zaidun, Zaid, Amron, ING, Amr  : artinya, Zaid memukul Amr) .

Di pesantren, nama zaid ini dipakai berulang-ulang di kitab-kitab (baca: literature) ilmu Nahwu dan Shorof. Dua ilmu utama, yang sering disebut ilmu alat, yang menjadi kunci untuk bisa membaca dan memahami kitab kuning. Kitab kuning adalah istilah yang digunakan untuk menyebut literatur berbahasa Arab yang ditulis dengan huruf Arab tanpa harokat. Jika anda menguasai dua ilmu ini anda dijamin bisa membaca dan memahami artinya, meskipun tertulis dalam tulisan Arab tanpa harokat. 

Nah, di kitab-kitab literature ilmu Nahwu dan Shorof  seperti kitab Jurumiyah, Imrithi, dan Alfiyah ibn malik, Nama Zaid sangatlah populer. Karena sering dipakai contoh berulang-ulang. Apakah ini juga potret kemonotonan sistem pendidikan di dunia pesantren, Pak Menteri? Bahkan, tidak saja puluhan tahun, kitab-kitab yang memuat nama Zaid ini sudah dipakai ratusan tahun yang sampai sekarang masih digunakan di pesantren-pesanten, bahkan mungkin akan terus dipakai hingga akhir dunia ini.

Lalu, apa filosofi dibalik nama Zaid?

Jujur, saya belum pernah bertanya hal ini ke kyai saya. Karena kekritisan itu sesuatu yang mungkin dianggap agak tabu di dunia pesantren. Tapi saya pernah bertanya kepada seorang Kang Santri yang lebih senior dari saya. Katanya sih, Zaid itu artinya bertambah. Jadi filosofinya, kenapa dipakai nama Zaid berulang-ulang, itu supaya ilmu kamu cepat bertambah. Haha, kedengaran tidak masuk akal memang. Tapi saya selalu memaknai sebagai Do’a dibalik sebuah nama. Biar ilmunya bertambah dan barokah. Ohya, di pesantren ada jargon yang sangat sakral di antara para santri, yaitu BAROKAH. Mungkin kalau diadakan studi analisa kata, kata barokah ini menjadi salah satu kata yang paling sering dibicarakan di pesantren. Ketika saya bertanya apa itu Barokah? belum ada seorang pun yang bisa menjelaskan dengan kata-kata dengan sangat baik. Tetapi, barokah sering diartikan “ziyadatul khoir” yaitu bertambahnya kebaikan. Tuhkan, masih ada kaitanya dengan Zaid. Hehe…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kitab Kuning (Courtesy: http://nahwusharaf.wordpress.com/)

Baiklah, Pak Menteri. Jika Si Budi harus di ‘mati’ kan, biarlah saya mengucapkan Rest In Peace buat Budi. Mungkin, Si Budi  akan tinggal cerita, akan tetapi budi baiknya akan dikenang oleh jutaan manusia Indonesia. Dan Zaid sepertinya bernasib lebih mujur dari si Budi. Tapi, siapa tahu suatu saat nanti ada yang berani ‘obrak abrik’ kurikulum pesantren dan mengkudeta Zaid dari dunia kepesantrenan. Entahlah.

Terlepas semuanya, saya ingin menghadiahkan Alfatihah buat seluruh guru, ustad, ustadzah, kyai, bu nyai, dosen saya di dunia ini, lahumul fatihah…….!

Suasana di Kota Santri, asyik senangkan hati. Tiap pagi dan sore hari muda-mudi berbusana rapi menyandang kitab suci, hilir mudik silih berganti pulang pergi mengaji. Duhai ayah ibu, berikan ijin daku untuk menuntut ilmu pergi ke rumah guru, mondok di kota santri banyak ulama kyai tumpuan orang mengaji. Mengkaji ilmu agama, bermanfaat di dunia, menuju hidup bahagia sampai di akhir masa. – Kota Santri, Nasida Ria.


Santri Sedang Mengaji Kitab Kuning (Courtesy: www.tempo.co )

Bait di awal tulisan ini adalah cuplikan lirik salah satu lagu qasidah yang di populerkan group qasidah Nasida Ria di tahun 1990 an. Duh, saya jadi ingat dan kangen  sama emak di kampung yang demen banget dengerin lagu-lagu qasidah ini dari radio setiap menjelang Adzan maghrib di kampung. Apalagi di bulan Ramadlan. Selalu menghadirkan suasana nostalgic masa kecil di kampung setiap kali mendengarkan kembali lagu qasidah ini di youtube. Apa kabar ya, para artis Nasida ria ini? Oh sayang seribu sayang, qasidah ini sepertinya sudah hilang ditelan keangkuhan zaman. Semoga saja saya keliru.

Maaf, saya tidak sedang ingin menulis tentang nasib Nasida Ria. Seperti judul dari tulisan ini, kali ini saya ingin menulis uneg-uneg saya tentang pesantren. Katanya para akademisi, pesantren adalah sebuah sub-cultural tersendiri dalam masyarakat (Entahlah, apa maksudnya? ). Sering diidentikkan sebagai tempat nya pemuda-pemuda sarungan dan pemudi-pemudi berjilbab kampungan, yang jarang terdengar dan diekspos di media bahkan cenderung terpinggirkan, kecuali kalau menjelang pemilu. Tak jarang sering diremehkan, dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang sok berpendidikan. Bahkan oleh orang-orang Islam sendiri. Pesantren ini sering dijadikan kambing hitam sebagai sarangnya Bid’ah, Kolotisme, dan biang ketidakmajuan umat Islam. Padahal, fakta sejarah mencatat pesantren-pesantren NU ini adalah institusi pendidikan tertua di Indonesia yang membangun manusia-manusia Indonesia. Khususnya para manusia-manusia pejuang-pejuang kemerdekan RI.

Suatu hari, saya sedang berada di tengah-tengah keluarga mertua saya. Kebetulan, ada salah satu keponakan yang sedang rewel yang entah kenapa tidak mau masuk sekolah. Karena kehabisan cara untuk merayu, sang ibu tiba-tiba mengancam begini: “Eh, kamu kalau ndak mau masuk sekolah, saya pondok kan kayak Mbak Fulanah ya ! “. Si anak pun terlihat ketakutan, ” ndak mau ! buk” . Dan si anak pun bergegas mau berangkat ke sekolah. Tidak hanya ketika malas sekolah, rupanya ancaman dimasukkan pesantren adalah cara paling efektif untuk membuat si Anak menurut kehendak sang Ibu. Dalam hati saya nggrundel emang nya pesantren tempat pesakitan piye? Sebagai salah satu alumni pesantren, jelas saya tidak terima pesantren dijadikan untuk menakut-menakuti bocah.

Jelas ini ada persepsi yang salah. Dan saya sangat yakin, masih banyak masyarakat yang berfikiran yang salah, bahkan berfikiran negatif terhdap pesantren. Di tulisan ini, saya ingin mencoba sedikit meluruskan. Apalagi, saat melihat karakter anak-anak muda jaman sekarang yang tergambar dari media yang sungguh sangat memprihatinkan. Pergaulan bebasnya, gaya hidup hedon nya, budaya instant nya, manja nya, dan matinya kecerdasan dan empati sosial mereka terhadap sesama. Membuat saya sangat yakin, betapa pentingnya pendidikan  ala pesantren ini.

” Pak Nuh, kalau sampean mau mencari model pendidikan karakter, sampean ndak usah bingung jauh-jauh mencari kemana kemari. Belajar saja sama pesantren-pesantren NU !”

Begitu kata Ibu Khofifah Indar Parawansa, Ketua Muslimat NU, suatu ketika ke Pak M. Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang kebetulan juga kader NU. Saya sangat-sangat setuju dengan Bu Khofifah ini. Saya rasa, pesantrenlah institusi pendidikan yang paling berhasil membentuk karakter. Sebagai orang yang pernah di pesantren, saya merasa karakter berikut cara pandang saya melihat dan memaknai hidup ini terbentuk saat di Pesantren. Untuk membentuk karakter seseorang, menurut hemat saya jelas sangat tidak cukup hanya dengan sistem pengajaran di dalam kelas sebgaimana di sekolah-sekolah umum. Tapi perlu pendidikan menyeluruh 24 jam, dan itulah yang terjadi di pesantren.

pp_darul_ulum
Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

Model Pendidikan Pesantren NU

Secara umum, ada beberapa karakteristik yang menurut saya melekat pada Pesantren, khususnya pesantren NU dan tidak ada pada institusi pendidikan lainya. Karakteristik tersebut adalah:

Figur Pak Kyai/ Bu Nyai

Sang kyai dan Bu Nyai adalah tokoh sentral di Pesantren. Mereka ibarat kurikulum hidup yang senantiasa menjadi inspirasi, panutan, dan keteladanan bagi santri. Yang dari merekalah para santri belajar kearifan dan kebajikan hidup, meneladi akhlak  Rosulullah dan sahabat nya sesuai dengan Alquran dan Hadist. Bersama para ustad dan ustadzah Pak kyai dan Bu Nyai ini memantau para santrinya selama 24 jam. Singkat kata, Akhlakul Karimah adalah kurikulum wajib yang diterapkan di pesantren. Kesederhanaan, kesabaran, dan keiikhlasan adalah sifat yang melekat pada Pak Kyai dan Bu Nyai. Yang akan selalu menginspirasi seumur hidup para santrinya.

Masjid

Masjid adalah jantungnya pesantren. Di Masjid inilah semua kegiatan religius berpusat. Setiap santri diwajibkan sholat jamaah dimasjid, kegiatan pengajian juga berpusat di masjid ini. Tahlil, Istigotsah, Manaqib, dan kegiatan Ubudiyah berpusat di masjid ini. Dari masjid inilah religiusitas, fondasi keimanan dan ketaqwaan para santri dibentuk.

Asrama Santri

Para santri tinggal bersama dengan santi lainya yang datang dari berbagai daerah dan beda budaya. Di kamar-kamar sederhana tapi penuh dengan kebersamaan. Di asrama ini para santri learning by doing yang namanya kemandirian, gotong royong, egaliter, kebersamaan, kedisiplinan, kepemimpinan, saling memahami dan menghormati, saling mengingatkan, berempati kepada orang lain. Mau tidak mau mereka tidak bisa hidup egois dan individualis di asrama ini.

Kitab Kuning

Kitab kuning adalah kitab (baca : buku) klasik karangan ulama-ulama terkenal jaman dahulu (utamanya masa kejayaan Islam) yang dipelajari dan menjadi ciri khas pesantren NU. Karena ditulis dalam bahasa Arab gundul (tanpa harokat) dan biasanya dicetak pada kertas berwarna kuning makanya biasa disebut kitab kuning. Kitab kuning ini mencakup berbagai disiplin ilmu: Tafsir, Hadist, Fiqih, Akhlak, Tasawuf, dan sebagainya. Kitab ini dibaca kata per kata dan diterangkan oleh sang kyai secara kolosal kepada puluhan, ratusan, bahkan ribuan santrinya, yang menyimak sang kyai sambil memberi makna pada kitab yang dibaca dengan huruf arab pego (bahasa jawa yang ditulis arab). Sistem ini dikenal dengan sistem Bandongan. Atau dibacakan secara personal, satu ustad/ustadzah ke satu santri secara bergantian, sistem ini dikenal dengan sistem sorogan. Dari kitab-kitab inilah sang kyai mengajarkan kearifan dan kaebajikan hidup dari ulama-ulama jaman dahulu. Bagaimana bahanya penyakit hati seperti iri, dengki, hasut, riyak atau Pedihnya siksa kubur atau dahsyat nya hari kiamat, mengerikanya neraka, dan indahnya Syurga dibahas sangat detail dari kitab-kitab kuning ini.

Madrasah/Sekolah

Di pesantren NU, ada maqalah begini: “al muhaafazhatu ‘alal qadiemis shalih wal akhdzu bil jadidiel ashlah”, yaitu melestarikan nilai-nilai tradisional yang positif, serta saat bersamaan mengapresiasi inovasi-inovasi baru yang lebih membawa maslahat besar bagi kehidupan masyarakat [1]. Jelas, pesantren tidak anti modernitas sepanjang itu membawa perubahan yang lebih baik, tetapi pesantren juga kekeh melestarikan budaya sendiri yang positif, tidak begitu saja mengadopsi  budaya orang lain, tetapi bangga dengan budaya dan kearifan lokal sendiri.

Oleh karena itulah di pesantren juga ada Madrasah atau Sekolah. Ada Madrasah Diniyah, yang memang khusus mempelajari Agama yang terdiri dari beberapa tingkat mulai, Shifir, Ula, Ustho, Ulya, dan Ma’had ‘Aly. Tidak sedikit pesantren yang membuka sekolah layaknya sekolah pemerintah di luar pesantren seperti: SD, SMP/M.Tsanawiyah, SMA/SMK/Madrasah Aliyah, bahkan Perguruan Tinggi. Dan jangan salah, banyak sekolah di pesantren yang kualitasnya lebih bagus dari sekolah di luar pesantren, seperti Pondok Pesantren Darul Ulum di Jombang, yang memiliki sekolah SMA swasta berstandar Internasional.

Disamping itu semua ada barokah do’a kyai/Bu nyai yang Insha Allah membuat barokah hidup para santrinya.

pendidikan_karakter

Jika belakangan pemerintah menggalakkan pendidikan karakter, menurut hemat saya pesantren dari dahulu secara mandiri telah berhasil menerapkanya. Pemerintah seharusnya belajar banyak dari pesantren tentang pendidikan karakter. Seperti, yang telah ditiru oleh Pemerintah Kabupaten Sragen, yang mendirikan SMP-SMA Negeri bilingual boarding School. Sekolah ini terbukti berhasil dengan prestasinya yang luar biasa, siswa-siswinya sering menjuarai olimpiade baik tingkat nasional dan internasional. Bahkan pada tahun 2012, mendapat penghargaan dari MURI  sebagai sekolah termuda dengan prestasi terbanyak [2].

Semoga, segera lahir generasi-generasi emas untuk mengubah bangsa ini, Allahumma Ammiin.

….berotak London, berhati masjidil haram (mekah)

Dulu waktu saya nyantri di Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan Jombang, ada salah satu moto, jargon, atau apalah yang saya lebih suka menyebutnya mantra ,yang sangat terkenal, yaitu : berotak london, berhati masjidil haram (Mekah). Mantra ini konon mulai populer di kalangan santri secara turun temurun dari generasi ke generasi , sejak salah satu pesantren besar dan termashur di Kabupaten Jombang ini diasuh oleh (alm) Kyai Haji Musta’in Romly (lebih merakyat dipanggil  kyai Ta’in). Kyai Tain adalah kyai karismatik yang sangat tersohor sebagai mursyid (baca: guru) thariqah (gerakan sufisme islam) dengan puluhan ribu jamaahnya pada jaman nya saat itu. Sang kyai adalah juga pendiri Universitas Darul Ulum (UNDAR) Jombang, salah satu universitas swasta Islam terbaik yang alumninya sangat disegani pada masa nya i.e.  sekitar  tahun 80-90 an.

Waktu saya di pondok Njoso (panggilan rakyat untuk pesantren ini), tahun 1999-2002, mantra ini begitu melekat di hati saya. Bagaimana tidak, mantra itu tertulis di back cover buku saku amalan harian santri i.e. istigotsah, tahlil, sholawatan, dll. yang kemana-kemana selalu saya bawa. Di pondok njoso, secara rutin setiap hari selalu diamalkan bacaan istigotsah  setiap ba’da sholat ashar dan ba’da sholat subuh. Buat saya pribadi, mantra itu melahirkan sebuah mimpi.  Diam-diam dari sekedar tulisan tanpa nyawa di back cover buku ini, mantra itu  merasuk dan terhujam kuat dalam hati saya, yang menginspirasi bagaikan ruh yang tak bertuan. Berawal dari menghayalkan indahnya kota London, salah satu simbol kejayaan peradaban manusia saat itu dan mungkin hingga kini, dan juga membayangkan betapa nikmat dan khusuknya berdoa , membasahi keringnya jiwa di tempat suci masjidil haram di kota Mekah itu. Sampai kemudian melahirkan mimpi  dan janji diri bahwa suatu saat saya harus melihat dengan mata dan kepala saya sendiri dua kota Impian tersebut. Walaupun pada saat itu, itu hanyalah sebuah hayalan kosong seorang santri miskin  kampungan belaka.

Sebenarnya, mantra itu adalah sebuah pesan dari Sang kyai untuk para santri untuk tidak mendikotomi ilmu. Kalau bicara pesantren, orang pasti berfikir bahwa pesantren itu adalah tempat belajar ilmu agama, ilmu akhirat saja. Memang ada benarnya, dulu pesantren memang identik dengan tempat orang ngaji (menkaji, red) kitab-kitab klasik (biasa disebut dengan kitab kuning) rujukan ilmu-ilmu agama Islam e.g.  fiqih, hadis, tafsir, bahasa Arab, tasawuf, dll. Pesantren yang seperti ini disebut pesantren Salaf ( jangan salah arti dengan aliran syalafi wahabi yang berbaya itu ya !! ). Pesantren seperti ini, meskipun masih ada, sudah mulai tergilas oleh angkuhnya perubahan jaman yang semakin materialistis.

Pesantren Darul Ulum, sejak dahulu sangat konsisten untuk tidak mendikotomi ilmu menjadi  Ilmu agama dan Ilmu Umum. Ilmu adalah ilmu, semuanya bersumber dari Allah. Para pendiri Darul Ulum berkeyakinan bahwa, dikotomi ilmu itu adalah taktik orang Belanda untuk membodohi umat Islam. Oleh karena itu,di pesantren ini  santri wajib belajar ilmu kedua-keduanya. Tidak boleh belajar ilmu agama atau ilmu umum saja. Pesantren Darul Ulum adalah simbol pesantren yang menggabungkan antara ilmu agama dan ilmu umum, atau dikenal dengan pesantren Khalaf (Modern, red). Tidak mengherankan jika pada akhirnya di pesantren ini berdiri sekolah-sekolah umum dari tingkat SD, SMP, SMA, SMK, hingga Perguruan Tinggi. Yang kualitasnya tidak kalah, bahkan lebih unggul dengan sekolah-sekolah umum di luar pesantren. Diantara sekolah-seklah itu, saya dulu memilih sekolah di STM Telkom Darul Ulum yang saat itu memiliki satu, yaitu Jurusan elektronika komunikasi /Informatika. Dengan alasan pada saat itu Tahun 1999, hal-hal yang berbau teknologi informasi/informatika, terdengar sangat keren sekali di telinga saya.

Mungkin bisa jadi STM Telkom Darul Ulum saat itu  adalah salah satu sekolah dengan jumlah mata pelajaran terbanyak di dunia. Bayangkan, Saat itu, saya sekolah mulai jam 07.00-16.00 setiap hari kecuali hari Jumat. Sistem pembelajaranya, diawali dari membaca Alquran selama 15 menit pertama kemudian diikuti mata pelajaran-mata pelajaran lainya. Mata pelajaran yang harus saya pelajari saat itu sangat banyak sekali, mungkin ada sekitar 35 mata pelajaran. Kenapa demikian? karena sekolah ini menggabungkan 4 kurikulum sekaligus. Pertama adalah kurikulum pesantren, dimana saya harus belajar ilmu bahasa arab modern, nahwu, sharaf, ilmu alquran, tafsir, hadist, fiqih, aqidah, baca kitab kuning, dll.

Kedua kurikulum Nasional STM Jurusan Elektronika komunikasi, ini lebih gila lagi jumlah mata pelajaranya, semua mata pelajaran SMA IPA (minus biologi) ditambah mata pelajaran kejuruan elektonika komunikasi (sama kayak Mata Kuliah Jurusan Elektronika) dimana saya harus belajar sistem digital, rangkaian elektronika, gambar teknik, teknik instalasi listrik, teknik audio video, dll. Saya sampai heran elektronika komunikasi kok ya ada mata pelajaran teknik instalasi listrik (itu kan elektro arus kuat).

Ketiga Kurikulum Informatika. Ceritanya pada tahun 1999 pemerintah belum ada SMK jurusan Teknologi Informasi seperti sekarang. Sehingga tidak ada kurikulum nasional. Tapi rupanya, kyai saya (alm) KH As’ad Umar lebih cerdas duluan menangkap perkembangan jaman, sehingga tahun 1996 memaksa mendirikan STM Telkom dengan jurusan Informatika. Dengan kurikulum lokal ini saya harus belajar bahasa pemrograman, sistem basis data, sistem informasi manajemen, teknik dan sistem komputer, sistem jaringan komputer, dll. Saya masih ingat, betapa senangnya saya saat itu bisa bikin game sederhana pakek bahasa pemorgraman Basic pada saat masih duduk di kelas 1 STM.

Kurukulum yang keempat, yang terakhir adalah Kurikulum Telekomunikasi, ini lebih sadis lagi, tidak ada kurikulum nasionalnya. Guru kami yang ngajar mata pelajaran pada kurikulum ini cuman ada dua orang. Keduanya adalah praktisi di Industri telekomunikasi. Yang pertama, adalah seorang karyawan PT Telkom, alumni STT Telkom Bandung, maaf sekali saya lupa namanya 😀 * murid kurang ajar*. Yang kedua adalah Pak Djungkung Prabowo, seorang karyawan pakarnya jaringan telekomunikasi di PT XL , alumni ITB Bandung. Dari kedua guru hebat ini saya belajar banyak tentang sistem telekomunikasi, teknik jaringan kabel, teknik switching, dll.

Keempat kurikulum ini dicampur aduk  jadi satu di sekolah kami. Jadi abis baca kitab kuning, kita belajar nyolder bikin perangkat elektronika. Habis hafalan hadist kita belajar bikin program. Semua campur aduk jadi satu. Tidak ada ilmu yang dianaktirikan. Semua ilmu sama-sama penting untuk dipelajari. Walaupun ndak kebayang juga waktu itu, betapa banyak ilmu-ilmu yang bersaing untuk  masuk dan mengendap di otak saya. Dan saya tidak pernah tahu mana dari ilmu-ilmu itu yang akan bermanfaat buat kehidupan saya selanjutnya. Selepas sekolah, jam 16.00 sore, saya harus mengejar pengajian kitab hadist jawahirul bukhori yang diselenggarakan sampai menjelang sholat maghrib. Setelah  jamaah sholat maghrib di Masjid utama pondok.

“Penderitaan” kami tidak berhenti disitu. Habis maghrib, kita wajib ngaji satu kitab kuning. Ada banyak pengajian kitab kuning, kita para santri dibebaskan memilih sesuai selera masing-masing. Saya lebih memilih ngaji kitab tafsir jalalain dan kitab minhajul abidin (kitab berat karya Imam Alghazali) dengan (alm) KH. Hannan Maksum. Kegiatan ini berlangsung hingga waktu menjelang sholat isyak.

Habis sholat isyak, masih ada lagi sekolah di Madrasah Diniah yang khusus mendalami ilmu-ilmu agama seperti fiqih, taklim mutaalim, aqidah, nahwu shorof, dll. Luar biasa berat bebanya memang, sebagai santri biasa, saya sering tertidur tanpa sadar pas ngaji habis maghrib dan sekolah di madrasah diniah malam hari .  Sehingga kitab saya banyak yang bolong-bolong belum dimaknai (biasanya sambil membaca kitab klasik berbahasa arab tanpa harokat, kita menulis artinya dalam bahasa jawa dalam tulisan pegon/arab jawi) . Tapi itulah seninya menuntut ilmu. Biar ngantuk dan tertidur, satu jam di majelis ilmu lebih utama daripada sholat sunat 1000 rakaat. Dan meskipun kita tidak pernah tau, kapan dan ilmu yang mana yang akan bermanfaat suatu saat nanti. Pokoknya yang pentinig kita pelajari semua.

Itu hanya sekelumit cerita dari cerita panjang di kehidupan pesantren yang penuh makna, yang mungkin jika dituliskan akan menjadi trilogi Novel pendingin jiwa, *hayah…*. Tetapi pada intinya, misi dari Darul Ulum adalah mencetak generasi muda yang cerdas otaknya, secerdas otak orang-orang yang membangun peradaban di kota London, Inggris. Tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga bersih, bening dan suci hatinya seperti hati orang-orang yang sedang bersujud di masjidil haram di kota Mekah, Saudi Arabia.

**

Setelah 10 tahun meninggalkan bumi perjuangan Darul Ulum. Rupanya rapalan mantra yang berubah jadi mimpi itu. Hari ini, Allah berkenan merubahnya menjadi sebuah kenyataan yang sangat indah. Ya hari ini saya melihat kota London dengan mata dan kepala saya sendiri. Seakan sukma ku berteriak kencang-kencang  “LONDON, i am coming,  ini to….. yang namanya kota London itu”. *ternyata biasa saja *

di kota itu, Kusaksikan betapa megahnya Istana Buckingham, …..

indahnya tata kota London yang dikelilingi taman-taman kota yang Cantik dan menyejukan pandangan,

gagahnya Bigbang Tower, landmark kota London itu. Serta Romantisnya suasana di sekitar sungai Thames dan menakjubkanya London eye…

. Dan lebih indah lagi tentunya , ternyata Allah memberi kesempatan saya untuk menuntut ilmu di negeri nya ratu elisabeth ini selama tiga tahun kedepan. Alhamdulilahirabbilalamin… *maka nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?*

Jika Allah sudah memperlihatkan saya pada kota pertama dalam rapalan mantra bertuah itu. Mudah-mudahan Allah, berkenan juga memperlihatkan saya pada kota kedua dalam mantra bertuah itu. Masjidil haram di Mekah.  Entah kapan, Insya Allah. Toh, Jika Allah berkehendak, apa yang dikehendakinya terjadi maka terjadilah.

* Doa itu senjatanya orang  yang beriman, jika percaya, berdoalah, dan Tuhan pasti akan mengabulkan *