Tag Archives: khofifah indar parawansa

Belajar Kearifan Hidup dari Pelosok-Pelosok Negeri

“… Jangan bilang salah atau tidak salah. Datanglah ke sana, itu lebih arif. Datang ke sana, kenali adat istiadat, dan kita akan tahu sebuah benda posisinya seperti apa. Kalau kita ingin mengenali adat culture di wilayah negeri ini, tolong jangan menggunakan kacamata Jakarta saja. Datang ke mereka, kenali mereka, sapalah mereka, baru kita akan mengenali adat culture dan tradisi setempat,” Khofifah Indar Parawansa (detik.com, 2015).

islam_di_papua_04

Ilustrasi: Seorang Muslimah Asli Warga Papua, Indonesia (Net.tv at Youtube)

Di setiap akhir pekan, ada dua hal yang hampir selalu saya lakukan di tengah waktu leyeh-leyeh memberikan hak tubuh tubuh istirahat dan pikiran untuk disegarkan dari rutinitas di hari kerja yang sepertinya ya itu-itu saja. Pertama adalah membaca tulisan-tulisan antropolog sosial Almarhum Umar Kayam yang ditulis pada akhir tahun 80-an, dan yang kedua adalah menonton channel Indonesia Bagus di youtube, punya net.tv, stasiun TV paling bermutu di Indonesia menurut saya. Mungkin karena faktor umur kali ya (padahal masih awal 30-an je), saya sudah merasa agak jeleh alias alergi dengan media sosial semacam facebook, yang isinya ya begitu-begitu saja. Isinya mung wong ‘pamer’ gaya hidup komsumtif. Situ berita online ya isinya mong begitu-begitu saja, 99% isinya mung kemriyeke wong urip nang Jakarta.

Tulisan-tulisan umar kayam, meski ditulis tahun 80-an, terasa masih sangat relevan dan sangat berbobot dengan kehidupan jaman sekarang. Bukane, sakjane dari dahulu hidup itu yo ngono-ngono iku. Seperti kata Pramoedya A.N:

hidup adalah sangat sederhana, yang hebat-hebat hanyalah tafsiranya.

Seperti, gaya tulisan umar kayam itu menyampaikan pesan secara tersirat dengan cerita-cerita sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga membuat tulisanya kaya interpretasi, dan masih sangat pas direfleksikan dalam kehidupan kekinian.

islam_di_papua_01

Ilustrasi: Komunitas Muslim di Papua Dalam Sebuah Acara Adat (netTV,youtube)

Channel Indonesia Bagus ini sangat luar biasa menurut saya. Seolah membawa saya jalan-jalan ke pelosok-pelosok negeri Indonesia. Perjalanan yang sangat mahal tentunya jika dilakukan sendiri. Tidak hanya menyuguhkan keindahan alam yang masih perawan dan esotik, acara ini juga menonjolkan sisi-sisi manusianya, lengkap dengan budaya, tradisi, dan kearifan lokal yang sungguh sangat beragam. Sungguh, acara ini membuat mata, hati, dan pikiran saya terbuka, bahwa sangat tidak arif dan bijak ketika kita sering kali mengasosiasikan Indonesia dengan Jakarta saja. Indonesia tidak boleh hanya diwakili oleh Jakarta saja.

Dari Indonesia Bagus, saya jadi banyak tahu sisi-sisi lain dari kemanusian. Seperti ternyata di pelosok papua sana ada sebuah kampung di pinggir pantai, penduduk asli Papua, yang merupakan komunitas islam. Menampilkan wajah muslim Papua dengan tradisi budayanya yang khas. Benar, begitulah seharusnya Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam.

Selain itu, ternyata banyak sekali kearifan hidup yang bisa dipelajari dari saudara-saudara kita yang berada di pelosok-pelosok negeri. Saya tidak pernah sekalipun terbesit untuk berfikir, wah kasihan terbelakang sekali ya mereka. Justru sebaliknya, dalam hati saya sering terbesit: Jangan-jangan untuk hidup bahagia dan berkelanjutan, kita sebenarnya tidak butuh kemajuan teknologi?

Bagaimana tidak,di satu pelosok negeri sana, ada sebuah tempat yang alamnya sangat cantik, udaranya segar, semua kebutuhan pangan tersedia melimpah. Semua kebutuhan gizi yang dipersyaratkan oleh orang-orang yang berpendidikan jaman sekarang semua tersedia melimpah disediakan oleh alam. Tanah yang subur memberkati penduduknya dengan tananaman pangan, tanaman obat-obaan, sayur-sayuran,buah-buahan yang beragam. Laut, danau, dan sungai menghasilkan berbagai jenis ikan, udang dan sumber mata air yang melimpah pula. Tetapi mereka tidak serakah, kearifan lokal mereka mengajarkan untuk tidak mengambil dari alam melebihi dari yang mereka butuhkan. Karena alam akan marah kepada mereka. Seorang dokter muda lulusan sebuah universitas di jawa Timur, yang ditugaskan di pelosok negeri itu merasa sangat terkagum, mengetahui bahwa meskipun Ia dokter pertama yang ditugaskan di lokasi itu, masyarakarnya sehat-sehat semua hingga di usia senja mereka, jarang sakit, serta umurnya panjang-panjang. Sangat berkebalikan dengan manusia modern di kota-kota besar, yang justru semakin banyak dan beragam jenis penyakitnya, termasuk penyakit kejiwaan.

Betapa jauh-jauh hari sebelum para akademisi, orang-orang pintar di seluruh dunia ini berkoar-koar tentang konsep dan kebijakan green technology, sustainable development. Saudara-suadara kita di pelosok negeri sana, sudah punya kearifan lokal, adat istiadat, dan budaya untuk melestarikan alam agar kehidupan terus berkelanjutan.

Satu lagi, yang dapat kita pelajari adalah bahwa values nilai-nilai kehidupan di berbagai daerah itu sangatlah beragam. Bahwa sangatlah tidak arif, mengejudge masyarakat dengan budaya yang berbeda menggunakan standard values yang kita anggap kebenaranya. Sangatlah tidak arif mengukur kehidupan masyarakat Papua dengan ukuran Jakarta, lebih-lebih mengatakan mereka terbelakang. Seperti kasus teman-teman di media sosial yang membully Mensos yang memberikan rokok ke suku dalam Jambi. Sangat benar kata Mbak Khofifah bahwa:

Jangan bilang salah atau tidak salah. Datanglah ke sana, itu lebih arif. Datang ke sana, kenali adat istiadat, dan kita akan tahu sebuah benda posisinya seperti apa. Kalau kita ingin mengenali adat culture di wilayah negeri ini, tolong jangan menggunakan kacamata Jakarta saja. Datang ke mereka, kenali mereka, sapalah mereka, baru kita akan mengenali adat culture dan tradisi setempat.

Kalo sampean ke kyai-kyai Jawa Timur, kyai-kyai Madura, kyai-kyai NU di kampung-kampung mas, memberikan rokok kepada mereka itu adalah bagian dari sebuah penghormatan. Kalaupun anda percaya bahwa rokok itu haram, karena sampean yakin rokok itu membahayakan kesehatan. Percayalah, di pelosok negeri sana, banyak yang berbeda pendapat dengan sampean. Banyak kyai-kyai yang disegani dan dihormati masyarakat yang merokok mas, dan mereka juga sehat-sehat saja. Merokok bukanlah hal tabu karena mereka memiliki value yang berbeda dengan value yang sampean yakini selama ini.

Semoga kita bisa menjadi lebih pijak, dengan berani belajar dan memahami sisi-sisi lain dari kemanusian yang berbeda dari yang biasa kita lihat. Intinya saling memahami, bukan menghakimi value orang lain dengan value yang kita yakini.


Tentang Presiden Ndeso Kerempeng dan Menteri Kerudungan

…. Selamat datang era kesederhanaan dalam sikap, ketulusan hati dalam bekerja dan RASA dalam pengabdian – @alvinadam

presiden_jokowi

Pelantikan Presiden Joko Widodo

20 Oktober 2014

Pagi itu seperti biasa, lebih dari sekedar sering, aku adalah orang yang pertama membuka pintu ruang C85. Ruang dimana sebagian besar waktu ku, aku habiskan di ruangan ini. Delapan sampai lima belas jam sehari, berkutat dengan latex, eclipse, jendela hiburan ‘chrome’ di PC ku, tumpukan buku yang sudah dipenuhi sarang laba-laba, tumpukan makalah jurnal penelitian, serta kertas ‘oret-oretan’ yang berserak dan berantakan. Yah, di ruang inilah, aku bersama teman-teman satu grup riset menghabiskan waktu bersama, untuk setidaknya 1000 hari lamanya. Tempat yang mungkin akan sangat nostalgic dan layak untuk dirindukan suatu hari di masa depan nanti.  Tempat, kawah candradimuka, yang telah membentuk ku menjadi (hopefully) seorang peneliti ilmu komputer yang mandiri.

Si Fulan, teman satu lab berkebangsaan Lebanon, menjadi orang yang paling beruntung hari itu. Karena Si Fulan berhasil menjadi orang pertama yang menyapa ku pagi itu. “Keifak , Ahmad ?” (Apa kabar, Ahmad?), sapanya seperti hari-hari biasa kepada ku pagi ini. “Congratulation, you have a new President today ! Jokowi, a very modest president, the ex mayor of Jakarta” . Aku hanya menimpali: ” How do you know him so well, Fulan ? ” Rupanya fenomena Jokowi di Indonesia menarik banyak perhatian banyak orang, tidak hanya rakyat Indonesia, tetapi juga menjadi perhatiang bangsa lain, salah satunya Si Fulan teman satu grup riset ku ini.

Iyah, hari ini, 20 Oktober 2014, biarlah sejarah mencatat Jokowi, sebagai presiden baru Indonesia. Presiden kedua yang dipilih langsung oleh rakyat Indonesia, menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) setelah 10 tahun berkuasa. Hari, ketika sebagian besar pendukung dan pengagumnya merayakanya dengan penuh euforia. Pesta Rakyat, mereka menyebutnya begitu.

Meski, pada saat proses pemilihan, aku berharap bukan Jokowi yang jadi presiden, karena aku percaya rivalnya, Prabowo memiliki kualitas kepemimpinan sebagai presiden yang lebih baik. Diam-diam aku pun menaruh harap pada Jokowi untuk Indonesia yang jauh lebih baik kedepanya.

Gus Dur, Demokrasi, dan Islam

habibie_mega_shinta

Habibie, Megawati, Shinta Nuriyah Wahid

Tak terasa, tiba-tiba mata ini menjadi sembab, menyaksikan tayangan prosesi pelantikan presiden Jokowi di youtube. Bukan retorika pidato pertama Jokowi yang membuat ku terharu dan tersentuh.  Tapi deretan para audience yang sesekali terkena shoot kamera. Menyaksikan orang-orang penting bangsa ini, berkumpul di tempat yang sama. Mereka yang sebelumnya, berseteru dalam politik, pada akhirnya semuanya mampu legowo duduk bersama-sama. Melihat, mantan Presiden Habibie, Megawati, Ibu Shinta Nuriyah Wahid- istri mendiang mantan presiden Gus Dur, dan para mantan pemimpin lainya, bisa duduk berjejer bersama, dalam suasana penuh dengan kekeluargaan, sungguh membuat mata rakyat kecil seperti aku ini sangat terharu. Tak sadar, aku pun harus menyeka air mata ku.

Di antara teman-teman sesama muslim dari berbagai negara di timur tengah, aku selalu bangga untuk mengatakan, bahwa di negara muslim terbesar di dunia ini , suksesi pergantian pemimpin dapat dilalui dengan indah, damai, dan tanpa pertumpahan darah. Bahwa, demokrasi bisa berjalan dengan baik di negeri tempat umat nabi Muhammad terbesar itu berada. Demokrasi yang membuat rakyat jelata pun bisa memimpin negeri. Tak harus dari golongan priyayi -bangsawan, atau golongan kyai-rohaniawan. Sekarang, aku baru mengerti, mengapa Gus Dur yang orang pesantren, dan bertahun-tahun mengembara menuntut ilmu di negara-negara timur tengah itu, tak pernah menginginkan negara Islam. Tapi, justru Gus Dur adalah orang Indonesia yang paling ekstrim memperjuangkan demokrasi di Indonesia. Apalagi, melihat bagaimana pertumpahan darah yang selalu menyertai pergantian pemimpin di negara-negara Timur Tengah belakangan ini. ilarruhi Gus Dur, Alfatihah…….

Bagi orang Indonesia pada umumnya dan anak-anak muda pada khusunya, setidaknya Jokowi akan merubah konotasi seorang pemimpin negeri. Bahwa ternyata presiden itu, tidak harus ‘sempurna’, sebagaimana yang melekat pada diri seorang SBY. Yang gagah nan rupawan, berwibawa dan berpendidikan tinggi, pun pandai bernyanyi dan berpuisi. Bahwa seorang yang kurus kerempeng, berwajah ndeso, dan tampil apa adanya pun bisa menjadi seorang presiden. Bahwa, ketulusan hati dan kesempurnaan batin lebih utama dari sekedar kesempurnaan fisik belaka.

Aku hanya bisa berdoa, semoga Jokowi dan semua pemimpin-pemimpin di negeri ini selalu dibuka mata hatinya, selalu diberi petunjuk oleh Allah swt.

Menteri Khofifah

Menteri Khofifah

27 Oktober 2014

Seminggu setelah euforia presiden baru, tibalah hari ini saatnya euforia para menteri baru. Di antara, 34 menteri yang ada, hanya satu yang mempu mencuri hati ku. Ya, siapa lagi kalau bukan Mbak Khofifah Indar Parawansa yang selalu saya kagumi.  Entahlah, setiap melihat wajah bersahaja-tapi-kharismatik nya, aku selalu teringat emak ku di kampung, sungguh wajah dan senyumnya mirip sekali. Emak ku yang mantan aktivis muslimat NU level desa.

Buat ku, Mbak Khofifah memang sangat istimewa. Sepanjang sejarah negeri ini, rasanya beliau lah satu-satu nya menteri yang kerudungan. Di negeri yang mayoritas muslim dan separuh penduduknya perempuan ini.

Masalah kualitas, tak perlu diragukan lagi. Kecerdasan dan pengalaman kepemimpinanya tak perlu disangsikan lagi. Pun kapabilitasnya, sebagai menteri sosial. Rasanya, sepanjang kiprahnya selama ini di Muslimat NU, tak pernah lepas dari kerja-kerja sosial. Aku sangat yakin, beliau akan mampu menjalankan amanah ini dengan sebaik-sebaiknya.

Aku sangat berharapa, Mbak Khofifah ini bisa menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan seluruh Indonesia. Khususnya, perempuan-perempuan desa, mbak-mbak fatayat, dan muslimat NU di seluruh pelosok Indonesia. Jikalau, selama ini perempuan-perempuan Indonesia mengidolakan perempuan-perempuan artis yang sebagian besar menonjolkan kecantikan wajah, kemolekan tubuh, dan kepandaian menghibur orang saja.

Rasanya, Mbak Khofifah adalah sangat patut menjadi inspirasi perempuan-perempuan Indonesia. Bahwa, perempuan yang sempurna itu bukan diukur dari tampilan fisiknya seperti pemilihan putri-putri dalam kontes-kontes kecantikan. Tapi seharusnya perempan itu dilihat dari kecerdasan, jiwa kepemimpinan, dan kiprahnya di tengah-tengah masyarakat. Cerdas, berpendidikan, sederhana dan bersahaja,  mampu memimpin, perempuan kuat dan tangguh, berani, muslimah yang tafaquh fiddin, santun, berkiprah untuk masyarakat, ibu yang sukses, NU banget lagi, semua melekat pada diri Khofifah.  Semoga banyak perempuan-perempuan muda Indonesia yang terinspirasi oleh beliau.

Mari kita memulai lembaran sejarah baru Indonesia, yang kalau boleh meminjam kata-kata Alvin Adam, era kesederhanaan dalam bersikap, ketulusan hati dalam bekerja, dan rasa dalam pengabdian. Selamat tinggal era kepura-puraan dan pencitraan. Selamat tinggal era ‘bungkus’ selamat datang era ‘isi’.  Semoga Indonesia tidak berubah, kecuali berubah menjadi lebih baik. Allahumma Ammiin.


mbak Khofifah yang saya kagumi …

…. atas nama kemanusian, jangan ada premanisme politik, seyogyanya kita menjunjung tinggi demokrasi secara bermartabat. -Khofifah I.P.

Pembawaanya sederhana, bersahaja dan bersahabat, jauh dari kesan glamour dan angkuh layak nya istri-istri pejabat dan pengusaha kaya di negeri ini. Penampilanya tak jauh berbeda dengan ibu-ibu Muslimat NU (Nahdlatul Ulama) di desa-desa  di pelosok pedalaman negeri ini. Tetapi kecerdasan dan keberanianya membuat semua sorot mata tertuju pada nya, bahkan ketika di antara anggota dewan wakil rakyat yang katanya terhormat itu. Dialah Khofifah Indar Parawansa. Srikandi NU yang tak pernah lelah menegakkan amar makruf nahi munkar  melalui ikhtiar jalur politik yang jujur dan santun. Dia yang tak pernah letih melawan kenyataan yang sudah terlanjur kronis kemudhoratanya, dan berusaha menciptakan kenyataan-kenyataan baru yang lebih baik. Dialah Mbak Khofifah, yang jalan pikiran dan sepak terjang nya sangat saya kagumi. Bahkan menjadi lentera inpirasi yang tak pernah kunjung padam.

Awal kenal dengan Mbak Khofifah

Saya kenal nama beliau sejak beliau ditunjuk sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada saat Gus Dur jadi presiden tahun 1999. Tetapi, saya baru mulai tertarik dengan figure beliau pada tahun 2000. Ceritanya, pada saat itu saya yang masih duduk di kelas 1 STM Telkom di pondok pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan Jombang. Kebetulan waktu itu sekolah kami sedang mengadakan kunjungan ke Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) – ITS sekaligus ziarah wali di Surabaya, Gresik, Lamongan, dan Tuban.

Masih terekam kuat dalam memori ingatan saya, waktu itu kami diterima langsung oleh Pak Muhammad Nuh (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), yang saat itu masih menjabat sebagai Direktur PENS ITS. Rupanya penampilan kami yang rapi dan pembawaan kami yang santun mampu mencuri hati Pak Nuh. Siswa STM sudah kadung dilabeli dengan stereotipe dunia cowok yang nakal dan “urakan”. Sementara kami, meskipun siswa STM separuh dari kami adalah siswa perempuan. Kami yang laki-laki berpakaian PDH (atas biru bawahan biru dongker) lengkap dengan papan nama di dada dan kopiah warna hitam, sementara kami yang perempuan dengan jilbab putihnya yang anggun.

Dalam sambutanya pak Nuh tak henti-hentinya memuji dan memotivasi kami. “Kalian tahu mbak Khofifah ? “ tanya Pak Nuh kepada kami di Aula PENS ITS saat itu. “iya tahu” jawab kami serempak.  ” … dari sorot tajam mata kalian, saya sangat yakin kalian adalah kader-kader NU yang akan menjadi pemimpin yang berkarakter di masa depan seperti mbak Khofifah ” lanjut beliau yang sontak diamini secara berjamaah oleh kami.

Sejak sambutan Pak Nuh pada kunjungan kami di PENS-ITS tersebut, secara diam-diam saya terus mencari tahu tentang beliau dan perlahan mulai mengidolakan beliau, mengaguminya dari Jauh.

Bolos kuliah, demi ikut kampanye nya Mbak Khofifah

Kekaguman saya pada mbak Khofifah terus berlanjut ketika saya di bangku kuliah di ITS Surabaya. Beliau juga menjadi salah satu alasan buat saya ikut bergabung dengan sahabat sahabati di PMII. Sagking ngefansnya, pernah suatu hari saya bolos kuliah untuk datang sendirian di kampanye PKB di Surabaya. Waktu itu tahun 2004, tahun kedua saya kuliah di ITS. Kebetulan waktu itu mbak Khofifah adalah ketua pemenangan pemilu 2004, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Saya sengaja bolos kuliah, pergi sendirian dengan berpindah dari angkot satu ke angkot lain serta jalan kaki untuk menuju lokasi kampanye yang belum pernah saya datangi sebelumnya.

Demi melihat dan bertemu langsung dengan sang Idola, saya rela berdesak-desakan dengan ratusan tukang becak dan becak-becaknya di depan panggung kampanye. Itulah, kali pertama saya menyaksikan secara langsung pidato kampanye mbak Khofifah yang sangat memukau. Walaupun mungkin para audiens yang kabanyakan tukang becak dan rakyat kecil surabaya itu tak mampu menangkap sepenuhnya isi dari pidato kampanye mbak Khofifah. Waktu itu, beliau ditemani teman lama beliau yang juga artis senior Dewi Yull. Dalam kampanye nya itu, beliau secara sangat berani mengkritisi sikap presiden Megawati yang terkesan kurang “tangkas” dan cenderung pendiam dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa yang krusial.

” Apakah panjenengan mau, punya presiden yang saat para TKI/TKW nya dilecehkan, cuman diam. Pulau dicaplok negara lain, diam. ……..” salah satu retorika pidato kampanye dengan gaya penyampaian beliau yang khas.

Terus Mengagumi dari Jauh

Waktu berganti dan jaman pun berubah. Nama beliau sedikit tenggelam di pentas politik nasional, apalagi setelah konflik internal PKB yang berkepanjangan. Namun, saya terus mengagumi sepak terjang beliau yang memilih berjuang melalui jalur kultural di bawah Muslimat NU. Hingga namanya muncul kembali ke permukaan pada saat beliau mencalonkan diri di detik-detik terakhir pemilihan gubernur Jawa Timur pada tahun 2008. Saya terus mengikuti dan mengagumi sepak terjang beliau, walaupun harus dari jauh. Waktu pemilu kada 2008, saya sedang menempuh kuliah master tahun kedua di Universiti Teknologi Petronas, Malaysia.  Saya salah satu orang yang paling kecewa saat itu, saat jalan beliau menuju JATIM-1 harus terhenti oleh permainan politik kotor dan tidak santun dari lawan politiknya pasangan Pakde Karwo dan Gus Ipul.

Lima tahun sudah berlalu, setelah cukup lama tenggelam, kini nama mbak Khofifah kembali muncul di media. Dan lagi-lagi, saya hanya bisa mengikuti dan mengagumi beliau dari jauh, karena saat ini saya kebetulan juga sedang sekolah PhD tahun kedua di University of Nottingham, Inggris.  Saya adalah salah satu orang yang paling antusias dengan berita tentang beliau yang kembali mencalonkan kembali sebagai Gubernur Jawa Timur pada pilkada Jatim 2013. Walaupun langkahnya sempat dijegal sebelum bertanding dengan politik “borong partai” dan “politik kasino” dan sempat dicoret dari pencalonan oleh KPUD Jatim, tetapi perjuangan dan perlawananya yang santun melalui jalur hukum membuahkan hasil yang manis yang meloloskan beliau melenggang sebagai salah satu kandidat kuat pada pemilu kada Jawa Timur yang akan diselenggarakan akhir Agustus 2013 nanti.

optimisme kami adalah optimisme yang tidak pernah padam untuk amar makruf nahi munkar. Kemungkaran-kemungkaran seperti ini harus kita lawan secara maksimal dengan cara-cara yang elegant, cara-cara yang sopan, cara-cara yang santun, dan cara-cara yang mengikuti koridor hukum yang ada. Tapi bahwa amar ma’ruf nahi munkar tidak boleh pernah berhenti. – Khofifah I.P.

Proses pencalonan mbak Khofifah yang berliku ini telah memberikan pelajaran politik dan demokrasi yang sangat berharga buat seluruh rakyat Indonesia. Bahwasanya, politik tidak selalu harus dilakukan dengan cara-cara kotor dan tidak terpuji. Tetapi politik yang jujur dan santun pun masih ada dan harus terus ditegakkan dan diperjuangkan.

Mbak Khofifah dan emak saya.

Selain jalan pikiran dan sepak terjangnya yang oh sungguh mengagumkan saya, Mbak Khofifah secara pribadi sungguh sangat khusus buat saya. Beliau memiliki banyak kesamaan dengan emak saya. Pertama, wajah dan senyuman khas nya. Sungguh wajah dan senyum nya mbak Khofifah mirip sekali dengan Ibu saya. Setiap melihat beliau di TV atau di youtube, selalau mengingatkan saya pada emak saya. Kedua, sama-sama aktivis Muslimat nya walaupun levelnya yang berbeda. Emak saya adalah aktivis Muslimat di Desa di ujung selatan Kabupaten Banyuwangi. Sejak dahulu, beliau membesarkan Muslimat NU , yang bergerilya dari dusun ke dusun dengan sepeda ontelnya, untuk beramar makruf nahi mungkar. Menebarkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Lentera Inspirasi yang tak pernah Padam

Buat saya pribadi, mbak Khofifah adalah inspirasi saya untuk Berani. Saat ini banyak orang yang cerdas dan pintar, tetapi sedikit sekali yang jujur dan santun. Dan di antara yang cerdas, pintar, jujur dan santun itu tak banyak yang berani. Bahkan banyak di antara mereka yang pada akhirnya harus tunduk pada kenyataan dan tenggelam di dalamnya. Mbak Khofifah buat saya adalah inspirasi untuk berani karena benar, dimana pun saya berada suatu saat nanti. Seperti nasehat Gus Dur pada pak Mahfud MD dan anak-anak ideologisnya:

Kalau mau melakukan perubahan jangan tunduk pada kenyataan, tetapi lawan itu kenyataan kalau anda yakin itu benar, dan kita harus membuat kenyataan baru.

Terima kasih mbak Khofifah sudah menjadi Inspirasi buat kami. Selamat berjuang Mbak Khofifah ! Semoga bisa membawa Jawa Timur menjadi lebih Berkah ! Akmi merindukan pemimpin yang cerdas, jujur, santun, dan berani seperti mu. Insya Allah jika Allah berkendak, enkau mampu mewujudkan Jawa Timur dan Indonesia yang lebih baik. Baldatun Toyibun Warabbun Ghoffur, Allahumma Ammiin.

Picture taken from: