Pecut : Ayo Gek Ndang Lulus !

“Pegangan yang erat ya..! Kita akan ngebut melewati padang pasir itu. Kalau kita berhenti di tengah akan bahaya, bisa ambles ke pasir. OK, SIAP ?” – Pak Agus Z.A

pak_agus_semangat

Status FB Pak Dekan ku 🙂

Status Facebook pak dekan saya hari ini seperti pecut buat diriku. Seperti biasa, status beliau selalu inspiratif dan menusuk. Seperti status FB beliau di atas ini benar-benar kayak pecut buat diriku yang sudah hampir 2.5 tahun PhD tapi masih nyantai-nyantai sakenak udele dewe. Ritme kerja saya masih klemar klemer kayak macan luwe. Semangat untuk cepet lulus juga masih senin kamis.

Kultur di Inggris memang berbeda dengan di Jepang dimana beliau menyelesaikan PhD nya, yang terkenal gila kerja, serba cepat, dan cak cek cak cek. Saya tahu betul bagaimana culture kerja orang Jepang itu begitu mendarah daging pada diri beliau. Ritme kerjanya benar-benar cepat, efisien, dan luar biasa !

Jujur, saya dari dulu menghindari Jepang dan Korea sebagai tempat tujuan belajar, karena menurut saya orang Jepang dan Korea itu kurang humanis, bahkan sangat robotis. Sebaliknya, Inggris, dari dulu saya pilih karena menurut saya ini adalah bangsa yang sangat humanis.

Ternyata benar, culture kerja orang Inggris adalah mengedepankan keseimbangan antara work and life.  Waktunya kerja ya kerja, waktunya istirahat ya istirahat, waktunya senang-senang ya senang-senang. Jarang sekali orang Inggris itu yang ngelembur-ngelembur. Sekolah saja banyak sekali liburnya, setiap enam minggu sekolah, libur 2 minggu. Bahkan kalau musim panas, liburnya sampai dua bulan. Tapi anehnya, orang Inggris ini kok ya bisa leading hampir di semua bidang kehidupan ya? Pusatnya Iptek, olahraga, musik, fashion, ekonomi ? Rasanya negara ini sangat leading.

Tapi setelah saya fikir, untuk tipikal orang Jawa seperti ini, seperti filosofi tulisan jawa kalau dipangku mati, kalau tidak dipecuti, kalau tidak digencet ya ndak jalan. Berbeda dengan orang British yang tingkat kesadaranya sangat tinggi. Kalau sudah ketemu passion mereka, mereka akan sangat-sangat serius menekuni passion tersebut.

Bismillah, matur nuwun Pak Agus, hari ini panjenengan mengingatkan saya untuk ngebut segera menyelesaikan kuliah S3 saya. Semoga saya bisa mengikuti jejak panjenengan, lulus sesegera mungkin. Allahumma Ammiin !

Kerja Keras: harga Mati kalau mau sukses

Kerja keras itu memaksakandiri tetap bekerja walaupun badan sudah lelah, kerja keras itu memaksakan diri untuk masih terus terjaga meskipun mata sudah terasa berat, kerja keras itu memaksa tetap lanjut walaupun sudah merasa bosan, kerja keras itu tidak megenal kata lelah dan menyerah.

Hari itu adalah hari kedua, minggu pertama, semester pertama (autumn), tahun akademik baru 2013/14 di Universitas Nottingham. Jam 9 pagi, yang terasa masih sangat pagi karena di musim  autumn, saya ikut kuliah Analisa Algoritma dan Struktur Data yang diajar oleh dosen pembimbing PhD saya. Ini adalah mata kuliah paling seram dan horor menurut saya. Karena dari sejak jaman kuliah S1 sampai sekarang saya ndak mudeng-mudeng dengan mata kuliah ini. Entah mata kuliah nya yang teramat susah, atau otak saya yang teramat bodoh. Kuliah ini diikuti sekitar 200 mahasiswa di sebuah teater yang sangat luas dan nyaman seperti bioskop. Dan dari sekian banyak mahasiswa itu, saya hanya melihat 4 mahasiswi. Sebuah kelas yang sangat maskulin dan macho sekali. Mungkin karena mata kuliah ini membutuhkan ketajaman berfikir logis, sehingga tidak dinimati perempuan. Konon katanya perempuan lebih banyak bekerja dengan perasaan dari pada pikiran mereka.

Setelah kuliah yang hanya 50 menit itu, saya menemani seorang mahasiswa baru dari Indonesia yang sedang mengambil master dalam bidang kebijakan publik pergi ke perpustakaan George Green, salah satu dari banyak perpustakaan Universitas Nottingham. Sambil menunggu sang teman menyelesaikan urusanya, saya mencari-cari buku tentang decision theory. Tak lama setalah nungging-nungging di antara rak-rak buku yang jumlahnya ribuan itu, saya menemukan 3 buku yang saya cari. Untuk membaca buku-buku tersebut, saya mojok di zona belajar yang berada dalam perpustakaan. Terdapat deretan meja dan kursi yang dikondisikan sunyi senyap khusus untuk membaca, bukan tempat untuk berdiskusi. Meskipun masih minggu pertama, rupanya tempat itu sudah penuh dengan mahasiswa yang sedang belajar. Untuk masih ada satu kursi tersisa di pojok paling belakang.

Tepat di depan saya, yang hanya berjarak 1 meter berhadapan saya, duduk seorang mahasiswi cina yang sedang asyik dengan buku tebalnya. Dari buku yang sedang dia baca, sepertinya dia mahasiswi jurusan teknik kimia. Badanya gemuk, pipinya cubby kayak bakpao. Kacamatanya lebar dan bulat, dengan frame tebal warna hitam. Rambutnya pendek, dengan bando warna hitam dipakai tepat diatas kepalanya. Wajahnya sekilas kayak cewek culun binti nerd binti genius. Dia terlihat sedang membuat catatan-catatan dengan pena dan penggaris di atas buku catatan nya dari buku tebal yang sedang dia baca. Meskipun, baru hari kedua di minggu pertama kuliah, sepertinya dia sudah berada di halaman-halaman terakhir dari buku tersebut. Saya jadi memperhatikan mahasiswi itu, ketimbang membaca buku yang akan saya baca.

Mahasiswi tersebut mengingatkan saya pada cerita Prof. Yohanes surya ketika beliau sedang menyelesaikan S3 nya di Amerika. Beliau yang merasa sudah sangat bekerja keras dan mengaku hanya tidur maksimal 3 jam perhari ketika belajar di amerika itu ternyata masih ada yang bekerja lebih keras, yaitu mahasiswa-mahasiswa Cina. Diceritakan sama Prof Yohanes, setiap  jam 11 malam ketika beliau mau pulang meninggalkan perpustakaan, mahasiswa-mahasiswa cina itu masih berada disitu. Dan setiap jam 7 pagi, ketika beliau datang di perpustakaan, mahasiswa-mahasiswa cina itu sudah berada duluan di tempat itu.

Dari buku novel Habibie dan Ainun, saya juga tahu ternyata Habibie yang genius itu juga sangat-sangat bekerja keras ketika menyelesaikan kuliah S3 nya. Berangkat pagi-pagi, pulang telah larut malam, hingga hanya satu sampai dua jam saja beliau tidur. Bahkan harus mengorbankan waktu untuk istri dan anak-anak beliau. Mahasiswi Cina, Prof. Yohanes, dan Habibie menyadarkan saya bahwa tidak ada kesuksesan besar yang murah. Semuanya harus dibayar dengan harga yang sangat-sangat mahal dengan kerja yang sangat-sangat keras.

Betapa malunya saya, yang tidak sepintar Prof. Yohanes, dan Habibie, masih juga malas-malasan. Jangankan tidur hanya 3 jam, sudah tidur sehari 6-8 jam saja, rasanya masih ogah-ogahan untuk bekerja keras. Ya, Allah. Saya berjanji, mulai detik ini saya berjanji untuk bekerja keras.  Kerja keras itu memaksakandiri tetap bekerja walaupun badan sudah lelah, kerja keras itu memaksakan diri untuk masih terus terjaga meskipun mata sudah terasa berat, kerja keras itu memaksa tetap lanjut walaupun sudah merasa bosan, kerja keras itu tidak megenal kata lelah dan menyerah.