kehidupan mahasiswa indonesia di nottingham

Kang Hakim Yang Atheis

… kadang antara kebenaran dan keyakinan terlalu susah untuk dibedakan – a random thought

startford_17

Ilustrasi (yang tidak nyambung)

Kamis, pukul empat sore, aku setengah berlari turun dari kantor PhD ku, di lantai 3 gedung School of Computer Science menuju lantai 2 gedung Amenities Building yang berjarak hanya sekitar 5 menit jalan kaki. Jam segitu, di musim dingin hari sudah maghrib. Meskipun sedang berpuasa, aku biasanya sholat jamaah maghrib dulu di muslim prayer room, baru kemudian berbuka puasa di graduate centre room yang terletak di lantai yang sama.

Tetapi, hari itu rasa lapar ku rasanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Lapar tingkat kabupaten saudara-saudara. Gara-gara kalau musim dingin gini malas sekali makan sahur.

Aku langsung menuju graduate centre room, mengeluarkan lunch box dari tas dan memasukkan dalam microwave. Sambil menunggu bekal buka puasa ku menghangat, aku membuat secangkir teh manis hangat yang bahan-bahanya disediakan gratis di ruang itu.

Seorang lelaki muda, yang kurang lebih perawakan dan wajahnya mirip pengamen jalanan seperti foto di atas, dengan sangat agresif, sok kenal sok dekat, melempar seulas senyum kepada ku, dan memberondong ku dengan sejumlah pertanyaan.

Hello, hai kamu. Kamu pasti muslim ya. Kamu pasti dari Indonesia, kan? Kamu tinggal di kota mana di Indonesia.

Begitu kira-kira sebagian pertanyaan yang aku ingat. Dalam alam batinku, aku bertanya-tanya. Nih orang asing kok tahu ya kalau aku muslim, rasanya tidak ada satu pun simbol agama yang aku pakai. Tebakan ini wajar andaikan saja aku perempuan dan memakai jilbab. Terus, kok dia bisa menebak aku langsung dari Indonesia. Rasanya baru kali ini, ada orang asing yang tebakan pertamanya benar 100%. Biasanya, paling banter mengira aku orang Malaysia.

Setelah micorowave berhenti berputar, aku membawa kotak makanan dan secangkir teh hangat di salah satu meja bundar di ruang itu. Menyeruput british tea dari skotlandia yang harum dan ginastel (baca: legi-manis, panas dan kentel) itu. Lalu, sesuap demi sesuap kunikmati nasi dengan ikan tempe bikinan emaknya anak-anak itu.

Eh, tanpa permisi, Si Mas yang sok akrab tadi, ikut duduk semeja dengan ku. Sambil lahap menikmati roti isi babi panggang, Si Mas kembali memberondong ku dengan sejumlah pertanyaan kembali.

kamu sehari sholat berapa kali? sekali sholat berapa lama? memang apa yang kamu dapatkan dari sholat? ngapain sih kamu masih percaya sama agama? bukankah agama hanya menjadikan perpecahan, konflik, perang tak berkesudahan saja? Mau saja kamu dibodohi,  agama sengaja diciptakan sebagai alat untuk meraih kekuasaan?

Begitu kira-kira, beberapa pertanyaan yang Si Mas  ajukan dengan agresif kepada ku. Rupanya Si Mas ini seorang atheis fundamental. Yang sangat gemes jika melihat masih ada orang yang taat beragama seperti diriku. Dia pun bercerita panjang lebar tentang perjalanan spiritualnya. Sebelum menjadi atheis fundamental, Si Mas mengaku pernah percaya adanya Tuhan, walaupun tidak menganut agama tertentu, scientology namanya kalau aku tidak salah. Kini Si Mas benar-benar tidak percaya adanya Tuhan dan dia berusaha meyakinkan ku bahwa keputusanya benar.

Memang kamu percaya ada kehidupan setelah mati? Memang ada orang mati yang datang hidup kembali?

Begitu dia meyakinkanku bahwa hidup itu ya di dunia saja yang harus kita nikmati. Dia seolah-olah kasihan kepada ku. Hidup di dunia sekali saja, kok tidak dinikmati untuk bersenang-senang saja.

Menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu, aku mah kalem-kalem saja. Sama sekali tidak emosional. Malah, aku sangat menikmati obrolan itu. Kutanggapi setiap pertanyaan itu dengan santai dan senyum-senyum saja. Aku hanya menegaskan, kalau aku justru menemukan kebahagiaan dan kedamaian hidup sejati dengan menjalani agama itu, tidak merasa terbebani sama sekali. Malah rasanya, aku tidak bisa hidup tanpa bimbingan agama. Aku juga tidak setuju kalau agama dituduh penyebab konflik, itu penganut agamanya saja yang salah dalam memahami agamanya.

Aku tercenung saat si Mas bilang:

apa ketenangan jiwa? kamu fikir dengan atheis tidak bisa menemukan ketenangan jiwa? Gampang saja, jika aku ingin mendapatkan ketenangan jiwa, aku tinggal ngajak my girl friend to have sex. As simple as that.

Haha koplak. Pada akhirnya, kita tidak berhasil sedikit pun mempengaruhi satu sama lain. Kita tetep kekeuh pada pendirian masing-masing. Tetapi setidaknya we have better understanding satu sama lain. Siapa yang benar siapa yang salah? Sayang diantara kita belum pernah ada yang merasakan kematian. Untuk membuktikan ada tidaknya kehidupan sesudah kematian. Kalaupun, ternyata tidak ada, aku pun sama sekali tidak akan pernah menyesal, karena justru agama bagiku adalah jalan cinta yang membuat kehidupan menjadi lebih bermakna.

Apalah artinya kehidupan bila hanya untuk bersenang-senang saja? Toh kenikmatan dunia ya begitu-begitu saja. Hanya sekejap saja. Keyakinan akan kebenaran agama yang aku yakini pun tak menghalangi untuk toleran terhadap orang yang berkeyakinan akan kebenaran yang berbeda. Sebaliknya, semakin aku yakin, semakin aku mudah untuk toleran.

Tak terasa hampir, satu setengah jam kami bercengkrama. Sampai-sampai aku lupa belum sholat Maghrib, padahal waktu hampir saja masuk waktu Isyak. Di akhir perbincangan, kami baru berkenalan. Namanya Kang Hakim dari Azerbaijan katanya. Sejak saat itu, kami jadi akrab. Dia selalu tersenyum ramah dan menyapa ku setiap kali bertemu. Semoga Tuhan memberi mu hidaya Kang Hakim!

Advertisements

mengeja sisi lain ayat -ayat kehidupan mahasiswa PhD: Masak, Makan dan Kumpul Bareng


*)Tempe Krupuk Ikan Asin Sambel Terasi

Terkadang kebahagian itu sangat sederhana. Tidak perlu mahal, apalagi mewah. Seperti minggu pagi hari ini, kebahagian hadir bersama sepiring nasi hangat, kerupuk, ikan asin, tempe dan sambel terasi. Setahun lebih saya kangen-kangenan dengan makanan sederhana ini sampai akhirnya seorang kawan yang baru datang dari Indonesia memupuskan kangen itu.

Usai sarapan dengan housemate, saya beringsut niat pergi ke kampus. Tetapi, begitu membuka pintu keluar, wah ternyata ada dua orang teman saya datang ke rumah. Duh Gusti, saya ternyata sedang pura-pura lupa kalau hari ini kami rencana mau masak-masak bareng. Akhirnya, acara pusing-pusing di Lab. mendadak berubah jadi acara masak-masak di rumah.

Sate Ayam dan Rawon Setan

Sebenarnya, ini bukanlah acara masak-masak yang pertama. Minimal, setiap ada mahasiwa Indonesia baru di wilayah Dunkirk, kami akan menyambutnya dengan masak, makan, dan kumpul bareng. Tapi, hari ini bisa jadi menjadi kenangan yang tidak akan mudah dilupakan oleh si Arif, teman paling dekat saya selama di Nottingham, yang akan meninggalkan Nottingham 2 minggu lagi. Hari ini juga bisa jadi menjadi kenangan yang yang selalu kenang oleh Mas Iswanto dan Mas Peni, karena hari ini untuk pertama kalinya mereka merasa tidak sendiri dan menemukan keluarga barunya disini. Lalu buat saya? Syalalalala… adalah pelipur lara dari duka PhD. *agak lebai sedikit gak apa-apa kan*

Tema masak kita hari ini adalah Sate ayam dan Rawon Setan. Untuk sate ayam, si Arif ternyata sudah nyiapin bumbu sate dan lontongnya. So kita tinggal membakar sate ayamnya. Pak Sukirno dan Pak Abdurrahman siap beraksi dengan jurus cincangnya, yang dalam sekejap mampu merubah dua kilogram daging ayam menjadi potongan kecil-kecil. Sementara, Pak Iswanto, dan Pak Peni sudah siap berlaga dengan jurus tusuk satenya. Sementara Arif dan saya menyiapkan racikan bumbu-bumbu nya. Karena tidak ada arang, acara bakar-bakar satenya dirubah dengan acara memanggang di dalam Oven listrik.

Sementara untuk Rawon Setan, kami hanya menggunakan bumbu instant. Setelah daging sapi kurban pemberian orang Arab dua minggu yang lalu itu dicincang kecil-kecil oleh duo Abah Kirno dan Gus Dur. Saya meramunya dengan bumbu instant, ditambah bawang goreng, daun jeruk dan daun serai. Kemudian direbus sampai empuk. Terakhir, ditutup dengan ritual menabur taoge, kecambah kacang hijau, yang sudah saya ternak beberapa hari sebelumnya.

Memang sih, kebanyakan koki itu cowok. Tetapi pada dasarnya, kaum laki-laki itu tidak suka memasak dan menggantungkan urusan itu kepada kaum hawa. Tetapi, pada saat-saat kita tidak memiliki pilihan. Kegiatan masak seperti ini bisa menjadi hiburan, tapi hiburan yang tidak selalu menghibur dan menyenangkan.

ngaji_06
*) Sate ayam dan Rawon

Akhirnya, berkat kekompakan kami. Sate ayam dan Rawon setan pun berhasil kami hidangkan dengan sempurna.

Setalah acara masak-masak berakhir. Acara selanjutnya adalah makan sambil ngobrol bareng. Sebenarnya kenikmatan terbesar dari makan bareng ini adalah bukan pada makananya. Tetapi terletak pada kebersamaanya. Saya adalah salah satu orang yang percaya bahwa makan bersama bukanlah sekedar aktivitas mengisi perut lapar menjadi perut kenyang. Melalui makan bersama, kita bisa memupuk jiwa egaliter, saling menghargai dan menghormati, rukun dan persaudaraan, asah asih dan asuh, serta mampu menghapus segala dendam dan kebencian. Mungkin itulah sebabnya, beberapa bangsa besar di dunia sangat menekankan budaya makan bersama ini.

ngaji_07
*) Siap Makan bersama

Kebersamaan kami tidak terhenti sampai di meja makan. Selesai makan, kami lanjutkan sholat ashar dan maghrib berjamaah. Kami berdoa bersama-sama untuk terkabulnya hajat dan cita-cita kami di tanah perantauan ini. Doa kali ini khususnya buat Arif yang sudah menyelesaikan M.Sc. nya di bidang Matematika semoga ilmunya bermanfaat dan barokah. Dan juga buat Mas Peni, Mas Iswanto, dan Mas Yodi yang baru saja memulai studinya di Universitas Nottingham. Semoga sukses studinya. Allahumma Ammiin.

ngaji_08
*) Setelah jamaah sholat bareng: Pak {Peni, Sukino, Sidik, Abdur, Arif, Shon, Yodi, Iswanto}

Berbagi pengalaman, obrolan santai dan guyononan kami tetap berlanjut hingga gelapnya malam semakin pekat. Sekilas hanyalah obrolan tanpa makna. Tetapi, saya selalu percaya bahwa ide-ide, inspirasi, semangat, cita-cita, dan perubahan besar itu tidak selalu harus muncul dari tempat-tempat dan orang-orang terhormat seperti di gedung DPR atau Kampus. Yang besar itu bisa jadi hanya berasal dari obrolan sederhana di rumah kosan seperti kami malam ini.

Di atas semuanya itu, buat saya, kebersamaan seperti ini adalah seperti setetes embun pelepas dahaga kerinduan akan kehadiran kehangatan keluarga di antara kami. Seperti air hujan ditengah-tengah kehidupan sosial dunia yang semakin gersang.