kalibaru cottage

Kalibaru – Benculuk Lewat Glenmore

“… diam-diam aku telah merindukan percakapan sederhana itu.” – a random thought

kalibaru_cottage_02

Kalibaru Cottage

Singkat cerita, akhirnya aku berhasil melakukan konspirasi, membujuk para pemegang kuasa di departemenku untuk mengadakan rapat di Kota ini. Kalibaru, yah begitulah nama kota kecil di pojok Selatan kabupaten Banyuwangi yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Jember ini.

Sejak dua puluh tahun lalu, aku sering sekedar lewat kota ini. Tapi tak pernah singgah satu malam pun di kota ini. Dari dulu hanya bisa membayangkan alangkah indahnya, singgah sejenak di kota ini, satu atau dua malam saja sudah cukup. Sekedar untuk mengusir kejenuhan berjipaku tanpa jeda dengan riuh kehidupan yang semakin bising.

Tidak ada yang istimewa dari kota ini, selain lokasinya yang berada tepat di kaki gunung Gumitir. Gunung yang telah dibedah oleh jalan aspal berkelok-kelok yang menghubungkan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Jember. Kebayangkan kan sejuk dan segarnya setiap jumput udara yang kita hirup di tempat ini? Kamu bisa bernafas sebebas-bebasnya, tanpa terbesit sedikitpun ketakutan akan bahaya polutan yang sudah mengepung kita dari segala penjuru arah. Pun, kamu tak perlu keluar uang ribuan rupiah untuk membeli cadar kw, alias masker warna hijau itu.

Aku sedikit tercenung ketika memasuki Kalibaru Cottage, tempat kami akan menginap itu. Pasalnya sebagian besar penginap hotel ini adalah para bule. Serasa menjadi orang asing di kampung sendiri. Suasana perkebunan yang tenang, bersih, rapi nan asri dengan pemandangan pegunungan yang menghijau di tempat ini, sungguh memanjakan setiap bola mata yang memandang, menenangkan jiwa-jiwa yang tengah dirundung lelah.

Hanya saja, guratan wajah sendu para perempuan sepuh, para buruh sapu yang kelelearn di sudut-sudut taman di hotel ini sedikit mengusik benakku ku. Mereka datang  ketempat ini, bekerja keras untuk sekedar menyelenggarakan hidup. Sementara diriku, bersenang-senang untuk merayakan hidup? Jalan hidup memang kadang terasa tak adil bukan, tetapi siapakah yang benar-benar memahami kemahaadilan Sang Pemberi hidup?

Alangkah eloknya, tenguk-tenguk sejenak di tempat ini. Melepas sebentar segenap beban kepala dan hati yang gusar. Di pangkal pagi hari yang perawan, bersama burung-burung yang berorkestra menyenandungkan puja puji untuk Tuhan, dengan secangkir teh wangi hangat yang menenangkan. Atau, di penghujung senja yang temaram, bersama tonggeret yang bernyanyi malu-malu di balik pohon-pohon hutan.

Selain susana dan pemandangan yang memanjakan mata dan jiwa, untuk urusan perut di tempat ini ada juga masakan yang istimewa.  Sayur pakis namanya. Rasa tetumbuhan paku khas pegunungan ini luar biasa nikmatnya. Apalagi disayur dengan kuah santan kental yang gurih. Sudah bertahun-tahun lamanya tak bersua makanan ini. Di tempat ini ku mendapatinya kembali. Menikmati sayur pakis ini, menerbangkan ingatanku pada masa perihatin, makan seadanya tapi nikmat luar biasa, waktu jadi santri di pondok pesantren Blokagung, banyuwangi.

Agenda hari ketiga persinggahan kami di kota ini adalah jalan-jalan. Kami menyewa sebuah bus yang akan mengantar kami jalan-jalan di wilayah Banyuwangi Selatan. Satu diantaranya adalah pantai pulau merah. Tetapi, aku harus berpisah dengan rombongan. Ada tempat wisata yang paling indah yang harus kutuju, emak. Adakah peristiwa yang lebih bermakna dari pertemuan anak dan biyung nya?

Hampir 30 menit aku menunggu bus antar kota, Jember-Banyuwangi, di pinggir, seberang jalan di depan hotel. Tetapi yang  ditunggu tak datang-datang. Kata Pak satpam, jumlah bus saat ini memang sangat jarang. Orang-orang lebih senang naik mobil atau sepeda motor.

Akhirnya, akupun ikut rombongan. Ku turun di Glenmore. Di sebuah pertigaan, di pinggir jalan, di depan sebuah kios bensin eceran, aku  kembali menunggu bus yang sama.  Rupanya menunggu bus benar-benar menguras kesabaran. Untungnya aku punya hobi memerhatikan orang. Ku amat-amati saja setiap orang yang berlalu lalang.

Hampir satu jam, akhirnya yang ditunggu pun datang. Bus lusuh yang penumpang nya lengang itu betapa beruntungnya mendapati penumpang satu-satunya dari Glenmore. Di dalam bus hanya ada beberapa orang saja, yang tentu saja masih dihitung dengan jari-jari tangan.

Dua diantaranya, sepasang muda-mudi, bule dengan ransel bakpacker besar. Keduanya terlihat sedang asyik mengobrol dengan seorang ibu berjilbab yang begitu percaya diri dengan kosalata bahasa Inggrisnya yang pas-pasan. Sang ibu bercerita kalau suaminya pernah bekerja di hotel tempat dua bule itu menginap di Kalibaru, sebelum akhirnya sang suami beralih profesi sebagai driver. Sang bule sedang dalam perjalanan ke Denpasar, Bali.

Aku senyum-senyum sendiri, saat topik pembicaraan beralih ke Gempa yang baru saja melanda Lombok dan sekitarnya. Si ibu sepertinya tidak paham earth quake yang dilafalkan si bule. Sampai bahasa tubuh ala tarsan yang lucu dari dua bule berhasil memahamkan si Ibu.

Selama perjalanan tak henti-hentinya pedagang asongan dan pengamen bergantian. Ada yang jualan minuman, kerupuk rambak, kopiah, sampai nasi bungkus. Tak ketinggalan, para penjual itu menawarkan dengan ramah barang daganganya ke si bule.

This is Rice Cat. Five thousands rupiah !

Tawar si penjual nasi bungkus ke si bule, dengan logat jawanya yang sangat kuat.  Aku ketawa dalam hati, karena terdengar lucu. Si bule entah pelit, entah kere, tak bergeming dengan tawaran para penjual itu. Aku saja dalam beberapa menit, sudah dapat satu keresek kerupuk rambak dan satu buah kopiah warna putih.

Masih seperti dulu, bus ekonomi satu-satunya moda transportasi umum yang masih begitu merakyat. Menjadi salah satu gigi roda penggerak ekonomi kawan-kawan kami di akar rumput. Penumpangnya pun sama: masih ramah, jujur, dan apa adanya.

Penumpang di sampingku pun sepanjang perjalan tak henti-hentinya bercerita. Keluh kesah susahnya hidup menjadi rakyat pinggiran, yang tak pernah mendapatkan sorot kamera media. Betapapun mereka menjerit. Kecuali jika bencana datang, dan para penguasa mencuri kesan.

Diam-diam aku telah merindukan percakapan sederhana apa adanya itu. Pun di kereta ekonomi yang dulu pernah merakyat itu. Betapa rasanya sekarang ruang sosial di perkotaan dipenuhi oleh suasana penuh gimmic, kepura-puraan, basa-basi, dan individualisme. Mudah-mudahan aku yang salah.

Advertisements