kali di pacitan

Pacitan: Gemelintir Air Kalimu

” … setiap perjalanan ke tempat baru memberikan perspektif baru dalam memandang hidup. Semakin banyak perjalanan, semakin banyak perspektif. Semakin banyak perspektif, semakin bijak? ” – a random thought

pacitan_01

Pintu Gerbang Masuk Kota Pacitan

Buatku, tidak ada aktivitas santai di dunia ini yang lebih menyenangkan dari pada mengunjungi tempat baru. Tempat yang sebelumnya hanya mampir sejenak berlalu di perlintasan alam fikiran, kemudian kita benar-benar menginjakkan kaki di tempat itu.

Sekedar memberi jeda dari ritual kesibukan hidup yang terus berulang, kami mengadakan perjalanan Madiun-Pacitan lewat Ponorogo. Dalam bayanganku, kami akan menelusuri desa-desa, dengan hamparan padi yang menghijau dan pemandangan pegunungan di kejauhan. Lalu kami mampir di warung pinggir sawah, minum kopi, menikmati jajanan pasar desa sambil ngobrol dengan warga lokal desa dengan bahasa Jawa logat khas kabupaten diujung barat daya Jawa Timur ini.

pacitan_02

Suasana Pinggiran Kota Pacitan

Tetapi, seorang teman kuliah di Surabaya, yang kecil hingga lulus SMA di kota ini, dan sekarang menetap di kota pinggiran Jakarta, menertawakanku. “haha, you will never find it in Pacitan Bro!” katanya lewat layananan pesan singkat Whatsapp.

Tidak apa-apa, perjalanan Madiun-Pacitan lewat Ponorogo cukup menenangkan Jiwa. Jalanan yang tidak macet, udara yang tidak penuh polutan, dan pemandangan gunung-gunung di kejauhan cukup menghibur fikiran. Perjalanan Ponorogo-Pacitan lebih menantang dari perjalanan Madiun-Ponorogo, kami menyusuri jalanan yang membelah pegunungan. Tidak hanya tidak macet, jalanan rasanya terasa sepi.

Jalanan naik, turun, berkelok-kelok, bagai jejak ular raksasa. Kiri kanan adalah hutan dengan dominasi pohon jati. Kadang-kadang saja terlihat tanaman jagung dan singkong. Tak banyak rumah penduduk di sepanjang perjalanan. Yang lumayan banyak adalah pemandangan spanduk dan baliho besar-besar para politisi di senayan dan lengkap dengan bendera partai. Lebaran rupanya dipilih para politisi yang di fotonya terlihat sangat bahagia itu, menjadi momen yang pas untuk menyapa konstituenya, meski hanya lewat media spanduk dan baliho. Spanduk dan Baliho milik para calon gubernur dan wakilnya pun tak kalah ramai, berebut simpati rakyat kecil di tataran akar rumput. Cerdas, merakyat, dan religius begitu seolah-olah kesan yang ingin disampaikan dari spanduk dan baliho besar-besar itu.

Foto-foto politisi yang para priyayi itu terlihat begitu kontras dengan wajah desa perbatasan Ponorogo-Pacitan yang muram. Kabarnya, di wilayah inilah kantong-kantong kemiskinan wilayah Jawa Timur berada. Sampai-sampai ada sebuah kampung yang dijuluki kampung idiot. Kemiskinan telah membawa penduduk kampung bernasib kekurangan gizi dan pada giliranya kekurangan kecerdasan.

pacitan_03

Sungai di Desa Tambakrejo, Pacitan

Yang paling menarik perhatianku adalah kali-kali di sepanjang perjalanan. Airnya jernih dan bergemelintir, dengan lembah sungai yang lebar yang dipenuhi batu-batu kali yang bersih. Suasananya hening, suara gemelintir air satu-satunya irama, lengkap dengan pemandangan hijau bebukitan sejauh mata mengedarkan pandangan. Sungguh inikah imajinasi syurga manusia-manusia di tengah peradaban  padang pasir yang tandus bukan? Tak heran, orang-orang jawa pada awalnya tak tertarik dengan iming-iming metafora syurga di kitab suci. Karena metafora syurga itu sudah ada di tanah Jawa. Ingin sekali rasanya turun dan menjeburkan diri ke sungai itu.

Memasuki kota, kami mampir di sebuah warung pinggir jalan. Selain selai pisang basah yang dibungkus plastik membulat kecil-kecil menyerupai anggur itu, sepertinya tidak ada makanan khas kota ini memang. Lalapan ayam kampung goreng pun jadi pilihan. Secangkir kopi sasetan (Rp. 1000)    yang masih panas menjadi pelepas lelah perjalanan, dan menjadi pembuka obrolan yang hangat. Sebelum, beberapa jenak kemudian, kami beranjak melanjutkan perjalanan.

Rasanya, hanya 5% saja dari wilayah kota Pacitan ini yang tanahnya datar, yaitu hanya di sekitar alun-alun saja. Selebihnya adalah bukit tandus dengan jalan bergelombang naik turun, berkelok-kelok dengan sudut kemiringan dari yang biasa-biasa saja sampai yang ektrim. Terbayang alangkah melelahkanya perjalanan dengan berjalan kaki dan sepeda ontel di kota. Yang belum mahir nyetir, jangan sekali-sekali deh coba-coba di kota ini.

Sepanjang perjalanan aura bahwa Pacitan adalah rumahnya SBY begitu terasa. Partai Pak Beye sepanduk dan benderanya bertebaran hampir di seluruh sudut-sudut kota. Tak ketinggalan wajah-wajah keluarga Pak Beye yang rupawan dan mriyayini itu pun terpampang bahagia di spanduk dan baliho besar-besar di pinggir jalan-jalan kota. Kontras dengan wajah lesu warganya yang tinggal di rumah-rumah teramat bersahaja di pinggiran kota. Terbayang betapa susahnya menyelenggarakan hidup yang mapan di kota yang didominasi bukit-bukit yang tandus bukan?

pacitan_04

Pantai Klayar

Pariwisata menjadi andalan baru sebagai penggerek ekonomi kota ini. Walaupun tentu kenyataan tak semudah kata-kata. Gua dan Pantai menjadi andalan Pariwisata kota ini. Salah satu pantai yang sempat kami kunjungi adalah Pantai Klayar, pantai andalan kota ini. Lazimnya, pantai berseiring dengan dataran rendah. Di Pacitan, pantai berseiring dengan bukit. Sungguh, pantai ini terlihat memesona dari atas bukit menuju pantai ini.

Suasana senja sore itu menambah indahnya pemandangan alam Pantai klayar. Orang-orang tumpah ruah, kegirangan. Berpose entah dengan gaya apa saja, yang terabadikan oleh jepretan kamera smartphone. Dan berikutnya, memamerkan kegembiraan itu ke jagat maya. Agar semua tahu bahwa kehidupan mereka amatlah bahagia. Bahwa kehidupan adalah sesuatu yang patut untuk dirayakan.

Anak-anak bermain kegirangan di pinggir pantai yang sedang surut airnya. Entah siapa yang mengajari pada mulanya, rasanya seluruh anak-anak di seluruh penjuru dunia memilih aktivitas yang sama di pasir pantai: membangun kastil pasir. Dengan susah payah mereka membangunya, tetapi justru tertawa bahagia saat ombak besar menggulungnya tak bersisa.

pacitan_05

Suasana Surup di Pantai Klayar

Begitupun hidup kita bukan? begitu susah payah kita belajar, bekerja, banting tulang, siang dan malam, berusaha dan berdoa untuk membangun ‘kastil’ kehidupan kita. Kastil pertanda kesuksesan kita dalam menyelenggarakan kehidupan dunia yang sementara ini. Tetapi, akankah kita akan tertawa bahagia saat ombak kehidupan, lewat pintu kematian atau musibah  bencana, tiba-tiba menyapu bersih kastil kehidupan kita yang juga rapuh ini?

Sayang, waktu senja pun segera usai. Waktu surup tiba saatnya menjemput malam yang akan segera datang. Orang-orang pun berangsur-angsur menjauh dari bibir pantai, menempuh jalan pulang. Meneruskan cerita kehidupan berikutnya. Entah bahagia, susah, atau biasa-biasa saja.

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube

Advertisements