jombang

Selamat Jalan Kyai : Mengenang KH Dimyati Romli

…. semua berasal dari Nya dan kembali pulang menuju Nya kembali. Dari ketiadaan, kemudian ada, dan kembali ketiadaan. Itulah hidup. – a random thought

 

yai_dim_okezone

Ilustrasi : KH Dimyati Romli (Tengah Bersurban), Sumber: jombangpemkab.g.id

Rabu, 18 Mei 2016

Pagi  yang mengawali hari ini disambut dengan rintik rinai hujan yang panjang.  Daun-daun maple yang menghijau dan telah mekar sempurna pun basah kuyub, jalan-jalan beraspal basah, membentuk kubangan-kubangan air kecil di beberapa sudut.

Waktu sholat subuh baru saja usai, tetapi jam di dinding masih pukul 4.30. Setelah membimbing anak lanang membaca buku setebal 30 halaman, aku tertidur kembali, terbuai suara rintik hujan yang mendamaikan. Oh, hujan pagi hari ini begitu melenakan membawa ku ke alam bawah kesadaran.

Beberapa jenak kemudian aku terbangun. Kulihat waktu di handpon ku menunjukkan pukul 7.15. “Tuing” . Ada pesan WA masuk dari seorang teman satu bilik asrama di pondok pesantren Darul Ulum Jombang dulu:

Innalillahi wainnailaihirojiuun, telah berpulang kerohmatulloh KH.Dimyati Romli pengasuh pp. Darul ulum jombang dan mursyid thoriqoh qodriyah wa naqsabandiyah,mohon bantuan bacaan fatihah buat beliau “

Hujan yang masih saja menitik seolah mengiringi suasana duka dalam hati ku.  Sedih, haru, sekali hatiku. Seketika, terbayang wajah teduh kyai ku itu tersenyum dan melambaikan tanganya kepada ku. Oh, Tuhan, begitu cepat kau panggil hamba-hamba Mu yang soleh dan yang engkau kasihi. Setelah Engkau panggil Kyai Hannan, Kyai As’ad, kini Engkau panggil pula Kyai Dimyati.

Selamat Jalan Kyai ! Hari ini, ribuan santri-santri mu di seluruh pelosok negeri menangisi kepergian mu. Mengiring kepergian mu dengan rapalan doa-doa yang tak henti. Ku yakin, taman-taman syurga sedang menanti mu di alam kehidupan mu berikutnya. Semoga, kepergian mu, segera terganti oleh ribuan kyai Dimyati – kyai Dimyati yang baru.

Mengenang Kyai Dim

Kyai Dim adalah salah satu kyai NU yang Karismatik dan berpengaruh, khususnya di Jawa Timur. Selain sebagai ketua Majelis pimpinan (baca: pengasuh) pondok pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang. Beliau juga seorang Mursyid (baca: maha guru) Thoriqah Qadiriyah Wannaqsabandiyah (gerakan amalan sufi/tarekat) yang berpusat di Pondok Pesantren Darul Ulum, atau yang lebih dikenal oleh masyarakat di tataran akar rumput dengan Pondok Njoso.

Perawakanya tidak terlalu tinggi. Wajahnya teduh menentramkan hati setiap orang yang menatapnya. Penampilanya sederhana dan bersahaja. Kemana-kemana lebih sering memakai sarung, baju dan peci putuh yang nampak juga sangat sederhana bahkan terlihat sudah lusuh. Kemana-kemana , asalkan tidak terlalu jauh lebih senang jalan kaki ketimbang naik kendaraan. Tak sedikit pun, terpancar kemewahan hidup dari beliau. Seperti kebanyakan kyai-kyai NU pada umumnya, beliau juga merokok.

Aku memiliki kenangan sendiri dengan Kyai Dim, begitu beliau akrab dipanngil. Selama mondok 3 tahun di pondok Njoso, hampir setiap hari aku bersua dengan beliau. Kecuali jika berhalangan, beliau yang selalu menjadi imam jamaah sholat subuh di masjid pondok induk dan memimpin do’a Istigotsah setelahnya. Setelah mengamini do’a-do’a kyai Dim yang khusuk dan berurai air mata, kami para santri berebut mencium telapak tangan beliau. Iring-iringan para santri mengiring langkah-langkah kaki berterompah beliau dari masjid sampai ke ndalem. Seminggu sekali, beliau mampir bertakziah ke makam para kyai pendiri pondok di pesarean pondok.

Seminggu sekali, antara waktu maghrib dan isyak, aku ngaji kitab kuning dengan beliau. Bertempat di Pendopo lama, beliau membaca kitab tafsir surat Yasin. Surat yang mendapatkan tempat sangat istimewa dalam Alquran, khususnya di kalangan para Nahdliyin. Setiap hari kamis antara waktu duhur dan ashar, dari bilik asrama aku lamat-lamat mendengar ceramah beliau yang mengisi acara kemisan di masjid yang pesertanya ratusan mbah-mbah thoriqah dari pelosok-pelosok dusun yang sebagian besar dari Jombang, Mojokerto, dan Nganjuk.

Setahun dua kali, setiap malam tanggal 11 muharram, disebut dengan sewelasan, dan setiap malam 15 Sya’ban, disebut dengan nisfu sya’banan, aku pun mendengar ceramah- ceramah beliau. Saat setiap jengkal tanah di bumi darul ulum menjadi lautan manusia, ribuan santri murid thariqoh qadiriyah wannaqsabandiyah dari berbagai pelosok negeri, berkumpul, bermujahadah, sholat, berdzikir, berdo’a bersama dari lepas duhur, hingga subuh hari.

kyai_dim_okezone

KH Dimyathi Romli disholatkan di Masjid Pondok Induk Darul Ulum Jombang (Sumber: okezone.com)

Selamat Jalan Kyai! Ilmu mu yang telah engkau tularkan, do’a-doa mu yang dengan tulus selalu kau rapalkan, keteladanan mu yang selalu engkau contohkan, akan selalu menjadi inspirasi abadi dalam hati-hati kami, para santri mu, di seluruh pelosok negeri.

Advertisements

Pulang Ke Jombang

Jombang:  Ijo lan Abang- Hijau dan Merah. Tempat orang-orang yang dari dua kutub positif dan negatif kehidupan bertemu. Tempat, orang-orang yang sering menimbulkan riuh kegaduhan di negeri ku berasal. – a random thought

kota_jombang_2

Ilustrasi: Peterongan, Jombang

Setiap orang pasti punya kota kenang-kenangan dalam hidupnya. Kota kelahiran, tempat menghabiskan waktu kecil hingga tumbuh mendewasa. Kota tempat menempa diri mematangkan pemikiran. Kota tempat belajar kehidupan. Atau sekedar kota dimana  cinta sejati telah menemukan sampean. Tentulah, pada kota kenang-kenangan itu, kita selalu ingin pulang.

Meskipun saya lahir di Banyuwangi, teman-teman kuliah ku di kota Surabaya, sampai sekarang pun masih banyak yang mengira kalau aku ini berasal dari Jombang. Dulu, waktu masih kuliah di Surabaya, hampir setiap jumat sore, aku pulang ke Jombang, untuk kembali lagi ke Surabaya setiap Minggu sorenya. Sekedar menularkan sedikit ilmu yang tak seberapa yang kuperoleh dari kampus ke adek-adek kelas ku di pesantren Njoso, Peterongan, Jombang.

Argh, kereta ekonomi KRD dengan tiket seharga Rp. 2000 itu, begitu berjasa mengantar ku pulang setiap akhir pekan. Harga tiket itu, begitu nyaman di kantong mahasiswa kere seperti ku saat itu. Meskipun Bu Titik, bendahara sekolah di pesantren ku itu, selalu memberiku salim tempel. Amplop putih berisi selembar uang bergambar WR Supratman itu selalu diselipkan di tangan ku setiap aku mencium telapak tanganya, untuk pamitan pulang balik ke Surabaya. Meskipun, aku harus berdesak-desakan, empet-empetan,  bermandi peluh dalam gerbong kereta yang pengap dan pesing itu. Gerbong-gerbong kereta itu, begitu penuh dengan orang-orang desa yang pulang pergi mencari nafkah di ibu kota Jawa Timur. Bahkan, tak sedikit orang-orang yang mencari nafkah dengan berjualan keliling dari ujung ke ujung gerbong, memaksa menembus tumpukan penumpang itu.

Tak jarang aku tergencet tanpa bisa bergerak maju atau mundur, di lorong sempit di antara pintu keluar gerbong dan pintu toilet yang baunya, naudzubillah min dzalik itu. Sungguh, gerbong-gerbong kereta KRD itu menyimpan terlalu banyak cerita dan kenangan. Cerita tentang bagaimana susahnya memainkan lakon hidup sebagai rakyat kecil di negeri ku ini, yang tak boleh pernah sedikit pun lelah dan mengeluh dalam berjuang bahkan sekedar  berjuang untuk bertahan hidup. Pada mereka itu aku belajar banyak untuk tidak takut menempuhi betapapun sulitnya jalan kehidupan ini. Bukankah, tak perlu ada yang ditakuti selain Sang Pemberi kehidupan, di jalan kehidupan yang hanya sekedar mampir ngombe ini?

Dua tahun yang lalu, ketika kuliah ku di Nottingham memasuki masa liburan, aku pun pulang ke Jombang. Ku coba telusuri kembali, sudut-sudut kota yang menyimpan banyak kenangan-kenangan itu. Di terminal kota Jombang, tempat yang dulu ramai dengan para pedagang makanan, pedagang asongan, kios wartel, dan selalu riuh oleh orang-orang yang berlalu lalang itu, aku merasa seperti berada di kota mati. Sepi, sunyi sepi sekali. Wartel dan toko-toko makanan yang dulu pernah berjaya itu kini sudah tutup. Lin, Angkutan kota, Angkutan desa itu pun sekarang sepi penumpang. Padahal, dulu kami santri Njoso yang mau pergi ke Pasar Lagi, di jantung kota Jombang itu, harus antri untuk rebutan naik lin D2.

kota_jombang_5

Terminal Kota Jombang

Rupanya, hampir semua orang sekarang memiliki sepeda motor. Jadilah, terminal yang dulu menjadi salah satu pusat ekonomi rakyat itu ditinggalkan. Rupanya, sejak meninggalnya seorang Gus Dur, pusat ekonomi rakyat itu berpindah di sekitar pesantren Tebu Ireng. Ribuan orang dari berbagai pelosok negeri, setiap hari berziarah di makam sang Guru Bangsa itu. Jalan-jalan kampung yang sempit menuju pesarean Gus Dur itu pun berubah menjadi pasar rakyat yang tak pernah sepi 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Makam njenengan itu Gus, telah membuka pintu rejeki bagi ratusan tukang ojek, penjual makanan, penjual kaos bergambar wajah njenengan, penyedia jasa WC, penjual buku, hingga tukang potong rambut, Gus. Njenengan pasti tersenyum bahagia di alam kubur mu sana, melihat rakyat kecil yang dulu selalu kau bela itu gemuyu kecipratan rejeki dari para peziarah makam njenengan.

kota_jombang_4

Ilustrasi: Pasar Rakyat  di Sepanjang Jalan Menuju Makam Gus Dur

Di Jombang, aku selalu merasa berhutang jasa pada banyak orang. Pada para guru, ustad, kyai, bunyai, teman, dan juga pengalaman. Bahkan hingga detik ini pun, aku tak pernah berhenti ngaji pemikiran-pemikiran jenius dan otentik dari para anak kandung kota Jombang sekaliber Mbah Hasyim, Kyai Wahid, Mbah Romly, Mbah Wahab, Mbah Bisri, Kyai Tain, Gus Dur, Cak Nur, dan Cak Nun. Mereka seolah sumber mata air ilmu yang tak pernah kering, dan aku selalu merasa kehausan ingin selalu mereguk kesegaran air nya.

kota_jombang_3

Ilustrasi: Anak-anak di Makam Gus Dur, Tebu Ireng, Jombang

Pak, Bu ! Pak Yai, Bu Nyai ! Gus, Cak ! di kota panjenengan, sungguh, aku kangen pulang. Doakan, santri abadi mu ini bisa segera pulang membawa kabar kemenangan untuk mu. Kemenagan melawan ketololan ku yang tidak habis-habis ini.

Mendung di Langit Kota Jombang

… Bulan terang di atas Alun-alun Jombang. Terangi malam yang mencekam. Bukan ku takut pada ancaman. Namun malu pada pagi yang bersinar. Hati pecah meski senyum tetap lebar. Demi salam semua pengunjung datang. Wajah kecewa karena tangan partai. Kyai Datang untuk menenangkan. Aku hanya ingin mengemis do’a, biar khittah tidak di mulut saaja – (@yenniwahid, Jombang 3 Agustus 2015.

NU_Pecah

Headline Tempo.co (05/08/2015)

Muktamar NU 33 di Jombang (1-5 Agustus 2015) lalu, begitu menyita perhatian dan emosi saya, meskipun hanya mengikuti dari jauh lewat layar HP dan monitor. Sedih, malu, senang, haru, khawatir, dan air mata campur aduk jadi satu, detik demi detik mengikuti perkembangan muktamar dari group WA teman-teman yang sedang menjadi peserta muktamar di lokasi . Belum pernah emosi saya ikut begitu terlarut seperti ini sebelumnya karena NU. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di tengah-tengah nahdiyin, serta pernah mengecap pendidikan pesantren khas NU, memang membuat NU selalu menempati ruang tersendiri dalam hati saya. Tapi tidak seperti kali ini. Biasanya hanya mengikuti sepintas lalu, atau bahkan apatis, tidak peduli sama sekali.

Logo_Muktamar_NU

Logo Mukatamar NU 33 (muktamarnu.com)

Angka 33 memang istimewa. Seperti pada jumlah perulangan dzikir sehabis sholat, saya percaya tersimpan misteri dibalik angka itu. Kota Jombang pun selalu punya cerita istimewa yang mampu menyedot dan mengalihkan perhatian publik dari Ibu kota ke kota kecil ini. Seperti muktamar NU 33, yang untuk kali pertamanya diselenggarakan di kota kelahiranya ini, pun menorehkan sejarah sendiri khususnya bagi jamiiyah NU.

Belajar Banyak Kearifan Hidup dari Muktamar NU 33

Sedih, malu dan penuh kekhawatiran dan keprihatinan, rasa itu berkecamuk sejak hari pertama muktamar yang diberitakan gaduh. Puncaknya pada hari terakhir muktamar, ketika beberapa media online yang senang menjual berita sensasional, menjadikan kata ‘NU PECAH’ sebagai headline. Terbayang, bagaimana organisasi Islam yang dipimpin para kyai itu jika pada akhirnya tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri, tak ubahnya partai politik yang dilanda konflik berkepanjangan. Terbayang juga, bagaimana kelompok lain yang dari awal memang ‘nyinyir’ dengan ormas yang saya banggakan ini, bersorak sorai, merayakan kemenangan, membangga-banggakan keunggulan ‘ideologi’ mereka.

shinta-jokowi-muktamar-NU

Presiden Jokowi Memberi Hormat Ke Ibu Shinta Wahid di Arena Muktamar NU 33 (Foto: sekkab.go,id)

Bayangan saya, hari itu langit di jombang mendadak mendung, tertutup awan hitam, di tengah musim kemarau panjang yang terik. Tetapi saya juga terharu dan tersentuh dengan berbagai peristiwa yang sempat terpotret oleh teman-teman. Melihat para pejabat dan para kyai terlihat begitu guyub, berkumpul bareng, rasanya adem di hati. Seolah mereka memamerkan kemesraan para Ulama dan Umaro’.

jokowi_mega_yenni

Bu Mega, Para Pejabat Negara, Bersama Mbak Yenni Wahid (foto: @yenniwahid)

Saya pun tersentuh oleh keteladanan para kyai sepuh di muktamar. Mbah Mun yang memaksakan berdiri dari atas kursi roda untuk ikut menyanyikan lagu Indonesia raya. Mbak Alisa wahid, yang penuh tawadu’ salim mencium tangan Mbah Mun pun tak luput mengundang air mata saya menetes di pipi.  Terlebih ketika Gus Mus, dengan penuh isak memberi ‘wejangan’ untuk mendamaikan para peserta muktamar yang sempat gaduh. Wejangan itu terasa sekali berasal dari lubuk hati beliau yang terdalam, sehingga setiap hati yang mendengarnya pun akan tersentuh olehnya. Kegeraman dan kekecewaan pun kadang mendera jiwa, ketika diberitakan para kyai itu saling berseteru. Saling berprasangka buruk dan mengumbar prasangka itu di media.

MbakAlisaSalimMbahMun

Alissa Wahid Mencium Tangan Mbah Moen (@alissawahid)

Alhamduliah, pada akhirnya jamiiyah NU bisa mendamaikan dirinya sendiri. Selamat kepada Kang Said yang terpilih kembali sebagai ketua PBNU 2015-2020. Selamat kepada Prof KH Makruf Amin, cucu kyai Nawawi Albantani, sebagai Rois Aam yang baru. Selamat kepada kemenangan jiwa Gus Mus. Yang dengan segala kerendahan hati beliau, beliau memberikan mandat Rois Aam itu kepada Kyai Makruf Ammin. Sungguh sebuah keteledanan luar biasa bagi umat. Semoga kang said dan kyai ma’ruf mampu membawa NU berlari menjadi lebih baik. Semoga Gus Mus tetap bisa ngemong umat. Khusunya ngemong anak-anak muda NU. Semoga beberapa pihak yang kurang berkenan hati dengan hasil muktamar ini, bisa berbesar hati untuk berkonsolidasi, bergandengan tangan dan tumbuh bersama-sama kembali mengabdi kepada umat melalui jammiyah NU.

said aqil dan kh makruf

Kyai Said mencium tangan Kyai Ma’ruf (tribunnews.com)

Di hari terakhir muktamar NU ke 33 itu, banyak sejarah NU telah terukir. Diantaranya yang paling menyejarah adalah surat Gus Mus, yang ditulis sangat apik dengan tulisan pegon, tulisan khas ala pesantren. Yaitu tulisan non-arab (dalam hal ini bahasa Indonesia) yang ditulis dengan huruf-huruf Arab. Surat itu berisi kebesaran jiwa beliau, kerendahan hati beliau, untuk mendamaikan kedua kubu yang berseteru yang menjadi biang kegaduhan selama muktamar, dengan mengundurkan diri dari terpilihnya beliau sebagai Rois Aam dan menyerahkan mandat itu kepada Kyai Ma’ruf.

Surat Gus Mus

Surat Pengunduran diri Gus Mus (@kangSantryyy)

Memetik Pelajaran dari Muktamar ke 33 NU 

Media boleh saja memberitakan kegaduhan muktamar NU 33 kali ini. Masyarakat pun boleh membanding-bandingkan antara Muktamar NU yang kacau dengan Muktamar Muhammadiyah yang profesional. Bahkan, warga NU sendiri pun boleh mengatakan ini muktamar terburuk sepanjang sejarah NU. Boleh-boleh saja, karena memang seperti terlihat begitu. Tetapi kalau kita membaca sejarah, kegaduhan muktamar NU ini hanyalah pengulangan sejarah.

MbahMoen

Mbah Moen Berdiri Menyanyikan Indonesia Raya (@alissawahid)

Pada Muktamar ke-28 di Krapyak  Yogyakarta, 1989, pernah terjadi perseteruan terbuka antar Gus Dur dan Kyai As’ad Syamsul Arifin. Kyai As’ad menyatakan mufarroqoh berpisah dengan NU nya Gus Dur, yang terpilih kembali menjadi ketua PBNU. Hal ini karena isu-isu yang menerpa Gus Dur, mulai dari isu Gus Dur membela terlalu kaum syiah, mengganti assalamualaikum dengan selamat pagi, Gus Dur menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta, membuka malam kesenian Yesus Kristus, Gus Dur yang Liberal, bahkan Gus Dur dihakimi telah keluar dari Ahlusunah Waljama’ah. Tetapi disisi lain, kyai As’ad pada saat itu sangat dekat dengan penguasa Orde baru [Baca: 1, 2, 3, 4]. Ini tentu saja mirip dengan muktamar ke 33 ini, dimana Kyai Sa’id Aqil Siroj belakangan juga banyak diisukan terlalu membela kaum Syiah.

Demikian juga tak kalah hebatnya pada Muktamar NU ke-29, Tahun 1994 di Tasik Malaya. Dimana pada waktu itu terjadi perseteruan hebat antara Gus Dur sebagai incumbent dengan  Abu Hasan yang didukung penguasa order baru. Gus Dur yang kritis terhadap pemerintah saat itu, dicoba untuk digembosi oleh penguasa order baru. Terjadilah pada saat itu, pemilihan ketua PBNU yang sangat menegangkan. Bahkan sampai pemerintah mengerahkan ABRI [baca: 4, 5].

peserta_muktamar_nu_bule

Peserta Muktamar NU Buke Pakai Sarung, Hendak Ziarah di Makam Gus Dur (@ansor_jatim)

Jadi menurut hemat saya, kegaduhan di Muktamar NU yang ke-33 kemarin adalah dinamika organisasi yang lumrah. Dan justru menjadi ajang pembelajaran umat yang sangat berharga. Memang terkadang yang adem ayem tidak selalu lebih baik. Tetapi sering kali, justru yang penuh dinamika lah yang terbaik. Jarang pribadi yang hebat itu adalah pribadi yang jalanya lempeng-lempeng saja, tetapi sering kali pribadi yang hebat adalah pribadi yang hidupnya penuh liku-liku dan dinamika. Ikatan keluarga yang kuat pun bukanlah keluarga yang tidak pernah terjadi konflik, tetapi keluarga yang bisa kembali bersatu, semakin kuat ikatanya, setelah melalui ujian-ujian konflik yang mendera. Begitu halnya organisasi sebesar dan sehebat NU ini.

Saya sangat optimis, melihat tabiat orang-orang NU, meskipun mereka digambarkan oleh media berseteru hebat, sebagaimana budaya para santri mereka pasti akan segera  rukun kembali, suasana akan mencair kembali. Dan akan guyonan kembali. Kalaupun ada media yang terlalu membesar-besarkan, argh itu mah memang pekerjaan mereka cari makan dari situ. Toh perjalanan waktu yang akan membuktikan nya. Argh, lahwong begitu saja kok Repot ! Serius Amat sih !

Gus Dur Cak Nun Gus Mus

Cak Nun, Gus Mus, dan Gus Dur (@kangSantryyy)

Dari muktamar NU yang ke-33 ini, saya banyak belajar tentang ketawadu’an, kerendah-hatian, kesejukan, keteladanan, kebesaran jiwa dari seorang Gus Mus. Saya belajar tentang keberanian menyampaikan dan memperjuangkan sesuatu yang diyakini kebenaranya dari Gus Sholah. Saya juga belajar banyak tentang ketinggian ilmu, kepercayaan diri, dan sikap optimisme dari Kang Said Aqil Siroj. Dan banyak belajar hikmah lainya dari para kyai sepuh dan para tokoh,  dan tentang semangat membangun anak-anak muda NU dari muktamar NU yang ke-33 ini. Dari muktamar NU ini, saya yakin NU secara organisasi bisa belajar banyak tentang manajemen organisasi yang lebih baik ke depanya.

Gus Sholah Kang Said Berdamai

Gus Sholah dan Kang Said pun Rukun Kembali (@kangSantryyy)

Secara pribadi, dari proses muktamar NU 33 yang saya ikuti ini, pada akhirnya saya pun belajar bahwa dalam setiap hubungan yang melibatkan manusia-manusia, filosofi yang kata orang Inggris, ‘Everybody want to be somebody‘ atau kata orang Jawa ‘kudu iso nguwong ke‘ itu benar-benar penting untuk diperhatikan untuk menciptakan harmoni. Sebisa mungkin setiap individu, harus diajak bergandengan tangan untuk tumbuh dan maju bersama-sama. Jangan sampai ada diantara kita yang merasa tertinggal dan ditinggalkan.

Terima kasih NU atas pelajaran ini. Semoga NU kedepanya, dalam, mabadi’ khoira ummah, mengabdi dalam membangun ummat yang lebih baik, semakin terasa dampaknya, khususnya untuk masyarakat santri di tataran akar rumput yang menjadi basis cultural dari Jamiiyah ini. Semoga Alllah senantiasa membimbing, memberi petunjuk jalan bagi perjuangan kita semua ! Semogah barokah untuk kita semua. Allahumma Ammiin.

Kalau Perlu Saya Mencium Kaki-kaki Anda Semua

Saya malu kepada Allah Ta’ala, malu kepada Hadratus syeikh KH Hasyim Asy’ari, Malu kepada Kyai Abdul Wahab Hasbullah, Malu kepada Kyai Bisri Syansuri, Malu kepada Kyai Romly Tamim dan pendahulu kita yang telah mengajarkan kepada kita akhlakul rosul SAW Lebih menyakitkan lagi tadi pagi saya disodori koran headline mengatakan: ‘Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh’ – KH Mustofa Bisri

FATWA ROIS AAM

Gus Mus Menenangkan Kegaduhan Muktamar NU 33 di Jombang (okezone.com)

Belajar dari Muktamar NU ke-33, 2015

Awal Agustus ini, dua ormas Islam terbesar Indonesia, NU dan Muhammadiyah, sama-sama memiliki gawe besar, yaitu Muktamar yang agenda utamanya adalah memilih ketua umum baru. Muktamar NU yang ke-33 itu diadakan tanggal 1-5 Agustus 2015 di kota santri, Jombang, Jawa Timur, kota tempat para pendiri NU berada. Sementara Muktamar Muhammadiyah yang ke-47 itu diselenggarakan pada tanggal 3-7 Agustus 2015 di Makassar Sulawesi Selatan.

Boleh dibilang Muktamar NU yang ke-33 ini adalah yang paling ‘heboh’, dan paling banyak dibicarakan bahkan menimbulkan polemik dan pro kontra di media masa, khususnya di media jejaring sosial. Gerakan ayo Mondok, yang merupakan rangkaian muktamar NU yang ke-33 sempat menjadi trending topik di twitter. Banyak yang mendukung, tetapi juga tidak sedikit yang mencela. Tak kalah heboh adalah tema yang diangkat, yaitu Islam Nusantara, yang menjadi bulan-bulanan di media masa dan media jejaring sosial, selama beberapa bulan sebelum hingga hari H pelaksanaan Muktamar. Ada yang pro tetapi banyak juga yang kontra. Bahkan para kyai dan bu nyai artis di TV pada nyinyir dengan Islam Nusantara. Tak kalah hebat, serangan balik dari kelompok-kelompok yang merasa terusik dengan term ‘Islam Nusantara’. Khususnya, mereka yang lebih condong ke Salafi/Wahabi. Kesan saya, mereka terlalu terburu-buru menghakimi ‘Islam Nusantara’ dengan pandangan mereka, tanpa sabar sedikit menoca memahami, opo sing dikarepake dengan Islam Nusantara yang dijadikan tema Muktamar NU yang ke-33 ini. Bahkan teman dekat saya jaman SMP, yang kebetulan salafiyyun, terang-terangan bilang sama saya untuk meng unfriend di facebook, hanya gara-gara saya pasang status tentang Islam Nusantara. Saya pun hanya tertawa dalam hati.

Berbeda dengan NU, euforia muktamar ke-47 Muhammadiyah, relatif kurang terdengar gaungnya. Tema yang diangkat pun yaitu Islam yang berkemajuan, relatif kurang mendapat respon dari masyarakat. Relatif adem ayem.

Rupanya, kegaduhan Muktamar NU itu berlanjut hingga hari H pelaksanaan Muktamar. Sialnya, kegaduhan kali ini, tidak disebabkan oleh ‘benturan’ Nahdliyin dengan kelompok lain seperti sebelumnya, tetapi kegaduhan yang dilakukan oleh para peserta muktamar sendiri. Mulai dari proses pendaftaran yang ruwet dan amburadul, hingga sidang pleno yang ricuh. Akibatnya, agenda pembacaaan tata tertib muktamar, yang sedianya dijadwalkan selesai pada hari pertama.  Harus molor berlarut-larut penuh ketegangan, hingga tata tertib muktamar itu baru disepakati di hari ketiga.

Menurut hemat saya, penyebab sebenarnya, ya ujung-ujung nya adalah ya lagi-lagi pada berebut kuasa, pimpinan tertinggi. Antara dua kubu, yang sebenarnya rival lama, pada muktamar lima tahun sebelumnya. Yaitu kelompoknya Gus Solah dan Hasyim Muzadi di satu kubu, dan kelompoknya Kyai Aqil Siroj yang Incumbent. Tetapi, teknisnya, yang menjadikan polemik berlarut-larut adalah tentang mekanisme pemilihan ketua umum. Kubu yang satu menginginkan sistem voting untuk muktamar kali ini, sementara kelompok yang lain menginginkan sistem AHWA (Ahlu Haq Wal Ahdi) atau sistem perwakilan melalui dewan formatur diterapkan mulai muktamr kali ini.

Perbedaan pandangan inilah, yang sebenarnya sudah diprediksi, yang menimbulkan kekisruhan. Sayangnya, para peserta muktamar yang kebanyakan para kyai ini ini banyak yang tidak sabar dan tidak mampu menahan emosinya. Hingga terjadilah peristiwa yang ‘memalukan’ itu pun terjadi. Para kyai terlibat adu mulut, saling serobot mik, bahkan saling dorong-mendorong. Parahnya semua itu terekam secara Live oleh media. Dan disaksikan oleh jutaan mata masyarakat Indonesia. Belum lagi statemen-statemen beberapa kyai yang justru seperti membuka aib sendiri dengan berkoar-koar di media, dengan klaim dan tuduhan yang belum tentu kebenarnya.

Saya pribadi, yang kebetulan pas akhir pekan, sehingga bisa mengikuti dari berita online, maupun streaming, miris, ngelus dodo dan malu sekali rasanya. Betapa, jamiiyah yang selama ini saya bangga-banggakan ternyata akhlaknya seperti itu, tak ubahnya para politisi di senanyan yang gontok-gontokkan. Bukankah mereka itu para kyai yang terkenal akhlak tawadu’ dan wira’i nya. Argh, tapi mungkin jaman sudah berubah dan kyai pun akhlaknya juga berubah.

Sampai-sampai, Martin van Bruinessen,  peneliti Islam NU di Indonesia, serta pengagum Gus Dur dan Nahdlatul Ulama dari Belanda, yang sengaja datang ingin melihat proses Muktamar organisasi Islam yang dia kagumi itu, sebagaimana saya kutip dari merdeka.com, dengan mata berkaca-kaca, berkata:

Saya sedih dan ingin menangis melihat kondisi ini.

Saya yakin, ada kelompok lain yang diam-diam bertepuk tangan, sorak sorai, dengan kericuhan dan kegaduhan di dua hari pertama muktamar itu. Terutama kelompok lain, yang sebelumnya berseberangan dengan NU khususnya dengan tema yang diangkat pada muktamar kali ini.

Berbeda dengan muktamar NU yang diberitakan gaduh oleh media, muktamar Muhammadiyah di seberang lautan diberitakan sangat teduh. Semua berjalan lancar, dan tidak ada isu-isu negatif yang menyertainya.

Ketika para Kyai Sepuh Turun Tangan

Tetapi alhamdulilah, kekisruhan itu akhirnya terdamaikan. Ketika para kyai sepuh, yang dipimpin oleh Gus Mus, menengahi kekisruhan itu. Dengan wejanganya yang dalam dan menyentuh, disertai isak tangis, dan gaya khas Gus Mus yang kalem itu, akhirnya mendiamkan para muktamirin yang sebelumnya gaduh. Ketika Gus Mus memberi wejangan, mendadak semuanya sunyi senyap, bahkan sebagian para peserta muktamar tak kuasa menahan tangis. Dan akhirnya, tata tertib muktamar itu dengan solusi dari para kyai sepuh, akhirnya diterima oleh semua peserta muktamar.

Membaca, mendengar, dan melihat video, wejangan Gus Mus itu pun, membuat saya berlinang air mata di lab. hari ini. Wejangan kyai yang sangat kagumi itu begitu menyentuh, bagaimana seorang kyai yang sangat dihormati itu, berkali-kali meminta maaf kepada para peserta muktamar, bahkan beliau bilang:

kalau perlu saya mencium kaki-kaki anda, agar Anda Memperlihatkan Akhlak Jamiyah Nahdlatul Ulama, Akhlaknya Kyai Hasyim As’ary.

Berikut wejangan lengkap Gus Mus:

Mudah-mudahan hingga berakhirnya muktamar nanti, semuanya berjalan adem, tentrem, dan tercapai kebaikan bersama. Semoga ini menjadi pembelajaran terbaik bagi NU, khususnya pembelajaran Demokrasi di tubuh NU. Semoga NU menjadi ormas yang semakin dewasa. Dan bersama-sama Muhammadiyah, sebagai civil society, di negara Indonesia yang kita cintai ini. Penebar islam yang moderat, damai, dan pembawa rahmat buat sekalian Alam semesta.

Selamat Bermuktamar, NU dan Muhammadiyah !

Gus Dur : Yang Selalu Hidup di Tengah Kita

“… orang yang berilmu dan bermanfaat ilmunya pada dasarnya ia tidak pernah mati. meskipun jasadnya telah menyatu kembali dengan tanah dari apa dia diciptakan, tetapi ilmu, inspirasi, dan semangat juang nya senantiasa hidup di tengah-tengah kita. Benarlah apa kata Sang Nabi, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya buat sesamanya.

gusdur_01

Jika saya ditanya siapa orang Indonesia yang paling hebat dan paling berpengaruh seumur hidup saya? Saya pasti dengan mantap akan menjawab Gus Dur lah orang nya. Dia lah yang banyak mempengaruhi saya dalam memahami dan menjalani hidup dan kehidupan, agama dan keberagamaan. Dan saya sangat yakin beliau juga mempengaruhi ribuan bahkan jutaan manusia lainya. Seiring semakin dewasanya pemikiran saya berikut semakin banyak bacaan saya, semakin pula saya membenarkan dan mengagumi pemikiran-pemikiran Gus Dur. Pernah memang saya berfikir jalan pikiranya ngawur, tetapi seiring berjalanya waktu pada akhirnya saya menyadari bahwa jalan pikiranya tidak lain selain kebenaran.

Meskipun empat tahun sudah Gus Dur meninggalkan kita semua, tetapi Gus Dur masih selalu hadir di tengah-tengah kita. Jalan pikiranya masih saja terus dipelajari dan dilanjutkan, kiprahnya terus saja selalu dikenang, namanya masih saja sering disebut, keberadaanya masih selalu diidolakan, khususnya oleh jutaan orang yang menamakan dirinya Gusdurian. Lihatlah pula makamnya yang setiap harinya dizirahi oleh ribuan orang dari segala penjuru tanah air. Ulang tahun hari kematianya (khoul), setiap tahun dieperingati di berbagai daerah berhari-hari oleh pencintanya yang lintas etnis. Bahkan, Pak SBY orang nomor satu di Indonesia pun bersedia menyempatkan datang ke Jombang untuk acara ini.  Betapa luar biasanya anak manusia satu ini, patutlah jika banyak orang yang menyebutnya waliyullah, sang kekasih Tuhan.

Ziarah Ke Makam Gus Dur

Liburan natal di Tanah air tahun 2013 ini, alhamdulilah  saya bisa menyempatkan untuk berziarah lagi ke makam Gus Dur. Kali ini saya bersama Istri dan Anak saya. Ini adalah ziarah kedua kali saya di makam Gus Dur. Pertama, waktu beberapa hari setelah wafatnya Gus Dur, bersama Mas Danu, seorang kawan sesama dosen muda di ITS beberapa tahun yang lalu.

Makam Gus Dur ini berapada di dalam kompleks pondok pesanten Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Untuk mencapai lokasi,  anda bisa menggunakan public transport dengan sangat mudah. Dengan bus dari terminal Jombang anda bisa naik bus mini jurusan Jombang – Malang tidak lebih dari 30 menit. Anda bisa juga naik bus yang sama dari stasiun kereta api Jombang. Selain bus mini, anda juga bisa naik angkot dari teminal maupun stasiun kereta api Jombang.

gusdur_02

Pada ziarah yang kedua kali ini saya cukup kaget, karena banyak sekali perubahan. Jika dahulu saya bisa masuk komplek pondok pesantren untuk menuju makam, sekarang jalan akses tersebut sudah ditutup. Sebagai ganti, untuk menuju lokasi makam, kit harus melalui gang-gang diantara perumahan penduduk sekitar pondok pesantren. Dimana jalan-jalan akses tersebut sudah berubah bak pasar yang dipenuhi outlet orang jualan layaknya jalan akses menuju makam Sunan Ampel di Surabaya. Di jaln-jalan ini mulai penjual kacang godok bungkus koran harga 500an, toko oleh-oleh, pakaian, buku, suvenir bisa anda temui.

gusdur_03

Dalam hati kecil saya berbisik, betapa luar biasanya sosok Gus Dur ini, sudah meninggalkan barokahnya masih bisa dirasakan oleh rakyat hingga sekarang. Bisa terbayang, berapa banyak orang yang ekonominya terangkat dengan keberadaan makam Gus Dur. Dari  penjual makanan, buah-buahan, pakaian, suvenir, penyedia jasa toilet, tukang ojek, sopir angkot, tukang foto , tukang pakir, hingga pemilik penginapan dan hotel, mereka semua kecipratan barokah rejeki, sejak jasad Gus Dur dimakamkan disitu. Jikalau ada pakar ekonomi yang menghitung, saya sangat yakin ada lonjakan pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan di Jombang sejak dimakamkanya jasad Gus Dur di tempat ini.

gusdur_04

Mendekati kompleks pemakaman, ribuan orang menyemut masuk dan keluar dari makam. Dari anak-anak kecil, remaja, tua, hingga lanjut usia tumplek blek berdoa di komplek pemakaman keluarga pesantren Tebu irang ini. Jika dulu pertama datang kesini tempat berdoa hanyalah pendopo kecil, sekarang sudah dibangun bangunan dua lantai mengitari makam yang dibangun khusus untuk peziarah. Walaupun di luar kota Jombang sangat panas dan gerah, hawa di sekitar kompleks pemakaman ini sangat sejuk dan menyenangkan. Ilyas, anak saya pun sangat kegirangan berada di kompleks makam ini.

gusdur_05

Para peziarah ini kebanyakan adalah rombongan dari berbagai daerah. Mereka datang untuk berdoa dengan membaca tahlil, alquran, dan istigotsah. Tidak jarang sering terdengar dari ketua rombongan kata-kata, Ya Waliyallah.  Tentu saja mereka tidak berdoa meminta kepada Gus Dur, tetapi mendoakan kepada Allah untuk Gus Dur. Atau mereka berdoa terkabulnya hajat-hajat mereka dengan wasilah orang-orang yang dianggap dekat dengan Allah yaitu waliyallh, dan mungkin Gus Dur adalah salah satunya. Wallahu a’lam.

gusdur_06

Mampir Ke Pesanten Darul Ulum

Selain ke Tebuireng, kami sempatkan juga mampir ke Pondok Pesantren Darul Ulum. Pesantren ini adalah almamater saya dan istri saya dimana kami untuk kali pertama bertemu. Dari terminal Jombang, saya naik becak yang mengantar saya langsung ke dalam kompleks pesantren.

gusdur_07

Di Pesantren saya hanya ziarah ke makam. Kebetulan dua kyai saya ketika saya belajar di pesantren ini yaitu KH. Hanan Ma’sum dan KH As’ad Umar sudah meninggal dunia. Sehingga kami hanya bisa soan ke makamnya saja. Kata Gus Dur, dia lebih senang sowan ke orang yang sudah meninggal dunia ketimbang yang masih hidup. Hal ini katanya karena orang yang sudah meninggal, tidak punya kepentingan dunia lagi.

Sehabis ziarah di makam, dan nostalgia makan bakso kesukaan kami waktu nyantri di pesantren ini, kami sowan ke ndalem salah satu ustadz yang kebetulan dekat dengan kami berdua dan rumahnya tidak jauh dari pesantren. Senang rasanya, dinasehati tentang kebajikan dan kearifan hidup seperti anak sendiri.

Berkunjung kepada orang-orang alim baik yang masih hidup maupun sudah meninggal dunia memang senantiasa membawa berkah sendiri. Berkah berupa nikmat kecipratan ilmu dan hikmah.