“… dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil… ” (QS. Al Maa’idah: 8)

BersamaGusMus
Bersama Gus Mus at Masjid Alhikmah, Denhag, Neherland (17/01/2015)

Belum pernah rasanya melakukan pejalanan singkat sebelumnya dengan bertemu banyak orangnya, yang dengan mereka saya bisa menyerap begitu banyak sekali ngelmu dan inspirasi hidup, seperti perjalanan saya kali ini. Perjalanan yang seperti biasa, tidak direncanakan sebelumnya, dan terjadi begitu saja. Kali ini, rute perjalanan saya adalah Nottingham – London – Amsterdam – Denhag – Rotterdam – Denhag – Amsterdam – Leiden – Amsterdam – London – Nottingham, selama 6 hari 5 malam.

Di kota-kota ini saya bertemu dengan beberapa teman lama saya, banyak sekali teman-teman baru tidak hanya dari kota-kota di Belanda tapi juga dari Maroko, Jerman, dan Belgia, dan beberapa kyai, ulama, ilmuwan. Dan diantara yang paling berkesan adalah bisa bertemu dan ngaji langsung bareng Gus Mus (KH. Musthofa Bisri). Tidak hanya menyerap ilmu, tapi juga sempat mencium telapak tangan beliau dan didoakan oleh beliau.

gusmus_martin
Gus Mus dan Prof. Martin (Masjid Alhikmah, Denhag, Netherland, 17-01-2015)

 

Di Indonesia saya belum pernah ketemu langsung dengan beliau, hanya penikmat tulisan-tulisan beliau yang adem. Pernah sekali diajak sowan ke pesantren beliau di Rembang, tapi sayang belum sempat ketemu beliau. Tapi beruntung masih bertemu dengan Gus Yahya (mantan juru bicara presiden Gus Dur). Eh, tenyata Gusti Allah malah menakdirkan saya bertemu beliau di Belanda.

Di Denhag, saya bertemu dalam sebuah sarasehan betajuk Islam Nusantara dengan Pengajian Maulid Nabi Muhammad, SAW. Di sarasehan, beliau menjadi salah satu keynote speaker bersama dengan Prof. Martin dari Universitas Utrecht, orang Belanda pakar Islamologi yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Dan beberapa pembicara lainya seperti Kyai Hambali, sesepuh kyai NU di Belanda yang bersama Gus Dur mendirikan Persatuan Pelajar Muslim Eropa (PPME) 45 tahun silam dan Pak Sudirman Moentari, kyai dari Suriname yang mbahnya asli Kediri, Jawa Timur.

Sementara di Amsterdam, saya bertemu beliau dalam pengajian Maulid Nabi Muhammad dan pelantikan Pengurus baru PCINU Belanda, dan sesi khusus Gus Mus dengan pengurus PCINU Eropa dan Maroko. Tahun ini spesial sekali buat saya, bisa merayakan maulid nabi dua kali. Rasanya, sudah bertahun-tahun tidak merayakan maulid nabi. Maklumlah, hidup di tengah masyarakat urban, maulid nabi lebih sering terdengar dibi’ahkan daripada dirayakan.

Seperti biasa, di pengajian, Gus Mus tidak suka banyak ndalil dan pesan-pesan beliau yang berisi nilai-nilai universal. Dalam satu kalimat, beliau mendeskripsikan kanjeng nabi sebagai manusia yang paling memanusiakan manusia. Nabi yang sangat humanis, yang karenanya ajaranya sangat relevan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan menjadi rahmat buat semua (rahmatalil’alamin). Bukan ajaran eksklusif seperti yang dikesankan beberapa kelompok dari kita.

Beliau juga memberikan amalan, usaha batin. Menurut beliau, selain usaha dohir, dalam usaha menggapai sesuatu kita juga perlu usaha batin. Amalan pertama adalah hendaknya setiap hari, sedikitnya kita membaca istighfar 100 kali dan memperbanyak baca sholawat. Dalam berdoa, hati kita harus hadir. Karena Allah tidak akan mendengar doa orang yang hatinya lupa. Dan sebelum berdoa, beliau mengajak terlebih dahulu membaca alfatihah dengan ayat waiyyakanasta’in dibaca 11 kali sambil membatin hajat yang kita inginkan.

gusmus_amsterdam
Maulid Nabi Bersama Gus Mus (Amsterdam, Netherland, 18 Januari 2015)

 

Sementara dalam sarasehan, beliau menyoroti semakin maraknya gerakan Islam fundamentalis/wahabisme termasuk di Indonesia. Seperti Charlie Hebdo. Menurut beliau, hal ini disebabkan oleh semangat keberagamaan yang menggebu-gebu tapi tidak dibarengin pemahaman islam yang cukup. Beliau, mengkritisi orang yang hanya belajar islam secara textual dari Alquran dan Hadis terjemahan. Hal ini rentan menjadikan pemahaman Islam yang salah. Teks Alquran/Hadis bukanlah rekaman kanjeng nabi, karenanya perlu seperangkat ilmu tafsir untuk memahaminya dan perlu bimbingan ulama tentunya, bukan menafsirkan saenak udele dewe. Inilah yang memicu Islamophobia di dunia barat.

Terhadap islamophobia, Gus Mus mengingatkan meskipun kita pastinya sakit hati nabi kita dihina, tapi jangan sampai membuat kita berbuat tidak adil. Ya kalau kita ditampar pipi kita 1 kali, ya jangan dibalas 5 kali. Sayangnya, wajah Islam yang kesanya tidak toleran dan fundamental inilah yang mendominasi wajah Islam di dunia barat yang membuat Islamophobia di barat semakin parah. Seandainya, wajah Islam Nusantara yang seperti dipelopori NU dan Muhammadiyah, yang moderat, ramah, luwes terhadap perkembangan jaman, lebih mengedepankan esensi daripada bungkus, yang menjadi referensi utama tentang Islam di dunia barat, ketakutan terhadap Islam itu tidak perlu terjadi. Hal ini diamini oleh Prof. Martin, dan Doug Smith, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Konservatif Inggris dan Dean Godson, Direktur Policy Exchange yang mengunjungi Gus Mus beberapa hari yang lalu.

Semoga, kita terus tidak pernah berhenti menggali ajaran Islam kita. Kita bisa jadi berpendidikan tinggi dalam bidang ilmu kita tetapi kita sangat awam terhadap Islam kita. Dan jangan lupa, belajarlah Islam pada kyai, ulama, yang keilmuanya mumpuni, yang paham ilmu tafsir, yang paham bahasa arab. Jangan belajar Islam hanya dari ustad atau buku karangan ustad yang ilmunya cetek hanya modal quran dan hadis terjemahan, yang  menafsirkan sakenak udele dewe. Apalagi, belajar Islam hanya dari kyai Google, yang dikuasai artikel dari situs wahabi. Kembalilah belajar pada Ulama’ yang gurunya nyambung sampai kanjeng nabi Muhammad S.A.W. Semoga hidayah Allah senantiasa menerangi kita.

Advertisements

edinburgh

Finally,  we were returning to Nottingham back. Three days of fantastic trip to the Scotland must reach its final end. Yeah, if only we could stay longer, we would. However, as matter of fact, nothing is eternal in this temporary world. There is not everlasting happiness or sadness in this tempting world.  In here were the end of our fantastic adventure to Scotland. and Eventually,  at the end of the day in the future, I do believe it will be too nice memory to remember s. Thanks a bunch for the friendship. Dear friends, please promise me that you will never forget the time we spent together and hold tight this bond.

return_ticket

We were leaving from Edinburgh at 09.30 PM and be scheduled to arrive at Nottingham at 10.50 PM. We were sleeping in the bus a long the journey between Edinburgh and Birmingham. We were so tired, indeed.  We arrived at Birmingham coach station at around 07.00 am as scheduled. While waiting for the next trip to Nottingham, we took a bath in the bus station and looked for breakfast at Birmingham City Center. I and Arif tried to find Dixy Fried Chicken, but unfortunately it was still closed. Luckily, we found Chicken Kebab Tiki at halal food stall in the city. It was quite cheap, £3.25 per each, and we got one free because we bought four pieces.

IMG_1868

The bus leaving for Nottingham at 08.30. Along the journey, we had the breakfast and long chats until the bus arrived at Nottingham coach station. Alhamdulillah, finally we arrived at our habitat, the city of Nottingham. We caught the Skylink bus from the bus station to our home. and that was the end of the adventure the Scotland. It would be one of unforgettable moments in Life.

In the evening (Tuesday, 28th May 2013), I went to the University Park campus for being exams Invigilator in Coat Building. The exam started at 04.30 and ended at 06.00 pm. After the exam, I went to the lab at Jubilee campus to warm out my brain with my PhD stuff after three consecutive days of break. I went home at 09.00 pm for the tight sleep.

Thank you very much for the day ya Allah. I love you as always.