jalan-jalan di pulau bangka

Tet Li: Setangkup Cerita Perjalanan

… hidup tak seindah yang terlihat.¬† hanya sawang-sinawang. Karenanya, agar terasa indah, sesekali kita perlu menjadi penonton kehidupan – a random thought

tetli_tanjung_pinang

Danau Kaloin Tet Li, a random place in Bangka Island.

Acara seminar internasional yang sedianya diadakan tiga hari, rupa-rupanya berakhir di hari pertama. Acara city tour yang janjinya sudah include biaya pendaftaran pun dibatalkan tanpa penjelasan sepatah kata. Haha, aku pun ketawa saja. Mungkin panitia kehabisan uang fikirku.

Yang penting sudah menggugurkan kwajiban, mempresentasikan makalah ku di forum (literally) internasional, meskipun jujur 100% di forumku itu hanya ada orang Indonesia. Lalu, dapat sertifikat dan empat buah stempel basah dari panitia di atas dua lembar kertas dari kolegaku di bagian keuangan.

Di hari kedua, aku dan tiga orang yang baru ku kenal di tempat seminar menyusun sebuah rencana. Sopir taksi online, yang baru kenal dengan salah satu dari kami di Bandara, hari itu bersedia mengantar kami berpetualang menyusuri pulau Bangka.

Tujuan pertama kami adalah danau Tetli. Danau bekas tambang timah ini kabarnya keindahanya luar biasa. Dari atas pesawat sebelum mendapat di Bandara Depati Amir danau-danau itu terlihat  begitu cantik memesona, airnya jernih biru kehijau-hijauan.

Rupanya, Mas Sopir pun belum pernah ke tempat satu ini. Jadilah, google map menjadi penunjuk jalan kami. Awalnya kami baik-baik saja. Tetapi kami menjadi sedikit was-was ketika petunjuk google map membawa kami menyusuri jalan-jalan makadam tak beraspal di tengah-tengah hutan.

Di jalan sempit itu, kiri-kanan kami hanyalah pohon-pohon kelapa yang lebat. Hanya ada beberapa rumah yang letaknya jarang-jarang di tengah-tengah hutan. Rumah yang halamanya terlalu luas, lengkap dengan kandang babi. Terlihat oleh kami seekor babi berlari-larian di pekarangan. Sesekali terlihat kelapa sawit, dan rerimbunan pohon pala yang merambat, atau rimbun pohon cocoa. Yang lebih sering kami jumpai adalah kuburan cina yang ukuranya besar-besar di sepanjang jalan itu.

Uniknya, hampir semua plang masuk ke desa bertuliskan huruf cina. Kami hampir saja berputus asa, merasa tersesat dan tak tahu jalan pulang. Beruntunglah, seorang warga yang kebetulan berpapasan dengan kami memberi kami petunjuk jalan.

Akhirnya yang kami cari kami temukan juga. Sebuah danau di tengah-tengah hutan yang terlihat tak bertuan. Kami adalah satu-satunya pengunjung danau itu. Oila, begitu instagramable betul danau itu. Sebuah danau yang jernih airnya, biru kehijau-hijauan (torquise) yang dikelilingi gundukan pasir putih.

Andai saja ada perahu sampan warna-warni, ingin rasanya berkeliling mendayung sampan mengitari danau itu. Tetapi yang ada hanyalah kesunyian dan desau suara angin.  Aku duduk di tepi danau, menatap, merenung, mengagumi dan diam menatap keindahan alam itu. Menenangkan, tetapi ketakutan akan kesunyian itu tiba-tiba saja datang menyergap.

Aku berlarian menuju mobil yang siap meninggalakan tempat, saat seekor serigala keluar dari balik gundukan batuan gamping putih yang tadi kududuki dan kuinjak-injak. Dan kami pun segera berlalu, melanjutkan perjalanan.

Pangkal Pinang, 04/10/2018

Related Links:

 

Advertisements