jalan-jalan di london

Senja di Trafalgar Square

… sekedar cerita perjalanan biasa saja – a random thouhgt

 

trafalgal_square

Ilustrasi: Salah Satu Sudut Trafalgar Square

Setelah jenuh berdiskusi dengan pikiranku sendiri di pinggir sungai Thames, aku pun beranjak pergi. Menyusuri sudut lain kota London yang sudah pernah beberapa kali aku kunjungi, namanya Trafalgar Square.

Buat ku, tempat ini tak ubahnya sebuah alun-alun kota. Tempat dimana banyak orang berkumpul, sekedar untuk bersantai atau sekedar untuk bersenang-senang. Tidak seperti saat pertama berada di tempat ini, sore itu Trafalgar Square nampak biasa-biasa saja.

Kerumunan orang, yang kebanyakan turis memadati setiap sudut alun-alun. Sekedar duduk-duduk sambil melihat air mancur, patung, dan kawanan burung merpati. Atau sekedar foto-foto dengan latar belakang beberapa bangunan berasitektur gothic, khas bangunan romawi. Di salah satu sisi, alun-alun berdiri sebuah bangunan megah The National Gallery, tempat pameran lukisan.

Aku berjalan menyusuri alun-alun, berada di antara kerumunan orang-orang. Sekedar ingin ketularan aura kebahagian yang terpancar oleh wajah-wajah para pengunjung tempat ini. Lalu, ikutan duduk-duduk diantara mereka di salah satu sisi alun-alun di depan The National Gallery yang berundak-undak itu. Menjadi penonton kerumunan orang-orang, berdiskusi dengan isi kepala sendiri.

Lama-lama tidak betah juga, rupanya menjadi solo traveller begitu menyiksa bagi ku. Tidak ada teman diskusi, selain dengan pikiran sendiri. Aku pun beranjak ke arah pintu masuk The National Gallery, melihat orang mengantre untuk masuk satu persatu. Aku duduk di bibir taman di depan gallery, tepat disamping beberapa orang yang dari pakainya seperti gelandangan. Mereka tidur-tiduran disitu.

Hati kecil ku berbisik: yah, bule kok jadi gelandangan, padahal ini bule kalau di Indonesia, tinggal dimandiin saja kasih parfum dikit sudah bisa jadi artis. Kota besar selalu menyimpan ironi. Di antara gedung-gedung megah, diantara orang-orang yang bergaya hidup wah, masih menyisakan orang-orang yang terpinggirkan, seperti gelandangan dan pengemis ini. Bahkan di negara maju yang konon kesejahteraan sosial setiap warganya sungguh-sungguh serius diperhatikan oleh negara.

Capek duduk, aku pun ikutan antri masuk gallery. Meskipun aku sudah tahu isi di dalamnya, tapi rasanya lebih menguntungkan daripada duduk-duduk tidak jelas disamping gelandangan itu. Ada pemeriksaan ketak dipintu masuk. Setiap tas harus dibuka, untuk diperiksa isinya. Kalau-kalau ada pengunjung yang membawa bom.

Di dalam gallery bertingkat itu, aku menyusuri ruang demi ruang. Lantai demi lantai. Pura-pura menikmati keindahan lukisan yang berukuran besar-besar itu. Tapi, sungguh aku tidak pernah paham, bagaimana menikmati keindahan sebuah lukisan. Apalagi, hampir semua lukisan itu bercerita tentang kerajaan Tuhan. Dan banyak diantaranya adalah lukisan-lukisan manusia nyaris telanjang. Perempuan-perempuan dengan dua payudaranya yang indah menonjol, terpampang tanpa sehelai kain menutupi. Mungkin pada jaman itu, yang namanya BH belum ditemukan. Dan perempuan-perempuan pada jaman itu terbiasa bertelanjang dada, seperti gadis-gadis bali tempo dulu.

Tak sampai satu jam, aku pun keluar dari gallery. Mondar-mandir di halaman depan gallery yang ramai dengan orang-orang yang mengerumuni beberapa seniman jalanan. Ada yang berdandan ala patung badut, yang seolah-olah terlihat duduk mematung  di atas angin tanpa bergerak. Beberapa pengunjung tertarik berfoto bersama. Jepret! lalu melempar uang recehan di mangkok kecil di depan patung badut. Si patung badut membalas dengan seulas senyum.

Ada juga seniman lukis yang melukis bendera negara-negara peserta olimpiade 2016 di Brasil dengan kapur berwarna di lantai halaman gallery. Orang-orang berkerumun, mencari bendera negaranya masing-masing, lalu melempar uang recehan di atas lukisan bendera itu. Aku menunggu ada orang yang melempar recehan di atas bendera Indonesia, tapi sampai lebih sepuluh menit berlalu, tak seorang pun melakukanya. Emosi ku pun tak terpancing untuk melempar recehan di atas lukisan merah putih. Di sebelah pelukis bendera, ada pelukis kapur juga yang sedang melukis perempuan seksi yang memamerkan bongkahan payudaranya.

Di samping seniman lukis, ada seniman teater yang juga ramai dikerumuni orang.  Di tengah kerumunan orang-orang itu, seorang seniman terlihat memperagakan gerakan-gerakan akrobatik yang terlihat sangat mengerikan dan berbahaya jika dilakukan oleh orang-orang biasa. Penonton bersorak sorai tepuk tangan, setiap sang seniman berhasil unjuk kebolehan.

Terakhir, di paling ujung halaman depan gallery, ada seniman musik. Hanya ada dua orang anak muda. Yang satu sebagai drummer, satunya lagi sebagai gitaris merangkap vocalis. Menembangkan lagu-lagu yang sedang ngehits di pasaran. Suaranya bagus. Di antara para seniman jalanan ini, hanya seniman musik ini yang bisa saya nikmati.

Capek berdiri, aku segera menuju stasiun tube, kereta api cepat bawah tanah, terdekat di salah satu sudut Trafalgal Square. Kuhabiskan sisa waktu ku hari itu, di dalam tube yang mengelilingi kota London. Sambil duduk istirahat, membaca buku di dalam tube, aku memperhatikan kesibukan luar biasa para Londoner, saat pulang kerja hingga senja datang.

Buatku, memperhatikan tingkah polah orang-orang itu sangat mengasyikkan. Berjam-jam aku berada di bawah tanah kota London, di dalam perut cacing besi yang berlari super duper cepat, memecah kesunyian perut bumi di kota London. Hingga beberapa booklet tentang sejarah panjang pembangunan jaringan tube yang begitu rumit dan komplek, yang tidak saja mengaplikasikan sains dan ilmu rekayasa, tapi juga memadukanya dengan seni itu selesai aku baca. Menyisakan sebuah tanda tanya: jika di kota London, jaringan rel bawah tanah ini sudah mulai dibangun sejak tahun 1843, sementara di Jakarta baru mulai dibangun tahun 2016 ini; berapa jauh sudah negara ku tertinggal oleh negara ini? Tuhan, ajari kami cara mengejarnya!

Advertisements

London Sebelum London

… rupanya, kita hanya mengulang-ngulang sejarah. Argh, bodoh sekali mereka yang tidak belajar dari sejarah apalagi sengaja melupakan sejarah – A Random Thought

museum_london

Museum of London

Kata para penikmat perjalanan, tak soal sudah berapa kali sampean melakukan perjalanan di tempat yang sama, perjalanan selalu mengajarkan hal baru. Apalagi, jika tempat itu bernama London. Seolah tak pernah cukup waktu menelusuri sudut-sudut kota state-of-the-art peradaban manusia ini. A week is never enough in London.

Tetapi, memang tak akan pernah ada yang lebih menggairahkan dari perjalanan yang pertama. Yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya menjadi semakin biasa-biasa saja. Sungguh, kengggumunan itu ternyata indah sekali.

Seperti hari itu, entah sudah keberapa kalinya aku menginjakkan di kota ini. Rasanya kota ini tidak menarik lagi. Semuanya terlihat biasa-biasa saja. Tempat yang dulu pertama kali kulihat begitu sangat menakjubkan, yang pernah membuat hatiku begitu amat bergairah seperti bocah kecil mendapatkan mainan baru yang telah lama diimpikanya itu, hari itu terlihat sangat biasa-biasa saja. Rupanya, sejatinya kebahagiaan bukanlah tentang seperti apa yang terlihat, dan terdengar, tetapi kebahagian adalah semua hal ihwal tentang rasa.

Hari itu pagi sekali, sebelum menyelesiakan sebuah urusan, aku sendirian menyusuri sudut lain dari kota ini. Menyusuri tempat-tempat yang tidak aku rencanakan untuk aku kunjungi sebelumnya. Berjam-jam aku berada di dalam Museum of London, salah satu dari banyak sekali museum-museum besar di kota ini. Di museum itu, alam pikiranku terbawa dalam suasana kota London dari masa ke masa, dari jaman ke jaman, dari jaman pra-sejarah hingga London ultra-modern yang seperti kita lihat seperti sekarang. Lalu, kaki ku membawa ku mengelilingi gereja Santo Paulus, salah satu landmark bangunan bersejarah di kota ini.

Lalu, setelah sebuah urusan selesai aku sengaja menghabiskan sisa-sisa waktu hari itu, untuk menyusuri kembali tempat-tempat yang sama, tempat-tempat yang aku kunjungi saat pertama kali menginjakan kaki di kota ini, hampir 4 tahun yang lalu. Hitung-hitung, sebagai kunjungan perpisahan sebelum aku kembali ke tanah air bisik hati ku.

big_ben

Bigben, London

Tempat pertama yang aku datangi kembali untuk kesekian kalinya adalah gedung parlemen westminster dengan menara bigben nya. Menara jam, icon kota London. Belum ke London kalau belum selfie dengan latar belakang menara ini. Aku tatap dalam-dalam kembali menara ini. Entahlah, rasanya menara ini tidak menarik lagi. Biasa-biasa saja. Gedung parlemen wesminster yang gotic itu pun juga terlihat biasa-biasa saja. Beberapa sudut gedung yang sedang direnovasi membuat gedung ini semakin tidak menarik. Padahal, rasanya dulu aku ingin teriak histeris saking senengnya pertama kali sampai di tempat ini.

Aku berjalan di antara kerumunan turis yang menyemut di atas jembatan sungai thames tidak jauh dari gedung parlemen itu. Ingin merasakan aura kebahagian para turis yang sedang berselfie ria dengan latar belakang Bigben atau London eye di seberang sungai. Dari air muka kebahagiaan mereka, aku yakin mereka sepertinya sebagian besar baru pertama kali berada di tempat ini. Di jembatan yang padat para turis itu, ada dua pengamen khas skotlandia, lelaki pakai rok, dengan alat musik terompet khas Skotlandia, yang juga tak kalah menarik perhatian para turis. Sebagai salah satu kota yang paling kosmopolit di dunia, berada di antara kerumunan orang-orang  dari berbagai bangsa di kota ini adalah suasana yang sangat menyenangkan.

london_eye

London Eye By Thames River

Setelah  dari ujung keujung sungai, aku melipir  ke sepanjang jalan setapak pinggir sungai Thame sebelum kemudian duduk sendirian di salah satu bangku kosong di pinggir sungai thame. Tempat duduk yang nyaman dengan view aliran sungai thame dengan London eye di ujungnya, serta gedung-gedung pencakar langit di kota ini. Air sungai Thame hari itu tidak sejernih seperti biasanya, tetapi berwarna kecoklatan, mungkin semalam barusan turun hujan. Beberapa kapal wisata siap diberangkatkan, mengangkut para turis yang mengantri panjang untuk kelililing menyusuri kota dengan kapal wisata itu. Gerombolan burung camar yang terbang berputar-putar di atas aliran sungai, lalu hinggap berderet deret di atap kapal lebih menarik perhatianku.

Setalah bosan mataku menyapu pemandangan setiap sudut kota, aku mengambil sebuah buku novel dari tas ku. Niat hati ingin menghabiskan sisa-sisa hari itu dengan khusuk membaca buku sendirian, dalam buaian angin sungai yang semilir, hingga senja tenggelam di balik cakrawala. Sialan sepasang muda-mudi yang sedang horni bercumbu di pinggir sungai, tepat di depan tempat duduk ku. Hilang sudah konsentrasi ku.

Pandangan ku beralih ke gedung-gedung megah dengan aristektur klasik dan arsitektur futuristic yang berselang seling.  Yang seolah berpesan bahwa kota ini tak akan pernah bisa terlepas dari sejarah masa lalunya yang sangat panjang. Jas merah: Jangan sekali-kali melupakan sejarah, sebagaimana pernah dipesankan Bung Karno.

Sejenak kemudian, aku pun larut dalam alam pikiran ku sendiri. Siapa sangka kota semegah ini pernah menjadi jajahan bangsa-bangsa. Bangsa Romawi, Angl0-Saxon, Viking, Norman, pernah menjarah dan menumpahkan darah. Di kota ini juga pernah terjadi perang saudara yang berdarah-darah, bahkan leher rajanya sendiri pun pernah dipenggal oleh rakyatnya sendiri. Kota ini pun pernah nyaris musnah, ketika kebakaran hebat menghangus 4/5 dari kota ini. Bahkan, penduduknya pun nyaris punah, ketiga wabah pageblug begitu mudahnya menghilangkan nyawa secara masal penghuni kota ini.

Permasalahan hidup yang kompleks nan rumit pun pernah mendera kota ini. Ketika agama berselingkuh dengan kekuasaan. Dan kekuasaan menciptakan tirani. Atas nama ayat-ayat kitab suci, musik, pementasan teater William shakesphere pernah diharamkan di kota ini. Orang-orang yang memahami ayat Tuhan sedikit berbeda, dibunuhi dan diusir dari kota ini. Sungguh, beberapa abad yang lalu, kota ini pernah dalam kondisi serupa dengan kota Aleppo di Syria.

Sebelum akhirnya abad pencerahan itu datang. Dan dari kota ini, ekonomi dan martabat banyak bangsa-bangsa dikendalikan. Sampai hari ini, di kota ini banyak bangsa-bangsa berdatangan. Dari sekedar jalan-jalan, berbisnis, menuntut ilmu di ibu kota mbahnya kapitalis ini. Entah sampai kapan?

Anggur Merah Putih di atas Sungai Thames

…. kadang kala, apa yang diimpi-impikan oleh sahabat kita, malah kita sendiri yang mewujudkanya,  dan sebaliknya apa  yang kita impi-impikan, justru diwujudkan oleh sahabat kita. Begitulah, hidup kadang seperti serial misteri yang sulit untuk ditebak – A Random Thought.

london

Sungai Thames, London, Inggris

Waktu SMP, saya punya seorang sahabat kecil, sebut saja namanya Fulanah. Suatu ketika, sahabat saya itu mengutarakan mimpi dan angan-anganya kepada saya:

Son, saya sudah lama bermimpi , suatu saat nanti saya ingin menikmati suasana malam kota London yang indah itu, dengan keliling menyusuri sungai Thames, duduk diatas kapal, sambil menikmati secangkir kopi hangat.

Waktu itu, saya hanya mbatin, emang seperti apa sih, indahnya kota London, kok si sahabat kecil saya ini, terlihat begitu teramat sangat ingin mewujudkanya. Saya saja masih sulit, membayangkan seperti apa suasana kota London itu. Tahun demi tahun berjalan, sang sahabat belum juga dapat mewujudkan mimpinya itu. Hingga suatu saat yang tidak direncanakan, malah saya yang mewujudkan mimpi sahabat tadi.

Selama lebih dari tiga tahun di Inggris ini, sebenarnya saya sudah beberapa kali ke London. Tapi belum sempat menikmati suasana malam kota london dengan  menyusuri sungai Thames di atas kapal seperti yang sahabat saya impikan. Bukan karena apa, buat mahasiswa kantong cekak macam saya ini, saya harus berfikir berkali-kali lipat untuk mengeluarkan uang sekedar untuk membeli mimpi sahabat kecil saya itu.

Hingga tibalah saat akhir musim panas kemaren, kebetulan saya mendapat undangan untuk mengikuti simposium mahasiswa PhD di bidang ilmu komputer se-Eropa dari Imperial College London. Menariknya, simposium ini gratis selama 2 hari. Meskipun gratis, ini adalah seminar paling mewah yang pernah saya ikuti. Saya mendapatkan banyak merchandise dari sponsor, terutama dari Google. Keynote speakernya pun tidak ecek-ecek. Ada Chris DiBona, dari Google dan Erik T. Mueller dari MIT.

Selain bisa  ngaji dari dua keynote speaker yang sangat inspiring itu, yang istimewa dari  simposium kali adalah Gala Dinner gratis, di atas kapal, menyusuri sungai Thames yang membelah kota London itu. Di seminar-seminar yang pernah saya ikuti sebelumnya, biasanya gala dinner nya di hotel. Saya merasa sangat beruntung, karena pada akhirnya saya bisa mewujudkan mimpi sahabat saya itu.

Kami mulai naik ke atas kapal yang bersandar di dekat London Bridge, ketika hari sudah beranjak senja. Hari sudah mulai surup, rembulan pun sudah nampak jelas menggantung di atas langit. Burung-burung camar bersorak sorai di atas sungai Thames, merayakan sisa-sisa kegembiraan, sebelum hari berubah menjadi gelap. Mereka seolah menyebut-nyebut kebesaran Tuhan. Saya berdiri di atas kapal, menikmati hempasan angin sungai yang cukup kencang, merasai sisa-sisa kehangatan yang tertinggal di sore musim panas itu. Mata saya tak berkedip mengamati London Bridge, jembatan bersejarah yang bisa dibuka tutup itu.  Setiap ada kapal yang lewat di bawahnya, kedua sisi jembatan itu terangkat, dan turun kembali, untuk dilewati kembali kendaraan yang berlalu lalang di atasnya.

Perlahan, matahari benar-benar tenggelam di ufuk langit. Waktu Maghrib tiba. Hati saya tiba-tiba merindukan suara adzan berkumandang, merindukan membasuh muka tangan dan kaki  dengan air pancuran di samping masjid di kampung saya yang segernya alamiah. Bersujud, memasrahkan seluruh hidup di hadapan Tuhan, bersama-sama para jamaah masjid. Saya rindu suasana ketenangan batin di kampung ku yang tenang, di setiap penghujung senja.

Seharusnya waktu seperti itu, saya harus bersujud. Beruntung saya masih berstatus musyafir, sehingga saya bisa menunda sholat maghrib dan menggabungkanya dengan sholat isyak kemudian.

Karena udara mulai dingin, kami turun ke dalam perut kapal. Sebuah tempat yang sangat mewah untuk makan malam sudah disiapkan. Suara musik dugem pun mulai terdengar perlahan. Saya pun, mulai merasa menjadi makhluk asing di tempat yang salah. Tapi inilah cara orang Eropa bersosialisasi, dan saya pun harus pura-pura berbahagia, mengumbar senyum ramah kepada setiap orang yang berdandan rapi-rapi itu.

Di meja saya, ada seorang berkebangsaan Jerman, dua orang berkebangsaan Sri Langka, dan seorang berkebangsaan Arab. Mulailah, kami bercengkerama dalam obrolan yang hangat. Mulai dari riset, tentang budaya negara kita masing-masing, dan tentang pengalaman hidup kita masing-masing. Si teman Jerman yang terlihat paling mendominasi pembicaraan, dan saya sepertinya yang paling banyak mendengarkan. Sambil terus berpura-pura tersenyum dan tertawa. Walaupun jujur, saya tidak menikmati obrolan itu.

Dari obrolan itu saya tahu banyak tentang kebijakan publik di Jerman yang sangat menguntungkan bagi rakyat kecil, bahkan buat siapa saja yang memiliki ijin tinggal di negara itu. Tak heran, jika para pengungsi dari timur tengah begitu ingin hidup di negara itu. Dari obrolan itu, saya juga jadi tahu kalau Nasi Goreng adalah makanan Indonesia yang paling terkenal di dunia.

Obrolan itu terasa terlalu lama buat saya. Makanan pembuka, makanan utama, minum, hingga makanan penutup sudah habis pun obrolan belum selesai. Perut saya masih lapar sekali, karena ketika orang-orang disamping saya melahap dengan nikmat daging babi panggang yang potongan besar-besar itu, seperti biasa saya hanya bisa menikmati bubur jamur, makanan vegetarian pengganti dietary requirement: halal meat, yang tidak pernah terpenuhi setiap menghadiri makan malam formal seperti itu. Perut saya pun jadi kembung, karena kebanyakan minum air putih, hanya karena mengimbangi teman ngobrol saya yang menghabiskan dua botol besar wine, anggur merah dan anggur putih. Beruntung saya tidak sedikit pun tertarik mencicipi daging babi panggang, dan anggur yang kata mereka  enaknya  luar biasa.

Semakin malam, obrolan sepertinya semakin asyik. Tetapi saya lama-lama tidak tahan dengan bau anggur yang semakin kuat memenuhi ruangan itu. Saya berpura-pura ijin ke toilet, tapi saya ngacir di atas kapal. Subhanallah, indah sekali suasana malam kota London di malam hari terlihat dari atas kapal. Langit sangat cerah, gemintang malam di langit pun terlihat begitu Indah. Rembulan, walaupun tidak terlihat penuh, terlihat indah menggantung di langit. Lampu warna-warni, dari setiap bangunan-bangunan megah, pencakar langit itu seolah membentuk hamparan gemintang di atas bumi.  Dari sudut utara kota London, ada sinar laser berwarna hijau, The Meridian Laser, yang seolah membelah malam kota London. Suara angin yang terhembus dan suara ombak sungai yang terbelah kapal, membuat suasana malam itu begitu berbeda.

Saya kembali ke meja makan, ketika kapal  hampir bersandar kembali di pelabuhan tempat kita berangkat. Tak terasa lebih dari 4 jam kami berada di atas kapal itu.  Dan pesta pun harus segera berakhir. Ini cerita untuk sahabat kecil saya, semoga satu hari di hari depan kau segera mewujudkanya.

Dari Sudut Kota London: Para Manusia Setengah Manusia Di Dalam Tabung Bawah Tanah

….. kadang sisi kemanusiaan ku sering terusik, ketika ‘mesin’ itu perlahan menghilangkan sisi-sisi kemanusian kita. Menjadikan kita tak ubahnya mesin-mesin yang sangat mekanis. – a random thought

tube_london_edit

Orang-orang Menunggu Kedatangan Tube (London, 2015)

“ziiink….ziiiinkk….. ziinkk… wushh….. wush wush….. zink zink “. Argh, suara itu. Ya suara itu. Suara yang membuat ketenangan ku sellau terusik. Suara roda besi bergesekan dengan rel besi berpadu dengan dengan suara angin yang terjepit oleh kereta api yang melaju super cepat, di dalam lorong-lorong berbentuk tabung di bawah tanah. Lorong-lorong bawah itu tak ubahnya lorong-lorong kerajaan rayap di istana bawah tanah kota london. Kereta api itu mereka sebut ‘Tube’. Ya, nama itu mungkin karena bentuk nya yang memang berbentung tabung yang membujur panjang.

Orang-orang berjalan, tapi seperti berlari, di lorong-lorong sempit, di eskalator yang sangat panjang, di setiap stasiun kereta api bawah tanah di kota itu. Aku, yang cah ndeso, yang biasa berjalan perlahan menikmati segarnya udara di antara pepohonan yang daunya rimbun, tak pelak sering jadi korban tabrak lari. Tapi akhirnya aku menemukan aturan main nya. Minggir di sisi paling kanan jalan, atau kamu akan tergilas. Entahlah, apa yang mereka kejar, bukankah kereta api cepat itu selalu pasti datang setiap 2 menit sekali. Mungkin filsafat hidup orang-orang modern itu: “Time is Money”, literally benar buat mereka. Satu detik waktu yang terbuang barang kali bisa berarti kehilangan ribuan poundsterling bagi mereka.

Tapi ada yang aneh buat ku, di antara kerumunan manusia yang merayap itu, nyaris tak terdengar suara manusia bercakap-cakap. Hanya suara “prak prak prak”, hentakan sepatu-sepatu yang beradu dengan lantai, dan suara ‘tit’ ‘tit’ ketika mesin-mesin itu beinteraksi dengan manusia tanpa perlu sepatah kata pun harus terucap. Bahkan seorang asing yang baru pertama kali datang pun, tak perlu bertanya, harus kemana bila hendak kemana. Semua mesin-mesin itu, papan-papan informasi, dan papan display digital yang menempel di dinding atau menggantung di atap itu, sudah memberi tahu segalanya.

Di pagi hari, kereta api bawah tanah itu selalu penuh tumpah ruah oleh manusia-manusia. Ratusan manusia itu duduk-duduk di kursi yang berderet di pinggir gerbong, atau berdiri di tengah-tengah gerbong. Tapi mereka tak perlu berdesak-desakkan, apalagi sampai dorong-dorongan, seperti penumpang busway atau KRL di kota Jakarta.  Mereka masuk dan keluar kereta api dengan sangat tertib tanpa sedikit pun kegaduhan, lewat pintu kereta yang membuka dan menutup secara otomatis. Karena, kereta berikutnya sudah pasti datang setiap 2 menit kemudian. Dan hanya butuh waktu dalam hitungan menit saja untuk menempuh jarak puluhan kilometer. Di dalam kereta api pun nyaris sepi tanpa kata. Orang-orang yang hampir semuanya terlihat rapi, wangi, cantik-cantik, dan ganteng-ganteng itu terlihat begitu sibuk dengan dirinya sendiri. Ada yang membaca harian Metro, koran cetak gratis yang bisa diambil di seluruh stasiun kereta api dan bus di seluruh UK itu. Atau asyik membaca Novel, dan tentunya banyak yang asyik dengan telepon genggamnya. Atau terdiam diri tanpa kata. Hanya terdengar rekaman suara perempuan dari mesin, yang memberi tahu nama setiap setasiun kereta api tujuan pemberhentian berikutnya.

Aku yang sendirian, terhanyut dalam pikiran ku sendiri. Di sudut kereta itu, pikiran ku terbawa pada sosok Pak De Jos, yang menjajakan nasi pecel bungkus murahnya, berdesakan dengan para penumpang di kereta api ekonomi KRD Jurusan Jombang-Surabaya. Kereta ekonomi yang benar-benar merakyat, bukan saja harga tiketnya yang super ekonomis, hanya Rp. 2000, tetapi di setiap gerbong kereta itu terjadi kegiatan ekonomi para rakyat jelata itu. Beraneka dagangan dari makanan, mainan, dompet, jepitan rambut, cutton bud, bahkan hingga BH pun ditawarkan di atas gerbong. Mereka membagikan satu per satu barang dagangan itu kepada setiap penumpang kereta, kemudian mengambilnya kembali, kecuali jika penumpang itu mau menggantinya dengan sejumlah uang. Kereta api murah itu juga berfungsi sebagai transporter utama produk ndeso seperti pisang, mangga, kelapa, jagung, telur ayam kampung dan konco-konconya dari desa ke kota Surabaya atau sebaliknya, barang-barang kota seperti pakaian dari kota Surabaya ke desa.

Di tengah kesendirian sepi tanpa kata dalam kereta tabung itu, hati ku pun tiba-tiba juga rindu pada sosok Kang Paeno, yang dengan tegar bercerita kisah hidupnya yang memilukan, kepada ku yang baru dikenalnya sejak duduk di bangku yang sama di kereta Penataran, Bangil-Surabaya. Kang Parlan bercerita tentang istri yang dicintainya, yang baru saja meninggal dunia karena kanker payudara. Juga pada sosok Yu Juariyah, yang demi menghemat ongkos, setiap hari harus menuntun dan mengantar suaminya rawat jalan di Rumah Sakit Dr. Sutomo, karena kedua mata suaminya divonis nyaris buta. Dan juga pada gosip ibu-ibu kantoran yang terlihat sangat guyup dan penuh keceriaan itu. Semuanya di kereta api yang sama.

Sayang termaat sayang, belakangan aku mendengar kereta api rakyat itu sudah mati. Gerbong-gerbong kereta KRD dan Penataran itu sudah dipasangi AC yang sebenarnya lebih tepat dipasang di dinding rumah. Para rakyat jelata yang hidup dari kereta api itu pun sudah diusir pergi. Dan harga tiketnya pun naik berkali-kali lipat. Konon negara tak mau lagi memanjakan rakyat dengan memberikan subsidi. Apa kabar mereka, para rakyat jelata itu? Ku tahu mereka hanya bisa diam, meskipun mereka banyak sekali jumlahnya, seolah sudah menjadai suratan takdir buat mereka, untuk hanya menjadi bagian silent majority dari negara yang konon katanya sidang dikuasai partai yang mengatasnamakan diri sebagai partainya wong cilik. Sekencang apapun mereka berteriak, tak ada satu pun koran yang memberitakan suara mereka.

Pada kereta api KRD dan Penataran itu, dulu aku sering merutuki keadaanya. Datang selalu tidak tepat waktu, panas dan pengab, penuh dengan orang-orang sial dan berbuat sia-sia. Kerata api ‘tube’ bawah tanah di kota London itu, dulu pernah saya impikan dan idam-idamkan. Tapi entah kenapa, ketika saya benar berada di kereta super modern ini, ada sesuatu yang kurang, ada sesuatu yang hilang, yaitu sisi-sisi kemanusiaan yang begitu melimpah ruah di kerte KRD dan Penataran. Argh, jika harus memilih, haruskah aku pilih yang mana? Haruskah kemajuan teknologi yang serba mekanis otomatis itu menggerus sisi-sisi kemanusian kita? Ataukah biarlah kita tetap bergelayut dengan keterbelakangan, agar kita tetap humanis?

Argh, ini hanya igauan hati yang sedang sepi di antara keramaian kota London, salah satu kota state-of-the-art peradaban umat manusia di muka bumi tempat kita berpijak ini.

One Sweet Day In London

Probably, one of today’s state-of-the art cities of human civilization is London. Where world’s culture, business and economic activities centered. For me, as one of young people born in a rural village in a developing country, having an opportunity to visit this city is a priceless experience.  Here, let me share my story to you my dear friend. In the near future, you must come and see London by your own eyes.

It was at the beginning of Spring 2014, again I visited London. It was the forth time, if I can remember, I visited this city. But, spending days is never enough for this lovely city. And it is just like ‘a dream come true’, finally I came along with my small family. Unfortunately,  I am not a poet, capable to beautifully tell the story in wonderful words. So, Let the following pictures captured unprofessionally by me during the travel, tell you the story, instead.

london_01

Yeah, the story start here. It is Ilyas , my lovely  3-year-old son, with his pink balloon found by him in front of the train station. We were waiting for the train, east midland train, heading to London from Nottingham, where we are currently living. He is always excited to travel by train.

london_02

After approximately 3 hours of travelling, finally we arrived at King Cross / London St. Pancreas  International train station. Everyone looked very busy in this station. It is a very big train station combining traditional and modern architectural building. In this station, you must find 9 3/4 platform, where one of blockbuster film, Harry Potter, scenes taken. But, you should wait for extremely long queue to get exclusive picture with the legend trolley. And I will never sacrifice my time, just for taking that picture.

london_03

To travel around London, the effective way is by Tube, under ground fast mass rapid transport train. Though, it was quite expensive for me. You must buy an Oyster card and top up it with enough money to get into tube station.

london_04

It is a church by London bridge, that I can not remember the name. What a sunny day it was,  wasn’t it? Beautiful sky, green leaves, enchanting bird really boosted our travelling time at that time.

london_05

It is my dearest wife. It was her first time landed her foot in this city. She looked very happy and still could not believe that her dream had come true. But, unluckily the sky started crying just few minutes after the shiny sky. It was so London. Little rain could come every time, all the year. So, be ready with your umbrella, whenever you visit this city.

london_06

Finally, it is me by the Tower Bridge. It is one of must visited spots in London. There was a long historical story behind this bridge, that I can’t tell to you because I have no idea about it. But, I believe you can find it, in Wikipedia. It crosses the River Thames. It must be very beautiful view at night.

london_07

It is The Big Ben and the red double Decker bus, two mascots of London. It is also a landmark of London as Eiffel tower in Paris. It is at the north end of Westminster palace. Actually, it is a clock tower. So, take picture here, to memorized what time it was.

london_08

Another mascot of London is this red telephone box. Though, I do believe that no body still uses this telephone, but they are still maintained around the city of London. As what I believe so far, British people really appreciate each little  step advancement process. I think, they do believe that each single great advancement does not come over night, but through long not trivial processes. Thus, I bet it is the reason behind the existence of this historical red telephone boxes, where in many other cities have been destroyed and forgotten. This telephone box has become an identity of London, so almost all new visitors will take photo by the red box.

london_09

You can also enjoy the beauty of the city of London from the sky by riding London eye. It will be an unforgotten moment in your life. Or enjoying London from The River Thames by riding a boat can be alternative choice as well. It will be a priceless romantic pleasure in your life, especially when it come up with your life partner by your side.

london_10

It is Trafalgar Square, one of main tourist attractions at the heart of London. Old Romanian buildings dominated this place. The past of London still remains in this modern city. In the square, there are always seasonal events, such as Eidl Fitri bazar or Halal Food Bazaar during Ramadlan or Eidl Fitri season. If you are a Muslim, looking for mosque while visiting London, the nearest one to the center of London is Muslim World League. Here, there is praying space for both brothers and sisters. It is located at 46 Goodge Street W1T 4LU.

london_11

In London, I  was imagining that I can view the past, the present, and the future of the city. Old historical buildings remain while modern and futuristic buildings are also built. I can see multi-cultural people from around the world here too.

london_12

It is a spot in the center of London. It is typical view in European cities, indeed.

london_13

Another tourist attraction in London is Buckingham palace, where the Queen is living. The palace is surrounded by beautifully and naturally designed park. I think visiting this palace is a must, when you are in London. Unluckily, it was  during very late twilight when I was arriving this palace.

london_14

It is Ilyas with hundreds of doves, in Grosvenore Square in London, when we were visiting the Indonesian Embassy in London. London is environmentally friendly city, where people, plants, and animals could live in harmony. None threats the others.

london_15

It is British Museum. I bet it is one of the most self-contained museum in the world. You can find the history of the world in details here. From this history of Egypt and the modern era of European countries are well documented here. For sure, it is also free of charge entry. One full day is not enough to visit thoroughly this museum.

london_16

No need to worry to be boring being inside this museum. The interior is beautifully designed and the collections are equipped with high end multimedia technology that will make us feel cozy spending hours inside the building.

london_17

They are Tulip flowers. It was not in Holland, but in London, instead.  Though Tulips are the identity of Holland, but you can find a bunch of them in the UK.

london_18

If I don’t tell you in advance, can you guest where is this place might be? A beach in a coast city? No, you are totally wrong. It is at the heart of London. There is a huge green park at the heart of London named Hyde Park. It is just like the living lung of the city of London. You can feel as you are in the middle of jungle, or on the waterfront. Though, actually it is only a park and a lake in the middle of a Metropolitan city.

london_19

My son was extremely happy being in this place. He can run, shout, and play around the park. I bet, it is a perfect place for Londoner for releasing their stressful burden from their work. And to feel the sense of living in harmony  with nature.

london_20

By the way, you can still find people riding a horse in London quite easily. This past human being transporting mode is still alive in this world modern city. In a single sentence I can describe London as a city where people can live in harmony other people and nature and a city where people can see the past, the present, and the future of human civilization in the world. Eventually, only time limit make us have to say good bye to London. Thank you for reading my story. I do hope you can create you own story about you and London in the very near future !