Advertisements

Tag Archives: jalan-jalan di eropa

Denyut Kota Udine, Italia

… suasana paling berkesan dari kota ini adalah ketika dua perempuan ngontel sepeda beriring bersama, lalu berpisah di persimpangan jangan, menempuh jalan yang berbeda sambil kompak mengucap salam pisah: ” Ciao… “ – sebuah catatan perjalanan biasa

udine_17

Udine Castle

Sebenarnya dari stasiun kere api St Luzia-Venice aku bisa naik kereta api langsung ke kota Udine. Namun, karena saat merencanakan perjalanan saya pikir harus turun di stasiun kereta api Maestre-Venice, jadilah saya membeli tiket kereta api dari stasiun kere api St Luzia-Venice ke Maestre-Venice dan tiket kereta api dari Maestre-Venice ke Udine secara terpisah. Dengan kereta api ini, jarak antara stasiun St Luzia-Venice dan Maestre-Venice, rupanya bisa ditempuh hanya dalam perjalanan 10 menit saja. Berangkat 19:31 sampai tepat pukul 19:41.

udine_02

Stasiun Venizia-Mestre

Aku hanya duduk-duduk di stasiun Maestre, sambil menunggu kedatangan kereta yang akan membawa ku kota Udine pukul 20.16. Sinar matahari sore masih terlihat cukup terang dari salah satu kaki langit menerobos ke dalam stasiun, menerangi rel kereta api yang usang. Stasiun sudah sangat sepi, hanya beberapa orang saja yang terlehat sedang menunggu kereta. Seorang pengemis, lelaki tua, berjas lusuh datang menghampiriku, dengan bahasa Italia yang tidak aku pahami, meminta uang recehan. Tak lama berselang, perempuan tua juga menghampiri ku dengan maksud yang sama.

Stasiun Venizia-Mestre ini jauh dari bayanganku, di kota wisata modern yang sangat terkenal, sudah sewajarnya jika stasiunya megah dan mewah. Rupanya, tak jauh beda dengan stasiun Gubeng Surabaya. Banyak rumput-rumput tumbuh liar di antara rel-rel kereta api yang berjajar-jajar dan terhubung dengan kota-kota besar di daratan benua Eropa itu.

Tepat pukul 20.16 kereta api berangkat menuju kota Udine. Kereta jurusan akhir kota Treste itu berhenti hampir di setiap stasiun. Hanya ada beberapa penumpang saja di setiap gerbong bertingkat dua itu. Di gerbong ku, hanya ada dua orang. Aku memilih duduk di pinggir jendela, agar bisa melihat kereta sudah sampai di stasiun mana. Takut, kalau-kalau kebablasan. Setelah melewati beberapa stasiun, seorang petugas memeriksa tiket setiap penumpang.

Kereta api tiba di Stasiun Udine tepat pukul 21.53. Aku langsung keluar dari stasiun yang sudah sepi sunyi itu. Di luar stasiun jalanan pun sudah sepi. Aku berjalan kaki dari stasiun ke hotel tempat ku menginap mengikuti petunjuk google map yang sudah aku print out. Menyusuri trotoar jalan-jalan yang sudah sepi itu kadang-kadang ada perasaan takut, kalau-kalau ada orang jahat. Tapi aku yakinkan diriku sendiri ini Italia bukan Jakarta atau Surabaya.

Akhirnya, dengan kecerdasan sapsial ku yang rendah, aku pun tersesat juga. Cukup panik, karena tersesat di perempatan yang sunyi sepi. Sialan, tidak ada keterangan nama jalan di perempatan itu. Hanya insting menuntun ku untuk memilih salah satu jalan. Beruntung ada seorang pemuda sedang berjalan di jalan itu, aku pun bertanya jalan menuju hotel sambil menyodorkan print out google map. Duh Gusti, dia sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris. Dia memberi petunjuk pakai bahasa Italia yang tidak sedikit pun aku mengerti kecuali bahasa tubuhnya. Beruntungnya, dia sedang berjalan menuju tempat yang searah dengan lokasi hotel. Sehingga aku pun berjalan beriring denganya. Dari 15 menit yang diperkirakan google map, saya memerlukan waktu hampir 40 menit untuk sampai di hotel Friuli, tempat saya menginap selama 4 malam.

**

Seminar Internasional yang Biasa Saja

Lokasi seminar berjarak 15 menit perjalanan dengan jalan kaki dari hotel, tepatnya di Universita Degli Studi Di Udine atau University of Udine, universitas yang didirikan baru tahun 1978 sebagai bagian dari rekontruksi Friuli pasca gempa 1976. Seperti seminar internasional pada umumnya, disini aku betemu dengan orang-orang hebat di bidang riset ku. Para profesor, akademisi  senior dari kampus-kampus di Eropa, Amerika, dan Asia serta beberapa praktisi yang kebanyakan dari vendor software.

udine_18

Salah satu Papan Nama Universitas Udine

Beruntung, aku mendapat jadwal presentasi di hari pertama, sehingga aku bisa menikmati seminar selama tiga hari itu. Seperti biasa, presentasi ku selalu kacau, bahasa inggris ku belepotan, medok jowo ku ndak bisa hilang-hilang meskipun sudah empat tahun tinggal di Inggris. Cukup senang di seminar ini aku bisa ngobrol cukup intens dan berkesan dengan beberapa orang dari Spanyol, Irlandia, Jepang, Mexico, Cina, dan Israel.

Dengan orang spanyol, aku dapat cerita banyak tentang kota Granada, tempat kelahiranya. Dengan orang Irlandia, aku dapat update ilmu banyak dari IBM, serta terkesan dengan mas nya yang ramah dan humble sekali. Aku sampai berfikir, ilmuwan sejati itu seharusnya seperti mas ini. Dua teman dari Israel yang Yahudi pun ternyata tak seseram seperti yang aku bayangkan ketika membaca situs-situs islam garis keras itu. Aku malah jadi tahu banyak culture orang Yahudi.

Dengan orang Jepang, aku terkesan sekali dengan semangatnya. Seorang perempuan yang meskipun sepertinya sudah sepuh, dosen di sebuah universitas swasta di Tokyo, tetapi semangatnya sangat luar biasa. Datang ke Itali sendirian hanya untuk menghadiri seminar ini. Ohya, satu lagi, aku juga bertemu dengan orang Surabaya yang sudah beralih kwarganegaraan Singapore, dan saat ini jadi peneliti di Singapore Management University. Dengan mas ini, aku bisa ngobrol bebas menggunakan bahasa Jawa. Ngobrol dengan orang-orang seperti merekalah asyiknya di seminar internasional. Kalau materi seminarnya, sepertinya terlalu berat dan membosankan untuk diceritakan disini.

Suasana Kota Udine yang Klasik

Di antara jeda seminar, atau setelah seminar usai, aku mencuri waktu untuk merasakan denyut kehidupan kota Udine. Justru di kota kecil seperti Udine inilah, aku fikir kita bisa benar-benar merasakan denyut kehidupan orang lokal Itali sebenarnya. ” Kring Kring Kring Kring” suara bel sepeda ontel mendominasi suasana kota ini.

udine_03

Suasana Kota Udine di Siang hari

Aku selalu jatuh cinta dengan kota dimana jumlah sepeda jauh lebih banyak dari pada kendaraan bermotor. Sejenak kota ini mengingatkan ku pada kota Lueven di Belgia dan  kota Leiden di Belanda. Siang yang terik itu aku duduk di pinggir jalan, di samping sebuah empang yang airnya sangat jernih sekali. Di empang itu, terlihat olehku beberapa pasang capung berwarna biru-ungu sedang  berkejar-kejaran, lalu bercinta di atas ranting. Kuperhatikan capung-capung itu, sambil memperhatikan orang-orang yang lewat berlalu lalang di jalan.

udine_04

Boncengan Sepeda Ontel, Udine Italia

Pada hari pertama di kota ini, saat kembali dari kampus ke hotel, parah sekali, aku tersesat kembali. Terlalu yakin sudah hafal rute yang aku lalui waktu berangkat, eh ternyata tersesat di perempatan dekat sungai yang tak tahu harus lewat jalan yang mana. Handphone tidak ada koneksi internet, hanya berbekal print out google map dan city map. Setelah mutar-muter sampai bingung sendiri, akhirnya nyerah juga harus bertanya dengan orang lokal yang tidak mengerti bahasa Inggris sama sekali itu. Pertama, ketemu sepasang muda-mudi yang berpapasan, eh bingung lagi. Sampai akhirnya, ketemu tiga mahasiswa, dua cowok satu cewek yang sangat serius membantu ku menemukan hotel. Si cewek yang cantik sekali itu mengambil stabilo dari dalam sebuah kafe, lalu dibantu dua teman coowoknya, memberi stabilo rute jalan yang harus saya tempuh sampai ke hotel.

udine_06

Parkir Sepeda Ontel di Udine, Italia

Informasi jalan di kota Udine ini memang tak sebagus informasi jalan di UK, sehingga sering kali membingungkan. Untungnya orang Italia jauh lebih hangat dan ramah dibanding orang UK yang terkenal dingin itu. Saya sangat terkesan dengan suasana tipikal di kota ini, dua orang atau lebih bersepeda beriringan, lalu ketika harus berpisah di persimpangan jalan, mereka mengucapkan salam pisah: “Ciao.. !” .

udine_12

Sudut Kota Udine

Bila menyusuri sudut-sudut kota ini, kesan yang terasa dari kota ini adalah kota usang, saking banyaknya gedung-gedung tua yang sepertinya juga kurang terawat atau mungkin sengaja dibiarkan begitu, untuk menimbulkan kesan kota klasik. Penduduknya pun kesan nya kurang bergairah hidup, kecuali untuk menikmati hidup itu sendiri. Di Italia ini dan kabarnya di Spanyol juga, kantor-kantor dan pusat-pusat perbelanjaan setelah buka sekitar jam 9 pagi, akan tutup antara jam 12 sampai jam 4 sore. Buka kembali sebentar jam 4 sampai jam 5 atau jam 6 sore. Mirip sekali dengan orang Jawa tempoe doeloe, ada waktu untuk leyeh-leyeh antara duhur dan ashar. Alasanya, musim panas di negara-negara eropa selatan ini sangat panas. Padahal menurut ku, kalau dibanding panasnya Surabaya mah tidak ada apa-apanya. Jelas dibanding kota-kota sibuk di Asia seperti Singapore, kesanya orang gaya hidup orang Italia di Udine ini sangat pemalas sekali.

udine_10

Gedung-gedung tua yang masih difungsikan di Udine

Jika sampean pergi ke Singapore atau London, sampean akan melihat bagaimana orang-orang terlihat sangat sibuk, berjalan pun sambil setengah berlarian. Pemandangan di kota Udine ini kebalikanya. Orang-orang terlihat sangat santai, tidak ngoyo, tetapi sebaliknya mereka terlihat begitu menghayati dan menikmati kehidupan. Jika orang-orang US, Jepang, Korea, Cina, Singapore mengajarkan hidup itu harus kerja keras mati-matian, Orang Inggris mengajarkan  work-life balance,  orang-orang Italia di Udine ini seolah mengajarkan bagaimana menikmati kehidupan ini. Begitulah, setiap bangsa punya definisi sendiri-sendiri tentang kehidupan mereka.

udine_11

Sumur Tua di Kota Udine

Di pusat kota Udine, hampir setiap gedung adalah toko penjual gaya hidup, dari pakean, parfum, hingga warung kopi, beberapa diantaranya adalah kantor industri jasa seperti bank. Ketika sore menjelang malam, orang-orang sudah terlihat berkumpul di pusat kota untuk menikmati hidup. Di kafe-kafe, restauran, dan bar-bar. Di musim panas seperti saat ini, mereka lebih senang menikmati anggur dan bir out door.

udine_09

Orang-orang menikmati hidup di sore hari

Hal yang paling aku suka dari suasana kota ini adalah keheninganya dan berjalanya waktu yang seolah begitu melambat. Nyaris tidak terdengar suara kendaraan bermotor. Karena sebagian besar orang di kota ini naik sepeda atau berjalan kaki. Pada satu malam, setelah makan malam, aku sengaja datang sendirian di pusat kota. Aku duduk tepat di titik 0 kota Udine, di depan Castle.

udine_07

Suasana Malam Titik Nol, Kota Udine

Di malam yang tenang itu, ku lihat beberapa orang berkumpul hanya untuk duduk santai ngobrol. Tenguk-tenguk saja. Hal yang menurutku sangat langka untuk ukuran manusia modern pada umumnya yang sangat sibuk, hanya menghabiskan waktu untuk tenguk-tenguk saja. Aku jadi teringat orang-orang desa jaman dulu, ketika belum banyak orang desa yang memiliki TV seperti sekarang, setelah isyak mereka sering berkumpul, tenguk-tenguk ngobrol gayeng dengan beberapa tetangga di emperan rumah sampai malam telah larut.

Setelah berjam-jam duduk-duduk, aku pun beranjak ke sudut lain dari kota itu. Menyusuri jalan-jalan sempit. Rupanya di sebuah square, di sudut kota yang lain ramai orang-orang minum-minum di meja-meja kafe. Lalu di sebelahnya, ada sebuah konser musik jalanan yang penuh dikerumunin anak-anak muda. Mereka terlihat begitu bahagia, bernyanyi setengah berteriak, sambil tubuhnya menari-nari mengikuti dentuman suara musik. Begitulah mereka menikmati kehidupan mereka.

Prostitusi di Kota Udine

Ada satu lagi yang mengejutkan dari kota ini, yaitu keberadaan kupu-kupu malam. Waktu aku menyusuri jalan-jalan yang sudah sepi itu, ternyata banyak kupu-kupu malam berkeliaran. Mereka mangkal di pinggir-pinggir jalan itu, sambil tangan dan lirikan matanya memberi kode pada mobil atau orang yang lewat sama persis modusnya dengan kupu-kupu malam di Indonesia. Pantas saja, banyak aku temukan ATM kondom di beberapa sudut kota. Sepanjang malam itu, aku ketemu tiga jenis kupu-kupu malam. Cewek Italia beneran, Waria Italia, dan Cewek item seksi. Heran saja, diantara perempuan Italia yang cantik sempurna, masih ada juga PSK Waria dan cewek item. Tapi bisa jadi juga karena kebanyakan yang cantik, yang  aneh justru menjadi istimewa.

Makanan di Italia

Selama 4 hari Udine, aku mendapatkan sarapan gratis dari hotel, dengan menu standard british breakfast. Roti, Cake, dan Biscuit yang jumlahnya sangat melimpah ruah. Lengkap dengan buah-buahan, beraneka jus buah, teh dan kopi. Yang menarik, khusus untuk kopi dilayani secara khusus oleh pelayan. Tidak satu cangkir, tapi kita diberi satu teko kopi dan susu untuk seorang.

udine_13

Jalan Menuju Castle

Siang hari aku makan siang di tempat seminar dengan berbagai macam makanan khas Italia yang aneh menurut saya dan tak satupun yang aku ingat namanya. Yang jelas hampir semua rasanya asin dan tidak ada yang namanya nasi ataupun kentang. Tidak ada pula menu-menu seperti restoran Italia di Indonesia seperti Pizza, dkk. Satu-satunya yang mendekati makanan asia adalah, nasi yang dimasak setengah matang dimasukkan dalam botol.

udine_14

Pemandangan dari Atas Castle

Sementara untuk makan malam, kami ditraktir sama panitia makan malam di restoran. Makan malam di hari pertama, kami makan di restoran Pizza bakar. Rupanya pizza bakar ini wujudnya jauh dari pizza yang biasa kita temui di Indonesia. Sebaliknya, pizza bakar ini malah lebih mirip roti nan nya orang Arab.

udine_15

Makan Malam ala Venetian Banquet

Makan malam hari kedua yang paling berkesan yaitu Venetian Banquet di Udine Castle. Kami naik di atas Castle, dan begitu sampai diatas, kami langsung dilayani bagai tamu penting keluarga istana, dari sore hingga tengah malam. Begitu sampai kami langsung disambut dengan gelas kosong. Para pelayan kemudian sibuk menuangkan anggur merah dan anggur putih sebagai pembuka. Dan aku hanya bisa menikmati air putih saja sampai klempoken.

udine_16

Daftar semua menu yang dihidangkan untuk kami

Lalu ada makanan pembuka, berupa irisan melon yang dibungkus dengan irisan tipis daging babi, dan roti kering berbentuk lonjong yang juga dibalut dengan irisan tipis daging babi. Untung ada menu yang ketiga, udang kecil-kecil yang digoreng kering. Alamak, enak, gurih sekali, meskipun agak kasinan sedikit. Saya jadi ingat udang-udang dari kali setail di belakang rumah ku tempoe dulu.

Setelah hari menjadi gelap, kami masuk ke dalam ruangan, mengelilingi meja-meja bundar besar bertaplak putih. Mirip seperti formal dinner di Inggris, ada makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Aku mendapat menu istimewa, yaitu menu vegetarian. Sebagai menu pembuka, aku mendapatkan bubur dengan daun-daun hijau di atasnya. Sementara teman yang lain ada lobster di atasnya. Alamak, kalau lobster mah aku juga mau. Ndelalah, teman sebelahku yang orang singapore itu alergi udang. Berpindahlah lobster-lobster itu di piring ku. Haha, ini mah Vegetarian abal-abal namanaya.

Untuk menu utama, sudah aku duga, seperti sebelum-sebelumnya di tempat lain, menu untuk vegetarian itu bisa dipastikan olahan jamur. Ya bubur, dicampur dengan jamur, yang rasanya tidak enak banget Men. Sementara yang lain terlihat begitu lahap menikmati potongan-potongan daging babi yang besar-besar itu.

Setelah makanan utama, berbotol-botol anggur merah dan anggur putih di drop di masing-masing meja. Mereka minum dan terus minum sambil mengobrol sampai teller. Diiringi musik, yang mirip irama padang pasir. Rupanya musik Italia ini dipengaruhi musik Arab. Sementara diriku, hanya klempoken dengan air putih saja. Tak tahan dengan bau alkohol yang semakin menyengat, aku bersama teman ku yang orang Singapore yang ndelalah meskipun non-muslim tapi juga tidak minum undur diri, tanpa menunggu makanan penutup dihidangkan. Daripada menjadi penonton orang mabuk, rasanya lebih menguntungkan tidur nyenyak di hotel, hehe.

Yah, setiap orang berhak mendefinisikan kebahagianya sendiri-sendiri bukan?

Related Post:

Advertisements

Wisata Ilmu dan Persahabatan Di Eropa: 6 Kota 3 Negara 1 Benua

….bersama mu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal diri mu, rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya.  Melawan keterbatasan, walau sedikit kemungkinan, tak kan menyerah, untuk hadapi hingga sedih tak mau datang lagi. – Sahabat Kecil, Ipang

00_ghent_01
*)Kota Ghent, Belgium

Jalan-jalan menelusuri kota-kota cantik nan esotik di Eropa? wah, pasti impian banyak orang bukan? Dan saya adalah salah satunya. Buat keluarga artis, pengusaha kaya raya, atau pejabat negara tentu itu bukanlah impian mahal. Kapan saja mereka menginginkan, impian itu bisa dengan mudahnya terwujud dengan uang yang mereka miliki. Tapi buat orang-orang desa nan miskin seperti saya, tentu saja itu impian sangat mahal. Duite sopo Kang? Arep ngedol sawahe sopo? Mbah Mu  a? (red: uang nya siapa bro? mau jual sawah siapa? sawah nenenk mu? )

Tapi, Gusti Allah itu selalu memiliki caraNya sendiri  dalam menakdirkan jalan hidup hamba Nya yang tak pernah lelah berusaha. Alhamdulilah, pas liburan musim panas 2013 kemaren, saya ditakdirkan bisa jalan-jalan gratis di 6 kota di Eropa. Ceritanya, makalah hasil penelitian saya selama tahun pertama diterima untuk dipresentasikan di sebuah konferensi ilmiah di Kota Ghent, Belgia. Lebih mujur lagi, sekolah ilmu komputer, Universitas Nottingham, tempat saya menempuh pendidikan PhD, dengan baik hatinya membayari semua biaya pendaftaran termasuk biaya transportasi dan akomodasi selama 5 hari di Kota Ghent, Belgia itu.

Untuk jalan-jalan kali  ini saya lebih senang menyebutnya dengan wisata ilmu dan persahabatan. Karena tujuan nya memang untuk mencari ilmu dan silaturrahim ke konco-konco lawas (red. teman-teman lama) yang bertebaran di Eropa sana. Biar pun, ndeso gini, alhamdulilah saya punya banyak teman yang saat ini sedang berada di benua biru. *astgahfirullah, mulai sombong neh :p*. Yuk mari ikuti  cerita perjalanan saya.

London, United Of Kingdom


*) Kota London, UK.

Untuk menuju kota Ghent, Belgia, saya berencana naik Bus malam langsung dari Nottingham dengan transit di kota London. Berangkat dari Nottingham jam 3 siang, nyampek di Ghent nya jam 4 pagi. Tapi, sialnya, ketika sampai London dan mau naik Bus ke Ghent, saya dilarang naik Bus, alasanya karena saya tidak memiliki VISA schengen. Padahal, saya menggunakan paspor dinas, paspor berwarna biru, yang menurut keterangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Brussel pemegang paspor biru ini bebas visa selama 30 hari di negara Belgia, Netherland (Belanda), dan Luxemburg. Saya sempat eyel-eyelan (red. adu mulut) berkali-kali sama petugas Bus, tapi rupanya kandas. Mereka beralasan, tidak bisa karena Bus yang akan saya naiki itu akan melewati Perancis, yang walaupun saya cuman numpang lewat doang saya tetap harus memilika Visa Schengen.

Duh Gusti ! haruskah impian jalan-jalan di eropa yang sudah di depan mata, tiba-tiba lenyap begitu saja. Saya hanya bisa nelangsa memandangi Bus Euro Line yang pergi meninggalkan saya sendirian di terminal bus Victoria London, di hari yang sudah merambat malam itu. Bus itu seolah-olah mengejek saya sambil berkata : “kasihan deh lo !”. Saya kembali duduk di kursi tunggu, rasanya masih belum bisa menerima kenyataan yang baru saja terjadi. Saya curhat lewat Whats App ke salah satu teman dekat saya di Nottingham. Teman saya itu malah ngeledek:

” Udah balik saja ke Nottingham cak ! lanjutkan kampanye online nya buat kemenagan Khofifah!”

Tapi, yaudahlah mau gimana lagi. Semua yang terjadi terjadilah. Akhirnya, saya memutuskan untuk balik saja ke Nottingham. Bus terakhir dari London ke Nottingham akan berangkat 10 menit lagi. Saya berjalan gontai menuju pintu bus. Sang sopir memeriksa kertas bukti booking online saya. Dia mengernyitkan dahi nya. Dia berkali-kali  mencocokkan kode booking tiket saya dengan daftar kode tiket yang dia miliki, dan ternyata  tidak ada. Setelah bertanya ke rekan kerjanya, Sopir itu akhirnya bilang ke saya:

“Maaf kamu harus menukar dulu dengan tiket bus di Counter Penjualan Tiket, Kamu harus cepat-cepat karena bus nya 3 menit lagi mau berangkat”.

Saya mencari-cari counter penjualan ticket bus national express itu, tapi tidak ketemu juga. Sampai Bus nya berangkat dan sekali lagi seolah mengejek saya sambil berkata: “Selamat mbambung ya ! “. 

Tiba-tiba, sifat asli saya yang suka ngeyelan dan mekso yang sudah habis terkuras sama petugas Bus ke Ghent sebelum nya muncul kembali. Hati saya berbisik, pokoknya bisa tidak bisa, besok pagi saya harus nyampek di Ghent, Belgia. Pantang buat saya untuk menyerah.

Saya tiba-tiba teringat salah satu teman kenalan saya di facebook. Dia kebetulan yang menjaga wisma indonesia di KBRI London. Sayangnya, karena hanya baru kenal di facebook saya tidak memiliki nomer HP nya. Saya message teman saya itu minta nomer HP nya. Untungnya, dia lagi Online.

Setelah saya telpon dan mendapatkan nomer Whats App nya, Cak Hanif, nama teman saya itu, memberi petunjuk jalan menuju wisma indonesia. Rupanya saya harus naik Tube, kereta api bawah tanah, dua kali dan harus berjalan sekitar 500 meter hingga akhirnya setelah bersusah payah sampai juga saya di Wisma Indonesia.

Sampai di Wisma Indonesia, Cak Hanif dan istrinya menyambut saya dengan sangat hangat. Meskipun baru kenal, saya sudah dianggap seperti keluarga mereka sendiri. Saya langsung diajak makan malam bersama di dapur. Cak Hanif dan istrinya serta satu orang Indonesia lagi yang sedang kuliah di London menemani saya makan malam bersama. Sambil makan,kami ngobrol gayeng dan akrab. Rupanya Cak Hanif dan istrinya aslinya orang Banyuwangi juga, sama dengan saya. Latar belakang yang sama-sama dari pesantren, membuat kami keasyikan ngobrol hingga larut tengah malam. Cak Hanif ini ternyata alumni pondok pesantren minhajut thulab, paras gempal, sumber beras, Muncar Banyuwangi.

Sekitar jam 12 malam, Cak Hanif mengantar saya di salah satu kamar. Setelah menuliskan password wifi di secarik kertas, cak hanif meninggalkan saya sendiri di kamar dengan 3 spring bed itu. Cak hanif bilang kalau dia akan ngelembur mendata Daftar Pemilih Tetap warga indonesia di Inggris untuk Pemilu 2014, kalau ada apa-apa dia berpesan untuk Whats App saja.

Setelah sholat isyak, saya menyalakan laptop dan langsung mencari tiket pesawat untuk besok pagi. Lewat agen online, saya mendapatkan tiket yang cukup murah dengan British Airways berangkat keesokan harinya jam 6 pagi dari Hethrow Airport. Hanya saja yang menjadi masalah, status tiket nya ternyata tidak langsung diconfirm. Saya telpon agen nya, tidak diangkat, karena ternyata mereka baru bisa melayani mulai jam 8 pagi. Sementara pesawatnya berangkat Jam 6 pagi.

Meskipun status tiket saya belum jelas, saya minta dipesankan taksi sama Cak Hanif yang akan menjemput saya jam 4 pagi menuju Hethrow Airport. Cak Hanif juga berpesan, besok pagi jam 4 kalau pergi ndak usah bangunin dia, saya diminta untuk langsung keluar saja, karena pintunya akan terkunci secara otomatis.  Dia juga menggratiskan biaya sewa kamar kamar di Wisma Indonesia yang seharusnya bayar £16 itu.

Pada akhirnya saya tidak bisa tidur semalaman, karena berkali-kali saya cek status tiket saya belum juga diconfirm. Sampai jam 4 pagi Taxi yang akan mengantarkan saya ke Bandara itu datang.

Sampai di Heathrow Airport, saya mencoba self check in. Tetapi, walaupun sudah saya coba berkali-kali ternyata tidak bisa, karena memang status tiket saya belum diconfirm. Akhirnya saya duduk di ruang tunggu, sekalian sholat subuh sambil duduk. Setelah sholat, saya telpon lagi nomer agen online itu, tetapi tetap saja tidak diangkat. Saya ubek-ubek lagi website agen tiket pesawat online itu. Sampai akhirnya saya menemukan nomor telepon lainya yang bisa dihubungi. Alhamdulilah, di detik-detik terakhir ternyata saya telpon diangkat dan tiket saya bisa diconfirm.

Hah.. lega rasanya. 45 menit sebelum pesawat berangkat saya bisa self chek in. Dan lebih lega lagi, pada pemeriksaan imigrasi di Bandara Hethrow sama sekali tidak ada masalah. Mereka sama sekali tidak menanyakan masalah Visa. Jam 5.45 saya masuk pesawat, Alhamdulilah Gusti …. akhirnya I am flying on the sky from London to Brussel with British Airways. Untung saya nekat berangkat, dan tidak mutung balik ke Nottingham. Pada saat seperti inilah, saya merasa beruntung memiliki sifat ngeyelan dan suka memaksakan diri itu, hehehe…

Ghent, Belgium

00_ghent_02
*)Salah Satu Sudut Kota Ghent, Belgium

Di atas awan, di dalam pesawat British Airways, sambil melihat langit dari balik jendela pesawat, saya rasanya masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Perjalanan panjang naik bus malam Nottingham – London – Ghent yang sudah saya rencanakan sebelumnya gagal total. Yah, begitulah hidup. Seringkali kenyataan yang terjadi tak sesuai dengan yang direncanakan. Tetapi, kenyataan bisa jadi malah menjadi lebih indah dari yang kita rencanakan.

Perjalanan dari London ke Brussel, Belgia ini cukup singkat. Hanya butuh waktu kurang lebih 50 menit. Jadi, sekitar pukul 08.00 waktu setempat (waktu di Belgia 1 jam lebih cepat dari London) pesawat sudah mulai mendarat di Bandara Brussel.  Dari atas pesawat, tata kota Brussel terlihat begitu rapi dan indah. Bersih dan teratur.  Saya sangat yakin arsitektur kota ini tentunya direncanakan dan dibuat dengan sangat sangat cermat dan penuh perhitungan.

Tiba di Bandara, akhirnya bagian yang paling saya takutkan datang juga. Yaitu, bagian imigrasi. Saya sudah was-was sekali, jangan-jangan saya dipulangkan lagi ke London karena tidak memiliki visa Schengen. Ketika petugas imigrasi memeriksa paspor biru saya, saya tak henti-henti nya baca sholawat. Duh Gusti mugi-mugi ndak ada masalah. Rupanya, dia sama sekali tidak mempermasalahkan VISA. Sepertinya mereka sudah tahu kalau pemegang paspor biru Indonesia tidak perlu VISA. Tapi dia meminta surat undangan conference dan tiket balik pesawat.

Bodohnya, saya tidak memiliki keduanya dan dia meminta dalam bentuk print out. Saya pun merayu dengan menunjukkan bukti email dari ponsel pintar saya. Tetapi, sial dia tidak mau tahu. Pokoknya dia maunya dalam bentuk print out, titik. Yah gimana lagi dong. Saya didiamin cukup lama, sementara saya hanya bisa diam sambil tak henti-hentinya baca sholawat. Setalah kurang lebih 5 menit, akhirnya si petugas imigrasi itu meminta saya untuk menunjukkan tiket dan undangan dari ponsel saya dan akhirnya meloloskan saya dari pemeriksaan imigrasi. Horee… hati saya bersorak riang.

Dari Bandara, saya harus naik kereta selama kurang lebih 2.5 jam. Keretanya tingkat seperti bus double decker di London. Yang jelas sangat nyaman sekali. Di kereta ini, saya baru sadar kalau di Belgia mereka menggunakan bahasa perancis dan belanda. Bahasa inggris sangat minim sekali digunakan, semua papan informasi tertulis hanya dalam bahasa belanda dan perancis. Ini yang sedikit membingungkan saya.

00_ghent_03
*) Bersama Anas, Dari Sudan

Akhirnya sekitar pukul 11 siang saya sampai juga di Hotel tempat konferensi itu diselenggarakan. Saya langsung setor muka ke dosen pembimbing saya  yang ternyata sudah mengkhawatirkan saya kok belum muncul di tempat konferensi.

Konferensi ilmiah dibidang penjadwalan ini berlangsung selama 4 hari. Berbeda dengan konferensi internasional yang pernah saya hadiri sebelum-sebelumnya, konferensi ini sangat istimewa buat saya. Menghadiri konferensi ini buat saya tak ubahnya seperti anak muda yang sedang menghadiri konser langsung band idolanya. Karena, disini saya bisa bertemu langsung dengan para profesor dan pakar yang sudah sangat saya kenal namanya dari makalah-makalah karya mereka yang saya baca selama ini. Berbeda dengan di Indonesia yang biasanya seminar seperti kayak ini hanya dihadiri kalangan akademisi, di sini banyak sekali peserta yang hadir dari kalangan industri.

Ohya, kota Ghent ini sangat cantik. Katanya sih, salah satu kota terindah di Eropa daratan. Satu lagi, kota ini merupakan salah satu kota cagar budaya dunia. Disini banyak sekali bangunan-bangunan tua yang masih kokoh berdiri yang menjadikan bukti-bukti kejayaan kekaisaran Romawi pada masanya. Sekilas kota ini mirip dengan kota Edinburgh di Skotlandia. Transportasi utama di kota ini adalah Tram dan sepeda ontel yang membuat kota ini sangat nyaman untuk disinggahi.

Di sela-sela acara konferensi, panitia mengadakan beberapa kegiatan sosial. Diantaranya adalah menyusuri sungai yang membelah kota Ghent dengan boat dan Makan malam di salah satu bangunan bekas sekolah calon pendeta katolik. Selama kegiatan sosial ini, saya merasa sangat beruntung bertemu dengan orang-orang baru yang sangat mengasyikkan dan menginpirasi. Karena sering jalan bareng, akhirnya saya jadi lebih akrab dan mengenal kehidupan pribadi dan sisi lain dari dosen pembimbing saya.

Selama konferensi ini juga saya bertemu dengan seorang teman dari Indonesia. Mas Komar namanya. Dia dosen Teknik Industri, Universitas Indonesia (UI) yang sedang tugas belajar untuk menyelesaikan PhD di salah satu Universitas di Brussel. Dia orangnya sangat super baik sekali. Gimana tidak baik, tiap hari selama konferensi dia selalu membawakan saya makan siang dengan menu masakan Indonesia. Masakan istri tercintanya yang sangat dahsyat kelezatanya itu tidak akan pernah saya lupakan. Gulai kambing, udang asam manis, Tom Yam, Bakso dengan nasi super punelnya adalah anugerah rejeki Gusti Allah yang tak ternilai harganya di saat kita berada di negeri orang seperti di kota Ghent, Belgia ini.

Brussel, Belgium

00_ghent_04
*) Bersama Mas Komar, UI

Hari Jumat pagi  setelah sarapan di restoran hotel ibis, tempat saya menginap selama konferensi, saya meninggalkan kota cantik Ghent. Hari itu saya berencana silaturrahim ke apartemen mas komar di Brussel, ibu kota Begia. Sesuai petunjuk, dari hotel saya naik Tram menuju stasiun kereta Sint-Pieters di pusat kota Ghent. Kemudian lanjut naik kereta api turun di stasiun central di Brussel.  Sebelum saya berangkat, saya lupa ngabari Mas komar jam berapa saya berangkat dari Ghent. Parahnya lagi, ternyata operator selular saya tidak support roaming service. Beberapa hari sebelumnya saya mengandalkan wifi hotel untuk komunikasi lewat Whats App. Saya cuman berharap, mudah-mudahan di stasiun ada Wifi gratis.

Setiba di stasiun central Brussel, saya clingak-clinguk sendirian. Semua papan informasi dalam bahasa Belanda dan Perancis membuat saya agak bingung. Saya hanya mengandalkan insting untuk mencari pintu keluar. Di stasiun inilah kejadian menyedihkan terjadi. Dompet saya kecopetan bro! Ceritanya ada dua orang kulit hitam tiba-tiba ngasih petunjuk saya untuk keluar lewat eskalator. Satu orang di depan saya, satu nya lagi berada di belakang saya. Ketika hampir nyampek di atas, orang di depan saya itu tiba-tiba menjatuhkan casing handphone. Kemudian dia jongkok mengambil casing itu dan berhenti cukup lama. Karuan saja karena eskalator berjalan, saya  terjungkal-jungkal, menabrak orang tersebut. saya sampek bilang “what the fuck man !”. Setelah itu, dia langsung ngacir begitu saja bersama orang yang berada di belakang saya. Tanpa sama sekali menoleh ke belakang dan tanpa berkata sepatah kata pun.

Ketika saya mengambil handphone untuk mencari-cari sinyal wifi, saya baru sadar kalau dompet saya yang tebal banget sudah raib. Syok rasanya, karena semua harta karun saya tersimpan di dompet itu. Semua kartu2 penting hilang, termasuk kartu mahasiswa dan ATM. Hanya beberapa receh uang euro yang tersisa di saku baju. Parahnya lagi, saya ndak bisa menghubungi Mas Komar karena ternyata tidak ada Wifi gratis. Duh Gusti.

Untungnya, beberapa menit kemudian, Mas Komar dengan senyum khas dan gayanya yang sangat santai tiba-tiba datang nyamperin saya. Mas komar sangat santai dan mencoba menenangkan saya yang awalnya sangat panik. Dia datang seperti malaikat yang diturunkan oleh Tuhan dari langit. Mungkin karena terkena aura mas nya yang calm down, mendadak saya jadi tenang dan sama sekali tidak sedih dengan hilangnya dompet itu. Saya hanya perlu memblokir kartu debet saya, karena di beberapa outlet belanja, kartu debet ini bisa dipakai tanpa verifikasi password. Mas komar meminjamkan handphoneya untuk saya gunakan menelpon bank saya di UK.

00_ghent_05
*) Salah satu Masjid berarsitektur Maroko di Brussel

Setelah menaruh barang dan makan siang di apartemen Mas Komar. Mas komar mengajak saya sholat Jumat di masjid terdekat. Brussel ini rupanya salah satu kota di Eropa dengan penduduk Muslim terbanyak. Kebanyakan Muslim di kota Brussel ini adalah pendatang dari Maroko. Kami sholat jumat di salah satu masjid dengan gaya arsitektur Maroko tersebut. Diluar masjid ternyata banyak sekali pengemis seperti para pengemis di kawasan Ampel, kota Surabaya. Miris rasanya, melihat banyak sekali para muslim pendatang ini hanya menjadi pengemis yang merusak pemandangan kota Brussel.

00_ghent_06
*) Salah satu sudut Kota Brussel, Belgia.

Usai sholat jumat, Mas Komar mengajak saya jalan-jalan keliling kota brussel dengan bus, tram, dan kereta api. Saya ditunjukkan tempat-tempat yang wajib dikunjungi di Kota Brussel. Di antaranya adalah kantor uni eropa, city centre, patung anak kecil yang sedang kencing dan atomium.  Kota Brussel ini sangat bersih dan yang menarik adalah disini banyak sekali taman-taman kota yang indah. Tempat yang sangat cocok untuk bermain bersama anak-anak.

00_ghent_07
*) Patung Anak Kecil Lagi Pipis

Arsitektur  bangunan di kota Brussel ini tidak jauh berbeda dengan arsitektur bangunan di kota-kota di Inggris. Yaitu arsitektur khas bangunan romawi kuno yang sangat kompleks, detail dan rumit. Salah satu icon wisata dari kota Brussel adalah Atomium. Itu lo, bangunan berbentuk atom raksasa.

00_ghent_21
*) Atomium, Brussel

Sebelum kembali ke rumah, Mas Komar mengajak saya belanja di salah satu kawasan mayoritas Muslim. Di tempat itu banyak dijual makanan khususnya daging Halal. Kawasan ini mirip sekali dengan kawasan Hyson Green di Nottingham.

00_ghent_08
*) Toko Halal, Brussel.

Setelah sholat ashar dan makan sore, saya pamitan ke Mas Komar, istrinya, dan dua orang putri cantiknya untuk melanjutkan perjalanan ke kota Leuven. Mas Komar mengantar saya ke stasiun kereta api. Mas komar meminjami saya uang beberapa ratus euro untuk bekal sampai kembali lagi di UK.

Leuven, Belgium

00_ghent_09
*) Bersama Bang Roil di Lab.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan dengan kereta api, akhirnya saya sampai Juga di stasiun Leuven. Saya sudah membeli nomor belgia, yang saya beli di emperan masjid setelah sholat Jumat di Brussel. Bang Roil menjemput saya di stasiun. Senang sekali rasanya berjumpa kembali dengan kawan lama yang sudah 5 tahun tidak pernah bertemu. Bang Roil ini senior saya di pesantren Darul Ulum Jombang dan senior saya juga waktu kuliah S2 di Universiti Teknologi Petronas (UTP), Malaysia. Beliau, yang sangat terkenal kepintaranya itu, sedang menyelesaikan Post Doctoral di Universitas Katolik Leuven, tempat dia menyelesaikan sekolah PhD nya. Waktu di UTP saya sering kali dikira adik kandung beliau, karena katanya wajahnya mirip :D.

Malam itu saya menginap di apartemen Bang Roil. Auro kesempurnaan kebahagian terpancar dari keluarga Bang Roil yang baru saja dianugerahi seorang putri cantik bernama Adore. Semalaman saya banyak mengobrol dan diskusi dengan beliau. Layaknya dua orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Buat saya, sejak dahulu beliau selalu menginspirasi. Terutama dalam hal kerja keras, kemauan keras, dan kegigihan dalam mencapai sesuatu.

00_ghent_10
*) Ngontel di Universitas Katolik Leuven

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bang Roil mengajak saya mengontel keliling kampus dan kota Leuven. Ohya, kota Lueven ini dari jaman dahulu terkenal sebagai kota pelajar yang terpandang di Belgia dan Eropa pada umumnya. Seperti Oxford dan Cambridge di Inggris.

Kampus U.K. Lueven sangat luas dan hijau. Masuk ke dalam kampus, terasa seperti masuk ke dalam hutan yang sangat luas. Sepeda Ontel adalah alat transportasi mainstream di kota ini. Setelah bertahun-tahun tidak ngontel, saya baru  benar-benar dapat merasakan nikmatnya naik sepeda ontel  di kota ini. Hijau, alami, suasananya sangat tenang, dan udaranya sangat segar. Bersepeda di kampus ini, terasa seperti berkeliling di taman-taman syurga. Sebuah tempat yang sangat sempurna untuk belajar dan hidup.

Saya diajak bermain di Laboratorium tempat beliau melakukan penelitian. Ternyata ada mahasiswa Master di bawah bimbingan Bang Roil yang sedang bekerja di Lab. Rajin benar mahasiswa ini, hari Sabtu sepagi itu sudah bekerja di Lab. Riset bang roil adalah tentang pengelolaan air limbah.

00_ghent_11
*) Sudut Kota Leuven, Belgia

Setelah puas berkeliling kampus, kami melanjutkan perjalanan dengan sepeda ke pusat kota Leuven. Ada banyak tempat-tempat bersejarah di kota Leuven ini, diantaranya adalah asrama tempat penampungan para wanita janda yang suaminya gugur berperang ketika Perang Salib. Tipikal kota-kota tua di Eropa isinya adalah bangunan-bangunan seperti gereja-gereja katolik berasitektur romawi kuno.

Setelah sholat Duhur, saya pamitan ke Bang Roil, Atun istriny, dan si kecil Adore untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Eindhoven, Belanda. Saya kembali harus naik kereta kurang lebih 4 jam dari Leuven menuju kota Eindhoven di Belanda.

Eindhoven, Netherland

00_ghent_12
*) Di Sekitar Kampus, T.U. Eindhoven

Begitu turun dari kereta di stasiun Eindhoven,  seseorang sudah menunggu kedatangan saya. Dia adalah Mas Danu, teman sesama dosen di Jurusan Sistem Informasi ITS. Sudah hampir 3 tahun kami tidak saling bertemu. Rasanya senang sekali bisa reunian kembali, apalagi reuninya di Eropa. Sesuai dengan hayalan kita dulu sebelumnya. Beliau masuk bareng sama saya jadi dosen di ITS. Meskipun dari kampus yang berbeda, saat pertama kali bertemu dulu, kami langsung merasa dekat dan cocok, karena sama-sama berlatar belakang NU dan sama-sama GUSDURian :D. Bahkan, kita duet bareng ngajar mata kuliah yang sama.

00_ghent_13
*) Masjid di Eindhoven

Jadi reunian ini sangat spesial sekali. Saya merasa seperti pertemuan Gus Dur dan Gus Mus yang kangen-kangenan karena sudah lama tidak saling bertemu. Saya sangat menikmati pertemuan yang sangat manusia seperti ini. Artinya, kami saling bertemu bukan karena ada kepentingan bisnis atau urusan lain. Hanya pertemuan biasa, antara manusia biasa yang mendiskusikan hal-hal yang biasa. Tidak ada udang di balik batu.

Dari stasiun, kami naik sepeda ontel menuju apartemen beliau. Sama seperti di Belgia, sepeda ontel adalah alat transportasi mainstream di negeri kincir angin Belanda ini. Di apartemen, mas Danu sudah menyiapkan masakan Soto Tauco Pekalongan. Hebatnya, ini masakan beliau sendiri lowh. Sambil menikmati soto, kami ngobrol santai dengan sangat gayeng. Sesekali tertawa terbahak-bahak bersama.

00_ghent_14
*) Gereja di Eindhoven

Usai sholat ashar, kami sepedahan lagi keliling kampus T.U. Eindhoven dan City Centre. Keliling kampus sambil foto-foto layaknya ABG, yang lupa umur.  Karena sebagian besar naik sepeda kota Eindhoven ini sangat nyaman untuk disinggahi. Tentu saja tidak ada kemacetan apalagi polusi udara. Ritme hidup terasa sangat damai dan berjalan sangat alami. Kami berkelililng melihat masjid, gereja, dan merasakan suasana kehidupan orang-orang Eindhoven.

Sore itu kebetulan ada pertandingan sepak bola di stadion. Ribuan supporter bergerombol pergi menuju stadion. Uniknya mereka datang ke stadion dengan naik sepeda ontel atau jalan kaki. Pemandangan yang sangat indah bukan? Jadi membayangkan kalau seandainya para Bonek, supporter PERSEBAYA datang ke stadion naik sepeda ontel begitu sepertinya seru sekali.

00_ghent_15
*) Bersama Mas Danu
Menyusuri sudut-sudut kota Eindhoven ini benar-benar membuka perspektif baru buat saya what a life is. Dibanding orang Inggris, orang Belanda jauh lebih ramah. Setiap berpapasan dengan orang baru pun, mereka dengan senang hati menyapa kita. Apalagi kalau tahu kita bawa kamera, mereka akan sangat senang bahkan meminta anda memfoto mereka. Hal ini tentu bukan hal biasa di Inggris. Secara umum, orang Belanda lebih hangat daripada orang Inggris.

Sama seperti di kota-kota besar di Eropa lainya, disini banyak sekali gereja-gereja yang ditinggalkan jamaahnya. Tinggal bangunan-bangunan cantik nan kokoh tapi dianggurin, tidak ada pemujaan Tuhan di dalamnya. Bahkan, banyak diantaranya yang beralih fungsi menjadi diskotik. Sepertinya, orang-orang di Eropa sudah tidak memahami agama sebagai kegiatan ritual lagi, tapi lebih memahaminya sebagai way of life. Yang penting mereka baik, jujur, dan berbudi pekerti yang luhur sudah cukup, meskipun mereka tidak pernah datang ke Gereja.

Malam hari nya, setelah capek jalan-jalan, makan malam dan sholat isyak. Saya langsung terkapar, tertidur kecapekan di apartemen Mas Danu.

Enschede, Netherland

00_ghent_16
*)Kampus Universitas Twente

Keesokan harinya, saya bingung mau melanjutkan perjalanan kemana. Bukanya, tidak ada tujuan, tapi terlalu banyak tujuan, sementara waktu saya tinggal satu hari. Antara mengunjungi teman di Delf, Amsterdam, Utrecth, atau yang di Twente. Akhirnya saya memutuskan ke tempat yang terjauh sekalian, yaitu di Enchede, tempat Universitas Twente berada.

Perjalanan dari Eindhoven ke Enschede dengan kereta cukup jauh juga. Tidak ada kereta yang langsung ke Enschede, saya harus transit ke Utrecht dulu. Maunya mampir sebentar di Utrecht, tapi setelah dipikir-pikir malah ndak enak ketemu teman cuman sekejap saja. Setelah perjalanan hampir 4 jam, akhirnya saya sampai juga di Enschede.

Seorang teman tiba-tiba saja menguntitku dari belakang. Dia adalah si Iwan. Kawan lama yang sudah lama tidak pernah ketemu 5-6 tahun. Dia tidak banyak berubah ternyata, wajahnya masih saja imut kayak anak SMA. Dulu pertama kali bertemu tahun 2007, waktu saya ambil S2 di UTP Malaysia, sementara dia waktu itu sedang di tahun terakhir kuliah S1 nya.

00_ghent_17
*)Bersama Iwan

Tiba di apartemen Iwan, langsung gabung dengan teman-teman Indonesia yang sedang mengadakan pengajian mingguan yang kebetulan hari itu bertempat di rumah Iwan. Pengajianya sama persis seperti model pengajian teman-teman jamaah tarbiyah, PKS. Karena dulu saya pernah ikutan, jadi sedikit tahu model pengajianya seperti apa. Yang penting saya bisa makan gratis habis pengajian hehe. Senang sekali bisa bertemu dengan orang-orang Indonesia disini. Feel like at home.

Selepas pengajian, sama seperti di Eindhoven, Iwan ngajak saya sepedahan keliling kampus Universitas Twente, sambil foto-foto. Waktu keliling kampus itu, tiba-tiba ada seseorang memanggil nama saya: ” Mas Mukhlason…….. “. Yang ternyata adalah Krisnawati, adek kelas saya waktu kuliah S1 di ITS. Sangat tidak sengaja kami bisa ketemu. Bahkan saya tidak tahu kalau dia ada di Twente juga. Rupanya, dia mahasiswa baru program master di Universitas Twente dengan beasiswa dari Dep. KOMINFO. Senang sekali tak terkira bertemu dengan tidak sengaja seperti ini.

00_ghent_18
*)Bersama Krisna

Setelah dari kampus, Iwan mengajak saya kumpul-kumpul dengan teman-teman Persatuan Pelajar Indonesia (PPI ) Twente. Ada teman yang mengadakan farewell party dengan BBQ di rumahnya. Seru juga bertemu dengan orang-orang Indonesia sebegitu banyaknya. Mereka terlihat sangat akrab dan dekat sekali yang menggambarkan suasana kekeluargaan yang rekat di antara teman-teman PPI  Twente. Yang menarik, ketika mereka pulang bareng-bareng, semuanya naik sepeda dengan sepedanya masing-masing. Benar-benar terasa seperti sepeda sehat jaman dahulu kala.

Malam harinya, si Iwan mengajak saya ketemu dengan teman-teman bulenya. Ceritanya mereka teman satu kelompok tugas, yang baru saja mau ketemu kembali setelah liburan musim panas. Di sebuah kafe, kami berlima ngobrol santai sampai tengah malam. Saya dan Iwan minum capucino, sementara 3 teman bule iwan lainya minum Bir. Meskipun, saya orang asing di antara mereka. Tetapi mereka sangat menghargai kehadiran saya. Mereka membawa saya masuk dalam obrolan mereka yang bercerita tentang liburan mereka masing-masing. Sehingga saya sama sekali tidak merasa terkucilkan :p. Di inggris, saya jarang sekali mengobrol lama dengan bule seperti ini. Kecuali jika ada acara formal dinner pada saat menghadiri short course atau conference.

Baru pukul 1 dini hari saya bisa tertidur di kamar Iwan, setelah ngobrol ngalur ngidul. Keesokan harinya, jam 6 pagi, setelah sarapan indomie dan coklat panas bikinan Iwan, dengan dibonceng sepeda ontel, Iwan mengantar saya ke stasiun kereta api terdekat untuk kembali ke Brussel dan terbang kembali ke London. Karena keasyikan jalan-jalan, saya sama sekali belum sempat beli oleh-oleh. Oleh-olehnya hanya cerita, kenangan, dan pelajaran hidup. Si Iwan malah yang ngasih oleh-oleh ke saya satu bungkus rendang uda gembul dari Bandung.

00_ghent_19
*)Stasiun Kereta Api

Yah akhirnya saya harus kembali ke tempat perjuangan. Senang sekaligus sedih karena dalam hati sebenarnya masih ingin jalan-jalan dan mengunjungi teman-teman lainya. Tapi, apa daya waktu jua yang membatasi. Dalam hidup ini, salah satu hal yang paling saya syukuri adalah dengan dipertemukanya saya dengan teman-teman hebat seperti mereka. Yang dekat dan bersahabat. Yang menginspirasi dan menyemangati.  Yang baik hati dan membuat kita selalu nyaman berlama-lama berada di dekatnya. Sebuah persahabatan yang barokah insya Allah. Seperti lirik lagunya Ipang:

….bersama mu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal diri mu, rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya.  Melawan keterbatasan, walau sedikit kemungkinan, tak kan menyerah, untuk hadapi hingga sedih tak mau datang lagi.

00_ghent_20
*)Bandara Brussel

Di bandara Brussel, sambil menunggu pesawat datang, saya duduk sendirian di sudut ruang tunggu. Saya buka foto-foto di kamera DSLR saya, sambil mengingat kenangan-kenangan yang baru saja terjadi. Dalam hati saya berdoa, Ya Allah karunikanlah saya sahabat-sahabat dekat dan baik seperti mereka sebanyak-banyaknya.

Setiap peristiwa datang dan pergi, tetapi kenangan dan pelajaran yang tertinggal akan tetap abadi.

Oke deh, sekarang waktunya kembali melanjutkan perjuangan hidup ! Bukan waktunya, terbuai kenangan-kenangan indah *dasar melankolis* Terima kasih wahai Sahabat! Thanks God.