Advertisements

Tag Archives: jalan-jalan di belanda

Amsterdam dan Segala Kenangan yang Tertinggal Bersamanya

… perjalanan mengajari ku bahwa hidup bukanlah tentang bagaimana menghadapi hidup itu sendiri. Hidup adalah tentang bagaimana menghayati hidup itu. Karena, sebenarnya menghidupi hidup itu adalah sangat sederhana. – A Random Thought

byAmsterdamCentralStationGood

Kota Amsterdam Dengan Latar Belakang Stasiun Kereta Api Amsterdam Centraal, Belanda (2015)

Kata para traveler belum ke Belanda, kalau belum berkunjung ke kota Amsterdam. Aku salah satu yang tidak setuju dengan pernyataan itu, karena pada tahun 2013 saat mengunjungi negeri kincir angin ini dari Belgia karena keterbatasan waktu, belum sempat mampir di kota kosmopolit ini. Tetapi, tanpa direncanakan, takdir membawa aku kembali ke negeri ini dan kali ini alhamdulilah sempat merasai suasana kota yang sangat indah di malam hari ini.

Januari 2015, musim dingin kemaren aku berkunjung di kota ini untuk sebuah acara, mewakili ketua PCINU UK (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama- UK) yang kebetulan ditakdirkan berhalangan hadir untuk sebuah acara yang diadakan teman-teman PCINU Belanda. Aku sampai di kota ini ketika hari sudah gelap. Setelah, kurang dari satu jam perjalanan dari Bandara Gatwick, London – Bandara Schipol, Amsterdam, aku langsung menuju kota ini menggunakan kereta api langsung dari stasiun kereta api di bandara schipol ke stasiun kereta api Amsterdam Centraal.

amsterdam_malam_hari

Amsterdam Yang Tak Pernah Tertidur

Keluar dari stasiun kereta api, cuaca agak kurang bersahat. Selain dingin yang menggigit, saya taksir suhunya kurang dari 4 derajat celsius, juga hujan rintik-rintik. Tidak bawa mantel atau pun payung lagi. Tetapi, sedikit rasa tidak nyaman karena dingin dan hujan itu segera luntur oleh rasa senang menyaksikan pemandangan kota Amsterdam di malam hari yang begitu cantik. Stasiun kereta api Amsterdam centraal itu ternyata arsitektur sangat cantik dilengkapi dengan gemerlap lampu yang menghiasinya. Tak salah, jika stasiun ini katanya salah satu stasiun kereta api dengan arsitektur terindah di dunia. Bangunan-bangunan pencakar langit dengan arsitektur khas Belanda yang tak kalah gemerlap di sekitar stasiun semakin menambah pesona kecantikan kota ini.

amsterdam_sungai_malam_hari

Suasana Kanal Sungai Yang Membelah Jantung Kota Amsterdam di Malam Hari

Di depan stasiun itu, ada sebuah canal/ sungai yang cukup lebar, dan aku berhenti di pinggir jembatan di atas canal itu. Merasai suasana malam kota ini yang terlihat begitu sibuk. Bukan ibu kota namanya kalau tidak sibuk dan crowded. Aku hanya sedikit nggumun, di kota sesibuk dan crowded ini anehnya semuanya masih terlihat teratur. Tram yang berlalu lalang setiap saat bersaing dengan bus umum, mobil pribadi, sepeda pancal, dan para pejalan kaki di jalan yang sama. Tak ketinggalan perahu-perahu yang bersandar di tepi sungai, melengkapi semua jenis moda transportasi di kota metropolis ini. Hati ku sedikit mbatin, di malam dingin sedikit diguyur hujan, di kota se crowded Amsterdam ini, kok ya masih saja banyak orang dengan nyamanya naik sepeda ontel berlalu lalang di jalan-jalan utama kota ini.

amsterdam_naik_sepeda

Naik Sepeda di Malam Hari

Dari jembatan depan stasiun kereta api itu, sebenarnya aku tidak tahu mau kemana? Bukan aku namanya kalau merencanakan secara detail setiap rencana perjalanan. Buat ku, setiap kejutan yang hadir dalam setiap perjalanan adalah esensi dari perjalanan itu sendiri. Parahnya lagi, aku hanya membawa handphone jadul yang hanya bisa telpon dan sms saja. Sementara satu-satunya teman perjalanan ku kali ini, iphone nya tidak bisa dipakai. Dan kami berdua, sama-sama baru pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Dalam kondisi seperti ini, aku hanya menggunakan filosofi algoritma koloni semut. Bahwa, jalan yang paling banyak dilalui orang lah yang akan membawa kita pada tempat dengan nilai fungsi tujuan yang paling optimal.

amsterdam_halal_resto

Salah Satu Kedai Makanan Halal di Kota Amsterdam

Karenanya, aku hanya ngikut saja kemana paling banyak orang melangkah. Tujuan ku kali ini adalah menikmati suasana malam kota Amsterdam sambil menikmati makan malam. Untuk urusan tempat makan, aku biasanya juga masih menggunakan filosofi algoritma koloni semut, tempat makan yang paling optimal (artinya dengan harga semurah mungkin diperoleh kepuasan semaksimal mungkin) adalah tempat makan yang paling ramai dikerumuni orang. Jangan pergi ke tempat makan yang sepi, pasti ada apa-apanya. Hanya saja, sebagai seorang mahasiswa muslim kantong cekak, aku memiliki beberapa hard constraints pertama harus halal dan harus murah. Tetapi, jika dalam kondisi kepepet, hard constraints tersebut bisa menjadi soft constraints. 

makan_ayam_kentang

Ayam Panggang, Kentang Goreng, dan Salad di Amstedam

Ternyata benar, jalan yang aku lewati itu menuju kawasan turis, dimana banyak sekali ditemukan penjual pusat oleh-oleh, cindera mata. Dan tentunya kedai penjual makanan. Ternyata tempat yang paling ramai dikunjungi orang adalah kedai makanan penjual ayam goreng franchise yang mudah sekali ditemui di Indonesia. Hanya saja satu hard constraint tidak terpenuhi tidak ada label halalnya. Meskipun di Indonesia juga tidak ada label halalnya, tapi kalau di luar negeri ini kayak gini aku agak berhati-hati. Akhirnya, setelah masuk ke dalam gang-gang sempit, ketemu juga salah satu kedai makan halal. Sayang kedai makan itu sangat sepi, dan sesuai teori algoritma koloni semut, pasti ada apa-apanya, dan yang jelas pasti bukat tempat yang optimal.

amsterdam_sexmuseum

Museum Sex di Amsterdam

Tetapi perut sudah tidak tahan, karena dari pagi perut hanya terisi secangkir kecil kopi pahit dan beberapa buah jeruk mandarin di Bandara Gatwick London. Sudahlah, akhirnya pasrah saja. Aku memesan sepiring makanan berisi ayam panggang, salad, dan kentang goreng. Wah mantap, ayamnya masih panas. Tapi tentu saja rasanya tak senikmat ayam  kampung panggang di Indonesia. Untuk minumnya, karena tidak ada kopi, akhirnya hanya minum 1 botol kecil jus jeruk dari lemari es di kedai makan itu. Sambil ngobrol dengan teman perjalanan yang sebenarnya belum lama aku kenal itu, aku lahab habis kentang dan ayamnya, menyisakan salad yang tidak biasa aku makan. Beruntung punya teman ngobrol yang sangat nyambung, sehingga cita rasa makanan yang sebenarnya tidak begitu nikmat itu, terasa sangat nikmat. Ditambah lagi perut dalam kondisi sangat lapar. Untuk satu piring makanan ini, aku harus membayar 10 Euro dan untuk satu botol jus jeruk aku harus bayar lagi 3.5 Euro. Alamak, mahal amir !

amsterdam_cerutu_sumatera

Cerutu Sumatera di Amsterdam Belanda

Keluar dari kedai makan itu, aku langsung jalan kembali menuju stasiun kereta api. Sambil kembali menikmati suasana malam kota Amsterdam. Ada hal yang menarik di sepanjang jalan pusat oleh-oleh itu, di antaranya adalah museum SEX dan Cerutu Sumatera. Entahlah, apa yang ada di dalam museum itu. Aku sendiri tidak tertarik dengan hal-hal berbau sex, karena menurut ku itu urusan paling privasi dalam hidup seseorang. Untuk cerutu sumatera, aku selalu bangga setiap melihat produk lokal Indonesia yang berhasil menembus pasar di Eropa.

Dari Asmterdam, malam itu aku langsung menuju Den Haag dimana salah seorang panitia acara di Den Haag yang akan aku hadiri, sudah menunggu untuk menjemput kami di Stasiun kereta api.

***

rumahDoyong_Amstedam

Rumah Doyong : Bangunan Arsitektur Khas Belanda

Setelah acara dua hari di Den Haag, akhirnya aku harus kembali ke Amsterdam untuk acara yang lain. Sebelum pergi ke acara tersebut, aku ada reuni kecil dengan dua orang sahabat lama ku waktu kami sama-sama sedang belajar di Universiti Teknologi Petronas, Malaysia. Seorang adalah alumni MSc dari Universitas Twente Belanda dengan beasiswa dari Depkominfo, yang baru saja lulus, dan mendapatkan pekerjaan di Belanda, sebagai sistem analis di perusahaan pengolah susu dan produk turunanya yang kalau di Indonesia produknya dikenal dengan label Susu Bendera. Seorang lagi, baru beberapa hari sampai di Belanda, akan memulai belajar di program MBA di Erasmus University, Rotterdam dengan beasiswa LPDP.

Dam_Square

Ketemu Dua Sahabat Lama (Dam Square, Amsterdam, 2015)

Kami janjian ketemu di stasiun kereta api Amsterdam Centraal, kemudian jalan bareng ke beberapa titik penting di kota Amsterdam. Rasanya, senang luar biasa, bisa ketemu sahabat lama kembali, setelah lama tidak ketemu seperti ini. Dari stasiun kereta, kami berjalan menuju Dam Square, museum dekat dam square, dan sebuah warung kopi. Sayang kami memiliki waktu yang sangat singkat, karena aku harus segera meluncur ke tempat acara di pinggiran kota Amsterdam. Terima kasih buat dua sahabat saya ini dkk, yang sudah menemani, walaupun hanya sebentar.

amsterdam_museum

Dalam sebuah Museum di Asmterdam

Pengajian Maulid Nabi Bersama Gus Mus

Dari Dam Square aku naik tram menuju tempat Pengajian Maulid Nabi Muhammad dan pelantikan pengurus, PCINU-Belanda yang berada di pinggiran kota Amsterdam yang sepi yaitu di masjid PPME Al-Ikhlas Amsterdam. Sempat sedikit kesasar karena, tapi akhirnya ketemu juga, berkat orang-orang Belanda yang sangat ramah dan very helpful.

PengurusBaru_PCINU_Belanda

Pengurus Baru PCI NU Belanda Bersama Gus Mus

Sampai di tempat acara, saya sangat kaget karena terdengar suara anak-anak kecil Indonesia sedang sholawatan. Ada ratusan, atau bahkan mungkin ada seribu orang Indonesia berkumpul di masjid PPME Al-Ikhlas ini. Yang membuat aku merasa tidak sedang berada di Belanda, tetapi merasa di masjid al-akbar Surabaya. Para jamaah ini didominasi para pelajar dan pekerja Indonesia yang tinggal di Asmterdam. Luar biasa. Acara utama hari ini adalah pelantikan pengurus baru PCINU Belanda dan Pengajian Maulid Nabi oleh Gus Mus.

ibu2_peserta_pengajian

Ibu-Ibu Sedang Mendengar Ceramah Gus Mus

Setelah acara pelantikan dan pengajian selesai, kami para pengurus cabang istimewa NU di Eropa mengadakan diskusi tertutup dengan Gus Mus mengenai keorganisasian NU. Baru kali ini, aku ikut diskusi begitu dekat dengan Gus Mus. Biasanya hanya lewat pengajian umum. Ternyata sangat berbeda, gaya komunikasi Gus Mus saat di pengajian umum dan forum khusus tersebut. Dan memang begitulah seharusnya seorang komunikator yang handal. Saya sangat kagum dengan wawasan Gus Mus yang sangat update diusianya yang yang sepuh. Even, beliau sangat aware terhadap isu-isu kekinian termasuk perihal kecenderungan masyarakat yang banyak menjadikan Kyai Google sebagai referensi belajar agama, sementara yang keluar dari fatwa mbah Google kebanyakan berasal dari situs-situs kelompok islam wahabi.

Usai sesi khusus dengan Gus Mus, aku rencana menginap di apartemen Mas Sohib, salah satu seorang pengurus PCINU Belanda. Tetapi, sebelum ke rumah beliau, seorang kawan dari Maroko mengajak ku jalan-jalan dulu melihat suasana malam kota Amsterdam. Dan kebetulan ada seorang kawan lagi, Reza, salah seorang mahasiswa Indonesia di Den Haag yang sangat baik hati bersedia menjadi tour guide. Kebetulan lagi, karena aku juga rencana mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang.

sepatu_bagiak_raksasa

Sepatu Bagiak Raksasa

Akhirnya kami kembali mengelilingi kota Amsterdam di Malam hari. Alhamdulilah kali ini, meskipun dingin, tetapi tidak sedang turun hujan. Fokus utama kami adalah mencari oleh-oleh. Reza menunjukkan beberapa tempat yang menjual oleh-oleh dan cindera mata yang paling murah di sekitar Dam Square. Kaos, tempelan magnit pintu kulkas, gantungan kunci, dan masih banyak lagi. Ciri khas cindera mata Belanda adalah sepatu bakiak, yang entah kenapa sepatu bakiak bisa menjadi icon negeri kincir angin ini. Sama seperti di Inggris, hampir semua barang-barang ini made in China.

Amsterdam_Malam_hari_Red_Light

Jalan Menuju Red Light District Di Amsterdam

Ohya, kalau di kota Surabaya sebelum ditutup oleh Bu Risma, ada Dolly yang terkenal sebagai pusat prostitusi terbesar di Asia Tenggara, di Amsterdam ini ada tempat sejenis yang sampai saat ini belum dan sepertinya tidak akan ditutup, namanya Red Light District. Aku pun penasaran dengan lokasi tempat ini. Awas, jangan bawa kamera di tempat ini, kalau ketauan kamera sampean akan di lempar di kanal.

Sama seperti di Gang Dolly, tempat maksiat ini berada di kompleks khusus tidak jauh dari stasiun Amsterdam Central. Terdiri dari gang-gang sempit yang dipisahkan beberapa kanal. Wisma-wisma penjaja pemuas syahwat itu memiliki ciri khusus penerangan lampu berwarna merah. Makanya disebut Red Light district. Kalau di Dolly, para pelacur nya dipajang seperti aquarium. Di Red Light district ini, lebih seperti etalase toko yang khusus menjual daleman. Setiap wisma, ada seorang pelacur yang memegang daun pintu dari dalam. Pokoknya persis orang-orangan di toko penjual daleman. Hanya memakai BH dan CD yang sangat minimalis. Pelanggan yang tertarik, tinggal buka pintunya, tawar-menawar, jika harganya cocok langsung main di kamar di belakang ruang kecil untuk pajangan itu. Hati-hati ya, tempat ini bikin senat-senut selangkangan. Hahaha….

Selain menawarkan pemuas syahwat untuk laki-laki hitung belang, di tempat ini juga banyak tempat sex live performance. Jadi sampean bisa menonton orang sedang begituan secara live dan langsung layaknya nonton pertunjukan teater. Astaghfirullahal ‘adziiim. Bejat tenan negara ini. Sebenarnya, tempat ini ramai tidak hanya oleh orang-orang yang niat mencari pemuas syahwat. Tetapi sebagian besar adalah para tourist seperti saya yang penasaran saja dengan tempat ini. Banyak aku temui mbak-mbak berjilbab yang berlalu lalang di gang-gang sempit tempat maksiat ini. Ironi, juga ada sebuah gereja besar di kompleks tersebut, yang kiri kananya adalah wisma penjual pemuas syahwat. Dan lebih parah lagi, kami kesini setelah menghadiri pengajian. Astaghfirullah !

**

IamSterdam

I amstedam

Setelah malamnya tidur di apartemen Mas Sohib yang luar biasa baik hati, termasuk numpang mandi dan makan gratis. Paginya kami kembali melanjutkan perjalanan ke kota Leiden. Eih, tapi tidak sengaja dalam perjalanan dari apartemen ke stasiun kereta api Asmterdam Sentral, kami nemu tempat yang biasa dipamerin orang-orang jika berkunjung ke Amsterdam. Itu lo, spot yang ada tulisanya I amsterdam.

museum_amsterdam

RIJKS Museum (Amsterdam 2015)

Kami pun mendadak turun dari Tram di tengah jalan, untuk sekedar foto-foto. Ternyata tempat itu namanya RIJKS MUSEUM. Ada sebuah museum besar, dan taman kota yang cukup luas di sekitar tempat itu. Alamak ternyata susah benar bisa foto sendirian di tulisam Iamsterdam itu. Saking banyaknya yang ngantri foto-foto, padahal hari masih sepagi itu. Sayangnya lagi, kami hanya memiliki waktu yang terbatas, sehingga tidak sempat mengunjungi salah satu museum terbesar dan terlengkap di benua Eropa itu.

AmsterdamMorning

Semangat Pagi Hari di kota Asmterdam

Perjalanan kali ini banyak mengajarkan ku nilai-nilai lain kehidupan. Tentang ketulusan. Tentang kebaikan keluarga Mas Sohib, yang sampek kita pergi pun dibawain bekal. Baru kali ini juga, aku ketemu seorang tour guide yang paling tulus dan begitu melayani sepanjang sejarah hidup saya. Padahal semuanya adalah orang-orang yang baru beberapa jam aku kenal. Sungguh mengesankan.

Amsterdam_Morning

Semangat Para Pengayuh Sepeda di Kota Amsterdam

Sekian cerita perjalanan ku kali ini. Sampai jumpa di cerita perjalanan ku selanjutnya! Buat sampean yang bermimpi untuk sampai di kota ini, aku doakan semoga dikabulkan mimpinya dalam waktu dekat. Allahumma Ammiin.

Advertisements

Hati ku Tertinggal di Kota Leiden, The Spirit Of Netherland

…. Leiden sebuah nama kota yang menyiratkan aura magis setiap kali aku mendengarnya. Sampai akhirnya aku benar-benar menginjakkan kaki ku di kota ini. Suasananya, sungguh telah menambat hati ku. Leiden, di kota ini kutemukan ruhnya negeri Belanda, yang membedakanya dari kota-kota lain di Eropa. -A Random Thought

leiden_01

Sign board Stasiun Kereta Api Leiden Centraal

Leiden, aku pertama kali mendengar nama kota ini dari Pak Sudirman, guru agama ku di kelas 6 SD di desa ku. Ketika bicara tentang agama, beliau sering sekali menyebut nama Snok Horgunye yang berasal dari kota ini. Di bangku SMP saya kembali mendengar nama kota ini dari Pak Sucipto, guru bahasa jawa ku yang sebenarnya lulusan pendidikan sejarah itu. Entahlah, hati ku selalu merasakan aura magis setiap kali mendengar nama kota ini. Hingga, pada akhirnya tak pernah dinyana, kersane gusti Alloh, aku benar-benar menginjakkan kedua kaki ku sendiri di atas kota ini. Yang mungkin masih sekedar sebatas angan-angan Pak Sudirman dan Pak Sucipto.

Ini adalah hari kelima, lawatan ku kedua di negeri kincir angin ini. Setelah sehari sebelumnya menghadiri acara pelantikan pengurus cabang istimea NU Belanda dan pengajian Maulid Nabi di kota Amsterdam yang dihadiri lansung rois ‘am PBNU, KH. Ahmad Mustofa Bisri, aka Gus Mus. Karena acara yang seharusnya diagendakan hari itu sudah dimajukan satu hari sebelumnya. Hari itu, saya bisa mengunjungi kota ini.

leiden_07

Menikmati Suasana Kota Leiden

Aku berangkat dari Amsterdam, dari apartemen Mas Sohib, sekretaris dewan syuro PCINU Belanda. Aku kebetulan menumpang tidur, mandi, dan makan di apartemen beliau, dan akan menginap kembali disana sekembali dari Leiden, dan keesokan harinya pulang ke London dari bandara Schipol. Dari Amsterdam, aku bersama mas Yusuf, dosen Teknik Informatika, Universitas Trunjoyo, yang sedang ambil program doktor di Universitas Poursmouth, UK dan Kusnadi, santri alumni pondok pesantren Tambak Beras yang sedang kuliah di Maroko.

Keluar dari stasiun Leiden Centraal, kami jalan kaki mengikuti petunjuk peta dari information centre di stasiun menuju centrum atau pusat kota dan Universitas Leiden. Pagi berkabut di musim dingin itu terasa menggigit dinginya. Tapi, kegembiraan ku menginjakkan kaki ku di kota ini menghangatkan semuanya. Benar, suasana khas kota ini sangat terasa. Rasanya seperti orang Jakarta yang baru pertama kali  menginjakkan kaki di kota Yogyakarta. Ritme hidup di kota ini terasa lebih lambat di banding kota Amterdam.

leiden_04

Parkir Sepeda Pancal di Stasiun Kereta Leiden

Sepeda pancal, kanal, dan kincir angin adalah icon dari negeri Belanda ini.Dan semua itu ada di kota Leiden ini. Kota yang sangat didominasi moda transportasi sepeda ontel ini menghadirkan suasana tenang dan damai sendiri. Rasanya semua orang disini menggunakan sepeda pancal sebagai alat transportasi dalam kota. Sejauh mata kamu memandang disitu pasti akan kamu lihat orang naik sepeda. Lupakan bayangan macet dan bising nya kota Jakarta. Di kota ini, kamu akan merasakan betapa damainya hidup tanpa kebanyakan mesin-mesin pembakar bensin.

leiden_08

Muda Mudi Berboncengan Sepeda Pancal

Hatiku terpesona melihat kemesraan muda-mudi berboncengan sepeda pancal. Di Indonesia, itu mungkin hanya terjadi pada jaman muda bapak-ibu ku di kampung awal tahun 80-an dulu. Atau, gerombolan mahasiswi-mahasiswi cantik Belanda berambut pirang tergerai dengan senyum riang nya menyusuri jalan-jalan sekitar kampus dan halaman kampus yang penuh dengan sepeda ontel dimana-mana. Di kampus ku di Indonesia, halaman kampus itu sekarang sudah terlalu penuh dengan deretan mobil-mobil mewah. Mungkin, karena budaya naik sepeda inilah,yang membuat tubuh cewek-cewek Belanda langsing dan singset. Jarang saya melihat perempuan obesitas di kota ini. Kontras, dengan kondisi di Inggris yang katanya lebih dari separuh perempuan Inggris bermasalah dengan obesitas.

leiden_10

Gadis Belanda dan Sepedanya

Satu lagi yang membuatku terkesan adalah keramahan orang Belanda. Jika kamu memotret di sembarang tempat, orang-orang Belanda pasti akan tersenyum dan merasa senang dengan jepretan kamu. Tak jarang, mereka akan melambaikan tangan tanda persahabatan dan kehangatan. Tetapi, jeprat jepret di sembarang tempat ini, jangan pernah kamu lakukan di Inggris. Kalau kamu tidak ingin dihardik orang. Orang Inggris sangat concern dengan privasi. So, jangan pernah memotret orang apalagi anak kecil tanpa ijin dari mereka.

leiden_13

Kanal dan Perahu di Kota Leiden

Sepanjang jalan menuju kampus Universitas Leiden, terdapat sejumlah museum yang katanya banyak menyimpan koleksi sejarah Indonesia. Tapi sayang, kebetulan hari itu hari senin, dimana museum tutup. Setelah puas menikmati sausana khas kota Leiden, kami bertiga memutuskan untuk istirahat di Lipsus, semacam kantin dan pusat kegiatan mahasiswa Universitas Leiden, sambil menunggu Mas Fahrizal, ketua tanfidziyah NU Belanda, yang akan menjadi guide kami keliling kampus. Mas Fahrizal, mahasiswa PhD yang dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang itu, kebetulan masih ada meeting dengan Profesornya.

Di lipsus, kami membuka bekal makanan yang dibuation oleh istri Mas Sohib. Alamak, sudah numpang makan tidur mandi gratis, masih dibawain bekal untuk makan siang. Duh, beruntungnya, setiap jalan-jalan aku selalu bertemu dengan orang-orang yang sangat baik hatinya. Meskipun baru kenal, sudah menganggap aku seperti saudara mereka sendiri. Kebetulan lagi, di lipsus ini ada mesin pembuat kopi gratis. Langsung deh,naluri mahasiswa kami kambuh tiba-tiba. Ambil kopi gratis berkali-kali.

leiden_20

Di Salah satu sudut Kampus Univ. Leiden

Setelah kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya mas Fahrizal datang juga dengan seorang satu lagi teman nya. Namanya, mas mashuri, yang juga mahasiswa program doktor Jurusan psikologi di Universitas Leiden. Dengan menuntun sepeda ‘unto’ pancalnya, mas fahrizal mengajak kami keliling kampus. Pertama ditunjukkan rumah snok horgunye yang berada di dalam kompleks kampus. Kemudian, kami diajak ke sebuah bangunan tempat pendadaran calon doktor baru. Saya lupa namanya. Di tempat inilah, diabadikan patung Husein Djoyodiningrat, orang Indonesia yang memperoleh gelar doktor pertama sepanjang sejarah. Menarik karena patungnya, digambarkan sosok beliau dengan pakaian jawanya.

leiden_18

Patung Orang Jawa Peraih Gelar Doktor Pertama Dan Kandidat Doktor

Kemudian, kami diajak ke fakultas hukum. Fakultas hukum ini adalah salah satu fakultas hukum terbaik di dunia. Yah, Universitas Leiden yang berdiri pada tahun 1575 ini memang terkenal keunggulan pada ilmu-ilmu sosialnya. Di fakultas hukum ini, kami diajak mas Fahrizal masuk ke dalam perpustakaan khusus fakultas hukum. Alamak, perpustakaanya bagus dan klasik banget. Rasanya, langsung terpampang sebuah syurga belajar di mata ku.

leiden_23

Suasana Perpustakaan Fak. Hukum, Univ. Leiden

Di perpustakaan ini juga terdapat ribuan koleksi referensi hukum Indonesia. Yang kata mas Fahrizal, sangat susah dicari di Indonesia. Aneh rasanya, masak iya, kalau seseorang mau belajar hukum Indonesia harus pergi ke Belanda. Di perpustakaan ini, kami secara tidak sengaja bertemu dengan profesornya mas fahrizal, yang ternyata sangat fasih berbahasa Indonesia.

leiden_25

Koleksi Referensi Hukum Indonesia

Argh, sayang hari keburu sudah gelap. Musim dingin ini memang membuat hari terasa lebih pendek. Dan kami harus segera menyudahi kunjungan kami di perpustakaan. Dari Perpustakaan, kami berpisah dengan mas Fahrizal yang kelihatan sangat sibuk dan pusing dengan PhD nya. Kami berempat menuju masjid Alhijrah, masjid bekas gereja, yang masih berada di dalam kompleks kampus Universitas Leiden.

leiden_29

Fakultas Hukum, Universitas Leiden

Di masjid kami sholat ashar, dan jamaah sholat Maghrib. Di masjid yang cukup luas ini kami bertemu banyak orang Indonesia, yang kebetulan semuanya penerima beasiswa LPDP untuk mengambil program master pada ilmu-ilmu sosial di kampus ini. Mereka kebanyakan alumni fakultas ilmu budaya, Universitas Indonesia.

leiden_30

Masjid Alhijrah, Leiden

Selepas dari masjid, aku dan mas yusuf langsung menuju stasiun Leiden Sentral untuk kembali ke Amsterdam. Sementara kusnadi balik ke kota Leiden. Puas rasanya menghabiskan waktu seharian di kota ini. Kota ini kembali membuka perspektif baru tentang bagaimana melihat dunia dari sisi yang berbeda bagi  ku. Buat teman-teman yang ingin merasakan suasana khas Belanda, datanglah ke kota Leiden.

Ohya, untuk khas oleh-oleh Belanda jangan lupa membeli strop wafle di supermarket di dalam stasiun leiden. Enak sekali rasanya. Selemat Melakukan Perjalanan ! Selamat mendefiniskan arti perjalanan versi anda sendiri !


Wisata Ilmu dan Persahabatan Di Eropa: 6 Kota 3 Negara 1 Benua

….bersama mu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal diri mu, rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya.  Melawan keterbatasan, walau sedikit kemungkinan, tak kan menyerah, untuk hadapi hingga sedih tak mau datang lagi. – Sahabat Kecil, Ipang

00_ghent_01
*)Kota Ghent, Belgium

Jalan-jalan menelusuri kota-kota cantik nan esotik di Eropa? wah, pasti impian banyak orang bukan? Dan saya adalah salah satunya. Buat keluarga artis, pengusaha kaya raya, atau pejabat negara tentu itu bukanlah impian mahal. Kapan saja mereka menginginkan, impian itu bisa dengan mudahnya terwujud dengan uang yang mereka miliki. Tapi buat orang-orang desa nan miskin seperti saya, tentu saja itu impian sangat mahal. Duite sopo Kang? Arep ngedol sawahe sopo? Mbah Mu  a? (red: uang nya siapa bro? mau jual sawah siapa? sawah nenenk mu? )

Tapi, Gusti Allah itu selalu memiliki caraNya sendiri  dalam menakdirkan jalan hidup hamba Nya yang tak pernah lelah berusaha. Alhamdulilah, pas liburan musim panas 2013 kemaren, saya ditakdirkan bisa jalan-jalan gratis di 6 kota di Eropa. Ceritanya, makalah hasil penelitian saya selama tahun pertama diterima untuk dipresentasikan di sebuah konferensi ilmiah di Kota Ghent, Belgia. Lebih mujur lagi, sekolah ilmu komputer, Universitas Nottingham, tempat saya menempuh pendidikan PhD, dengan baik hatinya membayari semua biaya pendaftaran termasuk biaya transportasi dan akomodasi selama 5 hari di Kota Ghent, Belgia itu.

Untuk jalan-jalan kali  ini saya lebih senang menyebutnya dengan wisata ilmu dan persahabatan. Karena tujuan nya memang untuk mencari ilmu dan silaturrahim ke konco-konco lawas (red. teman-teman lama) yang bertebaran di Eropa sana. Biar pun, ndeso gini, alhamdulilah saya punya banyak teman yang saat ini sedang berada di benua biru. *astgahfirullah, mulai sombong neh :p*. Yuk mari ikuti  cerita perjalanan saya.

London, United Of Kingdom


*) Kota London, UK.

Untuk menuju kota Ghent, Belgia, saya berencana naik Bus malam langsung dari Nottingham dengan transit di kota London. Berangkat dari Nottingham jam 3 siang, nyampek di Ghent nya jam 4 pagi. Tapi, sialnya, ketika sampai London dan mau naik Bus ke Ghent, saya dilarang naik Bus, alasanya karena saya tidak memiliki VISA schengen. Padahal, saya menggunakan paspor dinas, paspor berwarna biru, yang menurut keterangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Brussel pemegang paspor biru ini bebas visa selama 30 hari di negara Belgia, Netherland (Belanda), dan Luxemburg. Saya sempat eyel-eyelan (red. adu mulut) berkali-kali sama petugas Bus, tapi rupanya kandas. Mereka beralasan, tidak bisa karena Bus yang akan saya naiki itu akan melewati Perancis, yang walaupun saya cuman numpang lewat doang saya tetap harus memilika Visa Schengen.

Duh Gusti ! haruskah impian jalan-jalan di eropa yang sudah di depan mata, tiba-tiba lenyap begitu saja. Saya hanya bisa nelangsa memandangi Bus Euro Line yang pergi meninggalkan saya sendirian di terminal bus Victoria London, di hari yang sudah merambat malam itu. Bus itu seolah-olah mengejek saya sambil berkata : “kasihan deh lo !”. Saya kembali duduk di kursi tunggu, rasanya masih belum bisa menerima kenyataan yang baru saja terjadi. Saya curhat lewat Whats App ke salah satu teman dekat saya di Nottingham. Teman saya itu malah ngeledek:

” Udah balik saja ke Nottingham cak ! lanjutkan kampanye online nya buat kemenagan Khofifah!”

Tapi, yaudahlah mau gimana lagi. Semua yang terjadi terjadilah. Akhirnya, saya memutuskan untuk balik saja ke Nottingham. Bus terakhir dari London ke Nottingham akan berangkat 10 menit lagi. Saya berjalan gontai menuju pintu bus. Sang sopir memeriksa kertas bukti booking online saya. Dia mengernyitkan dahi nya. Dia berkali-kali  mencocokkan kode booking tiket saya dengan daftar kode tiket yang dia miliki, dan ternyata  tidak ada. Setelah bertanya ke rekan kerjanya, Sopir itu akhirnya bilang ke saya:

“Maaf kamu harus menukar dulu dengan tiket bus di Counter Penjualan Tiket, Kamu harus cepat-cepat karena bus nya 3 menit lagi mau berangkat”.

Saya mencari-cari counter penjualan ticket bus national express itu, tapi tidak ketemu juga. Sampai Bus nya berangkat dan sekali lagi seolah mengejek saya sambil berkata: “Selamat mbambung ya ! “. 

Tiba-tiba, sifat asli saya yang suka ngeyelan dan mekso yang sudah habis terkuras sama petugas Bus ke Ghent sebelum nya muncul kembali. Hati saya berbisik, pokoknya bisa tidak bisa, besok pagi saya harus nyampek di Ghent, Belgia. Pantang buat saya untuk menyerah.

Saya tiba-tiba teringat salah satu teman kenalan saya di facebook. Dia kebetulan yang menjaga wisma indonesia di KBRI London. Sayangnya, karena hanya baru kenal di facebook saya tidak memiliki nomer HP nya. Saya message teman saya itu minta nomer HP nya. Untungnya, dia lagi Online.

Setelah saya telpon dan mendapatkan nomer Whats App nya, Cak Hanif, nama teman saya itu, memberi petunjuk jalan menuju wisma indonesia. Rupanya saya harus naik Tube, kereta api bawah tanah, dua kali dan harus berjalan sekitar 500 meter hingga akhirnya setelah bersusah payah sampai juga saya di Wisma Indonesia.

Sampai di Wisma Indonesia, Cak Hanif dan istrinya menyambut saya dengan sangat hangat. Meskipun baru kenal, saya sudah dianggap seperti keluarga mereka sendiri. Saya langsung diajak makan malam bersama di dapur. Cak Hanif dan istrinya serta satu orang Indonesia lagi yang sedang kuliah di London menemani saya makan malam bersama. Sambil makan,kami ngobrol gayeng dan akrab. Rupanya Cak Hanif dan istrinya aslinya orang Banyuwangi juga, sama dengan saya. Latar belakang yang sama-sama dari pesantren, membuat kami keasyikan ngobrol hingga larut tengah malam. Cak Hanif ini ternyata alumni pondok pesantren minhajut thulab, paras gempal, sumber beras, Muncar Banyuwangi.

Sekitar jam 12 malam, Cak Hanif mengantar saya di salah satu kamar. Setelah menuliskan password wifi di secarik kertas, cak hanif meninggalkan saya sendiri di kamar dengan 3 spring bed itu. Cak hanif bilang kalau dia akan ngelembur mendata Daftar Pemilih Tetap warga indonesia di Inggris untuk Pemilu 2014, kalau ada apa-apa dia berpesan untuk Whats App saja.

Setelah sholat isyak, saya menyalakan laptop dan langsung mencari tiket pesawat untuk besok pagi. Lewat agen online, saya mendapatkan tiket yang cukup murah dengan British Airways berangkat keesokan harinya jam 6 pagi dari Hethrow Airport. Hanya saja yang menjadi masalah, status tiket nya ternyata tidak langsung diconfirm. Saya telpon agen nya, tidak diangkat, karena ternyata mereka baru bisa melayani mulai jam 8 pagi. Sementara pesawatnya berangkat Jam 6 pagi.

Meskipun status tiket saya belum jelas, saya minta dipesankan taksi sama Cak Hanif yang akan menjemput saya jam 4 pagi menuju Hethrow Airport. Cak Hanif juga berpesan, besok pagi jam 4 kalau pergi ndak usah bangunin dia, saya diminta untuk langsung keluar saja, karena pintunya akan terkunci secara otomatis.  Dia juga menggratiskan biaya sewa kamar kamar di Wisma Indonesia yang seharusnya bayar £16 itu.

Pada akhirnya saya tidak bisa tidur semalaman, karena berkali-kali saya cek status tiket saya belum juga diconfirm. Sampai jam 4 pagi Taxi yang akan mengantarkan saya ke Bandara itu datang.

Sampai di Heathrow Airport, saya mencoba self check in. Tetapi, walaupun sudah saya coba berkali-kali ternyata tidak bisa, karena memang status tiket saya belum diconfirm. Akhirnya saya duduk di ruang tunggu, sekalian sholat subuh sambil duduk. Setelah sholat, saya telpon lagi nomer agen online itu, tetapi tetap saja tidak diangkat. Saya ubek-ubek lagi website agen tiket pesawat online itu. Sampai akhirnya saya menemukan nomor telepon lainya yang bisa dihubungi. Alhamdulilah, di detik-detik terakhir ternyata saya telpon diangkat dan tiket saya bisa diconfirm.

Hah.. lega rasanya. 45 menit sebelum pesawat berangkat saya bisa self chek in. Dan lebih lega lagi, pada pemeriksaan imigrasi di Bandara Hethrow sama sekali tidak ada masalah. Mereka sama sekali tidak menanyakan masalah Visa. Jam 5.45 saya masuk pesawat, Alhamdulilah Gusti …. akhirnya I am flying on the sky from London to Brussel with British Airways. Untung saya nekat berangkat, dan tidak mutung balik ke Nottingham. Pada saat seperti inilah, saya merasa beruntung memiliki sifat ngeyelan dan suka memaksakan diri itu, hehehe…

Ghent, Belgium

00_ghent_02
*)Salah Satu Sudut Kota Ghent, Belgium

Di atas awan, di dalam pesawat British Airways, sambil melihat langit dari balik jendela pesawat, saya rasanya masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Perjalanan panjang naik bus malam Nottingham – London – Ghent yang sudah saya rencanakan sebelumnya gagal total. Yah, begitulah hidup. Seringkali kenyataan yang terjadi tak sesuai dengan yang direncanakan. Tetapi, kenyataan bisa jadi malah menjadi lebih indah dari yang kita rencanakan.

Perjalanan dari London ke Brussel, Belgia ini cukup singkat. Hanya butuh waktu kurang lebih 50 menit. Jadi, sekitar pukul 08.00 waktu setempat (waktu di Belgia 1 jam lebih cepat dari London) pesawat sudah mulai mendarat di Bandara Brussel.  Dari atas pesawat, tata kota Brussel terlihat begitu rapi dan indah. Bersih dan teratur.  Saya sangat yakin arsitektur kota ini tentunya direncanakan dan dibuat dengan sangat sangat cermat dan penuh perhitungan.

Tiba di Bandara, akhirnya bagian yang paling saya takutkan datang juga. Yaitu, bagian imigrasi. Saya sudah was-was sekali, jangan-jangan saya dipulangkan lagi ke London karena tidak memiliki visa Schengen. Ketika petugas imigrasi memeriksa paspor biru saya, saya tak henti-henti nya baca sholawat. Duh Gusti mugi-mugi ndak ada masalah. Rupanya, dia sama sekali tidak mempermasalahkan VISA. Sepertinya mereka sudah tahu kalau pemegang paspor biru Indonesia tidak perlu VISA. Tapi dia meminta surat undangan conference dan tiket balik pesawat.

Bodohnya, saya tidak memiliki keduanya dan dia meminta dalam bentuk print out. Saya pun merayu dengan menunjukkan bukti email dari ponsel pintar saya. Tetapi, sial dia tidak mau tahu. Pokoknya dia maunya dalam bentuk print out, titik. Yah gimana lagi dong. Saya didiamin cukup lama, sementara saya hanya bisa diam sambil tak henti-hentinya baca sholawat. Setalah kurang lebih 5 menit, akhirnya si petugas imigrasi itu meminta saya untuk menunjukkan tiket dan undangan dari ponsel saya dan akhirnya meloloskan saya dari pemeriksaan imigrasi. Horee… hati saya bersorak riang.

Dari Bandara, saya harus naik kereta selama kurang lebih 2.5 jam. Keretanya tingkat seperti bus double decker di London. Yang jelas sangat nyaman sekali. Di kereta ini, saya baru sadar kalau di Belgia mereka menggunakan bahasa perancis dan belanda. Bahasa inggris sangat minim sekali digunakan, semua papan informasi tertulis hanya dalam bahasa belanda dan perancis. Ini yang sedikit membingungkan saya.

00_ghent_03
*) Bersama Anas, Dari Sudan

Akhirnya sekitar pukul 11 siang saya sampai juga di Hotel tempat konferensi itu diselenggarakan. Saya langsung setor muka ke dosen pembimbing saya  yang ternyata sudah mengkhawatirkan saya kok belum muncul di tempat konferensi.

Konferensi ilmiah dibidang penjadwalan ini berlangsung selama 4 hari. Berbeda dengan konferensi internasional yang pernah saya hadiri sebelum-sebelumnya, konferensi ini sangat istimewa buat saya. Menghadiri konferensi ini buat saya tak ubahnya seperti anak muda yang sedang menghadiri konser langsung band idolanya. Karena, disini saya bisa bertemu langsung dengan para profesor dan pakar yang sudah sangat saya kenal namanya dari makalah-makalah karya mereka yang saya baca selama ini. Berbeda dengan di Indonesia yang biasanya seminar seperti kayak ini hanya dihadiri kalangan akademisi, di sini banyak sekali peserta yang hadir dari kalangan industri.

Ohya, kota Ghent ini sangat cantik. Katanya sih, salah satu kota terindah di Eropa daratan. Satu lagi, kota ini merupakan salah satu kota cagar budaya dunia. Disini banyak sekali bangunan-bangunan tua yang masih kokoh berdiri yang menjadikan bukti-bukti kejayaan kekaisaran Romawi pada masanya. Sekilas kota ini mirip dengan kota Edinburgh di Skotlandia. Transportasi utama di kota ini adalah Tram dan sepeda ontel yang membuat kota ini sangat nyaman untuk disinggahi.

Di sela-sela acara konferensi, panitia mengadakan beberapa kegiatan sosial. Diantaranya adalah menyusuri sungai yang membelah kota Ghent dengan boat dan Makan malam di salah satu bangunan bekas sekolah calon pendeta katolik. Selama kegiatan sosial ini, saya merasa sangat beruntung bertemu dengan orang-orang baru yang sangat mengasyikkan dan menginpirasi. Karena sering jalan bareng, akhirnya saya jadi lebih akrab dan mengenal kehidupan pribadi dan sisi lain dari dosen pembimbing saya.

Selama konferensi ini juga saya bertemu dengan seorang teman dari Indonesia. Mas Komar namanya. Dia dosen Teknik Industri, Universitas Indonesia (UI) yang sedang tugas belajar untuk menyelesaikan PhD di salah satu Universitas di Brussel. Dia orangnya sangat super baik sekali. Gimana tidak baik, tiap hari selama konferensi dia selalu membawakan saya makan siang dengan menu masakan Indonesia. Masakan istri tercintanya yang sangat dahsyat kelezatanya itu tidak akan pernah saya lupakan. Gulai kambing, udang asam manis, Tom Yam, Bakso dengan nasi super punelnya adalah anugerah rejeki Gusti Allah yang tak ternilai harganya di saat kita berada di negeri orang seperti di kota Ghent, Belgia ini.

Brussel, Belgium

00_ghent_04
*) Bersama Mas Komar, UI

Hari Jumat pagi  setelah sarapan di restoran hotel ibis, tempat saya menginap selama konferensi, saya meninggalkan kota cantik Ghent. Hari itu saya berencana silaturrahim ke apartemen mas komar di Brussel, ibu kota Begia. Sesuai petunjuk, dari hotel saya naik Tram menuju stasiun kereta Sint-Pieters di pusat kota Ghent. Kemudian lanjut naik kereta api turun di stasiun central di Brussel.  Sebelum saya berangkat, saya lupa ngabari Mas komar jam berapa saya berangkat dari Ghent. Parahnya lagi, ternyata operator selular saya tidak support roaming service. Beberapa hari sebelumnya saya mengandalkan wifi hotel untuk komunikasi lewat Whats App. Saya cuman berharap, mudah-mudahan di stasiun ada Wifi gratis.

Setiba di stasiun central Brussel, saya clingak-clinguk sendirian. Semua papan informasi dalam bahasa Belanda dan Perancis membuat saya agak bingung. Saya hanya mengandalkan insting untuk mencari pintu keluar. Di stasiun inilah kejadian menyedihkan terjadi. Dompet saya kecopetan bro! Ceritanya ada dua orang kulit hitam tiba-tiba ngasih petunjuk saya untuk keluar lewat eskalator. Satu orang di depan saya, satu nya lagi berada di belakang saya. Ketika hampir nyampek di atas, orang di depan saya itu tiba-tiba menjatuhkan casing handphone. Kemudian dia jongkok mengambil casing itu dan berhenti cukup lama. Karuan saja karena eskalator berjalan, saya  terjungkal-jungkal, menabrak orang tersebut. saya sampek bilang “what the fuck man !”. Setelah itu, dia langsung ngacir begitu saja bersama orang yang berada di belakang saya. Tanpa sama sekali menoleh ke belakang dan tanpa berkata sepatah kata pun.

Ketika saya mengambil handphone untuk mencari-cari sinyal wifi, saya baru sadar kalau dompet saya yang tebal banget sudah raib. Syok rasanya, karena semua harta karun saya tersimpan di dompet itu. Semua kartu2 penting hilang, termasuk kartu mahasiswa dan ATM. Hanya beberapa receh uang euro yang tersisa di saku baju. Parahnya lagi, saya ndak bisa menghubungi Mas Komar karena ternyata tidak ada Wifi gratis. Duh Gusti.

Untungnya, beberapa menit kemudian, Mas Komar dengan senyum khas dan gayanya yang sangat santai tiba-tiba datang nyamperin saya. Mas komar sangat santai dan mencoba menenangkan saya yang awalnya sangat panik. Dia datang seperti malaikat yang diturunkan oleh Tuhan dari langit. Mungkin karena terkena aura mas nya yang calm down, mendadak saya jadi tenang dan sama sekali tidak sedih dengan hilangnya dompet itu. Saya hanya perlu memblokir kartu debet saya, karena di beberapa outlet belanja, kartu debet ini bisa dipakai tanpa verifikasi password. Mas komar meminjamkan handphoneya untuk saya gunakan menelpon bank saya di UK.

00_ghent_05
*) Salah satu Masjid berarsitektur Maroko di Brussel

Setelah menaruh barang dan makan siang di apartemen Mas Komar. Mas komar mengajak saya sholat Jumat di masjid terdekat. Brussel ini rupanya salah satu kota di Eropa dengan penduduk Muslim terbanyak. Kebanyakan Muslim di kota Brussel ini adalah pendatang dari Maroko. Kami sholat jumat di salah satu masjid dengan gaya arsitektur Maroko tersebut. Diluar masjid ternyata banyak sekali pengemis seperti para pengemis di kawasan Ampel, kota Surabaya. Miris rasanya, melihat banyak sekali para muslim pendatang ini hanya menjadi pengemis yang merusak pemandangan kota Brussel.

00_ghent_06
*) Salah satu sudut Kota Brussel, Belgia.

Usai sholat jumat, Mas Komar mengajak saya jalan-jalan keliling kota brussel dengan bus, tram, dan kereta api. Saya ditunjukkan tempat-tempat yang wajib dikunjungi di Kota Brussel. Di antaranya adalah kantor uni eropa, city centre, patung anak kecil yang sedang kencing dan atomium.  Kota Brussel ini sangat bersih dan yang menarik adalah disini banyak sekali taman-taman kota yang indah. Tempat yang sangat cocok untuk bermain bersama anak-anak.

00_ghent_07
*) Patung Anak Kecil Lagi Pipis

Arsitektur  bangunan di kota Brussel ini tidak jauh berbeda dengan arsitektur bangunan di kota-kota di Inggris. Yaitu arsitektur khas bangunan romawi kuno yang sangat kompleks, detail dan rumit. Salah satu icon wisata dari kota Brussel adalah Atomium. Itu lo, bangunan berbentuk atom raksasa.

00_ghent_21
*) Atomium, Brussel

Sebelum kembali ke rumah, Mas Komar mengajak saya belanja di salah satu kawasan mayoritas Muslim. Di tempat itu banyak dijual makanan khususnya daging Halal. Kawasan ini mirip sekali dengan kawasan Hyson Green di Nottingham.

00_ghent_08
*) Toko Halal, Brussel.

Setelah sholat ashar dan makan sore, saya pamitan ke Mas Komar, istrinya, dan dua orang putri cantiknya untuk melanjutkan perjalanan ke kota Leuven. Mas Komar mengantar saya ke stasiun kereta api. Mas komar meminjami saya uang beberapa ratus euro untuk bekal sampai kembali lagi di UK.

Leuven, Belgium

00_ghent_09
*) Bersama Bang Roil di Lab.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan dengan kereta api, akhirnya saya sampai Juga di stasiun Leuven. Saya sudah membeli nomor belgia, yang saya beli di emperan masjid setelah sholat Jumat di Brussel. Bang Roil menjemput saya di stasiun. Senang sekali rasanya berjumpa kembali dengan kawan lama yang sudah 5 tahun tidak pernah bertemu. Bang Roil ini senior saya di pesantren Darul Ulum Jombang dan senior saya juga waktu kuliah S2 di Universiti Teknologi Petronas (UTP), Malaysia. Beliau, yang sangat terkenal kepintaranya itu, sedang menyelesaikan Post Doctoral di Universitas Katolik Leuven, tempat dia menyelesaikan sekolah PhD nya. Waktu di UTP saya sering kali dikira adik kandung beliau, karena katanya wajahnya mirip :D.

Malam itu saya menginap di apartemen Bang Roil. Auro kesempurnaan kebahagian terpancar dari keluarga Bang Roil yang baru saja dianugerahi seorang putri cantik bernama Adore. Semalaman saya banyak mengobrol dan diskusi dengan beliau. Layaknya dua orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Buat saya, sejak dahulu beliau selalu menginspirasi. Terutama dalam hal kerja keras, kemauan keras, dan kegigihan dalam mencapai sesuatu.

00_ghent_10
*) Ngontel di Universitas Katolik Leuven

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bang Roil mengajak saya mengontel keliling kampus dan kota Leuven. Ohya, kota Lueven ini dari jaman dahulu terkenal sebagai kota pelajar yang terpandang di Belgia dan Eropa pada umumnya. Seperti Oxford dan Cambridge di Inggris.

Kampus U.K. Lueven sangat luas dan hijau. Masuk ke dalam kampus, terasa seperti masuk ke dalam hutan yang sangat luas. Sepeda Ontel adalah alat transportasi mainstream di kota ini. Setelah bertahun-tahun tidak ngontel, saya baru  benar-benar dapat merasakan nikmatnya naik sepeda ontel  di kota ini. Hijau, alami, suasananya sangat tenang, dan udaranya sangat segar. Bersepeda di kampus ini, terasa seperti berkeliling di taman-taman syurga. Sebuah tempat yang sangat sempurna untuk belajar dan hidup.

Saya diajak bermain di Laboratorium tempat beliau melakukan penelitian. Ternyata ada mahasiswa Master di bawah bimbingan Bang Roil yang sedang bekerja di Lab. Rajin benar mahasiswa ini, hari Sabtu sepagi itu sudah bekerja di Lab. Riset bang roil adalah tentang pengelolaan air limbah.

00_ghent_11
*) Sudut Kota Leuven, Belgia

Setelah puas berkeliling kampus, kami melanjutkan perjalanan dengan sepeda ke pusat kota Leuven. Ada banyak tempat-tempat bersejarah di kota Leuven ini, diantaranya adalah asrama tempat penampungan para wanita janda yang suaminya gugur berperang ketika Perang Salib. Tipikal kota-kota tua di Eropa isinya adalah bangunan-bangunan seperti gereja-gereja katolik berasitektur romawi kuno.

Setelah sholat Duhur, saya pamitan ke Bang Roil, Atun istriny, dan si kecil Adore untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Eindhoven, Belanda. Saya kembali harus naik kereta kurang lebih 4 jam dari Leuven menuju kota Eindhoven di Belanda.

Eindhoven, Netherland

00_ghent_12
*) Di Sekitar Kampus, T.U. Eindhoven

Begitu turun dari kereta di stasiun Eindhoven,  seseorang sudah menunggu kedatangan saya. Dia adalah Mas Danu, teman sesama dosen di Jurusan Sistem Informasi ITS. Sudah hampir 3 tahun kami tidak saling bertemu. Rasanya senang sekali bisa reunian kembali, apalagi reuninya di Eropa. Sesuai dengan hayalan kita dulu sebelumnya. Beliau masuk bareng sama saya jadi dosen di ITS. Meskipun dari kampus yang berbeda, saat pertama kali bertemu dulu, kami langsung merasa dekat dan cocok, karena sama-sama berlatar belakang NU dan sama-sama GUSDURian :D. Bahkan, kita duet bareng ngajar mata kuliah yang sama.

00_ghent_13
*) Masjid di Eindhoven

Jadi reunian ini sangat spesial sekali. Saya merasa seperti pertemuan Gus Dur dan Gus Mus yang kangen-kangenan karena sudah lama tidak saling bertemu. Saya sangat menikmati pertemuan yang sangat manusia seperti ini. Artinya, kami saling bertemu bukan karena ada kepentingan bisnis atau urusan lain. Hanya pertemuan biasa, antara manusia biasa yang mendiskusikan hal-hal yang biasa. Tidak ada udang di balik batu.

Dari stasiun, kami naik sepeda ontel menuju apartemen beliau. Sama seperti di Belgia, sepeda ontel adalah alat transportasi mainstream di negeri kincir angin Belanda ini. Di apartemen, mas Danu sudah menyiapkan masakan Soto Tauco Pekalongan. Hebatnya, ini masakan beliau sendiri lowh. Sambil menikmati soto, kami ngobrol santai dengan sangat gayeng. Sesekali tertawa terbahak-bahak bersama.

00_ghent_14
*) Gereja di Eindhoven

Usai sholat ashar, kami sepedahan lagi keliling kampus T.U. Eindhoven dan City Centre. Keliling kampus sambil foto-foto layaknya ABG, yang lupa umur.  Karena sebagian besar naik sepeda kota Eindhoven ini sangat nyaman untuk disinggahi. Tentu saja tidak ada kemacetan apalagi polusi udara. Ritme hidup terasa sangat damai dan berjalan sangat alami. Kami berkelililng melihat masjid, gereja, dan merasakan suasana kehidupan orang-orang Eindhoven.

Sore itu kebetulan ada pertandingan sepak bola di stadion. Ribuan supporter bergerombol pergi menuju stadion. Uniknya mereka datang ke stadion dengan naik sepeda ontel atau jalan kaki. Pemandangan yang sangat indah bukan? Jadi membayangkan kalau seandainya para Bonek, supporter PERSEBAYA datang ke stadion naik sepeda ontel begitu sepertinya seru sekali.

00_ghent_15
*) Bersama Mas Danu
Menyusuri sudut-sudut kota Eindhoven ini benar-benar membuka perspektif baru buat saya what a life is. Dibanding orang Inggris, orang Belanda jauh lebih ramah. Setiap berpapasan dengan orang baru pun, mereka dengan senang hati menyapa kita. Apalagi kalau tahu kita bawa kamera, mereka akan sangat senang bahkan meminta anda memfoto mereka. Hal ini tentu bukan hal biasa di Inggris. Secara umum, orang Belanda lebih hangat daripada orang Inggris.

Sama seperti di kota-kota besar di Eropa lainya, disini banyak sekali gereja-gereja yang ditinggalkan jamaahnya. Tinggal bangunan-bangunan cantik nan kokoh tapi dianggurin, tidak ada pemujaan Tuhan di dalamnya. Bahkan, banyak diantaranya yang beralih fungsi menjadi diskotik. Sepertinya, orang-orang di Eropa sudah tidak memahami agama sebagai kegiatan ritual lagi, tapi lebih memahaminya sebagai way of life. Yang penting mereka baik, jujur, dan berbudi pekerti yang luhur sudah cukup, meskipun mereka tidak pernah datang ke Gereja.

Malam hari nya, setelah capek jalan-jalan, makan malam dan sholat isyak. Saya langsung terkapar, tertidur kecapekan di apartemen Mas Danu.

Enschede, Netherland

00_ghent_16
*)Kampus Universitas Twente

Keesokan harinya, saya bingung mau melanjutkan perjalanan kemana. Bukanya, tidak ada tujuan, tapi terlalu banyak tujuan, sementara waktu saya tinggal satu hari. Antara mengunjungi teman di Delf, Amsterdam, Utrecth, atau yang di Twente. Akhirnya saya memutuskan ke tempat yang terjauh sekalian, yaitu di Enchede, tempat Universitas Twente berada.

Perjalanan dari Eindhoven ke Enschede dengan kereta cukup jauh juga. Tidak ada kereta yang langsung ke Enschede, saya harus transit ke Utrecht dulu. Maunya mampir sebentar di Utrecht, tapi setelah dipikir-pikir malah ndak enak ketemu teman cuman sekejap saja. Setelah perjalanan hampir 4 jam, akhirnya saya sampai juga di Enschede.

Seorang teman tiba-tiba saja menguntitku dari belakang. Dia adalah si Iwan. Kawan lama yang sudah lama tidak pernah ketemu 5-6 tahun. Dia tidak banyak berubah ternyata, wajahnya masih saja imut kayak anak SMA. Dulu pertama kali bertemu tahun 2007, waktu saya ambil S2 di UTP Malaysia, sementara dia waktu itu sedang di tahun terakhir kuliah S1 nya.

00_ghent_17
*)Bersama Iwan

Tiba di apartemen Iwan, langsung gabung dengan teman-teman Indonesia yang sedang mengadakan pengajian mingguan yang kebetulan hari itu bertempat di rumah Iwan. Pengajianya sama persis seperti model pengajian teman-teman jamaah tarbiyah, PKS. Karena dulu saya pernah ikutan, jadi sedikit tahu model pengajianya seperti apa. Yang penting saya bisa makan gratis habis pengajian hehe. Senang sekali bisa bertemu dengan orang-orang Indonesia disini. Feel like at home.

Selepas pengajian, sama seperti di Eindhoven, Iwan ngajak saya sepedahan keliling kampus Universitas Twente, sambil foto-foto. Waktu keliling kampus itu, tiba-tiba ada seseorang memanggil nama saya: ” Mas Mukhlason…….. “. Yang ternyata adalah Krisnawati, adek kelas saya waktu kuliah S1 di ITS. Sangat tidak sengaja kami bisa ketemu. Bahkan saya tidak tahu kalau dia ada di Twente juga. Rupanya, dia mahasiswa baru program master di Universitas Twente dengan beasiswa dari Dep. KOMINFO. Senang sekali tak terkira bertemu dengan tidak sengaja seperti ini.

00_ghent_18
*)Bersama Krisna

Setelah dari kampus, Iwan mengajak saya kumpul-kumpul dengan teman-teman Persatuan Pelajar Indonesia (PPI ) Twente. Ada teman yang mengadakan farewell party dengan BBQ di rumahnya. Seru juga bertemu dengan orang-orang Indonesia sebegitu banyaknya. Mereka terlihat sangat akrab dan dekat sekali yang menggambarkan suasana kekeluargaan yang rekat di antara teman-teman PPI  Twente. Yang menarik, ketika mereka pulang bareng-bareng, semuanya naik sepeda dengan sepedanya masing-masing. Benar-benar terasa seperti sepeda sehat jaman dahulu kala.

Malam harinya, si Iwan mengajak saya ketemu dengan teman-teman bulenya. Ceritanya mereka teman satu kelompok tugas, yang baru saja mau ketemu kembali setelah liburan musim panas. Di sebuah kafe, kami berlima ngobrol santai sampai tengah malam. Saya dan Iwan minum capucino, sementara 3 teman bule iwan lainya minum Bir. Meskipun, saya orang asing di antara mereka. Tetapi mereka sangat menghargai kehadiran saya. Mereka membawa saya masuk dalam obrolan mereka yang bercerita tentang liburan mereka masing-masing. Sehingga saya sama sekali tidak merasa terkucilkan :p. Di inggris, saya jarang sekali mengobrol lama dengan bule seperti ini. Kecuali jika ada acara formal dinner pada saat menghadiri short course atau conference.

Baru pukul 1 dini hari saya bisa tertidur di kamar Iwan, setelah ngobrol ngalur ngidul. Keesokan harinya, jam 6 pagi, setelah sarapan indomie dan coklat panas bikinan Iwan, dengan dibonceng sepeda ontel, Iwan mengantar saya ke stasiun kereta api terdekat untuk kembali ke Brussel dan terbang kembali ke London. Karena keasyikan jalan-jalan, saya sama sekali belum sempat beli oleh-oleh. Oleh-olehnya hanya cerita, kenangan, dan pelajaran hidup. Si Iwan malah yang ngasih oleh-oleh ke saya satu bungkus rendang uda gembul dari Bandung.

00_ghent_19
*)Stasiun Kereta Api

Yah akhirnya saya harus kembali ke tempat perjuangan. Senang sekaligus sedih karena dalam hati sebenarnya masih ingin jalan-jalan dan mengunjungi teman-teman lainya. Tapi, apa daya waktu jua yang membatasi. Dalam hidup ini, salah satu hal yang paling saya syukuri adalah dengan dipertemukanya saya dengan teman-teman hebat seperti mereka. Yang dekat dan bersahabat. Yang menginspirasi dan menyemangati.  Yang baik hati dan membuat kita selalu nyaman berlama-lama berada di dekatnya. Sebuah persahabatan yang barokah insya Allah. Seperti lirik lagunya Ipang:

….bersama mu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal diri mu, rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya.  Melawan keterbatasan, walau sedikit kemungkinan, tak kan menyerah, untuk hadapi hingga sedih tak mau datang lagi.

00_ghent_20
*)Bandara Brussel

Di bandara Brussel, sambil menunggu pesawat datang, saya duduk sendirian di sudut ruang tunggu. Saya buka foto-foto di kamera DSLR saya, sambil mengingat kenangan-kenangan yang baru saja terjadi. Dalam hati saya berdoa, Ya Allah karunikanlah saya sahabat-sahabat dekat dan baik seperti mereka sebanyak-banyaknya.

Setiap peristiwa datang dan pergi, tetapi kenangan dan pelajaran yang tertinggal akan tetap abadi.

Oke deh, sekarang waktunya kembali melanjutkan perjuangan hidup ! Bukan waktunya, terbuai kenangan-kenangan indah *dasar melankolis* Terima kasih wahai Sahabat! Thanks God.