jalan-jalan

Hingga Senja di Kota Leed

… kota ini adalah tempat sempurna untuk melihat dimana nuansa klasik dan modern kawin secara menakjubkan – catatan perjalanan biasa

leed_18

Salah Satu Arsitektur Bangunan Futuristik di Kota Leed, Inggris

Ini sekedar catatan perjalanan yang telah lalu, perjalanan yang biasa-biasa saja. Daripada terlupakan begitu saja, bukankah lebih baik dicatat saja. Siapa tahu, catatan ini menemukan pembacanya sendiri. Ya, betul kamu!

leed_1

Bangunan Kantor Pos

Ini perjalanan yang tidak direncanakan sama sekali. Hanya semata-mata, karena ada promo tiket super murah, dari perusahaan bus National Express, hanya seharga £2, Nottingham-Leed PP. Sayang, jika tidak dimanfaatkan. Itu harga iket sekali jalan dari rumah ke city centre saja, dengan promo ini, utility function nya ter extended untuk perjalanan keluar kota, sejauh 2.5 jam perjalanan.

leed_2

Sepeda Ontel

Begitu sampai di kota ini, alam pikiran ku langsung teringat sebuah maqolah yang sering diulang-ulang oleh para kyai di pesantren dulu. Sebuah filosofi yang dipegangteguh pesantren dalam menghadapi gelombang perubahan jaman yang begitu menderu.

Al-muhafadzatu ‘alal qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah (melestarikan hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).

leed_3

Shop, Cafe, Gallery, and Library

Yah, di kota Leed inilah, nuansa klasik dan modern bisa kawin, berdiri sejajar, saling menguatkan, saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Sebuah pasar tradisional, dengan nuansa klasik yang menyejarah beratusan tahun yang ada tukang sol sepatu di dalamnya, i.e. Kirkgate Market, begitu mereka menyebutnya, masih lestari, berjajar dengan mall-mall bergedung megah dengan arsitektur futuristic tempat jualan barang-barang branded milik korporasi multi-national dalam sistem ekonomi kapitalis.

leed_4

Leed City Museum

Pun demikian, gedung-gedung yang menjubeli kota. Gedung-gedung berarsitektur klasik nan gothic, berusia ratusan tahun, berjejeran dengan gedung-gedung modern futuristic. Kota ini membawa suasana hati ke tempo dulu, kekinian, dan masa depan sekaligus.

leed_5

Bnagunan Klasik di Kota Leed

Aku jalan sendirian menyusuri kota ini. Tanpa survey, apalagi menyiapkan itenary sebelumnya. Hanya menuruti krentek hati, kubawa langkah kaki ini menyusuri jalan. Dengan bantuan penunjuk arah di sudut-sudut jalan.

leed_6

Gedung Klasik Berdampingan Dengan Gedung Modern

Pertama, aku menyusuri pusat kota, dari coach station, train station, sudut-sudut jalan di tengah-tengah kota, menyinggahi bangunan-bangunan yang nampak menarik, blusukan ke dalam kampus Universitas Leed, dan kembali lagi ke coach station, saat senja datang, memanggil untuk segera pulang kembali ke kota Nottingham. Aku selalu merasa jatuh cinta untuk merasai nuansa khas yang ditawarkan setiap kota. Termasuk kota Leed ini.

leed_7

Arsitektur Bangunan yang Futuristik

Salah satu tempat yang cukup lama saya singgahi adalah Leed City Museum. Setiap mengunjungi kota, museum adalah tempat yang wajib aku kunjungi. Dari museum inilah, aku bisa melihat apa yang kulihat lebih well-rounded dan komperehensif. Tidak ahistoris. Setiap kelaur dari museum, muncul kesadaran yang mendalam bahwa, apa yang kulihat saat ini, saling terkait dan berkelindan dengan sejarah panjang di masa lampau, pun demikian dengan masa depan.

leed_8

Universitas Leed

Ada satu hal yang unik menurut ku. Hampir dipastikan di setiap kota di Inggris, sekecil apapun kota itu, disitu ada museum. Dan disetiap museum itu bisa dipastikan menyimpan mumi asli dari Mesir. Dalam hati aku mbatin,  berapa banyak mumi yang telah dicuri Inggris dari mesir?

leed_10

Gedung Di Dalam Kampus Universitas Leed

Selain museum, aku juga cukup lama blusukan ke gedung-gedung Universitas Leed. Entahlah, aku sangat senang melihat suasana akademik seperti ini. Melihat, gedung-gedung laboratorium yang gagah, mahasiswa-mahasiswi yang sibuk berlalu lalang, perpustakaan yang megah, dan suasana kampus yang adem, seolah-seolah membawa alam pikiranku ke masa depan. Di kampus-kampus inilah, masa depan peradaban manusia sedang dibentuk.

leed_11

Salah Satu Gedung Kuliah di Universitas Leed

Aku duduk-duduk di salah satu bangku kosong yang cukup banyak tersedia di dalam kampus. Sambil mataku menyapu setiap sudut, memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang. Banyak terlihat mahasiswa dari Malaysia, tapi sayang aku belum menemukan mahasiswa Indonesia yang kebetulan lewat di depan ku.

dsc_0643

Salah satu sudut kota

Dari blusukan kampus, aku kembali menyusuri jalan-jalan pedistrian menuju tengah-tengah kota kembali. Merasakan suasana kota saat menjelang senja. Para mahasiswa terlihat menuju kembali ke rumahnya masing-masing. Suasana senja kota pun ramai orang-orang menikmati hidup, menghabiskan sisa-sisa hari.

leed_15

Sudut Kota Leed

Saat matahari tenggelam, menjemput malam aku kembali ke kota ku, Nottingham. Kota ini mengajarkan kepada ku dalam memahami pembangunan. Bahwa pembangunan itu tidak mesti memberangus yang lalu.

leed_14

Landmark Universitas Leed, Inggris

Bisa jadi yang kita anggap kemajuan, jangan-jangan malah kemunduran. Masa lalu dan masa depan, mestinya menjadi dialektika abadi, untuk membangun yang ada saat ini. Tepat, seperti kearifan para kyai pesantren itu.

Sampai jumpa di catatan perjalanku selanjutnya!

Akhir Pekan Di Hutan Kota yang Menghangat

…. apakah kita perlu berfikir kembali seperti anak-anak dalam menikmati kehidupan. Toh, bukankah hidup tak lebih dari permaianan dan senda gurau belaka, sebentar saja. Lalu buat apa dipikir terlalu dalam, kawan? Seolah kita akan hidup untuk seribu tahun lamanya – A Random Thought

hutan_kota_forest_field

Ilustrasi: Sudut Hutan Kota

Seperti angin di pergantian musim, waktu berlari semakin cepat saja. Rasanya baru kemaren melihat perayaan tahun baru, tahu-tahu kalender sudah berganti bulan Mei, sudah hampir tengah tahun.

Tetapi hingga awal bulan Mei ini, suhu udara di kota ku masih saja dingin. Sedingin sikap ndoro dosen ku, yang selalu masih saja tak ada waktu untuk sekedar membaca disertasiku yang sudah ku tulis berbulan-bulan, bahkan lebih setahun yang lalu. Meskipun setiap pekan aku selalu menemui beliau yang sangat ku hormati itu, tak ubahnya menghormati kyai ku di pesantren dulu.

Walaupun tidak sampai aku mencium telapak tangan nya sebagaimana dulu biasa kulakukan pada kyai- kyai ku. Masak iya aku harus mencium telapak tangan beliau, atau kalau perlu mencium kaki beliau sekalian, untuk mengiba belas kasih nya.

“Tenang, sekarang sudah di toplist what to do ku, kok”. Begitulah, cara beliau selalu menenangkan aku yang dari hari ke hari semakin gelisah dirundung ketidakpastian dan kekhawatiran.

Argh, aku sudah tak percaya lagi dengan teori perencanaan, teori goal setting, yang diajarkan para pakar ilmu manajemen modern itu. Karena itu hanya akan memperdalam luka dihatiku, menyaksikan rencana yang tinggal rencana. Melihat goal yang mati mengenaskan begitu saja. Nyatanya tak semua dalam hidup ini berada dalam kendali kita. Kenyataan hidup, sering kali tak butuh teori.

Mungkin Gusti Allah sedang mengajari ku kesabaran dan ketelatenan. Tetapi, rasanya aku sudah begitu sabar dan telaten. Atau gusti Allah sedang mengajari ku sesuatu yang aku tidak akan tahu hingga titik waktu di masa depan nanti? Atau gusti Allah suka aku dalam keadaan seperti ini, sehingga aku hanya bisa pasrah dan berharap kepada Nya? Argh,  dunia selalu menyimpan teka-teki.

Yang pasti, sikap beliau itu membuat semangat ku seperti kelopak-kelopak bunga dandelion di terpa angin, terbang berhamburan kesana kemari, tidak jelas entah kemana. Mampukah aku memungut kembali kelopak-kelopak dandelion itu kembali?

Tetapi, akhirnya di akhir pekan ini, suhu udara di kota ku mendadak menghangat. Suhu di telepon genggam pintar ku menunjukkan angka 27 derajat celcius. Benar-benar hangat, bahkan terasa gerah, seolah menandai dimulainya musim panas. Matahari bersinar sempurna. Orang-orang kegirangan menyambutnya. Menyimpan pakaian musim dingin rapat-rapat, di dalam lemari, menggantinya dengan pakaian musim panas yang serba pendek dan tipis-tipis.

Siang itu selepas sembahyang di Masjid dengan anak lanang dan emaknya, aku berjalan menuju hutan kota yang tidak jauh dari rumah tinggal ku. Orang-orang menyebutnya, Forest Recreation Ground. Di tengah perjalanan, kami mampir membeli sepotong kebab, dan beberapa buah sayap ayam goreng di sebuah restoran halal, di kawasan pusat perbelanjaan yang sekilas terlihat seperti di kawasan Apel Denta Surabaya itu.

**

Sudah kuduga, banyak orang berkumpul di hutan kota. Merayakan hidup di akhir pekan dengan cara mereka masing-masing. Hadewh, benar-benar harus kuat menahan godaan maksiat mata. Tahukah kamu? Perempuan-perempuan itu, banyak yang hanya memakai celana sangat pendek sekali, berwarna putih, dengan tanktop atau kaos oblong tipis sekali, memamerkan keindahan lekukan dan tonjolan tubuh yang bersembunyi di baliknya. Untung saja, mereka tidak bertelanjang dada, seperti teman lelaki yang pergi bersamanya.

Bagian lereng hutan kota itu adalah lapangan berbagai jenis olah raga, dari sepak bola, bola basket, tenis, dan sejenisnya. Di bagian atas puncak bukit, terbentang rerumputan hijau yang terhampar luas berhektar-hektar di antara lebat pepohonan yang rindang. Pohon-pohon yang daunya menghijau dan telah melebar sempurna. Jalan-jalan setapak beraspal dibuat meliuk-liuk bagai ular, menyusuri berbagai sudut hutan kota itu.

Kami duduk di salah satu kursi taman yang menyebar di dalam hutan, di dekat sebuah pohon yang rindang. Sungguh sejuk nian diterpa angin yang semilir di bawah pohon. Kami menikmati kebab dan sayap ayam goreng. Kriuk, renyah, gurih sekali, bertambah sempurna dengan kecap BBQ.

“Hoek, hoek !” Sialan! rupanya ada beberapa sayap ayam basi dicampur dengan sayap ayam yang masih segar. Padahal kami membelinya di restoran halal, bertuliskan huruf Arab. Kurang ajar sekali untuk ukuran peradaban orang Inggris. Ini bukan pengalaman kali pertama, sudah menjadi rahasia umum banyak teman bercerita di kawasan itu banyak toko yang menjual barang-barang yang sebenarnya sudah kadaluarsa. Padahal itu dikawasan Muslim men!, yang banyak masjidnya. Tetapi aku begitu yakin, orang Inggris adalah orang-orang yang bijak. Mereka tak akan menge-judge Agama dari kelakuan pemeluknya.

**

Di kursi itu, kulihat berbagai cara orang merayakan hidup mereka. Ada yang berolahraga di lapangan, atau sekedar jogging, lari mengelilingi hutan. Ada juga yang sekedar tengak-tenguk bersama keluarga seperti yang kami lakukan. Paling banyak di antara mereka berjemur, tidur-tiduran di atas permadani rumput hijau, memasrahkan tubuhnya disengat sinar matahari yang garang.

Ada yang sendirian, berduaan, atau berkelompok. Ada yang bersenda gurau, ada yang serius membaca buku, ada yang sekedar do nothing.

Di puncak gundukan bukit rumput di dalam hutan kota itu, kulihat seorang pemuda, bercelana pendek, berkaos putih tanpa lengan, dengan tas ransel di sampingnya. Matanya seolah menyapu ke segala arah, tangan kananya sibuk menggerakkan pena, menulis di lembar demi lembar buku tulis yang dipegang tangan kirinya beralaskan lutut.

Mungkin dia seorang penulis pikirku. Aneh, di jaman manusia sangat dimanjakan oleh teknologi ini, masih ada saja orang yang menulis tangan. Bukankah, dia harus menyalin kembali ke bentuk digital? Bukankah itu tidak efisien? Mungkin dia seorang berjiwa seniman,  yang bisa merasakan keajaiban tulisan tangan yang tak tergantikan.

Dandelion

Bunga Dandelion

Aku beranjak dari kursi taman, menyusuri jalan setapak, dari satu titik ujung ke titik ujung yang lain. Anak lanang kegirangan, memanen bunga dandelion yang tumbuh liar di antara rerumputan hijau. Menyebul kelopak-kelopak putihnya yang lembut nan rapuh, lalu beterbangan diterpa angin, tinggi-tinggi sekali, lalu terjatuh entah dimana. Saat kelopak-kelopak putih membumbung tinggi itulah, anak lanang berteriak bersorak sorai. Gembira tiada terkira.

Di salah satu sudut hutan itu ada sebuah taman bermain khusus anak-anak. Di taman bermain itulah anak lanang bertemu dengan teman sekelasnya di sekolah. Horain namanya. Lalu mereka bermain prosotan bersama. Prosotan yang cukup tinggi berbentuk perahu nabi Nuh. Mereka bersama puluhan anak lainya pun larut dalam suka cita.

Kebahagiaan buat anak-anak selalu sangat sederhana. Terkadang aku iri dibuatnya. Entah mengapa, semakin mendewasa, kebahagiaan rasanya semakin merumit. Apakah kita perlu berfikir kembali seperti anak-anak dalam menikmati kehidupan. Toh, bukankah hidup tak lebih dari permaianan dan senda gurau belaka, sebentar saja. Lalu buat apa dipikir terlalu dalam, kawan? Seolah kita akan hidup untuk seribu tahun  lamanya.

***

Waktu sebentar lagi menjelma senja, kami pun segera kembali ke rumah. Di tengah perjalanan, kami mampir di sebuah toko buah. Kami membeli sekotak buah strawberry yang telah ranum dan merah darah warnanya, seharga 89 pence (sekitar 17.000 rupiah). “Mak Nyus” sangat manis hanya sedikit masam, serta juicy sekali rasanya. Menyegarkan suasana senja kami. Maha terpujilah Engkau yang telah menciptakan dan menumbuhkanya untuk kami manusia yang sering lupa mensyukuri anugerah kehidupan yang sedang dilakoninya.

Hati ku Tertinggal di Kota Leiden, The Spirit Of Netherland

…. Leiden sebuah nama kota yang menyiratkan aura magis setiap kali aku mendengarnya. Sampai akhirnya aku benar-benar menginjakkan kaki ku di kota ini. Suasananya, sungguh telah menambat hati ku. Leiden, di kota ini kutemukan ruhnya negeri Belanda, yang membedakanya dari kota-kota lain di Eropa. -A Random Thought

leiden_01

Sign board Stasiun Kereta Api Leiden Centraal

Leiden, aku pertama kali mendengar nama kota ini dari Pak Sudirman, guru agama ku di kelas 6 SD di desa ku. Ketika bicara tentang agama, beliau sering sekali menyebut nama Snok Horgunye yang berasal dari kota ini. Di bangku SMP saya kembali mendengar nama kota ini dari Pak Sucipto, guru bahasa jawa ku yang sebenarnya lulusan pendidikan sejarah itu. Entahlah, hati ku selalu merasakan aura magis setiap kali mendengar nama kota ini. Hingga, pada akhirnya tak pernah dinyana, kersane gusti Alloh, aku benar-benar menginjakkan kedua kaki ku sendiri di atas kota ini. Yang mungkin masih sekedar sebatas angan-angan Pak Sudirman dan Pak Sucipto.

Ini adalah hari kelima, lawatan ku kedua di negeri kincir angin ini. Setelah sehari sebelumnya menghadiri acara pelantikan pengurus cabang istimea NU Belanda dan pengajian Maulid Nabi di kota Amsterdam yang dihadiri lansung rois ‘am PBNU, KH. Ahmad Mustofa Bisri, aka Gus Mus. Karena acara yang seharusnya diagendakan hari itu sudah dimajukan satu hari sebelumnya. Hari itu, saya bisa mengunjungi kota ini.

leiden_07

Menikmati Suasana Kota Leiden

Aku berangkat dari Amsterdam, dari apartemen Mas Sohib, sekretaris dewan syuro PCINU Belanda. Aku kebetulan menumpang tidur, mandi, dan makan di apartemen beliau, dan akan menginap kembali disana sekembali dari Leiden, dan keesokan harinya pulang ke London dari bandara Schipol. Dari Amsterdam, aku bersama mas Yusuf, dosen Teknik Informatika, Universitas Trunjoyo, yang sedang ambil program doktor di Universitas Poursmouth, UK dan Kusnadi, santri alumni pondok pesantren Tambak Beras yang sedang kuliah di Maroko.

Keluar dari stasiun Leiden Centraal, kami jalan kaki mengikuti petunjuk peta dari information centre di stasiun menuju centrum atau pusat kota dan Universitas Leiden. Pagi berkabut di musim dingin itu terasa menggigit dinginya. Tapi, kegembiraan ku menginjakkan kaki ku di kota ini menghangatkan semuanya. Benar, suasana khas kota ini sangat terasa. Rasanya seperti orang Jakarta yang baru pertama kali  menginjakkan kaki di kota Yogyakarta. Ritme hidup di kota ini terasa lebih lambat di banding kota Amterdam.

leiden_04

Parkir Sepeda Pancal di Stasiun Kereta Leiden

Sepeda pancal, kanal, dan kincir angin adalah icon dari negeri Belanda ini.Dan semua itu ada di kota Leiden ini. Kota yang sangat didominasi moda transportasi sepeda ontel ini menghadirkan suasana tenang dan damai sendiri. Rasanya semua orang disini menggunakan sepeda pancal sebagai alat transportasi dalam kota. Sejauh mata kamu memandang disitu pasti akan kamu lihat orang naik sepeda. Lupakan bayangan macet dan bising nya kota Jakarta. Di kota ini, kamu akan merasakan betapa damainya hidup tanpa kebanyakan mesin-mesin pembakar bensin.

leiden_08

Muda Mudi Berboncengan Sepeda Pancal

Hatiku terpesona melihat kemesraan muda-mudi berboncengan sepeda pancal. Di Indonesia, itu mungkin hanya terjadi pada jaman muda bapak-ibu ku di kampung awal tahun 80-an dulu. Atau, gerombolan mahasiswi-mahasiswi cantik Belanda berambut pirang tergerai dengan senyum riang nya menyusuri jalan-jalan sekitar kampus dan halaman kampus yang penuh dengan sepeda ontel dimana-mana. Di kampus ku di Indonesia, halaman kampus itu sekarang sudah terlalu penuh dengan deretan mobil-mobil mewah. Mungkin, karena budaya naik sepeda inilah,yang membuat tubuh cewek-cewek Belanda langsing dan singset. Jarang saya melihat perempuan obesitas di kota ini. Kontras, dengan kondisi di Inggris yang katanya lebih dari separuh perempuan Inggris bermasalah dengan obesitas.

leiden_10

Gadis Belanda dan Sepedanya

Satu lagi yang membuatku terkesan adalah keramahan orang Belanda. Jika kamu memotret di sembarang tempat, orang-orang Belanda pasti akan tersenyum dan merasa senang dengan jepretan kamu. Tak jarang, mereka akan melambaikan tangan tanda persahabatan dan kehangatan. Tetapi, jeprat jepret di sembarang tempat ini, jangan pernah kamu lakukan di Inggris. Kalau kamu tidak ingin dihardik orang. Orang Inggris sangat concern dengan privasi. So, jangan pernah memotret orang apalagi anak kecil tanpa ijin dari mereka.

leiden_13

Kanal dan Perahu di Kota Leiden

Sepanjang jalan menuju kampus Universitas Leiden, terdapat sejumlah museum yang katanya banyak menyimpan koleksi sejarah Indonesia. Tapi sayang, kebetulan hari itu hari senin, dimana museum tutup. Setelah puas menikmati sausana khas kota Leiden, kami bertiga memutuskan untuk istirahat di Lipsus, semacam kantin dan pusat kegiatan mahasiswa Universitas Leiden, sambil menunggu Mas Fahrizal, ketua tanfidziyah NU Belanda, yang akan menjadi guide kami keliling kampus. Mas Fahrizal, mahasiswa PhD yang dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang itu, kebetulan masih ada meeting dengan Profesornya.

Di lipsus, kami membuka bekal makanan yang dibuation oleh istri Mas Sohib. Alamak, sudah numpang makan tidur mandi gratis, masih dibawain bekal untuk makan siang. Duh, beruntungnya, setiap jalan-jalan aku selalu bertemu dengan orang-orang yang sangat baik hatinya. Meskipun baru kenal, sudah menganggap aku seperti saudara mereka sendiri. Kebetulan lagi, di lipsus ini ada mesin pembuat kopi gratis. Langsung deh,naluri mahasiswa kami kambuh tiba-tiba. Ambil kopi gratis berkali-kali.

leiden_20

Di Salah satu sudut Kampus Univ. Leiden

Setelah kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya mas Fahrizal datang juga dengan seorang satu lagi teman nya. Namanya, mas mashuri, yang juga mahasiswa program doktor Jurusan psikologi di Universitas Leiden. Dengan menuntun sepeda ‘unto’ pancalnya, mas fahrizal mengajak kami keliling kampus. Pertama ditunjukkan rumah snok horgunye yang berada di dalam kompleks kampus. Kemudian, kami diajak ke sebuah bangunan tempat pendadaran calon doktor baru. Saya lupa namanya. Di tempat inilah, diabadikan patung Husein Djoyodiningrat, orang Indonesia yang memperoleh gelar doktor pertama sepanjang sejarah. Menarik karena patungnya, digambarkan sosok beliau dengan pakaian jawanya.

leiden_18

Patung Orang Jawa Peraih Gelar Doktor Pertama Dan Kandidat Doktor

Kemudian, kami diajak ke fakultas hukum. Fakultas hukum ini adalah salah satu fakultas hukum terbaik di dunia. Yah, Universitas Leiden yang berdiri pada tahun 1575 ini memang terkenal keunggulan pada ilmu-ilmu sosialnya. Di fakultas hukum ini, kami diajak mas Fahrizal masuk ke dalam perpustakaan khusus fakultas hukum. Alamak, perpustakaanya bagus dan klasik banget. Rasanya, langsung terpampang sebuah syurga belajar di mata ku.

leiden_23

Suasana Perpustakaan Fak. Hukum, Univ. Leiden

Di perpustakaan ini juga terdapat ribuan koleksi referensi hukum Indonesia. Yang kata mas Fahrizal, sangat susah dicari di Indonesia. Aneh rasanya, masak iya, kalau seseorang mau belajar hukum Indonesia harus pergi ke Belanda. Di perpustakaan ini, kami secara tidak sengaja bertemu dengan profesornya mas fahrizal, yang ternyata sangat fasih berbahasa Indonesia.

leiden_25

Koleksi Referensi Hukum Indonesia

Argh, sayang hari keburu sudah gelap. Musim dingin ini memang membuat hari terasa lebih pendek. Dan kami harus segera menyudahi kunjungan kami di perpustakaan. Dari Perpustakaan, kami berpisah dengan mas Fahrizal yang kelihatan sangat sibuk dan pusing dengan PhD nya. Kami berempat menuju masjid Alhijrah, masjid bekas gereja, yang masih berada di dalam kompleks kampus Universitas Leiden.

leiden_29

Fakultas Hukum, Universitas Leiden

Di masjid kami sholat ashar, dan jamaah sholat Maghrib. Di masjid yang cukup luas ini kami bertemu banyak orang Indonesia, yang kebetulan semuanya penerima beasiswa LPDP untuk mengambil program master pada ilmu-ilmu sosial di kampus ini. Mereka kebanyakan alumni fakultas ilmu budaya, Universitas Indonesia.

leiden_30

Masjid Alhijrah, Leiden

Selepas dari masjid, aku dan mas yusuf langsung menuju stasiun Leiden Sentral untuk kembali ke Amsterdam. Sementara kusnadi balik ke kota Leiden. Puas rasanya menghabiskan waktu seharian di kota ini. Kota ini kembali membuka perspektif baru tentang bagaimana melihat dunia dari sisi yang berbeda bagi  ku. Buat teman-teman yang ingin merasakan suasana khas Belanda, datanglah ke kota Leiden.

Ohya, untuk khas oleh-oleh Belanda jangan lupa membeli strop wafle di supermarket di dalam stasiun leiden. Enak sekali rasanya. Selemat Melakukan Perjalanan ! Selamat mendefiniskan arti perjalanan versi anda sendiri !

Senja di Rotterdam

Senja di Rotterdam

Senja di Kinderdijk, Rotterdam, Belanda (16/01/2015)

Rotterdam,
Argh, aku sungguh terpesona ayu paras mu yang eksotik
Aku terlena pada senja mu yang teramat cantik.

Di satu senja itu,
Aku menyusuri jalanan kecil di pelosok desa mu.

Air sungai mu yang jernih,
Ilalang liar mu yang menguning,
senyum gadis-gadis ayu berambut pirang mengayuh sepeda
Dan kincir angin – kincir angin yang enggan berputar.

Berosimfoni dengan kilau emas sinar mentari yang hendak tenggelam
Dan angin mu yang berhembus lembut, perlahan dingin menusuk tulang.
Sungguh,
Hati ku terbuai oleh suasana itu,

Kuusapkan kedua telapak tangan ku pada debu mu,
Kubaluri wajah dan kedua tangan ku,

Di atas kursi tua di samping jembatan itu,
Kutundukkan wajah ku,
Bersujud, bertasbih, memuja-muji Pencipta mu yang Agung.

Rotterdam,
Argh, hatiku masih saja tertawan pada desa mu itu

 

Rotterdam, 16/01/2015