jakarta

Jakarta Sabtu Pagi: Monas – Munas – Kota Tua

“… mungkin aku terlalu udik, aku tak tahu bagaimana cara menikmati hidup di Ibu kota – a random thought.

jakarta_munas

Lampu Pedistrian By Monumen dan Museum Nasional

Untuk menunggu penerbangan sore hari ke Surabaya, Sabtu pagi aku harus mencari cara untuk membunuh waktu. Dan cara yang aku pilih adalah ‘to feel being grass-root Jakartans’. Dari penginapan murah meriah, kelas melati di bilangan karet, kuningan (katanya sih kos-kosan wanita-wanita simpanan para esmud sukses tajir bergelimang harta di Jakarta), aku bersama seorang teman, keluar menyusuri gang-gang sempit padat penduduk.

Diantara himpitan gedung-gedung yang megah, gagah, menjulang, mencakar langit, Jakarta menyimpan banyak ironi. Kawasan padat penduduk, kumuh, pengap, berisik, bau, yang tak menyisakan tempat buat anak-anak untuk bermain. Aku bayangkan: alangkah susahnya, hidup menjadi anak-anak orang-orang ‘pinggiran’ Jakarta ini. Sejengkal tanah kosong di kota ini, amatlah mahal harganya. Bahkan mencari ruang sekedar untuk selonjor saja susah sekali.

Diam-diam aku merasa bersyukur sekali, kuhabiskan masa kecilku di dusun yang hamparan tanahnya melimpah ruah, udaranya segar alamiah, pemandanganya hijau royo-royo sejauh mata memandang. Airnya bersih dan segar. Suasananya tenang menenangkan. Dan yang paling penting aku bisa bermain berlarian, gulung-gulung di tanah, bermain lumpur di sawah, berlarian bermain layang-layang, renang di sungai, tanpa sedikit pun rasa takut. Makanan dan buah-buahan disediakan gratis oleh alam.

Aku mampir sejenak di Warteg, di Gang sempit itu. Ada beberapa alasan, warteg menjadi warung pilihan ketika di Jakarta. Pertama, sudah dapat dipastikan penjualnya adalah orang Jawa, cita rasa masakanya cocok, dan yang paling penting harganya sangat ramah dengan kantong. Tetapi, yang paling membahagiakan diantara semuanya adalah bisa merasakan sensasi hidup sebagai orang pinggiran di Jakarta.

Teh anget, sayur lodeh, tempe goreng, dan ikan kembung goreng ditemani kerupuk gembreng adalah menu andalan. Sayang size nasinya sering tidak bersahabat. Mungkin terlihat wajahku terlihat wajah susah, si penjual ngasih nasinya ukuran jumbo. Jadilah, aku tak sanggup menghabiskanya kawan.

Keluar dari gang-gang sempit, kami keluar menyusuri pinggiran jalan besar. Melewati jalur pedistrian di depan kantor-kantor besar yang kurang bersahabat. Idih, tampang satpamnya seram-seram, pagar tamannya dilengkapi dengan kawat berduri pula, atau dibuat lancip. Duh, padahal sekedar ingin menyandarkan bokong, kok ya ndak boleh.

Setelah ratusan meter berjalan merasakan sensasi susahnya jadi pejalan kaki di kota ini. Akhirnya sampai juga di Halte Busway terdekat. Naik JPO, yang alamak ekstrim juga tanjakanya. Tidak kebayang, betapa repotnya saudara kami yang berkursi roda mengakses JPO ini. Atau bahkan tidak bisa mengakses sama sekali.

Meski lumayan sering bolak-balik ke Jakarta, sudah lama rasanya aku tidak naik busway. Sejak ada layanan ojek dan taksi online, naik bus way rasanya sangat merepotkan. Dari pakai tiket yang dimasukkan ke mesin, pakai tiket kertas sobek, hingga kini sudah paper-less menggunakan e-money. Jauh lebih praktis. Menariknya kita bisa berbagi satu kartu e-money.

Di halte pun ada kemajuan cukup significant, sudah ada sistem informasi yang cukup reliable menginformasikan waktu kedatangan bus secara real time. Hal yang sangat lumrah di negara-negara maju. Argh, aku jadi tertarik menganalisa ‘big data’ waktu kedatangan bus way di kota ini. Apalagi jika data passenger keluar masuk halte dan bus ter-record dengan baik, tentunya banyak ‘knowledge’ menarik yang bisa digali. Kemudian, knowledge itu bisa digunakan untuk improve rute bus way agar semakin tidak semrawut.

Kondisi bus pun masih nyaman seperti dulu, mungkin karena akhir pekan, tidak ada penumpang yang berdesak-desakan. Hanya saja informasi suara mesin yang menginformasikan halte berikutnya sudah tidak berfungsi atau sengaja tidak difungsikan. Fungsinya digantikan oleh mas-mas berbaju batik penjaga pintu bus yang terlihat sangat kelelahan. Sesekali tertangkap mataku, matanya tertidur dalam posisi berdiri.

Di bus yang sama, tanpa janjian kami tak sengaja bertemu dengan teman SMP ku yang sudah lebih satu dasa warsa mengadu keberuntungan hidup di Jakarta. Kami turun di halte Monumen Nasional. Landmark kebanggaan kota Jakarta. Jika London punya Bigben, Kuala Lumpur punya Twin Tower, Jakarta punya Monas. Landmark yang sangat bersahaja. Kami duduk-duduk di bangku di pinggir jalanan monas. Sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang. Sesekali kulihat beberapa turis berjalan sendirian sambil menenteng kamera dan khusuk membaca kitab sucinya para turis dunia, the lonely planet.

Sejenak, pikiranku teringat suasana kota kelahiran shakesphere. Duduk-duduk menikmati suasana kota yang tenang dan nyaman, sambil mendengarkan alunan musik musisi jalanan yang suaranya melelehkan perasaan. Tetapi Jakarta adalah Jakarta. Hawa yang sumuk, deru kota yang berisiak dan hari yang mulai terik, membuatku tak betah berlama-lama duduk di bangku itu.

Kami beranjak dari bangku dan menuju ke bangunan seberang monas, museum nasional. Ada zebra cross, dilengkapi dengan tombol pedistrian layaknya di Eropa. Tetapi di kota ini lain cerita. Lampu sudah merah, dan banyak pedistrian ancang-ancang mau menyeberang, tetapi ajaibnya para pengendara kendaraan tak ada yang mau berhenti, aliah-alih mengurangi kecepatan, eh malah kencang-kencang. Kecuali jika para pedistrian, memaksa menyeberang, dengan terpaksa para pengendara kendaraan pun berhenti. Dan kami pun menyeberang setengah berlari penuh ketakutan. Bahkan lampu indikator menyeberang jalan pun, berupa orang berlari, bukan berjalan. Betapa menakutkanya bukan peristiwa menyeberang jalan di kota ini? Entah kapan, hak pejalan kaki yang budiman diperhatikan di kota ini.

Hanya perlu bayar Rp. 5000 untuk masuk Munas. Di lantai dasar terlihat seperangkat gamelan. Dan sedang berlangsung latihan menari yang sebagian besar diikuti anak-anak perempuan. Layaknya museum pada umumnya, museum ini bercerita tentang perjalanan kebudayaan manusia Indonesia. Mulai dari jaman pra-sejarah, manusia Indonesi di Jaman batu, jaman kerajaan-kerajaan, hingga menjadi manusia Indonesia modern.

Sejarah selalu mengajarkan kesementaraan. Tak ada kejayaan yang terlalu lama. Semua ada waktunya. Semua akan sirna dan terlupakan pada waktunya. Semua yang bisa terlihat oleh kasat mata adalah fana. Menuju kefanaan hanyalah fungsi waktu belaka, tak terlalu lama kita akan terlupakan untuk selama-lamanya. Dan sejarah hanyalah milik yang pernah berkuasa. Yang jelata? yah terlupakan begitu saja.

Aku cuman bisa membayangkan, saat semua serba digital seperti jaman ini, jika Tuhan meruntuhkan peradaban kita satu waktu, apa kira-kira yang bisa dipelajari oleh manusia generasi berikutnya?

Jika sampean pernah berkunjung ke British Museum di London, museum nasional ini rasanya tidak ada apa-apanya. Bisa jadi bahkan sejarah kebudayaan Indonesia lebih lengkap bisa kita lihat disana atau di Leiden, Belanda.

Dari Munas, kami naik bus double decker gratis yang sudah ready di halte depan museum. Di bus double decker itu uniknya sopir dan kondektur yang membagikan tiket gratis adalah emak-emak semua. The power of emak-emak. Busnya cukup nyaman, tak kalah deh dengan bus merah double decker London sight seeing yang cukup mahal tiketnya itu. Tidak kalah juga dengan Busnya kota Surabaya yang pakai bayar dengan 6 botol bekas air minum kemasan.

Dari Munas, kami turun di Jakarta Kota Tua. Bus berhenti di halte yang tidak jauh dari Stasiun Jakarta Kota. Yang baru dari Jakarta kota tua adalah pusat oleh-oleh Krisna. Yes, pusat oleh-oleh di kota Denpasar Bali itu buka cabang di Kota Jakarta. Selain oleh-oleh khas Bali, di Krisna Jakarta ini, ada oleh-oleh khas Jakarta. Emang ada? Yah, setidaknya ada oleh-oleh yang ada tulisanya Jakarta, dalam wujud kaos, gantungan kunci, atau sandal jepit.

Yang aku suka, di Krisna Jakarta kota tua ini ada mushola yang cukup luas dan nyaman di Lantai dua, lengkap dengan tempat wudlu yang bersih. Lalu, di lantai dasar juga ada restoran padang yang tempatnya cukup luas, confy dan cozy. Pelayanya asyik-asyik yang kostumnya tematik. Harganya pun untuk ukuran kota Jakarta masih lumayan bersahabat. Ada menu andalan kesukaan: eseng-eseng pare dicampur dengan petai dan cabe hijau yang aroma, rasa, dan pedasnya sangat sensasional. Lengkap sudah, tempat beli oleh-oleh, tempat sholat, istirahat, dan makan ada di tempat ini.

Dari Krisna, kami memesan taksi online, cukup murah, hanya enampuluh ribuan saja kami sudah sampai bandara dengan nyaman dan aman. Good Bye Jakarta! Sampai bersambung dengan cerita berikutnya.

Advertisements

Menyapa Jakarta (Kembali)

… suruh siapa datang ke Jakarta? – anonim

ilyas_di_depok

Wajah Kota Depok di Pagi Hari

Satu Maret dua ribu tujuh belas, Pukul lima sore lebih lima belas menit, kami akhirnya tiba di bandara sukarno hata Jakarta. Setelah perjalanan panjang tiga belas setengah jam lamanya dari bandara Heathrow London. Sumuk dan gerah rasanya. Maklum, kami meninggalkan kota Nottingham saat masih diselimuti musim dingin.

Bagasi kami langsung ditransfer ke pesawat untuk penerbangan ke Solo hari berikutnya. Karenanya dari pesawat kami langsung ke nursery room, untuk ganti popok Alisa, anak wedok yang baru 3 bulan itu. Lalu, langsung menuju ke pintu keluar.

Di pintu keluar telah menunggu Mas Ilham sekeluarga, tetangga kami waktu sang kawan tinggal di kota Nottingham. Saling salam dan peluk hangat sesudahnya. Duh haru dan senang sekali rasanya bertemu kembali dengan sahabat lama.

Tak lama berselang, setelah adzan maghrib di Jakarta berlalu, datang pula pakde Yadin, sahabat kami lainya yang pernah satu kali berkunjung di rumah kontrakan kami di Nottingham. Sahabat baik kadang terasa lebih dekat dari saudara sendiri.

Pakde membawa kami keluar dari bandara menuju kota Depok lewat Jakarta. Lewat jalan tol sebenarnya, tapi bukan jalan bebas hambatan seperti hafalan ku waktu pelajaran bahasa indonesia di jaman SD. Macet luar biasa. Mobil dan truk-truk besar menyesaki jalanan. Dari balik mobil, mataku nanar menatap wajah ibu kota. Kelap-kelip lampu dari hutan beton berwujud gedung-gedung pencakar langit dan mall-mall besar mengundang tanya hati kecilku: Jakarta dibangun untuk kepentingan siapa? Para pemilik modal ataukah? entahlah, yang jelas kutahu banyak teman yang tak mampu sekedarmemiliki tempat berteduh di kota ini.

Berjam-jam kami terjebak dalam kemacetan kota. Tetapi aku tidaklah mengapa. Obrolan hangat dengan Pakde membuat perjalanan tetap menyenangkan.

Keluar dari jalan tol, keadaan semakin parah. Jakarta benar-benar semakin tidak manusiawi batinku. Motor, mobil, truk, bus, angkot seolah berdesak-desakan berebut sejengkal ruang sempit di jalanan. Berisik sudah pasti. Bunyi klakson dan deru mesin terasa begitu memekkakkan telinga.

Beruntung aku berada di dalam mobil Pajero Sport yang masih gress. Tak terbayang olehku bagaimana rasanya berada di dalam angkot yang penuh sesak itu. Rupanya ada kecelakaan di depan, sehingga banyak kendaraan yang berbalik arah di jalan satu arah itu. Duh, kacau balau jadinya.

Tetapi aku tetap berusaha menikmati perjalanan. Iyalah, aku hanya duduk diam. Tak perlu memikirkan bagaimana peliknya nyetir dalam kondisi jalanan seperti itu. Dari dalam mobil kuperhatikan ada yang berbeda dari tiga tahun yang lalu. Yaitu banyaknya tukang ojek berseragam label ojek berbasis aplikasi mobile. Gojek, uber, dan grab yang terlihat mata.

Setelah berjam-jam bergelut dengan kemacetan, akhirnya kami berhasil keluar dari leher botol Jakarta yang terasa begitu menjepit rasa. Luega rasanya. Mobil melaju kencang menyusuri jalan dalam hutan kampus Universitas Indonesia Depok. Kami fikir, kami akan menginap di rumah Pakde. Rupanya beliau menginapkan kami di The Margo Hotel, tidak jauh dari kampus UI.

Di loby hotel, bude dan adiknya bude sudah menunggu. Duh, teramat bahagia dan terharu rasanya. Seperti bertemu keluarga dekat sendiri yang sudah terlalu lama tidak bertemu. Hati-hati kami terasa sangat dekat dalam obrolan yang begitu gayeng dan bersahabat.

Obrolan kami berlanjut sambil makan malam bersama, lesehan di dalam kamar di lantai 17. Lidah kami berasa sangat dimanjakan dengan cita rasa masakan indonesia yang sudah terlalu lama kami rindukan. Ditambah menu sarapan pagi di hotel yang kaya dengan cita rasa lokal nusantara yang begitu menggoda.

makanan_ndeso_ala_hotel

Makanan Ndeso ala Hotel Berbintang

Rasanya semua makanan senusantara hadir disini. Ada soto, gudeg, kedelai godok, gedang godog, ketan keju, jamu beras kencur, jamu kunyit asem, dawet, dan buanyak lagi lainya. Duh sarapan pagi yang benar-benar geplek ilat. What a superb treat buat kami yang baru datang kembali setelah bertahun-tahun meninggalkan tanah air. Thank a bunch Pak De dan Bu De. Jazakumullah khoiral jazak!

Museum dan Media Pewarisan Peradaban?

“… orang yang melupakan sejarah, akan dikutuk oleh sejarah dengan melakukan kesalahan yang sama dengan yang pernah terjadi di masa lampau”

kota_tua01

Melipir ke Kota Tua Jakarta : Museum BI dan Museum Wayang

Keterpaksaan untuk singgah beberapa hari di Jakarta kemaren, saya manfaatkan untuk silaturrahim dengan beberapa saudara dan sahabat-sahabat dekat yang tinggal di wilayah Ibu kota dan sekitarnya bahkan sampai Cibubur dan Ciledug. Selalu ada kucuran kebahagian tersendiri setiap saat bercengkerama akrab dengan kawan lama tanpa jika tanpa diselepi kepentingan-kepentingan. Pertemuan manusia-manusia makhluk Tuhan biasa, tanpa embel-embel keduniawian.

Diantaranya, saya sempat mengunjungi dua museum di situs Kota Tua Jakarta Utara, yaitu: museum Bank Indonesia dan Museum Wayang. Kunjungan ini terasa istimewa karena ditemani dua orang teman lama, yaitu teman SMP 1 CLuring di Banyuwangi. Beruntung dan bersyukur, meski sudah 15  tahun kami berpisah, toh silaturrahim kami masih terjaga sampai sekarang.

Situs kota tua di Jakarta ini cukup mudah dijangkau dengan public transport. Jika naik busway, dari halte harmoni jakarta pusat turun saja di halte Kota. Atau, jika naik Kereta Rel Listrik (KRL) Turunlah di stasiun Jakarta Kota. Buat anda yang ingin belajar dan menghargai sejarah, situs kota tua ini adalah tempat yang tepat untuk anda kunjungi. Ada banyak museum disini, di antaranya adalah Museum Bank Indonesia, Museum Fatahilah, dan Museum Wayang.Suasana di situs kota tua ini juga cukup nyaman dan romantis. Anda bisa menyewa sepeda ontel untuk menyusuri kota tua ini.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai perjuangan dan peninggalan budaya leluhur pendahulunya. Diantaranya dengan adanya museum-museum ini. Lihat saja di kota-kota besar di Eropa. Museum adalah jujukan dan daya tarik paling utama untuk di kunjungi seperti British Museum di Kota London. Mengunjungi museum-museum besar tersebut, seolah akan membawa kita menyusuri kembali peradaban manusia di masa lampau yang pada akhirnya akan menyadarkan kita bahwa capaian peradaban manusia saat ini tidak datang sekonyong-konyong, tetapi melalui proses yang sangat panjang. Masa lalu juga mengajarkan kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Jika alquran menyuruh kita berjalan di atas bumi untuk melihat bagaimana kesudahan bangsa-bangsa jaman terdahulu. Mungkin, museum-museum di kota-kota besar di Eropa pada umumnya, dan Inggris khususnya adalah tempat yang tepat anda kunjungi untuk memahami ayat-ayat Tuhan tersebut.

Museum memang sudah seharusnya menjadi media penghargaan terhadap urun peradaban para leluhur pendahulu kita. Sekaligus media pembelajaran dan media pewarisan budaya dan peradaban dari satu generasi ke generasi bangsa berikutnya.

Akan tetapi, bagaimana dengan Museum di Indonesia? Jadi jujukan utama kah di kota-kota di Indonesia? Hehe, anda tau sendiri jawabanya. Tapi tak apalah, mari kita coba hargai dengan sudah ada.

kota_tua04

Museum Bank Indonesia

kota_tua02

Di Museum ini anda bisa belajar sejarah berdirinya Bank Indonesia sejak jaman Belanda. Dari sejak bank sentral Indonesia ini bernama Bank Jawa, hingga keberadaanya saat ini terdokumentasikan cukup baik dalam bentuk poster, diorama, dan koleksi-koleksi barang kuno. Di museum ini anda bisa melihat koleksi uang kuno yang pernah digunakan sebagai alat pembayaran di Indonesia. Koleksi mata uang asing dari semua negara di dunia juga bisa anda temukan disini.

kota_tua03

Pengunjung museum ini kebanyakan adalah rombongan anak-anak sekolah. Ada tour guide yang disediakan oleh museum untuk menjelaskan koleksi yang ada di museum ini. Untuk masuk ke dalam museum ini anda tidak perlu membayar sepeser pun alias gratis. Di museum ini anda juga bisa membeli souvenir seperti tas dan gantungan kunci yang tentu saja tidak gratis.

kota_tua09

Museum Wayang

Wayang, siapa yang tidak kenal warisan budaya luhur bangsa kita ini? Eh bisa jadi anak-anak kita sudah tidak mengenal yang namanya wayang. Sejarah mencatat bahwa wayang tidak hanya sekedar media hiburan kosong tanpa makna seperti hiburan-hiburan sampah di stasiun-stasiun TV di Indonesia seperti sekarang. Wayang telah menjadi media edukasi untuk mengajarkan budi pekerti, kebajikan dan  kearifan hidup. Melalui media wayang ini pulalah para Wali Songo secara santun menyebarkan nilai-nilai luhur pesan Tuhan kepada masyarakat Jawa tanpa setetes darah pun tercecer.

kota_tua06

Di museum ini anda bisa menemukan koleksi berbagai jenis wayang yang pernah ada di Indonesia. Mulai dari wayang suket, wayang kulit, wayang golek, dan wayang orang. Jika anda mengalami masa kecil di era 90-an anda pasti ingat tayangan Si Unyil setiap hari minggu pagi di TVRI dengan tokoh-tokoh Unyil, Usro, Pak Raden, Mbok Bariah, Pak Ogah dll. Di museum ini anda bisa menjumpai boneka-boneka lucu yang melegenda itu.

kota_tua05

Pertunjukan Wayang Orang

Di sela-sela menysuri bilik-bilik museum wayang ini, sayup-sayup kami mendengar suara gamelan jawa, lengkap dengan lagu-lagu jawa yang ditembangkan oleh para sinden yang suaranya kenes. Suara gamelan jawa itu menggoda kami untuk mendekat ke sumber suara. Oh rupanya, dalam sebuah aula yang tidak begitu besar di museum wayang itu sedang berlangsung pertunjukan wayang orang.

kota_tua07

Berjubel orang memadati ruangan itu. Beruntung sekali saya bisa menikamati pertunjukan ini. Karena katanya jarang sekali  ada pertunjukan semacam ini. Selaksa ada ruang kosong kerinduan dalam sanubari yang terisi. Memang, kesenian termasuk sisi peran ini tidak pernah bisa lepas dari sisi-sisi kemanusian manusia. Hanya saja gaya hidup manusia yang semakin materialistis, membuat para pelaku seni ini semakin terpinggirkan.

Saya jadi ingat masa kecil saya dulu di era 90 an, saya masih sangat sering melihat pertunjukan seni di desa saya di pelosok Banyuwangi sana. Ada kendang kempul, gandrung, janger, kuntulan, pertunjukan wayang kulit, jaranan, prabu loro, dll. Setidaknya seminggu sekali ada pagelaran budaya tersebut yang ‘ditanggap’ orang yang punya hajatan. Sekarang? setahun sekali pun sepertinya belum tentu ada.

kota_tua08

Entah kemana perginya para pecinta dan pekerja seni itu? karena kesuksesan semata-mata diukur banyaknya materi yang dikumpulkan. Bukan tidak mungkin para pekerja seni itu memilih menjadi TKI di luar negeri. Apalagi kalau tidak pandai-pandai mengemas seni budaya menjadi produk bisnis. Padahal sering kali arah seni dan materi tidak sejalan.

Semoga saja, seni warisan budaya leluhur kita ini punya seribu nyawa, sehingga tidak pernah mati. semoga saja !

Jakarta Oh Jakarta : Mengglobal?

… buat orang tak berduit banyak, hidup di kota ini tidak pernah mudah. Tetapi, dari pada mengutuk lebih baik kita menikmati nya  bukan?

jak_01

Jakarta Oh Jakarta. Karena pakai paspor dinas, setiap pulang/pergi ke luar negeri harus mampir ke Ibu kota hanya untuk mendapatkan tempelan stiker di paspor bernama exit permit yang menurut saya esensinya sangat tidak penting sama sekali. Perlu setidaknya dua hari untuk mendapatkan stiker itu. Maklumlah, nalar logika filsafat yang dipakai pembuat kebijakan birokrasi di negeri ini kan masih kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?

Yah, daripada buang-buang energi untuk mengutuk dan berkeluh kesah dengan kebijakan ini, lebih baik berdamai dengan diri sendiri dan men menyalurkan energi itu  untuk menyambung silaturahim dengan saudara dan sahabat-sahabat lama di Jakarta ini.

Setahun lebih di Inggris dan kembali di kota ini membuat tubuh saya sedikit kemenyek. Kegerahan itu sudah pasti, dari baju lima lapis menjadi kaos oblong tipis. Udara terasa menyesak dan menusuk di  hidung, yang seolah memberi pertanda bahwa sebenarnya udara di Jakarta sudah tak layak lagi untuk prasyarat hidup sehat. Alhasil, semalam tidur di Jakarta, bangun pagi tidur bukanya badan segar yang ada malah batuk pilek dan tenggorokan terasa ada yang mengganjal dan serak.

Perubahan Jakarta era Pak Lek Jokowi ternyata tak se bombastis seperti pemberitaan di media online yang saya ikuti. Nyaris, secara kasat mata saya tidak melihat adanya perubahab itu. Sama saja seperti setahun yang lalu, atau bahkan lebih buruk. Hidup di kota ini memang tidak pernah mudah buat orang yang tak berduit banyak. Jalan kaki masih harus melewati gang-gang sempit, padat penduduk nan kumuh, atau trotoar yang penuh dijejali para pedagang liar yang mencoba mengais rejeki untuk bertahan hidup di tengah-tengah kejamnya hidup di ibu kota. Belum lagi kalau hendak menyebrang jalan, pilih kuras energi naik jembatan penyebrangan yang sangat jarang jumlahnya dan tidak manusiawi konstruksinya atau mempertaruhkan nyawa lewat zebra cross yang tidak dilengkapi traffic light? Keadaan ini tentu saja sangat kontras dengan jalan kaki menyusuri kota-kota di Inggris yang sangat nyaman dan menyenangkan.

jak_02

Keberadaan public transport juga semakin tidak nyaman dan tidak bisa dihandalkan saja. Menggunakan public transport di kota ini benar-benar menguras hati dan energi. Bus way yang dulu menurut saya cukup bisa diandalkan dari segi kenyamanan dan kecepatan nya, sekarang tinggal kenangan. Bus nya sudah bobrok, AC nya sudah mati, dan informasi pemberhentian bus baik berupa tulisan digital maupun suara  “the next stop is ….” sudah almarhumah entah sudah berapa lama. Pun demikian, masih saja ada antrian panjang dan bus nya suka telat ber jam-jam. Hanya untuk bergerak dari satu titik ke titik di dalam kota ini dibutuhkan waktu berjam-jam. Belum lagi ulah sesama calon penumpang yang sangat tidak sopan, yang tidak terbiasa antri, suka main dorong dan sikut, serta sangat tidak ramah. Benar-benar menguras hati. Saya beberapa kali pada akhirnya mutung keluar dari antrian Bus Way dan beralih ke Ojek atau Taxi.

Saya jadi membayangkan jika saya Bule Eropa yang pertama kali berada di kota ini. Gimana tidak stress kuadrat dengan kondisi kota ini. Ditambah lagi, kota ini sangat tidak well-informed dan sangat tidak welcome untuk orang non-indonesia. Sangat jarang papan informasi yang berbahasa inggris. Itu pun masih untung sudah ada informasi berbahasa Indonesia, kebanyakan pun tidak ada. Masak iya, Bule Eropa ini kalau mau kemana-mana harus bertanya ke orang yang juga belum tentu bisa berbahasa Inggris. Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu, ketemu Bule yang sangat stres naik turun eskalator, padahal dia hanya ingin membeli tiket dari Jakarta ke Bandung untuk keberangkatan keesokan harinya. Tetapi dia dikira orang yang dia tanyain hendak menunggu kereta yang akan berangkat ke Bandung saat itu.

Mengelola kota sebesar Jakarta memang tidak mudah. Banyak sekali permasalahan klasik kota besar harus diselesaikan juga. Akan tetapi, mau tidak mau dunia yang semakin mengglobal menuntut Jakarta sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan di Indonesia harus setidaknya layak disinggahi oleh siapa pun dari negara mana pun yang tidak dapat dielakkan akan datang ke kota ini. Saya membayangkan suatu saat, Jakarta bisa seperti London. Meskipun salah satu kota terbesar di dunia, tetapi masih sangat-sangat nyaman untuk disinggahi. Atau tidak usah jauh-jauh, seperti Kuala Lumpur Malaysia, yang sudah cukup nyaman untuk disinggahi untuk warga dunia yang kosmopolit.

Bagaimana dengan Jakarta, Indonesia? kalau boleh mengutip kata-kata Sri Mulyani, “Jangan pernah berputus asa mencintai negeri ini”. Ayo terus berbenah Jakarta ku !