Tag Archives: ITS

Ayo Rek, Sekolahlah di Luar Negeri ! dan Lihatlah dunia akan terlihat begitu berbeda

… saya termasuk yang percaya bahwa, hanya pendidikan tinggi yang bagus yang bisa memutus rantai kemiskinan, memutus lingkaran keterbelakangan dan keterpurukan. Hanya pendidikan yang bisa merubah pola pikir dan cara pandang seseorang dalam melihat dunia ini. Bisa jadi, setahun belajar di luar negeri, akan menjadi inspirasi sepanjang hidup hingga akhir hayat nanti.

mhs_indonesia_UoB

Mhs. Indonesia di Univ. Birmingham, Inggris (Courtest Alicia )

Suatu siang di akhir musim panas itu saya baru saja selesai menunaikan sholat jumat di prayer room di Jubilee Campus, Universitas Nottingham. Dalam perjalanan pulang ke rumah, bersama saya seorang pemuda tanggung (baca: ABG), yang kebetulan juga sedang menuju rumahnya  yang satu arah jalan dengan rumah saya. Pemuda tanggung muslim, berkulit putih, berambut keriting, asal Aljazair kelahiran Inggris, dan telah lama menetap dan menjadi warga negara Inggris. Dia adalah mahasiswa S1 tahun terakhir Jurusan Arsitektur di kampus ini. Sepanjang perjalanan jalan kaki selama 25 menit itu, dia (D) sedikit curhat sama saya (S).

[Terjemahan Bebas dan agak Ngawur]

…..

D : Kang, aku sekarang ini merasa sangat benci belajar.

S : Lowh, kenapa dul? (dengan mimik pura-pura penuh empati)

D :  Entahlah, seperti nya aku sudah bosan level akut. Bayangkan tiap hari sejak umur 3 tahun, aku harus terus belajar tiada henti. aku bosan. aku ingin segera tutup buku dan merasakan dunia baru. aku ingin segera bekerja.

S :  *nyengir dan berusaha sok bijaksana* Oh, itu normal Dul. Itu sama persis dengan apa yang aku rasakan ketika aku berada di posisi seperti sampean dulu. Aku ingin sekali segera bekerja di perusahaan.  Merasakan dunia baru, dan segera menghasilkan duit sebanyak-banyaknya. Tetapi, hanya beberapa bulan setelah mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang aku impi-impikan, aku sudah rindu kembali suasana bangku kuliah. Akhirnya aku memutuskan, untuk resign dan sekolah lagi, ketika kesempatan beasiswa menghampiri ku.

D :  *ekspresi dingin*

S :  @$$$$@

…..

***

Sudahlah, lupakan dialog tidak penting di atas *sudah mulai kehilangan fokus*. Oh tidak, sebenarnya saya hanya ingin menulis uneg-uneg saya dari dahulu. Kenapa sih, mahasiswa lulusan S1 dari kampus saya dan kampus daerah lainya minatnya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri masih sangat minim. Ya, sejak kuliah S2 dulu, teman-teman yang kuliah di luar negeri hampir semuanya berasal dari Jakarta dan Bandung. Bahkan ketika sekarang pemerintah membuka keran peluang sekolah ke luar negeri selebar-lebarnya, melalui beasiswa LPDP, kemaren sempat ngobrol dengan salah seorang penerima beasiswa tersebut, benar sekali 90% penerimanya adalah arek-arek Jakarta/Bandung. Apalagi beasiswa itu ternyata banyak diambil orang-orang yang sebenarnya mampu membiayai kuliah dengan duit mereka sendiri, seperti Gita Gutawa. Kemana arek-arek Suroboyo, Malang, Jember? yang dulu selalu beralasan ndak punya duit untuk sekolah ke luar negeri.

Sejak saya kuliah S2 ini, saya merasa, memang ada perbedaan pola pikir antara lulusan S1 JB: Jakarta/Bandung (anak UI, ITB, dsb.) dan lulusan S1 SM: Surabaya/Malang (anak ITS, Unair, UB, dsb.) . IMHO, anak-anak JB sudah berfikir global, kuliah di luar negeri sangat penting buat karir mereka, mereka ingin sekali sekolah S2/S3 di luar negeri, kemudian berkarir di luar negeri atau setidaknya berkarir di dalam negeri dengan gaji luar negeri.

Sementara, arek-arek SM masih berfikir tradisional. Kurang lebih sama dengan cerita saya dengan anak Aljazair di atas. Sudah bosan belajar, ingin segera memasuki dunia baru yang katanya lebih menantang, dunia kerja. S2/S3 di luar negeri itu tidak begitu penting, S1 saja sudah cukup untuk memulai karir jadi karyawan di BUMN atau menjadi PNS. Lanjut S2/S3 di luar negeri itu hanya cocok buat mereka yang berminat jadi dosen, profesi tidak menarik bergaji kecil itu. Toh, melanjutkan S2/S3 bisa juga nanti ketika sudah bekerja di perusahaan.

Baiklah, ketika mereka punya alasan untuk tidak melanjutkan sekolah S2/S3 ke luar negeri, berikut saya memberi alasan-alasan kenapa lulusan S1 harus segera melanjutkan S2/S3 ke luar negeri.

  1. Jika ada yang beralasan segera bekerja ingin segera berpenghasilan, jangan salah, dengan manajemen keuangan yang cerdas, sisa uang saku beasiswa kamu bisa lebih besar dari gaji fresh graduate di BUMN. Sebagai gambaran, ketika masih sendiri, saya bisa menabung sedikitnya 400 GBP perbulan (setara dengan Rp. 8 juta).
  2. Jika ada yang beranggapan S2/S3 di luar negeri tidak penting, ingatlah dunia semakin mengglobal sudah di depan mata (misal pasar bebas ASEAN, i.e. MEA per 2015), kemampuan untuk berkomunikasi bisnis internasional dan berwawasan global adalah sebuah keharusan, jika tidak mau tertinggal di belakang.
  3. Jika ada yang bosan dengan belajar, percayalah pengalaman hidup di luar negeri di samping belajar adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.
  4. Jika ada yang takut sudah terlalu tua untuk sekolah, halah paling-paling sampean juga baru umur awal dua puluhan, kuliah S2 di luar negeri itu hanya 2 tahun, bahkan di Inggris hanya cukup 1 tahun.
  5. Jika ada yang beralasan kuliah S2/S3 itu tidak penting , percayalah negara ini membutuhkan mu untuk bisa ‘bersaing’ di level global. Lihatlah negara tetangga kita Malaysia yang sudah berpuluh-puluh tahun meningkatkan daya saing sumber daya manusianya dengan mengirim puluhan ribuan anak mudanya untuk belajar ke luar negeri (baca: disini). Jangan sampai menjadi katak di dalam tempurung.
  6. Jika ada yang berfikir, S2/S3 hanya untuk calon dosen, endak kok, banyak program S2/S3 untuk profesional.
  7. Jika ada yang berfikir belajar kan bisa dimana dan kapan saja, bisa dari internet. Percayalah, melihat dari balik jendela tidaklah sama dengan menjadi bagian langsung dari yang kita lihat dari balik jendela itu.
  8. Jika ada yang bilang belum ada kesempatan, jangan salah, sekarang ada beasiswa LPDP yang dibuka lebar-lebar dan dibuka pendaftaran setahun tiga kali. Siapa yang bisa menjamin, beasiswa ini akan tetap dibuka, jika sampeyan masih menunggu waktu yang tepat. Beasiswa ini dari duit rakyat, sampeyan sebagai bagian dari rakyat ambilah bagian sampean.
  9. Jika ada yang merasa tidak qualified, mungkin karena sampean belum berusaha mempersiap kanya.

Diatas semua alasan tadi, yang paling penting kenapa sampean harus sekolah ke luar negeri adalah karena sekolah ke luar negeri akan merubah pola pikir mu. Kuliah lah, ke luar negeri, dan dunia akan terlihat begitu berbeda di mata mu. Jangan berfikir, dengan sekolah di luar negeri, kita akan’ memuja’ dan  ‘menyembah-nyembah’ negara luar negeri tersebut. Justru sebaliknya, nasionalisme, kecintaan kepada negeri, akan tumbuh ketika kita berada di luar. Kepercayaan diri, jati diri, dan kebanggaan diri, justru akan tumbuh ketika kita berada di luar negeri. Selain bisa belajar tidak hanya materi kuliah tetapi belajar kehidupan dengan menjadi bagian langsung dari kehidupan di negara maju, setidaknya kita akan sadar, negara maju itu tidak se ‘wah’ yang kita bayangkan. Setidaknya, kita akan sadar, bahwa kita tidak seburuk yang kita sangka. Setidaknya, kita akan sadar, bahwa kita ini sebenarnya korban keserakahan dan dibodohi oleh negara-negara maju tersebut.

Sudahlah, segera siapkan niat dan tekat mu, siap kan koper mu, ayo segera pergi belajar ke luar negeri !

Baca Juga :

 


When I manage to deliver my lecture in English.

… My English is not so Good. but I manage to try my best to speak in English….. it is just a little step for my University, ITS, to be world class University.

New semester (Gasal 2009)  just starting, and it is my second semester, being a lecturer at Information System Department, Faculty of Information Technology ITS. I am teaching two subjects : Discrete Math ( for 1st year 1st semester student) and Business Intelligence (for final year students). The things that make difference for this semester is I deliver my lecture fully in English. Although,  no one doing so before in my department.

I realize  that my English is not so good, but I manage to try my best to speak in English. I also very sure some of my students sneering on What I have done. But, I believe everything will be just fine. Let the time go and show the truth. Regarding my English that is not so good, I think it is so natural, that everything supposed to be hard at beginning, but by the time swift, it will be just fine. I believe that  my audacity to speak in English, will encourage me to improve my English to be getting and better, and I think the best way to be getting better and better is by practicing it.

Regarding my students, I think it is just about habits. They are not accustomed to use English yet. But, I believe by the time swift, everything will be just fine and they will enjoy it. I manage to communicate with them either in class or out class in English.    Sending short message and email as well.

Why English? I do not mean I am less in feeling nationality. But in today’s world, everyone should deal with everyone globally. and English is the key to be able to deal with globally all around the world.  Although English has been tought  to the students since their elementary school, but I am very sure most of them did not mastering English as medium of communication. So, it is the time they practice it. Hopefully, it is beautiful beginning for ITS to be world class University.


My First Time: Should everything hard at the begining and beautiful eventually?


Monday 090209. It is hard day for me. It is my first time to be a lecturer at Information System Department, ITS.  Although I have been teaching assistant for 2 years during my master studies, I am so nervous imagining what will happen in the class. Will the student eat and hurt me? Oh My God, the worse matter is that I have to teach something that I do not really understand. You know, I have to teach Intelligent System course, the subject that i do not like much during my undergraduate studies and never take it during my master studies.

In this course I have to teach a concept of Machine Learning. How to make the program or system can learn from experience by introducing many adaptive algorithm such as candidate elimination, decision tree, artificial neural network, fuzzy logic, genetic algorithm, pattern recognition, etc. To tell you the truth, it is not easy to make my self understand. If so, then how to make my student understand? [ho.. ho… ] In other hand, I am supposed to be [looks] smart lecturer in front of students in the class. I can not imagine either ‘How the stupid teacher teach stupid student ‘ or ‘How the stupid teacher teach smart student’ . Hopefully, it will never happen to me.

The only thing I can do is learning by doing, never hesitate to ask something i do not understand to the others, learn from experience, and be gentle to confess the stupidity of me. I realize that one thousand kilometers journey must be started from one step. It is so natural, everything must be hard at beginning and hopefully eventually will be ended beautifully.

Well, my first class is not so bad. I can enjoy the class and the student looks not so bored with my class. Hope everything getting better and better, Insya Allah 🙂

Cak Shon [@ ITS Surabaya, 280209: 11.07.PM]


Olahraga Rutin Saya Setiap Minggu: U Know Whaz

“…ayo yang dibelakang Semangat…!! suaranya mana? yeach.. pinggangnya diputer !! [backsound: lagu kucing garong]”

Ooooopps! ini bukan live konser dangdutan lowh. Hue he…
Tapi ini adalah suara yang terdengar setiap Jumat pagi di Pelataran Parkir kampus JSi (Jurusan Sistem Informasi) FTIf (Fakultas Teknologi Informasi) ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Surabaya [puanjang bener.. :p]

Dulu saya orang yang paling “wegah” dengan yang namanya Olah Raga, Pelajaran paling aku “buenci” sejak SD sampek SMA. Selalu menempati daftar nilai peringkat tiga besar dari bawah, wueks ! Saya baru “aware” pentingnya berolahraga sejak kuliah di UTP Malaysia. Secara di UTP fasilitas olahraga luengkap je! mo renang tinggal nyemplung, mo fitness tinggal angkat, mo tennis aka badminton aka volley tinggal smash, mo Jogging ada joging track yang hijau nan indah di seputar danau-danau kampus yang damai. Akhirnya saya tersadar bahwa ternyata Olah raga meningkatkan ‘gairah’ hidup, mengajarkan saya untuk bisa melebihi batas kemampuan yang sering kita bikin sendiri dan kita terjebak berada di dalamnya, “beyond the Limit”.

Ketika kembali ke Surabaya, saya sempet berfikir “Wach.. alamat ndak pernah Olah Raga lagi negh”. Ternyata tidak bener. Sejak bergabung dengan JSi ada kebijakan manajemen SDM yang mewajibkan Olah Raga setiap hari jumat. nama program nya SIAP !( Sistem Informasi Olahraga Pagi).

Taukah anda apa jenis Olah Raga nya?
U know Whaz? : “Aerobic”

Ho ho….,ndak banget kan? Identik dengan tante-tante [ndak pakek ‘girang’ :p]. hue he…
tetapi ternyata asyik juga lowh. Lebih seru lagi instrukturnya muda, cantik, dan energik. Hebatnya lagi tiap minggu instrukturnya ganti. wah ndak nyangka di kota pahlawan ini banyak juga yang berprofesi sebagai instruktur senam aerobic, huehe… Satu jam bersama sang Instruktur diiringi musik gado-gado dangdut+rege+pop+religi jadi berasa cuman 5 menit. Apalagi sering kali sang instruktur nya nakal, dalam beberapa detik sang instruktur senam mendadak berubah bak penyanyi dangdut ala dewi persik dan inul daratista. Astaghfirullah…..

Tidak hanya asyik dan menarik, ikut SIAP ini juga menguntungkan. Dapet kacang hijau gratis dan dapet duit 15.000 rupiah tiap kali join SIAP ini hue he… Semoga SIAP ini bisa meningkatkan ‘gairah’ kerja, produktifitas, dan kerjasama ‘Gengsiesta’ (sebutan sivitas akademik JSi ITS].


Budaya “lambrat… response” orang Indonesia: Whaz d briliant solution?

“..ternyata bukan masalah agama, bukan pula karena sistem yang buruk. Akan tetapi mentalitas bangsa ini yang perlu di ‘permak  dan di ‘reengineering’ ”

Hosh! 3 Minggu kembali hidup di bumi endonesah ini, setelah 2 tahun hidup di negara jiran [baca: tetangga], ternyata masih bikin geregetan “argh……”. Sebuah bangsa yang dari negara tetangga sana saya dengar di media banyak sekali perubahan ke arah perbaikan. Ternyata Oh ternyata ketika aku kembali masuk ke dalamnya, masih tetap saja seperti yang dulu.

“Perubahan” adalah kata yang terdengar sangat indah di telinga saya, tetapi perubahan yang lebih baik tentunya. Pertama kali menginjakkan kaki di JSi ITS aura perubahan itu benar-benar kentara, secara kasat mata tempat yang dulu “menyeramkan” itu sekarang menjadi tempat yang “menyenangkan”. Masuk ke kantor sekretariat Jurusan di sebuah kampus bersa bak memasuki kantor sebuah perusahaan kelas dunia [cie…], di depan sekretariat itu ada tanaman-tanaman hias yang tertata dengan sangat rapi dan cantik, tepat disamping pintu masuk terdapat poster bergambar beberapa mahasiswa yang berpose ceria, bertuliskan “Join Us”.

Begitu masuk pintu, ada poster lagi, dan “eng ing eng” anda akan menemukan pemandangan yang sangat indah, senyum seorang wanita muda cantik yang sangat rumah, kalau anda seorang wanita menolehlah ke arah kanan anda juga kan menemukan seorang pria muda ‘ganteng’ yang siap menyapa anda dengan sangat ramah. Dulu waktu jaman saya kuliah sekretariat jurusan itu cuman ada 2 biji, Mbak Nita dan Pak Kadir. Sekarang ada lebih dari 10 orang dan semuanya masih muda-muda, cantik-cantik, dan ganteng-ganteng.

Memasuki lorong ruangan dosen, yang dulu buat saya itu sangat menakutkan, saya masih inget sampek harus ‘ndelosor-ndelosor’ di lantai nunggu antrian diakses seorang dosen dan memang tidak disediakan tempat duduk disekitar lorong ruangan dosen itu. Suasana menakutkan itu kini berubah 180 derajat [ndak pakek celcius :p] di pangkal lorong ruangan dosen itu  ada TV LCD layar lebar, yang disebut dengan SiTV, TV lokal Jurusan Sistem Informasi ITS yang sebenarnya merupakan reinkarnasi Mading dan Papan Pengumuman yang dulu kurang sedap dipandang.

Sepanjang dinding lorong ruangan dosen itu  dipenuhi dengan poster-poster karya mahasiswa dalam bingkai kaca yang dikemas cukup cantik, bak etalase produk jualan hue he. Dari beberapa ruangan dosen itu ada 3 ruangan yang agak ‘nyeleneh’, yaitu 1 ruangan redaksi majalah Gengsi [Majalah jurusan Sistem Informasi ITS] dan 2 ruangan discussion room dimana banyak mahasiswa yang sedang asyik berdiskusi disitu, baik dengan dosen nya ato diantara mereka sendiri. Dan, satu lagi jangan khawatir harus ‘ndelosor-ndelosor melantai’ karena saat ini disediakan banyak sekali tempat duduk dan tanaman hias di lorong ruangan dosen itu.

Akhirnya, saya pun jadi bagian dari mereka. Semakin saya dapat membaca gerbong perubahan dari Jurusan ini. Sebuah unit institusi pendidikan yang dikelola dengan manajemen ‘modern organization’ berani meninggalkan gaya ‘manajemen kuno’ institusi pendidikan pada umumnya. Orang-orang baru di sekretariat JSi rupa-rupanya adalah orang-orang terpilih yang diplot oleh JSi untuk menjalankan peran pentingnya masing-masing. Ada Human Resource Manager yang salah satu programnya ngadakan senam aerobic jumat pagi, Management Support Manager, Corporate Relation Manager, Finance Manager, dan sebagainya dan sebagainya.

Bahkan ada salah satu staf yang kerjaanya khusus nganter dan ambil absen di kelas, buka-tutup pintu kelas, menghapus papan tulis, nyediain spidol dan penghapus, neken tombol power PC, LCD Projector dan AC yang sudah embedded di setiap kelas. Pokoknya ketika masuk ruangan kelas, tidak ada ceritanya papan tulis belum bersih, Spidolnya ndak ada, Absen nya belum ada, ato LCD nya belum nyala. Kalau itu terjadi staf yang bersangkutan bisa jadi tersangka hue he….

Sangat menyenangkan sekali hidup dalam gerbong kereta perubahan ini, Hidup berada di tengah-tengah teman seprofesi yang masih sangat muda-muda dan energik membuat hidup terasa indah, ringan tanpa beban. Hobi menulis saya pun tersalurkan dengan baik. Ada Jurnal Fakultas (JUTI) dan Jurnal Jurusan (SISFO) yang selalu merindukan tulisan saya setiap saat [Ciee… Prek !]. Ada duit dolar dari Jurusan yang siap mengantar saya ikutan Conference dimana pun, sampek ke ujung dunia. Ada dana penelitian dari LPPM ITS yang siap mendanai setiap ide riset yang ada di kepala saya. Dan yang lebih penting lagi ada seseorang yang meng ‘encourage’ meng ‘push-push’ saya untuk menulis dan melakukan penelitian.

Tetapi sayang nya, ternyata tidak semua orang merasa nyaman berada di gerbong perubahan kereta  ini. Ada beberapa orang yang dengan sengaja berusaha ‘menggembosi’ ban kereta. Tapi alhamdulilah karena ban roda kereta ini dari besi, jadi kereta pun tetap berjalan. Ada juga yang memaksa diri keluar dari gerbong kereta, bahkan ketika kereta ini sedang berjalan. Yah.. kalau itu sih pilihan mereka. Karena di gerbong perubahan kereta ini tidak pernah memaksa kehendak siapa pun.

Well, So Far So Good. Tetapi ada satu budaya buruk yang seharusnya dibasmi habis yang masih bercokol di gerbong perubahan JSi ITS ini. yaitu budaya “lambrat response”. Di ruangan kami, separoh saluran listriknya mati, kami sudah komplain ke staff yang berkwajiban berkali-kali, sejak 3 minggu yang lalau. Tapi sampai saat ini ‘a little problem’ itu belum juga teratasi, selalu saja ada alasan.

‘Ndak ada tangganya kek, apa kek’, parahnya lagi sering kali melimpahkan kwajiban nya ke orang lain. ‘yah itu seharusnya kerjaan pak B’. Eh ternyata setelah ditanya ke Pak B bilangnya itu bagian Pak A.
“Mbules terus ! tiada akhir…”
Sama halnya dengan galon air dispenser di ruangan kami, galon air itu sering kali kosong melompong berhari-hari, bahkan setelah di komplain ke yang bersangkutan. Sangking sebelnya kami pernah mau urunan langganan galon sendiri, hehe…

Padahal sistem di JSi ini sudah sangat bagus, semua punya job description yang jelas. Reward and Punishment pun sudah jelas. Bahkan orang nomor wahid di JSi ini sering kali menegur yang bersangkutan berulang kali. Mungkin ini permasalahan kecil di JSi, Akan tetapi saya sangat yakin bahwa permasalahan kecil – permasalahan kecil seperti inilah biang keladi permasalahan-permasalahan besar bangsa ini. Permasalahan ‘kecil’ di JSi sangat mungkin terjadi di tempat-tempat lain, yang akhirnya menumpuk-menumpuk menjadikan permasalahan besar bangsa ini. Sehingga jangankan untuk lari mengejar ketertinggalan, untuk maju selangkah ke depan saja Bangsa ini sangat tersendat-sendat.

Seringkali saya merenung, Whaz d real matter with this nation?Bukankah bangsa ini sebuah bangsa yang religius, dimana bangsa ini merupakan bangsa muslim terbesar di dunia, setiap saat ada orang yang menyebut Tuhan nya. Salahkah agama kita? Sistem negara ini, kurang bagus kah? Budaya bangsa ini, kurang ‘adi luhung’ kah budaya bangsa ini? Orang-orang nya, kurangakah orang-orang pintar dan cerdas di negara ini?

Menurut hemat saya, ada satu hal yang sering dilupakan oleh bangsa ini. Satu hal yang lebih penting dari sekedar menciptakan sistem yang bagus sekalipun. Yaitu, mengubah spirit mentalitas bangsa ini. Dari yang bermental UUD (Ujung Ujungnya Duit) ke mental pengabdian (devote). Mentalitas ini bisa diresapi dari budaya atau agama kita sendiri. Budaya Jawa misalkan punya adigium: “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” atau “Sepi ing pamrih rame ing gawe”. Agama Islam misalkan mengajarkan : “Khairunnas Anfauhum Linnasi” sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk manusia lainya.

Agama Kristen misalkan juga mengajarkan untuk hidup sebagai “Pelayan” Tuhan dalam hidupnya.Saya jadi teringat cerita seorang kawan yang pernah tinggal di Jepang. Konon katanya kantor-kantor pemerintah di Jepang, disana itu kinerjanya sangat luar biasa. Orang-orang nya bekerja dengan sangat cepat dan tepat bak semut. Sangat kontras sekali dengan kantor-kantor pemerintah di Indonesia. Ketika ditanya kenapa orang-orang jepang di kantor pemerintah bisa seperti itu? katanya adalah mereka merasa sangat bangga dan terhormat bisa menjadi abdi negara dan melayani masyarakat dengan baik. Saya juga jadi teringat seorang tukang sampah di Pesntren Darul Ulum Jombang, dia sangat rajin setiap pagi-pagi membersihkan sampah-sampah di halaman pesantren, dia sangat menikmati pekerjaan nya itu, dan selalu tersenyum ke setiap santri yang ia temui, dia bahkan sudah menjalani profesi nya itu berpuluh-puluh tahun, dengan tanpa gaji. Ketika saya bertanya kepada beliau apa spirit nya, beliau menjawab: beliau merasa bangga bisa mengabdikan sebagian hidupnya untuk pondok, terlebih yang menunjuk dia sebagai tukang sampah adalah KH Mustain Romly, Seorang kyai yang sangat dihormati pada masanya. Meskipun tanpa dibayar, beliau merasakan keberkahan hidup yang sangat luar biasa, bahkan satu diantara anak beliau lulusan PT Ternama dan Hafal Alquran. Itulah sebanya dia selalu menikmati setiap detik nafas hidupnya sebagai seorang tukang sampah. Saya juga jadi teringat seorang Tukang Parkir FMIPA ITS, yang selalu ramah terhadap mahasiswa, yang pernah rela bayar tarif lin untuk 15 penumpang [karena lin nya ndak mau jalan kalau belum penuh 15 orang penumpang] karena takut telat jaga parkiran di FMIPA ITS. Jawabanya sama beliau, yang lulusan D3 itu bangga bisa mengabdikan dirinya untuk ITS.

Mentalitas seperti orang jepang, tukang sampah, dan tukang parkir inilah yang saat ini sangat urgent dimiliki oleh bangsa ini. Sebuah bangsa yang tidak meletakkan ‘kekayaan’, ‘jabatan’, ‘gelar’  sebagi simbol kesuksesan tertinggi hidup. Tetapi sebuah bangsa yang merasa bangga dan terhormat mengabdikan sebagian atau seluruh hidupnya untuk melayani, memberikan kontribusi, orang-orang lain di sekitar mereka, masyarakat, bangsa dan negaranya.
Sebuah bangsa yang memiliki jiwa ‘devote’ untuk orang lain, bukan untuk diri mereka sendiri semata.

Semoga gerbong kereta perubahan JSi dan bangsa ini dapat terus dan terus

berjalan !
Insyaa.. Allah.