Advertisements

Tag Archives: islam

Tentang Presiden Ndeso Kerempeng dan Menteri Kerudungan

…. Selamat datang era kesederhanaan dalam sikap, ketulusan hati dalam bekerja dan RASA dalam pengabdian – @alvinadam

presiden_jokowi

Pelantikan Presiden Joko Widodo

20 Oktober 2014

Pagi itu seperti biasa, lebih dari sekedar sering, aku adalah orang yang pertama membuka pintu ruang C85. Ruang dimana sebagian besar waktu ku, aku habiskan di ruangan ini. Delapan sampai lima belas jam sehari, berkutat dengan latex, eclipse, jendela hiburan ‘chrome’ di PC ku, tumpukan buku yang sudah dipenuhi sarang laba-laba, tumpukan makalah jurnal penelitian, serta kertas ‘oret-oretan’ yang berserak dan berantakan. Yah, di ruang inilah, aku bersama teman-teman satu grup riset menghabiskan waktu bersama, untuk setidaknya 1000 hari lamanya. Tempat yang mungkin akan sangat nostalgic dan layak untuk dirindukan suatu hari di masa depan nanti.  Tempat, kawah candradimuka, yang telah membentuk ku menjadi (hopefully) seorang peneliti ilmu komputer yang mandiri.

Si Fulan, teman satu lab berkebangsaan Lebanon, menjadi orang yang paling beruntung hari itu. Karena Si Fulan berhasil menjadi orang pertama yang menyapa ku pagi itu. “Keifak , Ahmad ?” (Apa kabar, Ahmad?), sapanya seperti hari-hari biasa kepada ku pagi ini. “Congratulation, you have a new President today ! Jokowi, a very modest president, the ex mayor of Jakarta” . Aku hanya menimpali: ” How do you know him so well, Fulan ? ” Rupanya fenomena Jokowi di Indonesia menarik banyak perhatian banyak orang, tidak hanya rakyat Indonesia, tetapi juga menjadi perhatiang bangsa lain, salah satunya Si Fulan teman satu grup riset ku ini.

Iyah, hari ini, 20 Oktober 2014, biarlah sejarah mencatat Jokowi, sebagai presiden baru Indonesia. Presiden kedua yang dipilih langsung oleh rakyat Indonesia, menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) setelah 10 tahun berkuasa. Hari, ketika sebagian besar pendukung dan pengagumnya merayakanya dengan penuh euforia. Pesta Rakyat, mereka menyebutnya begitu.

Meski, pada saat proses pemilihan, aku berharap bukan Jokowi yang jadi presiden, karena aku percaya rivalnya, Prabowo memiliki kualitas kepemimpinan sebagai presiden yang lebih baik. Diam-diam aku pun menaruh harap pada Jokowi untuk Indonesia yang jauh lebih baik kedepanya.

Gus Dur, Demokrasi, dan Islam

habibie_mega_shinta

Habibie, Megawati, Shinta Nuriyah Wahid

Tak terasa, tiba-tiba mata ini menjadi sembab, menyaksikan tayangan prosesi pelantikan presiden Jokowi di youtube. Bukan retorika pidato pertama Jokowi yang membuat ku terharu dan tersentuh.  Tapi deretan para audience yang sesekali terkena shoot kamera. Menyaksikan orang-orang penting bangsa ini, berkumpul di tempat yang sama. Mereka yang sebelumnya, berseteru dalam politik, pada akhirnya semuanya mampu legowo duduk bersama-sama. Melihat, mantan Presiden Habibie, Megawati, Ibu Shinta Nuriyah Wahid- istri mendiang mantan presiden Gus Dur, dan para mantan pemimpin lainya, bisa duduk berjejer bersama, dalam suasana penuh dengan kekeluargaan, sungguh membuat mata rakyat kecil seperti aku ini sangat terharu. Tak sadar, aku pun harus menyeka air mata ku.

Di antara teman-teman sesama muslim dari berbagai negara di timur tengah, aku selalu bangga untuk mengatakan, bahwa di negara muslim terbesar di dunia ini , suksesi pergantian pemimpin dapat dilalui dengan indah, damai, dan tanpa pertumpahan darah. Bahwa, demokrasi bisa berjalan dengan baik di negeri tempat umat nabi Muhammad terbesar itu berada. Demokrasi yang membuat rakyat jelata pun bisa memimpin negeri. Tak harus dari golongan priyayi -bangsawan, atau golongan kyai-rohaniawan. Sekarang, aku baru mengerti, mengapa Gus Dur yang orang pesantren, dan bertahun-tahun mengembara menuntut ilmu di negara-negara timur tengah itu, tak pernah menginginkan negara Islam. Tapi, justru Gus Dur adalah orang Indonesia yang paling ekstrim memperjuangkan demokrasi di Indonesia. Apalagi, melihat bagaimana pertumpahan darah yang selalu menyertai pergantian pemimpin di negara-negara Timur Tengah belakangan ini. ilarruhi Gus Dur, Alfatihah…….

Bagi orang Indonesia pada umumnya dan anak-anak muda pada khusunya, setidaknya Jokowi akan merubah konotasi seorang pemimpin negeri. Bahwa ternyata presiden itu, tidak harus ‘sempurna’, sebagaimana yang melekat pada diri seorang SBY. Yang gagah nan rupawan, berwibawa dan berpendidikan tinggi, pun pandai bernyanyi dan berpuisi. Bahwa seorang yang kurus kerempeng, berwajah ndeso, dan tampil apa adanya pun bisa menjadi seorang presiden. Bahwa, ketulusan hati dan kesempurnaan batin lebih utama dari sekedar kesempurnaan fisik belaka.

Aku hanya bisa berdoa, semoga Jokowi dan semua pemimpin-pemimpin di negeri ini selalu dibuka mata hatinya, selalu diberi petunjuk oleh Allah swt.

Menteri Khofifah

Menteri Khofifah

27 Oktober 2014

Seminggu setelah euforia presiden baru, tibalah hari ini saatnya euforia para menteri baru. Di antara, 34 menteri yang ada, hanya satu yang mempu mencuri hati ku. Ya, siapa lagi kalau bukan Mbak Khofifah Indar Parawansa yang selalu saya kagumi.  Entahlah, setiap melihat wajah bersahaja-tapi-kharismatik nya, aku selalu teringat emak ku di kampung, sungguh wajah dan senyumnya mirip sekali. Emak ku yang mantan aktivis muslimat NU level desa.

Buat ku, Mbak Khofifah memang sangat istimewa. Sepanjang sejarah negeri ini, rasanya beliau lah satu-satu nya menteri yang kerudungan. Di negeri yang mayoritas muslim dan separuh penduduknya perempuan ini.

Masalah kualitas, tak perlu diragukan lagi. Kecerdasan dan pengalaman kepemimpinanya tak perlu disangsikan lagi. Pun kapabilitasnya, sebagai menteri sosial. Rasanya, sepanjang kiprahnya selama ini di Muslimat NU, tak pernah lepas dari kerja-kerja sosial. Aku sangat yakin, beliau akan mampu menjalankan amanah ini dengan sebaik-sebaiknya.

Aku sangat berharapa, Mbak Khofifah ini bisa menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan seluruh Indonesia. Khususnya, perempuan-perempuan desa, mbak-mbak fatayat, dan muslimat NU di seluruh pelosok Indonesia. Jikalau, selama ini perempuan-perempuan Indonesia mengidolakan perempuan-perempuan artis yang sebagian besar menonjolkan kecantikan wajah, kemolekan tubuh, dan kepandaian menghibur orang saja.

Rasanya, Mbak Khofifah adalah sangat patut menjadi inspirasi perempuan-perempuan Indonesia. Bahwa, perempuan yang sempurna itu bukan diukur dari tampilan fisiknya seperti pemilihan putri-putri dalam kontes-kontes kecantikan. Tapi seharusnya perempan itu dilihat dari kecerdasan, jiwa kepemimpinan, dan kiprahnya di tengah-tengah masyarakat. Cerdas, berpendidikan, sederhana dan bersahaja,  mampu memimpin, perempuan kuat dan tangguh, berani, muslimah yang tafaquh fiddin, santun, berkiprah untuk masyarakat, ibu yang sukses, NU banget lagi, semua melekat pada diri Khofifah.  Semoga banyak perempuan-perempuan muda Indonesia yang terinspirasi oleh beliau.

Mari kita memulai lembaran sejarah baru Indonesia, yang kalau boleh meminjam kata-kata Alvin Adam, era kesederhanaan dalam bersikap, ketulusan hati dalam bekerja, dan rasa dalam pengabdian. Selamat tinggal era kepura-puraan dan pencitraan. Selamat tinggal era ‘bungkus’ selamat datang era ‘isi’.  Semoga Indonesia tidak berubah, kecuali berubah menjadi lebih baik. Allahumma Ammiin.

Advertisements

sistem syariah : sebuah tanda tanya besar (?) [bagian 1]

taken from: https://i1.wp.com/berita.upi.edu/files/2012/07/Syariah.jpg…. bukanya lebih baik sekuler tapi penuh keadilan dan kejujuran, dari pada menggunakan embel-embel syariah tapi penuh dengan kemunafikan? masihkah kita harus tertipu oleh sebuah bungkus dan melupakan apa isinya?

Syariah, kata itu terdengar begitu indah nan religius. Bila kata itu hadir, seolah membawa kita pada suasana dekat dengan Tuhan, dekat dengan kebaikan, dan dekat dengan syurga. Di negeri kami yang indah yang konon masyarakatnya santun, jujur, dan taat menjalankan tuntunan Islam sebagai agama mayoritas, belakangan kata itu semakin membahana, menyusupi relung-relung kehidupan masyarakat urban di tengah hingar bingar suasana perkotaan yang seolah-seolah semakin religius. Lihat saja, mulai dari ekonomi syariah dan segala turunanya seperti perbankan, pegadaian, dan asuransi syariah, dll. sekolah syariah, wisata syariah, fashion syariah, hukum syariah dan yang terbaru dan cukup menggelikan adalah dengan diterbitkanya perda syariah ‘wanita tidak boleh ngangkang’ di sebuah kota yang menasbihkan diri sebagai serambi kota Mekah, kota suci umat muslim di seluruh dunia. Kemudian, yang menjadi pertanyaan besar buat saya dan mungkin teman-teman semua adalah benarkah penerapan syariah itu seindah namanya?

Lalu, jika ada sebuah negeri yang sekuler. Negeri yang konon masyarakatnya mulai meninggalkan agamanya. Di sebuah negeri dimana tempat-tempat ibadah  menjadi sepi, ditinggalkan para jamaahnya. Benarkah tata kehidupan mereka begitu mengerikan? karena mereka tak lagi mendasarkan tata kehidupan mereka pada pedoman kitab suci.

Lewat catatan sederhana nan dangkal pengetahuan ini, saya ingin menuliskan sebuah fakta, bukan sebuah wacana atau sebuah ilusi belaka. Ketika, Tuhan menakdirkan saya untuk melihat, dan merasakan dengan mata dan hati saya sendiri pada sebuah kehidupan umat manusia di dua negeri yang sangat berbeda. Dua negeri di belahan bumi yang berbeda. Satu negeri dengan masyarakat yang sangat religius dan satu negeri dengan masyarakat yang sekuler. Dua negeri itu bernama Indonesia Raya dan Britania raya.

[Bersambung]


Orang-Orang berkepribadian “Extravert” [Bagian 1]

Pernah ndak ketemu orang, ketika pertama kali ketemu langsung sak jek sak nyek [baca: sekonyong-konyong] sok uakrab buanget, bahkan seolah2 soulmate anda. Saya bukanlah orang yang pernah belajar psikologi, jadi saya kurang tahu apa istilah untuk orang dengan kepribadian extrovert yang berlebih-lebihan ini. Okelah, biar Saya menamakan dengan istilah saya sendiri, “Ekstravert”  [ hue he… istilah yang sangat ngawur……:p].

Dengan sedikit orang-orang yang berkepribadian ektravert ini, saya pernah punya dua pengalaman menarik. Pengalaman yang sangat Istimewa tentunya bagi saya, seseorang yang ambivert – bukan Introvert dan Juga Ekstrovert-. Saya pikir, hanya sedikit sekali [kalau digambar dengan kurva distribusi normal ye, ini adalah bagian sedikit banget disisi paling kanan kurva].

Pengalaman Pertama : Perjalanan Malam Kereta Bandung-Surabaya.

Pengalaman ini terjadi di penghujung Tahun 2006, ketika saya masih bekerja di PT SEIN Jakarta. Ceritanya Liburan panjang akhir tahun, dalam perjalananJakarta-Bandung-Surabaya-Banyuwangi. Saya yang lagi SoloTrip itu kebetulan dapat tempat duduk dengan seorang Tante-tante. Dia begitu welcome dengan saya, dia langsung mengajak kenalan. Kemudian dia bercerita tentang perjalanan hidup nya yang berliku, dia terus dan terus bercerita sepanjang perjalanan Bandung-Surabaya. Si Tante juga menawarkan makanan kepada saya, dan yang agak kurang ajar dia menyandarkan kepalanya di Punggung saya. Saya pun lebih banyak diam, dan menjadi Pendengar Baik mendengarkan Tante Bercerita.

Ceritanya Si Tante yang lumayan cantik dan berkulit putih bersih itu, mengaku berasal dari keluarga Santri. Bapak dan Ibuknya adalah tokoh agama [Islam], yang juga pengusaha keramik di kampungnya di Tulung Agung. Sampai suatu saat dia mendapatkan ujian terberat dalam hidupnya, Suami Tercintanya kecantol  dengan adik kandung nya sendiri. Adiknya, yang Muslimah Berjilbab itu ternyata mampu membuat keputusan Suami Tante untuk menceraikan Si Tante dan menikah dengan Adik kandung Si Tante.

Ujian sangat berat buat Tante tentunya, Suami tercintanya direbut oleh adek kandung nya sendiri. Rupanya ujian itu mampu menjebol benteng kesabaran Si Tante. Si Tante hatinya sangat marah sekali, hingga akhirnya dia membuat keputusan untuk memutus Tali Silaturrahim dengan semua keluarga nya di Tulung Agung. Si Tante minggat ke Surabaya tanpa tentu arah. Dia ngekost di salah satu tempat di Bilangan Bratang Surabaya.

Sampai suatu saat, Si Tante ketemu dengan seseorang yang sangat Inspiring bagi Dia. Dimana di saat tak seorang pun, bahkan keluarganya sendiri, tidak ada yang peduli dengan keadaanya. Muncul seseorang, bak dewi penyelamat, yang sangat baik dan perhatian dengan Si Tante. Rupa-rupanya seseorang yang Inspiring itu adalah seorang perempuan aktivis Gereja Britani di Surabaya. Hingga akhirnya pada suatu saat Si Tante melakukan keputusan yang kontroversial, Berpindah Agama. Satu hal yang paling mendorong keputusan nya ini adalah bayang-bayang adik kandung nya sendiri, yang sok muslimah alim berjilbab, tetapi tega-teganya merebut suami tercintanya.

Dan hidup Si Tante pun terus berjalan, dia bekerja apa saja di Surabaya sekedar hanya untuk menyambung hidup. Dia merasakan hidupnya lebih tenang dan bermakna sebagai seorang kristiani. Hingga suatu saat Si Tante mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di Keluarga Kristen sangat kaya raya di Kota Bandung. Si Tante bercerita betapa baiknya Keluarga itu. Bagaimana dia diperlakukan seperti layaknya keluarga nya sendiri. Si tante merasa menjadi sebagai bagian dari keluarga itu, bukan sebagai pembantu dari keluarga itu. Ketika dia pulang itu pun Keluarga baru tante itu menyempatkan diri mengantar sampai di Stasiun Bandung.

Desember tahun itu, menjadi Natal yang berbeda buat tante. Si Tante tak lagi mendapatkan kedamaian Natal seperti tahun-tahun sebelumnya. Natal tahun itu tak mampu menyejukkan hati tante yang gersang dan tandus. Di Perjalanan Bandung-Surabaya itu si Tante menceritakan kegersangan hatinya kepada saya. Dia berada dalam kebimbangan yang sangat luar biasa. Di Idul Adha yang akan datang itu Si Tante berencana mau kembali ke Islam, dan meminta maaf kepada Bapak/Ibu dan keluarganya di Tulung Agung.

Cerita yang menarik sekali buat saya. Sampai di Surabaya kami pun akhirnya berpisah. Si Tante meninggalkan alamat, no telpon, no. hp baik di Surabaya maupun di Tulung Agung [Bahkan nama kedua orang tuanya] untuk saya. Begitu Sebaliknya. Si Tante begitu mengharapkan saya bisa main ke tempatnya baik di Surabaya maupun Di Tulung Agung.

Entahlah, apa kabar Si Tante itu Sekarang. Saya belum sempat main ke rumahnya. Dan kehilangan kontak dengan Si Tante. Mudah2an si Tante kembali ke Jalan yang benar.

[Bersambung ke Bagian 2 ]


itulah sebabnya mengapa saya sangat mendukung spirit Islam moderat yang menyebarkan semangat Toleransi, Pluralisme, dan Demokratis

Beberapa hari ini hati saya kembali dibuat miris.
Pasalnya, belum genap sebulan Amrozi Cs Pelaku Bom BALI dihukum mati.
Tindakan kekerasan (pembunuhan dengan BOM) mengatasnamakan agama
kembali terjadi di India dengan korban lebih dari 150 jiwa.
Sungguh Agama yang dibawa adalah ISLAM, agama ku, agama kamu, dan agama kita.
Islam yang dari leterlek katanya berararti “Selamat”, “Damai”, “Menyerahkan diri”.

Masih hangat peristiwa terorisme berdarah di India dari headline berita di seluruh dunia,
kekerasan dan pembunuhan mengatasnamakan agama kembali terjadi di Negeria,
dengan korban nyawa setidaknya 367 melayang akibat pertikaian agama Islam dan Kristen. Dua agama yang root nya dari Bapak para Nabi yang sama Ibrahim As.

ya Allah… ya Tuhan… kenapakah ini harus terjadi?
dan akankah ini akan terus terjadi?
Inikah yang Kau perintah kepada hambamu, menggunakan kekerasan atas nama
membela Mu dan Agama Mu?
Saya paham ya Allah ya Tuhan… ini bukanlah sama sekali spirit dari Islam.
Bukankah Engkau yang mengajarkan kami kasih sayang, dengan sifat Rahman dan Rahim Mu?
Tetapi mengapa mereka berbuat begitu, ya Tuhanku?

Itulah sebabnya saya pribadi sangat mendukung untuk menebarkan islam moderat,
yang mengusung semangat pluralisme, toleran, dan demokratis.
Meskipun beberapa saudara-saudara saya, di masjid-masjid kampus.
di lembaga-lembaga dakwah jurusan di kampus-kampus, di beberapa harokah.
mengatakan Pluralisme dan Demokrasi adalah “ghazwul Fikri” perang pemikiran
yang sengaja digelontorkan ‘Barat’ untuk menghancurkan Islam dari dalam.
Itulah sebabnya ketika beberapa saudara saya, mengingatkan saya untuk berhati-hati dan menjauhi JIL, Gus Dur, Cak Nur, Wahid Institute Cs.
saya orang yang pertama say “No!”

Jikalau Islam disebarkan sebagai agama yang eksklusif, agama yang Intolerant dengan agama lain, agama yang diikuti dengan semangat keberagamaan yang menggebu2, pola pikir yang sempit, fanatik dan radikal.

Korban2 itu akan terus dan terus berjatuhan. Alih2 Membela, Meninggikan Agama Tuhan.
Justru mencoreng, merobohkan, dan merendahkan Agama Tuhan itu sendiri.
Emang Tuhan butuh untuk dibela?

Bukankah Islam ini adalah Rahmatallil’alamin…
Bukankah Islam ini adalah agama Rahmat bagi seluruh Alam?

Sekedar coretan kegelisahan Jiwa….
01-12-2008
Cak Shon