Perempuan Luar Biasa Ini Membuat Saya ‘Speechless’

” Kalau melakukan sesuatu itu, harus dengan ikhlas. Dengan ikhlas tidak usah berfikir reward segala macam. Kalau dilakukan dengan ikhlas, sungguh-sungguh dan itu bisa mendatangkan manfaat, buat orang banyak. Yakinlah, Allah pasti memberikan balasan yang setimpal, yang luar biasa. Ikhlas dan tulus itu harus menjadi dasar dari semua pekerjaan yang kita lakukan” – Tri Mumpuni

Tri Mumpuni (http://www.dw.com/)

Ketika lulus kuliah S1 dulu, saya pernah mencicipi bekerja di sebuah BUMN. Pernah juga di swasta, dan terakhir seperti teman-teman kebanyakan, hijrah ke Jakarta,  kalau boleh meminjam kata-katanya Rendra, menjadi layang-layang di ibu kota. Mengejar karir bergengsi, berduit banyak, di salah satu perusahaan asing yang sangat populer namanya di bidang IT.  Entahlah, saya tidak pernah bisa menikmati hidup layaknya orang-orang kantoran di Jakarta. Sibuk kerja dari pagi hingga malam, hanya untuk mengejar gaya hidup. Rumah, kendaraan, dan liburan yang mewah untuk kepentingan sendiri.  Hati saya berontak bahwa hidup seharusnya bukan seperti itu.  Akhirnya saya putuskan resign dari pekerjaan dan meninggalkan Indonesia untuk lanjut sekolah.

Sepulang sekolah, saya mengabdi ke kampus almamater saya sebagai dosen. Pengalaman menjadi Teaching Assistant selama sekolah S2, membuat saya menemukan kebahagiaan tersendiri ketika bisa berbagi ilmu dengan para mahasiswa, itulah sebabnya saya mau menjadi dosen, meskipun sebelumnya saya tidak pernah bercita-cita untuk itu. Mengajar, Meniliti, dan Mengabdi masyarakat, sunggu pekerjaan yang terdengar begitu mulia sekali. Tetapi, seiring berjalanya waktu, saya sadar ternyata dunia akademik tak seideal yang saya bayangkan. Sama aja ternyata, ujung-ujung nya juga duit. Proposal penelitian, proposal pengabdian masyarakat dalam prakteknya, masih banyak yang menerjemahkan sebagai alat untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Atau untuk mendapatkan nilai kum, yang ujung-ujung nya juga untuk mendapatkan tunjangan penghasilan pendapatan. Tidak heran jika pada akhirnya, kontribusi Perguruan Tinggi ke pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan masyarakat nyaris nol besar. Pernah saya merenung, bahkan di dunia akademik yang sangat mulia pun, saya sulit menemukan tauladan hidup yang mulia.

Ketika  saat kembali ke tanah air semakin dekat, saya kembali memikirkan dan membayangkan, hidup seperti apa yang harus saya definiskan kembali setelah kembali ke tanah air nanti. Cari duit sebanyak-banyaknya atau kah bermanfaat sebanyak-banyaknya. Selama bertahun-tahun kyai saya mendoktrinkan bahwa hidup harus bermanfaat buat orang lain sebanyak-banyaknya. Sementara lingkungan saya mengajarkan, bahwa hidup harus bisa menngumpulkan uang sebanyak-banyaknya.  Dan apalah yang bisa saya perbuat dengan diri saya sendiri yang seperti ini.

Hingga, secara sengaja, sebelum tidur kemaren malam, saya menemukan video Perempuan luar biasa ini. Namanya Ibu Tri Mumpuni. Saya menyesal menemukan video itu, kenapa baru sekarang saya mengenal Ibu satu ini. Kemudian, dari video itu saya melakukan riset lebih mendalam tentang Ibu ini. Satu kata: luar biasa sekali. Selanjutnya, I am speechless.  Kalau boleh meminjam, lirik lagunya Sheila on 7:

Ikutilah jalan pikirannya
Oh mengesankan … oh mengesankan

Dengarkan dia ‘bernyanyi’
Kau kan terharu, dan membisu.

Ibu ini, melakoni gambaran definisi hidup ideal yang selama ini hanya ada dalam alam angan-angan saya. Tentang memaknai arti keluarga, tentang memahami keber-agama-an dan kebertuhanan, dan tentang mengabdi kepada ke masyarakat yang sesungguhya.  Lihatlah dan belajarlah dari  jalan pikiran ibu yang luar biasa ini disinidisini, disini, disini, disini, dan disini.

Satu lagu nasional jadul yang sudah lama tidak kita dengarkan ini, ” Bangun Pemudi Pemuda” mungkin sudah dilakoni Bu Mumpuni yang sepatutnya dijadikan pegangan generasimuda dalam berjuang membangun bangsa ini:

Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas. Tak usah banyak bicara trus kerja keras. Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih. Bertingkah laku halus hai putra negri. Bertingkah laku halus hai putra negri

Tentu saja, mewujudkan angan-angan itu menjadi tindakan nyata bukanlah perkara mudah. Semoga, kita diberi kekuatan oleh Allah swt untuk meneladani ibu ini. Sungguh, negeri ini butuh banyak orang-orang seperti beliau ini. Bukan para wakil rakyat dan para pejabat yang tingkahnya makin menjijikkan itu.

Membaca Prof. Komaruddin Hidayat

…. menatap gesture wajahnya menghadirkan kesejukan dan kenyamanan, membaca tulisanya membuat ku seperti tersihir, terperangkap dalam kedalaman ilmunya yang dalam, alam pikiran ku terbawa oleh diskusi yang sangat menggairahkan fikir, tidak sekedar mencerahkan, tetapi juga menentramkan jiwa – A Random Thought.

Mas_Komaruddin_Hidayat

Prof. Komar (Curtesy of : lampost.co)

Rasanya, hampir semua masyarakat Indonesia yang melek informasi, mengenal sosok beliau ini. Wajahnya tak asing sering muncul di layar kaca. Selalu menjadi tokoh rujukan setiap permasalahan kebangsaan, kenegaraan, dan keberagaman di negeri ini. Prof. Komaruddin Hidayat. Seperti namanya, beliau bak rembulan yang menerangi gelapnya permasalahan-permasalahan kompleks negeri ini.

Saya merasa mengenal beliau sejak setahun yang lalu, saat pulang ke Indonesia, mengisi liburan musim dingin dan natal. Saat itu, secara tidak sengaja, selepas ziarah di makam Gus Dur di pesantren Tebu Ireng Jombang, dalam perjalanan pulang, mampir ke toko buku milik koperasi pesantren, yang berada tidak jauh dari kompleks makam. Di toko buku kecil itulah, saya menemukan sebuah buku bersampul dominasi warna hitam yang sangat menarik hati saya. Judulnya: Agama mimiliki seribu nyawa. Berbeda dengan buku-buku yang biasa saya beli sebelum-sebelumnya, hanya terbaca beberapa halaman di depan, habis itu buku itu teranggurkan begitu saja, tanpa pernah selesai membacanya. Buku tulisan Prof. Komaruddin Hidayat pertama yang pernah saya beli ini, begitu menyihir saya.

Baru kali ini, saya merasa begitu nikmat membaca sebuah buku. Sehingga, buku itu habis saya lahap sehari semalam. Membaca buku itu, seperti diajak dalam sebuah diskusi yang sangat menggairahkan fikir. Bahasanya yang sentimentil begitu menyentuh hati. Sehingga tidak hanya mencerahkan fikir, tetapi juga menenangkan jiwa. Setiap tulisanya, membawa saya pada perenungan dan penghayatan hidup yang begitu mendalam.

Kembali ke Nottingham dan kesibukan riset PhD kembali melupakan saya akan sosok Prof. Komaruddin Hidayat. Sampai beberapa hari yang lalu, saya secara tidak sengaja menemukan acara TVRI Jawa Tengah, namanya SAKSI (Satu Kamera Sejuta Inspirasi), yang diupload di youtube. Dari acara yang sangat inspiratif itulah, saya begitu terpesona dengan kepribadian beliau. Saya begitu takjub ternyata ada orang yang jalan pikiranya begitu sejalan dengan jalan pikiranku. Akhirnya, saya ubek-ubek semua video yang ada di youtube. Mungkin ada ratusan video yang sudah saya tonton (niat banget).

Dari situlah, saya merasa bahwa saya telah menemukan mutiara hilang yang selama ini saya cari-cari. Sosok teladan yang selama ini tak jua saya temukan. Sejak lulus pesantren dan kuliah, entahlah tidak ada sosok teladan yang masih hidup yang menurut saya ideal untuk saya jadikan role model. Tidak ada sosok yang bisa menggantikan kyai-kyai saya di pesantren, yang waktu saya kuliah satu persatu dipanggil oleh Allah. Sering saya merasa iri pada teman kuliah dari fakultas lain yang begitu terinspirasi oleh dosen-dosen nya. Tetapi entahlah saya belum juga menemukan figur-figur teladan ideal itu yang sreg di hati.

Kerinduan akan sosok teladan itu semakin menjadi-jadi ketika saya mengawali karir sebagai dosen. Sungguh, di awal perjalanan karir itu saya membutuhkan sosok yang seharusnya bisa saya jadikan contoh ideal di karir saya. Tetapi, tak ada satu pun juga yang sreg di hati. Menjadi dosen, ternyata tak seideal yang saya bayangkan sebelumnya. Banyak ternyata yang menjadikan dosen sebagai status sosial di tengah-tengah masyarakat, selebihnya lebih asyik mencari duit besar di luar kampus. Nyaris saya belum menemukan dosen yang begitu mencintai dan menghayati profesinya sebagi dosen. Sampai-sampai ada sindiran, GBHN, Guru Besar (baca: Professor) Hanya Nama. Ironis sekali, saya baru tahu ternyata banyak profesor yang ternyata tidak melakukan riset sama sekali.

Rupanya, sosok Prof. Komaruddin Hidayat inilah sosok teladan yang saya cari-cari itu selama ini. Seperti seorang ABG yang mengidolakan artis idolanya, mungkin seperti itulah saya mengidolakan beliau. Seorang dosen yang sangat mencintai dan menghayati pekerjaanya. Bukan sekedar profesor yang tiarap di belakang meja di kampus, tetapi seorang profesor yang mampu menularkan ilmunya untuk kemanfaatan masyarakat, bangsa dan negara. Berkontribusi besar dalam pengembangan hidup kebangsaan, kenegaraan, dan keberagamaan. Tidak sekedar pintar otaknya, tetapi sungguh mulia akhlaknya. Kerendahhatianya, terpancar pada senyum, keramahan, dan sikapnya yang membuat nyaman siapa saja yang berada di dekatnya.

Entahlah, saya tidak tahu kenapa saya gandrung dengan beliau. Mungkin kesamaan latar belakang pendidikan pesantren dan keluarga orang biasa yang membuat alam pikiran saya begitu sejalan dengan alam pikiran beliau. Saking gandrungnya, di akhir pekan lalu saya habiskan waktu saya hanya untuk membaca ratusan artikel beliau. Gila, baru kali ini saya membaca artikel sebanyak itu terus-terusan. Sampai artikel-artikel itu saya kliping dalam satu blog disini. Ketika beberapa tulisan itu saya share ke beberapa teman saya, teman-teman saya kok merasa biasa-biasa saja, malah ada yang bilang tulisanya berat, tidak mudah dipahami. Argh, mungkin saya saja yang terlalu lebay. Tetapi, bersyukur rasanya, telah kutemukan teladan hidup, yang saya cari-cari selama ini, itu. Terima kasih Prof. Komaruddin Hidayat atas inspirasinya. Terima kasih telah membangkitkan gairah hidup saya yang sering kali tidak begitu bergairah.