Advertisements

Tag Archives: inggris

Resensi Buku : Tuhan Pasti Ahli Matematika

… untuk kebutuhan hidup, saya bekerja apa saja yang saya bisa, seperti memberi les dan asistensi. Untuk makan, saya juga menjadi penyelundup kecil-kecilan di acara-acara resepsi. Tiap Sabtu dan Minggu saya keliling hotel dan gedung-gedung resepsi dengan pakain rapi  untuk mencicipi hidangan orang-orang kaya tanpa saya tahu siapa yang sedang hajatan – Hadi Susanto

Tuhan_ahli_Matematika

Cover Buku Tuhan Pasti Ahli Matematika

Alkisah, seorang kawan saya di Indonesia, sebut saja namanya Pak Yadin, yang sangat mulia hatinya, memberi hadiah sebuah buku yang sangat istimewa, judulnya: Tuhan Pasti Ahli Matematika. Ditulis oleh seorang yang sangat istimewa buat saya: Dr Hadi Susanto, seorang anak muda Indonesia, seorang dosen matematika dengan jabatan akademik sebagai Associate Professor di Universitas Essex, Inggris. Yang juga ketua pengurus cabang istimewa Nahdlatul Ulama United Kingdom (PCINU UK). Buku tersebut dititipkan ke seorang calon mahasiswa S3 sang penulis yang baru saja datang ke UK, dan diserahkan secara langsung oleh penulis kepada saya pada satu acara yang sangat istimewa di London. Bonus tanda tangan dan foto bersama dengan sang penulis pula (walaupun sudah berkali-kali foto bareng beliau, salah duanya disini dan disini :p). Betapa beruntung dan istimewanya saya, bukan? Hehehe.

Tuhan_Pasti_Ahli_Matematika

Dengan sang Penulis

Alhamdulilah, dalam sekali leyeh-leyeh manja di kasur, aka berlumajang (ber lumah-lumah di ranjang) ria :p  di hari minggu pagi, saya selesai membaca buku setebal 184 halaman ini. Saya baca mulai dari bab 4, bab terakhir, dan berakhir di bab pertama. Hehe, agak anti-mainstream. Tapi jangan protes dulu, buku ini memang kumpulan artikel lepas Bro! so, sampean bisa baca dengan urutan sakenak udele sampean.

Selain berisi catatan penulis tentang penghayatan beliau akan matematika, bidang yang penulis gandrungi dari SD hingga saat ini, dalam kehidupan sehari-hari. Dimana beliau dengan sangat sederhana bisa menjelaskan konsep-konsep matematika yang selama ini dianggap ruwet oleh orang-orang awam, dalam konteks hal-hal di sekitar kita sehari-sehari, seperti noda tumpahan kopi, yang biasa saya lap setiap hari karena tuntutan profesi, eih ternyata sudah ada rumus matematikanya. Hal yang paling menarik bagi saya dari buku ini adalah kisah perjalanan beliau dari menjadi cah ndeso anak orang dengan berpenghasilan pas-pasan di pelosok Desa Cikunir, Lumajang, Jawa Timur, kemudian hijarah ke kota Bandung, ke Belanda, ke Amerika Serikat, hingga menjadi orang besar di Inggris seperti sekarang.

Beberapa episode kehidupan sang penulis sebelum menjadi seperti sekarang, penuh dengan cerita yang mengharukan namun penuh pelajaran buat kita semua. Mungkin susah dibayangkan buat ukuran anak jaman sekarang, bagaimana dia setiap hari harus ngontel sejauh 13 km ke sekolah. Dan juga mungkin susah dibayangkan buat orang tua jaman sekarang, bagaimana orang tua penulis, yang hanya lulusan SD itu, rela menjual lapak jualan satu-satunya di pasar, demi biaya masuk kuliah di ITB. Perjuangan penulis untuk bertahan hidup sambil kuliah di Bandung bisa menguras air mata tapi dalam waktu yang sama juga bisa mengundang tawa. Tetapi semua perjuangan phait itu berubah menjadi manis pada akhirnya.

Dari tulisan-tulisan dalam buku ini, saya semakin yakin bahwa justru segala kesulitan, hambatan, rintangan itu jika disertai dengan kesabaran dan kesungguhan, justru bisa menjadi pelecut untuk meraih kesuksesan yang luar biasa. Dan sebaliknya, berbagai kemudahan sering kali malah ‘membunuh’ kita.

Sebenarnya, cerita sengsaranya keadaan penulis dan keluarga Penulis sebagaimana diceritakan dalam buku ini tidak unik. Sampai sekarang pun, saya yakin masih ada jutaan anak-anak Indonesia di pelosok-pelosok negeri , termasuk di pulau Jawa sendiri yang bernasib sama dengan masa kecil penulis bahkan lebih mengenaskan. Hanya saja mereka tidak seberuntung sang penulis buku ini, mereka hanyalah silent majority yang nyaris tak pernah terdengar di media, meskipun jumlahnya mayoritas.

Karenanya, semoga buku ini bisa menjadi inspirasi bagi cah-cah ndeso (termasuk saya :p) yang akrab dengan kesederhanaan, keterbatasan, dan kekurangan untuk berani bermimpi dan melawan segala keterbatasan itu dan mengubahnya menjadi energi untuk meraih prestasi setingg-setingginya. Apalagi sekarang sudah ada beasiswa bidik misi, yang diinisiasi oleh  Bapak Muhammad Nuh , ketika menjabat sebagai rektor ITS, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sehingga cerita tidak bisa bayar SPP dan tidak bisa makan di kampus-kampus terbaik di kota-kota besar di Indonesia, apalagi sampai menjadi penyusup di resepsi :p, tidak perlu terjadi kembali lagi. Cerita hidup penulis dalam buku ini juga bisa menjadi bukti, bahwa pendidikan yang baik mampus menaikkan kelas sosial seseorang, bahwa pendidikan mampu memutus rantai kemiskininan.

Buku ini juga bisa menjadi tamparan buat anak-anak yang selalu dikelilingi berbagai fasilitas dan kemudahan. Mereka yang merubah pemandangan parkiran kampus-kampus rakyat dari parkiran sepeda onthel dan motor butut yang bersahaja, menjadi tak ubahnya show room mobil-mobil mewah yang menteror mental mahasiswa miskin di kampus. Kalau yang penuh keterbatasan dan keprihatinan saja bisa meraih prestasi luar biasa, lalu mereka yang penuh kemudahan dan fasilitas mewah itu bisa berprestasi lebih apa selain menang lebih bergaya?

Buku ini juga bisa menjadi bahan energi semangat baru, buat teman-teman yang sedang merasa ‘lelah’ dan ‘letih’ dalam beratnya perjuangan, khususnya yang sedang berjuang menyelesaikan studinya. Seperti yang diungkapkan beliau:

…. bagi mereka yang saat ini sedang diuji oleh Allah dengan perjuangan, saat badan terasa begitu lelah dan hati menjadi gundah, rebahkanlah badan kita sejenak dan bersujudlah dalam-dalam kepada-Nya. Sampaikan segala keluh kesah kepada Dia yang Maha Kasih. Mudah-mudahan Dia segera mengajari kita untuk menikmati perjuangan yang sedang menjadi episode kehidupan kita ini.

Akhirnya, selamat membaca buku inspiratif ini kawan ! Eits, tapi jangan lupa beli dulu bukunya :p, bisa dibeli online disini.

Advertisements

Negeri yang Ramah untuk Penyandang Cacat, Lansia, dan Anak Kecil

“…  Manusia adalah Manusia. Kita sama, dilahirkan di dunia bukan karena kehendak kita sendiri, tapi kehendak Dia yang memberi hidup. Sudah seharusnya, kita memperlakukan manusia sama, tanpa membedakan tampilan atau bahkan kekurangan secara fisik. Manusia bisa berpura-pura. Tetapi Tuhan melihat hati kita, bukan tampilan luar kita bukan? ” – Random Thought

disable_turun_bus

*)Seorang Difable Turun dari Bus Umum

Pagi itu saya sedang duduk di sebuah halte Bus bersama seorang kawan, habis belanja di sebuah supermarket yang khusus menjual makanan dan bahan makanan asia terbesar di kota Nottingham. Kami tidak sedang menunggu bus, tetapi sekedar melepas lelah dan mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan jalan kaki ke rumah. Selang beberapa menit, ada sebuah bus berhenti hendak menurunkan penumpang. Tidak seperti biasanya, sopir bus itu turun dan mematikan mesin bus. Kemudian dia menarik lidah pintu bus dan meletakkan di bibir trotoar jalan. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki paruh baya dengan kursi roda turun dari Bus. Dia nampak sangat bahagia, sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih dan menyalami sang sopir. Setelah lelaki berkursi roda itu turun, baru sang sopir mempersilahkan beberapa calon penumpang naik bus.

Sungguh, sebuah pemandangan kemanusiaan yang sangat indah bukan? bagaimana seorang manusia yang kebetulan menjalani takdir hidupnya sebagai orang cacat diperlakukan dengan sangat manusiawi. Setiap manusia berhati nurani, tentunya mengiyakan begitulah seharusnya kita memperlakukan sesama manusia. Kita manusia memiliki hak untuk diperlukan sama.

disable
*)Seorang Difable Naik Kereta Api

Di negeri Inggris inilah saya belajar banyak tentang kemanusian. Bukan dalam teori tanpa arti, tetapi bagaimana prinsip-prinsip kemanusiaan dihargai dan diterapkan. Bagaimana manusia seharusnya memanusiakan manusia. Pemandangan kemanusiaan di atas bukan sekali dua kali saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri, tetapi berkali-kali. Diantara banyak hal yang saya belajar tentang kemanusiaaan adalah tentang bagaimana mereka memperlakukan orang cacat, lansia dan anak kecil.

disable_naikmobil
*)Penyandang Difable Naik Mobil Carteran

Di pelayanan akses public transport misalnya. Sudah menjadi standar wajib, bahwa semua public transport bisa diakses oleh kaum difabel. Selain pintu masuk yang bisa diakses, di dalam bus, kereta, dan public transport lainya harus menyediakan space khusus kaum difabel ini. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau para difabel ini tinggal di Jakarta, buat orang normal saja sangat tidak ramah, apa lagi buat mereka. Saya masih ingat, bagaimana saya harus super hati-hati setiap mau naik bus way. Jika tidak, saya bisa jatuh dan terperosok ke bawah halte busway yang tinggi itu.

disabale_space
*) Space khusus Difable dalam Bus/Kereta

Demikian juga untuk akses ke gedung. Fardlu ‘ain hukumnya, gedung tersebut harus bisa diakses oleh kaum difabel. Sehingga bisa dipastikan, setiap gedung bertingkat pasti memiliki pintu akses khusus dan lift untuk para difabel ini. Tidak hanya aksesbilitas, fasilitas gedung pun harus ramah untuk penyandang difabel. Toilet salah satunya, di setiap tingkat gedung harus ada toilet yang dirancang khusus untuk difabel.

toilet_disable_people
*)Toilet Khusus Para Difable

Tempat parkir pun menyediakan space khusus buat difabel. Anda orang normal akan kena denda jika menggunakan space ini. Saya jadi ingat berita di koran beberapa waktu yang lalu. Ada seorang anggota parlemen Inggris yang mengundurkan diri, gara-gara ketahuan menggunakan space parkir khusus untuk difabel. Dia menebus rasa bersalahnya yang dalam itu dengan mengundurkan diri dari parlemen. Padahal, hal itu terpaksa dia lakukan karena space parkir di sebuah pusat perbelanjaan sudah penuh semua. Sungguh, sebuah keteladanan tentang memiliki rasa malu yang perlu ditiru bukan?

disable_parking_space
*)Parking Space khusus buat difable

Bagaimana dengan anggota DPR di Indonesia? Rasanya belum pernah mendengar, ada anggota DPR yang mengundurkan diri karena merasa bersalah dengan rakyat. Padahal, mereka punya dosa besar sama rakyat.


*) Parking space khusus Difable

Di lingkungan akademik demikian juga, untuk menjamin aksesbilitas yang sama, kampus menyediakan pelayanan khusus buat para difabel. Ruang kuliah misalnya, harus dilengkapi dengan alat bantu dengar. Demikian juga untuk yang cacat mata dan wicara, dan cacat tidak bisa menulis, kampus memberikan pelayanan khusus dengan memberikan asisten khusus yang bisa membantu note taking atau membacakan buku bacaan. 

disable_tunarungu
*) Alat Bantu Pendengaran di Bangku Kuliah

Tidak hanya yang cacat fisik. Yang cacat mental pun mendapatkan perlakuan khusus. Seperti kelainan dyslexia yang sangat populer di Inggris. Untuk ujian pun mereka diperlakukan khusus. Saya pernah menjaga ujian untuk orang-orang berkebutuhan khusus ini. Umumnya, mereka diberi waktu yang lebih lama dari mahasiswa normal. Setiap satu jam mereka diberi waktu untuk istirahat selama 15 menit. Ternyata ada diantara mereka yang ternyata memang harus jalan muter-muter setiap satu jam sekali. Mereka memiliki kesulitan untuk belajar, seperti tidak bisa berkonsentrasi lama, kesulitan membaca dan sebagainya. Setelah ujian selesai, buku jawaban mereka dikasih stiker khusus yang isinya memberi tahu ke dosen yang ngajar agar tidak memberi penalti jika ada kesalahan dalam susunan bahasa.

disable_parking
*)parking space untuk Orangtua dengan Anak Kecil

Negeri Inggris ini tidak hanya ramah kepada kaum difabel, tetapi juga ramah buat orang lansia dan anak-anak. Untuk kaum lansia, di tempat-tempat umum biasanya disediakan skuter elektrik yang bisa mereka naiki secara gratis. Demikian juga untuk anak-anak, Seperti trolly belanja di bawah ini, yang di desain khusus buat mereka yang belanja bersama anak kecil.

disable_keranjangbelanjaanak
*)Keranjang Belanja untuk Orang tua dan Anak

Indah, sungguh indah memang jika kita bisa memanusiakan manusia. Siapa sih yang ingin dilahirkan dalam kondisi cacat atau karena sesuatu hal yang membuat kita cacat? Semua tentu bukan kehendak kita bukan? Tuhan punya alasan di balik itu. Bersyukurlah kita yang dilahirkan secara normal. Dan sebagai orang normal sudah seharusnya kita memperlakukan mereka yang berkebutuhan khusus tanpa diskriminasi. Mereka harus kita bantu mendapatkan aksesbilitas yang sama dengan kita.

Di Indonesia, seharusnya sudah ada undang-undang yang melindungi hak-hak aksesbilitas kaum difabel ini. Tapi entahlah, apa saja yang dilakukan anggota DPR itu? Ketika mereka menghabiskan duit rakyat untuk studi banding ke Inggris, apakah mereka tidak melihat bagaimana Inggris memperlakukan orang difabel ini? Itu yang seharusnya mereka pelajari. Entahlah, mungkin hati nurani mereka sedang tertutup awan. Sebagai rakyat jelata, saya hanya bisa berdoa, semoga saja, sahabat-sahabat saya yang kebetulan ditakdirkan berkebutuhan khusus, segera mendapatkan fasilitas dan diperlakukan seperti para difabel di Inggris ini. Semoga saja !


kehilangan HP di Kota Hull, Inggris : belajar kejujuran dari orang Inggris

.. salah satu hal yang saya kagumi dari budaya orang Inggris adalah budaya Jujur, yang belakangan jadi barang mahal di Indonesia.

salah_satu_sudut_kota_hull
*) Salah satu sudut kota Hull, Inggris.

Manusia memang tidak ada yang sempurna. Orang-orang  yang saya anggap sangat sempurna pun, pada akhirnya saya harus mengakui kekuranganya . Apalagi saya? yang tak sedikit pun terlihat sempurna. Salah satu dari sekian banyak kelemahan saya adalah tidak bisa merawat barang milik dengan baik. Sejak mengenal yang namanya pulpen (ball point) rasanya belum pernah saya menyaksikan nya habis tinta. Semuanya hilang begitu saja,  tidak tau entah dimana rimbanya.

Begitu juga sejak mengenal yang namanya Handphone. Saya pernah kehilangan Handphone di angkot, bus, taxi, kereta api, bahkan di kapal laut. Hanya di pesawat dan mobil pribadi saja rasanya yang belum pernah. Itu pun, karena saya memang jarang naik pesawat dan belum pernah punya mobil pribadi, hehe. Meskipun bisa di miss call, sepanjang sejarah kehilangan handphone, belum satu pun yang pada akhirnya balik lagi di tangan. Hal berbeda ketika pada akhirnya saya harus juga kehilangan handphone di Inggris, tepatnya di kota Hull.

Waktu itu, di sebuah akhir pekan pada musim panas saya berkunjung ke salah seorang teman di Kota Hull yang biasa saya panggil Uda Isa,  Sang penyair putra sastrawan kesohor dari tanah Minang di kota Padang. Perjalanan ke kota Hul bisa ditempuh dalam waktu 3.5 jam dengan kereta api dari kota Nottingham, tempat saya tinggal.

Untuk mendapatkan tiket kereta paling murah, saya memilih jadwal keberangkatan setelah pukul 8 malam, dan sampai di kota Hull menjelang tengah malam. Dari stasiun kota Hull, saya bersama teman saya yang menjemput di stasiun naik Bus umum terakhir menuju rumah teman saya tersebut. Meskipun bus terakhir menjelang tengah malam, masih ada saja beberapa penumpang.

Di dalam bus, saya asyik ngobrol dengan teman saya. Sangking asyiknya ngobrol, saya harus tergopoh-gopoh turun dari Bus ketika Bus sampai di halte terdekat dengan rumah teman saya. Dan, pada akhirnya saya harus gigit jari, ketika saya sadar bahwa salah satu dari dua handphone saya hilang. Biar tidak kecewa, saya selalu berusaha mengikhlaskan nya dengan merasa tidak pernah memilinya. Ya, kita hanya merasa kehilangan kalau kita merasa memilikinya. Dan bukankah semua atribut keduniawian kita ini hanya sekedar titipan Tuhan, sang Maha Pemilik segala sesuatu sesungguhnya.

Tetapi untuk ikhlas tidaklah pernah semudah mengucapkanya. Saya coba misscall hanphone itu sampai 3 kali, tetapi tidak ada yang mengangkat. Kemudian saya SMS, agar siapa pun yang menemukan handphone itu untuk menghubungi nomor saya, tetapi tidak ada balasan sms sama sekali. Pada akhirnya, sedikit kesedihan itu lenyap begitu saja, terhapus oleh kehangatan kebersamaan dengan teman-teman di Hull dan keindahan suasana kota Hull yang menenangkan dan menentramkan jiwa. Saat itu, teman-teman Indonesia di Hull sedang mengadakan acara perayaan idul fitri sekaligus kemerdekaan RI.

***
hp_ketemu_diHull
*)Handphone Saya Kembali

Hari senin saya kembali ke aktivitas normal biasa, menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer di Lab. Tiba-tiba, ada telepon masuk dari nomor telepon land-line yang tidak saya kenal. Rupanya, seorang perempuan ramah mengaku dari kantor perusahaan Bus di Hull. Dia bercerita kalau handphone saya ditemukan  di dalam Bus. Oleh sebab itu dia meminta alamat saya di Nottingham, dan handphone saya akan dikirim lewat pos.

Benar saja, dua hari kemudian sebuah paket pos berisi handphone saya yang hilang sampai di rumah saya di Nottingham. Sebagai orang yang sering kehilangan handphone yang tak pernah sekalipun menemukan nya kembali, peristiwa ini benar-benar mengharukan hati saya. Kejujuran perusahaan Bus di kota Hull itu telah menyentuh nurani saya untuk dapat merasakan betapa indahnya sebuah kejujuran. Mereka sama sekali tidak mempersulit dengan meminta bukti apapun seperti surat kehilangan kepolisian, bahkan mereka harus mengeluarkan biaya pengiriman handphone saya.

Satu lagi, setelah saya buka ternyata sms yang pernah saya kirim belum terbaca. Saya yakin, ini semata-mata mereka sangat menghargai privasi orang lain. Itulah indahnya kejujuran dan kebaikan dan ketulusan hati. Semoga hati-hati kita semua masih memilikinya.


Hari ini, setahun yang lalu

refleksi

Hari ini, setahun yang lalu.
Aku membuat langkah kecil pertama ku.
Di kota mu, Nottingham.
Dengan sebongkah harapan,
dan baris-baris do’a.
untuk sebuah level pendidikan bernama PhD.

Ada ketakutan dan keraguan,
Tapi keyakinanku membuat ku terus melangkah.
Hingga waktu pun berlalu,
Dan aku baru tersadar ini sudah setahun yang lalu.

Aku pernah hampir putus asa,
Aku pernah luruh dalam titik kepercayaan diri terendah,
Tapi rapalan doa-doa ku mampu menepis semuanya.
Hingga aku harus bersyukur aku lulus ujian tahun pertama ku.

Romantisnya daun-daun yang berguguran musim gugur,
Dinginya butiran salju di musim dingin,
Indahnya rupa warna bunga-bunga di musim semi,
Dan hangat nya mentari di musim panas,
Semua mengajarkan bahwa hidup akan terus berubah,
dan bahwa tidak ada keabadian.
Tak ada tawa yang abadi, pun tak ada tangis selamanya.

Aku pernah merasa kehilangan kehangatan keluarga ku,
dan juga keakraban teman dan sahabat-sahabat ku.
Namun, waktu mempertemukan ku dengan sahabat dan keluarga baru ku disini.

Terima kasih Tuhan, atas pengalaman berharga ini.
Yang telah kau langkahkan kaki ini, menyusuri kota-kota indah di bumi Mu ini.
Leicaster, Lincoln, Edensor, London, Liverpool, Birmingham, Whitby, Manchester,
Lancaster, Conventry, Oxford, Aberdeen, Edinburgh, Loughborough, Cambridge, Hull,
Ghent, Brussel, Leuven,Eindhoven, Enschede, Derby, Southampton

semua menorehkan pengalaman dan pelajaran hidup yang sangat berarti.

Maafkan untuk setiap detik waktu yang terbuang percuma,
Untuk segal hal perbuatan dan pikiran yang sia-sia.

Dua Pertiga perjalanan panjang masih terbentang di hadapan.
Keraguan itu pun muncul kembali,
Hanya keyakinan dan rapalan do’a-do’a ku kepada Mu Tuhan,
yang mampu menepis nya.

Ya Rabbi bil Mustofa, Baligh Maqasidana, Waghfirlana Ma Madzo
Ya Wasingal Karomi.

Duh Gusti, yang maha luas kemulian Mu.
Mugi Panjenengan ngijabahi cita-cita kami,
dan mengampuni dosa-dosa kami yang lalu.

Mudahkanlah segala urusan-urusan kami,
Bimbinglah selalu kemana langkah kaki ini melangkah,
Aku tunduk dan pasrah terhadap ketetapan takdir Mu.

Allahumma Ammiin.

Nottingham, 18 September 2012-18 September 2013 


London: satu diantara dua kota dalam sebuah mantra pesantren yang bertuah

….berotak London, berhati masjidil haram (mekah)

Dulu waktu saya nyantri di Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan Jombang, ada salah satu moto, jargon, atau apalah yang saya lebih suka menyebutnya mantra ,yang sangat terkenal, yaitu : berotak london, berhati masjidil haram (Mekah). Mantra ini konon mulai populer di kalangan santri secara turun temurun dari generasi ke generasi , sejak salah satu pesantren besar dan termashur di Kabupaten Jombang ini diasuh oleh (alm) Kyai Haji Musta’in Romly (lebih merakyat dipanggil  kyai Ta’in). Kyai Tain adalah kyai karismatik yang sangat tersohor sebagai mursyid (baca: guru) thariqah (gerakan sufisme islam) dengan puluhan ribu jamaahnya pada jaman nya saat itu. Sang kyai adalah juga pendiri Universitas Darul Ulum (UNDAR) Jombang, salah satu universitas swasta Islam terbaik yang alumninya sangat disegani pada masa nya i.e.  sekitar  tahun 80-90 an.

Waktu saya di pondok Njoso (panggilan rakyat untuk pesantren ini), tahun 1999-2002, mantra ini begitu melekat di hati saya. Bagaimana tidak, mantra itu tertulis di back cover buku saku amalan harian santri i.e. istigotsah, tahlil, sholawatan, dll. yang kemana-kemana selalu saya bawa. Di pondok njoso, secara rutin setiap hari selalu diamalkan bacaan istigotsah  setiap ba’da sholat ashar dan ba’da sholat subuh. Buat saya pribadi, mantra itu melahirkan sebuah mimpi.  Diam-diam dari sekedar tulisan tanpa nyawa di back cover buku ini, mantra itu  merasuk dan terhujam kuat dalam hati saya, yang menginspirasi bagaikan ruh yang tak bertuan. Berawal dari menghayalkan indahnya kota London, salah satu simbol kejayaan peradaban manusia saat itu dan mungkin hingga kini, dan juga membayangkan betapa nikmat dan khusuknya berdoa , membasahi keringnya jiwa di tempat suci masjidil haram di kota Mekah itu. Sampai kemudian melahirkan mimpi  dan janji diri bahwa suatu saat saya harus melihat dengan mata dan kepala saya sendiri dua kota Impian tersebut. Walaupun pada saat itu, itu hanyalah sebuah hayalan kosong seorang santri miskin  kampungan belaka.

Sebenarnya, mantra itu adalah sebuah pesan dari Sang kyai untuk para santri untuk tidak mendikotomi ilmu. Kalau bicara pesantren, orang pasti berfikir bahwa pesantren itu adalah tempat belajar ilmu agama, ilmu akhirat saja. Memang ada benarnya, dulu pesantren memang identik dengan tempat orang ngaji (menkaji, red) kitab-kitab klasik (biasa disebut dengan kitab kuning) rujukan ilmu-ilmu agama Islam e.g.  fiqih, hadis, tafsir, bahasa Arab, tasawuf, dll. Pesantren yang seperti ini disebut pesantren Salaf ( jangan salah arti dengan aliran syalafi wahabi yang berbaya itu ya !! ). Pesantren seperti ini, meskipun masih ada, sudah mulai tergilas oleh angkuhnya perubahan jaman yang semakin materialistis.

Pesantren Darul Ulum, sejak dahulu sangat konsisten untuk tidak mendikotomi ilmu menjadi  Ilmu agama dan Ilmu Umum. Ilmu adalah ilmu, semuanya bersumber dari Allah. Para pendiri Darul Ulum berkeyakinan bahwa, dikotomi ilmu itu adalah taktik orang Belanda untuk membodohi umat Islam. Oleh karena itu,di pesantren ini  santri wajib belajar ilmu kedua-keduanya. Tidak boleh belajar ilmu agama atau ilmu umum saja. Pesantren Darul Ulum adalah simbol pesantren yang menggabungkan antara ilmu agama dan ilmu umum, atau dikenal dengan pesantren Khalaf (Modern, red). Tidak mengherankan jika pada akhirnya di pesantren ini berdiri sekolah-sekolah umum dari tingkat SD, SMP, SMA, SMK, hingga Perguruan Tinggi. Yang kualitasnya tidak kalah, bahkan lebih unggul dengan sekolah-sekolah umum di luar pesantren. Diantara sekolah-seklah itu, saya dulu memilih sekolah di STM Telkom Darul Ulum yang saat itu memiliki satu, yaitu Jurusan elektronika komunikasi /Informatika. Dengan alasan pada saat itu Tahun 1999, hal-hal yang berbau teknologi informasi/informatika, terdengar sangat keren sekali di telinga saya.

Mungkin bisa jadi STM Telkom Darul Ulum saat itu  adalah salah satu sekolah dengan jumlah mata pelajaran terbanyak di dunia. Bayangkan, Saat itu, saya sekolah mulai jam 07.00-16.00 setiap hari kecuali hari Jumat. Sistem pembelajaranya, diawali dari membaca Alquran selama 15 menit pertama kemudian diikuti mata pelajaran-mata pelajaran lainya. Mata pelajaran yang harus saya pelajari saat itu sangat banyak sekali, mungkin ada sekitar 35 mata pelajaran. Kenapa demikian? karena sekolah ini menggabungkan 4 kurikulum sekaligus. Pertama adalah kurikulum pesantren, dimana saya harus belajar ilmu bahasa arab modern, nahwu, sharaf, ilmu alquran, tafsir, hadist, fiqih, aqidah, baca kitab kuning, dll.

Kedua kurikulum Nasional STM Jurusan Elektronika komunikasi, ini lebih gila lagi jumlah mata pelajaranya, semua mata pelajaran SMA IPA (minus biologi) ditambah mata pelajaran kejuruan elektonika komunikasi (sama kayak Mata Kuliah Jurusan Elektronika) dimana saya harus belajar sistem digital, rangkaian elektronika, gambar teknik, teknik instalasi listrik, teknik audio video, dll. Saya sampai heran elektronika komunikasi kok ya ada mata pelajaran teknik instalasi listrik (itu kan elektro arus kuat).

Ketiga Kurikulum Informatika. Ceritanya pada tahun 1999 pemerintah belum ada SMK jurusan Teknologi Informasi seperti sekarang. Sehingga tidak ada kurikulum nasional. Tapi rupanya, kyai saya (alm) KH As’ad Umar lebih cerdas duluan menangkap perkembangan jaman, sehingga tahun 1996 memaksa mendirikan STM Telkom dengan jurusan Informatika. Dengan kurikulum lokal ini saya harus belajar bahasa pemrograman, sistem basis data, sistem informasi manajemen, teknik dan sistem komputer, sistem jaringan komputer, dll. Saya masih ingat, betapa senangnya saya saat itu bisa bikin game sederhana pakek bahasa pemorgraman Basic pada saat masih duduk di kelas 1 STM.

Kurukulum yang keempat, yang terakhir adalah Kurikulum Telekomunikasi, ini lebih sadis lagi, tidak ada kurikulum nasionalnya. Guru kami yang ngajar mata pelajaran pada kurikulum ini cuman ada dua orang. Keduanya adalah praktisi di Industri telekomunikasi. Yang pertama, adalah seorang karyawan PT Telkom, alumni STT Telkom Bandung, maaf sekali saya lupa namanya 😀 * murid kurang ajar*. Yang kedua adalah Pak Djungkung Prabowo, seorang karyawan pakarnya jaringan telekomunikasi di PT XL , alumni ITB Bandung. Dari kedua guru hebat ini saya belajar banyak tentang sistem telekomunikasi, teknik jaringan kabel, teknik switching, dll.

Keempat kurikulum ini dicampur aduk  jadi satu di sekolah kami. Jadi abis baca kitab kuning, kita belajar nyolder bikin perangkat elektronika. Habis hafalan hadist kita belajar bikin program. Semua campur aduk jadi satu. Tidak ada ilmu yang dianaktirikan. Semua ilmu sama-sama penting untuk dipelajari. Walaupun ndak kebayang juga waktu itu, betapa banyak ilmu-ilmu yang bersaing untuk  masuk dan mengendap di otak saya. Dan saya tidak pernah tahu mana dari ilmu-ilmu itu yang akan bermanfaat buat kehidupan saya selanjutnya. Selepas sekolah, jam 16.00 sore, saya harus mengejar pengajian kitab hadist jawahirul bukhori yang diselenggarakan sampai menjelang sholat maghrib. Setelah  jamaah sholat maghrib di Masjid utama pondok.

“Penderitaan” kami tidak berhenti disitu. Habis maghrib, kita wajib ngaji satu kitab kuning. Ada banyak pengajian kitab kuning, kita para santri dibebaskan memilih sesuai selera masing-masing. Saya lebih memilih ngaji kitab tafsir jalalain dan kitab minhajul abidin (kitab berat karya Imam Alghazali) dengan (alm) KH. Hannan Maksum. Kegiatan ini berlangsung hingga waktu menjelang sholat isyak.

Habis sholat isyak, masih ada lagi sekolah di Madrasah Diniah yang khusus mendalami ilmu-ilmu agama seperti fiqih, taklim mutaalim, aqidah, nahwu shorof, dll. Luar biasa berat bebanya memang, sebagai santri biasa, saya sering tertidur tanpa sadar pas ngaji habis maghrib dan sekolah di madrasah diniah malam hari .  Sehingga kitab saya banyak yang bolong-bolong belum dimaknai (biasanya sambil membaca kitab klasik berbahasa arab tanpa harokat, kita menulis artinya dalam bahasa jawa dalam tulisan pegon/arab jawi) . Tapi itulah seninya menuntut ilmu. Biar ngantuk dan tertidur, satu jam di majelis ilmu lebih utama daripada sholat sunat 1000 rakaat. Dan meskipun kita tidak pernah tau, kapan dan ilmu yang mana yang akan bermanfaat suatu saat nanti. Pokoknya yang pentinig kita pelajari semua.

Itu hanya sekelumit cerita dari cerita panjang di kehidupan pesantren yang penuh makna, yang mungkin jika dituliskan akan menjadi trilogi Novel pendingin jiwa, *hayah…*. Tetapi pada intinya, misi dari Darul Ulum adalah mencetak generasi muda yang cerdas otaknya, secerdas otak orang-orang yang membangun peradaban di kota London, Inggris. Tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga bersih, bening dan suci hatinya seperti hati orang-orang yang sedang bersujud di masjidil haram di kota Mekah, Saudi Arabia.

**

Setelah 10 tahun meninggalkan bumi perjuangan Darul Ulum. Rupanya rapalan mantra yang berubah jadi mimpi itu. Hari ini, Allah berkenan merubahnya menjadi sebuah kenyataan yang sangat indah. Ya hari ini saya melihat kota London dengan mata dan kepala saya sendiri. Seakan sukma ku berteriak kencang-kencang  “LONDON, i am coming,  ini to….. yang namanya kota London itu”. *ternyata biasa saja *

di kota itu, Kusaksikan betapa megahnya Istana Buckingham, …..

indahnya tata kota London yang dikelilingi taman-taman kota yang Cantik dan menyejukan pandangan,

gagahnya Bigbang Tower, landmark kota London itu. Serta Romantisnya suasana di sekitar sungai Thames dan menakjubkanya London eye…

. Dan lebih indah lagi tentunya , ternyata Allah memberi kesempatan saya untuk menuntut ilmu di negeri nya ratu elisabeth ini selama tiga tahun kedepan. Alhamdulilahirabbilalamin… *maka nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?*

Jika Allah sudah memperlihatkan saya pada kota pertama dalam rapalan mantra bertuah itu. Mudah-mudahan Allah, berkenan juga memperlihatkan saya pada kota kedua dalam mantra bertuah itu. Masjidil haram di Mekah.  Entah kapan, Insya Allah. Toh, Jika Allah berkehendak, apa yang dikehendakinya terjadi maka terjadilah.

* Doa itu senjatanya orang  yang beriman, jika percaya, berdoalah, dan Tuhan pasti akan mengabulkan *