” … seberat apapun tantangan hidup, jangan pernah biarkan kesedihan, amarah, dan keputusasaan merundung terlalu lama” – M. Anita

ilyas_4_yo
Ilustrasi: Terus Melangkah

Dalam hidup ini, ada tiga ilmu yang sering kali dituturkan, mudah sekali diajarkan, gampang sekali dinasehatkan, tetapi saking sulitnya perlu seumur hidup untuk memahaminya, perlu sepanjang hayat untuk menghayatinya. Ilmu ini tidak diajarkan di universitas manapun, kecuali ya di Universitas Kehidupan. Ketiga ilmu tersebut adalah ilmu sabar, ikhlas, dan syukur.   “Sing sabar yo nang”, “sing ikhlas yo kang lan mbak yu, iku ngunu wes kersane Pengeran”, “ sing penting, awak dewe kudu syukur“. Betapa sering sekali kita mendengarnya bukan?

Sabar

Ada pitutur Jawa yang menyebutkan bahwa sabar itu subur. Tapi, masak iya sih? bukanya, bertahan dalam perih dan pedihnya kesabaran itu membuat jiwa dan raga menjadi kering kerontang? Argh, entahlah saya selalu gagal memahaminya.

Perjalanan hidup, semakin menua rasanya semakin tidak mudah. Pantaslah, orang yang sudah sepuh sering disebut orang yang sudah banyak makan garam kehidupan, bukanya gula kehidupan. Yah, karena kehidupan ini tidaklah semanis gula-gula. Kehidupan bukanlah cerita roman picisan, bukanlah dongeng dari  negeri kayangan, bukanlah seperti yang dipamerkan orang-orang di TV maupun di media jejaring sosial yang penuh dengan gula-gula yang manis. Kehidupan tak pernah luput dari jebakan ujian yang satu ke jebakan ujian yang lain.

Serial kehidupan kita rasanya tak lengkap tanpa momen pahit dan menyakitkan. Dikhianati, dihina, diremehkan, diabaikan, disepelekan, atau bahkan keberadaan kita tidak dianggap sama sekali. Kegagalan, kebangkrutan, kejatuhan, dan keterpurukan pun tidak enggan menyapa dalam kehidupan kita. Semuanya, sering menguras segenap rasa kepahitan dan pilunya air mata.

Dalam menapaki jalan yang lurus, dan mencoba menghindar dari  belokan-belokan pun penuh dengan jebakan ujian.  Betapa banyak orang yang rajin bersujud di rumah-rumah  Tuhan, rupanya tak tahan dengan godaan perselingkuhan ataupun terlibat dalam persengkokolan penggelapan uang. Lihatlah, tidak sedikit para generasi muda yang seharusnya tekun dan rajin belajar itu, terperosok dalam kubangan lumpur kemalasan, jebakan pergaulan kumpul kebo dan obat-obat terlarang.

Lulus dari setiap jebakan ujian itu seperti menapaki serangkaian anak-anak tangga untuk merengkuh kematangan jiwa yang paripurna di penghujungnya. Sayang, tidak banyak yang lulus jebakan ujian itu, hingga jatuh terjerembab kembali karena terkikisnya cadangan kesabaran dimiliki. Apalagi di jaman sekarang, ketika semua orang menghendaki  segala yang diinginkan bisa diraih dengan serba instant. Tak sudi bersabar dalam berproses.

Ikhlas

Meskipun katanya Tuhan Maha Adil, kenyataan hidup kadang terasa tak adil karena manusia sering kali belum mampu memahami kemahaadilan Tuhan. Manusia terlahir di dunia, tanpa mampu memilih di belahan dunia yang mana ia dilahirkan. Di gubuk reot nan kumuh di pedalaman Papua, ataukah di istana Buckingham yang penuh kemewahan hidup di London, sungguh manusia tidak bisa memilihnya sebelum dilahirkan. Ada yang terlahir cantik dan tampan sempurna, ada yang terlahir dengan kaki dan tangan yang tak sempurna.

Perjalanan hidup manusia pun berbeda-beda. Ada yang terlihat selalu diselimuti keberuntungan demi keberuntungan. Sebaliknya ada yang merasa selalu dirundung malang. Yang bekerja keras sekuat tenaga tak selalau seberuntung bahkan sering kali kalah oleh mereka yang santai dan berleha-leha saja. Yang baik malah seringkali tersingkir oleh mereka yang penuh muslihat dan tipu daya. Yang berjasa dan tulus mengabdi dilupakan, yang penjilat malah dipuja-puja.

Semua itu kadang sering menyesakkan dada. Tetapi, bukankah hidup tak lebih dari menjalani skenario Tuhan? Bukankah, Tuhan suka dengan hambanya yang ridho dan ikhlas menjalani lakon hidup yang harus dilakoninya?

Jika ilmu ikhlas sudah bersemayam di hati, segala hinaan dan caci maki, segenap sanjung dan puji, kesenangan dan kegembiraan, kesusahan dan kedukaan, kegagalan dan kemalangan, keberhasilan dan keberuntungan akan terasa tidak ada bedanya. Semua hanyalah gerak hidup alamiah yang tidak perlu ditangisi dan disesali maupun dibangga-banggakan.

Syukur

Di dalam hati, di rumah, di jalan, di kantor, di sekolah, di kampus, betapa terlalu banyak kita mendengar suara keluhan.  Kurang inilah, kurang itulah.  Yah manusia memang kodratnya suka mengeluh. Yang di genggaman sering dilupakan, yang tidak ada selalu dicari-cari dan dikeluhkan. Satu sudah didapat, masih mengeluhkan yang kedua. Kedua sudah diraih, masih mengeluhkan yang ketiga. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Padahal, jika kita mau berhenti mengeluh sejenak dan menghargai apa yang sudah melekat pada diri kita, betapa hidup terasa lebih nikmat. Padahal, jika mau menghitung, tak sanggup kita menjumlah berapa banyak nikmat Tuhan yang diberikan kepada kita.

Kawan, seberat apapun tantangan hidup kita, jadikanlah ilmu sabar, ikhlas, dan syukur sebagai teman perjalanan paling setia mu. Walaupun setia bersamanya, tidak pernah mudah. Jangan pernah  biarkan kesedihan, amarah, dan keputusasaan merundung mu terlalu lama. Tak perlu takut dengan serial hidup yang menantang dan sulit, karena laut yang  kalem tidak pernah melahirkan para pelaut yang tangguh. Terus melangkah, dan titilah tanga-tangga kehidupan mu dengan penuh kehatia-hatian. Nikmati dan hayati perjalanan mu sepenuh hati, semoga kelak tak ada penyesalan di penghujung perjalanan kehidupan kita nanti.

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube

Advertisements

…. mereka itu berbuat baik ya karena mereka baik. Justru kalau kau berusaha membalas setiap kebaikan mereka, kau telah mengajari mereka untuk pamrih. -Anonym

kebaikan_sopir
Ilustrasi : Sebuah Kebaikan

Satu hari di waktu acak di masa lampau, saya pernah dibonceng motor oleh seorang kawan. Mencari sebuah tempat yang kami belum begitu jelas jalan menuju tempat itu. Belum jamanya saat itu, ada telepon genggam cerdas yang bisa memberi penunjuk arah. Hingga sampailah kami di pelosok-pelosok desa yang jalanya sempit di antara hamparan-hamparan sawah yang luas. Bertanya kepada orang-orang yang kebetulan berpapasan di jalan, adalah satu-satunya cara untuk mendekat tempat tujuan.

Ada yang masih terekam begitu kuat dalam ingatan saya hingga saat ini dari perjalanan keluyuran itu. Adalah wajah-wajah polos, senyum-senyum tulus yang tumpah ruah, dan tutur kata sepenuh jiwa dari orang-orang desa yang kebetulan saya jumpai di pinggir jalan, untuk menjawab sebuah pertanyaan yang kami ajukan. Entahlah, hanya hati yang bisa membedakan antara kebaikan yang tulus dan kebaikan yang dipaksakan. Dan di tempat itulah, hati saya menemukan kebaikan yang benar-benar tulus. Kebaikan yang nyaris tidak ditemukan di peradaban belantara beton di kota-kota metro politan.

***

Di jaman ketika harga dan rupa dipuja, setiap kebaikan pun seolah ada harganya. Ketika kita menerima sebuah kebaikan, kita pasti sibuk memikirkan bagaimana membalasnya. ” Kemarin Jeng Sri ngasih saya Semangkok Bakso, hari ini saya harus ngasih balik apa ya?”. Bahkan terkadang memikirkan bagaimana membalasnya pun tidak cukup, ilmu matematika ekonomi pun diterapkan. ” Ini  Pak S kemaren ngasih tumpangan saya semalam, so saya harus ngasih hadiah ke anak Pak S, seharga nginap di hostel semalam”. Karena hitung-hitungan itu, sehingga sering kali, kita berbuat baik bukan karena kita yang memang niat baik. Tetapi, karena kebaikan yang dipaksakan.

Pun demikian ketika kita berbuat kebaikan, sering kali secara tidak sadar dari lubuk hati kecil kita terselip rasa pamrih. mbok ya menowo-menowo dengan saya berbuat baik ini, orang lain akan juga berbuat baik sama diri kita. Buktinya, ketika kita sudah merasa berbuat baik pada seseorang, dan orang tersebut tak membalas kebaikan kita, hati kita merasa dongkol, dan tak mau lagi berbuat baik pada orang yang kita labeli tidak tahu berterima kasih itu. Nahloh, jadi niat kita berbuat baik kemaren apa? Ternyata budaya melabeli harga pada setiap kebaikan, membuat kita kehilangan rasa Tulus, dan membuat kita kecanduan rasa Pamrih.

Di dunia kerja pada organisasi bisnis, budaya memberi harga pada kebaikan ini lebih vulgar lagi. Jika kita ingin karir kita moncer, cepat mendapat promosi jabatan, kita harus berani memamerkan kebaikan kita pada perusahaan. Setiap kebaikan kita pada perusahaan ada angka dan kalkulasinya. Belum lagi di level strategis, lobi-lobi dengan umpan kebaikan harus dimainkan dengan apik dan cantik.

Mungkin karena itulah, kenangan wajah-wajah polos, senyum-senyum sumringah yang bertumpah ruah di jalan-jalan sempit di antara hamparan sawah-sawah itu begitu memesona hati saya. Dan terekam sangat kuat dalam memori ingatan saya.

Jadi, masihkah ada kepolosan dan ketulusan diantara kita? hanya taman-taman syurga kecil di hati-hati kita yang bisa menjawabnya.

Pernah suatu hari saya memperhatikan  seorang Juru Parkir di salah satu jurusan di kampus ITS Surabaya.
Terlihat begitu sumringah di wajahnya…
Dia begitu ramah dan senantiasa menebarkan senyum kepada setiap mahasiswa yang berlalu lalang keluar masuk tempat parkir itu…
Kulihat dia begitu menikmati pekerjaan itu…
Belakangan ku dengar dia telah berpuluh-puluh tahun mengabdikan diri sebagai Juru Parkir di kampus itu.
Dia juga sangat bertanggung jawab dengan profesinya itu. [Pernah suatu saat saya bertemu dia di terminal Bratang Surabaya, hendak naik lyn S menuju Kampus ITS. Seperti biasa lyn tak mau jalan kalo Lyn belum penuh.padahal sudah 30 menit kita menunggu. Karena hari yg semakin siang dan penumpang msh 5 orang… atas nama tanggung jawab atas profesinya dia menawarkan diri kepada sopir membayar 6 kali lipat tarifa ngkot sbg pengganti 5 penumpang yg masih kosong. Sambil menyodorkan uang 20.000 dia berkata kp sopir:”wes ora opo2 aku bayari wong 5, ketimbang aku telat nyampek kampus”].

Pernah suatu saat saya memperhatikan seorang teman sekantor di sebuah perusahaan elektronik swasta asing terkenal di Jakarta.
Tak pernah seharipun kulihat dia tak mengeluh….
“Membandingkan gaji diperusahaan laen… lah”
“Gaji yang tak setara dengan kerja dia lah…”
“Fasilitas yg kurang lah..”
“Dan keinginanya untuk segera resign kalo ada twaran yg lebih bagus”.
Dia terlihat begitu terpaksa dengan pekerjaanya…
Setiap hari dia datang terlambat dan tidak pernah ikut senam pagi…
Bahkan sering kulihat dia hanya killing time dengan chatting, nge game, nonton film di kantor.
Dia lebih senang ngerjakan Kerjaanya di Over Time Hours….[selepas 16.00, sabtu, minggu, karena OT nya emang lebih mahal].
padahal slip gaji dia bulan mendekati angka 6.000.000 [sebuah angka yg cukup besar untuk ukuran seorang fresh graduate S1].

Memang bukan sekedar nilai materi yang membuat kita senantiasa menikmati aktifitas kita…
hanya satu kata. kata itu adalah ‘IKHLAS’