Musim Hujan di Kota Ku

… tentang hujan di kota Nottingham – a random thought

043

Ilustrasi: Hujan (terselubung.in)

Tidak menyangka suasana musim hujan di negara tropis bisa dirasakan di kota ku ini, kota negeri empat musim. Sudah hampir seminggu ini, hujan rintik-rintik nyaris sepanjang siang dan malam. Hawa musim panas yang gerah, mendadak berubah menjadi hawa musim hujan negeri tropis yang sejuk seminggu ini.

Berawal hari jumat menjelang kemaren, saat bocah-bocah di sekolah anak lanang ku sedang mengadakan pesta merayakan ulang tahun Yang Mulia Ratu Elizabeth II yang ke-90. Langit tiba-tiba gelap, geledek bergemuruh, dan hujan deras membasahi seluruh sudut kota. Suara geledek yang tak lazim terdengar di kota ini, sore itu menjadi bahan perbincangan hangat bocah-bocah di sekolah anak ku. Riuh rendah suara “thunder storm, thunder storm” terdengar begitu menggairahkan saat bocah-bocah itu pulang di jemput orang tua masing-masing. Sesudahnya, hingga hari ini, langit selalu mendung, dan rintik hujan seolah tak pernah berhenti merembes dari langit.

Hujan, bisa jadi mengundang kedukaan bagi banyak orang. Tetapi, hujan juga membawa kebahagiaan bagi para penikmatnya. Buat ku, saat hujan turun di pagi hari adalah waktu yang paling sempurna untuk menikmati kehidupan. Bermalas-malasan atau setidaknya bersantai-santai.

Sekedar berdiam diri di balik selimut atau menikmati hujan di pagi hari dengan secangkir kopi panas, pisang goreng anget, teh nasgitel (panas, legi, dan kentel) boleh juga, ngobrol gayeng bersama dengan orang-orang yang kita cintai atau berduaan dengan buku sastra kesayangan. Hehe, sayang semua itu hanya hayalan imajinasi belaka, karena hari-hari ini adalah hari-hari puasa Ramadlan.

Tetapi setidaknya, aku masih bisa bermalas-malasan dengan menatap hujan, sambil menulis bait-bait puisi. Ooops, sayang aku bukanlah pujangga yang lembut hatinya, yang bisa melukis hujan dengan sketsa kata-kata yang indah. Yasudah, yang penting aku menulis, menulis sekedar tulisan.

Melukis Sketsa Hujan

Hujan
Hujan,
Pagi ini kau menyambut bangun tidur ku,
di akhir pekan pertama ku, di bulan November ini.

Tik, tik, tik ….
Suara tetesan mu, yang terjatuh dari atap rumah,
Membangun kan tidur malam panjang ku di awal musim dingin ini.
Memecah kesunyian alam di pagi yang masih teramat perawan.
Menyempurnakan kemalasan ku, melepas penat di akhir pekan.

Hujan…
Ku tatap nanar lukisan sketsa mu, yang membasahi dinding jendela kaca rumah ku.
Aku selalu damai mendengar suara percikan mu,
Aku selalu rindu sketsa lukisan mu.

Mulut ku membisu,
Hatiku hanya bicara dengan diri mu.

Hujan,
Kau mengajak angan ku
Mengenang kebiasaan-kebiasaan kecilku,

Melihat mu dengan hati, dari balik jendela kaca rumah ku.
Menghirup harum semerbak bau mu,
Meredam debu-debu di setiap jengkal tanah kampung halaman ku yang telanjang.

Merasai segar airmu,
dari gerojogan yang tumpah ruah dari talang atap rumah ku
Bak di bawah air terjun di kaki gunung lawu.

Hujan,
Kau menuntun ku untuk merindu
Pada hangatnya, teh panas kentel manis
dan pisang goreng manget-manget buatan emak ku

DSC_1006

Argh hujan …
Sayang, ada sinar surya mengusir mu perlahan.
Memenuhi janji menghangatkan pohon dan ranting-ranting
yang kedinginan dan kesepian
ditinggalkan daun-daun yang hampir habis berguguran.

Argh hujan …
Sayang, aku tak pernah bisa melukiskan keindahan mu
dengan kata-kata indah laiknya para Pujangga.

Argh… hu jan …

 

Nottingham, 1 November 2014
Pecinta Hujan