homesick

Senja, Emak, dan Kangen Segera Pulang

… ada rindu yang menyelinap di setiap penghujung senja. Rindu untuk segera pulang. Untuk mu. – A Random Feeling

Saat aku merasa tak kuasa menahan kencangnya waktu yang terus berlari. Yang hanya bisa aku lakukan adalah pasrah, menyerah pada keperkasaan waktu. Dan membiarkan apa yang terjadi, terjadilah. Waktu pula yang menggilir musim gugur, dingin, semi, dan panas di negeri perantauan ini. Rasanya, baru kemaren salju turun mengguyur atap rumah ku di malam-malam yang sangat panjang. Sekarang, malam itu semakin singkat berganti dengan siang yang semakin panjang.

Entahlah, aku tak pernah suka siang yang terlalu panjang. Karenanya, saya selalu menanti saat-saat itu datang. Saat-saat menunggu senja. Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, beradu dengan langit yang meronakan warna kuning keemasan. Pertanda siang telah berakhir dengan gemilang. Dan saatnya menikmati hening malam bersama paras ayu rembulan datang menjelang.

senja_di_southampton_beach

Ilustrasi: Suasana Senja Di Bibir Pantai Southampton, UK (2013)

Entahlah, suasana hati ku selalu terbawa pada keindahan senja. Buat ku senja adalah simbol kemenangan, akhir dari sebuah perjalanan panjang. Senja adalah pertanda pembuka segala kemudahan dan kebahagiaan, saat terik segala pelik ujian, rintangan dan kesusahan berhasil tersingkirkan. Senja adalah fase akhir sebuah perjuangan panjang. Senja adalah saat yang tepat untuk segera pulang. Membawa setumpuk rindu, untuk orang-orang tersayang.

Entahlah, senja selalu mengingatkan suara emak di ujung handphone, yang selalu terdengar sama di telinga ku, setiap kali aku menelponya:

Piye, Le kapan sekolah mu mari? riyoyo iki wes iso ngumpul nang omah to? Jian emak e wes kangen banget Le.

Dan aku selalu terdiam sejenak, lidah ku kelu, tak mampu berkata-kata setiap mendengar kata-kata rindu itu selalu diucapkan emak berulang-ulang kali. Dan selalu kujawab dengan permohonan do’a, agar semuanya dimudahkan dan dilancarkan semuanya dan segera aku, istri, dan anak ku akan pulang. Yang aku yakin do’a-do’a itu selalu dipanjatkan oleh nya. Emak mertua pun, senada, kata-kata rindu dan do’a-do’anya yang terdengar di ujung handphone itu hampir selalu sama:

Iyo nak tak dungakno sukses sekolah mu, pokoe kudu ranking siji anak ku. Gek ndang mulih. Aku wes ujar arep syukuran ngundang wong sak ndeso yen awak mu wes muleh.

Emak, aku pun sebenarnya juga memiliki kerinduan yang sama dan ingin segera untuk pulang.

**

Kawan, saat kita merasa lelah berjuang sendirian. Saat kita merasa diujung keputusasaan. Saat kita merasa tak seorang pun menginginkan keberhasilan kita. Saat kita merasa orang-orang lain bersorak sorai dengan kegagalan kita. Saat teman seperjuangan sudah meninggalkan dan melupakan kita. Percayalah, disana masih ada hati-hati yang tulus yang tak pernah lekang mengharapkan dan mendambakan keberhasilan kita. Masih ada doa-doa yang dipanjatkan tanpa kita minta hanya khusus untuk kesuksesan kita. Terus melangkahlah kawan ! Meskipun siang kadang terasa terlalu berkepanjangan, percayalah saat senja itu datang semakin dekat.

Advertisements

Pulang … untuk kembali lagi.

… tak apalah, biar aku mundur beberapa langkah ke belakang, untuk kemudian lari kencang-kencang ke depan. Seperti anak ketapel dan anak panah, yang harus ditarik diulur ke belakang agar melesat jauh ke depan menggapai sasaran .

Arggh…. akhirnya aku menyerah pada rasa kerinduan yang semakin membuncah menyesakkan dada ini. Romantisnya musim gugur setahun lalu ketika pertama kali aku datang telah berganti dengan musim dingin dimana aku bertemu pertama kali dengan dingin nya salju. Musim dingin berlalu berganti musim semi yang indah, ketika bunga-bunga aneka rupa bermekaran indah penuh pesona. Bunga-bunga nan indah itu pun akhirnya layu dan berguguran kala musim panas dengan siangnya yang berkepanjangan datang. Musim gugur pun datang  kembali bersamaan dengan menguning dan memerahnya daun-daun. Daun-daun pun akhirnya berguguran meninggalkan ranting-ranting kering kerontang merana sendirian untuk bertahan hidup melawan musim dingin yang menggigit datang kembali di Bulan Desember ini. Bulan yang ditunggu anak-anak di negeri ini untuk mendapatkan hadiah natal terindah mereka dari St. Clause.

Arggh…. semuanya berlalu begitu cepat. Membawa aku hanya beranjak dari kesunyian ke kesunyian dan dari kenangan ke kenangan. Hidup seolah terperangkap dalam jeratan kesunyian dan kenangan.

Arggh…. aku tak pernah merasakan kerinduan sedalam ini. Rindu yang membuat separuh semangat hidupku hilang. Rindu yang membuat aku menjalani hidup bagai burung dengan satu sayap. Benar, baru kali ini, aku merasakan sebenarnya rindu.

eboarding_pass

Hore…. besok aku pulang. Saat akan kuobati lara rindu ini pada separuh jiwa, buah hati dan penyejuk mata ku. Rindu mencium tangan Bapak dan Ibu ku juga guru dan kyai-kyai ku. Rindu bercengkerama dengan sahabat lama ku. Rindu menghirup segarnya udara kampung halaman ku. Rindu kehangatan keluarga dan saudara ku. Rindu keramahan dan kebersahajaan orang-orang di kampung ku. Rindu mendengar suara adzan dari masjid di kampung ku. Rindu mendengar suara alunan ayat-ayat suci tuhan dilantunkan anak-anak di mushola kampung ku. Rindu melihat kepolosan anak-anak kecil di kampung halaman ku. Rindu memandang negeri ku dari dekat. Rindu menginjakkan kaki ku di tanah ibu pertiwi ku. Rindu mengagumi dari dekat keindahan pesona alam negeri ku, tempat aku akan mengabdi sampai mati suatu saat nanti.

Pasti … aku akan kembali disini, di kota ini, karena perjuangan ini belum usai. Aku hanya ingin menemukan semangat ku kembali. Menjemput mu untuk mengisi ruang-ruang sunyi disini. Aku hanya ingin mengembalikan ingatan ku tentang mimpi-mimpi itu kembali. Aku tidak sedang menyerah dan tak akan menyerah.

Tak apalah, biar aku mundur beberapa langkah ke belakang, untuk kemudian lari kencang-kencang ke depan. Seperti anak ketapel dan anak panah, yang harus ditarik diulur ke belakang agar melesat jauh ke depan menggapai sasaran.

Tuhan, terima kasih telah kau ajarkan arti kerinduan ini. Kerinduan yang membuatku memahami sisi-sisi lain kehidupan yang selama ini banyak telah aku abaikan. Tuhan, bimbinglah selalu kaki ini dalam melangkah. Jangan pernah membiarkan aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang ke jalan lurus mu kembali. Ingatkan aku bila lupa. Tegur aku bila aku terlena. Peluklah mimpi-mimpi ku. Dekaplah aku dalam cinta Mu yang tidak pernah berkesudahan.

Tuhan ! titip rindu untuk orang-orang yang aku sayangi. Seperti rindu ku bertemu dengan Mu suatu saat nanti.

Nottingham, 11-Desember-2013. 23:05. School of Computer Science. C.85.