Advertisements

Tag Archives: hidup sederhana

Hidup Sederhana (Saja)

… banyak orang yang menghidupi hidup yang sejatinya bukan seperti nurani kecil mereka inginkan, tetapi hidup yang seperti apa orang lain ingin memandang – a random thought

snow_nott

Ilustrasi: Hidup yang terlihat

Kala sedang melihat kehidupan orang-orang yang menurut orang modern adalah terbelakang, ketinggalan jaman, seperti orang baduy, tengger, atau suku di pedalaman nusa tenggara sana, ataupun orang-orang desa aku sering bertanya-tanya. Betapa hidup itu begitu sederhana saja sebenarnya. Betapa semua kebutuhan hidup tersedia oleh alam. Dan mereka mengambil dari alam sebutuhnya saja.

Bukankah hidup sebenarnya sederhana saja? kita makan pun tak lebih 3 piring saja bukan? Sayang orang modern begitu serakah. Ingin menumpuk-numpuk kekayaan sendiri sebanyak-banyaknya. Untuk hidup selama-lamanya di dunia? Nyatanya tak seorangpun mampu bertahan hidup lebih dari dua ratus tahun, bukan? Diatas 60 tahun saja, hidup mu sudah sakit-sakitan?

Pun kebahagiaan, begitu sederhana juga bukan? Sesederhana seorang bocah mengumbar seulas senyum selepas mencium sekuntum melati mekar di taman di depan rumah di sore hari.

Hanya saja, kehidupan dibuat-buat semakin kompleks. Kebutuhan pun dibuat-dibuat. Orang-orang menghidupi hidup yang sejatinya, tak seperti nurani kecil mereka inginkan. Tetapi menghidupi hidup yang orang lain ingin melihat.

Orang-orang ingin menghidupi hidup seperti yang diinginkan para penjual gaya hidup. Penjual mobil, penjual rumah, penjual gadget, penjual hiburan, penjual syahwat. Para penjual pemilik keserakahan hidup. Sungguh hidup yang begitu menyebalkan dan menyesakkan. Hidup yang penuh kebutuhan yang terus dan terus bertambah. Disaat yang sama kulihat ketimpangan hidup yang semakin menganga. Kulihat kerusakan alam yang semakin memiriskan dada.

Setiap hari, kulihat banyak orang-orang memamerkan kebahagian, tetapi diam-diam hatinya menyimpan duka kesedihan yang dalam. Kulihat banyak orang memamerkan kesempurnaan hidup, tetapi diam-diam hatinya menyembunyikan kemunafikan yang menjijikkan.

Haruskah hidup penuh kepura-puraan ini kita lanjutkan? Jika ia, entah seperti apa pada akhirnya jadinya? Kalau aku bisa memilih, akan kupilih hidup sederhana saja. Bahagia yang sederhana saja. Tetapi memilih hidup sederhana di jaman ini justru tidaklah sederhana.

Advertisements

Lalu, Kapan Cukupnya?

Gerombolan burung gagak keluar dari sarang nya, terbang ke segala penjuru mata angin untuk mencari makan. Walaupun terbang bergerombol, tak seekor burung pun merasa takut, jatah makananya terambil oleh kawanya. Mereka pun kembali setelah semua penuh temboloknya, tanpa sedikit pun membawa makanan untuk ditimbun di sarang nya. Mereka tak pernah merasa takut, apakah besok masih bisa makan atau tidak.

Kembang-kembang setaman. Mereka beraneka warna, ukuran, dan aroma. Ada yang hidup merunduk di tanah, ada yang yang tinggi menjulang menantang matahari. Tetapi setiap dari mereka tak pernah merasa ingin terlihat paling indah di antara kembang-kembang setaman itu. Karena justru dengan semua perbedaan itulah yang membuat mereka saling memberi dan menerima, serta membuat taman terlihat jauh lebih indah.

Jika burung dan kembang saja memiliki kearifan hidup untuk saling berbagi dan memberi, tapi justru kenapa semakin banyak manusia yang serakah dan ingin menang sendiri? – A Random Thought

AndTheGang

Ilustrasi: With The Gang

Kemaren siang saya makan di sebuah restoran tepat di Jantung kota Nottingham. Kecuali kebab, chiken and chip, atau fish and chip, rasanya sangat jarang, selama di kota ini,  saya makan di restoran yang proper. Bisa dihitung dengan jari. Biasaya sih, pas lagi ditraktir.

Nah, kebetulan, kemaren juga ada seorang sahabat kami yang juga traktiran. Dalam rangka syukuran sehabis submit, tesis doktornya. Setelah berjuang empat tahun lebih, dan sekarang masih harus menunggu untuk ujian lisan.

Nama restoranya adalah Red Hot. Ini adalah restoran model buffet alias all you can eat alias bisa makan sepuasnya sakenak udele dewe. Meskipun ndak ada tulisan Halal nya, qala waqila (baca: dengar-dengar) nya sih ini restoran Halal. Restoran favourite teman-teman Malaysia.

Saya, dan sepertinya kedelapan sahabat saya pun baru pertama kali masuk di restoran ini. Ini, sepertinya restoran paling mewah yang pernah saya masuki di Nottingham. Tempatnya sangat luas, tiga lantai, bersih dan elegan. Memasuki restoran ini berasa kayak masuk dalam restoran hotel mewah.

Di meja makan, kami langsung disambut dengan Cracker (bukan krupuk lowh ya), bungkusan kado berbentuk tabung kecil dari kertas, yang biasa ada dalam suasana hari natal. Di dalamnya ada mainan kecil, dan Prince crown dari kertas tipis berwarna.

Kemudian pelayan restoran nyamperin kami untuk menawarkan minum. Kami hanya memesan air putih. Setelah duduk sebentar, kami langsung menyambar makanan.

Di tempat makanan, saya malah jadi bingung, saking banyaknya pilihan makanan yang bisa dipilih. Mulai dari masakan India, Jepang, Korea, apalagi masakan Eropa, semua tersedia melimpah. Masakan India didominasi kare, nasi goreng, mie goreng, beraneka ragam. Masakan Jepang ada ramen, sushi, berbagai jenis. Masakan Eropa, ada pizza dan konco-konconya.

Ada pancake, berbagai macam kue dessert, es krim, puding, pun tersedia melimpah ruah. Tak ketinggalan berbagai sayuran dan buah-buahan. Yang ringan-ringan seperti kerupuk, ayam goreng, nudget, bakwan juga melimpah.

Akhirnya, Daging Kalkun panggang, Mie goreng, dan tumis cumi-cumi , dan kerupuk, berhasil menggoda selera saya. Kebetulan, saya belum sarapan dari pagi, yang membuat makanan itu semakin nikmat.  Overall, enak sekali. So spicy, dan bumbu manis asin nya berasa banget. Daging kalkun panggangnya pun mantap gurihnya.

Hingga sampailah piring keempat, ketika perut sudah terasa sangat penuh, dan saya pun sudah tidak berselera kembali. Ohya, harganya pun cukup bersahat dengan kantong mahasiswa. Karena dapat diskon student, untuk berdelapan, kami hanya kena bill sekitar £60 (sekitar  RP. 1. 200. 000).

Restoran ini mengingatkan saya kembali pada sebuah restoran hotel bintang lima di Jakarta pusat. Tempat makan paling mewah yang pernah saya masuki seumur hidup saya. Saya nggumun, karena saking banyaknya makanan yang tersedia, dari makanan ndeso, makanan khas semua daerah di Indonesia, sampai Eropa tersedia di restoran hotel itu. Dan hampir segala macam buah-buahan ada disitu. Maklum waktu itu, saya sedang bergabung sebagai pembantu para pejabat se Indonesia yang di lantik langsung oleh Menteri.

Saking nggumunya, saya sampai berfikir, mungkin kayak gini ya nanti kenikmatan di Syurga itu. Dan dari situ saya baru paham, kenapa banyak orang berebut jadi pejabat.

Tetapi kenikmatan makanan selezat dan semelimpah apa pun, ternyata nikmatnya hanya sebatas di mulut saja dan sebatas ukuran perut saja. Tetap saja, rasa lapar adalah lauk makan paling nikmat di dunia.
***
Yah, begitulah sifat kenikmatan dunia. Hanya sekejap dan sebentar saja. Rumah megah, mobil mewah, liburan mahal, dan segala apa pun puncak-puncak kenikmatan apa saja, ternyata hanya terasa nikmat di awal-awal saja. Selanjutnya, setelah terbiasa kita kecap dan kita nikmati just so so, tak lagi terasa kenikmatanya. Justru, kenikmatan terbesar itu ketika kita mengecap kenikmatan itu, sekali-sekali saja.

Tetapi anehnya, jaman sekarang semakin banyak manusia yang serakah. Suka menimbun dan menumpuk-menumpuk kekayaan. Mau menang sendiri, mau paling kaya sendiri, mau paling sukses sendiri. Bahkan dengan cara-cara yang keji dan menjijikkan.

Selalu saja merasa kurang. Selalu saja ada ketakutan, besok, lusa, tahun depan, di masa depan mau makan apa? Sudah punya satu gunung mas pun, masih mengharap satu gunung mas lainya? kalau sudah begitu kapan cukup nya?

Andai saja, setiap manusia berfilosofi bahwa hidup adalah tentang semangat memberi dan berbagi. Bukan tentang menjadi paling unggul sendiri. Andai saja, setiap manusia menjadikan kebermanfaatan terhadap sesama sebagai ukuran kesuksesan. Bukan tumpukan kekayaan. Mungkin, kita semua akan merasa cukup. Tak perlu berkompetisi setengah mati, bahkan menjegal saudara sendiri. Hidup tenang , damai, dan penuh harmoni. Seperti, segerombolan burung gagak dan kembang-kembang setaman.

Mari kita memilih hidup sederhana saja, sing prosojo saja. Cukupkanlah rejeki kita. Toh, urip nang ndunyo sepiro suwene?

 


Sukses ku, Sukses kamu, dan Sukses kita

Success is to be measured not so much by the position that one has reached in life as by the obstacles which he has overcome. – Booker T. Washington

mahasiswa_ku

Sebagian Mantan Mahasiswa Saya (Dok. Pribadi)

“… Alhamdulilah Cak, Si Anu sekarang bekerja di perusahaan XYZ di Jakarta, bahkan sekarang sudah ambil kredit Mobil lho.”

Itu adalah salah satu penggalan wawancara eksklusif saya  dengan salah satu mantan mahasiswa saya di satu kesempatan. Kebetulan mahasiswa tadi adalah salah satu dari angkatan pertama (i.e. 2009) yang pernah saya ajar. Lebih tepatnya, angkatan kelinci percobaan pertama saya dalam rangka belajar mengajar di salah satu kampus tersohor di kota Pahlawan. Karena kelinci percobaan pertama, saya nyaris hafal semua nama dari mahasiswa yang jumlahnya 180 an itu. Sebuah prestasi yang luar biasa buat saya yang tergolong sangat sulit untuk mengingat nama seseorang. Terkadang, saya merasa kasihan sekali mereka, karena harus bertemu saya yang belum punya jam terbang mengajar yang memadai di dua semester tahun pertama, kemudian bertemu saya lagi di Tahun terakhir di salah satu mata kuliah pilihan yang baru pertama kali dibuka tahun itu, sebelum akhirnya saya ngacir ke Nottingham. Kok, ndilalah salah satu dari mereka itu ( sebut saja namanya Fulan), ada yang nyusul saya di sekolah dan kampus yang sama untuk melanjutkan sekolah jenjang master. Mungkin, karena saking ngefan nya ke saya, sampek-sampek, saya sudah ngacir ke Nottingham pun masih dikerjar pula, hahahaha.

Bak Alvin Adam yang sedang mewancarai artis di acara Just Alvin, saya kepoin si Fulan. Setiap mahasiswa yang muncul di kepala saya, saya tanyain bagaimana kabarnya satu persatu. Si A sampai Z tak satupun luput dari sergapan pertanyaan saya yang kadang terlalu detail. Sebenarnya, saya diam-diam sudah stalking facebook beberapa mantan mahasiswa saya, hanya saja banyak untold story yang saya dapat  dari Fulan. Beuh jian, rasanya itu bangga bingit dan rasanya tuh disini *sambil megang belahan dada* mendengar mahasiswa-mahasiswa yang baru saja lulus itu, sudah bekerja di perusahaan-perusahaan besar di kota besar. Tidak hanya, perusahaan nasional dan multi-nasional bahkan perusahaan asing. Ada yang sedang training di salah satu kota kesohor di negeri paman sam. Ada juga yang mendapatkan beasiswa ke luar negeri di Eropa, Korea, Jepang. Pun, ada yang sudah terlihat sukses berani memulai membuka usahanya sendiri. Sepertinya, meskipun jurusan kami relatif baru di kampus kami, tidak sulit buat mereka untuk mendapatkan pekerjaan bagus, hanya beberapa minggu setelah atau bahkan sebelum diwisuda.

Saya jadi ingat mereka di Tahun pertama dahulu. Di salah satu mata kuliah Pengantar, untuk mengasah kemampuan problem solving dan melihat seberapa meresap materi kuliah  yang mereka pahami, saya memberikan studi kasus permasalahan di sebuah perusahaan. Yang berbeda adalah, saya meminta mereka untuk tidak sekedar berdiskusi. Tetapi juga membuat sebuah role play. Semua mahasiswa saya minta berpakaian office look dan mereka saya suruh berpura-pura menjadi manajer-manajer di setiap fungsi bisnis perusahaan. Ada yang jadi general manager, manajer keuangan, manajer SDM, CIO (Chief Information Officer) dan sebagainya. Di kelas, mereka saya minta untuk berpura-pura mengadakan meeting besar dalam rangka menyelesaikan permasalahan kritis yang sedang melanda perusahaan abal-abal mereka. Saya pun, hanya senyum-senyum sendiri di pojok kelas melihat kelucuan mereka. Seperti menonton shooting sinetron gratis.

Rupanya, sekarang mereka saat ini tidak lagi berpura-pura bekerja di perusahaan besar abal-abal, tetapi beneran sudah bekerja di perusahaan-perusahaan besar di dunia nyata. Sungguh, sebagai mantan guru mereka, rasa bangganya itu tak mudah dilukiskan dalam untaian kata-kata. Mungkin, begitulah yang dirasakan oleh setiap guru yang melihat murid-murid nya berhasil. Benar, kata orang bahwa sukses yang sebenarnya adalah ketika kita bisa menjadi bagian dari kesuksesan orang lain. Guru yang baik adalah guru yang mampu menghantarkan muridnya menjadi lebih baik, lebih pintar dan lebih sukses dari dirinya sendiri.

sukses_itu_sederhana

Mengayuh Sepeda, Leuven, Belgia (Dok. Pribadi)

Hanya saja, dari wawancara saya tadi ada yang sedikit yang mengganjal di hati saya. Tersirat, menurut mereka, dan mungkin kebanyakan dari kita, ukuran sukses itu adalah bekerja di perusahaan besar, di kota besar, dengan gaji yang besar pula. Hidup dengan gaya hidup ala wanita sosialita dan pria flamboyan seperti di sinetron-sinetron. Mobilnya mewah, rumahnya megah, perusahaanya bonafit. Tongkronganya di Mal-Mal. Liburanya ke luar negeri. Sebuah ukuran sukses masyarakat yang terjangkit virus consumerism binti materialism.  Sehingga seringkali, Merek Mobil dan Gadget, dijadikan ukuran kesuksesan seseorang. Padahal, sebenarnya menurut saya mereka adalah korban bodoh dari Industri Manufaktur Mobil dan Gadget yang mencari konsumen dengan iklan dari program marketing nya yang dahsyat, yang bisa merubah filsafat hidup seseorang.

Tetapi benarkah ukuran kesuksesan itu dari merk Mobil dan Gadget nya?

Takdir hidup yang membawa saya bisa merasakan hidup di tengah-tengah masyarakat Inggris, dan beberapa negara maju di Eropa lainya, membuat saya melihat langsung betapa bahwa ukuran sukses menurut mereka sangatlah berbeda dengan ukuran orang Indonesia pada umumnya. Jikalau anda mengukur sukses diri anda atau orang lain dengan merek mobilnya, lihatlah di negara-negara Eropa, yang notabene negara produsen mobil-mobil mewah. Masyarakatnya, lebih senang kemana-mana naik sepeda pancal dan atau public transport. Datanglah ke kota Cambridge, Inggris. Brussel, Ghent, Lueven di Belgia. Atau di Amsterdam, Delf, Twente, Endoiven dan semua kota di  Belanda. Anda akan melihat seperti Indonesia di tahun 60-an. Dimana-mana sepeda pancal adalah alat transportasi utama. Hal ini membuat kota-kota ini sangat nyaman untuk ditinggali, udaranya segar dan teduh, tidak ada makhluk Tuhan paling menyebalkan di dunia bernama Macet. Coba bandingkan dengan kota Jakarta !

naik_sepeda_belanda

Supporter Sepak Bola Ngeluruk Ke Stadion, Eindhoven Belanda (Dok. Pribadi)

 

Disini, saya jadi melihat betapa kesuksesan itu sangat personal buat setiap orang. Setiap orang berhak mendefinisikan sendiri-sendiri arti kesuksesan dalam hidupnya. Sukses itu, jika setiap orang berhasil menemukan passion dan menjalani passion nya masing-masing dalam hidup. Tidak ada ceritanya, Jadi dokter dan insinyur itu lebih sukses dari seorang pelukis dan penari. Tidak ada ceritanya jadi Manager di perusahaan besar itu lebih sukses dari seorang peneliti monyet. Sayangnya, pendidikan kita pun sudah terjangkit virus virus consumerism binti materialism juga. Sehingga, sekolah bukanya menjadikan siswa menemukan passion hidupnya masing-masing, tetapi menjadi tempat doktrinisasi pemikiran tentang sukses menurut madzab consumerism binti materialism.

Tetapi, kita tidak bisa juga gebyah uyah seperti itu. Saya punya seorang sahabat, sama-sama dari desa. Kenal dari SD, satu kelas jaman SMP, hingga sekarang masih keep in touch. Sahabat saya ini sangat hebat sekali menurut saya. Meskipun sudah menjadi salah satu manager di sebuah perusahaan telco besar di Jakarta, sahabat saya ini bukanlah orang desa yang gampang kagetan. Banyak orang desa yang awalnya miskin, kemudian berhasil di luar desa, lebaran menjadi ajang pameran kekayaan. Sepertinya, bangga kalau ada orang kampung kaget harus minggir, ketika mobil mewahnya lewat jalan desa yang sempit dan dari jaman londo dulu belum diaspal. Sahabay saya ini sama sekali bukan termasuk orang-orang yang ikut aliran itu.

Setiap ada kesempatan di Jakarta, saya selalu mampir di kos-kosan nya yang sangat sederhana dan sempit. Tidak jauh beda, sama kos-kosan saya dulu jaman mahasiswa. Pun, sampai sekarang jadi manajer tetap di kosan yang sama. Ke kantor pun hanya jalan kaki, melewati gang-gang sempit yang kumuh. Dandananya ndak umum, harikotul ‘adat ,  para manajer padaghalib nya. Pakek celana kain sederhana, dan baju lengan pendek yang sepertinya juga tidak mahal. Jangankan pakek dasi dan jas rapi ala pria flamboyan , lahwong bajunya saja tidak dimasukkan. Oh iya, gadget nya pun made in China. Oalah lek sampean iki manager cap opo? batin ku suatu saat ketika diajak main ke kantornya. Sahabat saya ini, dengan senang hati menemani saya melipir-melipir keliling Jakarta dan sekitarnya. Kalau ndak ngantri bus way, gelayutan bus metro mini, ya berdesak-desakan naik KRL. Paling-paling kalau kemaleman, di atas jam 12 malam, kita naik taksi. Makanpun masih milih yang murah meriah di Warteg.

Pernah suatu saat, saya menemani dia ngawasin, lebih tepatnya bayarin, para anak buahnya di kantor yang sedang main futsal. Pas pulang, ketika anak buahnya pada menuju parkiran mobil, tapi si sahabat dan saya hanya jalan kaki menuju halte busway terdekat haha. Salut sekali, saya pada kesederhanaan, kebersahajaan dan kebaikan sahabat saya satu ini. Kalau pulang kampung pun masih seperti biasa, naik kereta api. Terus kalau saya kebetulan di rumah, selalau main ke rumah saya, dan selanjutnya melipir bareng ke teman-teman dan guru-guru jaman SMP pakek sepeda motor. Semoga sahabat saya yang satu ini tetap istiqomah, ajeg jejeg dalam kesederhanaan dan kebersahajaanya.

Hidup sederhana dan bersahaja seharusnya sederhana lumrah, dan biasa saja. Tapi, entahlah belakangan hidup sederhana dan bersahaja itu menjadi tidak sederhana dan tidak lumrah, di kota-kota  besar di negara kita. Ndak kebayang, betapa rumitnya perasaan kita, ketika teman-teman sekantor pada jor-joran dengan mobil barunya, sementara kita berusaha hidup bersahaja dengan naik sepeda ontel misalnya. Kita pasti di stempel yang paling tidak sukses oleh orang-orang yang hanya melihat kita dari balik jendela. Terlepas  bagaimana sampean mendefinisikan apa itu sukses. Semoga Tuhan menakdirkan sukses buat saya, sukses buat sampean, dan sukses buat kita semua. Tidak hanya di dunia tentunya, tetapi juga di kehidupan abadi kampung akhirat. Allahumma Ammiiin…


Tentang Presiden Ndeso Kerempeng dan Menteri Kerudungan

…. Selamat datang era kesederhanaan dalam sikap, ketulusan hati dalam bekerja dan RASA dalam pengabdian – @alvinadam

presiden_jokowi

Pelantikan Presiden Joko Widodo

20 Oktober 2014

Pagi itu seperti biasa, lebih dari sekedar sering, aku adalah orang yang pertama membuka pintu ruang C85. Ruang dimana sebagian besar waktu ku, aku habiskan di ruangan ini. Delapan sampai lima belas jam sehari, berkutat dengan latex, eclipse, jendela hiburan ‘chrome’ di PC ku, tumpukan buku yang sudah dipenuhi sarang laba-laba, tumpukan makalah jurnal penelitian, serta kertas ‘oret-oretan’ yang berserak dan berantakan. Yah, di ruang inilah, aku bersama teman-teman satu grup riset menghabiskan waktu bersama, untuk setidaknya 1000 hari lamanya. Tempat yang mungkin akan sangat nostalgic dan layak untuk dirindukan suatu hari di masa depan nanti.  Tempat, kawah candradimuka, yang telah membentuk ku menjadi (hopefully) seorang peneliti ilmu komputer yang mandiri.

Si Fulan, teman satu lab berkebangsaan Lebanon, menjadi orang yang paling beruntung hari itu. Karena Si Fulan berhasil menjadi orang pertama yang menyapa ku pagi itu. “Keifak , Ahmad ?” (Apa kabar, Ahmad?), sapanya seperti hari-hari biasa kepada ku pagi ini. “Congratulation, you have a new President today ! Jokowi, a very modest president, the ex mayor of Jakarta” . Aku hanya menimpali: ” How do you know him so well, Fulan ? ” Rupanya fenomena Jokowi di Indonesia menarik banyak perhatian banyak orang, tidak hanya rakyat Indonesia, tetapi juga menjadi perhatiang bangsa lain, salah satunya Si Fulan teman satu grup riset ku ini.

Iyah, hari ini, 20 Oktober 2014, biarlah sejarah mencatat Jokowi, sebagai presiden baru Indonesia. Presiden kedua yang dipilih langsung oleh rakyat Indonesia, menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) setelah 10 tahun berkuasa. Hari, ketika sebagian besar pendukung dan pengagumnya merayakanya dengan penuh euforia. Pesta Rakyat, mereka menyebutnya begitu.

Meski, pada saat proses pemilihan, aku berharap bukan Jokowi yang jadi presiden, karena aku percaya rivalnya, Prabowo memiliki kualitas kepemimpinan sebagai presiden yang lebih baik. Diam-diam aku pun menaruh harap pada Jokowi untuk Indonesia yang jauh lebih baik kedepanya.

Gus Dur, Demokrasi, dan Islam

habibie_mega_shinta

Habibie, Megawati, Shinta Nuriyah Wahid

Tak terasa, tiba-tiba mata ini menjadi sembab, menyaksikan tayangan prosesi pelantikan presiden Jokowi di youtube. Bukan retorika pidato pertama Jokowi yang membuat ku terharu dan tersentuh.  Tapi deretan para audience yang sesekali terkena shoot kamera. Menyaksikan orang-orang penting bangsa ini, berkumpul di tempat yang sama. Mereka yang sebelumnya, berseteru dalam politik, pada akhirnya semuanya mampu legowo duduk bersama-sama. Melihat, mantan Presiden Habibie, Megawati, Ibu Shinta Nuriyah Wahid- istri mendiang mantan presiden Gus Dur, dan para mantan pemimpin lainya, bisa duduk berjejer bersama, dalam suasana penuh dengan kekeluargaan, sungguh membuat mata rakyat kecil seperti aku ini sangat terharu. Tak sadar, aku pun harus menyeka air mata ku.

Di antara teman-teman sesama muslim dari berbagai negara di timur tengah, aku selalu bangga untuk mengatakan, bahwa di negara muslim terbesar di dunia ini , suksesi pergantian pemimpin dapat dilalui dengan indah, damai, dan tanpa pertumpahan darah. Bahwa, demokrasi bisa berjalan dengan baik di negeri tempat umat nabi Muhammad terbesar itu berada. Demokrasi yang membuat rakyat jelata pun bisa memimpin negeri. Tak harus dari golongan priyayi -bangsawan, atau golongan kyai-rohaniawan. Sekarang, aku baru mengerti, mengapa Gus Dur yang orang pesantren, dan bertahun-tahun mengembara menuntut ilmu di negara-negara timur tengah itu, tak pernah menginginkan negara Islam. Tapi, justru Gus Dur adalah orang Indonesia yang paling ekstrim memperjuangkan demokrasi di Indonesia. Apalagi, melihat bagaimana pertumpahan darah yang selalu menyertai pergantian pemimpin di negara-negara Timur Tengah belakangan ini. ilarruhi Gus Dur, Alfatihah…….

Bagi orang Indonesia pada umumnya dan anak-anak muda pada khusunya, setidaknya Jokowi akan merubah konotasi seorang pemimpin negeri. Bahwa ternyata presiden itu, tidak harus ‘sempurna’, sebagaimana yang melekat pada diri seorang SBY. Yang gagah nan rupawan, berwibawa dan berpendidikan tinggi, pun pandai bernyanyi dan berpuisi. Bahwa seorang yang kurus kerempeng, berwajah ndeso, dan tampil apa adanya pun bisa menjadi seorang presiden. Bahwa, ketulusan hati dan kesempurnaan batin lebih utama dari sekedar kesempurnaan fisik belaka.

Aku hanya bisa berdoa, semoga Jokowi dan semua pemimpin-pemimpin di negeri ini selalu dibuka mata hatinya, selalu diberi petunjuk oleh Allah swt.

Menteri Khofifah

Menteri Khofifah

27 Oktober 2014

Seminggu setelah euforia presiden baru, tibalah hari ini saatnya euforia para menteri baru. Di antara, 34 menteri yang ada, hanya satu yang mempu mencuri hati ku. Ya, siapa lagi kalau bukan Mbak Khofifah Indar Parawansa yang selalu saya kagumi.  Entahlah, setiap melihat wajah bersahaja-tapi-kharismatik nya, aku selalu teringat emak ku di kampung, sungguh wajah dan senyumnya mirip sekali. Emak ku yang mantan aktivis muslimat NU level desa.

Buat ku, Mbak Khofifah memang sangat istimewa. Sepanjang sejarah negeri ini, rasanya beliau lah satu-satu nya menteri yang kerudungan. Di negeri yang mayoritas muslim dan separuh penduduknya perempuan ini.

Masalah kualitas, tak perlu diragukan lagi. Kecerdasan dan pengalaman kepemimpinanya tak perlu disangsikan lagi. Pun kapabilitasnya, sebagai menteri sosial. Rasanya, sepanjang kiprahnya selama ini di Muslimat NU, tak pernah lepas dari kerja-kerja sosial. Aku sangat yakin, beliau akan mampu menjalankan amanah ini dengan sebaik-sebaiknya.

Aku sangat berharapa, Mbak Khofifah ini bisa menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan seluruh Indonesia. Khususnya, perempuan-perempuan desa, mbak-mbak fatayat, dan muslimat NU di seluruh pelosok Indonesia. Jikalau, selama ini perempuan-perempuan Indonesia mengidolakan perempuan-perempuan artis yang sebagian besar menonjolkan kecantikan wajah, kemolekan tubuh, dan kepandaian menghibur orang saja.

Rasanya, Mbak Khofifah adalah sangat patut menjadi inspirasi perempuan-perempuan Indonesia. Bahwa, perempuan yang sempurna itu bukan diukur dari tampilan fisiknya seperti pemilihan putri-putri dalam kontes-kontes kecantikan. Tapi seharusnya perempan itu dilihat dari kecerdasan, jiwa kepemimpinan, dan kiprahnya di tengah-tengah masyarakat. Cerdas, berpendidikan, sederhana dan bersahaja,  mampu memimpin, perempuan kuat dan tangguh, berani, muslimah yang tafaquh fiddin, santun, berkiprah untuk masyarakat, ibu yang sukses, NU banget lagi, semua melekat pada diri Khofifah.  Semoga banyak perempuan-perempuan muda Indonesia yang terinspirasi oleh beliau.

Mari kita memulai lembaran sejarah baru Indonesia, yang kalau boleh meminjam kata-kata Alvin Adam, era kesederhanaan dalam bersikap, ketulusan hati dalam bekerja, dan rasa dalam pengabdian. Selamat tinggal era kepura-puraan dan pencitraan. Selamat tinggal era ‘bungkus’ selamat datang era ‘isi’.  Semoga Indonesia tidak berubah, kecuali berubah menjadi lebih baik. Allahumma Ammiin.


Terompah Usang Sang Kyai: Tentang Kesederhanaan dan Kebersahajaan dalam Hidup

….. diam-diam nurani saya pun mulai merindui mu, kau sosok-sosok penuh inspirasi yang memilih jalan hidup sederhana dan bersahaja bukan karena sebuah keniscayaan. Argh… kemana perginya guru-guru, dosen, kyai saya dahulu, teladan penuh kesederhanaan tapi penuh dengan sumber inspirasi, yang arif dan bijak dalam memaknai hidup dan kehidupan agar penuh dengan kebajikan. – a random feeling.


(Source: http://terompahmastor.blogspot.co.uk/)

“Berumah megah mermobil mewah, bergadget mahal, uang melimpah, pakaian glamour nan indah, makanan dan minuman yang serba lezat, rekreasi yang mahal serta memikat, terkenal dan populer, dielu-elukan dan penuh pujian” mungkin itulah ukuran kesuksesan manusia hidup saat ini yang  selalu dicari oleh kebanyakan kita. Apalagi, siaran televisi, guru rakyat sejati, yang isinya tak lain tempat jualan dan menampilkan kemewahan hidup mengajarkan begitu. Artis Syahrini, mungkin saja simbol dari kesuksesan itu.

Lihat saja, apa yang kurang dari seorang syahrini. Cantik, terkenal, dan kaya raya. Seolah, seluruh atribut kesuksesan hidup melekat pada dirinya. Tak ayal, setiap gerak-geriknya selalu dipertontonkan tiap hari ke masyarakat. Parahnya, sosok-sosok seperti syahrini lah yang setiap saat selalu disuguhkan ke tengah-tengah masyarakat. Yang pada akhirnya, secara tidak sadar menjadi panutan masyarakat. Gaya hidup dan atribut hidupnya yang kemudian menjadi ukuran kualitas hidup masyarakat kebanyakan. Sebuah tontonan yang menjadi tuntunan, bukan?

glamour_syahrini
Source: Instagram @Princessyahrini

Sementara itu orang-orang arif nan bijak, yang mengukur kualitas hidup tidak dari ukuran materi kebendaan tersingkirkan, jauh dari pemberitaan. Mereka yang memililiki standard kebajikan hidup dan memilih hidup sederhana dan bersahaja terguyur oleh ustad artis dadakan yang glamour dan urakan. Hanya kyai-kyai politisi yang muncul di permukaan, sementara para kyai akhirat tak pernah terdengar, tenggelam dalam jalan sunyi yang tak banyak orang cari dan lalui. Mereka yang seharusnya jadi suri teladan sulit dicari.

Apa akibatnya?mental masyarakat sakit. Bagaimana mungkin seseorang diukur dari merek baju, perhiasan, kendaraan, gadget yang dia pakai? Bagaimana mungkin seseorang merasa harga dirinya naik berlipat-lipat hanya karena merek sebuah barang? Itulah sebabnya, saya sering merasa tidak nyaman dengan acara reuni dan resepsi pernikahan. Acara yang sepatutnya jadi acara silaturahmi dan saling mendoakan itu sering kali jadi acara pamer kekayaan. Karena saya tidak punya kekayaan yang pantas dipamerkan, hahagh….

 

gusmus_gusdur
Kesederhanaan Gus Dur dan Gus Mus (source: Facebook)

Arghh… entah kenapa, sungguh, saya rindu sosok sederhana guru-guru SD dan SMP dahulu. Mereka yang rela mengayuh sepeda ontel berkilo-kilo meter untuk mengajar kami. Mereka yang rela berdesak-desakan dalam angkot dengan siswanya. Penampilanya sederhana nan bersahaja, tak satu pun tanda keglamoran menempel di badan mereka,selain baju safari sederhana warna biru, tapi mereka kaya inspirasi tentang kebajikan hidup. Yang membuat kami selalu Gugu (menurut) dan meniru (mencontoh). Saya rindu rumah sederhana kyai yang selalu terbuka dan membawa keteduhan, tempat kami setiap hari berdesak-desakan mengaji, ndelosor bersimpuh di lantai bahkan sampai di pekarangan rumah untuk mendengar petuah-petuah suci sang kyai. Saya rindu suara ‘klotak-klotak’  terompah, sandal jepit kayu,  kyai yang selalu saya dengar menjelang sholat jamaah di masjid pondok. Yang selalu jadi rebutan para santri, untuk dibalik posisinya ketika kaki sang kyai sudah menapaki lantai masjid.

Tapi entah, masih adakah sosok-sosok mereka sekarang? Konon cerita, sejak adanya sertifikasi guru dan dosen, sekarang lapangan sekolah/kampus berubah jadi show room mobil baru. Konon, jadi guru dan dosen sekarang harus berpenampilan menarik. Harus nampak elegan dan meyakinkan di depan kelas. Jilbab sederhana pun, sekarang harus bergaya trendi dan berkelas. Konon cerita, sejak banyak politisi dan pengusaha kaya yang sowan ke pesantren, rumah kyai banyak yang berubah jadi ‘istana’ tapi sepi dari kegiatan mengaji. Hanya kuda besi mewah yang menjaga halaman rumah kyai.

Terompah usang sang kyai itu sekali lagi mengingatkan saya akan kesederhanaan dan kebersahajaan. Bolehlah kita kaya, tapi tak perlu diperlihatkan apalagi dipamerkan. Bolehlah kita bersenang-senang , tapi tak perlu berlebihan. Karena Pesta pasti berakhir kata Bang Haji Rhoma Irama. Karena di dunia mong mampir ngombe. Karena dunia bukanlah tujuan akhir, hanya persinggahan sementara untuk bercocok tanam kebaikan. Akhiratlah, tujuan sebenarnya. Akhiratlah, kehidupan sesungguhnya.

Tuhan, kirimkanlah kami pemimpin yang sederhana dan baik hati, seperti Pak Jokowi. Yang bisa menjadi teladan kami, untuk kemulyaan kami di dunia dan akhirat nanti !