… terkadang rasa kemanusiaan saya terusik, bagaimana mereka memilih merawat anak anjing dari pada merawat anak mereka sendiri. Bagaimana mereka lebih senang bersahabat dengan anjing daripada berkawan dengan manusia ? – A Random Thought

bangku_kosong
Bangku Kosong, Lenton, Nottingham, UK, 2015

Minggu pagi ini, cuaca di kota Nottingham begitu kelabu. Hujan tidak menitik, tetapi matahari pun tak berani menampakkan diri. Tertutup awan kelabu. What a gloomy Sunday. Jalanan sepi, suasana sunyi. Ribuan orang yang semalam berpesta, minum bir dan anggur, berdansa di bar-bar, menghabiskan malam minggu di akhir musim panas ini, pastinya sepagi ini masih terlelap dalam keteleranya. Menikmati, the lazy sunday  morning.

Saya yang Sabtu nya masih ngampus, minggu pagi ini harus ‘membayar hutang’ untuk jalan-jalan bersama si kecil dan bundanya. Berjalan berkunjung ke rumah seorang kawan yang semalaman tidak tidur mengejar deadline disertasi. Untuk kemudian, berjalan di lapangan rumput hijau di sebuah taman kota.

Si kecil langsung kegirangan bermain dengan plorotan di Play ground. Bundanya, bermain bandulan. Saya duduk termenung di bangku memandangi lapangan rumput hijau yang terbentang luas bak permadani di hadapan. Selain kami, hanya ada seorang kakek sepuh yang duduk sendirian di bangku di tengah-tengah lapangan rumput dan puluhan burung gagak hitam yang sedang sarapan ujung rumput-rumput hijau itu.

Perhatian ku tercuri oleh keberadaan si Kakek sepuh itu. Bertopi hijau, dengan sweater yang juga berwarna hijau, si kakek terlihat sibuk dengan dirinya sendiri. Saya intip ternyata dia sedang mengisi teka-teki silang (TTS). Aktivitas yang lazim dilakukan oleh para pembunuh waktu, pengusir kejenuhan.

Entah kenapa, tak lama mengetahui kedatangan kami, si kakek beranjak pergi. Mengemas buku TTS ke dalam tas hitam nya, dan tertatih berjalan dengan tongkatnya ke luar taman, berjalan entah saya tak tahu kemana rimbanya.

Sang kakek hanyalah satu dari ribuan para manula kesepian di negeri ini. Bukan kali ini saja, saya melihat manula dengan kesendirianya. Sudah lazim, banyak para manula yang hidup sendirian di rumahnya. Bahkan sering kali terdengar berita para manula itu, diketahui meninggal setelah membususk berhari-hari di kamarnya.

Kemajuan ternyata membawa permasalahan baru di negara-negara maju. Dengan angka harapan hidup yang lebih panjang, masa pensiun telah tiba, banyak orang manula yang hidup hanya untuk menunggu kematian. Hidup dalam kesendirian dan kesunyian.

Hidup di negara maju yang ultra-individualis, dimana sosialisasi hanya terjadi di meja bar. Masa tua seperti itu terlihat begitu mengerikan bagi saya. Ketika muda saja, banyak orang enggan bersosialisasi dengan kita. Apalagi ketika kita tua? Bahkan mereka lebih senang berkawan dengan anjing. Gaya hidup yang kadang susah saya mengerti. Mungkin karena anjing lebih setia dan tak pandai berpura-pura seperti manusia yang kadang suka munafik.

Sang kakek mengingatkan saya akan bayangan hari tua nanti. Bahwa anak dan istri yang menemani saya ini tak akan selalu ada bersama saya. Si kecil kelak jika dewasa, pasti akan meninggalkan saya. Begitu juga dengan sang istri, siapa yang bisa menjamin kami akan hidup berdua selama-lamanya, sehidup semati?

Sang kakek juga mengingatkan, bahwa menjadi muda dan kuat tidaklah lama. Akan tiba saat kita pun menjadi tua dan kembali tidak berdaya. Gunakan masa muda dan semasa masih kuat untuk berbuat baik sebaik-baiknya. Jangan sia-siakan masa muda.

Argh, kelak semoga kita dikaruniai hari tua yang indah. Jauh dari kesunyian dan kesendirian. Sebaliknya, dikelilingi orang-orang yang mencitai dan menyayangi kita dengan tulus. Cucu dan cicit yang menyejukkan mata selalu. Tetap bisa mengabdi dan berbuat untuk mengabdi kepada Tuhan dan berbagi kebaikan untuk sesama hingga detik terakhir di penghujung usia kita.

Ammiiin.

Advertisements

tentang_hari_tua

Kawan, apa yang kau pikirkan tentang sebuah hari tua?
Dihari ketika raga kita semakin tak berdaya. Ketika kulit kita mulai kendur, wajah kita tak setampan dan secantik dikala muda lagi. Otak pun tak lagi tajam dalam berfikir. Perlahan, kita pun kehilangan memori ingatan kita. Hari-hari ketika kita semakin mendekati ketidakberdayaan. Hari-hari ketika tak ada lagi yang bisa kita sombongkan. Sebelum akhirnya, kita pun musnah, benar-benar tiada dari panggung kehidupan dunia yang sementara ini.

Sebagian dari kita mungkin membayangkan hari tua yang indah. Menikmati manis buah perjuangan ketika muda, bersama lucunya cucu cicit kita. Hari tua yang penuh kehangatan kasih sayang orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Hari-hari ketika kita semakin dekat dan mengenal Tuhan, yang ketika muda sering kita lupakan. Hari-hari ketika kita semakin bijak memaknai kehidupan. Yang coba kita abadikan dalam goresan tulisan sebagai warisan abadi untuk anak turun kita.

Kawan, kita pun tak ingin membayangkan, akan hari tua yang penuh sepi kesendirian. Tiada hari berlalu tanpa kesedihan. Hari-hari penuh rintihan penyesalan. Ketika orang-orang tiada lagi memperhatikan. Hari-hari menunggu penuh ketakutan akan datangnya misteri gelap sebuah kematian.

Kawan, pagi sekali hari ini hatiku menangis. Ketika aku menyaksikan seorang perempuan tua di hari tuanya. Dia yang tidak bisa baca tulis sejak lahir, diusianya yang semakin renta, dia masih harus bekerja sangat keras membanting tulang, hanya sekedar untuk bertahan hidup.

Kawan, malam tadi kembali hati ku menangis. Saat aku kembali dari kampus, aku saksikan lahi-lagi seorang perempuan tua, tertatih keluar dari rumahnya. Mencoba berjalan, tangan nya merayap tembok, kakinya tak mampu menyagga tubuhnya yang ringkih. Rupanya dia hanya ingin membeli kentang dan ikan goreng. Beruntung aku menemukanya, dan aku bisa membelikanya. Terlihat senyum dan wajahnya yang teramat dalam, ketika bibirnya bergetar berucap berkali-kali : “God Blesses You”.

Konon, cerita sedih di hari tua di negeri yang konon tingkat kemakmuranya tertinggi di atas bumi ini adalah cerita biasa. Semoga kita ditakdirkan memiliki hari tua yang indah. Allahumma aammiiin.