Advertisements

Tag Archives: Gus Mus

Kehidupan Puisi Gus Mus

….. Dimana-mana sesama saudara. Saling cakar berebut benar. Sambil terus berbuat kesalahan. Qur’an dan sabdamu hanyalah kendaraan. Masing-masing mereka yang berkepentingan. Aku pun meninggalkan mereka. Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku – Gus Mus

GusMus_Kumpulan_Puisi

Ilustrasi: Gus Mus

Kadang aku bertanya-tanya, di Jaman dimana orang-orang begitu memuja materi,
daging, dan bungkus. Melupakan begitu saja nilai, ruh, dan esensi. Masihkan ada
yang peduli dengan nilai-nilai budaya?

Coba saja kita lihat, di antara anak-anak lulusan SMA kita, yang pintar-pintar itu,
masih adakah diantara mereka yang ingin masuk Fakultas Ilmu Budaya?

Rasanya hampir semuanya berebut ingin masuk Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu
Komputer, Fakultas Teknik, atau Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Kenapa?
Prospek pekerjaan yang mendatangkan uang terbanyak semata bukan?

Jika uang semata yang menjadi ukuran kita bersama, janganlah heran, maklumlah, jika
negeri kita yang bak miniatur syurga ini menjadi terasa bak emperan neraka, karena
dihuni oleh manusia-manusia yang tak lagi berbudaya.

Mereka saling sikut, saling iri dan dengki, saling tipu dan memperdaya, berebut
kuasa, berebut jabatan, yang ujung-ujung nya untuk menumpuk-numpuk kekayaan untuk
mereka atau golongan mereka sendiri. Ketidakjujuran menjadi kebiasaan.

Sudahlah, selama penguasa ekonomi dan penguasa politik yang menjadi punggawa terdepan bangsa ini, rasanya revolusi mental yang digalakkan pemerintah hanyalah ilusi belaka.

Seharusnya, para budayawan lah yang berada di garda terdepan dalam revolusi mental. Merekalah, sedikit orang yang tersisa di negeri ini yang masih memiliki nurani. Yang masih menjunjung tinggi nilai bukan angka.

Salah satu sedikit budayawan Indonesia yang patut kita teladani adalah Cak Nur dan Gus Mus. Aku  sudah pernah menulis tentang Cak Nun di sini. Kali ini , aku ingin sekali menulis tentang Gus Mus sebagai sosok yang budayawan.

Saat para kyai banyak yang berebut kuasa, terjebak dalam pragmatisme politik, silau oleh magrong-magrongnya dunia. Gus Mus, adalah salah satu dari sedikit kyai yang bisa menahan diri dari jebakan-jebakan itu. Gus Mus, tetaplah kyai yang sederhana dan bersahaja. Kesederhanaan dan kebersahajaan sebagai pilihan hidup, bukan sebuah keniscayaan.

Saat banyak kyai pesantren yang berlomba-lomba menyodorkan proposal kepada tokoh partai politik, para pejabat negara, untuk menyulap pesantren nya menjadi megah. Gus Mus, memilih, tetap menjadikan pesantrenya tetap sederhana namun pernah kebarokahan.

Ceramahnya menyejukkan, kata-katanya dari nurani yang terdalam. Tanpa muatan kepentingan. Melalui puisi-puisinya Gus Mus, mengajak kita, mengingatkan kita kembali untuk merenungkan hakikat dari kehidupan, kemanusian, kenegaraan, kebudayaan, keberagamaan, dan keislaman kita yang sebenarnya. Yang selama ini telah banyak terdistorsi oleh berbagai kepentingan-kepentingan yang membelokkan.

Kawan, mari kita sejenak, ikut merenungi kehidupan dan kemanusiaan kita bersama Gus Mus. Lewat puisi-puisi yang ditulis dengan hati lembut Gus Mus. Aku sudah mengumpulkanya, disini. Semoga bermanfaat.

 

Hallo Semua

Advertisements

Kalau Perlu Saya Mencium Kaki-kaki Anda Semua

Saya malu kepada Allah Ta’ala, malu kepada Hadratus syeikh KH Hasyim Asy’ari, Malu kepada Kyai Abdul Wahab Hasbullah, Malu kepada Kyai Bisri Syansuri, Malu kepada Kyai Romly Tamim dan pendahulu kita yang telah mengajarkan kepada kita akhlakul rosul SAW Lebih menyakitkan lagi tadi pagi saya disodori koran headline mengatakan: ‘Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh’ – KH Mustofa Bisri

FATWA ROIS AAM

Gus Mus Menenangkan Kegaduhan Muktamar NU 33 di Jombang (okezone.com)

Belajar dari Muktamar NU ke-33, 2015

Awal Agustus ini, dua ormas Islam terbesar Indonesia, NU dan Muhammadiyah, sama-sama memiliki gawe besar, yaitu Muktamar yang agenda utamanya adalah memilih ketua umum baru. Muktamar NU yang ke-33 itu diadakan tanggal 1-5 Agustus 2015 di kota santri, Jombang, Jawa Timur, kota tempat para pendiri NU berada. Sementara Muktamar Muhammadiyah yang ke-47 itu diselenggarakan pada tanggal 3-7 Agustus 2015 di Makassar Sulawesi Selatan.

Boleh dibilang Muktamar NU yang ke-33 ini adalah yang paling ‘heboh’, dan paling banyak dibicarakan bahkan menimbulkan polemik dan pro kontra di media masa, khususnya di media jejaring sosial. Gerakan ayo Mondok, yang merupakan rangkaian muktamar NU yang ke-33 sempat menjadi trending topik di twitter. Banyak yang mendukung, tetapi juga tidak sedikit yang mencela. Tak kalah heboh adalah tema yang diangkat, yaitu Islam Nusantara, yang menjadi bulan-bulanan di media masa dan media jejaring sosial, selama beberapa bulan sebelum hingga hari H pelaksanaan Muktamar. Ada yang pro tetapi banyak juga yang kontra. Bahkan para kyai dan bu nyai artis di TV pada nyinyir dengan Islam Nusantara. Tak kalah hebat, serangan balik dari kelompok-kelompok yang merasa terusik dengan term ‘Islam Nusantara’. Khususnya, mereka yang lebih condong ke Salafi/Wahabi. Kesan saya, mereka terlalu terburu-buru menghakimi ‘Islam Nusantara’ dengan pandangan mereka, tanpa sabar sedikit menoca memahami, opo sing dikarepake dengan Islam Nusantara yang dijadikan tema Muktamar NU yang ke-33 ini. Bahkan teman dekat saya jaman SMP, yang kebetulan salafiyyun, terang-terangan bilang sama saya untuk meng unfriend di facebook, hanya gara-gara saya pasang status tentang Islam Nusantara. Saya pun hanya tertawa dalam hati.

Berbeda dengan NU, euforia muktamar ke-47 Muhammadiyah, relatif kurang terdengar gaungnya. Tema yang diangkat pun yaitu Islam yang berkemajuan, relatif kurang mendapat respon dari masyarakat. Relatif adem ayem.

Rupanya, kegaduhan Muktamar NU itu berlanjut hingga hari H pelaksanaan Muktamar. Sialnya, kegaduhan kali ini, tidak disebabkan oleh ‘benturan’ Nahdliyin dengan kelompok lain seperti sebelumnya, tetapi kegaduhan yang dilakukan oleh para peserta muktamar sendiri. Mulai dari proses pendaftaran yang ruwet dan amburadul, hingga sidang pleno yang ricuh. Akibatnya, agenda pembacaaan tata tertib muktamar, yang sedianya dijadwalkan selesai pada hari pertama.  Harus molor berlarut-larut penuh ketegangan, hingga tata tertib muktamar itu baru disepakati di hari ketiga.

Menurut hemat saya, penyebab sebenarnya, ya ujung-ujung nya adalah ya lagi-lagi pada berebut kuasa, pimpinan tertinggi. Antara dua kubu, yang sebenarnya rival lama, pada muktamar lima tahun sebelumnya. Yaitu kelompoknya Gus Solah dan Hasyim Muzadi di satu kubu, dan kelompoknya Kyai Aqil Siroj yang Incumbent. Tetapi, teknisnya, yang menjadikan polemik berlarut-larut adalah tentang mekanisme pemilihan ketua umum. Kubu yang satu menginginkan sistem voting untuk muktamar kali ini, sementara kelompok yang lain menginginkan sistem AHWA (Ahlu Haq Wal Ahdi) atau sistem perwakilan melalui dewan formatur diterapkan mulai muktamr kali ini.

Perbedaan pandangan inilah, yang sebenarnya sudah diprediksi, yang menimbulkan kekisruhan. Sayangnya, para peserta muktamar yang kebanyakan para kyai ini ini banyak yang tidak sabar dan tidak mampu menahan emosinya. Hingga terjadilah peristiwa yang ‘memalukan’ itu pun terjadi. Para kyai terlibat adu mulut, saling serobot mik, bahkan saling dorong-mendorong. Parahnya semua itu terekam secara Live oleh media. Dan disaksikan oleh jutaan mata masyarakat Indonesia. Belum lagi statemen-statemen beberapa kyai yang justru seperti membuka aib sendiri dengan berkoar-koar di media, dengan klaim dan tuduhan yang belum tentu kebenarnya.

Saya pribadi, yang kebetulan pas akhir pekan, sehingga bisa mengikuti dari berita online, maupun streaming, miris, ngelus dodo dan malu sekali rasanya. Betapa, jamiiyah yang selama ini saya bangga-banggakan ternyata akhlaknya seperti itu, tak ubahnya para politisi di senanyan yang gontok-gontokkan. Bukankah mereka itu para kyai yang terkenal akhlak tawadu’ dan wira’i nya. Argh, tapi mungkin jaman sudah berubah dan kyai pun akhlaknya juga berubah.

Sampai-sampai, Martin van Bruinessen,  peneliti Islam NU di Indonesia, serta pengagum Gus Dur dan Nahdlatul Ulama dari Belanda, yang sengaja datang ingin melihat proses Muktamar organisasi Islam yang dia kagumi itu, sebagaimana saya kutip dari merdeka.com, dengan mata berkaca-kaca, berkata:

Saya sedih dan ingin menangis melihat kondisi ini.

Saya yakin, ada kelompok lain yang diam-diam bertepuk tangan, sorak sorai, dengan kericuhan dan kegaduhan di dua hari pertama muktamar itu. Terutama kelompok lain, yang sebelumnya berseberangan dengan NU khususnya dengan tema yang diangkat pada muktamar kali ini.

Berbeda dengan muktamar NU yang diberitakan gaduh oleh media, muktamar Muhammadiyah di seberang lautan diberitakan sangat teduh. Semua berjalan lancar, dan tidak ada isu-isu negatif yang menyertainya.

Ketika para Kyai Sepuh Turun Tangan

Tetapi alhamdulilah, kekisruhan itu akhirnya terdamaikan. Ketika para kyai sepuh, yang dipimpin oleh Gus Mus, menengahi kekisruhan itu. Dengan wejanganya yang dalam dan menyentuh, disertai isak tangis, dan gaya khas Gus Mus yang kalem itu, akhirnya mendiamkan para muktamirin yang sebelumnya gaduh. Ketika Gus Mus memberi wejangan, mendadak semuanya sunyi senyap, bahkan sebagian para peserta muktamar tak kuasa menahan tangis. Dan akhirnya, tata tertib muktamar itu dengan solusi dari para kyai sepuh, akhirnya diterima oleh semua peserta muktamar.

Membaca, mendengar, dan melihat video, wejangan Gus Mus itu pun, membuat saya berlinang air mata di lab. hari ini. Wejangan kyai yang sangat kagumi itu begitu menyentuh, bagaimana seorang kyai yang sangat dihormati itu, berkali-kali meminta maaf kepada para peserta muktamar, bahkan beliau bilang:

kalau perlu saya mencium kaki-kaki anda, agar Anda Memperlihatkan Akhlak Jamiyah Nahdlatul Ulama, Akhlaknya Kyai Hasyim As’ary.

Berikut wejangan lengkap Gus Mus:

Mudah-mudahan hingga berakhirnya muktamar nanti, semuanya berjalan adem, tentrem, dan tercapai kebaikan bersama. Semoga ini menjadi pembelajaran terbaik bagi NU, khususnya pembelajaran Demokrasi di tubuh NU. Semoga NU menjadi ormas yang semakin dewasa. Dan bersama-sama Muhammadiyah, sebagai civil society, di negara Indonesia yang kita cintai ini. Penebar islam yang moderat, damai, dan pembawa rahmat buat sekalian Alam semesta.

Selamat Bermuktamar, NU dan Muhammadiyah !


Merenungi Nilai Kita Sebagai Manusia

… pertama saya harus selalu menjaga kejujuran, kedua seneng ilmu, seneng belajar – Prof. Komaruddin Hidayat

nilai_manusia_edit

Ilustrasi: Manusia-Manusia di Sekitar Universitas Cambridge, UK

Sahabat muda, jika sampean pergi ke mall, pusat-pusat perbelanjaan yang jumlah dari hari ke hari bak cendawan di musim hujan itu, lihatlah semuanya ada label harganya. Bahkan toilet pun ada label harganya. Yah begitulah, kurang lebih kondisi kehidupan kita belakangan yang semakin materialistis, seolah semu ada label harganya. Tidak terkecuali kita sendiri sebagai manusia, sering kali kita tidak sadar telah memberi label harga pada orang lain atau kita dilabeli harga oleh orang lain.

Ada cerita menarik dari seorang sahabat dekat saya suatu waktu di kota Bandung , Jawa Barat. Bersama sahabat lama, seorang teman tadi mampir ke sebuah warung makan yang kondang di Bandung dengan jalan kaki. Apa yang terjadi sahabat? penjual tadi begitu acuh tidak bersahabat terhadap sahabat saya dan temanya tadi, sama sekali tidak di uwongke. Tetapi, keadaan begitu berubah 180 derajat, ketika di hari berikutnya mereka berdua datang di warung sama dengan mengendarai mobil mewahnya. Penjual yang sehari sebelumnya begitu acuh, hari itu berubah menjadi sangat bersahabat, pelayananya pun sangat prima. Alamak, alangkah kerdirlnya, ternyata penjual warung makan tadi memberi nilai manusia berdasarkan naik apa dia datang ke warung makan dia.

Memang, sering kali kehidupan kita yang semakin hari semakin materialistis ini terkadang terasa sangat kejam. Kita dinilai dari apa yang menempel pada diri kita. Pakaian yang kita pakai, kendaran yang kita kendarai, jabatan, ketampanan, kecantikan, gelar akademik di depan dan belakang nama kita, dan tempelan-tempelan sosial lainya. Tetapi saya yakin, masih ada manusia baik yang tidak keblinger, yang menilai kita tidak dari sekedar yang menempel pada kita.

Hari ini, pada saat istirahat selepas sholat jumat, saya begitu tertegun mendengar komentar seorang wartawan, mengomentari sosok Profesor Komaruddin Hidayat, mantan rektor UIN Sahid, alumni pesantren yang dulunya anak desa yang miskin itu. Berikut komentarnya:

Prof. Komarudin Hidayat itu humble sekali, jadi sangat ramah. Jadi orang pintar yang ramah, karena ada orang-orang tertentu yang sebenarnya dia pandai dia baik hati tetapi memang bawaanya itu wajahnya sudah sulit tersenyum dulu, tetapi Pak Komarudin ini melayani siapa saja dengan baik kita juga sempat melihat beberapa wartawan yang minta foto dilayani satu-satu. Jadi bisa membayangkan, betapa beruntungnya bertemu dengan seorang seperti beliau pintar, baik hati, memberikan banyak inspirasi dan apa ya jauh dari apa gambaran seleb yang ngartis, jauuuh.. sekali. Beliau 180 derajat dari situ dan beliau orang yang sangat rendah hati dan mau menyentuh orang-orang bawah bahkan orang-orang seperti kami-kami ini – @Rifqi_Erlangga

Sahabat muda, alangkah indahnya mendengar nilai, atau harga yang dilabelkan pada seorang Komaruddin di atas. Seorang yang dinilai bukan dari hal-hal yang menempel pada diri beliau. Bukan dari ketampanan, kekayaan, jabatan beliau. Tetapi dinilai dari hal-hal otentik yang melekat pada diri seorang Komaruddin.

Bila kita menilai seseorang dari ketampanan atau kecantikan seseorang, lama-lama seseorang itu tak lebih dari seonggok daging yang indah untuk dipandang. Bila kita hanya dinilai karena kekayaan dan jabatan kita, maka harga kita akan jatuh seketika ketika harta dan jabatan yang sementara dan titipan itu hilang dari genggaman kita. Tetapi, ketika kita dinilai dari sesuatu yang otentik yang melekat pada diri kita, maka Insya Allah nilai tetap kita sama ketika harta dan jabatan tak lagi menempel pada diri kita. Seperti Gus Dur, yang tak ada bedanya bagaimana orang-orang menghormati beliau sebelum, ketika, dan sesudah menjabat sebagai presiden. Bahkan ketika beliau meninggal dan setelah meninggal, orang-orang tak pernah berhenti menghormati beliau. Lihat saja, makam nya yang tidak pernah sepi diziarahi ribuan orang. Alangkah mulianya orang-orang seperti Gus Dur itu.

Lalu, apa sebenarnya nilai otentik yang melekat pada kita di hadapan manusia?

Menurut Profesor Komarudin Hidayat, ada dua hal yang menyebabkan nilai manusia di hadapan manusia yang lainya. Yang pertama adalah karena ilmunya, dan yang kedua adalah karena akhlaknya. Jelas, orang-orang yang berilmu tinggi yang ilmunya bermanfaat pastinya akan dihormati dan diakui banyak orang. Terlalu banyak contohnya rasanya orang-orang seperti itu. Gus Dur dan Habibie, mungkin salah satu contohnya. Dalam Islam pun, Allah berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dan beriman dengan beberapa derajat. Tetapi, pintar saja tanpa akhlakul karimah (akhlak yang mulia) akan menjadi sia-sia. Pintar dan sangat pakar sekali dalam bidang tertentu, eh ternyata korupsi. Jatuhlah derajatnya. Pintar tapi congkak, angkuh dan sombong, ya sampean tidak punya teman. Sebaliknya, sudah pintar, tinggi ilmunya, tetapi jujur, punya integritas dan tetap rendah hati, pasti banyak sekali orang yang mencintainya.

Sahabat muda, janganlah minder dan kecil ketika sampean merasa tidak memiliki apa-apa. Jangan sedih ketika sampean ditakdirkan berasal dari keluarga yang miskin, orang desa, keturunan juga orang biasa-biasa. Karena hakikatnya kita tidak dinilai dari itu. Angkatlah nilai sampean sendir sebagai manusia dengan mencintai ilmu, seneng belajar, carilah ilmu setinggi-setingginya, jangan pernah berhenti bersemangat belajar sampai di penghujung usia kita. Walaupun proses menuntut ilmu lebih sering tidak mudah dan menyakitkan. Ingatlah, gatot kaca sebelum menjadi sakti mandraguna harus direndam di kawah candradimuka. Pendekar-pendekar sakti pun, sebelum menjadi sakti, harus melakukan topo broto dan latihan yang berat. Begitu pun sampean kalau ingin menjadi sakti.

Ingatlah Islam dulu pernah berjaya karena tradisi belajar yang luar biasa. Begitu pun dengan Bangsa Cina bisa maju sangat pesat seperti sekarang karena bangsanya yang sangat-sangat rajin belajar. Saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri, hampir semua kampus-kampus di UK disini didominasi oleh mahasiswa-mahasiswi Cina yang terkenal kegigihanya dalam belajar. Jika sampean tengah malam pergi ke perpustakaan, pada saat menjelang ujian, disana sampean akan melihat perpustakaan yang penuh oleh mahasiswa-mahasiswai yang masih serius belajar. Hanya dengan perih getir dan pahitnya menuntut ilmu lah kawan yang akan menaikkan ‘kelas’ kita.

Janganlah problem-problem kehidupan di sekitar kita dijadikan penghalang yang akan menghambat langkah kita. Tetapi jadikanlah problem-problem itu menjadi sahabat, yang dengan nya kita justru banyak belajar tentang hidup. Beruntung, saat ini kesempatan belajar yang sama telah dibuka selebar-selebarnya. Sekolah gratis, kuliah ada beasiswa bidik misi, kuliah S2 dan S3 ke luar negeri pemerintah siap membiayai. Tinggal kita mau mengambil kesempatan itu apa tidak. Tinggal kita mau mengangkat nilai kita sendiri apa tidak. Sekali lagi, angkatlah nilai diri kita dengan terus menerus semangat belajar keras, dimana dan kapan pun jua, hingga di penghabisan umur kita.

Anak Muda, jangan pernah berhenti belajar ! Boleh berhenti sekolah, tapi jangan berhenti belajar ! – Gus Mus

Semoga kita dianugerahi semangat untuk terus belajar. Semoga kita senantiasa ditambahkan ilmunya setiap saat. Semoga kita senantiasa diberi ilmu yang bermanfaat. Semoga ilmu kita menjadi ilmu-ilmu yang bermanfaat. Semoga terus dibaguskan akhlak kita. Selamat semangat belajar sahabat muda !


Napak Tilas Sejarah Indonesia di Kota Den Haag

“…. setiap kota menawarkan suasana khas dirinya. Klasik dan terasa seperti memasuki lorong sejarah masa lampau, begitu kesan yang saya rasakan ketika berada di kota ini. Tram kuno yang didominasi warna putih dan merah yang sudah kusam dan suara loncengnya yang khas itu, sepeda pancal model jadoel, serta bangunan-bangunan berasistektur kuno mendeskripsikan suasana itu. Seperti terperangkap dalam lorong waktu ketika kota Surabaya masih berada dalam jaman kolonial. ” – A Random Thought.

denhague_02

Suasana Pagi di Kota Den Haag

Kota Den Haag, atau kota The Hague nama internasionalnya. Siapa sih yang tidak kenal kota ini? (hayo, ngacung !) rasanya, ratusan juta anak Indonesia yang setidaknya pernah duduk di bangku sekolah dasar atau sekolah rakyat pernah mendengar nama kota ini dari guru pelajaran sejarah. Iya, sampean benar kota ini adalah tempat perjanjian konferensi meja bundar (KMB) itu.

denhague_01

Masjid Alhikmah Den Haag

Mungkin, saya termasuk sedikit orang dari ratusan juta anak Indonesia yang pada akhirnya ditakdirkan bisa menginjakkan kaki langsung di kota ini. Merasakan suasana klasik kota yang menyejarah ini. Meskipun dulu, waktu pertama kali mendengar nama kota ini, tidak pernah sedikit pun membayangkan bahwa suatu saat, langkah kaki saya akan sampai di kota ini. Argh, jangankan kota Den Haag. Untuk sampai di ibu kota kabupaten saja sudah mimpi yang sangat mewah buat saya saat itu. Saya jadi teringat kata-kata emak saya berfilosofis pada suatu saat:

yo mbok menowo-menowo,  kan jangkahe arek lanang luweh ombo ketimbang jangkahe arek wedok.

Sudah lupakan sejenak romantika sejarah dan kenangan masa lalu! Saat ini, kota Den Haag masih menjadi pusat pemerintahan kerajaan Belanda. Di kota inilah, tempat kedutaan besar negara-negara sahabat Belanda berada, termasuk kedutaan besar Republik Indonesia. Sementara, Amsterdam menjadi ibu kota dan Rotterdam dijadikan kota pusat bisnis. Konsep pemisahan kota ini ditiru negara tetangga kita Malaysia, yang membangun kota Putrajaya sebagai pusat pemerintahan, dan kota Cyberjaya sebagai pusat bisnis dan IT untuk mengimbangi Kuala Lumpur sebagai ibu kota negara yang sudah mulai padat merayap.

denhague_03

Tram dekat Masjid Al-Hikmah, Den Haag

Bagaimana dengan negara tercinta kita Indonesia? sepertinya, semuanya masih menumpuk di Jakarta. Saya sampai tidak berani membayangkan bagaimana keadaan kota, yang sudah mendapat anugerah sebagai kota termacet di dunia ini, sepuluh tahun yang akan datang? jadi bertanya-tanya, Bappenas itu kerjaanya ngapain saja sih?

***

Kami tiba di bandara schipol sudah jam 3 sore setelah penerbangan selama 50 menit dari bandara Gatwick London. Dari bandara, kami langsung ke Amsterdam centraal, sekedar ingin menikmati suasana kota ini di malam hari sekaligus mencari makanan ‘berat’ yang seharian baru terisi secangkir kopi dan 2 buah jeruk. Dari Amsterdam sebenarnya saya ingin ke Rotterdam dulu, tetapi, karena ternyata rumah teman yang akan saya inapi cukup jauh dari stasiun Rotterdam centraal, saya rubah itenary nya ke Den Haag dulu.

Saya dan mas yusuf sampai di Den Haag sekitar jam 9 malam. Udara malam itu di Den Haag sangat dingin sekali. Meskipun sudah pakek baju 3 lapis, jaket musim dingin, long john, syal, penutup kepala, dan sarung tangan tetapi udara dingin itu masih terasa menusuk di kulit. Karena tidak tahan dingin, akhirnya kami masuk ke kedai starbuck di dalam stasiun, hanya sekedar numpang duduk, sambil menunggu si Reza, seorang teman panitia sarasehan yang akan menjemput kami. Sekitar tiga puluh menit kemudian, si Reza datang lengkap dengan kesupelan dan keramahtamahan khas santri jawa timuran. Dari stasiun, kami langsung naik tram menuju masjid Alhikmah.

Sarasehan dan Pengajian Maulid Nabi di Masjid Indonesia Al-hikmah, Den Haag

Saya pikir saya akan tidur di dalam masjid, literally. Ternyata, ada rumah cukup besar yang integrated dengan masjid. Ada tiga kamar besar dirumah itu. dan kami sudah disiapkan single bed, bantal dan selimutnya. Di rumah inilah kami bertemu, mengobrol santai dengan beberapa anak muda NU dari beberapa kota di Belanda, Belgia, Jerman, Inggris, dan Maroko. Senang rasanya bertemu anak-anak cerdas NU dari berbagai disiplin ilmu yang membuat saya semakin teguh dan mantap dengan ke-NU-an saya, di antara benturan berbagai ideologi keislaman yang menggoda akhir-akhir ini.

denhague_16

Obrolan Di Rumah Masjid Al-Hikmah Dengan Anak-Anak Muda NU di Eropa

Salah satunya yang cukup berkesan adalah cerita mas Aiman, anak muda berdarah biru dari Malaysia yang pernah mondok 13 tahun di salah satu pesantren di Jawa Timur, yang saat ini sedang mengambil kuliah master di Universitas Al-Qarawiyin, Maroko; Universitas tertua di Dunia. Beliau cerita bahwa ternyata Islam di Maroko mirip banget dengan Islam di Indonesia. Bahkan, tradisi tahlilan 7 hari, 40 hari, dst. yang selama ini kita pahami sebagai pengaruh agama Hindu, disana juga ada. Padahal, Hindu tidak pernah ada di bumi Maroko. Beliau juga, yang menjadi pointer bagi saya kenal dengan salah satu paman beliau, salah satu pakar Islam ‘nusantara’ yang katanya NU banget, di Universitas Oford Inggris, Dr Afifi Al-kiti. Mas Aiman juga berpesan, kalau teman-teman NU Inggris mau mengadakan acara pengajian, beliau pasti bakalan senang sekali.

Saya juga ketemu mas Danu, kolega saya sesama dosen di jurusan yang sama di kampus sukolilo Surabya, untuk kedua kalinya di negara kincir angin ini. Sebelumnya, kami sempat bertemu di kota Eindhoven (baca ceritanya disini: Wisata Ilmu dan Persahabatan Di Eropa: 6 Kota 3 Negara 1 Benua). Bedanya, kali ini mas Danu baru saja lulus studi doktoralnya dalam bidang serious game, dari T.U. Endhoven. Saya ikut merasakan betapa leganya jalan panjang perjuangan PhD life itu. Selamat, mas Dr Danu ! Semoga Barokah ilmunya !

Ohya, masjid alhikmah ini dahulu katanya adalah sebuah gereja besar. Kemudian, dibeli orang-orang muslim Indonesia untuk dijadikan masjid. Makanya, namanya ada embel-embel masjid Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum, di Belanda dan negara-negara Eropa lainya, banyak bangunan gereja yang beralih fungsi. Masih mending jika beralih fungsi menjadi masjid, banyak di antaranya berubah menjadi diskotik. Ada dua lantai di masjid ini, lantai pertama dijadikan semacam ruang seminar, kamar mandi, dan tempat wudlu. Sementara lantai dua dijadikan tempat sholat untuk jamaah pria dan wanita.

denhague_19

Gus Mus dalam Sarasehan Islam Nusantara di Masjid Alhikmah Den Haag

Selain desain interiornya yang indah, penuh dengan kaligarafi cantik berwarna emas, ada yang istimewa sekali di masjid ini. Setiap usai sholat jamaah ada salam-salaman sesama jamaah, dan wiridanya dibaca keras. Ini benar-benar membuat saya merasa nostalgic suasana di kampung dan pesantren. Membuat saya merasa sedang di dalam masjid pondok induk, pesantren Darul Ulum, rejoso Jombang. Apalagi, ada tangan Gus Mus yang bisa saya cium, ngalap barokah doa, sehabis sholat. Argh, saya jadi teramat kangen aroma wangi khas telapak tangan kyai Mad, kyai Hisyam, dan kyai Hasyim di Blokagung. Dan telapak tangan kyai Hanan, kyai As’ad, kyai Cholil, dan kyai Dim yang dulu selalu saya ciumi bersama ribuan santri lainya setiap selesai sholat jamaah di masjid. Sayang, hal yang nostalgic ini lebih sering dibid’ahkan di tempat saya berada saat ini.

denhague_17

Selepas Pengajian Peringatan Maulid Nabi Muhammad, Masjid Alhikmah, Den Haag

Di masjid inilah, kegiatan sarasehan tentang islam nusantara dan pengajian umum peringatan maulid nabi diselenggarakan. Sarasehan diselenggarakan dari pagi hingga sore di ruang seminar masjid lantai satu, dihadiri Gus Mus, Akademisi Belanda, Ulama Indonesia dan Ulama Suriname yang tinggal di Belanda, serta anak-anak muda NU dari berbagai kota di Belanda, dan negara-negara eropa lainya, serta dari Maroko. Uniknya, sarasehan kali ini pakek setting lesehan, yang membuat saya terbawa suasana bahtsul masaail di pesantren. Kemudian malamnya dilanjut pengajian umum peringatan Maulid Nabi tepat sehabis jamaah sholat isya’ di masjid lantai dua dengan Gus Mus sebagai pembicara utamanya. Banyak ilmu yang bisa saya serap dari beliau, lihat postingan saya sebelumnya: Ngaji Bareng Gus Mus Nang Londo.

Satu lagi yang mencuri perhatian saya selama sarasehan dan pengajian itu adalah ternyata di antara para peserta sarasehan dan pengajian ada beberapa mualaf cina dan bule-bule Belanda. Rasanya, adem menatap wajah bule-bule londo dan mata sipi cina itu. Entah mengapa, seolah ada yang berbeda dari mereka setelah menjadi muslim di bandingkan bule londo lainya yang belum muslim. Dari wajahnya terpancar cahaya, yang memancarkan inner happiness. Kebetulan, di tempat yang sama juga ada bule londo, menjadi salah satu pembicara, pakar Islam Indonesia, yang fasih berbahasa Indonesia, tapi belum mendapat hadiah untuk masuk Islam. Terlihat benar memang bedanya, wajah-wajah muslim yang dibasuh air wudlu lima kali sehari itu.

Napak Tilas Sejarah Indonesia di Kota Den Haag

denhague_04

Penunjuk Jalan Di Centrum Kota Den Haag

Selain kegiatan sarasehan, pengajian, dan silaturahmi dengan teman-teman NU, kami juga sempat keliling kota Den Haag. Hanya sekedar ingin merasakan suasana khas kota Den Haag dan napak tilas sejarah Indonesia di kota ini. Saya percaya bahwa setiap kota selalu menawarkan suasana khas yang dimilikinya.

denhague_14

Tram Merah Putih di Kota Den Haag

Meskipun Den Haag adalah salah satu kota terbesar di Belanda, tapi suasana macet jauh dari kota ini. Kotanya lengang dan nyaman. Suara cicit cuit burung yang terbang bebas berseliweran tanpa rasa takut masih bisa didengar setiap saat di kota ini. Dengan kereta api sebagai alat transport utama antar kota; tram dan sepeda pancal yang jumlahnya massive sebagai alat transportasi utama dalam kota, sangat masuk akal rasanya jika menjadikan kota ini tetap tenang dan nyaman untuk hidup.

denhague_05

Green Tram Kota Den Haag

“Centeng, Centeng, Centeng “, “Kring Kring Kring Kring”, “Kwak-Kwak-Kwak” adalah tiga suara dominan di kota ini.

Suara pertama adalah suara tram. Tram tua yang kebanyakan berwarna putih berpadu dengan warna merah kusam  itu  belnya mengingatkan bel sekolah SD saya di kampung. Bel yang selalu ditunggu setiap murid, yang mengharap segera pulang. Suara yang kedua adalah bunyi bel sepeda pancal. Seperti di kota-kota lain di negara ini, sepeda pancal tetap menjadi alat transportasi primadona setiap orang. Bahkan,Ibu Retno, Menteri luar negeri RI, yang pernah tinggal di kota ini sebagai Duta Besar RI untuk kerajaan Belanda, sering naik sepeda kalau ke kantor dari rumah dinasnya.

denhague_07

Sungai Yang Membelah Kota Den Haag

Sedangkan suara yang ketiga adalah suara burung camar. Gerombolan burung dengan bulu didominasi warna putih itu sangat banyak di kota ini. Terbang bebas di antara kerumunan orang, dan sesekali menjeburkan diri dan berenang ke dalam air sungai yang membelah kota ini.

denhague_06

Bendera Indonesia Sebelum disobek Warna Birunya

Salah satu saksi bisu sejarah Indonesia di kota ini adalah gedung Ridderzaal, gedung parlemen kerajaan Belanda. Di gedung yang dibangun abad 13 inilah dulu Konferensi Meja Bundar berlangsung. Konferensi yang hasilnya ditandatangani oleh J.H. Maarseveen, Sultan Hamid II dan Mohammad Hatta pada tanggal 2 November 1949.

denhague_08

Gedung Ridderzaal, Tempat KMB

Dari segi arsitektur, menurut saya tidak ada yang istimewa dari bangunan ini. Kalau dibanding dengan gedung-gedung berasitektur romawi yang dibangun pada abad yang sama di Inggris, bangunan ini tidak ada apa-apanya. Kalah cantik dan artistik. Arsitekturnya sangat sederhana, berbeda dengan bangunan-bangunan di kota London yang arsitektur nya begitu rumit, njlimet, tapi sangat artistik.

denhague_09

Sisi Lain Gedung Ridderzaal

Selain gedung Ridderzaal, tempat yang bisa dikunjungi di sekitar gedung itu adalah Museum. Salah satunya adalah museum seni Mauritshuis. Ini sepertinya syurga buat yang ngerti dan penikmat seni. Terutama pegiat maupun penikmat seni rupa. Tapi sayang, saya bukan termasuk dua-duanya. Saya tidak tahu bagaimana merasai indahnya sebuah lukisan itu? Haruskah, saya harus belajar olah rasa agar mampu merasai keindahan dibalik goresan kanvas itu?

denhague_11

Gerbang Menuju Gedung Ridderzaal

Salah satu koleksi yang menjadi icon museum ini adalah lukisan Gadis Berkerudung dengan Anting-anting Mutiara karya pelukis legendaris Belanda, Johannes Vermeer. Entahlah apa yang menjadikan lukisan ini menjadi paling istimewa. Apakah karena Kerudungnya? Apakah perempuan itu seorang Muslimah? Atau apakah karena anting-anting nya yang bersinar berkilauan yang terbuat dari mutiara itu? Sayang, saya belum sempat mendapatkan jawabanya.

denhague_10

Museum Mauritshuis, Den Haag Januari 2015

Mengenai perempuan berkerudung itu. ternyata tidak hanya wujud dalam bentuk lukisan. Di tengah kota Den Haag juga ada patung dua perempuan muda berkerudung. Semakin menambah rasa penasaran saya saja untuk tahu pasti siapa perempuan muda cantik berkerudung itu. Mungkin jawabanya bisa ditemukan dari cerita novel sejarah dengan judul yang sama: Girl with a Pearl Earring.

denhague_12

Lukisan Gadis Cantik Berjilbab dan Beranting Mutiara, Den Haag

Walaupun kota ini terlihat klasik, dengan bangunan-bangunan abad 12-13 yang masih dipertahankan dengan apik, bukan berarti kota ini anti kemajuan. Di sisi lain dari kota ini, nampak gedung-gedung tinggi dengan arsitektur modern, lazimnya di kota-kota besar lain di dunia. Bagusnya, kehadiran gedung-gedung baru itu tidak dengan merobohkan gedung-gedung tua bersejarah. Alangkah bijaknya, sebuah bangsa yang bisa menghargai karya peninggalan peradaban para pendahulunya.

denhague_13

Sudut Lain Kota Den Haag : Gedung BerasitekturModern

 Makanan di Kota Denhaag

Jalan-jalan rasanya kurang sempurna kalau tidak disertai wisata kuliner. Di Belanda katanya syurganya masakan Indonesia di Eropa. Memang banyak restoran Indonesia, dan banyak juga restoran suriname, yang  menunya sama kayak makanan orang khas orang Jawa. Selain masakanya yang memper orang Jawa seperti ada sambel terasi, lemper, rempelo ati, sampean juga bercakap-cakap pakek bahasa Jawa ngoko lho. Yang dari Maluku, disini juga banyak orang Maluku dibawah bendera Republik Maluku Serikat (RMS), yang konon keberadaanya diakui keberadaanya oleh Kerajaan Belanda.

Tapi sayang, saya kurang beruntung, selama satu jam clingak clinguk di kota ini tidak nemu restoran Indonesia. Akhirnya,  saya dan mas yusuf karena keburu tidak tahan lapar, terpaksa makan ayam goreng restoran cepat saji yang juga banyak ditemui di Indonesia. Nah, ternyata ada salah satu pelayannya yang bagian ngelap meja ternyata orang Indonesia. Ibu-ibu paruh baya itu menyarankan kalau mau mencari masakan khas Indonesia yang paling lengkap, enak, dan dengan harga yang murah ada di restoran Cina, namanya Ming Kee. Ada Es dawet dan tahu campur juga lo katanya. Tapi kok ya yang jualan kenapa harus orang Cina?

denhague_18

Restoran Cina Ming Kee Penjual Masakan Khas Indonesia

Dan sayangnya lagi, waktu kami kesana pas warungnya belum buka karena terlalu kepagian. Tapi, meskipun demikian, kami sudah puas dengan makanan khas Indonesia yang disajikan gratis oleh Ibu-ibu Muslimat NU di masjid Al-Hikmah waktu acara sarasehan dan pengajian. Terutama menemukan kerupuk dan rempeyek kacang hijau yang rasanya nendang dan Indonesia banget.

***

Dari kota Den Haag, kami melanjutkan perjalanan kembali ke kota Amsterdam untuk cerita dan pengalaman yang lain. Tunggu cerita saya selanjutnya. Semoga, buat sampean yang berangan bisa sampai di kota ini, saya doakan segera keturutan, Ammmiiin! Selamat mendefinisikan arti perjalanan anda sendiri!


Ngaji bareng Gus Mus Nang Londo

“… dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil… ” (QS. Al Maa’idah: 8)

BersamaGusMus

Bersama Gus Mus at Masjid Alhikmah, Denhag, Neherland (17/01/2015)

Belum pernah rasanya melakukan pejalanan singkat sebelumnya dengan bertemu banyak orangnya, yang dengan mereka saya bisa menyerap begitu banyak sekali ngelmu dan inspirasi hidup, seperti perjalanan saya kali ini. Perjalanan yang seperti biasa, tidak direncanakan sebelumnya, dan terjadi begitu saja. Kali ini, rute perjalanan saya adalah Nottingham – London – Amsterdam – Denhag – Rotterdam – Denhag – Amsterdam – Leiden – Amsterdam – London – Nottingham, selama 6 hari 5 malam.

Di kota-kota ini saya bertemu dengan beberapa teman lama saya, banyak sekali teman-teman baru tidak hanya dari kota-kota di Belanda tapi juga dari Maroko, Jerman, dan Belgia, dan beberapa kyai, ulama, ilmuwan. Dan diantara yang paling berkesan adalah bisa bertemu dan ngaji langsung bareng Gus Mus (KH. Musthofa Bisri). Tidak hanya menyerap ilmu, tapi juga sempat mencium telapak tangan beliau dan didoakan oleh beliau.

gusmus_martin

Gus Mus dan Prof. Martin (Masjid Alhikmah, Denhag, Netherland, 17-01-2015)

 

Di Indonesia saya belum pernah ketemu langsung dengan beliau, hanya penikmat tulisan-tulisan beliau yang adem. Pernah sekali diajak sowan ke pesantren beliau di Rembang, tapi sayang belum sempat ketemu beliau. Tapi beruntung masih bertemu dengan Gus Yahya (mantan juru bicara presiden Gus Dur). Eh, tenyata Gusti Allah malah menakdirkan saya bertemu beliau di Belanda.

Di Denhag, saya bertemu dalam sebuah sarasehan betajuk Islam Nusantara dengan Pengajian Maulid Nabi Muhammad, SAW. Di sarasehan, beliau menjadi salah satu keynote speaker bersama dengan Prof. Martin dari Universitas Utrecht, orang Belanda pakar Islamologi yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Dan beberapa pembicara lainya seperti Kyai Hambali, sesepuh kyai NU di Belanda yang bersama Gus Dur mendirikan Persatuan Pelajar Muslim Eropa (PPME) 45 tahun silam dan Pak Sudirman Moentari, kyai dari Suriname yang mbahnya asli Kediri, Jawa Timur.

Sementara di Amsterdam, saya bertemu beliau dalam pengajian Maulid Nabi Muhammad dan pelantikan Pengurus baru PCINU Belanda, dan sesi khusus Gus Mus dengan pengurus PCINU Eropa dan Maroko. Tahun ini spesial sekali buat saya, bisa merayakan maulid nabi dua kali. Rasanya, sudah bertahun-tahun tidak merayakan maulid nabi. Maklumlah, hidup di tengah masyarakat urban, maulid nabi lebih sering terdengar dibi’ahkan daripada dirayakan.

Seperti biasa, di pengajian, Gus Mus tidak suka banyak ndalil dan pesan-pesan beliau yang berisi nilai-nilai universal. Dalam satu kalimat, beliau mendeskripsikan kanjeng nabi sebagai manusia yang paling memanusiakan manusia. Nabi yang sangat humanis, yang karenanya ajaranya sangat relevan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan menjadi rahmat buat semua (rahmatalil’alamin). Bukan ajaran eksklusif seperti yang dikesankan beberapa kelompok dari kita.

Beliau juga memberikan amalan, usaha batin. Menurut beliau, selain usaha dohir, dalam usaha menggapai sesuatu kita juga perlu usaha batin. Amalan pertama adalah hendaknya setiap hari, sedikitnya kita membaca istighfar 100 kali dan memperbanyak baca sholawat. Dalam berdoa, hati kita harus hadir. Karena Allah tidak akan mendengar doa orang yang hatinya lupa. Dan sebelum berdoa, beliau mengajak terlebih dahulu membaca alfatihah dengan ayat waiyyakanasta’in dibaca 11 kali sambil membatin hajat yang kita inginkan.

gusmus_amsterdam

Maulid Nabi Bersama Gus Mus (Amsterdam, Netherland, 18 Januari 2015)

 

Sementara dalam sarasehan, beliau menyoroti semakin maraknya gerakan Islam fundamentalis/wahabisme termasuk di Indonesia. Seperti Charlie Hebdo. Menurut beliau, hal ini disebabkan oleh semangat keberagamaan yang menggebu-gebu tapi tidak dibarengin pemahaman islam yang cukup. Beliau, mengkritisi orang yang hanya belajar islam secara textual dari Alquran dan Hadis terjemahan. Hal ini rentan menjadikan pemahaman Islam yang salah. Teks Alquran/Hadis bukanlah rekaman kanjeng nabi, karenanya perlu seperangkat ilmu tafsir untuk memahaminya dan perlu bimbingan ulama tentunya, bukan menafsirkan saenak udele dewe. Inilah yang memicu Islamophobia di dunia barat.

Terhadap islamophobia, Gus Mus mengingatkan meskipun kita pastinya sakit hati nabi kita dihina, tapi jangan sampai membuat kita berbuat tidak adil. Ya kalau kita ditampar pipi kita 1 kali, ya jangan dibalas 5 kali. Sayangnya, wajah Islam yang kesanya tidak toleran dan fundamental inilah yang mendominasi wajah Islam di dunia barat yang membuat Islamophobia di barat semakin parah. Seandainya, wajah Islam Nusantara yang seperti dipelopori NU dan Muhammadiyah, yang moderat, ramah, luwes terhadap perkembangan jaman, lebih mengedepankan esensi daripada bungkus, yang menjadi referensi utama tentang Islam di dunia barat, ketakutan terhadap Islam itu tidak perlu terjadi. Hal ini diamini oleh Prof. Martin, dan Doug Smith, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Konservatif Inggris dan Dean Godson, Direktur Policy Exchange yang mengunjungi Gus Mus beberapa hari yang lalu.

Semoga, kita terus tidak pernah berhenti menggali ajaran Islam kita. Kita bisa jadi berpendidikan tinggi dalam bidang ilmu kita tetapi kita sangat awam terhadap Islam kita. Dan jangan lupa, belajarlah Islam pada kyai, ulama, yang keilmuanya mumpuni, yang paham ilmu tafsir, yang paham bahasa arab. Jangan belajar Islam hanya dari ustad atau buku karangan ustad yang ilmunya cetek hanya modal quran dan hadis terjemahan, yang  menafsirkan sakenak udele dewe. Apalagi, belajar Islam hanya dari kyai Google, yang dikuasai artikel dari situs wahabi. Kembalilah belajar pada Ulama’ yang gurunya nyambung sampai kanjeng nabi Muhammad S.A.W. Semoga hidayah Allah senantiasa menerangi kita.