Gus Dur

Cinta Para Nelayan Muncar untuk Gus Dur

… mencintai itu perkara gampang, tetapi barangkali sangat tidak mudah untuk dicintai oleh banyak orang, bahkan oleh orang-orang yang tidak pernah bertegur sapa dengan kita. – a random thought.

kota_muncar_bwi

Ilustrasi: Gus Dur di Perahu Nelayan

Kemaren, kemaren dulu sekali maksudnya. Derap perjalanan waktu mempertemukan ku kembali dengan tempat ini. Muncar, begitu orang-orang menyebut desa pesisir di pinggir timur kabupaten Banyuwangi ini.

Ada sejumput nostalgia menggelitik setiap menapakkan kaki di desa pesisir ini. Ada juga kangen mengisi rongga dada. Kangen pada aroma khas ‘wangi’ desa pesisir ini.

Banyak yang berubah dari pesisir ini. Pertama, semakin cantik. Seperti gadis desa yang telah beranjak dewasa yang baru mengenal berbagai produk kecantikan yang ditawarkan hampir setiap saat di teve-teve. Tak heran jika semakin memesona.

Kedua, dahulu, orang-orang datang ke pesisir ini untuk mencari ikan. Sekarang, orang-orang berbondong kesini hanya untuk mencari angin. Sekedar menghabiskan waktu bersama, memandangi pulau  kecil di seberang. Atau sekedar memandangi perahu-perahu nelayan yang bersandar  di bibir pantai.

Ah, perahu-perahu itu. Lebih seperti perahu-perahu hias yang jadi tontonan ketimbang perahu-perahu pencari ikan. Di perahu-perahu itu terpajang lukisan foto yang entah apa maksud gerangan mereka memajangnya.  Ada sosok perempuan cantik mengumbar kemolekan tubuhnya, ada lukisan foto dewa-dewi, tetapi tidak sedikit yang memajang lukisan foto Gus Dur lengkap dengan pecinya.

Yah, Gus Dur adalah satu-satunya tokoh nasional yang terpajang di perahu-perahu itu. Jokowi pun, yang kata media dicintai rakyatnya, tak terlihat lukisan fotonya. Ada sejumput tanya di kepala: apa gerangan istimewanya seorang Gus Dur?

Aku jadi teringat, satu waktu terjebak di sebuah surau sangat kecil dari kayu di tengah-tengah dusun yang terpencil. Di dinding surau yang sudah rapuh itu tidak tertempel apap pun, kecuali foto Gus Dur yang sudah amat lusuh.

Semua itu semakin menyakinkanku, bahwa Gus Dur banyak dicintai oleh orang-orang di akar rumput. Gus, gus apa sih amalan mu? Kok bisa, orang-orang yang bertemu dengan mu saja belum pernah, masih saja mencintai mu? Tolong ya Gus, jawab pertanyaan ku. Boleh lewat mimpi atau sekedar lewat pertanda. Gus, kami sangat merindukan mu.

**

Mataku masih saja terpaku pada perahu-perahu yang bersandar. Tetapi Muncar memang sudah berubah. Muncar yang ikanya berlimpah ruah tapi bau amis. Kini cantik dan wangi memesona, tetapi dimanakah perginya ikan-ikan mu? Lemuru, mernying, petek, tongkol, banyar, cucut akankah hanya tinggal nama-nama?

 

 

Advertisements

Pulang Ke Jombang

Jombang:  Ijo lan Abang- Hijau dan Merah. Tempat orang-orang yang dari dua kutub positif dan negatif kehidupan bertemu. Tempat, orang-orang yang sering menimbulkan riuh kegaduhan di negeri ku berasal. – a random thought

kota_jombang_2

Ilustrasi: Peterongan, Jombang

Setiap orang pasti punya kota kenang-kenangan dalam hidupnya. Kota kelahiran, tempat menghabiskan waktu kecil hingga tumbuh mendewasa. Kota tempat menempa diri mematangkan pemikiran. Kota tempat belajar kehidupan. Atau sekedar kota dimana  cinta sejati telah menemukan sampean. Tentulah, pada kota kenang-kenangan itu, kita selalu ingin pulang.

Meskipun saya lahir di Banyuwangi, teman-teman kuliah ku di kota Surabaya, sampai sekarang pun masih banyak yang mengira kalau aku ini berasal dari Jombang. Dulu, waktu masih kuliah di Surabaya, hampir setiap jumat sore, aku pulang ke Jombang, untuk kembali lagi ke Surabaya setiap Minggu sorenya. Sekedar menularkan sedikit ilmu yang tak seberapa yang kuperoleh dari kampus ke adek-adek kelas ku di pesantren Njoso, Peterongan, Jombang.

Argh, kereta ekonomi KRD dengan tiket seharga Rp. 2000 itu, begitu berjasa mengantar ku pulang setiap akhir pekan. Harga tiket itu, begitu nyaman di kantong mahasiswa kere seperti ku saat itu. Meskipun Bu Titik, bendahara sekolah di pesantren ku itu, selalu memberiku salim tempel. Amplop putih berisi selembar uang bergambar WR Supratman itu selalu diselipkan di tangan ku setiap aku mencium telapak tanganya, untuk pamitan pulang balik ke Surabaya. Meskipun, aku harus berdesak-desakan, empet-empetan,  bermandi peluh dalam gerbong kereta yang pengap dan pesing itu. Gerbong-gerbong kereta itu, begitu penuh dengan orang-orang desa yang pulang pergi mencari nafkah di ibu kota Jawa Timur. Bahkan, tak sedikit orang-orang yang mencari nafkah dengan berjualan keliling dari ujung ke ujung gerbong, memaksa menembus tumpukan penumpang itu.

Tak jarang aku tergencet tanpa bisa bergerak maju atau mundur, di lorong sempit di antara pintu keluar gerbong dan pintu toilet yang baunya, naudzubillah min dzalik itu. Sungguh, gerbong-gerbong kereta KRD itu menyimpan terlalu banyak cerita dan kenangan. Cerita tentang bagaimana susahnya memainkan lakon hidup sebagai rakyat kecil di negeri ku ini, yang tak boleh pernah sedikit pun lelah dan mengeluh dalam berjuang bahkan sekedar  berjuang untuk bertahan hidup. Pada mereka itu aku belajar banyak untuk tidak takut menempuhi betapapun sulitnya jalan kehidupan ini. Bukankah, tak perlu ada yang ditakuti selain Sang Pemberi kehidupan, di jalan kehidupan yang hanya sekedar mampir ngombe ini?

Dua tahun yang lalu, ketika kuliah ku di Nottingham memasuki masa liburan, aku pun pulang ke Jombang. Ku coba telusuri kembali, sudut-sudut kota yang menyimpan banyak kenangan-kenangan itu. Di terminal kota Jombang, tempat yang dulu ramai dengan para pedagang makanan, pedagang asongan, kios wartel, dan selalu riuh oleh orang-orang yang berlalu lalang itu, aku merasa seperti berada di kota mati. Sepi, sunyi sepi sekali. Wartel dan toko-toko makanan yang dulu pernah berjaya itu kini sudah tutup. Lin, Angkutan kota, Angkutan desa itu pun sekarang sepi penumpang. Padahal, dulu kami santri Njoso yang mau pergi ke Pasar Lagi, di jantung kota Jombang itu, harus antri untuk rebutan naik lin D2.

kota_jombang_5

Terminal Kota Jombang

Rupanya, hampir semua orang sekarang memiliki sepeda motor. Jadilah, terminal yang dulu menjadi salah satu pusat ekonomi rakyat itu ditinggalkan. Rupanya, sejak meninggalnya seorang Gus Dur, pusat ekonomi rakyat itu berpindah di sekitar pesantren Tebu Ireng. Ribuan orang dari berbagai pelosok negeri, setiap hari berziarah di makam sang Guru Bangsa itu. Jalan-jalan kampung yang sempit menuju pesarean Gus Dur itu pun berubah menjadi pasar rakyat yang tak pernah sepi 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Makam njenengan itu Gus, telah membuka pintu rejeki bagi ratusan tukang ojek, penjual makanan, penjual kaos bergambar wajah njenengan, penyedia jasa WC, penjual buku, hingga tukang potong rambut, Gus. Njenengan pasti tersenyum bahagia di alam kubur mu sana, melihat rakyat kecil yang dulu selalu kau bela itu gemuyu kecipratan rejeki dari para peziarah makam njenengan.

kota_jombang_4

Ilustrasi: Pasar Rakyat  di Sepanjang Jalan Menuju Makam Gus Dur

Di Jombang, aku selalu merasa berhutang jasa pada banyak orang. Pada para guru, ustad, kyai, bunyai, teman, dan juga pengalaman. Bahkan hingga detik ini pun, aku tak pernah berhenti ngaji pemikiran-pemikiran jenius dan otentik dari para anak kandung kota Jombang sekaliber Mbah Hasyim, Kyai Wahid, Mbah Romly, Mbah Wahab, Mbah Bisri, Kyai Tain, Gus Dur, Cak Nur, dan Cak Nun. Mereka seolah sumber mata air ilmu yang tak pernah kering, dan aku selalu merasa kehausan ingin selalu mereguk kesegaran air nya.

kota_jombang_3

Ilustrasi: Anak-anak di Makam Gus Dur, Tebu Ireng, Jombang

Pak, Bu ! Pak Yai, Bu Nyai ! Gus, Cak ! di kota panjenengan, sungguh, aku kangen pulang. Doakan, santri abadi mu ini bisa segera pulang membawa kabar kemenangan untuk mu. Kemenagan melawan ketololan ku yang tidak habis-habis ini.

Mengumpulkan Tulang-Tulang Yang Berserak

Laisal fata man yaqulu kana abii : Innal fata man yaqulu hada anaa
Pemuda yg sejati bukan orang yg membanggakan nenek moyangnya, tetapi pemuda yg memiliki kemampuan untuk berjuang – Maqolah
silsilah_keluarga

Pohon Silsilah Keluarga

Akhir pekan kemaren, saya membaca salah satu artikel yang ditulis oleh Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan. Guru besar UIN Sunan Kalijaga, yang menceritakan kenangan bersama Alm. Gus Dur. Dalam tulisan itu, ada kutipan dialog yang membuat saya tertegun.

Mulkhan : “Jelek-jelek gini Gus, saya ini adalah cucu buyut Kiai Kasan Besari.”

Gus Dur : ” Hemm” (berdehem).

Mulkhan : ” Jika Gus Dur bertanya apa buktinya, buktinya adalah Ki Juru Kunci :D”

Gus Dur : “Wah, yen ngono awake dewe iki sih sedulur, sih sedulur! (Wah, kalau begitu kita ini masih saudara/ keluarga!).”

Kenapa tertegun? Pertama, adalah nama Kiai Kasan Besari. Entahlah saya merasa magic dengan nama itu. Kayak sudah kenal, tapi kok saya cari-cari di memori otak saya, tidak ketemu juga. Setelah saya googling, waw ternyata, Kyai Kasan Besari ini adalah kyai hebat yang menyejarah, pada tahun 1700an, dari Tegal sari, Ponorogo, Jawa Timur.

Dari website pondok modern gontor,  saya juga dapat informasi kalau pesantren tegal sari adalah cikal bakal Pondok Modern Gontor yang terkenal itu.  Sejarahnya, pondok gontor didirikan oleh keturunan Kyai Kasan Besari, setelah pondok tegal sari mulai ditinggalkan para santrinya. Hal biasa terjadi pada pesantren-pesantren di Jawa, biasanya ketika kyai yang kharismatiknya telah meninggal dunia.

Hal kedua yang membuat saya tertegun adalah kehebatan Gus Dur dalam mengingat para leluhurnya. Gus Dur sangat hafal detail silsilah nenek moyangnya.

Itu sesuatu yang sangat istimewa menurut saya. Di jaman yang setiap orang cenderung hidup semakin individualis ini, siapa sih yang masih peduli dengan keluarga di luar keluarga inti nya? Apalagi mengingat para leluhurnya? mengenang masa lalu yang telah mati? jelas sesuatu yang tidak worthed ya, untuk ukuran jaman sekarang?

Terus, kalau Gus Dur masih ingat para leluhurnya, wajar dong karena beliau adalah keturunan darah biru. Dimana para leluhurnya adalah senarai berantai orang-orang hebat yang diabadikan dalam sejarah, dan menjadi ingatan kolektif orang Indonesia. Nah, kalau rakyat jelata macam saya ini, apa penting nya? Hehehe

Tetapi, emang sejarah hanya boleh dimiliki oleh para pesohor? Saya yakin, banyak orang-orang yang lebih hebat dari para pesohor sejarah itu, yang hanya saja lebih senang berada di belakang layar. Yang memilih menempuh jalan sunyi, demi menjaga keikhlasan diri.

Lagian, bukankah sebenarnya masa sekarang dan masa depan kita ini tidak pernah bisa terlepas dari masa lalu? Bisa jadi kesuksesan yang sampean reguh saat ini adalah jawaban doa-doa embah buyut kita. Atau bahkan kenikmatan yang kita nikmati saat ini adalah hasil jerih-payah, pahit getir perjuangan para leluhur kita, yang bahkan mereka belum sempat menikmati buah dari getih perjuangan mereka sendiri.  Kita yang datang belakangan, tinggal enak-enak menikmati saja, take it for granted.

Jadi, masihkah kita tega melupakan para leluhur kita?

***

Dalam tradisi budaya Jawa, ada istilah ngumpulke balung pisah atau mengumpulkan tulang yang terpisah. Yang kurang lebih artinya adalah menelusuri sanak kerabat kembali. Persaingan hidup yang keras, kadang sering kali membuat kita sulit membedakan mana musuh mana lawan, membedakan mana kerabat mana orang lain.  Ngumpulke balung pisah itu adalah semangat untuk menjalin silaturrahim.

Nah dengan semangat ngumpulke balung pisah, saya tiba-tiba ingat 20 tahun yang lalu. Waktu itu saya masih SD, Pak Lek saya datang ke rumah hendak pamitan mau berangkat merantau ke Malaysia.

Waktu minum es bareng di warung tetangga depan rumah, Pak lek saya menunjukkan selembar kertas, katanya sih silsilah keluarga kita. Saya yang anak SD, yang ndak tahu apa-apa waktu itu, ya cuman melihat sekilas saja, dan tidak tertarik sama sekali.

Iseng, kemaren saya menanyakan kembali silsilah itu ke Pak lek yang sampai sekarang masih di Malaysia itu lewat Whatsapp. Rupanya, catatan Pak Lek saya itu sudah hilang. Tetapi, kemudian Pak Lek menghubungi sepupunya, yang berada di Ryadh, Arab Saudi.

Beruntung, sepupu Pak Lek saya itu, masih hafal betul silsilah keluarga, dan silsilah keluarga saya itu pun akhirnya sampai di handphone saya. Saya sangat terkejut, karena ternyata:

Tada….!! dalam susunan silsilah itu berujung pada Kyai Kasan Besari, Tegal Sari, Ponorogo yang menyejarah itu. Setengah tidak percaya, soalnya di silsilah itu hampir semuanya ada embel-embelnya Kyai. Tapi, itu mungkin arti perasaan magic saya ketika mendengar nama Kyai Kasan Besari.

Silsilah itu saya cocokan dengan informasi yang ada di website pondok modern Gontor. Saya baca berkali-kali. Ternyata memang cocok. Terus saya tambah lagi riset dengan bantuan mbah google. Cukup membingungkan awalnya, karena terdapat inkonsistensi. Itu karena kebiasaan kyai jaman dahulu yang suka membolak-balik kan nama untuk keturunanya. Nama anaknya biasanya diberi nama sama dengan nama kakeknya. Sehingga menimbulkan kerancuan. Tapi akhirnya, kerancuan itu terpecahkan, dengan sumber informasi lainya.

Kemudian, entahlah, saya ujug-ujug iseng mention seorang teman saya, Mas Ndop, di twitter. Nanyain, kalau-kalau dia kenal sama nama salah satu kyai di silsilah itu. Dalam hati, saya ada feeling kalau teman saya ini masih ada kekerabatan dengan saya. Tapi ternyata dia tidak kenal. Malah dia bilang, kalau dia keturunan Joko Tingkir.

Obrolan twitter itu berujung dengan si Ndop ngasih lihat, dokumen lawas silsilah keluarga dia di google drive. Amazing, silsilahnya super duper lengkap sampai ke Nabi Adam.

Dari investigasi dokumen silsilah itu, akhirnya saya menemukan titik temu nasab saya dengan nasab si ndop. Yang artinya, saya pun bisa menemukan silsilah lengkap leluhur saya sampai nabi Adam ( disini hasil investigasi saya). Saya merasa melakukan something great, hari ini. Tetapi,  Wallahu a’lam kevalidan datanya.

Buat saya, tahu memiliki leluhur yang baik adalah inspirasi untuk bisa meneladani mereka, tidak lebih dari itu. Karena, indeed kualitas diri kita tergantung dari usaha keras kita sendiri jua. Terlepas dari, semua itu wes kersane Gusti Allah. Tidak ada jaminan putra kyai hebat akan melahirkan kyai yang hebat juga. Walaupun  ada pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonya. Tetapi seperti maqalah yang saya kutib di atas: Pemuda yg sejati bukan orang yg membanggakan nenek moyangnya, tetapi pemuda yg memiliki kemampuan untuk berjuang.

Bagaimana dengan leluhur sampean? jangan-jangan kita masih mambu dulur, hehe.

 

 

Jalan-Jalan Intelektual

… semakin banyak ilmu, hidup terasa lebih ringan. Namun, jika semakin banyak jabatan, hidup terasa menjadi beban – Prof. Komaruddin Hidayat

caknur_love_old

Ilustasi : Cover Buku, Cak Nur di mata anak muda

Di negeri barat, penghujung tahun selalu ditutup dengan liburan panjang. Semua sekolah dan kampus ditutup setidaknya selama dua minggu, mulai dari menjelang natal hingga perayaan tahun baru. Demikian juga di kantor-kantor. Hampir semua karyawan mengambil jatah cuti tahunanya di penghujung tahun itu. Seperti halnya tradisi lebaran di Indonesia, dan perayaan tahun baru cina di China, sepertinya setiap bangsa di dunia ini memiliki momentum hari-hari untuk merayakan festival kehidupan ini.  Berhenti sejenak dari rutinitas hidup yang terus berulang, untuk menikmati, menghayati, dan merenungi kehidupan bersama orang-orang tercinta dalam kehidupan kita.

Tetapi, buat orang-orang perantau dari negeri beda budaya seperti kami, liburan artinya kesepian dan kesunyian. Nottingham, tempat kami melanjutkan hidup, terasa seperti kota mati yang ditinggalkan penghuninya. Apalagi, daerah sekitar kampus. Kontras dengan hari biasa yang penuh riuh, di liburan akhir tahun seperti ini terasa seperti kuburan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada agenda liburan jalan-jalan di penghujung akhir tahun ini. Suhu yang terlampau dingin, dan siang yang terlalu pendek, membuat kami agak malas untuk keluar rumah. Lebih baik kruntelan dibalik selimut, sambil melakukan hal-hal yang kami suka.

Biasanya, meskipun liburan seperti ini, saya masih memikirkan dan mengerjakan riset saya. Tetapi tidak dengan tahun ini. Entahlah, selama perjalanan studi PhD ini, apalagi, setelah tiga tahun lebih bergelut dengan riset PhD saya yang belum kelar-kelar, saya sering merasa seperti terlalu sumpek dan pengap dengan dunia saya yang terlalu sempit. Ibarat terlalu fokus mengamati akar sebuah pohon di hutan rimba, membuat saya tidak bisa melihat hutan rimba itu. Sebuah godaan dan jebakan untuk tidak fokus dan procrastination-menunda pekerjaan sebenarnya, tetapi saya selalu sangat menikmati terperangkap dalam jebakan itu. Asal tidak keterusan, hehe hehe he.

Karenanya,  saya sering mencuri waktu, yang saya habiskan untuk jalan-jalan intelektual, dengan membaca buku-buku di luar bidang saya. Kebetulan, saya orang yang betah berlama-lama membaca dari bangun tidur, hingga tidur lagi. Tidak hanya betah, tapi sangat menikmati, bahkan kecanduan jika bacaan yang saya baca itu bisa menyodok otak saya sekaligus menentramkan hati. Tak terasa, beberapa hari ini, saya sudah melahap ribuan halaman buku.

Pilihan bacaan saya kali ini jatuh pada buku-buku tiga guru bangsa kita, yaitu Mas Komar, Gus Dur, dan Cak Nur. Tiga tokoh yang oleh kelompok sebelah sering divonis liberal, antek yahudi, kafir, dan stempel negatif lainya. Tetapi tidak sedikit yang mengidolakanya. Bahkan setelah Cak Nur dan Gus Dur tiada, pemikiran-pemikiran mereka masih selalu hidup hingga sekarang. Buat saya pribadi, sangatlah tidak adil, menghakimi seseorang tetapi kita tidak pernah mau terlebih dahulu memahami. Apalagi, di jaman informasi serba instan dan cuplikan ini. Banyak tulisan ataupun ucapan yang diplintir, dimutilasi dan disebarkan untuk menjatuhkan seseorang.  Banyak orang yang karena kebencian, akhirnya memonopoli kebenaran dan lupa berkeadilan.

Membaca Tulisan Mas Komar

Sebenarnya, saya sudah membaca semua artikel dan video mas komar yang tersebar di dunia maya (lihat tulisan saya sebelumnya: disini). Tetapi, ternyata ada beberapa e-book beliau yang bisa dibaca di google books. Rasanya seperti menemukan oase di padang pasir, dan saya pun langsung keracunan. Setiap membaca tulisan beliau, saya selalu saja masih seperti kerasukan, terpesona oleh keindahan dan kedalaman kata-katanya. Tulisanya selalu memberi perspektif hidup yang berbeda. Tulisanya selalu mendamaikan jiwa. Saya selalu menyesal, kenapa tidak dari dulu-dulu, mengenal beliau. Bila nanti saya kembali ke Indonesia, buku-buku beliaulah yang akan menjadi pelipur kedukaan hidup saya nanti.

Membaca Tulisan Gus Dur

Seperti biasa, setiap kali membaca satu artikel tulisan Gus Dur saya seperti sedang membaca banyak buku. Kadang, harus saya baca berulang-ulang, karena banyak kata-kata yang terlalu canggih buat saya. Tetapi, tulisan Gus Dur selalu mencerahkan. Saya selalu kagum dengan kecerdasan dan keluasan ilmu Gus Dur yang kemudian diterangkan dengan bahasa yang menurut hemat saya sangat mudah dipahami. Kelihaian beliau memadukan pola pikir tradisional dengan pola pikir modern adalah sesuatu yang luar biasa. Demikian juga, kemampuan dalam meramu referensi islam klasik, kitab kuning, yang biasa dikaji di pesantren dengan referensi ilmu humaniora dan sosial paling mutakhir sungguh sangat mengagumkan.

Lewat tulisan Gus Dur, saya juga baru tahu, kalau Gus Dur ternyata sangat paham ilmu ekonomi, sosiologi, antropologi, ilmu politik, ilmu sejarah, hubungan internasional, sastra dengan cakupan yang sangat well-rounded,  yang pemikiranya dipengaruhi baik oleh ilmuwan Islam klasik maupun ilmuwan barat. Ditambah pergaulan Gus Dur yang sangat kosmopolit dengan tokoh-tokoh dan para pemimpin elit di seluruh belahan dunia, membuat tulisan-tulisan Gus Dur sangat-sangat berkualitas tinggi.

Dari tulisan-tulisan Gus Dur saya juga baru paham kalau sosok Gus Dur itu ternyata sangat bertolak belakang dengan citra yang ditampilkan media terutama saat beliau menjadi Presiden. Cap liberal misalnya. Sama sekali tidak muncul di tulisan beliau. Gus Dur selalu menggunakan referensi Aqluran, Hadis, kitab kuning yang tidak lain karya para ulama islam klasik, dan kaidah-kaidah fiqih, qawaidul fiqihiyah dalam setiap argumenya. Bukan argumen kebebasan berfikir kebablasan seperti yang banyak disangkakan orang.

Demikian juga kesan mencla mencle, isuk dele sore tempe alias tidak konsisten. Justru di setiap artikel Gus Dur, terlihat bahwa Gus Dur sangat-sangat konsisten dengan argumen dan pendapat yang diyakininya.  Pun, demikian dengan citra sikap otoriter beliau, di tulisan Gus Dur, kita bisa melihat bagaimana Gus Dur adalah sosok yang tidak mau memonopoli kebenaran, bahkan mengundang pendapat yang berbeda. Kebanyakan dari artikelnya, selalu diakhiri dengan sebuah pertanyaan. Yang artinya, mengundang pembaca untuk memikirkanya lebih lanjut, atau mengkritiknya, jauh dari kesan mengguruhi dan sok tahu.

Membaca Tulisan Cak Nur

Terus terang ini baru pertama kali saya membaca serius tulisan Cak Nur. Jujur, sedikit banyak saya terpengaruh oleh banyak stempel yang dicapkan pada Cak Nur sebagai dedengkotnya tokoh JIL di Indonesia. Bahkan Majelis Ulama Indonesia sendiri, mengharamkan paham yang beliau sebarkan, yaitu Pluralisme.  Saya juga tahu, bagaimana teman-teman saya di kelompok sebelah termat sangat membenci Cak Nur, Gus Dur, Ulil, dan konco-konconya. Sehingga dari dulu, saya selalu menjaga jarak dari membaca tulisan beliau. Berbeda mungkin dengan teman-teman aktivis HMI dan teman-teman mahasiwa ataupun alumni UIN/IAIN yang pastinya sudah akrab dengan pemikiran beliau.  Tetapi, benarkah Cak Nur sesesat itu? pertanyaan itu yang menyeruak di hati saya, sehingga saya pada akhirnya tak tahan untuk tidak membaca tulisan-tulisan  Cak Nur.

Kebetulan Cak Nur ini pernah satu almamater dengan saya. Sama dengan saya, Cak Nur pernah mondok di Pesantren Darul Ulum, Rejoso Peterongan Jombang.  Tapi beda generasi, beda empat dekade. Dari tulisan Cak Nur,  malah saya jadi tahu bagaimana suasana pondok jaman kyai Umar, kyai Dahlan, dan kyai Romly, yang pada saat saya mondok hanya bisa saya lihat nama-nama para kyai itu di batu nisan di pesarean pondok pesantren yang dulu sering saya ziarahi.

Saya pun belum pernah ketemu langsung dengan Cak Nur. Jarak terdekat dengan beliau adalah sekitar tahun 2000. Saat itu Cak Nur diundang memberikan ceramah di Auditorium Akademi Keperawatan Darul Ulum (sekarang Fakultas Ilmu Kesehatan, UNIPDU), dalam rangka LUSTRUM V, SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT, di pondok pesantren Darul Ulum Jombang. Itupun, saya hanya sambil lalu mendengar ceramahnya yang penuh riuh dan sepertinya menggairahkan dari luar gedung. Maklum saya bukan arek unggulan waktu itu. Selebihnya saya hanya tahu cak nur dari media.

Jujur baru sangat-sangat sedikit dari tulisan Cak Nur yang selesai saya baca. Lebih berat dari membaca tulisan Gus Dur, buat saya yang tidak punya background knowledge  bidang social sciences, membaca tulisan Cak Nur, harus lebih sering mengernyitkan dahi. Harus diulang-ulang untuk bisa memahami. Alhasil, hanya sekitar 500 an halaman yang terbaca, dari sekitar 4000 halaman buku yang saya download. Tetapi dari sedikit tulisan yang saya baca itu, saya sudah terinspirasi banyak hal dari Cak Nur.

Ternyata seorang Cak Nur, waktu sekolah PhD di University of Chicago, US, pernah dalam perjalanan panjang PhD nya selama 6 tahun itu, dalam keaddaan sulit pernah berkata:

Kalau begitu, lebih baik kita pulang saja ke Indonesia. Tidak mendapatkan gelar doktor gak apa-apa.

Sebelum akhirnya diteguhkan kembali oleh sang istri. Selama perjalanan PhD, beliau juga pernah mengalami kesulitan keuangan, karena uang beasiswa yang tidak terlalu besar, dan banyak dihabiskan Cak Nur untuk membeli buku. Sampai-sampai istrinya Cak Nur, Mbak Omi, rela nekat mengetuk pintu door to door menawarkan jasanya untuk merawat bayi maupun buruh cuci, demi bisa bertahan hidup di Chicago. Cerita ini tentu sangat meneguhkan hati saya, untuk tidak berputus asa dalam menyelesaikan PhD saya yang belum selesai juga ini.

Mengenai pemikiran Cak Nur dan stempel liberal, antek yahudi, bahkan kafir yang dialamatkan ke Cak Nur. Menurut pendapat saya, dari tulisan Cak Nur yang saya baca, itu semata-semata karena kedalaman dan keluasan ilmu Cak Nun, dan orang-orang yang memberi stempel itu, mungkin karena keterbatasan ilmunya. gagal paham dengan pemikiran-pemikiran Cak Nur yang melampaui jamanya, dan melampui daya pikir orang-orang yang malas berfikir. Semua orang yang mengenal beliau pasti akan mengakui akan kecerdasan, keluasan dan kedalaman ilmu beliau, yang membuat Cak Nur selalu terlihat kalem, ringan, di tengah arus orang-orang yang sangat keras menentangnya.

Konon koleksi buku pribadinya lebih dari 5000 buku. Penguasaanya yang mendalam pada bahasa Arab dan Bahasa Inggris, membuat beliau sangat paham ilmu-ilmu agama islam yang normatif, khazanah pemikiran ulama islam klasik di masa keemasan Islam, dan ulama Islam kontemporer. Dipadu dengan penguasaan beliau terhadap tool analysis ilmu-ilmu sosial sekuler, e.g. sosiologi, antropologi, membuat beliau mampu menjelaskan Islam secara komperehensif. Ketika orang palestina melawan Israel, mungkin Islam normatif bisa menjelaskan sebagai kebenaran melawan kebatilan. Tetapi ketika orang Islam berperang melawan orang Islam, ketika suksesi kepemimpinan setelah nabi, diwarnai dengan saling membunuh, masihkah Islam normatif mampu menjelaskanya? Itulah perlunya menggunakan tool ilmu sosiologi dan antropologi untuk menjelaskanya. Menurut Cak Nur, hanya  Tuhan lah yang memiliki kebenaran absolut, selain Tuhan tidak ada kebenaran absolut, termasuk institusi bernama Agama. Menurut Cak Nur, itulah esensi dari Agama Tauhid.

Berangkat dari pemahaman tauhid itu, Cak Nur sangat anti kejumudan atau kemandekan berfikir dalam beragama. Cak Nur sangat-sangat percaya diri, bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna, yang akan selalu sesuai fikuli zaman wal makan– di setiap tempat dan setiap waktu. Karenanya, menurut Cak Nur, teks agama harus terus di tafsirkan ulang, sehingga Islam akan selalu relevan sesuai dengan perkembangan peradaban manusia. Bahwa Alquran adalah wahyu Allah dengan kebenaran absolut tidak terbantahkan. Tetapi tafsir atas teks alquran adalah pemahaman manusia dengan kebenaran yang nisbi. Karenanya, perlu terus digali dan dikaji terus menerus.

Sekilas, pernyataan Cak Nur seperti penerjemahan Lailaha illa Allah dengan ” tiada tuhan selain Tuhan” dan juga pernyataan ” Islam Yes, Islamic Party No”  terdengar sangat kontroversial. Tetapi, kalau kita mau membaca dan memahami background knowledge dari pernyataan Cak Nur tersebut, pernyataan tersebut sebenarnya sangat logis dan mudah dipahami saja.

Semakin membaca Cak Nur, semakin saya merasa bodoh sekali. Dari sedikit tulisan Cak Nur yang sudah saya baca, saya sangat terinspirasi bahwa untuk menjadi ulama, ilmuwan, atau professor apa saja yang bisa menarik gerbong perubahan itu ilmunya harus sangat dalam dan luas, serta selalu berfikir kritikal dan terbuka. Cak Nur adalah contoh ilmuwan penarik gerbong perubahan itu. Semoga kita selalu rendah hati, untuk terus menerus mau belajar, berfikir terbuka, dan tidak terjebak pada klaim kebenaran yang nisbi.

Jika mesin bisa mengerjakan hampir semua pekerjaan manusia, manusia mau ngapain dong?

…. tahun dua ribu kerja serba mesin, berjalan berlari menggunakan mesin, manusia tidur berkawan mesin, makan dan minum dilayani mesin. sungguh mengagumkan tahun dua ribu, namun demikian penuh tantangan – Lirik tahun 2000, Nasida Ria

84718706_robotcarryingaperson

Manusia Berpacaran Dengan Robot, bbc

Kutipan di atas adalah penggalan lagu dari grup qasidah Nasida Ria, berjudul “tahun 2000” yang pernah sangat populer pada tahun 1990an, khususnya di kampung-kampung, di desa-desa, dan di dusun-dusun. Saya masih hafal lirik lagu itu. Bagaimana tidak, dulu hampir setiap sore menjelang maghrib, lagu itu di putar di stasiun radio, yang jaman segitu radio masih menjadi hiburan andalan orang dusun.

Saya juga masih ingat, setiap menjelang diadakan pengajian umum di dusun-dusun, yang mengundang kyai terkenal tingkat kabupten, ibu-ibu Muslimat, dan mbak-mbak fatayat (organisasi keputrian di bawah NU), sibuk latihan karaoke. Ibuk-ibuk dan mbak-mbak ini akan tampil di panggung pengajian, sebelum dan sesudah sang kyai menyampaikan ceramahnya. Kebetulan, rumah saya sering dijadikan tempat latihan karaoke, karena di rumah ada tape deck, yang cukup bagus. Itu lagu, ‘tahun 2000’, selalu menjadi lagu andalan mereka disamping lagu ‘jilbab putih’ dan ‘kota santri ‘. Sungguh, indah betul, suasana keagamaan orang dusun, di jaman Gus Dur masih menjadi ketua PBNU itu, dimana NU benar-benar hidup di tengah-tengah masyarakat. Tidak seperti sekarang, NU lebih dekat dengan pusat kekuasaan dari pada konstituenya di dusun-dusun.

Teurs, mengapa saya tiba-tiba cerita lagu ini? Begini ceritanya,petang tadi, kebetulan saya menghadiri kuliah umum yang diadakan sekolah saya ( i.e. School of Computer Science ).  Pembicaranya, seorang Profesor Yahudi berkebangsaan Israel, dari Universitas Rice, US, yaitu Profesor Moshe Vardi. Beliau adalah profesor di bidang ilmu komputer yang cukup disegani yang sudah mempublikasikan sekitar 400 an paper jurnal, dan telah memenangkan banyak penghargaan.

Judul presentasinya sangat menarik: “If machines are capable of doing almost any work humans can do, what will humans do?” . Tetapi, slide presentasinya jelek banget, ndak ada gambarnya, cuman grafik dan text yang kecil-kecil. So, seperti biasa, saya selalu tertidur, kalau datang di kuliah umum, kebiasaan dari jaman kuliah S1 sampai sekarang yang belum sembuh. Padahal saya duduk tepat disamping ndoro dosen pembimbing riset saya. Maunya jaim tidak tidur, tapi sialan mata saya tidak pernah bisa diatur. Apalagi, bangku kuliah standard di Inggris itu, seperti kursi di Bioskop. Ditambah karena hari ini hari Senin, daya puasa sunah dan belum berbuka puasa. Parah pokoknya saya ini, ya kalau otaknya secerdas Gus Dur, yang meskipun tertidur tetap bisa nyambung, lah ini otaknya agak Pekok binti Oon.

Meskipun selama kuliah harus merem melek, untungnya ndak sampai ngiler, tapi secara garis besar saya nangkep inti kuliahnya. Yah kurang lebih isi kuliahnya sama dengan lirik lagu ‘tahun 2000’ nya Nasida Ria itu. Canggih benar ya, yang nulis lirik lagu qasidah itu, lebih bisa memprediksi 20 tahun lebih cepat, ketimbang Si Profesor Yahudi ini.

Intinya, beliau meng highlight kemajuan teknologi Kecerdasan Buatan, yang sudah banyak merubah kehidupan manusia. Robot-robot di Jepang seperti Asimo, robot anjing nya Google, software yang bisa mengalahkan manusia dalam bermain catur, dan quiz (lihat: disini dan disini), mobil tanpa sopirnya Google, adalah sebagian contoh kecil dari kemajuan kecerdasan buatan ini. Saat ini, dengan dukungan big data, sebuah software mampu mendiagnosa penyakit lebih tepat daripada dokter bahkan bisa memprediksi waktu kematian pasien dengan tingkat kebenaran 96% (lihat: disini dan disini)dan robot pun bisa melakukan operasi lebih rapi dari dokter lo.

Sebenarnya, topik ini sudah pernah saya baca di BBC. Dalam rangka mengenang Alan Turing, founding father ilmu komputer berkebangsaan Inggris yang pernah ‘dihukum’ karena dia seorang Gay itu, BBC mengulas secara khusus topik Kecerdasan Buatan ini. Sampean yang tertarik bisa baca  dan lihat videonya: disini.

Nah, yang menarik dari pesatnya teknologi kecerdasan buatan ini adalah, lah terus manusia mau mengerjakan apa? Banyak manusia yang bakalan menganggur dong? Sang profesor membuat prediksi-prediksi tentang masa depan yang menjadi perdebatan panas di ruang kuliah. Good newsnya, akan muncul pekerjaan-pekerjaan baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Yang menarik dari kuliah Profesor ini adalah, beliau mengutip banyak sekali ayat-ayat kitab suci (lengkap dengan nama surat dan nomor ayatnya) untuk menjelaskan kuliahnya itu. Seharusnya itu diambil dari kitab Taurat. Ini tidak lazim menurut saya. Karena setahu saya, ilmuwan barat itu sangat-sangat sekuler. Boleh dibilang, Sains dibarat itu anti-tesis dari kitab suci. Nah ini, malah menggunakan ayat-ayat kitab suci.

Salah satu yang dikutip dalam presentasi itu adalah cerita tentang Adam dan Hawa, yang juga dibahasa di Alquran dan Injil setahu saya. Hampir sama sih, hanya slightly different. Kalau di Islam, pohon nya disebut pohon Quldi, kalau di versi profesor tadi disebut ‘Tree of Knowledge’.

Hanya saja ayat-ayat Taurat tadi, secara nakal dimodifikasi. Di percakapan Adam dan Hawa itu, ditambahi percakapan nakal, yang sejauh yang saya ingat, kurang lebih ada tambahanya seperti ini.

X : ” Karena kita sudah makan buah dari pohon pengetahuan, kita sekarang bisa mengakali ‘outsmart’ Tuhan” .

X: ” Dulu kita pernah mengalami masa berburu, kemudian bercocok tanam, sekarang kita bisa menciptakan mesin-mesin”

X: ” Jika dengan mesin-mesin itu, kita  bisa bekerja tanpa harus berkeringat, jadi buat apa kita kembali ke Syurga? “

Haha, kurang ajar sekali menurut saya. Kedepan manusia bisa memperbudak robot-robot ciptaan mereka sendiri. Manusia tinggal leyeh-leyeh. Benarkah akan demikian? Wallahu a’lam bishowab,  hanya Tuhan yang tahu. Siapa sih yang bisa memprediksi masa depan? Kita saja tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Setelah kuliah umum itu, sambil mengantri kopi dan snack gratis yang disediakan di luar ruang kuliah. Ndoro dosen saya mengajak berdiskusi tentang kuliah yang barusan. Ada pernyataan dari ndoro dosen saya yang cukup membuat saya kaget adalah ketika beliau bilang: “Halah, bagaimana pun juga, tak seorang pun bisa mengendalikan masa depan bukan? ”

Ternyata pola pikir ndoro dosen saya sama dengan pola pikir saya. Manusia boleh sombong dan sesumbar dengan capaian teknologinya. Tetapi sebagai orang beriman, saya yakin itu tidak ada apa-apanya dengan ilmu Tuhan. Apalagi kalau ada yang berani memprediksi dan mengontrol masa depan manusia. Sebagai orang yang percaya pada Qadla dan Qadar, serta kemahakuasaan Allah swt, saya tak akan seberani itu.

Kita manusia ini apalah? Buat saya,  lakon hidup ini sudah ada yang ngatur. Yang sebenarnya di luar kendali kita. Sampai dengan tamat kuliah S1, saya tidak pernah terbesit sedikit pun bercita-cita jadi dosen, bahkan bapak saya sejak kecil bercita-cita agar saya jadi kyai. Katanya jadi kyai itu enak, ndak pernah kerja, tapi duitnya banyak. Lah kok sekarang saya jadi dosen. Waktu kecil saya tidak pernah sekalipun membayangkan akan hidup di luar negeri, sekarang saya hidup di luar negeri.  Argh, tapi justru misteri itulah yang membuat hidup ini menjadi menarik. Jika semua bisa kita kendalikan, betapa membosankan sekali hidup ini bukan?

Semoga penguasaan ilmu dan teknologi dunia kita  ini tidak menjadikan kita menjauhi Tuhan. Sebaliknya, justru membuat kita semakin dekat dengan NYA. Bukankah belajar sains itu tak lebih dari sekedar membaca ayat-ayat nya?

Sebagian Presentasi bisa dilihat : Disini