gus dur dicintai nelayan

Cinta Para Nelayan Muncar untuk Gus Dur

… mencintai itu perkara gampang, tetapi barangkali sangat tidak mudah untuk dicintai oleh banyak orang, bahkan oleh orang-orang yang tidak pernah bertegur sapa dengan kita. – a random thought.

kota_muncar_bwi

Ilustrasi: Gus Dur di Perahu Nelayan

Kemaren, kemaren dulu sekali maksudnya. Derap perjalanan waktu mempertemukan ku kembali dengan tempat ini. Muncar, begitu orang-orang menyebut desa pesisir di pinggir timur kabupaten Banyuwangi ini.

Ada sejumput nostalgia menggelitik setiap menapakkan kaki di desa pesisir ini. Ada juga kangen mengisi rongga dada. Kangen pada aroma khas ‘wangi’ desa pesisir ini.

Banyak yang berubah dari pesisir ini. Pertama, semakin cantik. Seperti gadis desa yang telah beranjak dewasa yang baru mengenal berbagai produk kecantikan yang ditawarkan hampir setiap saat di teve-teve. Tak heran jika semakin memesona.

Kedua, dahulu, orang-orang datang ke pesisir ini untuk mencari ikan. Sekarang, orang-orang berbondong kesini hanya untuk mencari angin. Sekedar menghabiskan waktu bersama, memandangi pulau  kecil di seberang. Atau sekedar memandangi perahu-perahu nelayan yang bersandar  di bibir pantai.

Ah, perahu-perahu itu. Lebih seperti perahu-perahu hias yang jadi tontonan ketimbang perahu-perahu pencari ikan. Di perahu-perahu itu terpajang lukisan foto yang entah apa maksud gerangan mereka memajangnya.  Ada sosok perempuan cantik mengumbar kemolekan tubuhnya, ada lukisan foto dewa-dewi, tetapi tidak sedikit yang memajang lukisan foto Gus Dur lengkap dengan pecinya.

Yah, Gus Dur adalah satu-satunya tokoh nasional yang terpajang di perahu-perahu itu. Jokowi pun, yang kata media dicintai rakyatnya, tak terlihat lukisan fotonya. Ada sejumput tanya di kepala: apa gerangan istimewanya seorang Gus Dur?

Aku jadi teringat, satu waktu terjebak di sebuah surau sangat kecil dari kayu di tengah-tengah dusun yang terpencil. Di dinding surau yang sudah rapuh itu tidak tertempel apap pun, kecuali foto Gus Dur yang sudah amat lusuh.

Semua itu semakin menyakinkanku, bahwa Gus Dur banyak dicintai oleh orang-orang di akar rumput. Gus, gus apa sih amalan mu? Kok bisa, orang-orang yang bertemu dengan mu saja belum pernah, masih saja mencintai mu? Tolong ya Gus, jawab pertanyaan ku. Boleh lewat mimpi atau sekedar lewat pertanda. Gus, kami sangat merindukan mu.

**

Mataku masih saja terpaku pada perahu-perahu yang bersandar. Tetapi Muncar memang sudah berubah. Muncar yang ikanya berlimpah ruah tapi bau amis. Kini cantik dan wangi memesona, tetapi dimanakah perginya ikan-ikan mu? Lemuru, mernying, petek, tongkol, banyar, cucut akankah hanya tinggal nama-nama?

 

 

Advertisements