Tag Archives: gus dur dan gus mus

Menjadi Tua nan Bijak Bestari

… seseorang terkadang ditakdirkan  untuk hadir dalam kehidupan kita hanya sekejap dan menghilang selamanya, tetapi menginpirasi  seumur hidup kita. Ada pula seseorang ditakdirkan hadir bertahun-tahun dalam kehidupan kita dan kita tidak merasa ada perbedaan dengan keberadaan atau ketiadaanya dalam hidup kita.

0d011-2

Ilustrasi: Keakraban Gus Dur dan Gus Mus

Hampir setiap hari kita bertemu dengan seseorang secara kebetulan. Hampir semuanya berlalu begitu saja, seperti angin lalu. Tidak ada kesan dan tidak ada pesan tertinggal untuk kita. Tetapi ada kalanya, kita bertemu dengan seseorang secara kebetulan, tanpa sempat saling mengenal satu sama lain, tetapi meninggalkan pesan yang mendalam dalam hidup kita. Teringat, dan menginspirasi sepanjang hidup kita.

Seperti yang saya alami kurang lebih sewindu yang lalu. Saat itu, saya adalah seorang mahasiswa semester akhir yang sedang mengerjakan Tugas Akhir di kampus  teknik negeri di kota Surabaya. Saat sedang iseng ikutan tes calon pegawai tetap Bank Indonesia, meskipun belum memiliki ijazah sarjana, bahkan tugas akhir pun masih sedang dikerjakan. Sebagai mahasiswa yang kurang gaul, dan kemana-kemana hanya mengandalkan Angkutan Umum dan tebengan motor teman, saat itu saya baru pertama kali menuju kampus swasta terkenal di kota Surabaya, tempat lokasi tes akan dilaksanakan.

Di dalam Angkot (angkutan umum kota) menuju kampus swasta itulah saya bertemu dengan seorang perempuan tua nan bijak bestari yang masih saya ingat dan terus menginspirasi saya hingga saat ini. Perempuan tua berkerudung ala ibu-ibu muslimat di kampung-kampung itu hadir bak waliyullah di hadapan saya. Dengan wajah teduh nan cantik diusia senjanya, dengan tasbih yang terus diputar di jari-jemari ringkihnya dia menuturkan kata-kata bijak, seperti seorang nenek yang sedang bertutur kepada cucu tercintanya.

Saya tidak mau bercerita detail setiap kata yang dituturkan kepada saya, karena tentu saya tidak mampu mengingatnya. Tetapi, buat saya dia adalah sosok orang di hari tua nya yang ideal menurut saya. Di usia senjanya, aura wajahnya memancarkan cahaya sebagai pertanda bahwa dia begitu dekat dengan Tuhan, kesederhanaan, sikap dan cara berfikirnya nya terlihat begitu sangat bijak dalam memandang hidup, tutur katanya adalah pancaran kecerdasan, kepintaran, kedalaman ilmu dan pengalaman hidupnya. Sungguh, seorang perempuan tua nan bijak bestari. Begitulah seharusnya kita semua di hari tua nanti.

Bahwa menjadi tua adalah fungsi waktu yang sudah pasti. Tetapi, untuk menjadi tua, pintar, bijak dan bestari bukan sekedar fungsi dengan variabel tunggal waktu. Ada tempaan dan proses hidup yang berbeda yang menjadikanya tidak sekedar menjadi tua dan akhirnya binasa. Semoga kita tidak sekedar menjadi tua di usia senja kita nanti.

Sayang, hanya kurang dari satu jam saya bertemu dengan perempuan tua itu. Dia harus turun duluan sebelum saya sampai tujuan. Di saat berpisah dia tidak mendoakan saya agar lulus ujian calon pegawai Bank Indonesia, tetapi dia mendokan saya: semoga Gusti Allah, menakdirkan yang terbaik buat sampean nak ! dan rupanya saya pun lulus tes demi tes sampai tes kesehatan, sebelumnya akhirnya saya didiskualifikasi karena belum memiliki ijazah sarjana.

Sayang, saya tidak sempat menanyakan namanya, dan saya tidak pernah tahu keberadaanya hingga sekarang. Untuk perempuan tua itu, entahlah kekuatan apa yang membuat saya selalu mengingatnya. Untuk perempuan tua itu, terima kasih telah mengajari ku untuk menjadi bijaksana. Untuk perempuan tua itu, Alfaatihah….


Terompah Usang Sang Kyai: Tentang Kesederhanaan dan Kebersahajaan dalam Hidup

….. diam-diam nurani saya pun mulai merindui mu, kau sosok-sosok penuh inspirasi yang memilih jalan hidup sederhana dan bersahaja bukan karena sebuah keniscayaan. Argh… kemana perginya guru-guru, dosen, kyai saya dahulu, teladan penuh kesederhanaan tapi penuh dengan sumber inspirasi, yang arif dan bijak dalam memaknai hidup dan kehidupan agar penuh dengan kebajikan. – a random feeling.


(Source: http://terompahmastor.blogspot.co.uk/)

“Berumah megah mermobil mewah, bergadget mahal, uang melimpah, pakaian glamour nan indah, makanan dan minuman yang serba lezat, rekreasi yang mahal serta memikat, terkenal dan populer, dielu-elukan dan penuh pujian” mungkin itulah ukuran kesuksesan manusia hidup saat ini yang  selalu dicari oleh kebanyakan kita. Apalagi, siaran televisi, guru rakyat sejati, yang isinya tak lain tempat jualan dan menampilkan kemewahan hidup mengajarkan begitu. Artis Syahrini, mungkin saja simbol dari kesuksesan itu.

Lihat saja, apa yang kurang dari seorang syahrini. Cantik, terkenal, dan kaya raya. Seolah, seluruh atribut kesuksesan hidup melekat pada dirinya. Tak ayal, setiap gerak-geriknya selalu dipertontonkan tiap hari ke masyarakat. Parahnya, sosok-sosok seperti syahrini lah yang setiap saat selalu disuguhkan ke tengah-tengah masyarakat. Yang pada akhirnya, secara tidak sadar menjadi panutan masyarakat. Gaya hidup dan atribut hidupnya yang kemudian menjadi ukuran kualitas hidup masyarakat kebanyakan. Sebuah tontonan yang menjadi tuntunan, bukan?

glamour_syahrini
Source: Instagram @Princessyahrini

Sementara itu orang-orang arif nan bijak, yang mengukur kualitas hidup tidak dari ukuran materi kebendaan tersingkirkan, jauh dari pemberitaan. Mereka yang memililiki standard kebajikan hidup dan memilih hidup sederhana dan bersahaja terguyur oleh ustad artis dadakan yang glamour dan urakan. Hanya kyai-kyai politisi yang muncul di permukaan, sementara para kyai akhirat tak pernah terdengar, tenggelam dalam jalan sunyi yang tak banyak orang cari dan lalui. Mereka yang seharusnya jadi suri teladan sulit dicari.

Apa akibatnya?mental masyarakat sakit. Bagaimana mungkin seseorang diukur dari merek baju, perhiasan, kendaraan, gadget yang dia pakai? Bagaimana mungkin seseorang merasa harga dirinya naik berlipat-lipat hanya karena merek sebuah barang? Itulah sebabnya, saya sering merasa tidak nyaman dengan acara reuni dan resepsi pernikahan. Acara yang sepatutnya jadi acara silaturahmi dan saling mendoakan itu sering kali jadi acara pamer kekayaan. Karena saya tidak punya kekayaan yang pantas dipamerkan, hahagh….

 

gusmus_gusdur
Kesederhanaan Gus Dur dan Gus Mus (source: Facebook)

Arghh… entah kenapa, sungguh, saya rindu sosok sederhana guru-guru SD dan SMP dahulu. Mereka yang rela mengayuh sepeda ontel berkilo-kilo meter untuk mengajar kami. Mereka yang rela berdesak-desakan dalam angkot dengan siswanya. Penampilanya sederhana nan bersahaja, tak satu pun tanda keglamoran menempel di badan mereka,selain baju safari sederhana warna biru, tapi mereka kaya inspirasi tentang kebajikan hidup. Yang membuat kami selalu Gugu (menurut) dan meniru (mencontoh). Saya rindu rumah sederhana kyai yang selalu terbuka dan membawa keteduhan, tempat kami setiap hari berdesak-desakan mengaji, ndelosor bersimpuh di lantai bahkan sampai di pekarangan rumah untuk mendengar petuah-petuah suci sang kyai. Saya rindu suara ‘klotak-klotak’  terompah, sandal jepit kayu,  kyai yang selalu saya dengar menjelang sholat jamaah di masjid pondok. Yang selalu jadi rebutan para santri, untuk dibalik posisinya ketika kaki sang kyai sudah menapaki lantai masjid.

Tapi entah, masih adakah sosok-sosok mereka sekarang? Konon cerita, sejak adanya sertifikasi guru dan dosen, sekarang lapangan sekolah/kampus berubah jadi show room mobil baru. Konon, jadi guru dan dosen sekarang harus berpenampilan menarik. Harus nampak elegan dan meyakinkan di depan kelas. Jilbab sederhana pun, sekarang harus bergaya trendi dan berkelas. Konon cerita, sejak banyak politisi dan pengusaha kaya yang sowan ke pesantren, rumah kyai banyak yang berubah jadi ‘istana’ tapi sepi dari kegiatan mengaji. Hanya kuda besi mewah yang menjaga halaman rumah kyai.

Terompah usang sang kyai itu sekali lagi mengingatkan saya akan kesederhanaan dan kebersahajaan. Bolehlah kita kaya, tapi tak perlu diperlihatkan apalagi dipamerkan. Bolehlah kita bersenang-senang , tapi tak perlu berlebihan. Karena Pesta pasti berakhir kata Bang Haji Rhoma Irama. Karena di dunia mong mampir ngombe. Karena dunia bukanlah tujuan akhir, hanya persinggahan sementara untuk bercocok tanam kebaikan. Akhiratlah, tujuan sebenarnya. Akhiratlah, kehidupan sesungguhnya.

Tuhan, kirimkanlah kami pemimpin yang sederhana dan baik hati, seperti Pak Jokowi. Yang bisa menjadi teladan kami, untuk kemulyaan kami di dunia dan akhirat nanti !