Advertisements

Tag Archives: filsafat hidup

Hujan Pergantian Musim

sekedar puisi-puisian tentang hujan  – a random thought

dsc_1030

Ilustrasi: Lukisan Hujan

Pagi masih perawan di akhir pekan,
hujan gerimis turun perlahan.
Suara gemericiknya mengiring kesunyian.
Di kota ku yang masih dalam dekapan fajar.

Aku baru saja usai dari persembahyangan,
merapalkan dzikir puji-pujian untuk Tuhan
dan baris-baris do’a keselamatan,
do’a kebahagiaan, serta do’a keberkahan dalam kehidupan.
Saat kebanyakan orang-orang masih tak ingin beranjak
dari pelukan selimut malam dalam kehangatan.

Hati menuntun ku untuk duduk di kursi biru, menghadap jendela kaca
di kamar lantai dua rumah ku.
Ku buka jendela sedikit saja, lalu kulakukan kegemeranku:
Menikmati hujan.

Menatap hujan gerimis turun dari langit,
membentur kaca jendela rumah ku,
membentuk lukisan hujan.
Mendengar suara hujan menumbuk jalanan
beraspal di depan rumah ku.
Tek, tek, tek, tek, tek, …

Gerimis yang panjang menandai pergantian musim,
seolah bertutur selamat tinggal sampai berjumpa kembali
untuk musim panas, dan ucapan selamat datang untuk musim gugur.

Musim terus berganti menurut kehendak hukum alam,
seperti itu pula takdir perjalanan hidup manusia.
Latar panggung kehidupan akan terus berganti,
dengan segala ketidakpastian masa depan yang selalu menyimpan misteri.

Dalam setiap pergantian,
selalu ada setumpuk harapan,
Beriring dengan keraguan, kegelisahan, dan ketakutan-ketakutan.
Argh, bukan kah hidup hanya sekedar menjalani?
Jadi kenapa harus takut?

Advertisements

Teori Hidup mu

Aku sudah bosan dengan teori hidup mu,
petatah-petitih mu tentang hidup,
dan kesoktahuan mu akan arah hidup yang belum kau jalani.

Aku sudah jenuh mendengar ramalan-ramalan,
firasat-firasat dan pertanda yang kau baca,
tentang esok hari.

Biarlah hidup tetap menyimpan segenap rahasia-rahasianya.
Biarlah air kehidupan mengalir dengan segala kejutan-kejutanya.
Biarlah perjalanan hidup senantiasa menggantung sederet tanda tanya.

Izinkan aku menghidupi hidupku,
dalam ketidaksempurnaan pemahanku akan kompleksitasnya,
Karena diam-diam aku sangat menikmatinya.

Toh, siapa yang bisa menebak dengan pasti apa yang terjadi esok hari?
Toh, hidup hanyalah permainan yang bukan disini ditentukan siapa juaranya?
Toh, hidup hanya menunda kekalahan dalam pergulatan dengan waktu?
Jauh atau dekat, cepat atau lambat,  dimana dan kapan pun hidup meruang dan mewaktu.

Nottingham, 20/07/2016


Kamis Pagi Bersama Rambak Sapi

Eh, cah angon, apa yang kau cari? – a random thought

rambak_sapi

Kerupuk Rambak Sapi

Biasanya, selepas ngontel, mengantar anak lanang ke sekolah, Saya langsung buru-buru setengah berlarian, jalan ke kampus. Pagi ini, entahlah tidak seperti biasanya, bukanya buru-buru ngampus, malah duduk leyeh-leyeh di sofa sendirian. Sejenak nikmati hidup lah, apalah yang sebenarnya kau kejar dalam hidup ini, bisik hati saya.

“Kriuk, kriuk, krak, krak”. Suara dari mulut saya memecah kesunyian pagi, bersaing dengan suara detak jarum jam dinding.  Mulutku, mengunyah-ngunyah perlahan, sepotong demi sepotong, segenggam kerupuk rambak di tangan kanan saya. Lidahku seolah begitu khusuk mengecap setiap sudut kenikmatan kerupuk dari kulit sapi itu. Oh, Tuhan, nikmat sekali.

Mbak Didin, orang Indonesia yang sudah lama tinggal di kota sebelah, untuk kesekian kalinya, setiap pulang dari Indonesia, tak pernah lupa membawakan kami oleh-oleh yang hanya bisa didapatkan di Indonesia. Kerupuk rambak, daging bebek, rengginan, gatot, lan sapi nunggalane. Kebaikan Mbak Didin sekeluarga, sungguh layak untuk selalu dikenang. Rejeki Gusti Alloh, memang tidak selalu berwujud harta benda, tetapi juga berupa sahabat yang baik.

Sambil mulut saya terus tak mau berhenti mengunyah rambak, sekelibat bayangan-bayangan hadir menggoda di alam pikiran ku. Bayangan para pedagang asongan yang menawarkan kerupuk rambak di bus antar kota. Bayangan Pak Tua yang membawa sebuah kantong plastik raksasa, yang lebih besar dan tinggi begitu kontras dengan tubuhnya yang kering kerontang, berisi penuh dengan kerupuk rambak.

Menawarkan rambak itu dengan sabar kepada setiap penumpang kereta api ekonomi, dari ujung gerbong ke ujung gerbong yang lain. Dengan membagikan secara rata kerupuk itu ke setiap penumpang, lalu mengambilnya kembali jika penumpang itu kurang berkenan membelinya.

Ah, tetapi itu dulu, ketika kereta api ekonomi, masih benar-benar menjadi bagian dari denyut nadi ekonomi kerakyatan, ekonominya para rakyat jelata seperti diri saya di akar rumput. Sebelum, semuanya dikapitalisasi, kekyaan ditumpuk-tumpuk oleh golongan mereka-mereka saja.

Saya pendeliki sepotong kerupuk rambak terakhir itu sebelum akhirnya menyatu kedalam tubuh saya. Alam batin ku berbisik riuh rendah, oh betapa sepotong rambak dari sapi ini telah menghidupi banyak orang.

Sapi-sapi, alangkah bermanfaat nian hidup mu. Saat kamu masih hidup, kau abdikan dengan tulus seluruh tenaga mu, untuk membantu para petani membajak sawahnya. Susumu, kau relakan, diperas-peras oleh mereka. Bahkan teletong dan pipis mu pun, menjadi pupuk dan sumber energi biogas.

Saat kau korbankan tubuh mu dengan meregang nyawamu sendiri, setiap inchi dari bagian tubuh mu pun bermanfaat. Daging mu yang empuk, menjadi makanan yang enak-enak: bakso, rawon, rendang, steak. Daging yang menempel di tulang mu, dan buntut mu, menjadi masakan mahal: sup iga sapi dan sup buntut. Jeroan tubuh mu pun, menjadi olahan makanan yang lezat, lontong kikil.

Congor mu pun menjadi rujak cingur yang melegenda itu. Otak mu, Lidah mu pun menjadi makanan bercita rasa tinggi. Kulitmu pun menjadi makanan yang super lezat yang saat ini saya nikmati. Bahkan tulang mu pun menjadi bahan membuat barang-barang bernilai ekonomi tinggi.

Sapi-sapi, sekali kau hidup, betapa kamu telah menyebar banyak sekali arti. Bahkan kau tak sempat memikirkan arti buat dirimu sendiri, tetapi arti buat selain dirimu. Subhanallah, moho suci Pangeran yang telah menciptakan diri mu.

Tetapi, saat saya bandingkan dirimu dengan diriku, betapa saya sedih dan malu jadinya. Rasanya, belum sedikit pun, aku membuat arti buat orang orang-orang di sekitar saya. Jangankan memberi arti buat orang lain, saya pun masih sering berbuat yang tak memberi arti buat diriku sendiri.

Padahal, ketika kelak ku mati nanti, siapa sudi memperebutkan sisa tulang dan daging ku?Kecuali segerombolan belatung yang akan menghancurkanya. Oh, sapi-sapi, betapa kau telah mempermalukan diriku hari ini. Tuhan mampukan diriku menjadi lebih berarti!


Nenek Aji: menyalakan lentera pekerti dan kearifan hidup dengan keikhlasan

“…… Hidup itu sederhana. Bagaimana kita memilih peran kecil dalam waktu yang singkat ini untuk terus bermakna dan bermanfaat bagi sesama, lalu memformulasikannya dalam tindakan yang terbaik, syukur, sabar, dan berujung kepada keikhlasan.” – Marliyanti, Indonesia Mengajar

nenek_aji

“…… bismillahirrahmanirrahiim. wainkuntum fii raibimm ….. inkuntum shodiqiin…”. Suara lantunan ayat-ayat alquran yang syahdu nan merdu itu terdengar sayup-sayup dari suara anak-anak yang sedang belajar mengaji di dalam sebuah mushola reot di pedalaman desaMoilong, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Lantunan ayat-ayat suci Tuhan itu memecah kesunyian setiap malam dan menggetarkan setiap jiwa-jiwa bersih yang mendengarkan nya.

Di antara puluhan anak-anak kecil laki-laki dan perempuan itu adalah sosok guru ngaji yang sangat luar biasa. Dialah Nenek Aji, perempuan tua sangat renta yang telah berpuluh-puluh tahun mengabdikan hidupnya sebagai guru ngaji di desanya. Dia mengajar tanpa dibayar dan tak pernah mengharap bayaran. Dia mengajar dengan ketulusan, keikhlasan, dan penuh kearifan karena semata-mata panggilan Tuhan. Usianya yang sudah renta, dan sorot pandangan matanya tak lagi tajam karena dimakan usia tak sedikit pun menyurutkan semangat hidupnya, mengambil peran kecil menyalakan lentera budi pekerti dari generasi ke generasi. Sesungguhnya, dialah pahlawan sejati penuh inspirasi itu.

***

Malam ini saya kembali sesenggukan, menangis sendirian di Lab. Kali ini sebuah video di youtube yang tidak sengaja saya temukan pada saat mencari-cari musik teman belajar sendirian di Lab. seperti biasa. Entahlah, saya ini laki-laki macam apa. Hanya karena video ini, hati saya mudah sekali tersentuh dan berderailah air mata ini. Dialah nenek Aji dalam video itu yang membuat saya terharu dan menangis. Dialah alasan mengapa saya menulis tulisan ini.

Tadi pagi, ketika bangun pagi, saya disibukkan dengan membuka notifikasi puluhan email baru di telepon genggam cerdas saya. Milis dosen yang biasanya sepi itu, tadi pagi mendadak jadi ramai. Puluhan email datang bertubi-tubi. Rupanya, dosen-dosen di sebuah kampus negeri yang sangat terkenal di kota pahlawan itu sedang membahas isu panas yang sangat penting, yaitu jumlah honor mengajar (di luar gaji dan tunjangan profesi yang sudah dibayar oleh negara) yang jumlah yang diterima berbeda lebih sedikit dari jumlah yang seharusnya mereka terima.

Sebuah ironi bukan? jika ternyata di pelosok desa terpencil disana ada seorang Guru yang luar biasa, yang ikhlas mengajar setiap hari tanpa dibayar sepeser pun. Sementara para Guru negara yang digaji dengan uang rakyat itu mengajar dengan penuh perhitungan cost benefit bisnis. Benar, malu sekali saya dibuatnya.

Setiap orang berhak memilih caranya sendiri untuk bermanfaat buat sesama. Buat saya, Nenek Aji seolah mengingatkan saya kembali bahwa mengajar adalah pilihan untuk mengamalkan ilmu kepada sesama yang seharusnya didasari dengan penuh ketulusan, keikhlasan, dan kearifan demi kehidupan kemanusian dan dunia yang lebih baik. Mengajar bukanlah pilihan profesi untuk mengeruk hingar bingar kemewahan dan  kenikmatan hidup duniawai semata.

Terima kasih Nenek Aji, untuk inspirasi mu hari ini !


Lelucon Hidup: Masa Lalu, Masa Depan, dan Persimpangan Jalan

… terkadang jika kita kembali menengok dan membaca cerita hidup masa lalu kita, entah kenapa sering kali tak peduli betapa sedih pun cerita itu di masa lalu, saat ini cerita itu hanya menjadi lelucon hidup belaka. Yang membuat kita tertawa terpingkal-pingkal jika mengingat dan mengenang nya kembali. Yah memang, pada akhirnya, di penghujung hari nanti, kita akan menyadari bahwa hidup ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka.

pusing

“Arrgh……. Sigh. @$#!!!**^^”!  ini mungkin yang paling tepat melukiskan apa yang saya rasakan akhir-akhir ini. Serba tidak jelas, bimbang, ragu, kehilangan kepercayaan diri hingga titik terendah, dan seribu perasaan-perasaan tak terdefinisikan dengan jelas yang selalu mengusik jiwa dan pikiran saya. Setiap berpapasan dengan orang yang menanyakan kabar saya, saya selalu bilang : “Not Too Bad “. Dan saya paling tidak suka dan sensitif , seperti perawan tua yang ditanyain umur dan pasangan hidup, jika ada yang menanyakan “How is your Research?”.

Iya. Saya sedang merasa di persimpangan jalan. Di persimpangan jalan menuju kesuksesan PhD saya. Dan saya merasa tidak melakukan kemajuan sama sekali dalam riset. Bahkan parahnya saya merasa tidak tahu apa yang harus saya lakukan.  Lagi dan lagi, di setiap proses mencapai sesuatu dalam hidup saya, keraguan, ujian dan cobaan selalu muncul di tengah-tengah jalan. Benar-benar menguji komitmen, kesabaran, dan kesungguhan saya. Dan itu yang saya rasakan kembali saat ini. Disaat pertanyaan “Bisa ndak ya saya lulus PhD dalam waktu 3 tahun?” mengusik jiwa ini berulang-ulang kali. Jika sudah demikian, hanya keluhan, doa dan tangis atas segala kelemahan diri yang bisa saya munajatkan ke hadapan Tuhan.

***

Tidak seperti biasanya, dua hari berturut-turut belakangan ini, setiap dini hari sepulang dari Lab. saya menyalakan Laptop (biasanya langsung tewas tidur), online di skype, dan secara tidak sengaja kontak kembali dengan sahabat lama yang sudah lama tidak kontak. Gila, baru kali ini saya tertawa terpingkal-pingkal sendirian di kamar, dini hari lagi.

Yang Pertama adalah seorang sahabat lama dulu waktu kuliah S2 di Malaysia. Dia sekarang mahasiswa PhD tahun keempat akhir yang juga belum lulus-lulus. Berjam-jam kami ngobrol via skype hanya untuk mengenang dan menceritakan kembali masa lalu. Menelanjangi kekonyolan diri masa lalu yang membuat kami tertawa tebahak-bahak. Dari pengakuan diri yang kerjaanya cuman nonton dan jalan-jalan, sampai masa merasa diabaikan dosen pembimbing yang super sibuk dan tak tahu apa yang harus dikerjakan untuk Tesis. Toh pada akhirnya, kami bisa lulus juga.

Sedangkan yang kedua adalah sahabat lama waktu kuliah di ITS Surabaya. Sahabat seperjuangan bahkan sahabat satu ranjang. Dia sekarang bekerja di Perusahaan pertambangan milik Australia yang berkantor pusat di Jakarta. Perusahaan yang saya incar sejak semester 2 karena menawarkan beasiswa ikatan dinas Rp. 10 Juta per semester. Tapi gagal gara-gara ndak lolos Tes Kesehatan. Padahal, sudah saya belain tidak puasa Ramadlan karena persyaratan tes kesehatan itu. Eh, malah dia yang akhirnya bekerja di perusahaan itu. Tapi gak papa, kesuksesan sahabat saya adalah kesuksesan saya juga. Sama dengan yang pertama, kami tertawa sampek perut sakit. Menelanjangi hal-hal konyol binti memalukan yang pernah kami lalui bersama. Betapa dulu kami untuk bisa bayar SPP dan bisa bertahan hidup di Surabaya tanpa menggantungkan kiriman uang dari orang tua, kami membuka usaha les-lesan privat dan jasa pembuatan website. Di tengah kesibukan kuliah di ITS yang padat, kami harus menyebar brosur, mengirim proposal penawaran ke sekolah-sekolah tanpa tahu malu. Hanya modal tekat dan handphone monophonic super jadul. Toh pada akhirnya, kami bisa diwisuda tepat waktu, bahkan lulus dengan pujian.

***

Obrolan via skype tak sengaja dengan dua orang sahabat lama seolah menyentil daun telinga saya. Yang memaksa mengingatkan saya bahwa saya pernah mengalami masa-masa sulit akan tetapi pada akhirnya saya bisa melalui nya juga. Termasuk waktu kelas 2 SMA yang merasa salah Jurusan. Lahwong pengen kuliah di ITS/ITB tapi sekolah di STM Jurusan Elektro yang lebih banyak praktik nyolder PCB di pesantren pula. Toh pada akhirnya saya bisa diterima juga kuliah di Jurusan dan kampus yang saya impikan. Dan semua pada akhirnya menyadarkan  saya bahwa  tidak ada yang kebetulan terjadi, semua terjadi karena sebuah alasan. Semua kejadian seperti benang-benang tenun yang terangkai manjadi kain-kain kehidupan yang indah.

Jika kau berada dipersimpangan jalan adalah wajar jika keraguan, ujian, dan cobaan datang menghadang. Yang harus kau lakukan adalah terus maju ke depan, walau sekecil apapun langkah itu. Kau tidak boleh kembali, karena jalan pulang sudah ditutup rapat-rapat dan kegagalan bukanlah pilihan.

Kata seorang sahabat yang pendaki Gunung, mencapai cita-cita itu seperti naik gunung, terasa berat memang, apalagi jika anda terus memandangi puncak gunung dan terus bertanya kapan saya akan sampai ke puncak itu. Cobalah menikmati setiap langkah perjalanan, sehingga tak terasa kau sudah berada di puncak gunung itu.

Kata seorang sahabat yang suka naik sepeda, mencapai cita-cita itu seperti naik sepeda. Harus terus dikayuh biar tidak terjatuh (gagal).

***

Duh Gusti, kuatkan tekad ini, ikhlaskan hati ini, luruskan dan ridloi niat ini, serta capaikanlah cita-cita kami. Berilah diri ini kekuatan, karena sesungguhnya tak ada daya upaya dan kekuatan kecuali karena Mu semata. Allahumma Ammiin.