Tag Archives: filsafat hidup orang jawa

Terlarut Dalam Bumi Manusia

… Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.” ― Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer

663877005-bumi_manusia1

Bumi Manusia

Kemaren, dari salah seorang mahasiswa baru asal Indonesia di Universitas Nottingham saya dapat oleh-oleh sebuah buku yang istimewa, i.e. Bumi Manusia. Sudah cukup lama ingin membaca, tapi sayang tidak saya temukan bajakanya di jagat maya.

Saat seorang kawan-yang berdarah sastrawan, saya kabari akhirnya buku itu sudah di genggaman, sang kawan malah meledek: ” aku sudah baca buku itu sejak di bangku SMP”. Hehe, harap maklum saya baru belakangan ini saja jatuh cinta dengan sastra. Baru sangat sedikit tentunya buku sastra yang sudah saya baca, tetapi setidaknya sekarang saya  jadi mengerti bagaimana cara menikmati sebuah karya sastra. Rasanya, seperti remaja yang sedang memasuki masa aqil baligh, yang baru saja tahu nikmatnya jatuh cinta pada lawan jenis.

Selain keterbatasan bacaan, sepanjang sejarah persekolahan, saya dari dulu paling tidak suka dengan pelajaran bahasa Indonesia. Saya jauh lebih suka pelajaran matematika dan ilmu esakta lainya. Apalagi definisi pintar di sekolah tak pernah berpihak pada yang pandai bahasa Indonesia. Jenjang SMA pun akhirnya di STM, dan kuliah di perguruan tinggi teknik.

Mungkin karena semakin berumur dan mendewasa, akhirnya saya sadar bahwa kenyataan kehidupan tak sesederhana rumus dan logika matematika. Apalagi, untuk memahami kompleksitas makhluk Tuhan bernama manusia. Tak ada satupun hukum alam dan model matematika yang mampu menjelaskan. Kitab suci pun lebih banyak berisi ‘dongeng’ kehidupan manusia di masa lalu, ketimbang rumus-rumus kehidupan yang pasti.

Jadi rasanya memang sastralah, yang paling bisa menjelaskan kehidupan. Awalnya membaca sastra hanya sebagai pengisi saat tidak mengerti harus ngapain di tengah-tengah perjalanan studi PhD ini. Atau sekedar selingan saat badai kejenuhan melanda. Sampai akhirnya saya dapatkan justifikasi pembenaran, mengapa saya tidak perlu takut jatuh cinta pada sastra. Orasi kebudayaan Cak Nun dalam peringatan 50 tahun majalah horison ini dan kutipan dalam roman bumi manusia di awal tulisan ini diatas, menggaris bawahi mengapa manusia perlu belajar dari sastra.

Kesan Roman Bumi Manusia

Meskipun tergolong buku jadul, roman ini rasanya salah satu buku sastra terbaik yang pernah saya baca. Tak berlebihan kiranya, jika penulisnya masuk nominasi penerima nobel sastra.

Saking menikmatinya, buku setebal 500-an halaman ini selesai hanya beberapa hari saja. Tokoh-tokohnya sangat humanis, ditampilkan keunggulan pribadi sekaligus kekuranganya masing-masing. Bukan tokoh-tokoh separuh malaikat yang nyaris sempurna kelebihanya, tak sedikit pun ada kekurangan.

Pada setiap tokoh, rasanya selalu ada hal-hal positif yang bisa kita petik pelajaran darinya. Utamanya pada Nyai Ontosoroh alias Sanikem dan Minke. Sanikem adalah sosok yang digambarkan perempuan pribumi yang luar biasa. Meski tak pernah sekolah dan hanya berstatus gundik, tetapi Sanikem bisa menjadi perempuan Jawa yang berpengetahuan sangat luas yang bahkan mengalahkan perempuan-perempuan Eropa pada jamanya. Sayang, ia sangat pendendam. Pada tokoh ini saya belajar bahwa pendidikan itu tidak sama dengan sekolah. Hanya orang pandir yang menilai pendidikan seseorang dari ijazah sekolahnya saja.

Sementara Minke adalah putra pribumi berdarah biru, yang mengenyam pendidikan elit sistem Belanda. Alam pemikiran dan jiwanya dipenuhi dengan kegamangan diantara ilmu modern yang mengagungkan rasionalitas dan budaya ewuh pakewuh warisan leluhurnya sebagai orang Jawa. Pada tokoh ini saya belajar bahwa berpendidikan eropa tak perlu kehilangan jati dirinya sebagai orang Jawa. Kemajuan ilmu pengetahuan Eropa bukanlah kemajuan yang tanpa cela.

Secara keseluruhan, membaca roman yang berlatar masa akhir penjajahan Belanda di Indonesia ini, saya jadi kembali berfikir. Sebenarnya kita ini hanya mengulang-mengulang sejarah saja atau dengan kata lain sebenarnya permasalahan kita saat ini sebenarnya masih sama saja dengan jaman ketika dijajah belanda.

Ekonomi kita yang dikuasai jaringan orang-orang itu saja, sumber daya alam kita yang diperkosa habis-habisan oleh perusahaan asing, sementara para pribumi cukup bangga sebagi buruhnya saja itu, apa bedanya dengan jaman kompeni?

Pemimipin-pemimpin kita, pejabat-pejabat kita yang korup memalukan itu,  apa bedanya dengan para bupati, wedana, di jaman Belanda yang suka bersenang-senang bak kehidupan para raja di atas penderitaan rakyatnya sendiri, karena bersekongkol dengan kompeni Belanda. Apa bedanya coba?

Di roman bumi manusia ini juga bertebaran kata-kata mutiara dan filsafat hidup yang sangat berbobot, yang menurut saya masih sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari saat ini. Salah satu yang paling saya suka adalah tentang lima hal yang harus dimiliki sebagai seorang satria jawa: wisma (rumah), wanita, turangga (kuda), kukila (burung), dan curiga (keris).

Selain rumah dan wanita, satria harus memiliki ilmu pengetahuan, keahlian sebagai turangga. Tanpa turangga, seorang satria tak akan jauh langkahnya, pendek penglihatanya. Seorang satria juga harus memiliki kukila, burung sebagai perlambang hobi, segala yang tak ada hubunganya dengan penghidupan, hanya dengan kepuasan batin seseorang. Tanpa itu seorang satria tak ubahnya sebongkah batu tanpa semangat. Terakhir yang paling penting, seorang satria harus memiliki keris, sebagai perlambang kewaspadaan, kesiagaan, dan keperwiraan. Dengan bahasa lain sak bejo-bejone wong bejo sih bejo wong kang eleng lan waspodo. Tanpa keris itu, keempat yang lainya bisa bubar binasa jika ada gangguan. Amazing sekali bukan kearifan orang Jawa?

Rasanya sangat menyesal baru kemaren saya membaca buku ini. Akhirnya, buat sampean yang belum membaca, silahkan membaca ya !


belajar kearifan hidup dari perempuan berkaki palsu

disable
*)Ilustrasi

Pelajaran kearifan hidup bisa datang dimana, kapan dan dari siapa saja. Seperti hari ini, hikmah kearifan hidup datang bersama dua perempuan muda luar biasa yang secara tidak sengaja menurut nalar saya-dan tentu saja sangat disengaja oleh takdir Tuhan-yang dipertemukan kepada ku.

Hari ini langit begitu sumringah, membiru tanpa segumpal awal pun menghalangi sinar mentari pagi yang menerobos di antara daun-daun maple yang menguning dan mulai berguguran di pertengahan musim gugur di Eropa ini. Mentari yang senantiasa setia menjalankan titah takdir Tuhan, agar kehidupan di atas bumi ini tetap berlangsung. Menghangatkan dan memberi energi kehidupan. Walaupun demikian, udara masih terasa sangat dingin, 4 derajat celcius, yang membuat aku masih merasa seperti di dalam kulkas.

Pagi ini, dari rumah aku langsung menuju perpustakaan Sir Henry & Djanogly Learning Resource Centre di Jubilee Campus, Universitas Nottingham. Seperti biasa aku berjalan menyusuri jalur khusus pejalan kaki di pinggiran danau buatan yang indah itu. Daun-daun pepohonon yang mulai menguning dan memerah, sekawanan burung camar, angsa, dan bebek seolah mengabarkan betapa romantisnya suasana musim gugur. Ah, tapi sayang hati ku terlalu penuh untuk bisa merasakan romantisme itu, karena seseorang yang ku sebut sayang sedang mengisi ruang hati ku yang sedang sunyi sepi.


*) Sir Henry & Djanogly Learning Resource Centre, Jubilee Campus, Universitas Nottingham

Dalam kesunyian hati dan kekalutan pikiran karena lara PhD itu, aku berdiskusi dengan pikiran ku sendiri dan pura-pura berdialog dengan Tuhan. Tuhan, seandainya pada waktu itu aku  bisa memilih, ingin rasanya aku memilih dilahirkan di dunia ini sebagai adik kandung Agus Herimurti Yudoyono. Jika demikian, pastinya semua atribut kesempurnaan hidup ada pada diriku. Ganteng dan gagah, pintar dan cerdas, kaya raya, terhormat, punya kedudukan, populer, punya garis keturunan keluarga dan jaringan orang-orang hebat dan sebagainya dan sebagainya. Dengan segala atribut kesempurnaan itu, tentunya semua capaian kesuksesan hidup baik untuk sendiri maupun orang banyak akan sangat mudah diraih. Ibarat kata, kalau meminjam istilahnya mbak Yenny Wahid, semua privilege; atau istilah sederhana Bapak ku ondo (tangga, red)  untuk meraih kesuksesan hidup sudah ada di hadapan mata. Tinggal mau menggunakan atau tidak.

Itu seandainya kalau bisa aku memilih, hanya saja sayangnya sudah menjadi kenyataan hidup bahwa aku ini bukan siapa-siapa dan jauh dari semua atribut kesempurnaan hidup itu. Ganteng dan gagah endak, kaya juga endak, punya keturunan keluarga dan jaringan orang hebat apa lagi? muke lu jauh …. haha. Pokoknya, Jauh banget deh. Katanya Bapak ku dulu suatu waktu, pada saat aku masih SMA,  begini: Koe ki ora nduwe opo-opo, ibarate arep munggah nang nduwur, tapi awak mu ki ora nduwe ondo. Yen tetep pengen munggah nang nduwur, koe kudu wani rekoso (Kamu ini ndak punya apa-apa, perumpamaan nya, kamu ini ingin naik ke atas, tapi kamu ini ndak punya tangga. Kalau kamu ingin tetap naik ke atas, kamu harus berani menderita). 

Begitulah, sampai hidup sudah sejauh ini, masih saja sering kali aku masih belum bisa memahami arti keadilan Tuhan yang maha adil dan bijaksana. Masih saja, aku sering mengeluh, dan terhanyut dalam pusaran “sawang-sinawange urip”  (rumput tetangga lebih hijau). Yang sering kali membuat aku sering kali tidak semangat dalam menjalani hidup. Membiarkan hidup mengalir seperti air, dan membiarkan apa yang akan terjadi terjadilah begitu adanya. Yang sering kali membuat raut muka ini, seperti langit yang diselimuti awan. Kemudian hati kecilku bermunajat: Tuhan, ajari aku memahami kemahaadilan dan kebijaksanaan Mu.

Lamunan ku tiba-tiba buyar, dan hati sepi ku tiba-tiba berderit-derit. Ketika dari kejauhan, ku lihat seorang perempuan muda berambut pirang sedang berjalan sendirian menuju arah yang berlawanan dengan ku. Dia berjalan dengan sangat tertatih, karena keadaan dua kakinya yang tidak sempurna. Semakin mendekat pada ku, aku semakin tahu kalau perempuan muda itu memang sejak lahir terlahir dalam keadaan dua kaki yang cacat. Dia tersenyum ramah pada ku, dan sorot matanya begitu tajam memancarkan energi semangat hidup yang luar biasa. Sangking tajamnya, seolah sinar mata itu menerobos kedua belah mata ku, lalu menghujam dalam hati ku dan meninggalkan pesan: lihatlah, kaki ku mungkin tak sesempurna kaki mu, tapi aku tidak pernah mengeluh.


*)Gedung Amenities Building, Jubilee Campus, Universitas Nottingham.

Tidak berhenti disitu,  menjelang waktu Maghrib di gedung Amenities Building lantai dua, Tuhan mempertemukan aku kembali dengan sosok perempuan luar biasa. Tepat di hadapan ku, seorang perempuan muda berambut hitam kelam, sedang tertatih keluar dari scooter listrik yang biasa dipakai jalan-jalan orang tua yang sudah lanjut usia. Di depan sebuah ruang kelas, dia berusaha keluar dari scooter listriknya, dan mencoba berdiri dengan kedua kruk penyangga tubuhnya dan berjalan memasuki pintu ruang kelas itu. Aku begitu terperanjat, ketika aku baru menyadari kalau kedua kaki  nya itu berupa kaki palsu dari besi. Seorang dosen yang menyadari kehadiran perempuan malang itu, keluar dari ruang kelas dan mencoba membantu nya : are you all right ? Perempuan itu dengan nada tegas dan penuh semangat hidup, seolah menolak untuk diberi bantuan menjawab: Yes, I am all right !

Yah begitulah hidup ini, terkadang kita terlalu sibuk untuk mengandai-andaikan apa yang tidak ada di hadapan kita. Sementara, apa yang sudah ada digenggaman kita sering kali tidak kita syukuri. Falsafah hidup orang jawa mengajarkan bahwa hidup ini hanya “wang sinawang”. Kita sering kali menganggap bahwa kehidupan orang lain begitu sempurna, dan kita begitu menginginkan kehidupan orang lain itu. Padahal, belum tentu kehidupan orang lain itu sesempurna yang kita bayangkan, dan juga belum tentu baik buat kita. Dua orang perempuan muda luar biasa hari ini kembali mengingatkan kepada ku bahwa seperti apa pun kehidupan kita adalah sesuatu yang harus disyukuri, dan terlalu indah untuk disesalkan. Dan bahwa, apa yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik sesuai dengan ukuran takaran hidup kita masing-masing. Mengingatkan ku kembali untuk selalu belajar bersyukur dan selalu melakukan yang terbaik sebagai tanda kesyukuran itu.